Pengembangan Pendidikan Agama Islam: Reinterpretasi Berbasis Interdisipliner

Pengembangan Pendidikan Agama Islam

--- BUKU MURAH (ASLI bukan FOTOCOPY-AN/BUKAN BUKU BAJAKAN): " Buku MURAH BERKUALITAS hanya Rp.47.000,- (belum ongkos kirim. Ongkos kirim diperkirakan Rp. 18.000 - Rp. 35.000 tergantung lokasi pengiriman) berjudul PENGEMBANGAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM: REINTERPRETASI BERBASIS INTERDISIPLINER (Yogyakarta: LKiS, 2015). Sebagai info harga buku ini di pasaran berkisar 70-90 ribu). Serta buku ini hanya dijual di toko buku daerah YOGYAKARTA saja.Info lebih lanjut hubungi: 08563-350-350 (11 digit)”---

Friday, June 1, 2012

Hasan al-Banna


HASAN AL-BANNA

Oleh: Fahad Asadulloh 
(facebook: fahad.asadulloh@yahoo.co.id)

(Mahasiswa S2 Pascasarjana STAIN Kediri dan santri di 
Pondok Pesantren Tahfidzul Qur'an Ma'unah-Sari Bandar Kidul Kediri Jawa Timur.)

BAB I

PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang
1
 
Hasan al-Banna dilahirkan pada tahun 1906, lahir di Mahmudiyah dari keturunan keluarga taat beragama dan terpandang. Ayahnya Syaikh Ahmad ibn Abd al-Rahman al-Sa’ati adalah seorang yang ‘alim di bindang ilmu agama yang waktunya ia gunakan untuk mengajar dan berdakwah. Sejak kecil al-Banna di didik ayahnya dalam pendidikan agama seperti fiqh, hadits dan al-Qur’an, disamping sekolah di pendidikan guru di Damanhur. Kemudian melanjutkan pendidikan di Dar al-Ulum selama empat tahun. Selain memperoleh pendidikan formal, Ia memasuki tarikat Hasyafiyat semenjak usia dua belas tahun. Pendidikan yang sinergis ini memberi pengaruh yang dalam bagi pembentukan kepribadiannya sebagai seorang pemimpin, ilmuwan dan menjalani kehidupan rohani. Pergumulan al-Banna dengan berbagai ilmu agama maupun ilmu umum ini pada gilirannya melahirkan suatu revolusi pemaknaan Islam sebagai agama[1] universal mencakup segala aspek kehidupan ritual, dan sosial, akhirat dan dunia. Dengan asuhan dan asahan secara Islam itulah maka ia bisa berkata: “hanya Islamlah ayah kandungku”. Hal itu karena rasa cintanya terhadap ajaran Islam, karena ajaran itulah yang membentuk watak dan kepribadiannya.
Sejak muda al-Banna gemar membaca cerita rakyat, terutama yang menimbulkan semangat heroik. Di antara buku itu ialah al-Amirah Dzatul Himmah (putri yang bersemangat) dan Hikayat ‘Antaraah yang merupakan legenda. Bacaan semacam itu baginya amat terkesan, dan kerap memainkan kembali adegan kepahlawanan, perjuangan dan sejarah, cerita tentang para pahlawan Afrika utara.
Pada tahun 1919, Hasan al-Banna baru berusia 13 tahun. Namun demikian, ia sudah terlibat aksi, menulis puisi dan menyaksikan pendudukan Mahmudiyah ,oleh pasukan Inggris. Dari hasil pengalaman ini ia memetik kesan yang dalam. Ia menjadi yakin, bahwa pengabdian kepada tanah air merupakan kewajiban yang tak dapat ditinggalkan. Kelak akan terbukti meski tak bisa diketahui selengkapnya ia memainkan peranan penting dalam gerakan nasionalis Mesir.
Pada usia 14 tahun (1920) al-Banna masuk sekolah guru tingkat pertama di Damanhur. Kecenderungan religiusnya tetap tidak berubah. Ia tetap berpuasa dalam bulan Rajab dan Sya’ban. Tidaklah aneh, karena ia pernah hidup dilingkungan yang menjalani kebiasaan pertapa, melakukan perjalanan dan menempuh jarak jauh mengunjungi berbagai masjid. Dalam usia semuda itu, ia menggabungkan diri dengan mazhab sufi Hasfiyah.[2]
Pendidikan Islam tidak memfokuskan seluruh perhatiannya pada aspek rohani atau akhlak saja seperti yang dilakukan oleh kaum sufi dan pakar etika, atau aspek pemikiran rasional saja seperti yang biasa dilakukan oleh para filsuf dan kaum rasionalis, atau aspek pelatihan fisik dan kemiliteran saja seperti yang dilakukan oleh kalangan militer atau aspek pendidikan sosial saja sebagaimana yang dilakukan oleh para reformis sosial.
Tarbiyatul Islamiyah memperhatikan seluruh aspek tersebut. Karena ia adalah tarbiyah untuk segenap eksistemsi manusia; baik akal dan hati, rohani dan jasmani, maupun akhlak dan perilaku. Sebagaimana tarbiyah ini yang menyiapkan manusia untuk menghadapi kehidupan dengan segala dinamikanya untuk menghadapi masyarakat dengan segala kebaikan dan keburukannya, dengan segala pahit dan manisnya.
Oleh karena itu, harus ada perhatian terhadap pendidikan jihad (tarbiyatul jihadiyah) dan pendidikan sosial secara serntak, agar seorang Muslim tidak hidup terpisah dan realita masyarakat sekitarnya.
Inilah gambaram integral dan holistik yang menjadi karakteristik Islam dalam bisang aqidah, ibadah dan syari’at. Tentunya pula dalam bidang tarbiyah (pendidikan).[3]
Pengetahuan Hasan al-Banna telah mengetahui satu hakikat melalui pembacaan, kajian dan analisa sejarah kebangkitan dan tamadun umat manusia. Oleh itu jelas kepadanya bahwa dakwah tidak akan dapat dijayakan tanpa rijal mukmin yang  kuat.
Hasan al-Banna mengatakan bahwa membina mukmin adalah merupakan keutamaan yang mesti diberi perhatian oleh para ahli ilmu. Ini telah tergambar jelas didalam risalahnya yang bertajuk: Kemana Kita Seru Manusia dibawah topik, Dimana Kita Hendak Bermula. Maksud dari risalah tersebut adalah ketika kita mau menyebarkan ilmu (kepada peserta didik) kita harus melihat kondisi peserta didik saat itu, dari situ nanti diharapkan pendidikan tepat pada sasarannya dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat (peserta didik). Beliau juga berkata: "Proses Membentuk umat, mendidik bangsa, untuk mencapai cita-cita dan untuk memperjuangkan kandungan pendidikan Islam, memerlukan kelompok yang mengusahakannya sekurangnya kepada bebera kelompok: 
  1. Kemauan yang kuat yang tidak dihantui rasa percaya diri
  2. Kesetiaan  yang tetap tidak dicampuri dengan khianat
  3. Pengorbanan yang mulai tidak dibatasi ketamakan dan kebatilan
  4. Mengenali, mengimani dan memandang tinggi prinsip yang menghidarkan dari pada sikap gengsi dan penyelewengan atau toleransi dan tertipu dengan selainnya (pinsip).
Melalui tarbiyah ini individu akan menjadi seorang insan yang tidak mengejar nafsu syahwatnya, tidak juga menjadikan harta dan kekayaan sebagia sesuatu yang berharga.
Hasil tarbiyah Islamiah akan melahirkan individu muslim yang mempunyai sifat-sifat berikut:
  1. Bersikap positif terhadap kehidupan, tidak menyendiri atau melarikan dari dari pada realita.
  2. Mempunyai kemauan yang kuat, mampu mengambil keputusan dan bertanggung jawab terhadap segala tindakannya setelah ia mengenali kebenaran
  3. Mempunyai jiwa yang mendorongnya melaksakan kewajiban terhadap diri sendiri dan masyarakat
  4. Memiliki kebijaksanaan hasil pengalaman dalam berbagai situasi kehidupan. Ia senantiasa memperhatikan, berfikir dan mencari hakikat. Mempunyai banyak ikhtiar untuk mencapai tujuannya.[4]
Dengan demikian, gagasan Hasan al-Banna khususnya tentang pendidikan terbukti telah melahirkan madrasah teladan yang handal khususnya sistem pendidikan. Aspek terpenting yang dapat di realisasikan adalah membetuk generasi Islam kaffah yang memahami Islam secara tepat, responship dan berjuang menegakkan agama Allah.
Makalah ini akan sedikit menjelaskan tentang biografi hasan al- Bana, pemikiran al-Bana terkait dengan ilmu pendidikan Islam, Prinsip-prinsip Dasar Ilmu Pendidikan Islam Menurut Hasan al-Bana




BAB II
PEMBAHASAN
A.    Riwayat Hidup Hasan al-Banna
Nama lengkapnya adalah Hasan bin Ahmad ‘Abdul Al-Rahman bin Muhamad Hasan al-Banna. Akan tetapi banyak orang yang memanggilnya dengan nama Hasan. Dan ada pula yang menyebut dengan nama Hasan al-Banna atau al-Imam al-Syahid Hasan.
Hasan al-Banna lahir pada tanggal 14 Oktober 1906 di Al- Mahmudiyah, sebuah kota kecil di propinsi Buhairah, kira-kira 9 mil dari arah barat daya kota Kairo.[5] Hasan al-Banna lahir dari keturunan keluarga taat beragama dan terpandang. Ayahnya Syaikh Ahmad ibn Abd al-Rahman al-Sa’ati adalah seorang yang ‘alim di bidang ilmu agama yang waktunya ia gunakan untuk mengajar dan berdakwah. Beliau adalah sosok yang sangat disegani oleh sejumlah besar ulama’ Mesir sebab kedalamam ilmu beliau terutama dalam menguasai ilmu fiqh, ilmu tauhid, ilmu bahasa dan sekaligus penghafal Qur’an. Bahkan Syeikh Ahmad ini pernah belajar di Al-Ahzar pada masa Syekih Muhamad Abduh.[6]
14
 
Hasan al-Banna telah mengawali pendidikan dasanya di madrasah diniyah Ar-Rasyad dengan Syeikh Muhamad Zahran sebagai gurunya yang kelak sangat berpengaruh bagi perjalanan hidupnya.
Disaat Hasan al-Banna belum juga selesai menghafal Surat Al-Isro’, yang  berarti kurang lebih baru separo Al-Qur’an tiba-tiba sang ayah menyampaikan sesuatu rencana yang mengejutkan, ia harus pindah ke Madrasah I’dadiyah. Ketika itu, jenis pendidikan ini setingkat dengan Madrasah Ibtida’iyah hanya tanpa pelajaran bahasa Asing namun ada beberapa pelajaran tentang undang-undang pertahanan dan perpajakan, serta sedikit tentang agrikultural disamping mendalami secara luas tentang ilmu bahasa nasional (Bahasa Arab) dan ilmu agama.[7] Dan di madrasah inilah Hasan al-Banna memulai mengikuti organisasi keagamaan yang bernama Perhimpunan Akhlak Mulia yang bertujuan untuk menghukum angota-anggotanya atas setiap pelanggaran sekolah itu ternyata tida menyurutkan semangat ayahnya nuntuk tetap menjadikan Hasan al-Banna sebagai seorang hafidz. Untuk itu ia mengambil waktu menghafal Al-Qur’an setelah subuh hingga menjelang berangkat sekolah.
Dewan teritorial kota Bahirah menetapkan penghapusan sistem Madrasah I’dadiyah dan diganti dengan Madrasah Ibtida’iyah. Maka tidak ada alternatif lain bagi Hasan al-Banna kecuali harus memilih mendaftarkan diri ke Madrasatul al-Mu’allimin Al-Awwaliyah di Damanhur untuk dapat menyingkat waktu, karena setelah tiga tahun menempuh pelajaran disini akan menjadi seorang guru. Akhirnya pilihan kedua inilah yang ia pilih.[8] Saat itu usia Hasan al-Banna baru 14 tahun.
Pada masa beliau ini pula Hasan al-Banna menyaksikan untuk pertama kalinya halaqah dhikir, sebuah ritual sufi yang dilakasanakan oleh Tarekat Al-Ikhwan Al-Hashafiyah (Persaudaraan Hashafiyah). Karena begitu terkesan, Hasan al-Banna masuk menjadi anggota tarekat ini selama dua puluh tahun berikutnya, dan ia tetap memegang teguh ajaran sufisme dalam arti khusus sealama hidupnya.[9] Hasan al-Banna terwarnai oleh metode dzikir, wirid, kajian kita ihya, sholat jamaah, puasa senin kamis, serta kunjungan persaudaraan, salah seorang pendidik tarekat itu yang bernama Syeikh Muhamad Abu Sayusyah itu untuk pergi ke kuburan. Mereka berziarah kubur dan membaca wazifah.[10]
Pada usia enam belas tahun, atau tepatnya tahun 1923 Hasan al-Banna pergi ke Kairo dan belajar di Darul Ulum. Darul Ulum didirikan pada tahun 1873 sebagai lembaga pertama Mesir yang menyediakan pendidikan tinggi modern (sains) disamping ilmu-ilmu agama tradisional yang menjadi spesialisasi lembaga pendidikan tradisional dan klasik Al-Azhar.[11] Selain itu, Hasan al-Banna mampu menorganisasikan kelompok mahasiswa Universitas Al-Ahzar dan Universitas Darul Ulum yang melatih diri berkhotbah di masjid-masjid. Hal ini terlaksana karena Hasan al-Banna tetap memlihara hubungan baiknya dengan Tarekat hasafiyah dan pada tahun kedua ini bergabung dengan organisasi keagamaan Jam’iyah Makarim Al-Akhlaq (Asosiasi Akhlak Terpuji) yang kegiatannya mengorganisasi ceramah-ceramah materi-materi keislaman.[12]
Tahun 1927, adalah tahun dimana Hasan al-Banna berhasil menyelsaikan studinya di Universitas Darul Ulum dengan predikat cumulate. Lalu ia diangkat menjadi guru disalah satu sekolah menengah di kota Isma’iliat, daerah terusan Suez.[13] Sejak ia sampai di Isma’iliat, hingga awal tahun 1928, Hasan al-Banna mempelajari kondisi masyarakat dan mencoba mengenali faktor-faktor yang berpengaruh dalam masyarakat mereka. Ia berhasil menjalin hubungan dengan para ulama’ serta para syeikh tarekat, tokoh, dan berbagai kelompok. Beliau berhasil meraih hati mereka dan melalui merekalah akhirnya ia berhasil menarik perhatian masyarakat luas kepada dakwahnya.[14]
B.  Ilmu Pendidikan Menurut Hasan al-Bana 
Islam adalah ibadah dan pemerintahan, agama dan negara, ruh dan amal, shalat dan jihad, ketaatan dan hukum, serta Al-Qur'an dan kekuatan. Tidak terpisahkan satu dengan yang lainnya, sesungguhnya Allah mecegah sesuatu dengan kekuasaan apa yang tidak dapat ia mencegahnya dengan Al-Qur'an.[15]
Setiap usaha pendidikan sangat memerlukan sumber-sumber dan dasar-dasar sebagai landasan berpijak dalam penetuan materi, interaksi, inovasi dan cita-citanya. Oleh karena itu seluruh aktivitas pendidikan meliputi penyusunan konsep teoritis pelaksanaan operasionalnya harus memiliki sumber-sumber dan dasar-dasar yang kokoh. Hal ini dimaksudkan agar usaha yang terlingkup dalam pendidikan tidak kehilangan arah dan mudah disipmangkan oleh pengaruh-pengaruh dari luar pendidikan.
Secara umum dapat dikemukakan bahwa paradigma pendidikan Islam Hasan al-Banna dirumuskan atau dikontruksi dan dibangun dengan landasan agama Islam yang bersumber pada:
  1. 23
     
    22
     
    Islam adalah sistem yang menyeluruh, yang menyentuh seluruh segi kehidupan. Ia adalah negara dan  tanah air,  pemerintah dari  umat,  akhlak dan kekuatan,  kasih sayang dan keadilan,  peradaban dan undang-undang,   ilmu dan peradilan,  materi dan kekayaan alam,  penghasilan dan kekayaan  jihad dan dakwah,  pasukan dan pemikiran, sebagaimana juga ia adalah aqidah yang lurus dan ibadah yang benar, tidak kurang dan tidak lebih.
  2. Al-Qur'an yang mulia dan Sunah Rasul yang suci adalah tempat kembali  setiap muslim untuk memahami hukum-hukum Islam. Ia harus memahami  Al-Qur'an sesuai dengan kaidah-kaidah bahasa Arab, tanpa takalluf  (memaksakan diri) dan ta'assuf (serampangan). Selanjutnya ia memahami Sunah yang suci melalui rijalul  hadits (perawi hadits) yang terpercaya.[16]
Dalam pandangan Hasan al-Banna, bahwa kedua sumber tersebut adalah tempat kembali setiap muslim untuk mengetahui hukum Islam. Dan keduanya sebagai dasar Islam harus dipahami secara total dan universal sebagaimana mestinya dengan memperhatikan keutentikan dan kevalidanya ini. Hasan al-Banna pada prinsip kedua dari dua puluh prinsipnya mengatakan:
Al-Qur'anul Karim dan Sunah yang suci, keduanya adalah tempat kembali setiap muslimn untuk mengetahui hukum Islam. Al-Qur'an dipahami sesuai dengan kaidah bahasa Arab, tanpa ditarik-tarik dan dipaksa-paksakan pengertiannya, dan dalam pemahaman Sunnah dikembalikan kepada imam-imam Hadits yang terpercaya.[17]
 Pada kesempatan lain Hasan al-Bana menyatakan:
Al-Qur'anul karim adalah sistem yang kompeherensif bagi seluruh hukum Islam. Al-Qur'an adalah sumber mata air yang senantiasa menyirami hati-hati yang beriman dengan kebajikan dan hikmah. Dan yang paling utama seorang hamba dalam upaya bertaqarrub kepada Allah adalah membacanya.[18]
Ucapan Ustadz Hasan al Hudhaibi, Mursyid kedua Ikhwan, akan tetap terngiang-ngiang di telinga kita, "Tegakkan Al-Qur'an dalam hatimu niscaya ia akan tegak diatas bumimu".[19]
Dalam risalah muktamar kelima Ikhwanul Muslimin, Hasan al-Banna menegaskan bahwa Ikhwanul Muslimin berkeyakinan, dasar pengajaran Islam dan sumbernya adalah Kitabullah dan Sunah Rasul-Nya, yang jika umat berpegang pada keduanya sekali-kali mereka tidak akan tersesat selama-lamanya. Selanjutnya ia menjelaskan bahwa dalam memahami Al-Quran hendaklah didasarkan pada apa yang dipahami oleh para sahabat, tabi'in dan ulama' salaf yang saleh (salafus shaleh). Hasan al-Banna mengingatkan agar umat Islam berdiri teguh pada hukum-hukum yang ditetapkan Tuhan. Mereka tidak perlu terikat dengan ikatan-ikatan lain selainn dengan tali Allah, tidak mesti mewarnai zamanya dengan warna yang tidak sesuai dengan Alqu'an, padahal Islam adalah agama untuk umat manusia seutuhnya.[20]
Dalam hubungannya serta menambah pengetahuan, Al-Qur'an mendorong manusia untuk mempergunakan akal pikirannya serta menambah ilmu pengetahuan semaksimal mungkin. Kemudian juga menjadikan obseevasi atas alam semesta sebagai alat untuk percaya kepada setiap penemuan baru atau ilmiah, sehingga mereka dapat menemukan dalilnya dalam Al-Qur'an untuk dibenarkan atau dibantahnya.[21]
Tugas Rasulullah saw adalah mengadakan reformasi kehidupan manusia. Beliau mencontohkan sendiri dalam bentuk perbuatan bagaimana reformasi itu. Beliau tidak hanya menyampaikan ilmunya, tetapi juga memperhatikan bagaimana amalnya disamping berbentuk ucapan dan penetapan. Oleh karena itu, hadits dibagi menjadi tiga macam: Hadits qauli, Hadits fi'li, dan Hadits Taqriri.
Dalam padangan Hasan al-Banna, sikap kebanyakan manusia sekarang terhadap kitab Allah ibarat sekelompok manusia yang diliputi kegelapan dari segala penjuru. Mereka kebingungan berjalan tanpa petunjuk apapun. Kadang-kadang mereka jatuh ke jurang, kadang-kadang membentur batu, dan kadang-kdang saling bertabrakan. Seluruh dunia ini tersesat dalam kegelapan yang pekat. Seluruh alam berjalan tanpa petunjuk. Berbagai sistem telah bangkrut, masyarakat telah hancur, nasionalisme telah jatuh. Setiap kali manusia membuat sistem baru untuk diri mereka, segera sistem itu hancur. Hasan al-Banna menyakini Al-Qur'an adalah satu-satunya yang akan menyelamatkan sistem sosial umat manusia. Sistem sosial apa pun yang tidak mengacu atau tidak berlandasan Al-Qur'an al-Karim pasti akan menuai kegagalan. Karenanya, kaum muslimin wajib menjadikan Al-Qur'an sebagai sahabat karib, kawan bicara, dan guru.[22]
Sebagai sumber asal Al-Qur'an mengandung prinsip-prinsip yang masih bersifat global, sehingga dalam pendidikan Islam, menurut pandangan Hasan Langgulung, terbuka adanya unsur ijtihad dengan tetap berpegang pada nilai dan prinsip dasar Al-Qur'an dan as-Sunah. Karena itu, bagi Langgulung, sumbel nilai yang menjadi dasar pendidikan Islam adalah Al-Qur'an dan Sunah Nabi Muhamd saw yang dapat dikembangkan dengan ijtihad, al-masalahah mursalah, istihsan dan qiyas".[23] 
Dengan memahami sumber Islam yakni Al-Qur'an dan Sunah secara autentik dan kaffah maka Islam dipahami sebagai tatanan yang lengkap dan menyeluruh yang mencakup setiap aspek kehidupan. Pemahaman Islam kaffah tersebut menjadi dasar utama sistem pengajaran Hasan al-Banna sehigga corak pengajarannya mempunyai nilai keuniversalan khususnya untuk membangun masyarakat Islam yang benar-benar menerapkan Islam secara total dan universal.

B.   Prinsip-prinsip Dasar Ilmu Pendidikan Islam Menurut Hasan al-Bana
Pendidikan Hasan al-Banna memiliki dua karakter khusus:
Pertama: التكامل (Saling menyempurnakan)
Kedua; التوازن (Keseimbangan)
Arti at takaamul adalah, tarbiyah yang dilakukan haruslah kompeherensif, menyeluruh, tanpa menganulir satu bagian dengan bagian yang lain. Pendidikan harus dilakukan dengan memperhatikan aspek ruhani dan jasad, akal dan perasaan, jiwa dan hati, seluruhnya bekerja dalam membentuk kepribadian Islam secara sempurna.
Sedangkan makna at tawaazun adalah pendidikan memberikan semua ajaran Islam haknya, tanpa ada yang dikurangi. Tidak ada satu sisi yang mengalahkan sisi yang lain.[24]
Dari uraian diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa sumber nilai yang menjadi dasar pendidikan Islam adalah Al-Qur'an dan Sunnah. Didalam sumber tersebut, banyak sekali nilai-nilai fundamental yang dapat dijadikan dasar pelaksanaan Islam. Nilai-nilai tersebut adalah tauhid, kemanusiaan, dan kesatuan umat manusia.
1.      Tauhid
Aspek Rabbaniyah (tauhid) dalam pandangan Hasan al-Banna merupakan aspek yang paling penting, sangat signifikan dan memiliki pengaruh yang sangat dalam. Hal ini disebabkan karena tujuan utama pendidikan Islam adalah membentuk pribadi manusia yang beriman.[25]
Tauhid rubbiyah adalah pengakuan terhadap ke-Esaan Allah sebagai Dzat Maha Pencipta, Pemelihara dan memiliki semua sifat kesempurnaan. Sedangkan tauhid uluhiyah adalah komitmen manusia kepada Allah satu-satunya. Dzat yang dipuja dan disembah. Komitmen kepada Allah itu dimanisfetasikan dalam bentuk sikap ketundukan dan kepatuhan serta kepasrahan dengan sepenuh hati, sehingga seluruh amal perbuatan, hidup dan matinya semata-mata hanya untuk Allah swt, sebagaimana difirmankan Allah dalam surat al-An'am ayat 162, yaitu:

 ž(ayat al Qur'an tidak bisa ditampilkan di blog ini)

Artinya:
Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.(QS. Al-An'am: 162)[26]


Bertitik tolak dari pengertian tauhid diatas sesungguhnya nilai ajaran tauhid sudah cukup memadai sebagai dasar seluruh aktivitas kehidupan manusia, karena tauhid merupakan inti ajaran Islam. Sehingga seluruh segi kehidupan seorang muslim tidak boleh menyimpang dari dasar ketauhidan. Begitu pula dengan proses pendidikan Islam, nilai tauhid merupakan asas bagi seluruh aktivitas pendidikan Islam. Falsafah dan teori pendidikan harus dijiwai oleh nilai-nilai Islam, yang mengarahkan manusia untuk menjadi hamba Allah yang beriman dan bertaqwa.
Segi keimanan ini mendapat tempat yang luas dan perhatian yang besar dalam sistem pendidikan Hasan al-Banna. Dalam segi tulisan, surat-surat dan pidato-pidato di berbagai kesempatan, Hasan al-Banna senantiasa mengetuk hati manusia sehingga terbuka untuk mengenal Allah, mengharapkan karunia-Nya, takut kepada-Nya, bertaubat dan bertawakal kepada-Nya serta yakin akan rahmat yang tersedia di sisi-Nya, cinta dan ridha terhadap-Nya, merasa tentram dengan mendekatkan diri kepada-Nya dan dengan mengingat-Nya.[27]
Pendidikan Ketuhanan hanya mengarahkan pandangan kepada Allah saja dan menjadikan ridha-Nya sebagai tujuan akhir. Oleh karena itu, tidaklah mengherangkan kalau pendidikan Hasan al-Banna bersemboyan Allahu Akbar wa lillhil hamdu, dan menjadikan ucapan pertama yang diajarkan            kepada para pengikutnya dan ditanamkan dalam akal dan perasaan mereka adalah Allahu ghayatunna (Allah tujuan kami).[28]
2.      Kemanusiaan
Yang dimaksud dengan nilai kemanusiaan ialah pengalaman terhadap kemuliaan manusia, karena memiliki hartkat dan martabat yang terbentuk dari kemampuan kejiwaanya yang digerakkan oleh akal-budinya yang membedakan dari makhluk lainnya. Dengan demikian, kalau manusia sebagai obyek pendidikan maka nilai sumber pendidikan dapat diukur sampai dimana ia menghargai akal manusia yang berfungsi sebagai alat untuk memahami, berfikir, belajar dan merenung.[29]
Keistimewaan sumber nilai Islam khususnya Al-Qur'an terletak pada seruanya kepada orang mukmin untuk menggunakan akalnya dan mencela orang yang tidak menggunakan akal. Seruan tersebut dijelaskan dalam berbegai konteks yang menunjukkan fungsi kemanusiaan dan tingginya derajat manusia dari segi intelektual dalam berbagai cirinya. Prinsip ini diakui oleh Hasan al-Banna dalam mengembangkan konsep pendidikannya. Beliau menaruh perhatian besar pada aspek pendidikan akal sesuai dengan perhatian Islam sendiri padanya. Karena itu, Hasan al-Banna menjadikan al-fahmu (kepahaman) sebagai rukun bai'at yang pertama dan didahulukannya          atas ikhlas, amal, jihad, persaudaraan dan lain-lain yang merupakan prinsip-prinsip dakwah.[30] Karena pemahaman mendalami semua itu. Seseorang tidak akan ikhlas terhadap kebenaran, mengamalkannya dan memperjuangkannya serta melaksanakan prinsip-prinsip dakwah yang lain kecuali setelah ia mengenalnya dan memahaminya.
Nilai kemanusiaan dijadikan dasar pendidikan Islam karena proses pendidikan Islam menjamin potensi kemanusiaan atau fitrah manusia, yang dibawa sejak lahir, dikembangkan seoptimal mungkin. Pendidikan Islam membimbing, mengarahkan dan menyadarkan manusia sebagai pribadi yang mampu melaksanakan nilai moral agama dalam hidupnya. Oleh karena itu, apabila nilai kemanusiaan tidak dikembangkan dalam pendidikan, kehidupan manusia akan menyimpang dari fitrah Allah. Nilai-nilai Islam harus dijadikan dasar dalam proses pendidikan yang berlangsung sepanjang hayat manusia.
Islam sangat menghargai nilai perasaan derajat, hak dan kewajiban karena kedudukan manusia dihadapan Allah adalah sama, yang membedakan manusia satu dengan lainya hanya nilai ketaqwaanya. Oleh karena itu, tidak dibenarkan adanya diskriminasi dan penindasan terhadap hak-hak manusia.

3.      Kesatuan Umat Manusia
Salah satu hal yang diperhatikan dalm proses pendidikan Islam adalah bahwa ia harus memperhitungkan kemaslahatan umat manusia dan memelihara keutuhan sosial. Prinsip kesatuan umat manusia ini memberikan dasar pemikiran yang menyeluruh tentang perkembangan dan nasib seluruh manusia. Ini berarti bahwa segala hal yang menyangkut kesejahteraan, keselamatan, dan keamanan umat manusia termasuk di dalamnya pemikiran dan pemecahan masalah pendidikan, tidak cukup hanya dipikirkan dan dipecahkan oleh sekelompok masyarkat tertentu tetapi menjadi tanggung jawab seluruh umat manusia.[31]
Sehubungan dngan masalah global tersebut, Islam telah memberikan dasar pegangan yang disyaratkan dalam ayat-ayat Al-Qur'an agar manusia tetap mempererat tali persatuan, dengan tujuan yang sama yakni untuk mengabdi kepada Allah semata.
Hasan al-Banna dalam risalahnya yang berjudul Da'wah Kami mengingatkan betapa rapuhnya klaim yang mengatakan bahwa seruan kepada Islam hanya merusak persatuan bangsa yang terdiri dari berbagai aliran dan agama. Islam, dalam pandangan Hasan al-Banna, sebagai agama persatuan dan persamaan, telah menjamin kekeuatan ikatan itu selama masyarakat tetap tolong menolong dalam kebaikan dan taqwa.[32] Sebagai landasan, Hasan al-Banna mengutip firman Allah dalam surat al-Muntahanah ayat 8:

ž(ayat al Qur'an tidak bisa ditampilkan di blog ini)

"Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu Karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil".[33]

Dalam pandangan Hasan Langgulung, pandangan hidup umat yang bertuhan Allah adalah satu. Begitu juga dalam segala pikiran, perasaan, dan tindakan ada konsesus untuk menjadikan syari'at sebagai kuasa terakhir untuk menyelesaikan perbedaan antara mereka. Persaudaraan sejagat yang tidak mengenal perbedaan warna dan etnis hanya dapat terjadi apabila didasarkan pada nilai-nila Islam. Siapa saja yang memilih Islam sebagai agamanya ia termasuk anggota umat yang diberi hak dan tanggung jawab yang diwajibkan oleh syari'at.[34]
Hal ini relevan dengan firman Allah dalam surat al-Anbiya' ayat 92, yang berbunyi:

ž(ayat al Qur'an tidak bisa ditampilkan di blog ini)

¨"Sesungguhnya (agama Tauhid) Ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, Maka sembahlah Aku".[35]

Dengan prinsip kesatuan umat sebagai asas atau dasar pendidikan Islam maka pendidikan Islam harus dijalankan dengan sistem kerja. Pada dasarnya umat manusia di bumi ini merupakan umat yang satu baik dalam aqidah maupun kejadian. Oleh karena itu kesatuan umat yang saling kerja sama ini merupakan jaminan bagi kelangsungan hidup manusia dalam mencapai kemasalahatan.








[1] H. Taufiqurrahman, Pemikiran dan Gerakan Pembaharuan Islam Abad Modern dan Kontemporer  (Afkar, tt), 12-15.
[2]  Imam Munawir, Mengenal Pribadi 30 Pendekar dan Pemikir Islam dari Masa Kemasa (Surabaya: PT. Bina Ilmu Offset, 2006), 506-509.
[3] Yusuf Qardhawi, Tarbiyah Hasan al-Banna Dalam Jama’ah al-Ikhwan al-Muslimun (Jakarta: Robbani Press, 2005), 57-59.
[4]  Juma'ah Amin, Method Pemikiran Hasan Al-Banna, Pdf, 45-46.
[5] Richard Paul Mitchell, Masyarakat Al-Ikhwan Al-Muslimun (Solo: Era Intermedia, 2005), 3.
[6] Ibid.
[7] Hasan al-Banna, Memoar Hasan al-Banna (Solo: Era Intermedia, 2004), 29.
[8] Ibid., 34.
[9] Mitchell, Masyakarat Al-Ikhwan, 4.
[10] Utsman Abdul Mu’iz Ruslan, Pendidikan Politik Ikhwanul Muslimin (Solo:  Era Intermedia, 2000), 180.
[11] Ibid.
[12] Mitchell, Masyakarat Al-Ikhwan, 8.
[13] Ibid.
[14] Ruslan, Pendidikan Politik , 184.
[15] Zabir Rizq, Hasan al-Banna (Bandung: Harakatuna Publishing, 2007), xxiv.
[16] Himpunan Risalah Hasan al-Banna, Indo PDF.
[17] Idem, Majumu'atsur Rasa'il, (Beirut: Mu'assatur Risalah, tanpa Tahun), 11.
[18] Ibid.
[19] Zabir Rizq, Hasan al-Banna, xxxv.
[20] Qardhawi, Tarbiyah, 117.
[21] Quraisy Sihab, Membumikan Al-Qur'an, (Bandung: Mizan, 1995), 199.
[22] al-Banna, Hadits Tsulatsa'; Ceramah-ceramah Hasan al-Banna (Solo: Intermedia, cet.I, 2005), 25-26.
[23] Zakiyah Drajat, dkk, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi Aksara, 1992), 19.
[24] Qardhawi, Tarbiyah Politik Hasan al-Banna (Jakarta: Arafah Press, 2007), 9-10.
[25] Qardhawi, Tarbiyah, 15.
[26] Departemen Agama RI, Al-Qur'an dan Terjemahan (Bandung: CV. J-ART, 2005), 151.
[27] Abdul Hamid al-Ghazali, Meretas Jalan Kebangkitan Islam (Solo: Era Intermedia, 2001), 110.
[28] Qardhawi, Tarbiyah, 20 dan 23.
[29] Hasan Langgulung, Beberapa Pemikiran Tentang Pendidikan Islam (Bandung: Al-Ma'arif, 1980), 196.
[30] Lihat: Hasan-al-Banna, Majmu'atsur, 11.
[31] al-Ghazali, Meretas Kebangkitan, 110.
[32] al-Banna, Dakwah Kami (tt), 41.
[33] Departemen Agama RI, Al-Qur'an dan Terjemahan (Bandung: CV. J-ART, 2005), 551.
[34] Hasan Langgulung, Asas-asas Pendidikan Islam (Jakarta: Pustaka al-Husna 1992), 194.
[35] Departemen Agama RI, Al-Qur'an, 331.

No comments:

Post a Comment