Pengembangan Pendidikan Agama Islam: Reinterpretasi Berbasis Interdisipliner

Pengembangan Pendidikan Agama Islam

--- BUKU MURAH (ASLI bukan FOTOCOPY-AN/BUKAN BUKU BAJAKAN): " Buku MURAH BERKUALITAS hanya Rp.47.000,- (belum ongkos kirim. Ongkos kirim diperkirakan Rp. 18.000 - Rp. 35.000 tergantung lokasi pengiriman) berjudul PENGEMBANGAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM: REINTERPRETASI BERBASIS INTERDISIPLINER (Yogyakarta: LKiS, 2015). Sebagai info harga buku ini di pasaran berkisar 70-90 ribu). Serta buku ini hanya dijual di toko buku daerah YOGYAKARTA saja.Info lebih lanjut hubungi: 08563-350-350 (11 digit)”---

Wednesday, April 18, 2012

ARTIKEL: Berdunia dan Beragama


BERDUNIA DAN BERAGAMA


Berdunia, istilah yang tidak lazim dalam norma tata bahasa Indonesia, berdunia yang berasal dari kata dasar dunia, kata ‘dunia’ merupakan kata benda dan jika  diberi imbuhan ber- menjadi kata kerja.  Berdunia dan beragama, keduanya memiliki nilai yang saling bertentangan tak bisa disatukan dalam satu tindakan karena masing-masing tidak memiliki keterpaduan dan saling berdiri sendiri. Atau dengan kata lain tindakan berdunia untuk kepentingan dunia dan tindakan  beragama untuk agama, satu sama lain tidak dapat dicampur baurkan. Keduanya merupakan perilaku untuk mencari ‘aman’, berdunia supaya aman dari kekalahan dengan manusia lain dalam beberapa urusan dan beragama yang murni tanpa riya’ adalah supaya aman dari ‘kebencian’ Tuhan.

Para ateisme dan anti konsep ketuhanan menolak adanya ‘kepasrahan’ (baca: tawakal) manusia pada ‘unsur’ lain (Tuhan) selain pada dirinya sendiri, karena manusia akan cenderung menjadi ‘melankolis’, lemah, dan akan kehilangan jati diri sebagai manusia yang ‘unggul’. Tapi bukankah cinta pada dunia  bahkan cinta pada ilmu pengetehuan juga berpeluang mendapatkan manusia pada posisi pasrah, lemah dan bisa kehilangan jati diri ketika manusia diperbudak oleh (ilmu) dunia tersebut?

Dunia berkaitan erat dengan harta, hidup, jabatan, prestasi dan hedonisme. Sedang agama digambarkan berpusat pada eschatology; untuk menjelang kematian yang mulia (mati khusnul khotimah) dan persiapan ‘hidup’ sesudah kematian. Jika memang kedua pernyataan tersebut merupakan sebuah kebenaran, maka wajar jika ada pendapat yang menyatakan ‘dunia’ dan agama tidak bisa disatukan dalam satu konsep. Terlebih jika ditekankan pada cara menggapai tujuan mengapa harus beragama dan berdunia, keduanya dapat disimpulkan saling bertolak belakang dan berlawanan.

Itulah sebab mengapa di alam ini muncul dua golongan karena perbedaan cara pandang (presepsi) tentang beragama dan berdunia, yang pertama golongan ateisme, hedonisme ‘murni’, dan gila akan ilmu pengetahuan dunia. Serta golongan kedua yang ortodok, fundamental, taqlid buta, hingga radikal dalam beragama. Mereka memandang konsep berdunia secara parsial dan terlalu ke kiri, serta memandang konsep beragama secara parsial dan terlalu ke ‘kanan’. Sehingga wajar jika terjadi alenialisasi antara kedua konsep tersebut.

Umumnya cara berdunia untuk memperoleh kejayaan dunia akan menggunakan cara-cara duniawi yang melibatkan manusia dengan manusia lain, dengan mahkluk hidup lain dan makhluk mati yang empiris (bisa diserap oleh panca indra). Dan cara beragama untuk memperoleh ‘kasih’ Tuhan akan melibatakan unsur-unsur yang metafisik dan trandsendental, misalnya semua tindakan dalam berperilaku akan dinisbatkan pada Wahyu Tuhan, untuk memperoleh ridho Tuhan, dan guna memperoleh posisi aman di mata Tuhan.

Dunia secara personal menawarkan keindahan yang nyata (empiris), diperoleh dengan cepat, dan bersifat imbal balik (transaksional konkrit) sehingga akan membius seperti candu. Sedang agama secara personal menawarkan surga, kententraman batin, dan posisi mulia di hadapan Tuhan. Apakah kedua tawaran tersebut saling bertolak belakang? Tentu sekilas keduanya merupakan unsur yang saling bertentangan, tapi dalam kenyataanya hal tersebut bisa dipadukan.

Memang penganut ateisme tidak menuhankan ‘Tuhan’, tapi menuhankan dirinya sendiri, atau paling tidak menuhankan rasionalisme (baca: otak) dan empirisme (baca: panca indra) yang menjadi modal utama. Padahal otak yang menjadi alat berfikir, memiliki segala keterbatasan dalam merasionalkan segala sesuatu, karena otak sendiri adalah benda’ yang memiliki massa (berat) dan ruang gerak seperti halnya batu dan udara yang merupakan benda mati yang berada di alam bebas. Bedanya, otak merupakan salah satu organ vital pada tubuh manusia dan hewan guna menunjang kehidupan. Dan otak adalah salah satu organ dari komponen bioatik (makhluk hidup) dalam ekosistem, sedangkan batu dan udara adalah salah satu komponen penyusun abiotik (makhluk mati).

Manusia yang amnesia (lupa ingatan), manusia gila, manusia tidur (dalam arti sebenarnya) dan manusia pingsan adalah manusia yang berada dalam posisi tak sadar. Manusia tak sadar tidak bisa mengendalikan otaknya secara ‘penuh’, sedang manusia sadar bisa ‘memanipulasi’ kecanggihan otaknya untuk merekayasa (baca; mengembangkan) apa yang dibutuhkan  guna keberhasilan tujuan hidup.

Dalam ‘batok’ kepala manusia tak sadar juga memiliki segumpal ‘daging’ yang dialiri darah yaitu otak. Dalam darah tersebut salah satunya terkandung oksigen untuk membantu ‘pembakaran’ energi agar otak bisa berfungsi sebagaimana mestinya. Dengan kata lain dalam otak terdapat komponen lain yaitu aliran darah yang bermuatan oksigen untuk memfungsikan otak, supaya otak bisa berfungsi normal dan optimal sebagaimana mestinya.

Dalam Islam, ulama tasawuf  dengan faham sufi-nya  memberikan tawaran sebagai alternatif bagi manusia yang ingin melakukan ’pensucian diri’ atas realitas tentang dunia, tapi tetap tidak meninggalkan kepentingan dunia. Yaitu dengan perbuatan tasawuf seperti zuhud (asketisme), mengistirahatkan diri dari kepentingan duniawi (uzlah), kejujuran dan ketulusan (bermujahadah), merenung (tadabur), berfikir (tafakur) dan mawas diri (ihtisab). Hal tersebut dilakukan tidak lain dan tidak bukan hanya untuk memperoleh penilaian terhadap sesuatu termasuk menilai dunia secara objektif dan menurut kejujuran diri.

Konsep ruh (baca: roh) oleh Imam Ghozali dalam kitab beliau Ihya ‘Ulumiddin Juz III mengungkapkan bahwa Ar-Ruhu (ruh) ialah suatu sifat halus pada manusia yang dapat mengetahui segala sesuatu dan dapat menangkap segala pengertian. Masih menurut beliau, namun ruh merupakan urusan yang pelik dan bersifat ketuhanan, di mana sebagian besar akal dan faham manusia tidak sanggup mendapatkan hakikat roh tersebut. Sebagaimana firman Tuhan dalam terjemahan Kitab al – Qur’an surat al-Isra’ ayat 85 yaitu “Katakanlah (hai Muhammad), bahwa roh termasuk urusan tuhanku.”
Manusia dalam berproses untuk ‘aktivitas’ berdunia dan beragamanya membutuhkan ilmu, salah satunya ilmu aqli. Ilmu aqli adalah ilmu bawaan sejak lahir murni pemberian Tuhan di alam ‘bawah sadar’ yang kemudian dikembangkan dalam proses berpengalaman, belajar, dan mencari. Sedangkan menurut Imam Ghozali membagi ilmu aqli  menjadi dua; ilmu duniawi dan ilmu ukhrawi (akhirat). Yang mana untuk ‘melihat’ kedua komponen tersebut memerlukan ‘mata’ hati dan akal. Masih menurut Imam Ghozali, adapun hati kebanyakan orang, apabila ia bebas melakukan urasan dunia, tentu ia berpaling dari urusan akhirat (agama) dan lalai darinya menuntut kesempurnaan (di mata Tuhan).

Memang meleburkan antara kesempurnaan serta kebaikan dunia dan agama tidaklah mudah, kecuali bagi orang yang sudah ditentukan oleh Tuhan dalam kehidupan berdunia dan beragama untuk mengurus manusia; yaitu para nabi yang diperkuat oleh Ruhul-Qudus dan tentunya para Wali yang memperoleh ‘pencerahan’ hati dan akalnya dari Tuhan dan yang menjadi penerus para nabi.

Sering kita temui banyak pemikir (filosof) yang lupa untuk berfilasat tentang kehidupan akhirat dan mereka terjebak pada pemikiran di dunia yang alasanya benda yang ada di dunia ini dapat dirasionalkan dan diempiriskan (tampak). Menurut mereka beragama akan membelenggu kebebasan berfikir karena wahyu Tuhan akan memenjarakan rasionalisme.  Berikut adalah beberapa ayat al - Qur’an meyinggung tentang pandangan manusia dalam hidup berdunia;

Terjemahan al – Qur’an surat Yunus ayat 7: “Bahwasanya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak akan percaya akan) bertemu Kami dan rela serta puas dengan kehidupan dunia dan serta merasa tenteram dengan (kehidupan) itu.....”
Terjemahan al – Qur’an surat Ar – Rum 7: “Mereka tahu akan lahir (yang tampak) dari kehidupan dunia, padahal mereka lupa daripada kehidupan akhirat”
Terjemahan  al – Qur’an surat An – Najm 28 – 30: “....Mereka tidak lain hanyalah mengikuti dugaan, dan sesungguhnya dugaan itu tidak berfaedah sedikitpun terhadap kebenaran (28) Maka tinggalkanlah (Muhammad) orang yang berpaling dari peringatan Kami, dan dia hanya mengingini kehidupan dunia (29) Itulah kadar ilmu mereka. Sungguh, Tuhanmu, Dia lebih mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia pula yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk (30).”

Sehingga wajar jika Imam al – Ghozali mengungkapkan bahwa orang yang membawa dirinya kepada taqlid (mengikuti tanpa dasar kokoh) semata-mata dengan menyisihkan akal adalah tolol dan orang yang mencukupkan akal tanpa Nur (cahaya) dari al-Qur’an dan Sunnah, adalah orang yang tertipu. Sebagaimana peringatan Tuhan dalam Kitab al-Qur’an surat al-Hajj ayat 46 yang terjemahannya “Sebenarnya bukan matalah yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.” 

Oleh karena itu dalam menjalankan hidup, berdunia saja tidak cukup, perlu proses beragama dan berdunia secara bersamaan untuk menuntun hati agar timbul rasa empati dan simpati, guna mempunyai karakter yang bisa menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia lain secara universal serta tidak menjadi manusia ekslusif yang menggangap dirinya atau golongannya paling benar dan unggul. (BE/01/12)

No comments:

Post a Comment