Pengembangan Pendidikan Agama Islam: Reinterpretasi Berbasis Interdisipliner

Pengembangan Pendidikan Agama Islam

--- SELALU ADA YANG BARU DI BLOG BANJIR EMBUN: "Kami Mengucapkan Terima Kasih Atas Kunjungan Anda. Bila butuh bantuan atau ada pertanyaan silakan hubungi ke nomor 08563350350 atau kirim email ke: banjirembun@yahoo.co.id subjek: BanjirEmbun Menjawab”---

Senin, 23 April 2012

MAKALAH: KHULAFA’ AL-RASHIDUN: PEMBENTUKAN KHILAFAH DI MASA ABU BAKAR DAN PEMERINTAHANNYA.


KHULAFA’ AL-RASHIDUN:
PEMBENTUKAN KHILAFAH DI MASA ABU BAKAR DAN PEMERINTAHANNYA

Oleh: 
A. Rifqi Amin
&
Bahak Udin
(Kepala MI Darul Huda Desa Surat Kecamatan Mojo Kabupaten Kediri)



PENDAHULUAN

Segala puji dan syukur bagi Allah SWT. yang senantiasa memberi kenikmatan Islam, Iman, dan Ihsan serta nikmat kesehatan dan kesempatan. Shalawat serta salam semoga tetap tercurahkan keharibaan baginda Nabi Muhammad SAW. Beliaulah sosok pemuda padang pasir yang senantiasa gigih dalam berjuang sehingga Islam tetap jaya dan terbukti kebenarannya.
Dunia Islam mulai menorehkan tinta emas dalam sejarahnya sejak Nabi Muhammad SAW melakukan hijrah dari Mekah ke Madinah. Rahasia terpilihnya peristiwa yang agung ini sebagai permulaan sejarah Islam adalah karena sejak saat itu anugerah kemenangan dari Allah SWT kepada Rasulnya-Nya mulai terlihat. Yakni kemenangan terhadap orang-orang yang memerangi beliau di kota suci Makkah. Padahal sebenarnya seluruh tokoh kabilah Quraisy telah mengatur siasat untuk membunuh beliau. Satu-satunya sahabat yang menemani Rasulullah SAW dalam perjalanan hijrah ini, tidak lain adalah Abu Bakar ash-Shidiq.
Abu Bakar ibn Quhafa adalah orang yang pertama di luar keluarga dekatnya Nabi Muhammad yang menerima dan menyatakan keimanannya kepada Allah dan Rasulnya.  Pilihan Rasulullah SAW kepada Abu Bakar untuk menyertainya dalam perjalanan hijrah dan menggantikan kedudukannya menjadi imam dalam shalat berjamaah bukan tanpa alasan sama sekali. Pengorbanannya yang dilandasi oleh keimanan yang kokoh, telah banyak ia lakukan. Ia selalu siaga membela Nabi dalam berdakwah, sebagaimana pembelaanya terhadap kaum muslimin.
Beliau adala pemimpin negara yang tidak menggunakan kekuasaan Tuhan sebagaimana Fir’aun dari mesir atau bentuk pemerintahan lain yang di kenal di Eropa Tengah. Abu Bakar tidaklah menggunakan kekuasaan Allah bagi dirinya, tetapi ia berkuasa atas dukungan Orang-orang yang membai’atnya. Dengan makalah ini kita dapat mengetahui sejarah singkat perkembangan dan kemajuan Islam di masa kekhalifahan Abu Bakar ash-Shiddiq yang meneruskan perjuangan dakwah Islam setelah wafatnya Rasulullah SAW. 


PEMBAHASAN


A.      BIOGRAFI ABU BAKAR
Nama Abu Bakar sebenarnya adalah nama julukan (kuniyah) atau panggilan akrab bagi beliau, yang memiliki arti ‘bapak pemagi’ karena ia adalah orang yang paling awal mempercayai kerisalahan Nabi. Nama asli Abu Bakar adalah Abdullah bin Abi Quhafa at-Tamimi. Nama Abdullah adalah nama pemberian dari Nabi setelah ia masuk Islam, di zaman pra Islam ia bernama Abdul Ka’bah.[1] Ia lahir dengan nama Abdus Syams, adalah khalifah pertama Islam setelah kematian Muhammad. Ia adalah salah seorang petinggi Mekkah dari suku Quraisy.[2] Sedangkan gelarnya  as-Siddiq diperoleh karena ia yang paling awal dan yang segera membenarkan segala perkataan Nabi dan wahyu yang beliau terima dalam segala peristiwa, terutama saat terjadinya Isra’ dan Mi’raj Nabi.[3]
Profesi Abu Bakar sejak mudanya adalah sebagai pedagang, wilayah perniagaan beliau sangat luas. Namun sesudah memeluk agama Islam dicurahkan seluruh perhatiannya untuk mengabdi dan melakukan syiar Islam.[4] Selain itu ia  adalah tokoh dan pemimpin bagi kaumnya, ia mendapat tugas yang paling penting dan utama yaitu mengumpulkan uang tebusan (diyat).[5] Ia lahir di Mekkah pada tahun 572 M dan wafat pada tanggal 21 Jumadil Akhir 13 H. Abu Bakar merupakan keturunan Bani Tamim ( Attamimi ), suku bangsa Quraish. Nama terlengkapnya adalah 'Abd Allah ibn 'Uthman ibn Amir ibn Amru ibn Ka'ab ibn Sa'ad ibn Taim ibn Murrah ibn Ka'ab ibn Lu'ai ibn Ghalib ibn Fihr al-Quraishi at-Tamimi'. Ayahnya bernama Abu Quhafah bin Amir dan ibunya bernama Salma Ummul Khair.[6]
Pada Murrah nasabnya bersambung pada nasab Rasul, ibunya Ummul Khair Salma binti Sakhr bin Amir, dari turunan Taib bin Murrah juga. Usianya dua tahun lebih muda dari Rasullallah.[7] Abu Bakar meninggal dunia pada Usia 63 Tahun ketika Umat Islam sedang melakukan ekpansi besar-besaran ke wiliyah Utara. Sebelum meninggal dunia pada hari Senin, 23 Agustus 634 Masehi beliau terserang sakit dan berbaring pada tempat tidur selama 15 hari.[8] Salat jenazah dipimpin oleh Umar dan dia dikuburkan di rumah Aisyah di samping kamar Nabi.[9]
Ia adalah seorang khalifah, yaitu orang yang mengikuti dan sebagai pengganti kedudukan Rasul, walaupun pada hakikatnya Rasul tak bisa tergantikan siapapun. Yang pada kelanjutannya ke empat khalifah besar pengganti Nabi disepakati bergelar sebagai الخلفاء الراشدون  yang berarti orang yang mendapat bimbingan di jalan lurus.[10] Dan Abu Bakar adalah salah satu dari orang yang pertama kali memahami tentang risalah, bahkan sebelum Nabi diangkat menjadi rasul. Pembahasan tentang masalah ini akan penulis jabarkan pada pemaparan selanjutnya.

B.       RIWAYAT HIDUP ABU BAKAR PRA KERASULAN MUHAMMAD
Abu Bakar berprofesi sebagi pedagang sejak pra kerasulan Muhammad.[11] Pada saat mudanya Abu Bakar adalah sosok yang terkenal akan luhur budi pekertinya dan perangainya yang terpuji. Dia adalah pemuda yang mandiri, mampu menenuhi kebutuhan rumah tangganya dengan usahanya sendiri. Sebelum masa kerasulan Muhammad, Abu Bakar telah bersahabat karib dengan Muhammad. Sehingga wajar jika dialah laki-laki dewasa yang pertama kali menyatakan keislamannya.[12]
Kehidupan Abu Bakar di masa mudanya tidak lepas dari tiga tokoh yang mempengaruhi hidup sebelum kerasulan Muhammad, di antaranya adalah Qus Bin Sa’idah Al Iyyadi, Zaid Bi ‘Amr Bin Nufeil, dan Waraqah Bin Naufal. Ketiga tokoh tersebut bertali temali dan berpaut kepada agama Ibrahim yaitu agama hanif yang menauhidkan Tuhan. Merekalah yang ikut membimbing hati Abu Bakar ke dalam ajaran dan aqidah ketauhidan. Mereka juga yang telah mengabarkan kepada dia tentang akan adanya agama baru yang dibawa oleh seorang Nabi di mana akan menghancurkan berhala-berhala dan mengembalikan ajaran tauhid. Abu Bakar sering berkunjung duduk bercengkrama mengobrol lama dengan tokoh-tokoh yang percaya adanya kelahiran agama baru tersebut (yang pada nantinya disebut sebagai agama Islam). Namun kepercayaannya terhadap perkataan mereka tersebut menyebabkan dia mendapat banyak kecaman dari kaum kafir Quraisy.[13] Dan kabar inilah yang penulis sebut sebagai sebuah ‘ramalan’, yaitu ramalan tentang akan ada seorang yang menjadi pembaharu. Selain itu tentu bisa penulis katakan bahwa sebenarnya hati Abu Bakar sejak kecilnya sudah dibersihkan oleh Allah. Dia dengan cepat mempercayai perkataan mereka, dan karena dialah nanti yang akan menjadi pendamping nabi, bagaimana mungkin seorang pendamping nabi tidak memiliki hati yang bersih.
Dari sejak awal Abu Bakar sudah merasa gelisah dan tidak nyaman ketika melihat fenomena paganisme disekitarnya. Sehingga menggugah jiwanya untuk mengadakan pencarian kebenaran, proses pencarian kebenaran dilakukan Abu Bakar dengan cara bertafakur dan mendengarkan hikmah dan logika dari orang-orang sholih (tiga tokoh) yang berpandangan tajam. Abu Bakar terbiasa menghafal karya kesusastraan Arab yang terbaik, dan juga menghafalkan segala perkataan hikmah dari ketiga tokoh di atas, sehingga ini yang akan membekali akalnya sebagai bahan-bahan pemikirannya kelak. Dan ia tak segan-segan untuk mendarmakan uang kepada mereka karena meraka sudah tua. Di masa-masa ini Abu Bakar dan Muhammad sudah saling mengenal dan bersahabat (Sebelum datangnya wahyu untuk Muhammad). Meskipun usia Abu Bakar dan Muhammad hampir sebaya, namun Abu Bakar menganggap Muhammad sebagai teladan utama. Dan mereka bersahabat kental dan karib.[14]
Hasil permenungan Abu Bakar saat dagang di Syiria adalah ia membaca iklim kerohanian di sana lalu menyimpulkan bahwa di Syiria tidak jauh beda di Makkah, yaitu terdapat agama yang beranekaragam. Di Syiria juga ada orang yang mengimani Allah sebagaimana tiga tokoh, namun jumlahnya sangat sedikit. Abu Bakar menginginkan kebiakan dari akibat datangnya Nabi yang membawa agama baru tersebut tidak hanya untuk dirinya pribadi. Tapi untuk seluruh umat manusia. Ia sadar bahwa harta yang ia nafkahkan untuk kepentingan manusia tidaklah cukup. Karena dia juga sudah merenungi di samping harta manusia juga butuh petunjuk dan keyakinan, namun ia tidak memiliki petunjuk dan keyakinan (agama) itu untuk diberikan pada manusia.[15] Sehingga yang hanya bisa dia lakukan adalah menunggu hadirnya Nabi yang akan membawa perubahan peradaban.
Abu Bakar adalah orang yang mendapat karunia dari Allah dan dialah orang yang pertama yang menerima hidayah dan petunjuk-Nya yang berupa keimanan.  Namun ia bukan orang pertama yang menyatakan masuk Islam, karena orang yang pertama kali menyatakan masuk Islam adalah Khadijah. Abu Bakar mampu mengimani agama Muhammad tidak diperoleh begitu saja, tapi ia berusaha mencari kebenaran, bertafakur dan berlogika. Ia beriman bukan dengan kesensitifan perasaannya tapi beirman dengan kecerdasannya.[16]

C.    SUKSESI PASCA WAFATNYA NABI MUHAMMAD
Nabi Muhammad sebelum wafatnya pada hari Senin tanggal 8 Juni 632 M bertepatan 12 Rabiul Awal 11 H[17]  telah mengalami gangguan kesehatan kurang lebih selama tiga bulan. Namun Nabi tidak menunjuk siapapaun untuk menggantikan peran beliau di tengah kaum muslimin, sehingga tidak mengherankan hal ini menyebabkan jenazah Nabi belum dimakamankan selama dua hari. Dilambatkannya pemakaman jenazah Nabi mengambarkan betapa gentingnya  suasana pada saat itu karena terjadi krisis suksesi.[18] Hanya ada dua isyarat yang berasal dari Nabi tentang siapa yang pantas menjadi pemimpin umat Islam setelah wafatnya beliau. Yang pertama Nabi pernah mengutus Abu Bakar memimpin kaum muslim melakukan ibadah haji sebagai pengganti beliau pada tahun kesembilan Hijriah. Dan isarat yang kedua adalah ditunjuknya Abu Bakar sebagai pengganti Imam Sholat di saat Nabi masih sakit yang ditafsirkan sebagian kaum muslimin sebagai penunjukan secara tidak langsung Nabi Muhammad kepada Abu Bakar untuk menjadi pemimpin.[19] Menurut penulis secara logika tidaklah mungkin nabi Muhammad menunjuk sembarangan orang untuk melakukan kedua hal tersebut. Orang-orang yang menjalankan tugas tersebut hanyalah orang-orang pilihan.
Meninggalnya Nabi Muhammad pada tahun ke-11 H, telah mengantarkan Abu Bakar sebagai pewaris negara Islam yang sedang mekar.[20] Nabi Muhammad SAW Meninggal pada tahun 632 M. Ketika itu, sebagian besar penduduk Jazirah Arab telah memeluk Islam. Akan tetapi, kaum muslimin segera menghadapi masalah yang sulit karena Nabi Muhammad SAW tidak  menunjuk secara langsung siapa pengganti kepemimpinan beliau. Permasalahan muncul karena kaum Ansar dan Muhajirin menghendaki pemimpin dipilih dari salah satu orang yang ada di antara golongan mereka. Keadaan itu dapat menimbulkan perpecahan dikalangan umat Islam.
Kota Madinah bergoncang, semua penduduknya dirundung duka yang tak terlukiskan tatkala tersiar kabar bahwa orang yang paling mereka cintai yaitu Nabi Muhammad SAW telah meninggal dunia. semua berbisik sesama kawan seolah tidak percaya, terlebih Umar bin Khattab, karena cintanya yang luar biasa kepada Nabi. Beliau mengancam memotong tangan dan kaki orang yang berani mengatakan, “Nabi sudah meninggal dunia.” Katanya,”Nabi Muhammad hanya pergi menghadap Tuhannya dan akan kembali sebagaimana Musa yang pergi menghadap Tuhannya dan kembali kepada kaumnya setelah 40 hari lamanya.”[21]
Ditengah kekalutan dan goyahnya pendirian para sahabat tentang kematian Rasulullah, datanglah Abu Bakar Ash-Shiddiq. Setelah menerima kabar yang sama. Beliau masuk rumah Aisyah dan membuka lalu mencium kening Jenazah Nabi di kamar beliau, Abu Bakar keluar seraya berkata:

ألامن كان يعبد محمدا فإن محمدا قد ما ت ومن كان يعبد الله فإن الله حي لا يمو ت[22]

Kemudian ia membacakan firman Allah:

 ) الزمر  30)                               

Itu adalah momentum penting dalam sejarah yang menunjukkan keteguhan dan kekuatan iman Abu Bakar pasca meninggalnya Nabi Muhammad. Disinilah letak spesifikasi Abu Bakar yang tidak bisa disamai oleh pemeran sejarah lainnya, beliau mampu menyelesaikan masalah yang sangat rumit. Beberapa saat setelah wafatnya Nabi adalah masa-masa krisis konstitusional bagi umat Islam. Segera setelah wafatnya Nabi tiga golongan bersaing dalam permasalahan kekhalifahan yaitu Anshar, Muhajirin, dan bani Hasyim. Ketiga golongan tersebut mempunyai alasan masing-masing kenapa orang yang ada di dalam golongannya pantas untuk jadi pengganti dan meneruskan tugas nabi sebagai pemimpin agama serta negara. diantara alasan meraka adalah:

1.    Alasan Anshar: kaum Anshar yang sebagian besar terdiri dari suku Khazraj telah menolong Nabi pada saat-saat genting di Makkah, dan kaum Anshar telah menguasai Madinah sebelum menjadi ibukota negara Islam.
2.    Alasan Muhajirin: kaum Muhajirin yang pertama kali masuk Islam, .mengetahui rasa pahit-getirnya perjuangan Islam sejak awalnya di Makkah. Adanya hadith bahwa hendaknya pemimpin berasal dari suku Quraisy. Kalau seandainya pemimpinnya orang dari golongan Anshar dikahawitrkan umat Islam akan terpecah-pecah sebagaiman fakta yang telah terjadi sebelum kaum Anshar masuk Islam.
3.    Alasan bani Hasyim: Nabi telah menunjuk Ali secara terang-terangan sebagai pengganti beliau dan karena ia adalah menantu dan kerabat beliau.[23] Pendapat lain mengatakan bahwa Nabi Muhammad pasti menunjuk orang tertentu untuk menggantikan dirinya yaitu Ali bin Abi Thalib, ia adalah orang yang direncanakan satu-satuya sebagai pengganti Nabi yang sah. Sementara kaum Syi'ah menggambarkan bahwa Ali melakukan tindakan yang  menunjukkan protes dengan menutup diri dari kehidupan publik.[24] Pada pendapat lain bahwa Ali bin Abi Thalib menginginkan agar dirinya diangkat menjadi khalifah[25]
Di sisi lain orang-orang yang berislam hanya untuk mengambil muka dan untuk menjaga kepentingan meraka belaka telah mengira bahwa Rasullah wafat tidaklah mati jasadanya saja, tapi ajarannyapun juga akan ikut terkubur.[26] Selain itu banyak kabilah Arab melepeskan kesetiaan mereka kepada negara kota Madinah. Karena mereka beranggapan bahwa persetujuan tersebut dengan Nabi adalah sebagai persetujuan pribadi yang akan berakhir ketika wafatnya Nabi. Seingga mereka menolak perintah dan menolak menghormati khalifah yang baru.[27] Sehingga dapat dikatakan bahwa Madinah banyak orang-orang munafik yang berlagak suci, padahal mereka menunggu-nunggu wafatnya Nabi untuk melenyapkan ajaran agama Islam.
Di tengah suasana yang kacau sahabat Anshar berambisi agar salah satu orang yang ada pada golongannya untuk jadi Khalifah pasca wafatnya Nabi. Mereka berkumpul di balai pertemuan (Saqifah) yaitu di Saqifah bani Saidah untuk berbaiat pada Sa’ad bin ‘Ubaidah. Namun akhirnya Abu Bakar mengetahui adanya pertemuan ‘rahasia’ golongan Anshar tersebut yang mayoritasnya dari suku Khazraj, kemudian menuju ke sana bersama Umar bin Khatab dan Abu Ubaidah bin Jarrah.[28] Namun dengan kebijaksanaan Abu Bakar dan Umar perselisiah ini bisa diselesaikan, Umar menyeru pada kaum Anshar untuk mendukung Abu Bakar sebagai khalifah. Seruan ini diterima langsung oleh mereka dan diikuti oleh golongan minoritas lain. Satu hari setelah Nabi dimakamkan di kamar Aisyah, umat Islam berkumpul di dalam masjid Nabi untuk menyatakan sumpah setia pada Abu Bakar.[29] Ia menerima untuk menjadi pemimpin bagi umat Islam bukan didorong hasrat keserakahannya melainkan untuk memenuhi tanggung jawab dan menyambut panggilan iman.[30] Berikut ini adalah pidato Abu Bakar setelah beliau dibaiat oleh umat Islam:

“Wahai manusia! Saya telah diangkat untuk mengendalikan urusankmu, padahal aku bukanlah orang yang terbaik di antaramu. Maka jikalau aku menjalankan tugasku dengan baik, ikutilah aku, tetapi jika aku berbuat salah, maka betulkanlah! Orang yang kamu pandang kuat, saya pandang lemah, hingga aku dapat mengambil hak daripadanya, sedang orang yang kamu pandang lemah, saya pandang kuat, hingga saya dapat mengembalikan haknya kepadanya. Hendaklah kamu taat kepadaku selama aku taat pada Allah dan Rasul-Nya, tetapai bilamana aku tiada menaati Allah dan Rasul-Nya kamu tak perlu menaatiku.”[31]

Abu Bakar mendatangi pertemuan golongan Anshar di Saqifah tujuaannya bukan untuk merebut kekhalifahan dari mereka untuk dirinya, tapi yang paling utama adalah untuk membendung fitnah dan untuk meminimalisir fanatik kesukuan atau golongan di tengah gentingnya pada waktu pasca wafatnya Nabi. Lantas pada selanjutnya adalah ingin segera mengisi kefakuman kekuasaan agar keadaan kembali kondusif.[32] Berdasarkan analisis penulis hal tersebut adalah bentuk reflek dalam berfikir, di mana Abu Bakar menyadari jika tidak ada pengganti Nabi dengan segera dalam memimpin agama dan Negara kemungkinan pemberontakan tidak akan bisa diatasi.
Menurut pendapat penulis Abu Bakar adalah sosok yang memang benar-benar pantas dan layak di antara sahabat-sahabat lain menggantikan peran Nabi di tengah-tengah kaum Muslimin. Ketokohannya telah benar-benar teruji dan diakui. Berikut ini adalah alasan kenapa Abu Bakar pantas sebagai pegganti Nabi, yaitu Abu Bakar tipikal orang yang suka mengajak berunding atau musyawarah.  Abu Bakar adalah seorang yang tampil dalam mendampingi  dan menemani Nabi bahkan dijadikan sebagai teman musyawarah oleh Nabi di kala belum banyak orang memeluk Islam walau ia tahu resikonya bahwa Nabi dan pengikutnya akan dikejar-kejar kafir Quraiys, melanjutkan peranan kepemimpin yang pernah di pegang Nabi, menemani Nabi hijrah. Membenarkan segala apa yang dikatakan Nabi di kala banyak orang masih mencibir Nabi. Ia mengembalikan kesadaran kaum muslimin di saat banyak orang tidak percanya berita wafatnya Nabi.[33] Ketika rasul sakit, dipilih Abu Bakar oleh Nabi sebagai pemimpin kaum muslimin mengerjakan sholat sebagai penggantinya. Dengan kata lain Abu Bakar adalah seorang guru bagi sahabat lain, dan seorang yang mampu menenangkan keadaan di saat suasana ‘tegang’. Dialah sahabat dipercayai nabi untuk memimpin umat Islam.


D.    GEBRAKAN MASA KEKHALIFAHAN ABU BAKAR
Abu Bakar dijuluki sebagai “Penyelamat Islam” karena berhasil mengatasi masa krisis pasca wafatnya Nabi, menyelematkan Islam dari kehancuran, dan membuat seluruh penduduk Jazirah Arab kembali setia pada agama Islam melalui Perang Riddah.[34] Karena dalam peperangan Riddah[35] banyak kaum muslimin yang hafal al-Qur’an gugur dalam medan laga, maka Umar bin Khattab merasa cemas melihat kenyataan tersebut. Oleh karena itu ia usul kepada Abu Bakar untuk segera membuat kumpulan (mushaf) al-Qur’an menjadi satu kitab. Walau pada awalnya Abu Bakar ragu untuk melakukan hal tersebut karena tidak ada isarat dan perintah dari Nabi untuk melakukan hal tersebut. Namun atas pertimbangan yang matang akhirnya ia menyetujui ide Umar tersebut, kemudian memerintahkan Zaid bin Sabit untuk memimpin tugas tersebut.[36] Dipilihnya Zaid karena menurut pandangan Abu Bakar dia adalah seorang pemuda yang jenius, berakal, dan penuh amanah. Selain itu, ia telah terbiasa menulis wahyu untuk Rasulullah.[37]
Dalam perang Riddah peperangan terbesar adalah memerangi "Ibnu Habib al-Hanafi" yang lebih dikenal dengan nama Musailamah Al-Kazab (Musailamah si pembohong). Tekanan yang dilakukan pemerintahan Abu Bakar dengan bentuk mengadakan operasi pembersihan gerakan Riddah.[38] Disebut Riddah karena secara agama gerakan ini ingin melepaskan diri dari kesetiaan pada Islam dan secara politis gerakan ini merupakan gerakan makar, membangkang, dan tidak mau mengakui kekhalifahan. Maka tidak heran jika peperangan ini dinamakan peperangan Riddah, karena Riddah berarti Murtad.[39]
Prestasi Abu Bakar Pada Masa Pemerintahannya dalam jangka waktu dua tahun tiga bulan bangsa-bangsa yang memberontak itu dapat kembali tenang dan menjadi bangsa bersatu yang kuat, disegani dan berwibawa, yang akhirnya malah dapat menerobos dua imperium besar yang ketika itu menguasai dunia dan menentukan arah kebudayaannya. Kedaulatan ini pula yang kemudian mengemban peradaban di dunia selama berabad-abad sesudahnya. Berikut ini adalah kebijakan-kebijakan Abu Bakar setelah beliau dibaiat oleh umat islam untuk menjadi Khalifah. Diantara kebijakan-kebijakan yang berdampak besar bagi perkembangan peradaban umat islam di masa mendatang adalah sebagai berikut:
1.    Memperkuat dan mempertahankan garis perbatasan negara di belahan Utara Jazirah Arab yaitu dengan kekaisaran Persia dan Kekaisaran Byzantium, yang pada akhirnya harus menghadapi serangkaian serangan dari kedua negara tersebut.[40] Untuk menjalankan tugas ini Kholifah Abu Bakar mengirimkan pasukan dibawah pimpinan Khalid bi Walid di Irak dan Musanna bin Harisah. Kaum muslimin berhasil menguasai Anbar, Daumatul Jandal, dan Fars.
2.    Melaksanakan keinginan Nabi yang hampir tidak terlaksanan, yaitu mengirimkan ekspedisi di bawah pimpinan Usamah ke perbatasan Syiria guna membalasan pembunuhan ayah Usamah, yaitu Zaid dan guna membalas kerugian yang dialami oleh umat Islam dalam perang Mut’a.[41] kendati pada awalanya sebagian sahabat lain mengusulkan agar Abu Bakar as-Shiddiq menunda pengiriman pasukan Usamah bin Zaid.Akan tetapi, Abu Bakar as-Shiddiq tetap bersikeras untuk melaksanakan keinginan Naabi Muhammad SAW tersebut. Pasukan Usamah bin Zaid pun diberangkatkan. Dua bulan kemudian, pasukan Usamah bin Zaid pulang dengan membawa kemenangan yang gemilang.
3.    Memerangi kemurtadan dan orang yang tidak mau membayar Zakat. Kebijakan Nabi terhadap orang-orang murtad dan penolakan zakat adalah menyerah tanpa syarat atau berperang sampai hancur.[42]
4.    Memerangi Nabi palsu. Nabi palsu itu adalah Aswad Ansi, Musailaah, Tulaiha, dan Sajah (seorang perempuan).[43]
5.    Mengumpulan al-Quran, mendirikan baitul Mal dan menetapkan   pembagian ganimah (harta rampasan perang).
           
E.     POLITIK ABU BAKAR
Karena banyaknya penolakan dan pemberontakan dari kabilah-kabilah Arab yang berada di bawah kekuasaan Islam terhadap kekhalifahan pasca wafatnya Nabi. Maka orientasi politik yang dilakukan pertama kali oleh Abu Bakar adalah melakukan politik konsolidasi dengan cara mempersatukan masyarakat Arab dalam satu kekuasaan dan keagamaan Islam. Perilaku politik lain yang dijalankan oleh Abu Bakar adalah melakukan ekspansi. Abu Bakar dalam berpolitik lebih mengutamakan musyawarh untuk menyelesaika persoalan duniawi,[44] sehingga tidaklah salah jika dia dapat diakatakan sebagai adalah seorang yang demokratis.
Nampaknya, kekuasaan yang dijalankan pada masa Khalifah Abu Bakar, sebagaimana pada masa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wasallam, bersifat sentral; kekuasaan legislatif, eksekutif dan yudikatif terpusat di tangan khalifah. Selain menjalankan roda pemerintahan, Khalifah juga melaksanakan hukum yang telah ditetapkan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Meskipun demikian, seperti juga Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wasallam, Abu Bakar selalu mengajak sahabat-sahabat besarnya bermusyawarah.
Abu Bakar selalu menyediakan kesempatan bagi kaum muslim untuk berunding dan menentukan pilihan, inilah peradaban berpolitik dan bernegara beliau. Ia adalah orang yang demokratis, tapi tetap bernegara dengan berpedoman pada al Quran.[45] Berikut ini adalah landasan dalam al-Qur’an yang beliu gunakan dalam bernegara:

Ali Imran 159:


Asyura 38:



Di bidang hukum Abu Bakar memerintahkan pada wakil-wakilnya di tiap-tiap daerah supaya jangan tergesa-gesa menjatuhkan hukum. Atau dapat penulis katakan Abu Bakar telah menggunakan asas praduga tak bersalah. Sedang di bidang administrasi negara, setelah diangkat  menjadi khalifah sampai beberapa bulan kemudian dia masih meneruskan usahnya di bidang perdagangan yang semakin mengecil. Dan pada berikutnya terjadi kerugian dikarenakan lebih disibukkan pada urusan negara. Sehingga dari permintaan mayoritas sahabat perniagaan tersebut dihentikan dan untuk menghidupi urusan rumah tangga dia setiap harinya hendaknya di ambilkan dari kas negara.[46] Lantas di bidang sosial beliau adalah sosok yang sangat dermawan. Kedermawanan Abu Bakar sudah bukan menjadi barang rahasia lagi.
Abu Bakar wafat pada saat terjadi perang Yarmuk yang berlangsung selama tiga bulan dengan kemengan berada di tangan kaum Muslim atas bangsa Romawi. Untuk mengantisipasi pertikaian dan perpecahan di kalangan umat Islam maka sebelum ia wafat telah menetapkan Umar bin Khathab sebagai khalifah kaum Muslim setelah dirinya.[47] Wallahu A’lam bi Shawab.


BIBLIOGRAFI



 al A’zami, M.M. The History The Qur’anic Text. Depok:Gema Insani, 2005.
al-Khudhori, Syekh Muhammad. Nurul Yaqin fi siroti al-Mursalin. Bairut: Dar al Fikri,1994).
Amin, Husayn Ahmad, Seratus Tokoh dalam Sejarah Islam, terj. Bahruddin Fannani. Bandung: Remaja Rosdakarya, 1995.
Hamka, Sejarah Umat Islam. Jakarta: Bulan Bintang, 1981.
Khalid, Muh. Khalid. Mengenal Pola Kepemimpinan Umat dari Karakteristik Perihidup Khalifah Rasulullah. Bandung: Diponegoro, 1985.
Mahmudunnasir, Syed. Islam Konsepsi Dan Sejarahnya. Bandung: Remaja Rosdakarya, 1994.
Mufrodi, Ali. Islam di Kawasan Kebudayaan Arab.cSurabaya: Anika Bahagia, 2010.
Syalabi, A. Sejarah dan Kebudayaan Islam. Jakarta: Pustaka Alhusna,1992.
Taufiqurrahman, Sejarah Sosial Politik Masyarakat Islam. Surabaya: Pustaka Islamika, 2003.


[1]Ada referensi lain yang mengemukakan bahwa panggilan Abu Bakar sebelum masuk Islam adalah Atiq. Lihat Khalid Muh. Khalid, Mengenal Pola Kepemimpinan Umat dari Karakteristik Perihidup Khalifah Rasulullah (Bandung: diponegoro, 1985), 44.
[3]Ali Mufrodi, Islam di Kawasan Kebudayaan Arab (Surabaya: Anika Bahagia, 2010), 49.
[4]A. Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan Islam (Jakarta: Pustaka Alhusna,1992), 226.
[5]Khalid Muh. Khalid, Mengenal Pola Kepemimpinan Umat dari Karakteristik Perihidup Khalifah Rasulullah (Bandung: diponegoro, 1985), 23.
[7]Hamka, Sejarah Umat Islam (Jakarta: Bulan Bintang, 1981), 12.
[8]Mufrodi, Islam di Kawasan, 54.
[9]Syed Mahmudunnasir, Islam Konsepsi Dan Sejarahnya (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1994), 158-170
[10]Mufrodi, Islam di Kawasan, 48.
[11]Husayn Ahmad Amin, Seratus Tokoh dalam Sejarah Islam, terj. Bahruddin Fannani (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1995), 7.
[12]Hamka, Sejarah Umat, 12.
[13]Khalid, Mengenal Pola Kepemimpinan, 23, 25.
[14]Ibid., 27.
[15]Khalid, Mengenal Pola Kepemimpinan, 35-36.
[16]Ibid., 40, 47, 75.
[17]Taufiqurrahman, Sejarah Sosial Politik Masyarakat Islam (Surabaya: Pustaka Islamika, 2003), 57.
[18]Mufrodi, Islam di Kawasan, 47-48.
[19]Amin, Seratus Tokoh dalam, 7.
[20] M.M. al A’zami, The History The Qur’anic Text (Depok:Gema Insani,2005), 37.
[21] Syekh Muhammad al-Khudhori, Nurul Yaqin fi siroti al-Mursalin (Bairut:Dar al Fikri,1994), 217.
[22] Ibid.
[23]Taufiqurrahman, Sejarah Sosial Politik, 57-59.
[25]Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan, 227.
[26]Khalid, Mengenal Pola Kepemimpinan,78.
[27]Mahmudunnasir, Islam Konsepsi Dan, 158-170
[28]Abu Bakar, Umar bin Khatab, dan Abu Ubaidah bin Jarrah adalah tiga orang yang tampil sebagai penegas dalam suasana kritis. Dari ketiga orang tersebut lahirlah keputusan siapa pengganti Nabi, kemudian disepakati bahwa sebagai khalifah adalah Abu Bakar. Lihat Ali Mufrodi, Islam di Kawasan Kebudayaan Arab (Surabaya: Anika Bahagia, 2010),49.
[29]Mahmudunnasir, Islam Konsepsi Dan,, 158-170.
[30]Khalid, Mengenal Pola Kepemimpinan, 75.
[31]Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan, 227.
[32]Khalid, Mengenal Pola Kepemimpinan, 75.
[33]Ibid., 14.
[34]Mufrodi, Islam di Kawasan, 52.
[35]Ada pendapat lain menyebut sebagai peperangan Yamamah yang telah banyak menggugurkan para sahabat penghafal al- Qur’an. Perang ini terjadi pada 12 H. Sehingga Abu Bakar memerintahkan Zaid bin Tsabit agar mengumpulkan Al-Qur’an dari berbagai tempat penulisan, baik yang ditulis di kulit-kulit, dedaunan, maupun dari hafalan yang tersimpan dalam dada kaum muslimin. Lihat http://www.biografitokohdunia.com/2011/03/biografi-khalifah-abu-bakar-ashidiq.html
[36]Mufrodi, Islam di Kawasan, 52.
[38]Gerakan Riddah ini dibagi menjadi empat yaitu: 1. Gerakan melepas kesetiaan pada ajararan Islam, 2. Gerakan menolak membayar Zakat, dan 3. Gerakan yang mengangkat diri menjadi Nabi 4. Gerakan dari suku-suku bangsa Arab yang membangkang, mengklaim bahwa isalam adalah agama bagi bangsa Arab saja. Lihat Taufiqurrahman, Sejarah Sosial Politik Masyarakat Islam (Surabaya: Pustaka Islamika, 2003), 63-64.
[39]Mufrodi, Islam di Kawasan, 51.
[40]Ibid., 53.
[41]Mahmudunnasir, Islam Konsepsi Dan, 158-161.
[42]Mahmudunnasir, Islam Konsepsi Dan, 158-164.
[43]Ibid., 158-163.
[44]Taufiqurrahman, Sejarah Sosial Politik, 2003), 64-67.
[45]Khalid, Mengenal Pola Kepemimpinan, 15.
[46]Hamka, Sejarah Umat, 13.
[47]Amin, Seratus Tokoh dalam, 9.

1 komentar: