Monday, April 23, 2012

SKRIPSI: Landasan Dasar Pemanfaatan Media Pembelajaran


Oleh: 
A. Rifqi Amin
4.      Landasan Dasar  Pemanfaatan Media Pembelajaran
Dasar penggunaan media pembelajaran adalah bahwa belajar merupakan salah satu proses pengalaman, semakin dekat peserta didik pada objek materi pelajaran, maka semakin melekat kesan yang akan timbul di dalam ingatannya terutama untuk objek yang tidak akan bisa dijangkau oleh panca indra atau membutuhkan waktu lama untuk menjangkaunya. Oleh karena itu, untuk menanamkan kesan yang lebih mendalam guru dituntut bisa memberikan sebuah materi yang bersifat menghibur, seperti game atau ice breaking dan memberikan sesuatu yang baru sehingga dapat menarik minat peserta didik untuk fokus dalam mencermati materi pembelajaran yang disampaikan melalui media tersebut. Sehingga tujuan penggunaan media tercapai secara efektif dan efesien, tidak hanya sekedar memakai.  Akan tetapi mengetahui prosedur, system dan pemenfaatan media pemelajaran tersebut secara benar dan profesional. Di sinilah guru dituntut untuk mengetahui alasan dasar penggunaan media pembelajaran, bukan hanya karena faktor gengsi, intervensi dari pihak lain atau gagah-gagahan semata. Pernyataan penulis di atas diperkuat oleh pendapat Zakiyah Daradjat bahwa di dalam pemanfaatan media pembelajaran harus memperhatikan prinsip-prinsip di antaranya:
a.       Penggunaan media pengajaran hendaknya dipandang sebagai bagian yang integral dari suatu sistem pengajaran dan bukan hanya sebagai alat bantu yang berfungsi sebagai tambahan yang digunakan bila dianggap perlu dan hanya dimanfaatkan sewaktu-waktu dibutuhkan.
b.      Media pembalajaran hendaknya dipandang sebagai sumber belajar yang digunakan dalam usaha memecahkan masalah yang dihadapi dalam proses pembelajaran.
c.       Guru hendaknya benar-benar menguasai teknik-teknik dari suatu media pengajaran yang digunakan.
d.      Guru seharunya memperhitungkan untung ruginya pemanfaatan suatu media pembelajaran.
e.       Penggunaan media pengajaran harus diorganisir secara sistematis bukan sembarang menggunakannya.[1]
Telah banyak kita jumpai di dunia pendidikan bahwa seorang pendidik membiasakan untuk memakai media pengajaran yang telah disediakan oleh suatu sekolah untuk membantu dalam mempermudah menyampaikan pembelajaran atau menurut bahasa kiasan penulis adalah untuk memanjakan pendidik dalam mengajar. Sehingga pemakaian media tersebut tidak dilandaskan pada pertimbangan kebutuhan dan karakteristik siswa atau kesesuaian dengan materi yang akan disajikan dengan tujuan yang akan dicapai. Sebagai contoh; seorang pendidik yang terbiasa memakai Over Head Projector (OHP) karena di sekolah tersedia alat itu untuk mengajar, sehingga ia cenderung untuk menggunakan  dengan pertimbangan yang sederhana bahwa media tersebut sangat membantu pendidik dalam menyampaikan materi pembelejaran, dan pendidik tidak bersusah payah untuk menyampaikan  pesan pembelajaran yang mungkin tanpa media OHP tersebut akan memeras tenaga pendidik. Nampak jelas bagi orang awam atau orang yang tidak tahu materi pembelajaran yang disampaikan seperti apa, penggunaan OHP tersebut akan terlihat dan terkesan mempunyai nilai lebih jika dibandingan dengan metode ceramah. Pertimbangan semacam itu perlu dikaji kembali, karena hal tersebut tidak didasari atas pertimbangan pada prinsip pemilihan kriteria-kriteria media yang logis dan benar, walaupun pendidik sangat ahli dan pintar dalam menyampaikan pesan melalui media OHP tersebut. Kemungkinan-kemungkinan penggunaan media pembelajaran semacam itu besar resiko kesalahannya atau mungkin tidak mencapai sasaran yang diharapkan.[2] Karena penggunaan media pembalajaran tersebut hanya difungsikan sebagai alat mempermudah pendidik dalam mengajar saja.
Dalam pemanfaatan media pembelajaran untuk merajut interaksi antar pelaku pembelajaran yang harmonis, menurut penulis perlu adanya sebuah tekanan psikologis dalam menanamkan kesadaran yang murni untuk pemanfaatan media pembelajaran, dalam hal ini semuanya harus mempunyai peranan, yang mana pemanfaatan media pembelajaran tidak hanya berlandaskan egoisme dan keterpaksaan belaka. Melainkan untuk membangun kohesivitas (kelekatan), membangun kesadaran secara sistematis, masif dan prosedural untuk menggunakan media inilah yang sangat sulit. Karena banyak pendidik yang masih malas dan ’ogah-ogahan’ menggunakan media secara optimal terutama media modern, dan hampir 50% lebih pendidik di Indonesia masih enjoy dengan metode ceramah. Saat inilah tugas pendidik menjadi contoh untuk mengawali pemanfaat media pendidikan diseluruh lingkup lembaga pendidikan, hingga semua pelaku proses pendidikan dapat mengikuti jejak guru.




[1]Zakiyah Daradjat, Pendidikan Islam dalam Keluarga dan Sekolah (Jakarta: Remaja Rosdakarya, 1995), 77.
[2]Asnawir, Media, 124-125. 

No comments:

Post a Comment