Pengembangan Pendidikan Agama Islam: Reinterpretasi Berbasis Interdisipliner

Pengembangan Pendidikan Agama Islam

--- BUKU MURAH (ASLI bukan FOTOCOPY-AN/BUKAN BUKU BAJAKAN): " Buku MURAH BERKUALITAS hanya Rp.47.000,- (belum ongkos kirim) berjudul PENGEMBANGAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM: REINTERPRETASI BERBASIS INTERDISIPLINER (Yogyakarta: LKiS, 2015). Sebagai info harga buku ini di pasaran berkisar 70-90 ribu). Info lebih lanjut hubungi: 08563-350-350 (11 digit)”---

Thursday, June 21, 2012

Pengertian Akhlak dan karakteristik Akhlak Karimah


Pengertian Akhlak dan karakteristik Akhlak Karimah


Oleh: Muji Efendi: 

(Guru MI Nurul Huda Jl. Raya Ngletih Kel. Ngletih Kec. Pesantren Kota Kediri)

(foto Muji Efendi, sumber foto: Facebook)



A.  1. Pengertian Akhlak
Akhlak berasal dari bahasa arab, al-khulqu atau al-khuluq yang berarti  tingkah laku, perangai, watak atau kebiasaan.[1] Menurut al-ghozali akhlak diartikan suatu ungkapan tentang keadaan pada jiwa bagian dalam yang melahirkan macam-macam tindakan dengan mudah, tanpa memerlukan pikiran dan pertimbangan terlebih dahulu.[2]
Di atas sudah kita paparkan bahwa akhlak itu ada yang berupa pembawaan sejak lahir manusia, ada pula diperoleh atau diupayakan dari lingkungan. Dalam kaitannya untuk membentuk akhlak yang baik bagi siswa, tentunya banyak sekali factor-faktor yang mempengaruhi terutama lingkungannya sendiri.
2. Dasar Akhlak
Dasar ajaran islam adalah al-Qur;an dan Hadits, jadi dasar akhlak adalah al-Qur’an dan Hadits. Al-Quran dan Hadits adalah pedoman hidup dalam islam yang menjelaskan criteria-kriteria atau ukuran baik buruknya suatu perbuatan manusia. Islam mengajarkan agar umatnya melakukan perbuatan baik dan menjauhi segala perbuatan buruk. Ukuran baik-buruk itu ditentukan dalam al-qur’an, karena al-qur’an adalah firman Allah SWT, maka kebenarannya harus diyakini oleh setiap muslim.
Dasar akhlak yang kedua adalah Hadits Nabi atau Sunah Rasul. Untuk mnjelaskan isi Al-Qur’an lebih rinci, maka kita diperintahka agar mengikuti sunnah rasul karena beliau merupakan suri tauladan atau contoh nyata dari pengamalan Al-Qur’an.
3.  Pembagian akhlak dalam islam
Menurut sifatnya, akhlak dibagi menjadi 2, yaitu akhlak mahmudah dan akhlak madzmumah.
a.  Akhlak Mahmudah
Akhlak Mahmudah yaitu tingkah laku yang terpuji, merupakan tanda kesempurnaan iman seseorang kepada Allah SWT. Contoh akhlak mahmudah antara lain yaitu syukur atas segala nikmat, sabar, amanah, ikhlas, jujur dan sebagainya.
b. Akhlak Madzmumah
Akhlak Madzmumah yaitu segala tingkah laku yang tercela atau perbuatan jahat yang merusak iman seseorang dan dapat menjatuhkan martabat seseorang. Yang termasuk akhlak madzmumah yaitu menipu, berbohong, korupsi, dan sebagainya.
4. Tujuan Akhlak
a.  Mendapatkan ridha Allah SWT, Ridha Allah ditempatkan pada urutan teratas karena jika ridha Allah sudah tertanam pada diri kita dan sudah menjadi hiasan indah dalam hidup kita masing-masing, maka kita akan dengan mudah melakukan perbuatan ikhlas.
b. Pribadi muslim yang luhur akan senantiasa bertingkah laku terpuji , baik   ketika berhubungan dengan Allah SWT, dengan sesame maupun makhluk lainnya serta dengan lingkungannya. Dengan akhlak terpuji akan lahir perbuatan-perbuatan yang seimbang antara diniawi maupun ukhrowi.
c.  terhindar dari perbuatan yang hina, diharapkan dengan bimbingan akhlak, manusia akan terhindar dari perbutan hina, karena perbuatan hina itu didukung oleh syetan. Oleh karena itu perbuatan yang dilarang, baik berupa pencurian, korupsi, pembunuhan dan lain sebagainya sering dilakukan bukan oleh orang bodoh saja, akan tetapi juga dilakukan oleh orang yang pandai. Di Negara kita saja tidak sedikit para pejabat yang tersandung oleh kasus korupsi ataupun pembunuhan. Jadi selayaknyalah kita semua waspada dan membentengi diri dengan akhlak karimah.

B. Karakteristik Akhlak Karimah
Adapun akhlak Karimah dalam islam memiliki beberapa karakteristik sendiri yaitu :
1.      Bersifat universal
Akhlak terpuji bersifat universal, artinya akhlak terpuji dapat diterapkan  kepada siapa saja, kapan saja dan dimana saja. Akhlak tersebut juga meliputi hubungan dengan Allah swt, sesama manusia maupun  dengan alam.
Seorang muslim tidak boleh memandang dari segi materi bilamana ingin berbuat baik pada orang lain, karena dihadapan Allah SWT, manusia memiliki kedudukan yang sama, namun yang membedakan adalah ketaqwaannya kepada Allah SWT, serta mengikuti sunah-sunah Nabi Muhammad SAW.
Disisi lain, keberadaan alam sekitar harus diperhatikan, karena kesalahan pada manusia dalam mengolah alam akan berdampak buruk, misalnya banjir, tanah longsor, kekeringan dan lain-lain.
2.      Kesesuaian dengan akal
Akhlakul karimah dalam islam sesuai dengan akal, artinya tak ada perilaku yang dianjurkan maupun dilarang lalu bertentangan dengan akal. misalnya larangan menggunjingkan orang lain. Dalam al-qur’an disebutkan dalam surat al-Hujarat ayat 12 sebagai berikut[3]:

يأَيُّهَاالَّذِيْنَ امَنُوْا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِنَ الظَّنِّ اِنَّ بَعْضَ ا لظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَاتَجَسَّسُوْاوَلَايَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًا  اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُ  وَاتَّقُوْاالله َاِنَّ اللهَ تَوَّابُ رَّحِيْمٌ.
Terjemahan : Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.(QS. Al-Hujarat:12)
3.      bersifat individu
Tanggung Jawab akhlak bersifat individu, artinya bahwa akhlak seseorang harus dipertanggungjawabkan sendiri,ini termaktub dalam al-Qur’an surat Fusilat ayat 46 sebagai berikut[4]:
مَنْ عَمِلَ صَلِحًا فَلِنَفْسِهِ  وَمَنْ اَسَأَ فَعَلَيْهَا  وَمَا رَبُّكَ بِظَلاَّمٍ لِلْعَبِيْدِ.  
Terjemah :  Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh Maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan Barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, Maka (dosanya) untuk dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu Menganiaya hamba-hambaNya.( QS, fusilat : 46)

4.   Pengawasan langsung oleh Allah SWT.
Pengawasan akhlak tidak hanya dilakukan oleh seseorang saja, tapi diawasi oleh Allah swt.


[1] DR. Muhamad Rabbi, Keistimewaan Akhlak Islami (Bandung: Pustaka Setia,2006), h. 85.
[2] Ibid., h. 88.
[3] al-Qur’an, 49: 12.
[4] al-Qur’an, 41: 46.

No comments:

Post a Comment