--- Terima kasih atas Kunjungan anda " Saya A. Rifqi Amin selaku admin Blog Banjir Embun bersedia menerima kritik dan saran dari anda. Kirimkan saran dan kritik membangun tersebut ke email: banjirembun@yahoo.co.id atau WhatsApp 08563350350. Info lebih lanjut hubungi: 08563-350-350 (11 digit)”---

Wednesday, June 20, 2018

Kerangka Acuan Pengembangan Pendidikan Agama Islam


Kerangka Acuan Pengembangan Pendidikan Agama Islam


Oleh: A. Rifqi Amin



Seorang pendidik PAI idealnya secara adaptif dan kreatif bisa melakukan pengembangan Pendidikan Agama Islam. Hal ini sangat penting karena merekalah yang sering berinteraksi dengan peserta didik, sehingga tidak mustahil mereka bisa mengetahui keadaan pendidikan Islam di lapangan secara utuh. Asumsinya, masukan atau anjuran dari pemerintahan pusat bahkan kadang di pemerintahan daerah sekalipun belum tentu cocok untuk diaplikasikan di ranah “nyata.” Begitu pula masukan dari ilmuwan Pendidikan Islam, dari tokoh agama, maupun dari pengkonsep lainnya belum tentu bisa menyelesaikan masalah secara baik dan komprehensif di satuan lembaga.[1] Bisa dikatakan, pendidiklah figur sejati pengembangan PAI. Oleh karena itu, sosok pendidik sudah seharusnya bisa menjadi panutan di segala hal dan bidang positif. Utamanya teladan dalam sikap progesif atau dinamis, sehingga selalu terbuka untuk menghadapi dan mengantisipasi perubahan. Bahkan bila perlu menuju level lebih tinggi, yaitu mengadakan “tandingan” pengembangan yang jauh lebih positif.
Sudah barang tentu, untuk mengadakan pengembangan eloknya pendidik mengembangkan keterampilan dan kompetensinya. Salah satunya, kemampuan dalam penelitian –terutama kemampuan menganalisis masalah— sehingga bisa menyelesaikan secara praktis permasalahan pendidikan.[2] Selain juga, pendidik mampu bekerja sama dengan seluruh manusia yang ada di dalamnya untuk menyukseskan program pengembangan tersebut. Dapat dikatakan, pengembangan pendidikan Islam tidak lain merupakan hasil dari proses controlling dalam mewujudkan harapan yang diinginkan. Artinya, apabila suatu upaya terkait dengan pendidikan Islam dirasa tidak “ampuh” lagi untuk mencapai tujuan secara efektif dan efesien maka sudah barang tentu suatu pengembangan mesti dilakukan. Namun, kadangkala suatu pengembangan di lembaga tidak serta merta bisa dilakukan oleh seorang pendidik atau sekelompok pendidik. Suatu pengembangan mesti menjadi program yang disepakati dan dijalankan bersama oleh seluruh civitas pendidikan melalui peran mereka masing-masing. Dengan kata lain, suatu pengembangan tidak boleh dilakukan secara serampangan, tidak asal melakukan pengembangan, dan harus berorientasi pada tujuan konkrit.
Dalam setiap pengembangan PAI yang dilakukan juga wajib melihat landasan (rambu-rambu) baik yang bersifat formal (Undang-undang, peraturan pemerintah, dll) maupun nonformal (adat istiadat, kearifan lokal, kondisi manusia, dll). Di antara landasan formalnya adalah pertama untuk semua jenjang dan bentuk pendidikan Islam landasannya terdiri dari: Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 Amandemen IV, Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Undang-undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, Peraturan Pemerintah RI No. 19 Tahun 2005 Tentang Standar Pendididikan Nasional Pendidikan, Peraturan Pemerintah No. 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Keagamaan, Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 66 Tahun 2010 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan, dll.
Kedua untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah meliputi: Peraturan Menteri Agama RI No. 90 tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Madrasah, Peraturan Menteri Agama RI No. 29 tahun 2014 tentang Kepala Madrasah, Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia 211 tahun 2011 tentang Pedoman Pengembangan Standar Nasional Pendidikan Agama Islam pada Sekolah, dll. Ketiga untuk jenjang Pendidikan Tinggi mencakup: Undang-undang Republik Indonesia Nomor 12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, Peraturan Pemerintah No. 4 tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Tinggi dan Pengelolaan Perguruan Tinggi, Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI No. 49 Tahun 2014 Tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi, Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor: 43/Dikti/Kep/2006 tentang Rambu-rambu Pelaksanaan Kelompok Mata Kuliah Pengembanan Kepribadian di Perguruan Tinggi, dll.
Keempat Undang-undang dan peraturan yang tidak terkait secara langsung dengan pendidikan tapi juga penting sebagai dasar pengembangan PAI diberbagai bidang, seperti: 1) Bidang kesosialan: Undang-undang No. 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, Undang-undang No. 15 tahun 2003 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 1 tahun 2002 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, Menjadi Undang-undang, Undang-undang No. 11 tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak, Undang-undang Republik Indonesia Nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, Undang-undang No. 17 tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan, Undang-undang No. 7 tahun 2012 tentang Penanganan Konflik Sosial, Undang-undang No. 19 tahun 2011 tentang Pengesahan Convention On the Rights of Persons with Disabilities (Konvensi Mengenai Hak-hak Penyandang Disabilitas), Undang-undang No. 13 tahun 2011 tentang Penangan Fakir Miskin, Undang-undang No. 44 tahun 2008 tentang Pornografi, Undang-undang no. 40 tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis, Undang-undang No. 35 tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-undang No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, Undang-undang No. 40 tahun 2009 tentang Kepemudaan, dll.
2) Bidang kealaman (lingkungan): Undang-undang No. 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, Undang-undang No. 1 tahun 2014 tentang Perubahan atas UU No. 27 tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau Kecil, Undang-undang No. 18 tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantas Perusakan Hutan, dll. 3) Bidang administrasi: Undang-undang No. 43 tahun 2009 tentang Kearsipan, Undang-undang No. 2 tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan untuk Kepentingan Umum, Undang-undang No. 41 tahun 2004 tentang Wakaf, Undang-undang No. 14 tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik, Undang-undang No. 43 tahun 2007 tentang Perpustakaan, Undang-undang No. 12 tahun 2008 tentang Perubahan Kedua atas Undang-undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah, Undang-undang No. 19 tahun 2002 tentang Hak Cipta, Undang-undang No. 16 tahun 2001 tentang Yayasan, dll. Serta tentunya Peraturan Menteri dan Peraturan Daerah lainnya yang relevan dengan pengembangan PAI.
Adapun landasan nonformalnya yaitu pertama landasan filosofis[3] yang melingkupi: berorientasi pada kearifan lokal (al ‘urf atau local wisdom), tidak ada dikotomi antara ilmu agama dengan ilmu umum, semua manusia punya hak sama dan seimbang untuk berkembang, proses pengembanan bersifat fleksibel sehingga selalu terbuka untuk penyempurnaan, dll. Kedua landasan psikologis mencakup: manusia mempunyai kebutuhan kejiwaan yang tidak boleh dilanggar, manusia mempunyai kecerdasan (kemampuan) yang berbeda dalam menghadapi kehidupan, manusia secara umum memerlukan pengakuan dan perlakuan secara wajar dalam komunitasnya, dll. Ketiga landasan sosiologis meliputi: peristiwa terbaru yang sedang terjadi di mayarakat, kondisi makro sosial masyarakat, dinamika kehidupan masyarakat, dll. Keempat landasan historis, terdiri atas: meneruskan cita-cita mulia para ulama dan pahlawan terdahulu, memperbaiki kekurangan yang masih belum terselesaikan di masa lalu, mengacu pada tujuan Islam maupun tujuan didirikannya negara Indonesia, dll.
Selain landasan formal dan nonformal, pengembagan PAI perlu memperhatikan prinsip-prinsip yang tidak kalah penting. Di antaranya merupakan sebagai berikut:
1.        Setiap pengembangan yang dilakukan tidak menyebabkan permasalah baru di bidang lain. Misalnya, pengembangan SDM pendidik dengan bentuk memberikan pelatihan dan penaikan gaji –karena caranya tidak tepat dan pilih kasih— menyebabkan kecemburuan sosial antar pegawai sehingga menimbulkan ketidaknyamanan hingga timbul perpecahan.
2.        Setiap pengembangan dilakukan tidak untuk tujuan oportunis-pragmatis. Misalnya, untuk “mengenyangkan” perutnya sendiri atau kelompoknya sehingga terjadi missing link (ketidakpaduan) tujuan antar pengembang PAI dalam lingkup yang lebih besar lagi.
3.        Setiap pengembangan tentu peka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.
4.        Setiap pengembangan harus relevan dengan kebutuhan kehidupan masa kini, bahkan bila perlu untuk beberapa tahun yang akan datang.
5.        Setiap pengembangan yang berhasil dilakukan tidak boleh merasa puas dan berhenti sampai di situ, karena pengembangan PAI merupakan proses yang terus berjalan sepanjang hayat. Sebagaimana prinsip long life education dalam memaknai hidup ini.
6.        Adanya keseimbangan antara kepentingan umat Islam dengan kepentingan nasional.
7.        Pengembangan tidak hanya untuk memecahkan masalah, akan tetapi untuk senantiasa meningkatkan kualitas dan kuantitas kehidupan manusia.
8.        Terus-menerus mengadakan kontrol dan evaluasi pada setiap pengembangan yang dilakukan.
9.        Pengembangan PAI merupakan bagian dari rekayasa sosial. Oleh karena itu, ia dihadapkan pada beberapa pilihan. Yakni, terseret arus pengembangan yang ada, bertahan pada keadaan lama dengan resiko ditinggalkan, atau mengadakan pengembangan sendiri yang hasilnya dimungkinkan jauh lebih baik dari pada “diam” saja.
10.    Pengembangan PAI merupakan bentuk investasi “kebahagiaan”
bagi umat Islam, negara Indonesia, dan seluruh umat manusia.
11.    Pengembangan PAI bisa berjalan lancar bila seluruh manusia yang terlibat mempunyai kemampuan mapan, perencanaan matang, terorganisir, semangat, kesadaran, dan komitmen tinggi.
12.    Pengembanan senantiasa memiliki landasan yang kuat, bukan hanya semata-mata supaya tercipta suasana baru atau demi mengejar prestise.
13.    Terdapat nilai-nilai dasar pengembangan yang dijunjung bersama sebagai intagible asset bagi lembaga pendidikan Islam. Misalnya, seluruh manusia yang ada di dalamnya meyakini atau menilai bahwa proses pengembangan PAI merupakan bagian dari Ibadah yang kemungkinan besar pahalanya lebih banyak dari pada tidak melakukan pengembangan.
Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa pengembangan PAI tidak bisa berdiri sendiri dan lepas dari pengaruh unsur lainnya. Dapat dikatakan, tujuan diadakan pengembangan PAI tidak bisa lepas dari tujuan pelaksanaan PAI itu sendiri. Secara lebih rinci menurut Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 211 tahun 2011 tentang Pedoman Pengembangan Standar Nasional Pendidikan Agama Islam pada Sekolah, menerangkan bahwa:

Pendidikan Agama Islam sebagai pendidikan moral bertujuan untuk mewujudkan karakter peserta didik yang memahami, meyakini, dan menghayati nilai-nilai Islam, serta memiliki komitmen untuk bersikap dan bertindak konsisten dengan nilai-nilai tersebut, dalam kehidupan sebagai pribadi, anggota keluarga, anggota masyarakat, warga negara, dan warga dunia.[4]

Selain itu, pengembangan pendidikan agama Islam di sekolah sepatutnya juga mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP). Dalam hal ini, terutama pada standar isi, standar proses pembelajaran, standar pendidik dan tenaga kependidikan, serta standar sarana dan prasarana pendidikan. Selanjutnya, ketentuan tentang Standar Nasional Pendidikan tersebut juga mengikat pada bentuk pendidikan Islam[5] selain di sekolah. Lebih daripada itu, normatifnya pengembangan PAI di segala bentuk pendidikan sepatutnya pun mengimplementasikan Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan. Di mana, salah satu isinya mengamanatkan “pendidikan agama bertujuan untuk berkembangnya kemampuan peserta didik dalam memahami, menghayati, dan mengamalkan nilai-nilai agama yang menyerasikan penguasaannya dalam ilmu pengetahuan, teknologi dan seni.”[6] Selain itu menurut Ali dalam PP itu pendidikan Islam terklasifikasikan dalam tiga bentuk, yaitu:[7]

Pertama, pendidikan agama diselenggarakan dalam bentuk pendidikan agama Islam di satuan pendidikan pada semua jenjang dan jalur pendidikan. Kedua, pendidikan umum berciri Islam[8] pada satuan pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi pada jalur formal dan non formal, serta informal. Ketiga, pendidikan keagamaan Islam pada berbagai satuan pendidikan diniyah dan pondok pesantren yang diselenggarakan pada jalur formal, dan non formal, serta informal.

Dari penjelasan tersebut dapat dipahami bahwa pengembangan PAI antara satu bentuk pendidikan dengan yang lainnya tentu berbeda model dan fokusnya. Mengingat, setiap bentuk pendidikan memiliki corak dan keunikan masing-masing –salah satunya menyesuaikan dengan keadaan peserta didiknya— dalam menerapkan Pendidikan Agama Islam. Namun demikian, pengembangan tersebut tetap berada di koridor sama, yaitu untuk memajukan negara Indonesia. Serta tentunya juga berlandaskan pada nilai-nilai Islam yang penuh rahmat bagi semesta alam. Oleh karena itu, bila perubahan yang diadakan diprediksi tidak bisa memajukan bangsa, bahkan jauh dari khittah Islam maka secepatnya direvisi. Dikhawatirkan bila tidak diubah akan menjadi batu sandungan bagi pelaku pengembangan itu sendiri, dalam hal ini salah satunya yaitu pendidik.
Bagaimanapun, kesuksesan pengembangan PAI secara praktis merupakan tanggung jawab pendidik PAI di sekolah maupun Perguruan Tinggi Umum. Serta menjadi kewajiban bagi seluruh individu (kecuali peserta didik) yang terdapat pada Madrasah maupun Perguruan Tinggi Agama Islam. Tentu juga menjadi tanggung jawab moral akademis bagi ilmuwan PAI. Tak ketinggalan menjadi tanggung jawab formal bagi seluruh pejabat pemerintah yang berwenang dan terkait, baik di pemerintahan pusat maupun daerah. Dengan demikian, pengembangan PAI hendaknya bisa berdampak positif bagi institusi sekolah dalam membantu permasalahan, utamanya kerusakan moral pemuda pada tingkat pemerintah daerah. Sedangkan arah yang lebih jauh dan luas yaitu membantu mewujudkan tujuan pendidikan Nasional. Oleh karena itu, seyogianya seluruh pendidik bidang studi maupun kepala sekolah hingga pimpinan perguruan tinggi dan seluruh pejabat pemerintah daerah maupun pusat mendukung upaya penyuksesan pengembangan PAI.[9] Bagaimanapun, bila ada sinergitas dari berbagai pihak maka tidak menutup kemungkinan pengembangan PAI bisa tercapai dengan sukses. Harapannya, PAI mampu memiliki andil dalam pembangunan Indonesia menuju negara maju dalam tingkat regional hingga internasional.


[1]Suatu masalah di lembaga biasanya dapat diketahui secara utuh bila di lembaga bersangkutan diadadakan penelitian secara mendalam dan totalitas. Namun, yang sering terjadi adalah dalam satu daerah diadakan penelitian terhadap beberapa lembaga yang menghasilkan suatu kesimpulan. Kemudian dari kesimpulan itu secara disamaratakan dengan lembaga lain. Padahal antar satu lembaga satu dengan yang lain meski masalahnya sama, tapi boleh jadi penyebabnya berbeda. Oleh karena itu, dalam menyelesaikan masalah pada suatu lembaga tidak bisa serta-merta mengambil solusi dari hasil penelitian lembaga lain. Akan tetapi harus diadakan penelitian tersendiri terhadap lembaga yang bermasalah tersebut.
[2]Bila dilihat dari sudut pandang ilmu alam maka PAI merupakan sebuah ilmu terapan. Yakni, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah penerapan atas prinsip-prinsip umum untuk memecahkan permasalahan yang terjadi di alam dan masyarakat manusia. Lihat, “Kamus Besar Bahasa,” didownload tanggal 21 April 2014. Sedangkan dalam pandangan sosiologi, PAI merupakan ilmu murni. Yakni, dalam konteks Islam merupakan ilmu yang terfokus pada pencarian pengetahuan, gejala alam (ayat kauniah), analisis (tafsir), dogma-dogma, dan dasar-dasar pendidikan Islam.
[3]Landasan Pengembangan PAI idealnya bertitik tolak pada pemikiran yang mendalam hingga ke akar-akarnya (terkait logika, etika, estetika, metafisika, hingga epestimologi, ontologi, dan aksiologi) sebagai penunjang dalam merumuskannya. Beberapa di antaranya, pertama pengembangan PAI mesti berakar pada pijakan teori atau konsep yang sudah kuat. Hal ini, salah satunya supaya setiap pengembangan yang dilakukan dapat dipertanggungjawabkan secara akademis. Kedua, pengembangan PAI idealnya disandarkan pada suatu penelitian utamanya yang dilakukan di tingkat daerah sekitar (kota/kabupaten). Serta penelitian di tingkat propinsi dan nasional sebagai penunjang pengembangannya. Salah satu langkahnya adalah memanfaatkan gabungan beberapa karya ilmiah lulusan perguruan tinggi. Misalnya skripsi, tesis, dan disertasi yang utamanya berasal dari fakultas Pendidikan. Ketiga, pengembangan PAI haruslah mempunyai daya keterukuran (tidak utopis) dan  tidak terlalu membebani Sumber Daya Manusia dan pemborosan finansial. Harapannya, agenda pengembangan tersebut berpeluang untuk dikaji kembali apabila ada kekurangan.
[4]Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia 211 tahun 2011 tentang Pedoman Pengembangan Standar Nasional Pendidikan Agama Islam pada Sekolah, dalam http://www.pendis.kemenag.go.id/pai/file/dokumen/14.KMANoomor211th2011tentangPedomanPengembanganStandarNasionalPendidikanAgamaIslampadasekolah.pdf, didownload tanggal 16 Februari 2015.
[5]Bentuk pendidikan Islam di Indonesia sangat banyak. Bisa dikatakan, di Indonesia tidak hanya jumlah lembaganya yang banyak akan tetapi keragaman jenis lembaga pendidikan Islam pun demikian. Namun, di antara beberapa bentuk pendidikan Islam tersebut yang terbesar adalah madrasah, pesantren, dan sekolah.
[6]Perintah lain dari PP tersebut adalah “pendidikan agama pada pendidikan formal dan program pendidikan kesetaraan sekurang-kurangnya diselenggarakan dalam bentuk mata pelajaran atau mata kuliah agama.” Hal itu artinya pengembangan Pendidikan Agama Islam tidak hanya berkutat pada bentuk mata pelajaran atau mata kuliah Agama Islam. Akan tetapi bisa dilebarkan pada “sayap-sayap” kegiatan lain, sehingga tujuan PAI bisa tercapai secara optimal. Lihat, “Peraturan Pemerintah Nomor 55 tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Keagamaan,” http://www.setneg.go.id//components/com_perundangan/docviewer.php?id=1786&filename=PP_No_55_th_2007.pdf, didownload tanggal 22 Desember 2014.
[7]Mohammad Ali, “Pengembangan Pendidikan Agama Islam di Sekolah,” dalam http://www.ispi.or.id/2010/09/19/pengembangan-pendidikan-agama-islam-di-sekolah/, 19 September 2010, diakses tanggal 16 Februari 2015.
[8]Yang dimaksud dengan pendidikan umum berciri Islam adalah pendidikan Islam yang berbentuk madrasah.
[9]“Kementerian Agama menyadari bahwa harapan masyarakat agar pendidikan Islam meningkatkan kontribusinya dalam pembangunan nasional hanya dapat terwujud melalui kerjasama kolektif dari berbagai pihak. Koordinasi yang kuat antara aparat Kementerian Agama pada tingkat provinsi dan kabupaten/kota menjadi instrumen utama dalam merumuskan titik temu kebijakan antara Kementerian Agama sebagai penanggung jawab penyelenggaraan pendidikan Islam dan Pemerintah Daerah sebagai penanggung jawab pembangunan daerah.” Lihat, Maarif, “Apresiasi Pendidikan Islam,” diakses tanggal 16 Maret 2015.

Monday, June 18, 2018

Trik Persiapan Bagi Siswa dan Orang Tua untuk Memulai Tahun Pelajaran Baru

Trik Persiapan Bagi Siswa dan Orang Tua untuk Memulai Tahun Pelajaran Baru



Tahun ajaran baru atau lebih tepatnya tahun pelajaran baru merupakan tahun sejuta rasa bagi siswa maupun wali siswa. Di dalamnya terdapat harapan, was-was, kecemasan, kesenangan, dan perasaan lainnya yang campur aduk jadi satu. Bagaimana tidak, hal yang baru akan segera disongsong sedang di sisi lain bayang-bayang keburukan di tahun lalu bakal terulang. 

Misalnya bagi orang tua harus menanggung biaya untuk menunjang keberhasilan anaknya dalam sekolah, harus kembali berurusan dengan pihak sekolah yang kadang kala sistem birokrasinya lebih rumit daripada sistem militer, dan kekhawatiran wali murid terhadap perkembangan anaknya di sekolah.

Adapun bagi siswa harus kembali lagi melakukan aktivitas membosankan seperti tahun-tahun sebelumnya. Malah kadangkala siswa menjadi korban buly dan dikucilkan oleh temannya. Siswa harus dituntut berprestasi di bidang tertentu oleh sistem sekolah (kurikulum, guru, teman, dll) meski itu bukan minat dan bakatnya. Serta permasalahan lain yang mungkin diderita oleh siswa tapi lunput dari pengawasan guru dan Wali murid.

Bila siswa maupun orang tua teringat perkara seperti di atas maka kadang akan timbul dibenak untuk apa sekolah. Gugatan itu wajar karena mungkin sekolah belum bisa jadi rumah kedua bagi siswa. Serta bisa jadi sekolah belum bisa dipercaya untuk mendidik anaknya. Akibatnya tidak akan bisa menikmati proses dari pendidikan di sekolah tersebut.

Memang benar tahun pelajaran baru adalah harapan baru. Namun harapan bisa ada tidaklah kita terima secara gratis tapi harus diperjuangkan. Perjuangan yang bukan hanya sebentar serta sekali atau dua kali. Namun perjuangan terus-menerus serta beberapa kali. Bagaimana supaya peristiwa buruk terkait sekolah di masa lalu tak terulang lagi.

Oleh sebab itu, untuk menunjang perjuangan siswa serta orang tua dalam menyongsong tahun pelajaran baru yang lebih baik maka kami berikan triknya sebagai berikut:

A. Bagi Siswa
1. Hal-hal yang harus Dipersiapkan oleh Siswa

Jika kamu ingin lebih baik dan lebih bahagia dari tahun-tahun kemarin maka kamu paling tidak harus melakukan ini:

a. Buat list/daftar mana saja teman kamu yang membawa manfaat dan bisa diajak maju bersama. Mana saja teman yang bisa membuat hatimu adem dan menerima kekuranganmu. Kamu harus bisa membedakan mana teman sejati dan sehati serta mana teman makan teman. Salah pilih teman maka akibatnya vatal. Hati kamu bakal tersiksa saat di sekolah. 

b.  Perhatikan mata pelajaran apa saja yang akan kamu nikmati di tahun ajaran/pelajaran tersebut. Cari pengalaman dan wawasan terkait pelajaran dari kakak kelas bagaimana gurunya dan seterusnya. Bila perlu pinjam buku tulis dan diktatnya kakak kelas.

c. Buat target atau lebih tepatnya fokus capaian. Di tahun pelajaran ini kamu ingin unggul di bidang pelajaran apa. Misal kamu sudah tahu kemampuan kamu di bidang ilmu sosial (ekonomi, sejarah, budaya, dll) maka fokuskan pada bidang ilmu tersebut. Jangan sekali-kali ikut-ikutan teman bahkan terpengaruh padanya. Ingat masa depanmu di tangan kamu. Temanmu tentu akan memikirkan masa depannya sendiri.

d. Pilih ekstrakurikuler atau les tambahan yang sesuai kemampuanmu. Misalnya kamu tahu bahwa dirimu bakat (mampu) di bidang olah raga seperti basket. Buat target kamu bakal unggul di bidang itu. Perlu diperhatikan turuti hati nuranimu jangan ikut-ikutan teman. Bila kamu berminat dan bakat di bidang kepramukaan maka ikutlah pramuka jangan ragu dan malu. Oleh sebab itu, pelajari dulu diri kamu sendiri, sebenarnya kemampuan kamu di bidang apa? Ingat berminat/suka belum tentu akan mampu (berbakat).

e. Berkomitmen pada managemen diri misalnya membuat jadwal kegiata diri sendiri lalu berusaha mencapainya. Membagi waktu untuk belajar, bermain, jalan, organisation sekolah dll. Jangan sampai mengabaikan bahkan meninggalkan kegiatan terkait bakat dan minat kamu yang sebenernya itu lebih penting daripada hasutan temanmu yang belum tentu peduli masa depanmu.


2. Hal-hal yang Harus Dilakukan Siswa Saat Dimulainya Tahun Pelajaran Baru

a. Lakukan PDKT (pendekatan) yang wajar pada teman dan gurumu. Jangan terlalu sok akrab pun jangan terlalu jaga jarak. Hormati gurumu meski kamu belum kenal dia. Jaga perasaan temanmu meski kamu baru kenal. 

b. Jangan membanding-bandingkan antara kepunyaan temanmu dengan kepunyaanmu. Juga jangan membandingkan kepunyaan temanmu dengan teman lainnya. Meski kamu serba kurang di hari ini yakinlah dengan prestasimu (tidak harus prestasi di pelajaran) kamu bakal bernasib lebih baik di masa datang.

c. Jangan sebut atau membawa nama orang tua ketika berbicara karena ujung-ujungnya akan membandingkan. Bila terpaksa haru membahas maka jangan sekali-kali kagum terhadap kehebatan orang tua. Oleh sebab itu buatlah prestasimu sendiri sehingga kamu juga akan jadi hebat.

d. Bicara secukupnya pada teman. Irit bicara boros prestasi. Buktikan bahwa kamu lebih baik dari tahun-tahun kemarin. Ini akan berguna bagu masa depanmu. Banyak belajar tentang sesuatu yang kamu minati dan bakati serta bertindaklah kreatif. 

e. Datangi guru Bimbingan Konseling bila tidak ada guru BK datangi kepala sekolah atau guru yang menurutmu mampu membimbing bakat dan minatmu. Guru BK tidak hanya menangani siswa yang bermasalah saja. Mereka juga berkewajiban mendampungi siswa yang butuh bantuan apapun itu. Guru BK pasti akan mencari jalan keluarnya.

B. Bagi Orang Tua
1. Hal-hal yang harus Dipersiapkan oleh Wali Murid
a. Memilah antara biaya yang diberikan untuk sekolah dengan biaya untuk kebutuhan anak. Kebutuhan anak harus terjamin secara wajar. Jangan sampai anak kekurangan biaya untuk operasional dirinya sendiri tapi juga jangan berlebihan. Ingat, anak sekolah untuk mencari ilmu bukan untuk bekerja atau untuk memamerkan harta orang tuanya.

b. Mengarahkan anak serta memberi pemahaman terkait pentingnya manajemen diri. Anak harus diajari bagaimana mengatur diri, mengatur waktu, mengatur tugas-tugas yang harus ia selesaikan, mampu memecahkan masalah secara mandiri, dan seterusnya. 

c. Membelikan buku atau memfasilitasi dan mendampingi anak untuk mendowload buku elektronik. Buku elektronik sangat melimpah di internet. Serta membelikan peralatan tulis menulis. Pastikan kelengkapan fisik anak sudah benar-benar siap menghadapi tahun pelajaran baru.

d. Mengarahkan anak untuk menemukan bakatnya. Setelah itu dampingi, dukung, dan buat anak menyukai bakatnya. Anak yang terlambat atau bahkan tidak tahu bakatnya maka ia akan tersiksa di masa depannya. Meski kelak secara materi ia cukup tapi secara batin ia tersiksa.


2. Hal-hal yang Harus Dilakukan Orang Tua Saat Dimulainya Tahun Pelajaran Baru

a. Datangi guru BK (bimbingan komseling) berikan informasi penting terkait anak anda misal nya punya penyakit, punya alergi, punya kebiasaan buruk saat di rumah, dll. Hal itu penting untuk membantu guru BK kelak ketika anak anda butuh bimbingannya. Perlu diperhatikan guru BK tidak hanya mengurusi siswa bermasalah saja. Cakupan sasaran guru BK adalah seluruh peserta didik. Jadi bagi siapapun boleh datang ke guru BK.

b. Memastikan bahwa siswa mampu beradaptasi di lingkungan atau kelas terbarunya. Jangan sampai siswa minder, takut, dan cemas. Sebaliknya jangan sampai siswa over percaya diri dan agresif.

c. Pelajari karakter teman anak anda. Harus tahu mana teman yang bisa mendukung bakatnya. Saat berkunjung ke sekolah panggil teman anak anda ajak kenalan. Bila perlu suruh ia bermain ke rumah.

Itulah sedikit trik dari kami. Semoga bermanfaat.

Sunday, June 17, 2018

Urgensi atau Peran Penting Pengembangan Pendidikan Agama Islam

Urgensi atau Peran Penting Pengembangan Pendidikan Agama Islam


Pengembangan PAI menyangkut ketercapaian Indonesia bisa menjadi negara maju merupakan hal yang sangat dibutuhkan dalam sistem pendidikan Nasional. Dengan penduduk mayoritas Muslim, Indonesia tidak akan bisa lepas dari kebudayaan umat Islam, utamanya masalah pendidikan Islam. Asumsinya, pendidikan termasuk pendidikan Islam punya andil besar dalam mewujudkan peradaban unggul bangsa. Bila ditilik dari tinjauan sejarahnya pun ternyata dinamika Pendidikan Islam berjalan secara menakjubkan. Dimulai dari masa kelahirannya hingga tumbuh kembang, lalu terjadilah masa kemajuan Pendidikan Islam. Di mana pada masa kejayaan itu pendidikan Islam telah melahirkan ilmuwan-ilmuwan besar yang berpengaruh bagi negaranya. Bahkan juga berpengaruh langsung maupun tidak langsung terhadap perkembangan ilmu pengetahuan modern Barat. Meski, setelah itu karena minimnya daya intelektualitas dan ide “pengembangan” menyebabkan pendidikan Islam memasuki masa kemundurun. Baru pada sekitar awal abad 20-an akhirnya terdapat tanda-tanda spirit kebangkitan pendidikan Islam melalui beberapa pengembangan yang dilakukan hingga sekarang ini.
Pada dasarnya, pengembangan PAI diperlukan bagi umat Islam dan bangsa Indonesia untuk mencetak generasi unggul. Yakni, unggul sesuai dengan bidang kecerdasan masing-masing, salah satu contohnya dalam bidang sosial atau kealaman. Dengan pengembangan tersebut, PAI bisa membangkitkan kejayaan (kemajuan) pendidikan Islam. Tentu yang dibangkitkan ialah semangat keilmuan, keintelektualitasan, dan hasilnya bisa mencerahkan[1] bagi masyarakat lain. Dari itu, PAI akan terus-menerus mencetak ilmuwan yang mampu melahirkan IPTEK berlandaskan Islam. Salah satu fungsinya sebagai penyeimbang IPTEK sekuler yang pergerakannya semakin liar. Dalam artian, pengembangan IPTEK sekuler telah meningkatkan potensi dehumanisasi. Selain juga, ke depannya PAI dapat menciptakan situasi sosial-politik –khususnya di Indoneisa— menjadi lebih kondusif untuk mewujudkan keamanan, kedamaian, keadilan, meminimalisir kemiskinan, dan tercapainya kesejahteraan.
Lebih terperinci, pengembangan PAI pada setiap jenjang dan bentuk pendidikan Islam semakin mendesak untuk dilakukan. Mengingat, terdapat beberapa permasalahan yang tak terbendung lagi dan perlu ditanggulangi pada akhir-akhir ini. Misalnya, pertama masalah politik seperti korupsi, politik uang, nepotisme, kecurangan pemilu maupun pilkada, dan pejabat partisan yang hanya peduli pada sebagian kelompok masyarakat. Kedua masalah ekonomi meliputi terjadi jurang kesenjangan antara rakyat miskin dengan kaum borjuis, lapangan kerja yang minim, dan kurangnya semangat pemuda dalam berwirausaha. Ketiga masalah sosial-kemasyarakatan mencakup perilaku seks bebas maupun seks menyimpang, maraknya ayam kampus, kasus mutilasi, kasus kekerasan hingga terorisme, dan ketidakpedulian manusia terhadap lingkungan alam.
Keempat masalah keilmuan terdiri dari minimnya ilmuwan pengetahuan umum yang menghayati agamanya dalam menciptakan teknologi, minimnya penciptaan-penciptaan yang bisa bermanfaat bagi kemajuan bangsa, dan masih ada kecenderungan dikotomi antara ilmu agama dengan ilmu umum. Kelima, masalah “pergesekkan” antar ormas Islam yang menjurus pada hal-hal negatif, seperti perpecahan. Padahal semestinya gesekan tersebut bisa mengarah positif, yaitu dalam bingkai berlomba-lomba dalam bidang kebaikan dan takwa. Di mana tidak bisa tidak energi umat Islam bukan dihabiskan untuk “melawan” umat Islam sendiri. Namun, untuk berlomba-lomba mengembangkan ilmu pengetahuan sehingga bisa bermanfaat bagi umat Islam pada khususnya dan tentunya untuk rakyat Indonesia lainnya.
Dari pernyataan di atas, pengembangan PAI merupakan salah satu bentuk nyata penyokong pengembangan kebudayaan di masyarakat. Artinya, untuk sekian kali ditekankan PAI sudah semestinya berkonstribusi dalam membangun kebudayaan unggul. Yakni, salah satunya kebudayaan yang bercirikan aktif mengembangkan ilmu pengetahuan, cinta damai, berkarya serta mengabdi bagi masyarakat, dan inspiratif. Dengan asumsi, suatu pengembangan budaya (dalam bidang apapun itu) tidak akan bisa lepas dari perkembangan budaya dalam bentuk atau bidang lainnya di masyarakat. Baik budaya yang berwujud “ide atau gagasan” seperti penggunaan bahasa dalam komunikasi, maupun berwujud “benda” seperti teknologi berwujud telepon seluler. Dengan kata lain, pengembangan PAI terjadi karena dipengaruhi oleh perkembangan budaya lainnya, begitu pula sebaliknya. Misalnya, merebaknya budaya “melek” teknologi informasi menyebabkan generasi muda mampu menerima informasi dengan cepat dan mudah. Hal tersebut menuntut adanya pengembangan PAI berbasis teknologi informasi. Sebaliknya, dengan adanya pengembangan PAI berbasis teknologi informasi, maka bisa menggugah para ahli teknologi informasi maupun ilmuwan terkait untuk semangat dalam menciptakan media dan sumber pembelajaran PAI yang canggih.
Dari semua pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa pengembangan PAI merupakan gagasan yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Bahkan bila dilakukan dengan konsisten (tetap berlandaskan pada al Quran dan Hadith) bisa mencapai derajat “keutuhan” dalam beragama. Pengembangan PAI juga menjadi faktor penting bagi kesuksesan mewujudkan kemajuan negara Indonesia. Mengingat, kondisi masyarakat Indonesia yang multikultural dan senantiasa rentan dengan gesekan-gesekan. Dapat dikatakan, pengembangan PAI menjadi langkah penting untuk tercapainya tujuan pendidikan Nasional. Terlebih, PAI merupakan bagian dari sistem pendidikan yang tidak dapat dipisahkan dari lainnya. Selain itu, dengan adanya pengembangan akan bisa memudahkan pendidik, peserta didik, serta seluruh manusia yang peduli dan terlibat pendidikan Islam dalam mewujudkan tujuan PAI. Oleh karena itu,  pengembangan PAI dimaksudkan tidak hanya untuk mengatasi permasalahan, akan tetapi juga bisa memberikan pencegahan terhadap masalah yang berpotensi terjadi.


[1]Hasil yang didapat dari pengembangan PAI diharapkan bisa membahagiakan lahir-batin, menjadi kabar gembira, menjadi solusi (inspirasi), dan menawarkan konsep keilmuan yang kokoh bagi umat manusia.