Tuesday, May 15, 2012

Cerita Motivasi: "Bukan Jaminan"


CERITA MOTIVASI: “BUKAN JAMINAN”

Oleh: Tim Banjir Embun

Pada suatu zaman di sebuah desa yang jauh dari kota hiduplah seorang  pedagang yang kaya. Kabar kekayaannya diakui dan terkenal seantero desa. Ia adalah seorang single parent (orang tua tuggal) yang mempunyai dua orang anak. Seiring berjalannya waktu, diakhir usianya dia menderita sakit. Sebelum meninggal ia berwasiat kepada kedua anaknya untuk membagi harta warisan secara rata. Sejumlah nominal uang, barang dagangan, sejumlah petak tanah, dan rumah megah yang besar dibagi dua secara imbang.
Setelah bebarapa tahun kematiannya, kedua saudara tersebut masih tinggal serumah. Mereka tetap tinggal serumah karena terjadi pasang surut usaha dan juga karena pesan dari orang tua mereka untuk tetap tinggal serumah. Karena ditipu oleh seseoarang kedua saudara tersebut mengalami kebangrukatan sehingga menghabiskan semua harta yang dimilik kecuali rumah besar yang sudah habis isinya. Untuk kehidupan sehari-hari mereka tidak memiliki biaya lagi, isi rumah telah habis mereka jual untuk membayar hutang. Sehingga tidak pelak mereka mengalami kebingungan.
Tuhan menjawab do’a mereka. Secara tidak sengaja pada suatu hari mereka menemukan sebuah peti yang berada di dalam lemari reot nan tua yang disembunyikan secara rapat-rapat oleh almarhum orang tua mereka.
Apakah isi peti itu? Sang kakak membuka peti tersebut yang disaksikan adiknya. Peti itu berisi satu keping emas murni dan 1 keping perunggu. Mereka membaca tulisan yang berada di sisi bawah kedua keping logam itu. Di sisi bawah keping emas itu tertulis “BUKAN JAMINAN”, dan di sisi bawah keping perunggu tersebut tertulis “SEMUA PASTI BERAKHIR”. Tentu kedua nilai keping logam tersebut tidak sebanding. Sang adik seperti mendapat hidayah, ia sadar bahwa kekayaan yang ia diwariskan orang tuanya juga pasti berakhir seperti apa yang tertulis pada keping perunggu tersebut dan juga bukan merupakan sebuah jaminan seperti di sisi bawah keping emas.
Karena sang kakak lebih tergiur pada nilai uang yang diperoleh dari logam emas apabila dijual, maka ia memutuskan untuk memiliki logam emas tersebut dan memberikan keping perunggu pada adiknya. Dan tanpa ragu sang adik membolehkan kakaknya memiliki emas tersebut, karena dia pikir kakaknya lebih membutuhkannya. Selain itu sang adik sebenarnya masih memiliki satu harta piutang yang dijanjikan oleh pihak yang berhutang akan dibayar 1 minggu lagi. Dengan penuh kemantapan, ketekadan, dan tanpa penyesalan sang adik memberikan emas tersebut. Hasil uang dari menjual emas tersebut sang kakak memutuskan untuk membeli rumah baru dan mendirikan toko. Sedang sang adik tetap tinggal di rumah besar warisan orang tuannya dan membeli sepetak sawah dari harta piutang yang telah dibayarkan kepadanya.
Selama kurun beberapa tahun, bisnis dagang sang kakak berjalan secara pasang surut begitu pula usaha pertanian sang adik. Saat usaha dagangnya berada di posisi atas sang kakak gunakan uang tersebut untuk foya-foya, tapi saat berada posisi di bawah sang kakak prustasi, mabuk-mabukan, dan jiwanya tertekan. Sehingga pada akhir hayatnya sang kakak mengalami banyak serangan penyakit dalam, seperti penyakit jantung, kencing manis, dan tekanan darah tinggi. Sedang sang adik saat berada di atas dia memberikan sebagain hartanya pada orang miskin, membangun sekolah, dan membangun tempat ibadah. Di saat mengalami paceklik dia tidak mengalami frustasi karena Ia selalu mengingat pesan orang tua nya lewat kedua keping logam tersebut bahwa itu “BUKAN JAMINAN” dan “SEMUA PASTI BERAKHIR”. (BE/14/05/12)

2 comments:

  1. terima kasih motivasinya

    ReplyDelete
    Replies
    1. cerita yang menarik.....he hehe

      Delete