Blog ini Tanpa Tampilan Iklan dan Tanpa Download Berbayar Sampai Kiamat!
--- SELALU ADA YANG BARU DI BLOG BANJIR EMBUN: KAMI TIDAK MENGAMBIL KEUNTUNGAN MATERI DARI AKTIVITAS ANDA DI BLOG INI. BLOG BANJIR EMBUN ADALAH BLOG SOSIAL BUKAN BLOG BERORIENTASI KEUNTUNGAN MATERI (LABA)”---

Senin, 28 Mei 2012

Teori Kebenaran: KOHERENSI, KORESPONDENSI, DAN PRAGMATISME

Buku A. Rifqi Amin (pendiri Banjir Embun) berjudul: 


PENDAHULUAN

Sebagian dari tujuan berfilsafat adalah pencarian kebenaran. Sejak manusia dilahirkan di bumi ini proses pencarian kebenaran selalu dan terus menerus dilakukan, hal itu tidak lain dan tidak bukan untuk meramu serta menemukan bentuk dari apa yang akan menjadi sebuah kebenaran ’bersama’. Era modern seperti sekarang ini, kebenaran yang bisa diakui nilai kebenarannya salah satunya adalah kebenaran yang menggunakan metode/prosedur ilmiah, kemudian produk dari metode ilmiah tersebut disebut sebagai kebenaran ilmiah.
Perumusan umum mengenai cara kerja ilmiah untuk mencapai kebenaran ilmiah salah satunya adalah mengumpulkan keterangan secukupnya mengenai beberapa bahan faktual, dilengkapi dengan hasil-hasil penyelidikan sendiri, dan seraya menunggu timbulnya pemahaman tentang terdapatnya hubungan yang dapat dimengerti. Kiranya kita dapat menyadari, pengumpulan bahan-bahan keterangan seperti tadi kerap kali sudah terselimuti oleh hipotesis dan bercuriga terdapat hubungan di antara keterangan-keterangan yang ada sebelum penyelidikan dilakukan.[1] Oleh karena itu, pantas bercuriga kepada yang namanya kebenaran ilmiah, karena kebenaran ilmiah diperoleh bisa saja dicemari oleh praduga/asumsi (subjektivitas) awal orang secara berlebihan  yang sedang mengatanakaman mencari kebenaran ilmiah.
Refleksi lebih lanjut terhadap persoalan tersebut di atas yaitu mencoba menggali dan menemukan makna dari kebenaran itu sendiri serta melakukan uji kelayakan atau menyelidiki kemudian membuktikan bahwa kebeneran tersebut memang benar-benar ilmiah, salah satu uji cobanya adalah apa yang akan dibahas dalam makalah ini yaitu yang didasarkan pada teori koherensi (kosistensi), teori korespodensi (ketersesuaian), dan teori pragmatisme (praktis/fungsional).


PEMBAHASAN

A.    KEBENARAN
Sebagian ilmuwan mengatakan bahwa kebenaran adalah sesuatu yang bersifat sesuai dengan keadaan objek (objektif), bersifat nyata, memiliki realitas dan merupakan bagian dari fenomena alam. Sedang sebagian yang lain mendiskripsikan bahwa lawan dari kebenaran adalah kesesatan, keburukan, dan ketidakbenaran. Sedangkan pendapat lain mengungkapkan kriteria kebenaran cenderung menekankan pada, pertama yang benar adalah yang memuasakan manusia, kedua yang benar adalah yang dapat dibuktikan dengan eksperimen dan yang ketiga yang benar adalah yang memabantu dalam perjuangan hidup biologis. Jadi dapat diambil garis besar bahwa kebenaran adalah terjadinya kesesuaian yang setia dan kukuh dari petimbangan dan ide kepada fakta pengalaman atau kepada fenomena alam seperti adanya.[2]
Kebenaran memiliki sifat yang tidak ‘mutlak’ dan tidak langgeng melainkan bersifat nisbi (relative), sementara, dan transendetal. Kebenaran hanya merupakan bentuk pendekatan.[3] Oleh karena itu, tidaklah layak jika kebenaran itu menjadi klaim salah satu golongan.

  1. KOHERENSI
Teori kebenaran koherensi adalah teori kebenaran yang didasarkan kepada kriteria koheren atau konsistensi. Suatu pernyataan disebut benar bila sesuai dengan jaringan komprehensif dari pernyataan-pernyataan yang berhubungan secara logis. Pernyataan-pernyataan ini mengikuti atau membawa kepada pernyataan yang lain. Teori koherensi/konsistensi (the consistence/coherence theory of truth) memandang bahwa kebenaran ialah kesesuaian antara suatu pernyataan dengan pernyataan-pernyataan lainnya yang sudah lebih dahulu diketahui, diterima dan diakui sebagai benar. Suatu proposisi benar jika proposisi itu berhubungan (koheren) dengan proposisi-proposisi lain yang benar atau pernyataan tersebut bersifat koheren atau konsisten dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya yang dianggap benar. Dengan demikian suatu putusan dianggap benar apabila mendapat penyaksian (pembenaran) oleh putusan-putusan lainnya yang terdahulu yang sudah diketahui,diterima dan diakui benarnya. Contoh: “semua manusia akan mati. Si fulan adalah seorang manusia. Si fulan pasti akan mati.” “sukarno adalah ayahanda megawati. Sukarno mempunyai puteri. Megawati adalah puteri sukarno”.[4]
Teori koherensi menggunakan alur berfikir deduktif, dengan kata lain dalam berfikir bertolak dari hal-hal yang  umum terlebih dahulu kemudian dilanjutkan ke hal yang lebih khusus.[5] Sebuah contoh pola pemikirin deduktif dari referensi bahasa inggris:

1.      All men are mortal
2.      Socrates is a man
3.      Therefore, Socrates is mortal

The first premise states that all objects classified as "men" have the attribute "mortal". The second premise states that "Socrates" is classified as a man – a member of the set "men". The conclusion states that "Socrates" must be mortal because he inherits this attribute from his classification as a man.[6]

  1. KORESPONDENSI
Teori kebenaran korespondensi (correspondence theory of truth) adalah teori yang berpandangan bahwa pernyataan-pernyataan adalah benar jika berkorespondensi terhadap fakta atau pernyataan yang ada di alam atau objek yang dituju pernyataan tersebut. Kebenaran atau suatu keadaan dikatakan benar jika ada kesesuaian antara arti yang dimaksud oleh suatu pendapat dengan fakta. Suatu proposisi adalah benar apabila terdapat suatu fakta yang sesuai dan menyatakan apa adanya. Teori ini sering diasosiasikan dengan teori-teori empiris pengetahuan. Teori kebenaran korespondensi adalah teori kebenaran yang paling awal, sehingga dapat digolongkan ke dalam teori kebenaran tradisional karena aristoteles sejak awal (sebelum abad modern) mensyaratkan kebenaran pengetahuan harus sesuai dengan kenyataan yang diketahuinya.[7]
Teori korespondensi menggunakan alur berfikir induktif, artinya  berfikir dengan bertolak dari hal-hal khusus ke umum.[8] Dengan pengertian lain, menarik kesimpulan diakhir setelah ada fakta-fakta pendukung yang telah diteliti dan dianalisa sebelumnya. Contohnya, prodi Pendidikan Agama Islam, prodi Tadris Bahasa Inggri, dan prodi Tadris Bahasa Arab  STAIN Kediri ada di Kelurahan Ngronggo. Jadi Jurusan Tarbiyah STAIN Kediri ada di Ngronggo.


  1. PRAGMATISME
Teori kebenaran pragmatis adalah teori yang berpandangan bahwa arti dari ide dibatasi oleh referensi pada konsekuensi ilmiah, personal atau sosial. Benar tidaknya suatu dalil atau teori tergantung kepada berfaedah tidaknya dalil atau teori tersebut bagi manusia untuk kehidupannya. Kebenaran suatu pernyataan harus bersifat fungsional dalam kehidupan praktis. Teori pragmatis (the pragmatic theory of truth) memandang bahwa “kebenaran suatu pernyataan diukur dengan kriteria apakah pernyataan tersebut bersifat fungsional dalam kehidupan praktis”; dengan kata lain, “suatu pernyataan adalah benar jika pernyataan itu mempunyai kegunaan praktis dalam kehidupan manusia”. [9]
Sehingga dapat dikatakan bahwa pragmatisme adalah suatu aliran yang mengajarkan bahwa yang benar ialah apa yang membuktikan dirinya sebagai benar dengan perantaraan akibat-akibatnya yang bermanfaat secara praktis. Pegangan pragmatis adalah logika pengamatan dimana kebenaran itu membawa manfaat bagi hidup praktis dalam kehidupan manusia. Teori ini pada dasarnya mengatakan bahwa suatu proposisi benar dilihat dari realisasi proposisi itu. Dalam pendidikan, misalnya di uin, prinsip kepraktisan (practicality) telah mempengaruhi jumlah mahasiswa pada masing-masing fakultas. Tarbiyah lebih disukai, karena pasar kerjanya lebih luas daripada fakultas lainnya. Tentang keyakinan (iman), menurut penganut pragmatis, kepercayaan atau keyakinan yang membawa pada hasil yang terbaik; yang menjadi justifikasi dari segala tindakan kita; dan yang meningkatkan suatu kesuksesan adalah kebenaran. Teori pragmatis meninggalkan semua fakta, realitas maupun putusan/hukum yang telah ada. Satu-satunya yang dijadikan acuan bagi kaum pragmatis ini untuk menyebut sesuatu sebagai kebenaran ialah jika sesuatu itu bermanfaat atau memuaskan.[10] Contohnya, Fulan ingin menjadi pengurus di sebuah organisasi politik, karena bisa untuk menambah harta kekayaan, Fulan bersifat pragmatis, artinya mau masuk kepengurusan organisasi politik karena ada manfaatnya bagi dirinya, yaitu bisa menambah harta kekayaan.
Apa yang diartikan dengan benar adalah yang berguna (useful) dan yang diartikan salah adalah yang tidak berguna (useless). Teori ini tidak mengakui adanya kebenaran yang tetap atau mutlak. Pragmatisme memang benar untuk menegaskan karakter praktis dari kebenaran, pengetahuan, dan kapasitas kognitif manusia. Secara historis pernyataan ilmiah yang sekarang dianggap benar suatu waktu mungkin tidak lagi demikian. Dihadapkan dengan masalah seperti ini maka ilmuan bersifat pragmatis selama pernyataan itu fungsional dan mempunyai kegunaan maka pernyataan itu dianggap benar, sekiranya pernyataan itu tidak lagi bersifat demikian, disebabkan perkembangan ilmu itu sendiri yang menghasilkan pernyataan baru, maka pernyataan itu ditinggalkan, demikian seterusnya.[11]
                 


KESIMPULAN


Kebenaran ‘ilmiah’ adalah seuatu  yang dicari dengan metode ilmiah dan selalu diadakan penguji cobaan kembali (ditera ulang) setiap waktu  untuk mencari kebenaran yang sebenarnya. Salah satu dari beberapa cara menguji atau membuktikan kebenaran ilmiah adalah dengan teori koherensi, teori korespondensi, dan teori pragmatisme.
Sulit untuk mengambil kesimpulan apakah ketiga teori tentang kebenaran tersebut saling bertentangan atau saling melengkapi. Namun terdapat kepastian, bahwa kebenaran (bukan iman) itu tidak bisa diklaim oleh salah satu pihak. Proses berfikir tidak boleh berhenti pada satu hal yang kelihatannya sudah pantas untuk diyakini, karena jika keyakinan (fanatik) terhadap sebuah objek mulai tumbuh maka akan membunuh kepekaan untuk menggali lagi kebenaran yang sebenarnya terhadap objek tersebut.
Dari pembahasan sebelumnya dapat diambil sebuah kesimpulan sebagai berikut:
  1. koherensi adalah menguji satu pernyataan (ilmu) dengan pernyataan lain yang koherensi (sama).
  2. korespondesi adalah menguji satu pernyataan (ilmu) dengan objek fisik (realitas/fakta).
  3. nilai guna dari pernyataan (ilmu).



BIBLIOGRAFI

Soejono Soemargono. Pengantar Filsafat Ilmu. Terjemahan Beerling. Yogyakarata: PT. Tiara Wacana Yogya, 1997.

Hidayat Raharja, ”Pemanfaatan Teknologi Multimedia dalam Pembelajaran” , (http://bangirham.blogspot.com/2009/01/pemanfaatan-teknologi-multimedia-dalam.html, diakses 6 Juni 2009).

Ahmad Farid Mubarok, “Teori-teori Kebenaran: Korespondensi, Koherensi, Pragmatik, Struktural Paradigmatik, dan Performatik”. 28 juni 2010 (http://defaultride.wordpress.com/2010/06/28/teori-teori-kebenaran-korespondensi-koherensi-pragmatik-struktural-paradigmatik-dan-performatik, diakses tanggal 29 Sepetember 2011)


Khaerul Umam, “ Kebenaran Ilmiah”. 26 Juni 2009 (http://fachruddin54.blogspot.com/2009/06/kebenaran-ilmiah.html, , diakses 29 September 2011)


[1]Soejono Soemargono, ” Pengantar Filsafat Ilmu”, dalam inleiding tot de wetenshapsleer, Beerling,  et.al. (Yogyakarata: PT. Tiara Wacana Yogya, 1997), 9.
[2]Ahmad Farid Mubarok, “Teori-teori Kebenaran: Korespondensi, Koherensi, Pragmatik, Struktural
Paradigmatik, dan Performatik”, dalam http://defaultride.wordpress.com/2010/06/28/teori-teori-kebenaran-korespondensi-koherensi-pragmatik-struktural-paradigmatik-dan-performatik, 28 juni 2010, diakses tanggal 29 Sepetember 2011, Pukul 19.45 WIB.
[3]Tanpa nama, http://www.facebook.com/topic.php?uid=360188105847&topic=13736, diakses 29 September 2011, pukul 19.50 WIB

[4]Mubarok, “Teori-teori kebenaran:, diakses tanggal 29 Sepetember 2011, pukul 19.45 wib.
[5] Khaerul Umam, “ Kebenaran Ilmiah, dalam http://fachruddin54.blogspot.com/2009/06/kebenaran-ilmiah.html, 26 Juni 2009, diakses 29 September 2011, pukul 19.55 WIB


[6]Tanpa nama,  http://en.wikipedia.org/wiki/Deductive, diakses 29 September 2011, pukul 19.58 WIB.
[7]Mubarok, “Teori-teori kebenaran:, diakses tanggal 29 Sepetember 2011, pukul 19.45 WIB.
[8]Umam, “ kebenaran ilmiah”, iakses 29 September 2011, pukul 19.55 WIB.
[9]Mubarok, “Teori-teori kebenaran:, diakses tanggal 29 Sepetember 2011, pukul 19.45 WIB.
[10]Ibid,.
[11]Mubarok, “Teori-teori kebenaran:, diakses tanggal 29 Sepetember 2011, pukul 19.45 WIB.

0 komentar:

Poskan Komentar