Pengembangan Pendidikan Agama Islam: Reinterpretasi Berbasis Interdisipliner

Pengembangan Pendidikan Agama Islam

--- BUKU MURAH (ASLI bukan FOTOCOPY-AN/BUKAN BUKU BAJAKAN): " Buku MURAH BERKUALITAS hanya Rp.47.000,- (belum ongkos kirim. Ongkos kirim diperkirakan Rp. 18.000 - Rp. 35.000 tergantung lokasi pengiriman) berjudul PENGEMBANGAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM: REINTERPRETASI BERBASIS INTERDISIPLINER (Yogyakarta: LKiS, 2015). Sebagai info harga buku ini di pasaran berkisar 70-90 ribu). Serta buku ini hanya dijual di toko buku daerah YOGYAKARTA saja.Info lebih lanjut hubungi: 08563-350-350 (11 digit)”---

Friday, June 1, 2012

Proposal Penelitian Kualitatif


Pengaruh Metode Diskusi/Musyawarah Terhadap Minat Belajar Santri Di Madrasah Diniyyah Haji Ya’qub (MDHY), Lirboyo-Kota Kediri

Oleh: Fahad Asadulloh 
(facebook: fahad.asadulloh@yahoo.co.id)

(Mahasiswa S2 Pascasarjana STAIN Kediri dan santri di 
Pondok Pesantren Tahfidzul Qur'an Ma'unah-Sari Bandar Kidul Kediri Jawa Timur.)

BAB I
PENDAHULUAN



A.  Konteks Penelitian
Pendidikan merupakan usaha sadar yang sengaja dirancang untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Pendidikan bertujuan untuk mencapai kualitas sumber daya manusia. Salah satu usaha untuk meningkatkan sumber daya manusia adalah dengan melalui proses pembelajaran baik di lembaga formal maupun non formal.
Sesuai dengan yang tercantum dalam Undang-Undang RI No.20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional pada pasal 4 ayat 4 di tegaskan: “Pendidikan diselenggarakan dengan memberi keteladanan, mengembangkan kemampuan dan membangun kreativitas peserta didik dalm proses pembelajaran”.[1]
Undang-undang di atas memberikan sebuah pemahaman bahwa pendidikan merupakan sebuah proses, maka proses tersebut akan berakhir pada tercapainya tujuan akhir pendidikan. Suatu tujuan yang hendak dicapai pendidikan pada hakikatnya merupakan suatu perwujudan dari nilai-nilai ideal yang terbentuk dalam pribadi manusia yang diinginkan.
Nilai-nilai ideal mana yang hendak diinginkan perlu dirumuskan dalam bentuk tujuan pendidikan dalam perencanaan kurikulum.[2] Dalam pelaksanaanya, pendidikan di Indonesia diselenggarakan melalui 2 (dua) jalur, yaitu pendidikan formal dan non formal. Salah satu bentuk  pendidikan non formal adalah pondok pesantren yaitu pendidikan non formal keagamaan. Pondok pesantren adalah tempat para santri mencari ilmu agama atau biasa disebut gudangnya ilmu agama.[3]
Dalam pendidikan pondok pesantren, pembelajaran kitab kuning merupakan salah satu unsur dari beberapa unsur mutlak yang demikian pentingnya dalam pembentukan kecerdasan intelektual dan moralitas kesalehan pada santri. Pendidikan yang tertumpu pada kitab kuning telah berhasil membentuk pribadi seseorang yang berilmu pengetahuan agama serta moral beradab dengan tingkat kesalehan yang berbeda-beda.
Sebagaimana kita ketahui bahwa pondok pesantren telah menghadirkan tersendiri model pembelajaran. Dari model bandongan, sorogan, hafalan, sampai model pembelajaran dengan menggunakan model (metode) diskusi/musyawarah. Sebenarnya metode diskusi tidak jauh berbeda dengan metode musyawarah. Letak perbedaannya hanya penempatan kedua lafal tersebut.
Biasanya kata “diskusi” digunakan dalam dunia pendidikan formal, sedangkan kata “musyawarah” lebih akrab di dunia non formal seperti pondok pesantren. Adapun tujuan dari pada metode musyawarah adalah untuk  menunjang pemahaman, pendalaman, dan pengembangan materi pelajaran.[4]
Metode musyawarah/diskusi diterapkan karena masih banyak dikalangan santri yang mengalami pebedaan pemaknaan tentang murad (maksud) yang terkandung dalam kitab-kitab kuning. Terkadang antara santri yang satu dengan santri yang lain terjadi perbedaan dalam menginterpretasikan kalimat yang terdapat dalam kitab kuning.
Untuk menyelaraskan dan menyamakan pemahaman para santri, maka keberadaan metode diskusi/musyawarah sangat mutlak adanya. Dengan metode tersebut, para santri bisa mengutarakan pendapatnya masing-masing terkait kajian kitab kuning yang sedang dibahas. Dari beragam pendapat tersebut akan ditashihkan (dibenarkan/diluruskan) kembali oleh ustadz selaku musahih sehingga memberikan suatu pemahaman yang sama meskipun terkadang masih bersikap mauquf (tidak sampai tuntas dalam membahas materi diskusi) yang sewaktu-waktu bisa dibahas kembali.
Secara umum, kelebihan metode ini adalah pembahasan kajian kita kuning dilakukan sedemikian detail dengan menampilkan literatur yang ada dan data/rumusan masalah yang dihasilkan cenderung mengarah terhadap kebenaran dimana hal tersebut berbeda dengan proses pembelajaran yang dilakukan secara individu yang tingkat kesalahan cenderung besar.
Metode diskusi/musyawarah memacu para santri untuk berlomba unjuk gigi agar pendapat yang mereka kemukakan mendapat pengakuan dari santri lain. Untuk mewujudkan misi di atas, tidak sedikit santri yang setiap harinya selalu ditemani kitab-kitab kuning guna mencari ibarat (referensi yang digunakan sebagai argumen) yang sesuai dengan pembahasan yang akan dikaji pada saat musyawarah. Bahkan ada di antara para santri yang rela menghabiskan waktunya demi mendapatkan referensi yang benar-benar sharih (valid) untuk dijadikan penguat ketika mengemukakan pendapatnya.
Namun tidak sedikit pula di antara kalangan santri yang acuh tak acuh dalam menyikapi adanya sistem metode diskusi/musyawarah. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya kurang adanya kesadaran dari mereka akan pentingnya musyawarah. Penyebab lain adakalanya dipengaruhi oleh kurang minatnya belajar santri terhadap kajian-kajian kitab kuning sehingga mereka meremehkan esensi yang terkandung didalam kitab-kitab kuning.
Dengan adanya metode-metode di atas, maka peneliti memandang penting sekali untuk mengadakan penelitian tentang: “Pengaruh Metode Diskusi/Musyawarah Terhadap Minat Belajar Santri Di Madrasah Diniyyah Haji Ya’qub (MDHY), Lirboyo-Kota Kediri”.

B.  Fokus Penelitian
Dari uraian konteks penelitian di atas, fokus penelitian  dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.      Bagaimanakah metode diskusi /musyawarah di pondok pesantren Haji Ya’qub, Lirboyo Kota Kediri?
2.      Bagaimanakah minat belajar santri di pondok pesantren Haji Ya’qub , Lirboyo Kota Kediri?
3.      Adakah pengaruh antara metode diskusi/musyawarah dengan minat belajar santri di pondok pesantren Haji Ya’qub Lirboyo Kota Kediri?


C.  Tujuan Penelitian
1.      Untuk mengetahui metode diskusi /musyawarah di pondok pesantren Haji Ya’qub Lirboyo Kota Kediri.
2.      Untuk mengetahui minat belajar santri di pondok pesantren Haji Ya’qub , Lirboyo Kota Kediri.
3.      Untuk mengetahui ada dan tidaknya pengaruh antara metode diskusi/musyawarah dengan minat belajar santri di pondok pesantren Haji Ya’qub Lirboyo Kota Kediri.

D.  Hipotesis Penelitian
Untuk mempermudah pembahasan dan penelitian masalah yang ada dalam penelitian ini, penulis mengajukan hipotesis-hipotesis yang perlu diuji kebenarannya sebagai berikut:
Ho: Tidak ada pengaruh positif signifikan antara metode musyawarah dengan minat belajar santri di pondok pesantren Haji Ya’qub Lirboyo Kota Kediri.
Ha: Ada pengaruh positif signifikan antara metode diskusi/musyawarah dengan minat belajar santri di pondok pesantren Haji Ya’qub Lirboyo Kota Kediri.

E.  Kegunaan Penelitian
1.         Bagi peneliti, untuk menambah wawasan dan pengetahuan khususnya tentang pengaruh metode diskusi/musyawarah dalam meningkatkan minat belajar santri di Madrasah Diniyyah Haji Ya’qub (MDHY) Lirboyo Kota Kediri. 
2.         Bagi praktisi pendidikan dan masyarakat luas, sebagai acuan dan masukan tentang pengaruh metode diskusi/ musyawarah dalam meningkatkan minat belajar siswa.
3.         Untuk memberikan rangsangan kepada penyelenggara pendidikan agar meningkatkan kreativitas dan produktivitas dalam mengembangkan metode/musyawarah, khususnya di pondok pesantren.
4.         Bagi pengelola pondok pesantren, sebagai motivasi untuk lebih meningkatkan kreativitas dalam membuat inovasi-inovasi baru dalam proses pembelajaran.
5.         Sebagai sumbangan karya ilmiah untuk memperkaya khasanah keilmuan khususnya bidang pendidikan.


F.  Ruang Lingkup Penelitian
Untuk mempermudah pembahasan maka perlu adanya ruang lingkup penelitian agar persoalan yang diteliti tidak mengatur tanpa arah sehingga persoalan yang diteliti tidak meluas dan agar fokus penelitian menjadi jelas. Adapun ruang lingkup dalam penelitian ini dapat dikemukakan melalui dua variabel bebas dan variabel terikat
1.      Variabel bebas
Variable bebas adalah variabel yang berpengaruh terhadap keberadaan variabel terikat. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah metode diskusi/musyawarah yang indikatornya sebagai berikut:
a.       Masalah yang didiskusikan/dimusyawarahkan sesuai dengan materi pelajaran yang diajarkan di kelas.
b.      Memberikan nuansa yang menyenangkan
c.       Tertib dan teratur dalam mengemukakan pendapat.
d.      Memberikan kesempatan kepada semua siswa untuk berpendapat.
e.       Pembahasan difokuskan pada kajian kitab-kitab klasik (kuning).
2.      Variabel terikat
Variabel terikat adalah variabel yang diharapkan timbul akibat dari variabel bebas. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah minat belajar santri pada kajian-kajian kitab klasik yang indikatornya sebagai berikut:
a.       Aktif masuk kelas
b.      Mempelajari kembali pelajaran sekolah yang telah dijelaskan oleh ustad.
c.       Rajin dan telaten dalam memahami dan mengerjakan tugas
d.      Membuat catatan
e.       Mempelajari kembali pelajaran dari guru
f.       Mendapatkan nilai yang memuaskan pada saat tamrin (ujian)
g.      Membawa peralatan yang sesuai.



G.  Metode Penelitian
1.      Desain Penelitian
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode kuantitatif. sedangkan jenis penelitiannya menggunakan penelitian korelasioanal yang diberi pengertian sebagai hubungna antara dua variabel atau lebih.[5] Dalam variabel penelitian ini, dua variabel penulis kemukakan dalam rancangan penelitian, yitu variabel bebas dan variabel terikat.
a.       Variabel Bebas (independent Variable)
Variabel bebas adalah variabel yang diduga berpengaruh terhadap keberadaan variabel terikat. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah metode diskusi atau musyawarah yang indikatornya sebagai berikut:
1.      Melibatkan siswa secara aktif dalam mengemukakan pendapat.
2.      Tertib dan teratur dalam mengemukakan pendapat.
3.      Masalah yang didiskusikan/dimusyawarahkan sesuai dengan perkembangan dan kemampuan santri.
4.      Guru sebagai fasilitator dan motivator.
5.      Santri mengahargai pendapat orang lain.
b.      Variabel terikat
Variable terikat adalah variabel yang diharapkan timbul akibat dari variable bebas. Variable terikat dalam penelitian ini adalah minat belajar santri pada kajian-kajian kitab klasik yang indikatornya sebagai berikut:
1.      Memperhatikan Pelajaran
2.      Membawa peralatan yang sesuai
3.      Membuat catatan
4.      Aktif masuk sekolah
5.      Mengerjakan tugas dari ustadz
6.      Aktif dalam kelas
7.      Mempelajari kembali pelajaran dari ustadz
8.      Rajin dan telaten mengerjakan tugas


2.   Populasi dan Sampel
a.   Populasi
Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian.[6] Lebih lanjut, Sugiono mengemukakan bahwa populasi adalah “Wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang diharapkan penelitian untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya”.[7] Adapun karakteristik populasi di lokasi di antaranya memiliki latar belakang sosial yang berbeda. Pendidikan formal yang yang bervariatif, tingkat umur yang tidak sama, tingkat kecerdasan yang berbeda. Meskipun demikian, mereka hidup dalam satu kawasan. Artinya status mereka adalah sama dalam hal mengikuti dan mengindahkan segala bentuk kebijakan yang telaah di terapkan oleh pihak pondok pesantren. Kemudian jumlah populasi di lokasi penelitian sampai saat ini mencapai 251 santri.
b.   Sampel
Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti.[8] Berdasarkan pada hal tersebut mengingat jumlah yang cukuip banyak, maka penelitian menggunakan sampel random atau sampel acak. maksudnya dalam mengambil sampel, peneliti mencampur subjek-subjek di dalam populasi sehingga semua subjek di dalam populasi dianggap sama.[9] Penggunaan tehnik ini lazim disebut probability sampling.
Dikatakan demikian, karena pengambilan sampel anggota populasi dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi tersebut.[10] Tehnik ini digunakan karena untuk menjangkau keseluruhan dari subjek penelitian tidak mungkin dilakukan.
Dalam menentukan jumlah sampel, peneliti berpedoman terhadap pendapat Suharsimi Arikunto yang mengatakan bahwa “Penentuan besarnya jumlah sampel dengan persepntasi seperti yang dahulu banyak digunakan tampaknya kini sudah harus ditinggalkan. Agar diperoleh hasil penelitian yang lebih baik, diperlukan sampel yang baik pula, yakni betul-betul mencerminkan populasi. Supaya perolehan sampel lebih akurat, diperlukan rumus-rumus penentuan jumlahnya”.[11]
Oleh karena itu, yang perlu diperhatikan ketika menentukan besarnya sampel adalah jumlah populasi, karakteristik populasi, dan tingkat kesalahan yang ditoleransi. Di samping itu, ketika jumlah sampel sudah dapat ditentukan, yang juga perlu ditentukan adalah tehnik sampling dengan mendasarkan pada karakteristik dari populasi tersebut.
3.   Instrumen Penelitian dan Pengumpulan Data
Dalam penulisan ini menggunakan instrumen penelitian dan menggunakan beberapa metode dalam pengumpulan data. Hal ini dilakukan untuk memperoleh data yang valid representatif.  Di antara metode dan instrumen yang digunakan:
a.       Pedoman Angket/Kuesioner
Angket adalah pertanyaan tentang sesuatu hal berkaitan dengan penelitian yang dimaksud, dalam arti laporan tentang pribadinya atau hal-hal yang diketahui.[12] Metode angket ini digunakan untuk menanyakan hal-hal terkait dengan variabel bebas dalam hal ini metode musyawarah/diskusi dan hal-hal terkait dengan variabel terikat dalam hal ini minat belajar santri.
b.      Pedoman Dokumentasi
Dokumentasi adalah semua dokumen/catatan yang ada sehingga dapat digunakan sebagai sumber data. metode dokumentasi ini dimaksudkan untuk mengambil data-data dengan melalui dokumen-dokumen yang terdapat di lokasi. Dalam metode ini, instrumen penelitian yang digunakan adalah pedoman dokumentasi.
c.       Pedoman Wawancara
Metode wawancara dimaksudkan untuk mengetahui keadaan lokasi penelitian, sikap dan keadaan santri, serta untuk memperkuat data yang diperoleh dari metode angket. Adapun instrumen dari metode ini adalah pedoman wawancara. Dalam penelitian ini, metode wawancara yang digunakan adalah wawancara bebas, dimana pewancara bebas menanyakan apa saja, terkait data yang akan dikumpulkan.[13]

d.      Pedoman Observasi
Observasi merupakan salah satu aktivitas yang sempit yang memperhatikan sesuatu dengan menggunakan panca indera penglihatan. Dalam pengertian psikologi, observasi atau pengamatan, meliputi kegiatan pemantauan, pemerhatian terhadap suatu objek dengan menggunakan seluruh alat indera. Metode observasi ini penulis gunakan untuk memperoleh data tentang penggunaan metode diskusi/musyawarah di kelas, serta media apa saja yang digunakan untuk menarik minat belajar santri. 
4.   Metode Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan bebrapa metode pengumpulan data, diantaranya sebagai berikut:
a.       Metode Angket
Yaitu metode pengumpulan data dengan membuat sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh sejumlah jawaban dari responden. Metode ini dilaksanakan dengan membuat daftar pertanyaan yang disusun terlebih dahulu  secara berencana yang diajukan kepada sejumlah santri untuk memperoleh sejumlah informasi tentang suatu masalah. Dan angket ini digunakan untuk memperoleh data yang ada kaitannya dengan minat belajar santri.


b.      Metode Dokumentasi.
Dokumentasi berasal dari kata dokumen yang artinya barang-barang tertulis. Di dalam metode dokumentasi, peneliti mencari/menganalisa hal-hal/variable yang berupa catatan, transkip, buku, surat, notulen rapat dan sebagainya.[14]  Sehingga tehnik ini digunakan untuk mempelajari data yang mudah didokumentasikan, yang akan menghasilkan data tentang minat belajar santri.
c.       Metode Interview
Adalah metode pengumpulan data dengan tanya jawab sepihak yang dikerjakan secara sistematis dan berlandaskan kepada penyelidikan.[15] Metode ini dilakukan dengan menggunakan konsep tanya jawab guna melengkapi data-data yang diperoleh yaitu untuk mendapatkan informasi mengenai latar belakang berdirinya pondok pesantren Haji Ya’qub Lirboyo Kota Kediri.

d.      Metode Observasi
Suharsimi Arikunto mengatakan bahwa: “Observasi sebagai sebuah aktivitas untuk memperhatikan sesuatu dengan menggunakan seluruh panca indera, yitu melalui penglihatan, penciuman, pendengaran, peraba, dan pengecap”.[16]
5.   Tehnik Analisis Data
Analisa data merupakan metode yang disebut juga dengan metode pengolahan data. Analisa data berarti proses menghubung-hubungkan, memisah-misahkan , dan mengelompokkan antara fakta yang satu dengan fakta yang lainnya, sehingga dapat diperoleh sebuah kesimpulan. Dalam penelitian kuantitatif, analisa data merupakan kegiatan setelah data dari responden semuanya berkumpul.
Kegiatan analisa data adalah mengelompokkan data berdasarkan variabel dan jenis responden, mengajukan data tiap variable yang diteliti, melakuakn perhitungan untuk menjawab rumusan masalah dan melakukan perhitungan untuk menguji hipotesis yang telah diujikan. Pengolahan data analisis dalam penelitian ini menggunakan tehnik statistik analisis berupa Kendal tau yaitu untuk mengukur korelasi antara metode diskusi/musyawarah dengan minat belajar santri yang dalam hal ini menggunakan data dari angket.
Adapun lngkah-langkah dalam pengolahan data setelah data terkumpul adalah:
a.       Editing, yaitu pemeriksaan kembali kelengkapan jawaban
b.      Coding, yaitu pembenaran kode masing-masing jawaban responden. dengan cara mempertimbangkan kategori yang telah ada.
c.       Scoring, yaitu memberi skor pada item-item yang telah ditentukan.
d.      Tabulaxing, yaitu sesudah member jawaban responden, maka langkah selanjutnya adalah meletakkan data pada tabel.

H.  Daftar Pustaka Sementara
Anwar, Ali. Cara Mudah Menulis Karya Ilmiah. Kediri: IAIT Press, 2008
--------. Pembaharuan Pendidikan di Pesantren Lirboyo Kediri. Kediri: IAIT Press, 2008
Arikunto,Suharsimi. Prosedur Penelitian Suatu Praktek. Jakarta: Rineka Cipta,1998
Sudiyono. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Rineka Cipta, 2009.
Sudjiono, Anas. Pengantar Statistik Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada,1994
Sugiyono, Statistik Untuk Penelitian. Bandung: CV. Avabeta,1997
UU RI No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional 2003 beserta  penjelasannya. Jakarta: t.p, 2003



 



[1] UU RI No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional 2003 beserta  penjelasannya (Jakarta: t.p, 2003), 8.
[2] Sudiyono, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta:Rineka Cipta,2009), 98.
[3] Ali Anwar, Pembaharuan Pendidikan di Pesantren Lirboyo Kediri (Kediri: IAIT Press, 2008), 22
[4] Ibid., 123
[5] Anas Sudjiono, Pengantar Statistik Pendidikan (Jakarta: Raja Grafindo Persada,1994), 107
[6] Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Praktek (Jakarta: Rineka Cipta,1998), 115
[7] Sugiyono, Statistik Untuk Penelitian (Bandung: CV. Avabeta,1997), 57-58.
[8] Arikunto, Prosedur Penelitian,177.
[9] Ibid.,120
[10] Sugiyono, Statistik,57-58
[11] Ali Anwar, Cara Mudah Menulis Karya Ilmiah (Kediri:IAIT Press, 2008), 13.
[12] Sugiyono, Statistik, 140
[13] Ibid.,141
[14] Arikunto, Prosedur Penelitian,16.
[15] Ibid.,145
[16] Ibid.,149

No comments:

Post a Comment