Pengembangan Pendidikan Agama Islam: Reinterpretasi Berbasis Interdisipliner

Pengembangan Pendidikan Agama Islam

--- SELALU ADA YANG BARU DI BLOG BANJIR EMBUN: "Kami Mengucapkan Terima Kasih Atas Kunjungan Anda. Bila butuh bantuan atau ada pertanyaan silakan hubungi ke nomor 08563350350 atau kirim email ke: banjirembun@yahoo.co.id subjek: BanjirEmbun Menjawab”---

Senin, 23 April 2012

SKRIPSI: Pengertian Media Pembelajaran



1.      Pengertian Media Pembelajaran
Ada beberapa konsep serta definisi dari media pendidikan atau dalam penelitian ini dikatakan sebagai media pembelajaran. Menurut Rossi dan Breidle yang dikutip oleh Wina Sanjaya mengemukakan bahwa “media pembelajaran adalah seluruh alat dan bahan yang dapat dipakai untuk mencapai tujuan pendidikan, seperti radio, TV, buku, koran, majalah, dan sebagainya”[1]
Sedangkan menurut Haryoso yang dikutip oleh M. Mahbub dalam artikelnya bahwa media adalah segala bentuk yang dimanfaatkan dalam proses penyaluran informasi. Segala jenis dan bentuk  tersebut merupakan sumber/ bahan yang digunakan dalam bidang pendidikan untuk membantu dalam variasi proses pembelajaran.[2] Atau dengan kata lain media dalam proses pendidikan adalah media yang digunakan sebagai alat dan bahan kegiatan pembelajaran.
Media pembelajaran sering dipakai saat guru bercerita, memberikan ice breaking, role play, game, memberikan tugas atau saat guru sedang menerangkan materi pelajaran. Media pembelajaran bersifat dinamis dan fleksibel, oleh karena itu Setiap guru sepatutnya mengadakan dan memperbaharui media atau alat pembelajaran dalam sekolah  sesuai dengan tuntuntan zaman, tradisi, budaya serta kondisi pereseta didik yang diajar. Media pembelajaran tidak hanya berkutat pada objek yang mempunyai dimensi, akan tetapi sebuah program atau kegiatan bisa menjadi sebuah media pembelajaran. Hal ini diperkuat pendapat Gerlach dan Ely yang dikutip oleh Mudhoffir yang menyatakan bahwa “secara luas media dapat diartikan dengan manusia, benda, ataupun peristiwa yang membuat kondisi siswa untuk memperoleh pengetahuan, ketertampilan, atau sikap.”[3] Serta didukung oleh pendapat Azhar Arsyad bahwa media pembelajaran itu meliputi “sikap, perbuatan, organisasi, strategi, dan manajeman yang berhubungan dengan penerapan suatu ilmu”.[4]
Dari penjelasan di atas penulis menyimpulkan secara garis besar  terdapat dua pengertian tentang  media, yaitu media yang hanya sebuah alat (selain manusia) yang dapat di pegang, disentuh dan diraba (mempunyai dimensi )  dan yang kedua media tidak hanya sekedar alat yang berdimensi dan merupakan benda mati saja, melainkan juga bisa diaplikasikan seperti kegiatan, sikap dan demonstrasi (manusia terlibat sebagai media pembelajaran). Terjadinya sebuah perbedaan itu sangat wajar, karena semua itu bertitik tolak pada paradigma individu terhadap media, yaitu paradigma media sebagi objek atau paradigma media sebagai subjek dalam proses pembelajaran. Dari beberapa pengertian tentang media pembelajaran di atas dapat dipahami, penulis menyimpulkan bahwa media pembelajaran tidak hanya mencakup alat yang dimanfaatkan oleh manusia saja, akan tetapi manusia (orang lain) atau peristiwa-peristiwa (kegiatan) yang dilakukan oleh peserta didik itu sendiri dapat dijadikan sebagai media pembelajaran, di mana kegiatan tersebut dapat menyentuh perasaan, lebih berkesan dan menambah pengalaman peserta didik. maka sebagai acuan  dalam penulisan skripsi ini penulis akan menggunakan pendapat yang kedua yaitu manusia dapat terlibat sebagai media pembelajaran.
Media pembelajaran tidak hanya bersifat mekanis yang mana memberikan efek secara koginitif dan psikomtorik kepada siswa yaitu dari yang belum mengetahui menjadi tahu, dari yang belum bisa melakukan menjadi bisa melakukan. Akan tetapi media pembelajaran dimanfaatkan juga untuk membantu siswa dalam mengembangan kemampuan affective yaitu dari segi emosi, perasaan dan kemampuan sosialnya untuk mempresepsikan lingkungan sekitarnya. Hal ini diperkuat oleh pendapat Oemar Hamalik bahwa media dapat digunakan secara efektif untuk menunjang ketercapaian tunjuan intruksional khusus, baik aspek kognitif maupun askpek afektif.[5] Dan juga menurut Yusufhadi Miarso yang dikutip oleh R. Rahardjo yang menyatakan bahwa media pembelajaran digunakan agar dapat merangsang pikiran, menyentuh perasaan, perhatian dan kemauan siswa sehingga dapat mendorong terjadinya proses pembelajaran pada diri siswa.[6]
Dapat peneliti simpulkan dari pembahasan di atas, bahwa media pembelajaran tidak hanya terfokus pada segala sesuatu yang ada di dalam kelas saja, akan tetapi segala bentuk kegiatan (program kegiatan yang dilaksanakan) di sekolah atau luar sekolah baik yang eksidental dan periodik atau program lunak (software) pada komputer yang bisa dimanfaatkan di luar kelas dan di luar waktu jam sekolah oleh guru atau peserta didik untuk merangsang kepekaan peserta didik agar lebih berkembang dari segi koginitif, affektif, dan psikomotorik. Kesemuanya itu adalah media pembalajaran yang dapat dimanfaatkan dalam dunia pendidikan.



[1]Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran: Berorientasi Standar Proses Pendidikan (Jakarta: Kencana, 2007), 161.
[2]M. Mahbub,  “Media Pembelajaran Dalam Konteks Pendidikan Internet Sebagai Media Pembelajaran”, http://One.Indoskripsi.Com/Node/9646, 4 Juni  2009, diakses tanggal 6 Juni 2009, pukul 19.08 WIB.
[3]Mudhoffir, Teknologi Instuksional: Sebagai Landasan Perencanaan dan Penyusunan Progam Pengajaran (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1996), 81.
[4]Azhar Arsyad, Media Pembelajaran (Jakarta: PT RajaGrafindo Presada, 2003), 7.
[5]Oemar Hamalik, Pendekatan Baru Strategi Belajar-Mengajar Berdasarkan CBSA  (Bandung: Sinar Baru, 1991), 27.
[6]R. Rahardjo, ”Media Pembelajaran”, dalam Teknologi Komunikasi Pendidikan: Pengertian dan Penerapannya di Indonesia, ed. Yusufhadi Miarso (Jakarta: Rajawali, 1984), 48.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar