Pengembangan Pendidikan Agama Islam: Reinterpretasi Berbasis Interdisipliner

Pengembangan Pendidikan Agama Islam

--- BUKU MURAH (ASLI bukan FOTOCOPY-AN/BUKAN BUKU BAJAKAN): " Buku MURAH BERKUALITAS hanya Rp.47.000,- (belum ongkos kirim. Ongkos kirim diperkirakan Rp. 18.000 - Rp. 35.000 tergantung lokasi pengiriman) berjudul PENGEMBANGAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM: REINTERPRETASI BERBASIS INTERDISIPLINER (Yogyakarta: LKiS, 2015). Sebagai info harga buku ini di pasaran berkisar 70-90 ribu). Serta buku ini hanya dijual di toko buku daerah YOGYAKARTA saja.Info lebih lanjut hubungi: 08563-350-350 (11 digit)”---

Saturday, May 19, 2012

Problematika Pemanfaat Media Pembelajaran dalam Proses Pembelajaran


  1. Promblematika Pemanfaatan Media Pembelajaran dalam Proses Pembelajaran
Oleh: 
A. Rifqi Amin
Sebelum penulis membahas tentang beberapa problem pemanfaatan media pembelajaran, perlu kiranya penulis jabarkan dulu arti dari kata ‘pemanfaatan’ dan ‘problematika’ itu sendiri, kata pemanfaatan  berasal dari kata dasar manfaat yang artinya guna, faedah dan laba/untung. Sedangkan pemanfaatan berarti proses, cara, perbuatan memanfaatkan.[1] Sehingga apabila dikaitkan dengan media pembelajaran  Pengertian pemanfaatan media pembelajaran adalah aktivitas menggunakan proses dan sumber belajar.[2] Penulis mengambil kesimpulan bahwa Pemanfaatan media yaitu penggunaan secara sistematis dari sumber belajar. Proses pemanfaatan media merupakan proses pengambilan keputusan berdasarkan pada spesifikasi pembelajaran dan dilakukan secara terencana dan terarah atau pemanfaatan media pembelajaran merupakan usaha menggerakkan alat, bahan atau sarana sedemikian rupa sehingga dapat dimanfaatkan dengan maksimal dan berusaha untuk menggunakan dengan teliti dalam mencapai tujuan pendidikan.
 Sedangkan  kata problematika berasal dari kata problem yang berarti masalah atau persoalan, dan juga berakar kata dari kata problematik yang berarti permasalahan; hal yang menimbulkan masalah, hal yang belum dapat dipecahkan.[3] Sehingga penulis dapat menyimpulkan bahwa problematika adalah merupakan suatu masalah yang ada pada diri manusia yakni dapat berupa cobaan maupun rintangan.
Menurut penulis ada enam macam istilah problematika pemanfaatan media pembelajaran yang istilah tersebut penulis ambil dari pendapta Abu Ahmadi dan Nur Uhbiyati dalam bukunya yang sebenarnya problematika itu menyangkut promblematika pendidikan secara umum, berhubung istilah itu sangat relevan maka penulis mengambil isitlah itu untuk dimasukkan ke dalam problematikan pemanfaatan media pembelajaran. Problematika yang berkaitan dengan media pembelajaran itu menyangkut 5 W 1 H, yaitu:
1.      Probelamatika Who (siapa), menyangkut pendidik dan anak didik dalam meanfaatkan media pembelajaran.
2.      Problematika Why (mengapa), menyangkut pelaksanaan pemanfaatan media pembelajaran.
3.      Problematika Where (di mana), menyangkut tempat pemanfaatan media  pembelajaran, di sekolah atau lingkuangan luar sekolah.
4.      Problematika When (bilamana/kapan), menyangkut pengaturan waktu dalam pelaksanaan pemanfaatan media pembelajaran, juga menyangkut usia peserta didik dalam menentukan pemeilihan media.
5.      Problematika What (apa), menyangkut dasar, tujuan dan bahan/materi media pembelajaran itu sendiri.
6.      problematika How (bagaimana), menyangkut cara/metode yang digunakan dalam proses pemanfaatan media pembelajaran, berhubung peserta didik mempunyai sifat dan bakat yang berbeda-beda dalam proses pembelajaran.[4].
Problematika pemanfaatan media pembelajaran dalam pendidikan di negara maju maupun di negara yang sedang berkembang jumlahnya mencapai ratusan. Sebagaimana yang dicatat oleh Wilbur Schramm yang dikutip oleh Arief S. Sadiman dkk. Menyatakan dari sekian banyak kasus penerapan media teknologi pendidikan 75% terjadi di negara dunia ketiga atau negara yang sedang berkembang.[5]Untuk lebih fokusnya pembahasan penulis akan memaparkan beberapa problem pemanfaatan media pembelajaran, diantaranya adalah:

1.      Kurangnya Minat Guru untuk Memanfaatkan Media Pembelajaran
Dalam memanfaatkan media pembelajaran banyak sekali permasalahan yang dihadapi dan itu seperti dibahas oleh penulis pada pembahasan terdahulu bahwa segala sesutu hal yang bersifat baru pasti terdapat resiko yang harus dihadapi, salah satunya adalah ada pada pendidik itu sendiri. Banyaknya media (terutama media modern) tidak memanjamin guru termotivasi untuk menggunakanya, bahkan semakin berat beban mental guru karena belum bisa menggunakannya, di sisi lain guru tidak mencari jalan keluar. Seperti kurang kreatifnya guru dalam membuat alat peraga atau media pembelajaran yang ia kembangkan sendiri (jika ia tidak mau menggunakan media modern yang telah ada). Dan banyak dijumpai masih banyak guru yang menggunakan metode ceramah saja dalam pembelajarannya, tak ada media lain yang digunakan sebagai alat bantu pembelajaran. Disinalah cermin bahwa guru mendefinisikan sebagai manusia superpower karena dirinya adalah sumber belajar sekaligus media pembelajaran satu-satunya yang tidak ada gantinya. Banyak diantara pendidik yang tak pernah berpikir untuk membuat sendiri media pembelajarannya. Jika 80% guru kreatif di suatu lembaga pendidikan di Indonesia pasti akan banyak ditemukan berbagai alat peraga dan media yang tersedia untuk menyampaikan materi pembelajarannya di sekolah. Guru yang kreatif tak akan pernah menyerah dengan keadaan. Kondisi minimnya dana justru membuat guru itu kreatif memanfaatkan sumber belajar lainnya yang tidak hanya berada di dalam kelas, seperti : Masjid, pasar, museum, lapangan olahraga, sungai, kebun, dan lingkungan sekitar lainnya.
Namun pada kenyataannya sekarang ini belum semua guru yang ada di sekolah memanfaatkan sumber belajar ini secara optimal. Masih banyak guru yang mengandalkan cara mengajar dengan paradigma lama, dimana guru merasa satu-satunya sumber belajar bagi siswa. Inilah yang terjadi pada kebanyakan guru-guru di Indonesia. Pemanfaatan sumber belajar lainnya dirasakan kurang. Sumber belajar yang sudah tersedia dan tinggal dimanfaatkan ( learning resources by utilization), juga belum sepenuhnya dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran. Padahal banyak sumber belajar yang dapat dimanfatkan oleh guru guna membantu proses pembelajarannya. Contohnya, dalam film Laskar Pelangi. Ibu muslimah tidak hanya sebagai pusat sumber belajar berupa orang, tetapi juga dapat mengarahkan siswanya untuk melihat sumber belajar yang lain, seperti Langit yang kebetulan ada pelanginya, Laut yang luas, dan suasana kedaerahan Belitong dijadikan juga sumber belajar.[6] Dan  inilah bukti guru yang menjadi motivator dan inspirator bagi lingkungannya.
Di samping memanfaatkan sumber belajar yang ada, guru dituntut untuk mencari dan merencanakan sumber belajar lainnya baik hasil rancangan sendiri ataupun sumber yang sudah tergelar di sekililing sekolah dan masyarakat. Masih banyaknya guru yang kurang berminat menggunakan media pembelajaran berimplikasi pada pola pembelajaran yang monoton dan menjenuhkan.

2.      Ketidak Tertarikan Peserta Didik pada Media Pembelajaran yang Digunakan
Banyak kita jumpai di berbagai lembaga pendidikan terdapat sejumlah media pembelajaran yang kurang optimal keadaannya, seperti; jumlah dan komponennya kurang, kualitasnya buruk, dan media yang tidak accessible (mudah didapat/diakses). Ketidak tertarikan peserta didik terhadap media adalah dengan menunjukkan sikap ‘ogah-ogahan’ dan tidak semangat untuk melakukan proses pembelajaran jika menggunakan media pembelajaran tertentu. Sehingga apabila media tersebut dipaksakan untuk digunakan mengakibatkan posisi siswa akan terbebani, dari merasa terbebani tersebut siswa tidak akan tertarik karena sebelum memanfaatkan media tersebut, siswa sudah harus dihadapkan masalah-masalah untuk menggunakan dan memahami media yang digunakan. Mulai dari itu mereka tidak akan tertarik pada media yang sama di kemudian hari. Sehingga tidak pelak, itu akan menghasilkan kebosanan, kemalasan dan membebankan resiko pembelajaran kepada siswa. Dan pada akhirnya tujuan pembelajaran yang seharusnya dilakukan secara efisien dan efektif tidak berjalan dengan baik.
Selain itu, ketidak tertarikan siswa terhadap pemanfaatan media tidak hanya berasal dari keadaan media itu sendiri, akan tetapi berasal dari bagimana pendidik dalam mengolah materi pembelajaran untuk disampaikan melalui media terebut. Seperti telah dipaparkan dalam pembahasan sebelumnya bahwa satu media tertentu belum tentu cocok digunakan untuk semua materi pembelajaran. Kecocokan antara materi pembelajaran dengan media belum tentu akan menghasilkan proses pembelajaran yang baik apabila pendidik tidak menyampaikan materi melalui media pembelajaran dengan baik pula. Oleh karena itu, kadang kala siswa akan merasa kurang tertarik untuk memanfaatkan media pembelajaran karena membutuhkan  proses lama untuk mencerna materi pembelajaran.

3.      Kurang Intensifnya Kepala Sekolah dalam Memotivasi Pendidik untuk Menggunakan Media Pembelajaran.
Salah satu tugas kepala sekolah adalah sebagai supervisor yang mana salah satu permasalahan yang dihadapi kepala sekolah dalam pemanfaatan media pembelajaran adalah  lemahnya minat guru untuk memanfaatkan media pembelajaran dan tidak tertariknya peserta didik pada sebuah media pembelajaran.  Kepala sekolah yang mempunyai tipe laissez faire dalam kepemimpinannya sangat kurang sekali kesadaran untuk mengarahkan, memotivasi dan menolong guru dalam memecahkan permasalahan ini.
Menurut Ngalim Purwanto dalam bukunya kepengawasan yang bertipe laissez faire biasanya membiarkan guru-guru/bawahannya bekerja sekehendaknya sendiri, tanpa memberi petunjuk, bantuan, koreksi, pengawasan, arahan dan bimbingan. Sehingga dapat menimbulkan ketidak harmonisan antar lingkungan lembaga pendidikan karena terjadi salah presepsi dalam menginterpretasikan tugas dan wewenangnya masing-masing.[7] Walaupun seberapa lengkap dan modernnya media pembelajaran pada lembaga pendidikan tersebut akan kurang bermanfaat jika dinaungi dengan manajeman yang lemah. Hal inilah yang akan menjadi permasalahan, di mana media hanya sebagai ‘pajangan’ atau barang istemewa yang harus disimpan dan hanya digunakan apabila barang tersebut memang sangat dibutuhkan pada peristiwa tertentu.



[1]Departeman Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia(Jakarta: Balai Pustaka, 1993), 555.
[2]Bambang Warsita, Teknologi Pembelajaran, 37.
[3]Departeman Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar, 701.
[4]Abu Ahmadi dan Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan (Jakarta: rineka cipta, 2001), 255-260.
[5]Sadiman, Media Pendidikan: Pengertian, 200.
[6]Kusumah, ”Pemanfaatan Sumber”,  diakses tanggal 6 Juni 2009, pukul 19.34 WIB.
[7]M. Ngalim Purwanto, Administrasi dan Supervisi Pendidikan (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1998), 80-81.

No comments:

Post a Comment