Blog ini Tanpa Tampilan Iklan dan Tanpa Download Berbayar Sampai Kiamat!
--- SELALU ADA YANG BARU DI BLOG BANJIR EMBUN: KAMI TIDAK MENGAMBIL KEUNTUNGAN MATERI DARI AKTIVITAS ANDA DI BLOG INI. BLOG BANJIR EMBUN ADALAH BLOG SOSIAL, BUKAN BLOG BERORIENTASI KEUNTUNGAN MATERI (LABA). Terima kasih atas kunjungan Anda”---

Kamis, 21 Juni 2012

SEJARAH PERKEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN


SEJARAH PERKEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN
Oleh: Mualimul Huda

(foto Mualimul Huda, sumber foto: Facebook)
(Mahasiswa Program Pascasarjana S2 STAIN Kediri dan Guru MTs. AL Muttaqin Kec. Plemahan Kab. Kediri)

BAB I
PENDAHULUAN
     A.    Latar Belakang
Periode filsafat yunani merupakan periode yang sangat penting dalam sejarah peradaban manusia, karena pada waktu itu terjadi perubahan pola pikir manusia dari mite-mite menjadi yan lebih rasional. Pola pikir mite-mite adalah pola pikir masyarakat yang mengandalkan mitos untuk menjelaskan fenomena alam, seperti gempa bumi dan pelangi. Gempa bumi tidak dianggap sebagai fenomena alam biasa, tetapi dewa bumi yang sedang menggoyangkan kepalanya. Namun, ketika filsafat diperkenalkan, fenomena alam tersebut tidak lagi diannggap sebagai aktivitas dewa, tetapi aktivitas alam yang terjadi secara kausalitas. Perubahan pola pikir tersebut kelihatanya sederhana tetapi implikasinya tidak sederhana karena selama ini alam ditakuti dan dijauhi kemudian didekati bahkan dieksploitasi. Manusia yang dulunya pasif dalam menghadapi fenomena alam menjadi lebih proaktif dan kreatif. Sehingga alam dijadikan objek penelitian dan pengkajian. Dari proses inilah kemudian ilmu berkembang dari rahim filsafat, yang akhirrnya kita nikmati dalam bentuk teknologi. Karena itu, periode perkembangan filasafat yunani merupakan poin untuk memasuki peradaban baru uumat manusia.[1]
Jadi, perkembangan ilmu pengetahuan seperti sekarang ini, tidaklah berlangsung secara mendadak, melainkan terjadi secara bertahap. Untuk memahami sejarah perkembangan ilmu, mau tidak mau harus melakukan pembagian dengan klasifikasi secara periodik. Setiap periode akan menampilkan ciri khas tertentu dalam perkenbangan ilmu pengetahuan. Karena itulah dalam makalah ini penulis akan membahas tentang sejarah perkembangan ilmu pengetahuan, yang dimulai pada zaman purba, zaman pra yunani kuno, zaman yunani kuno, zaman abad pertengahan, zaman renaisance zaman modern dan zaman kontemporer.
B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana perkembangan ilmu pengetahuan pada zaman purba?
2.      Bagaimana perkembangan ilmu pengetahuan pada zaman pra yunani kuno?
3.      Bagaimana perkembangan ilmu pengetahuan pada zaman yunani kuno?
4.      Bagaimana perkembangan ilmu pengetahuan pada zaman abad pertengahan dan islam klasik?
5.      Bagaimana perkembangan ilmu pengetahuan pada zaman renaissance dan modern?
6.      Bagaimana perkembangan ilmu pengetahuan pada zaman kontemporer?


BAB II
PEMBAHASAN

  A.    Ilmu Pengetahuan Zaman Purba
Menurut George J. Mouly, permulaan ilmu dapat disusur sampai pada permulaan manusia. Tak diragukan lagi bahwa manusia purba telah menemukan beberapa hubungan yang bersifat empiris yang memungkinkan mereka untuk mengerti keadaan dunia.[2] Masa manusia purba dikenal juga dengan masa pra-sejarah. Menurut Soetriono dan SDRm Rita Hanafie, masa sejarah dimulai kurang lebih 15.000 sampai 600 tahun Sebelum Masehi. Pada masa ini pengetahuan manusia berkembang lebih maju. Mereka telah mengenal membaca, menulis, dan berhitung. Kebudayaan mereka pun mulai berkembang di berbagai tempat tertentu, yaitu Mesir di Afrika, Sumeria, Babilonia, Niniveh, dan Tiongkok di Asia, Maya dan Inca di Amerika Tengah. Mereka sudah bisa menghitung dan mengenal angka. Meski agak berbeda dengan pendapat tersebut, Muhammad Husain Haekal (1888-1956) berpendapat lebih spesifik bahwa sumber peradaban sejak lebih dari enam ribu tahun yang lalu (berarti sekitar 4000 SM) adalah Mesir. Zaman sebelum itu dimasukkan orang ke dalam kategori pra-sejarah. Oleh karena itu, sukar sekali akan sampai kepada suatu penemuan yang ilmiah.[3]
Terlepas dari perbedaan pendapat mengenai permulaan zaman pra-sejarah dan zaman sejarah, dapat ditarik kesimpulan bahwa ilmu lahir seiring dengan adanya manusia di muka bumi hanya saja penamaan ilmu-ilmu itu biasanya muncul belakangan. Penekanan terhadap kegunaan dan aplikasi cenderung lebih diutamakan daripada penamaannya. Teori ini berlaku secara umum terhadap beberapa – untuk tidak dikatakan semua– disiplin ilmu dari generasi ke generasi. Berbekal otak, pengalaman, dan pengamatan terhadap gejala-gejala alam, manusia purba sudah barang tentu memiliki seperangkat pengetahuan yang dapat membantu mereka mengarungi kehidupan. Seperangkat pengetahuan tersebut semakin lama akan semakin tersusun rapi karena inilah karakteristik dasar ilmu. Jika kita menafikan adanya ilmu tertentu yang mereka miliki, maka kita akan sulit menjawab pertanyaan: mungkinkah mereka bisa bertahan hidup bertahun-tahun tanpa bekal apapun?
Selanjutnya Mouly menyebutkan bukti-bukti secara berurutan terhadap pernyataannya sebagai berikut: Usaha mula-mula di bidang keilmuan yang tercatat dalam lembaran sejarah dilakukan oleh bangsa Mesir, di mana banjir sungai Nil yang terjadi tiap tahun ikut menyebabkan berkembangnya sistem almanak, geometri, dan kegiatan survei. Keberhasilan ini kemudian diikuti oleh bangsa Babilonia dan Hindu yang memberikan sumbangan-sumbangan yang berharga meskipun tidak seinsentif kegiatan bangsa Mesir. Setelah itu muncul bangsa Yunani yang menitikberatkan pada pengorganisasian ilmu di mana mereka bukan saja menyumbang perkembangan ilmu dengan astronomi, kedokteran, dan sistem klasifikasi Aristoteles, namun juga silogisme yang menjadi dasar bagi penjabaran secara deduktif pengalaman-pengalaman manusia. [4]
Peradaban Mesir kuno, misalnya, mewariskan peninggalan-peninggalan bermutu tinggi seperti piramida, kuil, dan sistem penatanan kota. Peninggalan-peninggalan ini tidak mungkin ada tanpa adanya ilmu yang mereka miliki. Proses pembangunan piramida yang menjulang tinggi dan tersusun dari batu-batu besar pilihan tak bisa lepas dari matematika dan arsitektur. Begitu pula dengan proses pembangunan kuil megah mereka. Sementara itu, sistem penataan kota membutuhkan arsitektur dan administrasi pemerintahan. Dengan kata lain, peninggalan-peninggalan bersejarah tersebut menunjukkan adanya ilmu-ilmu tertentu yang mereka miliki sehingga mereka bisa mewujudkan impian mereka menjadi kenyataan. Menurut Haekal, Mesir adalah pusat yang paling menonjol membawa peradaban pertama ke Yunani atau Rumawi.
Sementara itu, menurut Betrand Russell, pada masa Babilonia lahir beberapa hal yang tergolong ilmu pengetahuan: pembagian hari menjadi dua puluh empat jam, lingkaran menjadi 360 derajat, penemuan siklus gerhana yang memungkinkan terjadinya gerhana bulan bisa diramal dengan tepat dan gerhana matahari dengan beberapa perkiraan. Pengetahuan bangsa Babilonia ini sampai ke tangan Thales , filosof Yunani.
  B.     Ilmu Pengetahuan Zaman Pra Yunani Kuno
Pada zaman ini memiliki perkembangan ilmu pengetahuan memiliki cirri-ciri sebagai berikut:
1.      Adanya konsep know, how dalam kehidupan sehari-hari yang didasarkan pada pengalaman.
2.      Pengetahuan yang berdasarkan pengalaman itu diterima sabagai fakta dengan sikap Receptive Mind, keterangan yangf masih dihubungkan dengan kekuatan magis.
3.      Kemampuan menemukan abjad dan sistem bilangan alam sudah menampakkan perkembangan pemikiran manusia kertingkat abstraksi.
4.      Kemampuan menulis, berhitung menyusun kalender yang didasarkan atas sintesa terhadap hasil abstraksi yang dilakukan.
5.      Kemampuan meramalkan suatu peristiwa atas dasar peristiwa-peristiwasebelumnya yang pernah terjadi. Misalnya gerhana bulan dan matahari.[5]
  C.    Ilmu Pengetahuan Zaman Yunani Kuno
Periode filsafat Yunani merupakan periode sangat penting dalam sejarah peradaban manusia karena pada waktu ini terjadi perubahan pola pikir manusia dari mitosentris menjadi logosentris. Dari proses inilah kemudian ilmu berkembang dari rahim filsafat yang akhirnya kita nikmati dalam bentuk teknologi. Karena itu, periode perkembangan filsafat Yunani merupakan entri poin untuk memasuki peradaban baru umat manusia. Inilah titik awal manusia menggunakan rasio untuk meneliti dan sekaligus mempertanyakan dirinya dan alam jagad raya.
Filosof alam pertama yang mengkaji tentang asal-usul alam adalah Thales (624-546 SM), setelah itu Anaximandros (610-540 SM), Heraklitos (540-480 SM), Parmenides (515-440 SM), dan Phytagoras (580-500). Thales, yang dijuluki bapak filsafat, berpendapat bahwa asal alam adalah air. Menurut Anaximandros substansi pertama itu bersifat kekal, tidak terbatas, dan meliputi segalanya yang dinamakan apeiron, bukan air atau tanah. Heraklitos melihat alam semesta selalu dalam keadaan berubah. Baginya yang mendasar dalam alam semesta adalah bukan bahannya, melainkan aktor dan penyebabnya yaitu api. Bertolak belakang dengan Heraklitos, Parmenides berpendapat bahwa realitas merupakan keseluruhan yang bersatu, tidak bergerak dan tidak berubah. Phytagoras berpendapat bahwa bilangan adalah unsur utama alam dan sekaligus menjadi ukuran. Unsur-unsur bilangan itu adalah genap dan ganjil, terbatas dan tidak terbatas. Jasa Phytagoras sangat besar dalam pengembangan ilmu, terutama ilmu pasti dan ilmu alam. Ilmu yang dikembangkan kemudian hari sampai hari ini sangat bergantung pada pendekatan matematika. Jadi setiap filosof mempunyai pandangan berbeda mengenai seluk beluk alam semesta. Perbedaan pandangan bukan selalu berarti negatif, tetapi justeru merupakan kekayaan khazanah keilmuan. Terbukti sebagian pandangan mereka mengilhami generasi setelahnya.
Setelah mereka kemudian muncul beberapa filosof Sofis sebagai reaksi terhadap ketidakpuasan mereka terhadap jawaban dari para filosof alam dan mengalihkan penelitian mereka dari alam ke manusia. Bagi mereka, manusia adalah ukuran kebenaran sebagaimana diungkapkan oleh Protagoras (481-411 SM), tokoh utama mereka. Pandangan ini merupakan cikal bakal humanisme. Menurutnya, kebenaran bersifat subyektif dan relatif. Akibatnya, tidak akan ada ukuran yang absolut dalam etika, metafisika, maupun agama. Bahkan dia tidak menganggap teori matematika mempunyai kebenaran absolut. Selain Protagoras ada Gorgias (483-375 SM). Menurutnya, penginderaan tidak dapat dipercaya. Ia adalah sumber ilusi. Akal juga tidak mampu meyakinkan kita tentang alam semesta karena akal kita telah diperdaya oleh dilema subyektifitas. Pengaruh positif gerakan kaum sofis cukup terasa karena mereka membangkitkan semangat berfilsafat. Mereka tidak memberikan jawaban final tentang etika, agama, dan metafisika. [6]
Pandangan para filosof Sofis tersebut disanggah oleh para filosof setelahnya seperti Socrates (470-399 SM), Plato (429-347 SM), dan Aristoteles (384-322 SM). Menurut mereka, ada kebenaran obyektif yang bergantung kepada manusia. Socrates membuktikan adanya kebenaran obyektif itu dengan menggunakan metode yang bersifat praktis dan dijalankan melalui percakapan-percakapan. Menurutnya, kebenaran universal dapat ditemukan. Bagi Plato, esensi mempunyai realitas yang ada di alam idea. Kebenaran umum ada bukan dibuat-buat bahkan sudah ada di alam idea. Filsafat Yunani klasik mengalami puncaknya di tangan Aristoteles. Dia adalah filosof yang pertama kali membagi filsafat pada hal yang teoritis (logika, metafisika, dan fisika) dan praktis (etika, ekonomi, dan politik). Pembagian ilmu inilah yang menjadi pedoman bagi klasifikasi ilmu di kemudian hari. Dia dianggap sebagai bapak ilmu karena mampu meletakkan dasar-dasar dan metode ilmiah secara sistematis. Karena demikian meresapnya serta lamanya pengaruh ajaran-ajaran Plato dan Aristoteles, A.N. Whitehead memberikan catatan bahwa segenap filsafat sesudah masa hidup keduanya sesungguhnya merupakan usulan-usulan belaka terhadap ajaran-ajaran mereka. Pendapat Whitehead tidak seluruhnya benar karena umat Islam, misalnya, selain mengembangkan filsafat mereka, mereka juga melakukan inovasi di beberapa persoalan filsafat Yunani sehingga memiliki karakteristik islami.
Adapun ciri-ciri penting perkembangan ilmu pengetahuan yang dapat dicapai pada zaman yunani kuno ialah:
1.      Pada masa ini orang memiliki kebebasan untuk mengungkapkan ide-ide poendapatnya;
2.      Masyarakat pada zaman initidak lagi mempercayai mitologoi-mitologi yang dianggap sebagai suatu bentuk pseudo rasional.
3.      Masyarakat tidak dapat menerima pengalaman yang didasrkan pada sikap receptive attitude ( sikap menerima begitu saja), melainkan menumbuhkan sikap an inquiring attitude ( suatu sikap yang senang menyelidiki sesuatu secara kritis). Sikap belakangan inilah yang menjadi cikal bakal tumbuhnya ilmu pengetahuan modern. Sikap kritis inilah yang menjadikan bangsa yunani tampil sebagai ahli piker terkenal.[7]
  D.    Zaman abad pertengahan dan islam klasik
Zaman abad pertengahan ditandai dengan tampilnya para theolog  dilapangan ilmu pengetahuan dibelahan dunia eropa. Para ilmuan pada masa ini hamper semua adalah para teolog, sehingga aktivitas ilmiah terkait dengan aktivitas keagamaan. Semboyan yang berlaku bagi ilmu pada masa ini adalah ancilla theologia atau abdi agama. Namun di timur tertama negara-negara islam justru terjadi perkembangan ilmu pengetahuan yang pesat.[8]  Disaat eropa pada zaman pertengahan lebih berkutat pada maslah – masalah keagamaan, maka peradaban dunia islam melakukan penerjemahan besar- besaran terhadap karya-karya filosof yunani dan berbagai temuan lapangan ilmiah lainnya.
Peradaban dunia islam terutama pada bani umayah telah menemukan suatu cara pengamatan astronomi pada abad 7 masehi, 8 abad sebelum Galileo galilei dan Copernicus. Sedangkan kebudayaan islam yang menaklukan Persia pada abad 8 masehi telah mendirikan sekolah kedokteran dan astronomi di jundhisapur. Pada zaman keemasan kebudayaan islam, dilakukan penerjemahan berbagai karyayunani, dan bahkan khalifah alma’mun telah mendirikan rumah kebijaksanaan ( house of wisdom) pada abad 9 masehi.sumbangan sarjana islam dapat diklasifikasikan dalam 3 bidang yaitu :
1.      Menerjemahkan peninggalan bangsa yunani dan menyebar luaskannya sedemikian rupa, sehingga dapat dikenal dunia barat sperti sekarang ini.
2.      Memperluas pengamatan dalam lapangan ilmu kedokteran, obat-obatan, astronomi dan ilu kimia.
3.      Menegaskan system desimal dan dasar-dasar aljabar.
Dizaman dinasti abbasiyah perpustakaan darul hikmah membuka pintu terhadap ilmuan non muslim untuk memanfaatkan dan mempelajari berbagi literature yangada didalamnya. Pemasaran terhadap hasil hasil IPTEK merupakan suatu wahana untuk menjamin kontinuitas aaktivitas ilmiah itu sendiri, karena itu pasar yang bersifat internasional sangatlah dibutuhkan.
Zaman keemasan islam ditandai dengan kemajuan pesat ilmu matematika yang membangun mode matematika baru dengan memperkenalkan system desimal. Filusuf muslim Al-khawarizmi yang mengembangkan trigonometri dengan memperkenalkan teori sinus dan  cosines, tangent dan cotangent.[9] Al-Khawārizmī (Algorismus atau Alghoarismus) merupakan tokoh penting dalam bidang matematika dan astronomi. Istilah teknis algorisme diambil dari namanya. Dia memberi landasan untuk aljabar. Istilah “algebra” diambil dari judul karyanya. Dia memberi landasan untuk aljabar. Istilah “algebra” diambil dari judul karyanya. Karya-karyanya adalah rintisan pertama dalam bidang aritmatika yang menggunakan cara penulisan desimal seperti yang ada dewasa ini, yakni angka-angka Arab. Al-Khawārizmī dan para penerusnya menghasilkan metode-metode untuk menjalankan operasi-operasi matematika yang secara aritmatis mengandung berbagai kerumitan, misalnya mendapatkan akar kuadrat dari satu angka.
 Ilmu fisika menampilkan fisikus asal bagdad musa ibn sakir dan putranya Muhammad, ahmad, dan hasan yang mengarang kitab Al-hiyal, yang menggambarkan hukum-hukum mekanika dan problem-problem stabilitas. Ibn Al-haytam (965-1039)yang mengarang kitab Al-munadhir, yang membuktikan hukum refraksi cahaya. Bidang astronomi pada awalnya menerjemahkan karya-karya dibidang astronomi klasik pada masa bani umayah dan dilanjutkan pada masa abbasiyah awal. Ibn habib al farazi (777) merupakan ilmuan muslim pertama yang menerjemahkan karya Ptolemy yang berjudul almagest. [10] 
Di bidang astronomi, al-Battānī (Albategnius) menghasilkan table-tabel astronomi yang luar biasa akuratnya pada sekitar tahun 900 M. Ketepatan observasi-observasinya tentang gerhana telah digunakan untuk tujuan-tujuan perbandingan sampai tahun 1749 M. Selain al-Battānī, ada Jābir ibn Aflaḥ (Geber) dan al-Biṭrūjī (Alpetragius). Jābir ibn Aflaḥ dikenal karena karyanya di bidang trigonometri sperik. Di bidang astronomi dan matematika, ada juga Maslamah al-Majrīṭī (w. 1007 M), Ibn al-Samḥ, dan Ibn al-Ṣaffār. Ibn Abī al-Rijāl (Abenragel) di bidang astrologi.
Dalam bidang kedokteran ada Abū Bakar Muḥammad ibn Zakariyyā al-Rāzī atau Rhazes (250-313 H/864-925 M atau 320 H/932 M) , Ibn Sīnā atau Avicenna (w. 1037 M), Ibn Rushd atau Averroes (1126-1198 M), Abū al-Qāsim al-Zahrāwī (Abulcasis), dan Ibn Ẓuhr atau Avenzoar (w. 1161 M). Al-Ḥāwī karya al-Rāzī merupakan sebuah ensiklopedi mengenai seluruh perkembangan ilmu kedokteran sampai masanya. Untuk setiap penyakit dia menyertakan pandangan-pandangan dari para pengarang Yunani, Syiria, India, Persia, dan Arab, dan kemudian menambah catatan hasil observasi klinisnya sendiri dan menyatakan pendapat finalnya. Buku Canon of Medicine karya Ibnu Sīnā sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin pada abad ke-12 M dan terus mendominasi pengajaran kedokteran di Eropa setidak-setidaknya sampai akhir abad ke-16 M dan seterusnya. Tulisan Abū al-Qāsim al-Zahrāwī tentang pembedahan (operasi) dan alat-alatnya merupakan sumbangan yang berharga dalam bidang kedokteran.
Dalam bidang kimia ada Jābir ibn Ḥayyān dari kuffah yang memiliki laboratoriun\m dekat bawabah damaskus yang melakukan percobaan pada panca indra, penggunaan metalik dan lain-lain.[11] Sebagian karya Jābir ibn Ḥayyān memaparkan metode-metode pengolahan berbagai zat kimia maupun metode pemurniannya. Sebagian besar kata untuk menunjukkan zat dan bejana-bejana kimia yang belakangan menjadi bahasa orang-orang Eropa berasal dari karya-karyanya. Sementara itu, al-Bīrūnī mengukur sendiri gaya berat khusus dari beberapa zat yang mencapai ketepatan tinggi. Dalam bidang botani, zoologi, mineralogi, karya orang Arab mencakup gambaran dan daftar berbagai macam tanaman, binatang, dan batuan. Beberapa di antaranya memiliki kegunaan praktis, yakni ketika karya tersebut dihubungkan dengan bidang farmakologi dan perawatan medis. [12]
Selain disiplin-disiplin ilmu di atas, sebagian umat Islam juga menekuni logika dan filsafat. Sebut saja al-Kindī, al-Fārābī (w. 950 M), Ibn Sīnā atau Avicenna (w. 1037 M), al-Ghazālī (w. 1111 M), Ibn Bājah atau Avempace (w. 1138 M), Ibn Ṭufayl atau Abubacer (w. 1185 M), dan Ibn Rushd atau Averroes (w. 1198 M). Menurut Felix Klein-Franke, al-Kindī berjasa membuat filsafat dan ilmu Yunani dapat diakses dan membangun fondasi filsafat dalam Islam dari sumber-sumber yang jarang dan sulit, yang sebagian di antaranya kemudian diteruskan dan dikembangkan oleh al-Fārābī. Al-Kindī sangat ingin memperkenalkan filsafat dan sains Yunani kepada sesama pemakai bahasa Arab, seperti yang sering dia tandaskan, dan menentang para teolog ortodoks yang menolak pengetahuan asing. Menurut Betrand Russell, Ibn Rushd lebih terkenal dalam filsafat Kristen daripada filsafat Islam. Dalam filsafat Islam dia sudah berakhir, dalam filsafat Kristen dia baru lahir. Pengaruhnya di Eropa sangat besar, bukan hanya terhadap para skolastik, tetapi juga pada sebagian besar pemikir-pemikir bebas non-profesional, yang menentang keabadian dan disebut Averroists. Di Kalangan filosof profesional, para pengagumnya pertama-tama adalah dari kalangan Franciscan dan di Universitas Paris. Rasionalisme Ibn Rushd inilah yang mengilhami orang Barat pada abad pertengahan dan mulai membangun kembali peradaban mereka yang sudah terpuruk berabad-abad lamanya yang terwujud dengan lahirnya zaman pencerahan atau renaisans.
E.     Ilmu Pengetahuan Zaman Renaisans dan Modern
Michelet, sejarahwan terkenal, adalah orang pertama yang menggunakan istilah renaisans. Para sejarahwan biasanya menggunakan istilah ini untuk menunjuk berbagai periode kebangkitan intelektual, khususnya di Eropa, dan lebih khusus lagi di Italia sepanjang abad ke-15 dan ke-16. Agak sulit menentukan garis batas yang jelas antara abad pertengahan, zaman renaisans, dan zaman modern. Bisa dikatakan abad pertengahan berakhir tatkala datangnya zaman renaisans. Sebagian orang menganggap bahwa zaman modern hanyalah perluasan dari zaman renaisans. Renaisans adalah periode perkembangan peradaban yang terletak di ujung atau sesudah abad kegelapan sampai muncul abad modern. Renaisans merupakan era sejarah yang penuh dengan kemajuan dan perubahan yang mengandung arti bagi perkembangan ilmu. Ciri utama renaisans yaitu humanisme, individualisme, sekulerisme, empirisisme, dan rasionalisme. Sains berkembang karena semangat dan hasil empirisisme, sementara Kristen semakin ditinggalkan karena semangat humanisme. [13]
Tokoh penemu di bidang sains pada masa renaisans (abad 15-16 M): Nicolaus Copernicus (1473-1543 M), Johanes Kepler (1571-1630 M), Galileo Galilei (1564-1643 M), dan Francis Bacon (1561-1626 M). Copernicus menemukan teori heliosentrisme, yaitu matahari adalah pusat jagad raya, bukan bumi sebagaimana teori geosentrisme yang dikemukakan oleh Ptolomeus (127-151). Menurutnya, bumi memiliki dua macam gerak, yaitu perputaran sehari-hari pada porosnya dan gerak tahunan mengelilingi matahari. Teori ini melahirkan revolusi pemikiran tentang alam semesta, terutama astronomi. Kepler adalah ahli astronomi Jerman yang terpengaruh ajaran Copernicus. Dialah yang menemukan bahwa orbit planet berbentuk elips; bahwa planet bergerak cepat bila berada di dekat matahari dan lambat bila jauh darinya. Galileo adalah ahli astronomi Italia yang melakukan pengamatan teleskopik dan mengukuhkan gagasan Copernicus bahwa tata surya berpusat pada matahari. Inkuisi takut akan penemuannya dan memaksanya meninggalkan studi astronominya. Dia juga berjasa dalam menetapkan hukum lintasan peluru, gerak, dan percepatan. Dialah penemu planet Jupiter yang dikelilingi oleh empat buah bulan.
Ilmu opengetahuan yang berkembang pada masa ini adalah bidang astronomi, tokoh-tokohnya yang terkenal seperti: Copernicus, kepler, Galileo galilei. Langkah langkah yang dilakukan oleh Galileo dalam bidang ini adalah menanamkan pengaruh yang kuat bagi perkembangan ilm pengetahuan modern, karena menunjukkan beberapa hal seperti; pengamatan (observation), penyingkiran (elimination), segala hal yang tidak termasuk dalam peristiwa yan diamati, idealisasi, penyusunan teori secara spekulatif atas peristiwa tersebut, peramala (prediction), pengukuran (measurmen), dan percobaan (experience) untuk menguji teori yang didasarkan pada ramalan matematik.[14]   
Selanjutnya tokoh penemu di bidang sains pada zaman modern (abad 17-19 M): Sir Isaac Newton (1643-1727 M), Leibniz (1646-1716 M), Joseph Black (1728-1799 M), Joseph Prestley (1733-1804 M), Antonie Laurent Lavoiser (1743-1794 M), dan J.J. Thompson. Newton adalah penemu teori gravitasi, perhitungan calculus, dan optika yang mendasari ilmu alam. Pada masa Newton, ilmu yang berkembang adalah matematika, fisika, dan astronomi. Pada periode selanjutnya ilmu kimia menjadi kajian yang amat menarik. Black adalah pelopor dalam pemeriksaan kualitatif dan penemu gas CO2. Prestley menemukan sembilan macam hawa No dan oksigen yang antara lain dapat dihasilkan oleh tanaman. Lavoiser adalah peletak dasar ilmu kimia sebagaimana kita kenal sekarang. J.J. Thompson menemukan elektron. Dengan penemuannya ini, maka runtuhlah anggapan bahwa atom adalah bahan terkecil dan mulailah ilmu baru dalam kerangka kimia-fisika yaitu fisika nuklir. Perkembangan ilmu pada abad ke-18 telah melahirkan ilmu seperti taksonomi, ekonomi, kalkulus, dan statistika, sementara pada abad ke-19 lahirlah pharmakologi, geofisika, geomophologi, palaentologi, arkeologi, dan sosiologi. Pada tahap selanjutnya, ilmu-ilmu zaman modern memengaruhi perkembangan ilmu zaman kontemporer.
F.     Ilmu Pengetahuan Zaman Kontemporer
Perbedaan antara zaman modern dengan zaman kontemporer yaitu zaman modern adalah era perkembangan ilmu yang berawal sejak sekitar abad ke-15, sedangkan zaman Kontemporer adalah era perkembangan terakhir yang terjadi hingga sekarang. Perkembangan ilmu di zaman ini meliputi hampir seluruh bidang ilmu dan teknologi, ilmu-ilmu sosial seperti sosiologi, antropologi, psikologi, ekonomi, hukum, dan politik serta ilmu-ilmu eksakta seperti fisika, kimia, dan biologi serta aplikasi-aplikasinya di bidang teknologi rekayasa genetika, informasi, dan komunikasi. Zaman kontemporer identik dengan rekonstruksi, dekonstruksi, dan inovasi-inovasi teknologi di berbagai bidang. [15]
Sasaran rekonstruksi dan dekonstruksi biasanya teori-teori ilmu sosial, eksakta, dan filsafat yang ada sudah ada sebelumnya, sementara inovasi-inovasi teknologi semakin hari semakin cepat seperti yang kita saksikan dan nikmati sekarang ini. Teknologi merupakan buah dari perkembangan ilmu pengetahuan yang dikembangkan dari generasi ke generasi. Komputer merupakan hasil pengembangan dari perkembangan listrik (elektronika) yang pada awal penemuannya oleh Faraday belum diketahui kegunaannya. Penemuan bola lampu oleh Edison disusul oleh penemuan radio, televisi, dan komputer.[35] Dari komputer berkembang ke PC (private computer), lap top, dan terakhir simuter yaitu komputer jenis PDA (personal digital assistans).[36] Semua contoh ini merupakan bukti bahwa penemuan teknologi sebagai buah perkembangan ilmu masih berkaitan dengan penemuan-penemuan sebelumnya yang kemudian dikembangkan dengan ukuran fisik yang semakin kecil, tetapi memiliki beragam keunggulan yang lebih besar.
Salah satu hasil teknologi yang menakjubkan dan kontroversial adalah teknologi rekayasa genetika yang berupa teknologi kloning. Dr. Gurdon dari Universitas Cambridge adalah orang pertama yang melakukan teknologi ini pada tahun 1961. Gurdon berhasil memanipulasi telur-telur katak sehingga tumbuh menjadi kecebong kloning. Pada tahun 1993, Dr. Jerry Hall berhasil mengkloning embrio manusia dengan teknik pembelahan. Pada tahun 1997, Dr. Ian Wilmut berhasil melakukan kloning mamalia pertama dengan kelahiran domba yang diberi nama Dolly. Pada tahun yang sama lahir lembu kloning pertama yang diberi mana Gene. Pada tahun 1998, para peneliti di Universitas Hawai yang dipimpin oleh Dr. Teruhiko Wakayama berhasil melakukan kloning terhadap tikus hingga lebih dari lima generasi. Pada tahun 2000, Prof. Gerald Schatten berhasil membuat kera kloning yang diberi nama Tetra. Setelah berbagai keberhasilan teknik kloning yang pernah dilakukan, para ahli malah lebih berencana menerapkan teknik kloning pada manusia.


BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
 Perkembangan ilmu pengetahuan terjadi pada beberapa tahapan atau periodesasi yaitu pada zaman purba,  zaman pra yunani kuno, pada zaman yunani kuno, zaman abad pertengahan dan islam klasik,  zaman renaissance dan modern, perkembangan ilmu pengetahuan pada zaman kontemporer. Kesemuanya memiliki tahap –tahap perkembangan tersendiri. Menurut George J. Mouly, permulaan ilmu dapat disusur sampai pada permulaan manusia. Tak diragukan lagi bahwa manusia purba telah menemukan beberapa hubungan yang bersifat empiris yang memungkinkan mereka untuk mengerti keadaan dunia. Masa manusia purba dikenal juga dengan masa pra-sejarah. Menurut Soetriono dan SDRm Rita Hanafie, masa sejarah dimulai kurang lebih 15.000 sampai 600 tahun Sebelum Masehi. Pada masa ini pengetahuan manusia berkembang lebih maju. Mereka telah mengenal membaca, menulis, dan berhitung.
Adapun ciri-ciri penting perkembangan ilmu pengetahuan yang dapat dicapai pada zaman yunani kuno ialah:
1.      Pada masa ini orang memiliki kebebasan untuk mengungkapkan ide-ide poendapatnya;
2.      Masyarakat pada zaman initidak lagi mempercayai mitologoi-mitologi yang dianggap sebagai suatu bentuk pseudo rasional.
Masyarakat tidak dapat menerima pengalaman yang didasrkan pada sikap receptive attitude ( sikap menerima begitu saja), melainkan menumbuhkan sikap an inquiring attitude ( suatu sikap yang senang menyelidiki sesuatu secara kritis). Sikap belakangan inilah yang menjadi cikal bakal tumbuhnya ilmu pengetahuan modern. Sikap kritis inilah yang menjadikan bangsa yunani tampil sebagai ahli piker terkenal.
sedangkan zaman Kontemporer adalah era perkembangan terakhir yang terjadi hingga sekarang. Perkembangan ilmu di zaman ini meliputi hampir seluruh bidang ilmu dan teknologi, ilmu-ilmu sosial seperti sosiologi, antropologi, psikologi, ekonomi, hukum, dan politik serta ilmu-ilmu eksakta seperti fisika, kimia, dan biologi serta aplikasi-aplikasinya di bidang teknologi rekayasa genetika, informasi, dan komunikasi. Zaman kontemporer identik dengan rekonstruksi, dekonstruksi, dan inovasi-inovasi teknologi di berbagai bidang.



DAFTAR PUSTAKA

Surajiyo.  Filsafat Ilmu dan Perkembangannya. Jakarta: Bumi Aksara, 2007.
Mustansyir,  Rizal dan misnal munir. Filsafat Ilmu. Yogyakarta: pustaka pelajar, 2002.
Suriasumantri, Jujun S. Ilmu Dalam Perspektif Sebuah Kumpulan Karangan Tentang Hakekat Ilmu. Jakarta: Gramedia, 1985.

http://msubhanzamzami.wordpress.com /2010/11/11/ sejarah- perkembangan- ilmu-pengetahuan/. ( Diakses 25 Desember 2011)


[1] Surajiyo, Filsafat Ilmu dan Perkembangannya (Jakarta: Bumi Aksara, 2007), 79.
[2] Jujun S. Suriasumantri, Ilmu Dalam Perspektif Sebuah Kumpulan Karangan Tentang Hakekat Ilmu (Jakarta: Gramedia, 1985).,87..
[3] http://msubhanzamzami.wordpress.com /2010/11/11/ sejarah- perkembangan- ilmu-pengetahuan/. ( Diakses 25 Desember 2011)

[4] http://msubhanzamzami.wordpress.com /2010/11/11/ sejarah- perkembangan- ilmu-pengetahuan/. ( Diakses 25 Desember 2011)
[5] Rizal mustansyir dan misnal munir,Filsafat Ilmu ( Yogyakarta: pustaka pelajar, 2002).,126.
[6] http://msubhanzamzami.wordpress.com /2010/11/11/ sejarah- perkembangan- ilmu-pengetahuan/. ( Diakses 25 Desember 2011)
[7] Rizal mustansyir dan misnal munir,Filsafat Ilmu ( Yogyakarta: pustaka pelajar, 2002).,127.
[8] Ibid, 128
[9] Rizal mustansyir dan misnal munir,Filsafat Ilmu ( Yogyakarta: pustaka pelajar, 2002).,127.
[10] http://msubhanzamzami.wordpress.com /2010/11/11/ sejarah- perkembangan- ilmu-pengetahuan/. ( Diakses 25 Desember 2011)
[11] Rizal mustansyir dan misnal munir,Filsafat Ilmu ( Yogyakarta: pustaka pelajar, 2002).,127.
[12] http://msubhanzamzami.wordpress.com /2010/11/11/ sejarah- perkembangan- ilmu-pengetahuan/. ( Diakses 25 Desember 2011).
[13] http://msubhanzamzami.wordpress.com /2010/11/11/ sejarah- perkembangan- ilmu-pengetahuan/. ( Diakses 25 Desember 2011).
[14] Rizal mustansyir dan misnal munir,Filsafat Ilmu ( Yogyakarta: pustaka pelajar, 2002).,133
[15] http://msubhanzamzami.wordpress.com /2010/11/11/ sejarah- perkembangan- ilmu-pengetahuan/. ( Diakses 25 Desember 2011)

0 komentar:

Poskan Komentar