Pengembangan Pendidikan Agama Islam: Reinterpretasi Berbasis Interdisipliner

Pengembangan Pendidikan Agama Islam

--- SELALU ADA YANG BARU DI BLOG BANJIR EMBUN: "Kami Mengucapkan Terima Kasih Atas Kunjungan Anda. Bila butuh bantuan atau ada pertanyaan silakan hubungi ke nomor 08563350350 atau kirim email ke: banjirembun@yahoo.co.id subjek: BanjirEmbun Menjawab”---

Kamis, 21 Juni 2012

CERITA MOTIVASI: “FOKUS PADA IMPIAN”


CERITA MOTIVASI: “FOKUS PADA IMPIAN”
Oleh: Tim Banjir Embun

MOTIVASI BANJIR EMBUN—Fokus pada Impian. Di sebuah sekolah tingkat SMA di sebuah kota besar, ada seorang siswi yang mempunyai impian menjadi penyanyi yang terkenal di negaranya. Selain belajar dan sekolah kegiatan dia sehari-hari adalah berlatih bernyanyi, belajar ilmu dan tekhnik baru dalam olah vokal suara. Ekstrakurikuler yang ia ikutipun adalah ekstra musik yang difokuskan pada seni olah suara. Di kotanya ekstrakurikuler musik yang fokus pada intonasi suara hanya ada di sekolahnya saja, karena untuk mempelajarinya perlu mendatangkan ahli olah suara. Setiap ada acara pertunjukan di sekolahnya ia selalu ikut berpartisipasi mengisi acara itu dengan suaranya. Kadang ia tampil bersama teman-temannya yang hoby pada tarik suara dan sebagian memang harus tampil karena anggota ekstrakurikuler ‘bernyanyi’ ini harus menampilkan hasil belajarnya selama satu semester.

Saat dia ingin tampil secara solo (sendiri) ia selalu berhasil melobi untuk mendapat jatah waktu menampilkan karya olah suaranya pada panitia OSIS dan bapak ibu guru yang berwenang pada acara tersebut. Tepukan tangan bersorai pada setiap acara di sekolahannya, namun kadang ia ragu temannya memberi tepukan karena mendengar nyanyiannya atau karena melihat tubuhnya yang cantik. Ia belum berani tampil di pentas luar sekolah, di acara umum, atau di acara-acara santai yang bersifat hiburan saja. Ia belum yakin apakah suaranya pantas mendapat tepukan.

Pada suatu hari sekolah tersebut mendatangkan seorang produser musik, seorang ahli dibidang menyanyi, dan penyanyi legendaris di negaranya. Kesempatan langka ini bisa terwujud karena penyanyi tersebut adalah alumni yang juga pernah mengikuti ekstrakurikuler bernyanyi seperti halnya dia. Ini adalah berita gembira bagi seluruh penghuni di sekolah itu, mulai dari guru, siswa, hingga semua karyawan di sekolah itu. Pentas musik spektakuler ini tertutup untuk umum, ekslusif hanya untuk civitas sekolah. Namun yang membuatnya kecewa adalah ia tidak dapat mewujudkan keinginannya untuk berduet dengan penyanyi itu, bahkan untuk tampil bernyanyi untuk membuka acara tak ada kesempatan. Tak hanya dia yang kecewa, teman-teman lain yang ingin mementaskan karyanya pun juga bermuka kusut.

Namun kesempatan datanya penyanyi ini tidak ia sia-siakan begitu saja. Ia berhasil melobi manajer penyanyi tersebut dan melobi kepala sekolah untuk memberi kesempatan para tamu agung tersebut melihat dan mendengar nyanyiannya setelah pentas musik dilaksanakan. Saat pentas dilangsungkan hatinya berdegup kencang, seolah-olah tak siap dan tak percaya ia bisa menunjukkan nyanyiannya pada orang-orang spektakuler di bidang musik. Saat siswa-siswi lain SMU tersebut riuh sorak sorai bergembira dan bernyanyi bersama mengikuti nyanyian penyanyi ganteng itu, ia berkeringat dingin di ruang panitia. Sambil mendengarkan alunan musik. Seolah ia akan tertimpa gunung yang besar.

Saat-saat yang ditunggupun tiba, di ruang aula para anggota ekstrakurikuler bernyanyi ini telah menunggu. Rencananya mereka menerima ilmu dibidang seni musik dari ibu produser, seorang ahli olah vokal yang terkenal, dan penyanyi paling spektakuler di negeri. Setelah acara bagi-bagi ilmu itu selesai, ia pun menemui panitia untuk menagih janjinya, memberi kesempatan bagi dia menunjukan suaranya kepada para tamu yang spesial itu. Tak lama panitiapun memberitahukan manajer penyanyi, kemudian penyanyi dan produserpun pergi meninggalkan ruangan Aula. Kemudian dia diberitahu oleh ahli dibidang bernyanyi tersebut bahwa ibu produser dan penyanyi sedang di ruang kepala sekolah menerima jamuan Ibu kepala sekolah. Jadi mereka tidak bisa mengikuti moment khusus mendengarkan bakat bernyanyi para siswa dan siswa. Tak ayal momen ini hanya di pegang penuh oleh ahli olah vokal itu saja.

Ia mendapat kesempatan pertama untuk tampil bernyanyi di ruangan khusus yang orang lain tidak bisa mendengar dan melihat. “Kalian hanya saya kasih kesempatan 5 menit untuk bernyanyi” seorang ahli musik itu menegaskan pada mereka saat sebelum mereka satu persatu masuk ruangan khusus. “Silakan kamu mulai bernyanyi, ingat cuma 5 menit saja” setelah mendapat komando diapun mengeluarkan suara. Ia bernyanyi dengan agak gemetaran namun tetap PD dan yakin bahwa suaranya pantas di dengar oleh beliau sehingga bisa menjadi calon penyanyi terkenal. Setelah ia bernyanyi selama 2 menit, ahli vokal tersebut langsung pergi dan meninggalkan ruang tersebut tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Ia pun menangis tersedu, putus asa, malu, dan hilang harapan. “Apakah suaru tak bagus? Apakah aku ini terlalu PD untuk tampil di ruangan ini di depan dia sehingga dia benci dengan ke-PD-an ku yang tak sepadan dengan suaraku?” gejolak hatinya meronta-ronta. Ia pun langsung meninggalkan sekolah tanpa pamit dengan siapapun disertai linagan iar mata bercucuran. Untuk beberapa hari kemudian dia tak masuk sekolah, merasa malu, khususnya pada teman-temannya di esktrakurikuler. “Bagaimana jika mereka diberitahu oleh pakar vokal itu bahwa suaraku ini tak sepadan dengan ke PD an ku?” pikirnya dalam hati.

Mulai saat itu ia bersumpah tidak mau bernyanyi lagi, ia membenci dirinya sendiri yang terlalu PD mempunyai impian besar, dan ia pun menggantungkan impiannya begitu saja. Kemudian ia mulai menjalani hidup datar-datar begitu saja. Lima belas tahun kemudian ia pun sudah menikah, punya dua anak. Suaminya sudang meninggal, ia bekerja sebagai buruh melinting rokok di kotanya. Ia menjalani hidup masih dengan datar-datar saja, apalagi setelah suaminya meninggal.

Pada suatu hari di kotanya ada sebuah acara penseleksian bakat bernyanyi dari salah satu TV swasta Nasional. Ia pun iseng-iseng sambil cari hiburan melihat acara tersebut. Ia tahu bahwa ahli vokal yang lima belas tahun lalu mengacuhkannya juga menghadiri acara tersebut. Pada saat ada kesempatan dia menemui ahli vokal itu, setelah berbasa-basi iap langsung mulai menanyakan peristiwa 15 tahun lalu yang masih membuatnya penasaran. “Kenapa bapak dulu meninggalkan saya begitu saja saat saya belum selesai bernyanyi?” tanya ia dengan berjuta harapan mendapat jawaban. “Karena aku dulu ingin mengambil kartu namaku yang akan kuberikan untukmu, sekaligus memberitahukan produser bahwa di sekolahmu ada penyanyi spektakuler yaitu kamu” Jawab pakar vokal itu dengan datar. “Kalau memang begitu, kenapa bapak dulu tidak puji saya? Tidak katakan pada saya bahwa saya punya bakat, bahwa saya punya masa depan cemerlang di dunia tarik suara????” emosinya mulai tidak teratur, ia tidak terima dengan jawaban itu.

“Buat apa kamu perlu pujian? Yang tahu tentang kamu adalah dirimu sendiri, yang mewujudkan mimpimu adalah dirimu sendiri, bukan aku atau produser” Jawabnya masih dengan datar. “Bapak telah menghancurkan hidupku, sekarang aku hanya seorang buruh melinting rokok” jawabnya.

Pesan tim banjir embun: “Sahabat banjir embun setiap manusia pasti punya mimpi, yang membedakan mimpi setiap manusia adalah besar dan kecilnya saja. Dan bisa tercapainya mimpi bukanlah hanya berdasarkan pada bakat dan keberuntungan saja tapi juga pada kerja keras yang tak kenal menyerah. Tak mengharapkan pujian untuk berkembang dan tak pernah merasa kecil saat kalah dalam meperjuangakan mimpinya. Serta akan senantiasa memperjuangakan mimpinya sampai ia tak mampu lagi untuk bernafas. Karena impian besar bukanlah bagaimana kita harus segera mencapainya, tapi bagaimana kita tetap terus mampu bertahan dalam berjuang dan berproses mewujudkan mimpi itu. (BE/20/06/12)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar