Saturday, May 12, 2012

INSTUTI PENDIDIKAN ISLAM SEBELUM ADANYA MADRASAH

Link terkait tulisan atau kajian tentang sistem pembelajarandi sini

Baca juga:

1. Tesis Lengkap Karya A. Rifqi Amin (Tesis terbaik Tahun 2013)

2. Sistem Pembelajaran Pendidikan Agama Islam pada Perguru Tinggi Umum (Buku karya A. Rifqi Amin pendiri blog Banjir Embun) 
 
 
 
 INSTUTI PENDIDIKAN ISLAM SEBELUM ADANYA MADRASAH

   Foto: David Fajar  (sumber foto: facebook)
Oleh: David Fajar 
(Seorang Wirausahawan dan Mahasiswa S2 Program Pascasarjana STAIN Kediri Angkatan September 2011)


BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Islam pada awal perkembangannya sudah mempunyai lembaga pendidikan dan pengajaran. Lembaga pendidikan dan pengajaran pada saat itu dinamakan “kuttab”, disamping masjid, rumah, istana, dan perpustakaan. Kuttab adalah suatu lembaga pengajaran yang khusus sebagai tempat belajar membaca dan menulis. Pada mulanya guru-guru kuttab tersebut adalah orang-orang nonmuslim, terutama orang-orang Kristen dan Yahudi. Oleh karenanya pada awal Islam kuttab dijadikan tempat belajar membaca dan menulis saja, sedangkan pengajaran al-Qur’an dan dasar-dasar agama diberikan di masjid oleh guru-guru khusus. Kemudian untuk kepentingan pengajaran menulis dan membaca bagi anak-anak, yang sekaligus juga memberikan pelajaran al-Qur’an dan dasar-dasar agama, diselenggarakan kuttab-kuttab yang terpisah dari masjid.
Dalam perkembangan selanjutnya, kuttab tersebut dijadikan sebagai pendidikan tingkat dasar, sedang Masjid dalam bentuk halaqah yang memberikan pendidikan dan pengajaran tentang berbagai ilmu pengetahuan, merupakan pendidikan tingkat lanjutan. Pendidikan di Masjid ini, biasanya hanya untuk orang-orang dewasa dengan sistem halaqah (lingkaran). Dari situlah muncul ulama-ulama besar dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan agama Islam, dan dari situ pula muncul mazhab-mazhab dalam berbagai bidang disiplin ilmu yang pada masa itu disebut madrasah.
Dalam arti etimologis yaitu aliran atau jalan pemikiran. Untuk menampung kegiatan halaqah yang semakin marak sejalan dengan meningkatnya jumlah pelajar dan berbagai ilmu pengetahuan yang berkembang maka dibangun ruang-ruang khusus untuk kegiatan halaqah tersebut di sekitar masjid dan dibangun pula tempat-tampat khusus untuk para guru dan pelajar sebagai tempat tinggal dan tempat kegiatan belajar mengajar yang disebut dengan nama “Zawiyah” atau “Ribath”. Pada dasarnya timbulnya madarasah didunia Islam merupakan usaha pengembangan dan penyempurnaan zawiyah-zawiyah tersebut guna menampung pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan jumlah pelajar secara kuantitas semakin membengkak.
Beberapa pengertian di atas, terjadi karena aliran-aliran yang timbulsebagai akibat perkembangan ajaran agama Islam dan ilmu pengetahuan ke berbagai bidang saling berebutan pengaruh di kalangan umat Islam dan berusaha untuk mengembangkan aliran atau mazhabnya masing-masing.Maka terbentuklah madrasah-madrasah dalam pengertian kelompok pemikiran, mazhab atau aliran tersebut. Itulah sebabnya mengapa sebagaian besar madrasah yang didirikan pada masa itu dihubungkan dengan nama-nama mazhab yang mashur, misalnya madrasah Syafi’iyah, Hanafiyah, Malikiyah, dan  Hanabilah. Jadi kata “madrasah” pada awal perkembangannya, diartikan jalan pemikiran seorang pemikir atau kelompok pemikir dalam suatu bidang ilmu, kemudian diartikan tempat belajar atau lembaga pendidikan dan pengajaran seperti sekolah yang berkonotasi khusus yaitu yang banyak mengajarkan agama Islam atau ilmu-ilmu keIslaman. Kedua arti tersebut masih terasa dilakukan mayoritas umat Islam sampai sekarang, karena madrasah merupakan tempat penyebaran paham aliran atau mazhab yang dianut untuk disosialisasikan ke seluruh umat. Misalnya madrasah NU yang disebut dengan “Al-Ma’arif” menyebarkan misi Syafi’iyahnya, dan madrasah Muhammadiyah yang membawa paham kemuhammadiyahannya, dan seterusnya. Pertama kali timbul istilah “Madrasah” adalah berkenaan dengan upaya khalifah Abbasiyah Harun al-Rasyid guna menyediakan fasilitas belajar ilmu kedokteran dan ilmu-ilmu penopang lainnya dilingkungan klinik (Bimaristain) yang dibangunya di Baghdad. Komplek ini dikenal dengan sebutan “Madrasah Baghdad”. Namun kelihatannya pemakaian istilah tersebut cenderung anatema, terutama kalau diperhatikan tidak adanya kelanjutan dari madrasah Baghdad, kecuali munculnya Bait al-Hikmah dimasa Makmun.

B.     RUMUSAN MASALAH
Apa saja instuti pendidikan Islam sebelum adanya madrasah ?


BAB II
PEMBAHASAN

 INSTUTI PENDIDIKAN ISLAM SEBELUM ADANYA MADRASAH
A.    KUTTAB
Kuttab adalah kata jadian dari "kataba", yang biasanya digunakan sebagai tempat belajar tulis menulis, bahkan kuttab ini sudah dikenal pada masa Jahiliyah. [1]Namun perkembangan kuttab pada masa ini masih terbilang lambat hingga ketika Islam datang ke daerah Arab ini hanya ditemukan 17 orang Quraisy saja yang pandai baca tulis.Kuttab pra Islam ini selain digunakan untuk belajar baca tulis juga sebagai tempat pengajaran kitab Taurat dan Injil, filsafat danjadal. Dan kegiatan pada era ini ditujukan untuk penyebaran agama Yahudi dan Kristen terhadap pemeluk agam

a yang lain seperti Majusi dan masyarakat Arab pagan. Setelah kedatangan Islam, posisi kuttab pun masih digunakan untukbelajar baca tulis.[2] Ahmad Syalabi memetakan dua macam kuttab yang dibedakan berdasarkan materi pelajaran yang disampaikan, tenaga pengajar dan masa tumbuhnya, yakni pertama, kuttab yang menjalankan fungsinya sebagai institusi yang mengajarkan baca tulis dengan teks dasamya puisi-puisi Arab dan sebagian besar guru-gurunya adalah non-muslim, sedangkan kuttab kedua adalah mengaJarkan alquran dan ajaran dasar Islam. Pada awalnya pendidikan kuttab dilaksanakan di rumah para guru atau perkarangan sekitar mesjid, namun setelah Islam berkembang meluas.[3]
Kurikulum pendidikan pada kuttab         ini hingga abad ke-4 H menunjukkan penekanannya pada pelajaran baca tulis alquran bagi anak-anak muslim. Adapun yang membedakan antara suatu kuttab dengan kuttab lainnya adalah penekanan materi pengajaran karena disesuaikan dengan kebutuhan daerah masing-masing dan pertimbangan ulama-ulamanya, namun penekanannya tetaplah pengenalan anak-anak muslim terhadap ilmu membaca dan menulis alquran serta prinsip-prinsip ajaran Islam. [4] Kuttab di Maroko sangat menekankan pengajaran alquran dengan pendekatan ontografi (mengenali satu bentuk kata dalam hubungannya dengan bunyi bacaan).Kuttab di Andalusia sangat mengutamakan menulis dan membaca tanpa harus menghapalkannya.Kuttab di kawasan Afrika Utara Tunisia dan sebagian Libya) lebih mengutamakan segi qira'at alquran lalu diikut seni kaligrafi dan hadits.[5]
Institusi  pendidikan Islam  tipe  ini  merupakan tempat  pembelajaran dasar-dasar Alquran melalui ketrampilan menghafal dan menulis,  khusus  bagi  anak-anak yang  belum  remaja.  Karena  itu, tujuan  utama  didirikan  lembaga  pendidikan  kuttab  adalah  tempat menghafal  Alquran  dan  mengajarkan  ketrampilan  membaca  dan menulis  bagi  anak-anak  muslim.  Kemunculan  lembaga  pendidikan jenis ini telah dimulai sejak masa Rasulullah saw., yaitu pembelajaran  khusus  bagi  anak-anak muslim  yang belum  bisa  baca tulis  dilakukan oleh tawanan perang atas perintahnya. Pada  masa awal Islam, kuttab menempati  posisi  yang sangat  penting dalam  pengajaran  Alquran, sebab  menghafal  Alquran  menjadi  tradisi  yang  mendapatkan kedudukan terhormat di kalangan pemimpin dan umat Islam.
Pada saat ini adalah menjadi fenomena yang tidak mengejutkan, jika  Alquran  tidak hanya  dipelajari  melalui  lembaga  khusus,  tetapi  juga  mendapatkan  perhatian  serius  dari  penguasa,  ulama’  dan  orang kaya. Para peserta didik yang telah menghafal dan memiliki wawasan tentang Alquran, diajarkan  ibarat-ibarat     dalam ilmu Nahwu dan bahasa  Arab.  Disamping itu,  juga  diajarkan  ilmu hitung,  sejarah tentang bangsa  Arab  pra  Islam  dengan  metode  pembelajaran  yang lebih mengutamakan aspek hafalan.[6] 
Pendidikan pada  masa  Rasulullah SAW (610-632 M) ketika di Makkah, bertempat di rumah Rasul sendiri, rumah al-Arqam bin Abi Arqam, kuttab (rumah guru, halaman/pekarangan mesjid), Inti materi  yang diajarkan;  keimanan,  ibadah  dan  akhlak,  juga  baca-tulis  dan  berghitung untuk tingkat dasar,  al-Quran,  dasar-dasar  agama  untuk tingkat  lanjut.  Guru disebut  muallim  atau muaddib, serta tidak dibayar,  dan  bagi  tingkat  dasar  gurunya  non  muslim.  Pada  saat  Islam  datang hanya  17 orang Qurasy  yang bisa  baca  tulis.  Di  Madinah  tempat  belajar  ditambah  mesjid,  materi  yang diajarkan ditambah;  pendidikan kesehatan  dan  kemasyarakatan. Sistemnya  halaqah.  Metodenya;  tanya-jawab, demontrasi  dan  uswah hasanah,  murid disebut  dengan  ashhabush shuffah. [7]  
B.     MANAZIL ULAMA’ (RUMAH KEDIAMAN PARA ULAMA’)
Tipe lembaga pendidikan ini termasuk kategori yang paling tua, bahkan  lebih dulu ada  sebelum  halaqah  di  masjid.  Rasulullah  saw. [8] dan  para  sahabat  menjadikan  rumahnya  sebagai  markas  gerakan pendidikan yang terfokus pada aktivitas pengajaran akidah dan pesan-pesan  Allah  swt. dalam  Alquran  untuk disampaikan  kepada masyarakat.   Selain         Dar  al-Arqam,  baik pada  periode  Makkah  maupunMadinah,  sebelum  didirikan  masjid Quba,  Rasulullah  saw. menggunakan rumah kediamannya untuk kegiatan pembelajaran umat Islam.  Rumah  Rasulullah  saw.  selalu ramai,  sebab  setiap saat  orang berduyun-duyun  datang menimba  ilmu,  sehingga  fungsi  rumah sebagai  tempat  istirahat  yang nyaman  dan  damai  menjadi  terusik (tereduksi).  Maka  turunlah  ayat  yang menetapkan  aturan  yangberkenaan  dengan  pemilik dan  fungsi  rumah  sebagai  tempat  yang harus  di  jaga  kenyamananya  di  kalangan  umat  Islam,  termasuk hubungan antara  para  sahabat  dengan Rasulullah saw.  dalam  proses pendidikan.   
C.     MASJID DAN JAMI’
Masjid dan Jami’  adalah  dua  tipe  lembaga  pendidikan  Islam yang sangat  dekat  dengan  aktivitas  pengajaran  agama  Islam.  Kedua  terma  ini,  pada  dasarnya  memiliki  fungsi  yang sama,  yaitu sebagai tempat  ibadah  dan  pengajaran  agama  Islam.  Kemunculan  masjid sebagai  lembaga  pendidikan dalam  Islam  telah  dimulai  sejak masa Rasulullah  saw.  dan  Khulafaur  Rasyidin,  sedangkan  jami’  muncul kemudian dan banyak didirikan oleh para penguasa dinasti, khususnya Abbasiyah. Beberapa jami’ yang terkenal pada masa Abbasiyah antara lain; Jami’ Amr bin Ash, Jami’ Damaskus, Jami’ al-Azhar dan masih banyak yang lain. [9] (Ahmad Syalabi, 1960: 87-88).
Mesjid sejak masa Nabi Muhammad selalu digunakan selain untuk ibadah juga sebagai institusi pendidikan umat Islam. Praktek ini pun terus dilaksanakan pada masa para sahabat namun disinyalir di masa Umar bin Khattab-lah intensifitas mesjid selain sebagai tempat ibadat juga difimgsikan sebagai sekolah betul-betui terlaksana. Hal ini dapat dilihat dari beberapa sampel seperti pada mesjid di kota Kufah, Basrah dan Damaskus yang telah digunakan untuk pengajaran alquran dan hadis, bahkan selanjutnya pelajaran nahwu (grammar bahasa Arab) dan sastra digabungkan pula ke dalam institusi pendidikan ini. [10]13 Perkembangan lebih lanjut dari mesjid sebagai lembaga pendidikan Islam adalah munculnya mesjid-mesjid yang dilengkapi dengan sarana akomodasi bagi pelajar, dan mesjid ini lazimnya disebut dengan mesjid khan. Mesjid khan ini secara finansial didukung oleh badan wakaf dan penghasilannya dimanfaatkan untuk kepentingan sosial. Perkembangan khan ini sangat berkaitan erat dengan kepedulian umat Islam masa itu terhadap para penuntut ilmu, khususnya mereka yang berasal dan luar daerah.
Dengan  demikian,  pendidikan  Islam  dan  masjid merupakan suatu kesatuan  yang integral,  dimana  masjid menjadi  pusat  dan  urat nadi  kegiatan  keislaman  yang meliputi  kegiatan  keagamaan,  politik, kebudayaan,  ekonomi,  dan  yudikatif.  Mulai  sejak masa  Rasulullah saw.  dengan  masjid Quba  dan  Nabawi  hingga  masjid  Baghdad pada masa dinasti Abbasiyah, masjid selalu menjadi alternatif utama dalam penyelenggaraan pendidikan Islam. [11] Dari masjid, kemudian berkembang menjadi masjid khan sebagai Saepudin Mashuri, Transformasi Tradisi…tempat pemondokan bagi pencari ilmu di lingkungan  halaqah masjid dari berbagai wilayah Islam.   
D.    QUSHUR (PENDIDIKAN RENDAH DI ISTANA)
Pendidikan anak bangsawan di kalangan  istana  berbeda dengan pendidikan  anak umat  Islam  pada  umumnya.  Di  istana,  metode pendidikan  dasar  dirancang oleh  orang tua  murid yang menjadi khalifah  dan  penguasa  pemerintah  agar  selaras  dengan  minat,  bakat, dan  keinginan  orangtuanya.  Metode  pembelajaran  yang  diterapkan, pada dasarnya sama dengan metode belajar anak-anak di kuttab, hanya ditambah dan dikurangi sesuai dengan kebutuhan kalangan bangsawan istana  dalam  menyiapkan  putera  mereka  memikul  tanggung  jawab negara dan agama di masa selanjutnya. Tenaga  pengajar  di  lembaga  pendidikan ini  disebut  muaddib. Mereka  diberikan  tempat  tinggal  di  lingkungan  istana  dengan tugas mengajar  berbagai  disiplin ilmu,  terutama  yang berkaitan  dengan peningkatan  wawasan  keislaman  dalam  bidang Alquran,  hadis,  syair dan  sejarah  peradaban  manusia  saat  itu.  Putera-putera  istana  terus digembleng dengan  metode  semacam  ini  sampai  mereka  melewati masa kanak-kanaknya. Kemudian, mereka beralih dari siswa kuttab ke tingkat mahasiswa di  halaqah masjid atau madrasah. Misalnya; salah seorang muaddib terkenal yang diberikan tugas oleh khlifah Harun al-Rasyid adalah al-Ahmar untuk mendidik puteranya, al-Amin. [12]
E.     HAWANIT AL-WARRAQAIN (TOKO-TOKO BUKU)
Pada awal pemerintahan dinasti Abbasiyah di Baghdad, lembaga pendidikan Islam dalam bentuk toko-toko buku telah bermunculan di pusat-pusat kota,  selain sebagai  agen  komersialisasi  berbagai  buku ilmiah  juga  menjadi  pusat  pembelajaran  umat  Islam  melalui  metode diskusi  mengenai  isi  buku yang dicari  atau ditawarkan.  Kemudian, lembaga  pendidikan  ini  menyebar  dengan  cepat  ke  seluruh  wilayah kekuasaan Islam saat itu. Mengutip  pendapat  al-Yaqubi,  Hitty  menjelaskan  bahwa  pada masa itu, sekitar tahun 891 M terdapat pusat pertokoan yang berjejer lebih dari seratus toko buku dalam satu jalan. Beberapa toko buku itu merupakan stan (kamar) yang lebih kecil ukurannya dari surau, tetapi terdapat  juga  kamar  yang  lebih besar  yang berfungsi  sebagai  pusat penelitian  hasil  karya  seni  dan  menjadi  taman  wacana  bagi pengembara  ilmu  yang datang dari  berbagai  wilayah  Islam.[13]  Toko buku,  selain  sebagai  tempat  menjual  buku juga  digunakan  sebagai pusat diskusi tentang berbagai karya sastra oleh para cendekiawan danpujangga . [14]
F.      SALUNAT AL-ADABIYAH (MAJLIS SASTRA)
Lembaga  pendidikan  Islam  dalam  bentuk majlis  sastra  mulai populer  berkembang secara  formal  sejak masa  dinasti  Umayyah  dan Abbasiyah, tetapi keberadaannya telah dimulai sejak masa  Khulafaur Rasyidin. Di  lembaga  ini,  umat  Islam  belajar  tentang berbagai  syair, baik  dalam  bahasa  Arab  maupun bahasa  Persia  yang berhubungan dengan agama Islam dan kondisi kehidupan sosial-budaya masyarakat secara menyeluruh. Pada  masa  Abbasiyah,  selalu  diadakan  perdebatan  dan  diskusi tentang keahlian  bersyair  diantara  sastrawan  dari  berbagai  disiplin ilmu, termasuk juga perlombaan di antara para seniman dan pujangga, khususnya  dalam  bidang kaligrafi  Alquran  dan  arsitektur.  Lembaga pendidikan  ini  menjadi  salah  satu corong pemerintah  dalam mengembangkan ilmu  pengetahuan  dalam  bidang  seni  dan  budaya umat  Islam  sehingga  mampu menghasilkan  karya  seni  dan  budaya yang menakjubkan saat itu. [15]
G.    MAKTABAH (PERPUSTAKAAN)
Lembaga  pendidikan Islam  ini  menjadi  suatu cara  bagi  para pencinta  ilmu masa  dahulu dalam  menyebarkan  ilmu.  Disamping harga  buku yang mahal  dan  tidak semua  umat  Islam  dapat memilikinya, mereka  juga  menginginkan  suatu tempat  yang bisa menjadi  pusat  koleksi  karya-karya  mereka,  sehingga  mudah  diakses oleh umat. Perpustakaan tersebut terbuka untuk umum tanpa dipungut biaya  dan  orang-orang yang bekerja  di  lembaga  ini  digaji  oleh penguasa. Misalnya; perpustakaan Iskandariyah dan Baitul al-Hikmahpada masa dinasti Abbasiyah. Pada masa selanjutnya, lembaga pendidikan Islam dalam bentuk perpustakaan  ini  menjadi  salah  satu pusat  kebudayaan  Islam,  bukan lagi menjadi tempat kegiatan interaksi pembelajaran umat. Disamping  Saepudin Mashuri, Transformasi Tradisi…tempat mengoleksi buku-buku karya ilmiah dari dunia Islam dan asing juga digunakan sebagai tempat penelitian, observasi, dan laboratorium percobaan ilmiah. [16]
H.    BIMARISTAN DAN MUSYTASYFA (KLINIK DAN RUMAH SAKIT)
Lembaga pendidikan Islam dalam bentuk bimaristan (klinik) ini telah  memberikan  sumbangan  yang  besar  terhadap pertumbuhan  dan pengembangan  keilmuan  dalam  bidang kesehatan dan  pengobatan. Bimaristan,  selain  berfungsi  sebagai  tempat  pengobatan berbagai penyakit  juga  menjadi  pusat  pengajaran  ilmu kesehatan.  Bimaristan pertama yang memainkan kedua fungsi tersebut adalah didirikan oleh Walid bin Abd. Malik tahun 88 H.  Sama  halnya  dengan  bimaristan,  rumah  sakit  rumah  sakit  juga termasuk salah  satu institusi  pendidikan  Islam  yang penting,  sebab kebanyakan pengajaran ilmu kesehatan dan klinis dilakukan di tempat ini. Tradisi yang berkembang saat itu, yaitu pengajaran aspek teoritis ilmu kedokteran diberikan secara mendalam di masjid atau madrasah. Sedangkan  dimensi  praktisnya  dilakukan  di  musytasyfa  yang banyak memiliki  perpustakaan  dan  sekolah  yang memang secara  khusus  di desain  untuk tujuan  aplikasi  teori-teori  pengobatan  secara  medis. [17]



BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Berbagai Instuti pendidikan Islam sebelum adanya madrasah :
1.      Kuttab adalah kata jadian dari "kataba", yang biasanya digunakan sebagai tempat belajar tulis menulis, bahkan kuttab ini sudah dikenal pada masa Jahiliyah.
2.      Manazil Ulama’ adalah tempat kediaman para ulama’ yang digunakan sebagai tempat untuk belajar.
3.      Masjid dan Jami’  adalah dua lembaga yaitu sebagai tempat  ibadah  dan  pengajaran  agama  Islam. 
4.      Qushur adalah Pendidikan anak bangsawan di kalangan  istana  berbeda dengan pendidikan  anak umat  Islam  pada  umumnya
5.      Hawanit al-warraqain (toko-toko buku)adalah toko buku yang menjual berbagai buku ilmu pengetahuan dan tempat untuk sarana diskusi.
6.      Salunat al-adabiyah (majlis sastra) adalah suatu majlis khusus yang diadakan oleh khalifah untuk membahas berbagai macam ilmu pengetahuan.
7.        Maktabah (Perpustakaan) adalah tempat menyimpan koleksi hasil karya ilmu pengetahuan para ilmuan dan tempat para pembaca. 
8.      Bimaristan dan musytasyfa (klinik dan rumah sakit) adalah tempat praktek untuk belajar ilmu kedokteran.



[1] Jawad Ali, al-Mufassal  f i Tarikh al-'Arab Qabia al-Islam     (Bagdad : Dar an- Nahdhah, 1978), Vol. VIII,  295
[2] Hasan Asari, Menyingkap Zaman Keemasan Islam (Bandung : Mizan, 1984), 17-18.
[3] Ahmad Syalabi,Tarikh at-Tarbiyyah al'Islamiyyah, (Beirut; Daral-Fikr, 1954),  36.
[4] Hasan Asari, Menyingkap Zaman Keemasan,  27-28.      
[5] Armai Arief, Melacak Akar Timbulnya Dikhotomi Ilmu Dalam Pendidikan Islam, Jauhar. Vol. 3, No. 2, Desember 2002,  215.
[6] Hitty,  Philip K .  History  of  Arabs.  (London : The  MacMillan Press, 1974), 408
[7] Samsul Nizar, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: Kencana, 2007 ),  22
[8] Jurnal Hunafa Vol. 4, No. 3, September 2007,  227-236       
[9] Sybi,  Ahmad.  1960. Tarikh al-Tarbiyah al-Islamiyah. ( Cairo: Maktabah al-Anjal al-Misriyyah, 1960), 87-88
[10] Armai Arief, Melacak Akar Timbulnya DikhotomiIlmu Dalam Pendidikan Islam, (Jauhar. Vol. 3,  o. 2, Desember 2002),  215.
[11] Stanton, Chalaarles Michael.. Pendidikan Tinggi Dalam Islam. Ter. Afandi dan Hasan Asyari. (Jakarta: Logos Wacana Ilmu,  1994), 23
[12] Sybi,  Ahmad.  1960.      Tarikh al-Tarbiyah al-Islamiyah.  46-48
[13] Jurnal Hunafa Vol. 4, No. 3, September 2007: 227-236
[14] Hitty,  Philip K.  .  History  of  Arabs. ( London: The  MacMillan Press, 1974), .414
[15] Nakosten,  Mahdi. History  of  Islamic Origins  of  WesternEducation A.D. 800-1350. (Colorado: Colorado University, 1989),  51
[16] Nasyabe,  Hisyam.  (Muslim Education Institutions.  Bairut: Libraire Du Liban, 1989). 20
[17] Thoyib, Ruswan. 1998. “Development of Muslim Educational System  in The  Classical  Period (600-1000 A.D.)  an  Overview”  dalam The Dynamic of Islamic Civilization (Satu Dasawarsa Program Pembibitan). Yogyakarta: Titian Ilahi Press. 62

No comments:

Post a Comment