Pengembangan Pendidikan Agama Islam: Reinterpretasi Berbasis Interdisipliner

Pengembangan Pendidikan Agama Islam

--- BUKU MURAH (ASLI bukan FOTOCOPY-AN/BUKAN BUKU BAJAKAN): " Buku MURAH BERKUALITAS hanya Rp.47.000,- (belum ongkos kirim. Ongkos kirim diperkirakan Rp. 18.000 - Rp. 35.000 tergantung lokasi pengiriman) berjudul PENGEMBANGAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM: REINTERPRETASI BERBASIS INTERDISIPLINER (Yogyakarta: LKiS, 2015). Sebagai info harga buku ini di pasaran berkisar 70-90 ribu). Serta buku ini hanya dijual di toko buku daerah YOGYAKARTA saja.Info lebih lanjut hubungi: 08563-350-350 (11 digit)”---

Friday, June 1, 2012

ARTIKEL: PONDOK PESANTREN


Sistem Pendidikan dan Pengajaran Pondok Pesantren

Oleh: ALVIN MASKUR
(Mahasiswa S2 Pascasarjana STAIN Kediri dan Mantan Presiden Mahasiswa STAIN Kediri)

Sistem pendidikan dan pengajaran di Pondok Pesantren ada yang bersifat tradisional dan modern. Sistem tradisional adalah pola pengajaran yang sangat sederhana, yakni pola pengajaran sorogan, bandongan dan wetonan.
a. Sorogan
Sorogan berasal dari bahasa jawa yang berarti menyodorkan. Dikatakan demikian karena setiap santri menyodorkan kitabnya dihadapn kiyai atau mubadilnya.[1]
Lebih lanjut, Armaie Arif mengatakan bahwa “metode sorogan didasari atas peristiwa yang terjadi ketika Rasulullah SAW menerima ajaran dari Allah melalui Malaikat Jibril, mereka langsung bertemu satu persatu yaitu malaikat Jibril dan para nabi.[2] Penggunaan metode sorogan memiliki beberapa kelebihan dan kekurangan. Kelebihan yang dimiliki dalam metode ini adalah :
1. Terjadi hubungan yang erat dan harmonis antara guru dan murid.
2. Memungkinkan bagi seorang guru mengawasi, menilai dan membimbing secara maksimal kemempuan seorang murid dalam menguasai bahasa Arab.
3. Murid mendapatkan penjelasan yang pasti tanpa harus mereka-reka tentang interpretasi suatu kitab karena berhadapan dengan guru secara langsung yang memungkinkan terjadinya bahasa arab.
4. Guru dapat mengetahui secara pasti kualitas yang telah dicapai muridnya.
5. Santri yang IQnya tinggi akan cepat menyelesaikan pelajaran kitab, sedangkan yang IQnya rendah ia membutuhkan waktu yang cukup lama.[3]
Selain ada kelebihan juga ada kelemahan yaitu:
1. Tidak efisien karena hanya menghadapi beberapa murid (tidak lebih dari 5orang), sehingga kalau menghadapi murid yang banyak metode ini kurang tepat.
2. Membuat murid cepat bosan karena metode ini menuntut kesabaran, ketaatan dan disiplin pribadi.
3. Murid kadang hanya menangkap kesan verbalisme semata terutama mereka yang tidak mengerti terjemahan dari bahasa tertentu.[4]
b. Wetonan
Sistem pengajaran yang dilaksanakan dengan jalan kyai membaca suatu kitab dalam waktu tertentu dan santri dengan membawa kitab yang sama mendengarkan dan menyimak bacaan kyai. Dalam sistem pengajaran yang seperti itu tidak dikenal absensinya, santri boleh datang, boleh tidak, santri juga tidak ada ujian.[5]
c. Bandongan
Secara etimologi bandongan berarti pengajaran dalam bentuk kelas (pada sekolah agama). Secara terminologi ada beberapa definisi yang dipaparkan oleh para pakar antara lain menurut A. Qodry Azizy, metode bandongan adalah murid (antara 5-500 0rang) mendengarkan seorang guru yang membaca, menerjemahkan, menerangkan dan seringkali mengulas buku-buku Islam dalam bahasa Arab.
Jadi metode bandongan adalah kyai menggunakan bahasa daerah setempat, kyai membaca, menerjemahkan, menerangkan kalimat demi kalimat yang dipelajarinya, santri secara cermat mengikuti penjelasan yang diberikan oleh kiyai dengan memberikan catatan-catatan tertentu pada kitabnya masing-masing dengan kode-kode tertentu sehingga kitabnya disebut kitab jenggot.[6]


[1]A. Qodry Azizy, Profil Pondok Pesantren Mu’adalah (Jakarta: Direktorat Kelembagaan Agama Islam, 2004), 21.
[2] Armaie Arief, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam ( Jakarta: Ciputat Press, 2002), 151.
[3] Ibid., 153.
[4] Ibid.
[5] Azizy, Profil Pondok, 23.
[6] Ibid., 24.

No comments:

Post a Comment