Pengembangan Pendidikan Agama Islam: Reinterpretasi Berbasis Interdisipliner

Pengembangan Pendidikan Agama Islam

--- BUKU MURAH (ASLI bukan FOTOCOPY-AN/BUKAN BUKU BAJAKAN): " Buku MURAH BERKUALITAS hanya Rp.55.000,- (belum ongkos kirim) berjudul PENGEMBANGAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM: REINTERPRETASI BERBASIS INTERDISIPLINER (Yogyakarta: LKiS, 2015). Sebagai info harga buku ini di pasaran berkisar 70-90 ribu). Info lebih lanjut hubungi: 0856-3350-350 (11 digit)”---

Wednesday, July 25, 2012

KEMUNDURAN DAN KEJATUHAN SAFAWIYAH


KEMUNDURAN DAN KEJATUHAN SAFAWIYAH
Oleh: Ustad Zaenal Hamam                                                                                                                                                                                                                            

  
A.    PENDAHULUAN
Kemunduran dan kejatuhan dinasti Safawiyah, yang berkuasa di Persia selama  dua abad lebih (1501-1736 M) merupakan peristiwa sejarah yang penting untuk dikaji karena secara tidak langsung peristiwa sejarah tersebut merupakan bagian dari penyebab munculnya kembali otoritas non formal yang dimiliki ulama di kawasan tersebut. Di Persia, negeri yang kemudian berubah nama menjadi Iran, para ulama mendapatkan posisinya di masyarakat dan dapat memerintahkan ketaatan dan kepatuhan orang-orang Iran lebih efektif dari pada shah yang mana pun sehingga ulama di Iran memiliki kekuasaan yang tidak ada duanya di dunia Muslim.
Berbekal otoritas yang dimilikinya sebagai seorang ulama kharismatik, Khomeini berhasil memimpin revolusi Islam Iran pada tahun 1979, dia diakui sebagai Marja'i Taqlid mutlaq (pemimpin agama tertinggi dalam Islam Syiah). Pada perkembangan selanjutnya disusunlah Undang Undang Dasar Republik Islam Iran tahun 1979 yang di antara pasalnya (pasal 107) menetapkan Khomeini sebagai pemimpin spiri-tual (Faqih) yang mempunyai kekuasaan otoritatif atas masalah politik dan agama.[1] Dengan demikian, otoritas non formal yang dimiliki ulama menjadi otoritas formal.
Dari uraian di atas, penulis menfokuskan kajian pada tiga masalah, yaitu 1) deskripsi kerajaan Safawiyah, 2) kemundurannya, dan 3) kejatuhannya. Kajian tersebut dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Dari segi tempat, kajian ini termasuk jenis kajian pustaka (library research), yaitu kajian yang bertempat di perpustakaan,[2] maksudnya kajian dilakukan dengan cara mencari informasi dan data dari karya pustaka. Karya pustakan diharapkan dapat memberikan data yang dibutuhkan dalam kajian ini.
Supaya pembahasan dapat dilakukan secara tererah dan sistematis, pembahasan dalam makalah ini disusun dengan sistematika sebagai berikut:
Pertama, pengantar yang meliputi uraian mengenai identifikasi permasalah yang menjadi fokus kajian, pendekatan dan jenis kajian, dan sitematika pembahasan. Kedua, sekilas tentang kerajaan Safawiyah, dimulai dari pembahasan tentang Safawiyah sebagai nama kerajaan, pendiri kerajaan, dan wilayah kekuasaannya. Walaupun  kajian ini sudah dibahas pada dua makalah sebelumnya, namun pada makalah ini diuraikan kembali guna mengantarkan pada dua bab berikutnya.
Ktiga, kemunduran Safawiyah. Kemunduran ini digambarkan dengan masa tiga pemerintahan Safawiyah, yaitu masa pemerintahan Safi Mirza, masa pemerintahan ‘Abbās II, dan masa pemerintahan Sulaymān Keempat, kejatuhan Safawitah yang meliputi pemberontakan sunni afghanistan, Nadir Khan mengakhiri Safawiyah, dan munculnya otoritas ulama. Kelima,  Kesimpulan yang menggambarkan masalah yang menjadi kajian. Kesimpulan ini disampaikan dengan disertai analisa penulis.

B.    SEKILAS TENTANG KERAJAAN SAFAWIYAH
1.      Safawiyah Sebagai Nama Kerajaan
“Safawi” berasal dari bahasa arab “ṣafiyy” yang kemasukan huruf ya yang berfungsi sebagai nisbah menjadi “ṣafawī”.[3] Kata “ṣafiyy” yang dimaksud di sini diambil dari nama al-Shaykh Ṣafiyy al-Dīn al-Ardabīlī,[4] seorang sufi keturunan Imam Syi`ah yang keenam (Mūsā al-Kaẓim). Setelah guru dan sekaligus mertuanya, al-Shaykh Tāj al-Dīn Ibrāhīm Zāhidī (1216-1301 M) wafat, ia menggantikan kedudukanya dan mendirikan tarekat Safawiyah. Tarekat yang dipimpin oleh al-Shaykh Ṣafiyy al-Dīn ini besar pengaruhnya di Persia, Syria, dan Anatolia. Di negeri-negeri luar Ardabil, al-Shaykh Ṣafiyy al-Dīn al-Ardabīlī menempatkan seorang khalifah untuk memimpin murid-muridnya.[5]
Sumber lain, yaitu Fahsin M. Fa’al dalam Sejarah Kekuasaan Islam, menjelaskan bahwa nama dinasti Syafawiyah berasal dari nama Syekh Syaifuddin Ishak.[6] Namun pendapat ini lemah sedangkan pendapat yang kuat adalah pendapat pertama yang mengatakan bahwa “ṣafawī” berasal dari nama Ṣafiyy al-Dīn al-Ardabīlī. Dengan kata lain, nama ulama yang mendirikan tarekat Safawiyah, yang kemudian dipakai sebagai nama kerajaan safawiyah, yang benar adalah Ṣafiyy al-Dīn bukan Syaifuddin. Kesimpulan penulis ini berdasar pada dua alasan, yaitu: pertama dari sisi sumber informasi. Sumber informasi yang pertama didukung oleh banyak sumber yang lain sedangkan sumber kedua tidak didukung oleh sumber lain. Kedua dari sisi informasi itu sendiri. Kata “Ṣafiyy” (dari nama Ṣafiyy al-Dīn) bila bertemu ya nisbah maka menjadi “Ṣafawī/Ṣafawīyah[7] sedangkan kata “Syayf” (dari nama Syayf al-Dīn) bila bertemu ya nisbah maka menjadi Syayfī/Syayfīyah[8] bukan Syafawī/Syafawīyah.
2.      Pendiri Kerajaan Safawiyah
Pendiri kerajaan Safawiyah adalah Shāh Ismā‘īl al-Ṣafawī[9] bin Ḥaydar bin Junayd bin Ibrāhīm bin Khawaja ‘Alī bin Ṣadar al-Dīn bin Ṣafiyy al-Dīn al-Ardabīlī.[10] Ṣafiyy al-Dīn al-Ardabīlī ini adalah pendiri tarekat Ṣafawīyah, suatu pergerakan keagamaan yang kemudian memperluas geraknya dengan kegiatan politik dan menimbulkan konflik pada masa kepemimpinan Judayd (1447-1460 M) antara Junayd dengan penguasa Kara Koyunlu (domba hitam), salah satu suku bangsa Turki yang berkuasa di wilayah itu. Dalam konflik tersebut, Junay kalah. Satu tahun setelah ia gagal merebut Ardail, tepatnya pada tahun 1460 M, ia merebut Sircassia tetapi pasukan yang dipimpinnya dihadang oleh tentara Sirwan dan ia terbunuh. Perjuangan merebut Sircassia ini dilanjutkan oleh putra yang menggantikannya, Ḥaydar (1460-1494 M) namun ia kalah dalam melawan tentara Sirwan yang mendapat bantuan militer dari AK Koyunlu (domba putih).[11] Ia sendiri tebunuh dalam pertempuran tersebut.[12]
Putra Ḥaydar yang menggantikannya adalah ‘Alī (1494-1501). Ia ditangkap oleh AK Koyunlu karena hendak menuntut balas atas kematian ayahnya. Ia bersama saudaranya, Ibrāhīm dan Ismā‘īl, dan ibunya dipenjarakan  di Fars selama empat setengah tahun dan dibebaskan oleh Rustam, putra mahkota AK Koyunlu dengan syarat membantunya memerangi saudara sepupunya. Setelah saudara sepupu Rustam dapat dikalahkan, ‘Alī bersama saudaranya ke Ardabil akan tetapi tidak lama kemudian Rustam berbalik menyerang ‘Alī barsaudara dan ‘Alī terbunuh dalam penyerangan pada tahun 1494 M. ini.
Ismā‘īl, sang pendiri kerajaan Safawitah,  yang ketika itu masih berusia tujuh tahun memimpin menggantikan kakaknya. Selama lima tahun ia beserta pasukannya bermarkas di Gilan, mempersiapkan kekuatan dan mengadakan hubungan dengan para pengikutnya di Azerbaijan, Syria, dan Anatolia. Pasukan yang dibinanya dinamai Qizilbash (baret merah). Pada tahun 1501 di bawah pimpinan Ismā‘īl, pasukan Qizilbash menyerang dan dapat mengalahkan AK Koyunlu di Sharur, dekat Nakhchivan. Pasukan ini terus berusaha memasuki dan menaklukkan Tabriz, ibu kota AK Koyunlu dan berhasil merebut serta mendudukinya. Di kota Tabriz ini, Ismā‘ī memprokalmasikan dirinya sebagai raja pertama kerajaan Safawiyah.[13]
3.      Wilayah Kekuasaan Safawiyah
Dalam sepuluh tahunpertama Ismā‘īl berhasil memperluas wilayah kekuasaannya. Ia berhasil menghancurkan sisa-sisa kekuatan AK Koyunlu da Hamadan (1503 M), menguasai Propinsi Kaspia di Nazandaran, Gurgan, dan Yazd (1504), Diyar Bakr (1505-1507 M), Baghdad dan daerah barat daya Persia (1508 M), Sirwan (1509 M) dan Khurasan (1510 M). hanya dalam waktu sepuluh tahun itu wilayah kekuasaannya sudah meliputi seluruh Persia dan bagian timur Bulan Sabit Subur (Fortile Crescent).[14]


C.    KEMUNDURAN SAFAWIYAH
Kerajaan yang didirikan oleh Ismā‘īl dan mencapai puncak kejayaannya pada masa kekuasaan raja safawiyah ke lima, Abbās I (1588-1628 M) ini mengalami kemunduran pada masa raja-raja berikutnya. Sepeninggal ‘Abbās I, kerajaan Safawiyah berturut-turut dipimpin oleh Safi Mirza (1628-1642 M), ‘Abbās II (1642-1667 M), Sulaymān (1667-1694 M), Ḥusayn (1694-1722 M), Ṭahmāz II (1722-1732 M), dan ‘Abbās III (1733-1736 M). [15] Pada masa kemunduran ini para ulama mendapatkan posisinya di masyarakat sehingga dapat mengimbangi kelemahan pemerintahan.[16]
1.      Masa Pemerintahan Safi Mirza
Safi Mirza, cucu ‘Abbās I, menggantikan kakeknya dan memerintah Safawiyah mulai tahun 1628 sampai dengan 1642 M. Raja Safawiyah, yang dikenal sebagai raja yang lemah menghadapi musuh dan kejam terhadap pembesar-pembesar kerajaan, ini tidak mampu mempertahankan kejayaan yang telah dicapai pada masa pemerintahan eyangnya. Ia tidak mampu menahan serangan dari dua kerajaan Usmani dan Moghul. Kerajaan Usmani yang sangat membenci Syi’ah dengan pasukannya yang kuat dapat merebut Baghdad sementara kerajaan Moghul yang ketika itu dipimpin oleh Sultan Syah Jehan dapat menguasai dan menduduki Qandahar (sekarang termasuk wilayah Afghanistan).[17]
2.      Masa Pemerintahan ‘Abbās II
‘Abbās II menggantikan Safi Mirza dan memerintah Safawiyah mulai tahun 1642 sampai dengan 1667 M. Raja kerajaan Safawiyah yang ke tujuh ini dikenal sebagai raja yang suka minum minuman keras sehingga ia jatuh sakit dan meninggal. Meskipun demikian, dengan bantuan wazir-wazirnya, pada saat Moghul dipimpin oleh Aurangzeb, kota Qandahar yang dikuasai kerajaan Moghul yang ketika itu dipimpin Sultan Syah Jehan, dapat direbut kembali.[18]
3.      Masa Pemerintahan Sulaymān
Sulaymān menggantikan ‘Abbās II dan memerintah Safawiyah mulai tahun 1667 sampai dengan 1694 M. Raja kerajaan Safawiyah yang ke delapan ini dikenal sebagai raja yang suka minum minuman keras sebagaimana raja sebelumnya bahkan ia juga dikenal sebagai raja yang kejam terhadap para pembesar yang dicurigainya. Akibatrnya, rakyat bersikap masa bodoh terhadap pemerintahan. Ia diganti oleh Shah Ḥusyn yang alim dan memberikan kekuasaan yang besar kepada para ulama Syi’ah yang berbuntut kepada pemberontakan golongan Sunni Afghanistan.

D.    KEJATUHAN SAFAWIYAH
1.      Pemberontakan Sunni Afghanistan
Kejatuhan safawiyah bermula dari pemberontakan kelompok Sunni Afghanistan. Pemberian kekuasaan besar oleh Shah Ḥusayn, pengganti Sulaymān dan memerintah Safawiyah mulai tahun 1694 sampai dengan 11722 M, kepada para ulama Syi’ah yang sering memaksakan pendapatnya terhadap penganut aliran Sunni memunculkan pemberontakan golongan Sunni Afganistan.
Pemberontakan bangsa Afghan tersebut muncul pertama kali pada tahun 1709 M di bawah pimpinan Mir Vays dan berhasil merebut wilayah Qandahar. Pemberontakan lainnya terjadi di Herat dan suku Ardabil Afghanistan berhasil menduduki Mashad. Mir Mahmud, yang berkuasa di Qandahar menggantikan Mir Vays, berhasil mempersatukan pasukannya dengan pasukan Ardabil. Dengan kekuatan gabungan ini, Mir Mahmud dapat merebut negri-negri Afghan dari kekuasaan Safawiyah.
Setelah posisinya di Afghan semakin kuat, Mir Mahmud dengan kekuatan gabungannya berusaha menguasai Persia. Pada tahun 1721, ia berhasil merebut Kirman. Tak lama kemudian, ia menyerang Isfahan, mengepungnya selama enam bulan dan mendesak Shah Ḥusayn untuk menyerah tanpa syarat dan pada tanggal 12 Oktober 1722M, Shah Ḥusayn menyerah. Pada tanggal 25 Oktober Mir Mahmud memasuki kota Isfahan dengan penuh kemenangan.[19]
2.      Nadir Khan Mengakhiri Safawiyah
Salah seorang putra Ḥusayn, bernama Ṭahmāz II, berusaha merebut kembali daerah kekuasaan Safawiyah dari bangsa Afghan. Dengan dukungan penuh dari suku Qazar dari Rusia, ia memproklamasikan dirinya sebagai raja yang sah dan berkuasa atas Persia dengan pusat kekuasaannya di kota Astarabad. Pada tahun 1726 M, Ṭahmāz bekerja sama dengan Nadir Khan dari suku Afshar untuk memerangi dan mengusir bangsa Afghan yang menduduki Isfahan.
Asyraf, yang menggantikan Mir Muhmud dan berkuasa di Isfahan, digempur dan dikalahkan oleh pasukan Nadir Khan tahun 1729 M dan Asyrafpun terbunuh dalam pertempuran itu. Dengan demikian dinasti Syafawiyah kembali berkuasa. Namun pada bulan Agustus 1732 M, Ṭahmāz II depecat oleh Nadir Khan dan diganti oleh Abbās III (anak Ṭahmāz II) yang ketika itu masih kecil. Empat tahun kemudian, tepatnya, 8 Maret 1736, Nadir Khan mengangkat dirinya sebagai raja menggantikan ‘Abbās III. Dengan demikian, berkhirlah kekuasaan dinasti Safawiyah.[20]
3.      Munculnya Otoritas Ulama
Ketika Nadir Khan berkuasa di Persia yang kemudian berubah nama menjadi Iran, para ulama terkemuka meninggalkan imperium dan menetap di kota-kota suci Syi’ah, Najaf dan Karbala yang berada di Irak Usmani. Di Najaf dan Karbala ini mereka bermarkas dan dari situ mereka mengajarkan ajarannya ke daerah-daerah yang tidak terjangkau para penguasa temporal Iran.
Sepeninggal Nadir Khan yang terbunuh pada tahun 1748, Persia mengalami kekosongan otoritas sentral kekuasaan sampai Aqa’ Muhammad dari suku Turcoman Qajar berhasil mengendalikan Iran pada tahun 1779 M dan mendirikan dinasti Qajar. Pada saat kekosongan kekuasaan itu, para ulama semakin mendapatkan posisinya di masyarakat dan ulama pun bisa memerintahkan ketaatan dan kepatuhan orang-orang Iran lebih efektif dari pada shah yang mana pun sehingga ulama di Iran memiliki kekuasaan yang tidak ada duanya di dunia Muslim.[21]

E.    KESIMPULAN
Nama dinasti “Safawiyah” berasal dari (dinisbatkan kepada) nama Ṣafiyy al-Dīn al-Ardadīlī, seorang ulama sufi pendiri tarekat Safawiyah. Sumber lain menjelaskan bahwa nama Syafawiyah berasal dari nama Syekh Syaifuddin Ishak. Menurut analisa penulis, di antara dua pendapat tersebut yang kuat adalah pendapat pertama, karena “Ṣafiyy” bila bertemu ya nisbah menjadi “Ṣafawī/Ṣafawīyah”. Sedangkan pendapat kedua lemah karena “Ṣayf” ketika kemasukan ya nisbah menjadi “Syayfī/Syayfīyah” bukan Syafawī/Syafawīyah. Di sini, ilmu kebahasaan menjadi alat bantu ilmu sejarah dalam melakukan analisa data yang ada.
Kemunduran kerajaan Safawiyah di antaranya adalah dekadensi moral yang melanda para pemimpin kerajaan ini. Safi Mirza adalah raja yang kejam terhadap pembesar-pembesar kerajaan namun lemah menghadapi musuh. ‘Abbās II, pengganti  Safi Mirza, adalah raja yang suka minum minuman keras sehingga ia jatuh sakit dan meninggal. Demikian pula Sulaymān, pengganti ‘Abbās adalah raja yang suka minum minuman keras dan kejam terhadap para pembesar yang dicurigainya. Akibatrnya, rakyat bersikap masa bodoh terhadap pemerintahan.
Kejatuhan safawiyah bermula dari pemberontakan kelompok Sunni Afghanistan yang dipicu oleh Pemberian kekuasaan besar kepada para ulama Syi’ah yang sering memaksakan pendapatnya terhadap penganut aliran Sunni. Pemberontakan yang muncul pertama kali pada tahun 1709 M dan berhasil merebut wilayah Qandahar ini terus bergerak merebut daerah-daerah Afghanistan dari kekuasan Safawi. Setelah posisinya di Afghanintan semakin kuat, kelompok pemberontak ini berusaha menguasai Persia hingga Shah Ḥusayn menyerah pada tanggal 12 Oktober 1722M.
Kejatuhan Safawiyah yang ke dua kali karena disingkirkan oleh Nadir Khan mendorong para ulama terkemuka meninggalkan imperium dan menetap di kota-kota suci Syi’ah, Najaf dan Karbala yang berada di Irak Usmani. Di Najaf dan Karbala ini mereka bermarkas dan dari situ mereka mengajarkan ajarannya ke daerah-daerah yang tidak terjangkau para penguasa temporal Persia. Sepeninggal Nadir Khan yang terbunuh pada tahun 1748, ketika Persia kosong dari kekuasaan, para ulama tersebut semakin mendapatkan posisinya di masyarakat dan ulama pun bisa memerintahkan ketaatan dan kepatuhan orang-orang Persia (sekarang Iran) lebih efektif dari pada shah mana pun.
DAFTAR PUSTAKA


‘Alī, Jawād. al-Mufaṣṣal fī Tārīkh al-‘Arab Qabl al-Islām. tt:Dār al-Sāqī, 2001.
Armstrong, Karen. Islam Sejarah Singkat. terj. Fungky Kusnaendy Timur. Yogyakarta: Jendela, 2002.
Fa’al, Fahsin M. Sejarah Kekuasaan Islam. Jakarta: Artha Rivera, tt.
Hadi, Sutrisno. Hadi, Metodologi Research. Yogyakarta: Andi Offset.
Ibnu Mālik, Alfiyat Ibni Mālik. Nganjuk: Reka Cipta Salavy, tt.
Mufrodi, Ali. Islam di Kawasan Kebudayaan Arab. Surabaya: Anika Bahagia, 2010.
Rachmat, Saefur. “Belajar dari Iran: Dialektika Agama dan Politik Pasca Khomeini”. https://docs.google.com/viewer?a=v&q=cache:oqNwNzSaiKAJ:staff.uny.ac.id/sites/default/files/JPKBelajar%2520dari%2520Iran, diakses 24 April 2012.
al-Ṣalābī, Alī Muḥammad Muḥammad. al-Dawlatu al-‘Uthmānīyatu ‘Awāmil al-Nuhūḍ wa Asbāb al-Suqūṭi. CD-ROM: al-Maktabah al-Shāmilah V, Ridwana Mediakita, 2010, Digital.
Yatim, Badrri. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: RajaGrafindo Persada,2008.



[1]Saefur Rachmat, “Belajar dari Iran: Dialektika Agama dan Politik Pasca Khomeini”, dalam https://docs.google.com/viewer?a=v&q=cache:oqNwNzSaiKAJ:staff.uny.ac.id/sites/default/files/JPKBelajar%2520dari%2520Iran, diakses 24 April 2012.
[2] Kemungkinan lain suatu penelitihan jika ditinjau dari segi tempatnya adalah reseach laboratorium dan research kancah. Lihat Sutrisno Hadi, Metodologi Research (Yogyakarta: Andi Offset), I: 3.
[3] Istilah “Ṣafawī” yang dinisbahkan kepada  Ṣafī al-Dīn, nama seorang ulama sufi dari Ardabil, ini berbeda dengan istilah “Ṣafawī” yang diambil dari Ṣafā/Ṣafāt, nama daerah, karena yang terkhir ini adalah istilah yang diucapkan orang-orang orientalis untuk orang-orang Badui sebelum Islam yang berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain untuk mencari penghidupan. Lihat  Jawād ‘Alī, al-Mufaṣṣal fī Tārīkh al-‘Arab Qabl al-Islām (tt:Dār al-Sāqī, 2001), V: 142.
[4] seorang ulama besar yang menurunkan Ismail, sang pendiri Dinasti Safawiyah. Liaht ‘Alī Muḥammad Muḥammad al-Ṣalābī, al-Dawlatu al-‘Uthmānīyatu ‘Awāmil al-Nuhūḍi wa Asbāb al-Suqūṭi (CD-ROM: al-Maktabah al-Shāmilah V, Ridwana Mediakita, 2010, Digital), I: 232.
[5] Badrri Yatim, Sejarah Peradaban Islam (Jakarta: RajaGrafindo Persada,2008), 138-139.
[6] Fahsin M. Fa’al, Sejarah Kekuasaan Islam (Jakarta: Artha Rivera, tt), 237.
[7] Isim yang lam fi‘ilnya berupa huruf ‘illat yang mengikuti wazan fa‘īl seperti ṣafiyy ketika bertemu ya nisbah maka mengalami perubahan sebagai berikut: 1) ya yang pertama dibuang menjadiṣafiy, 2) kasrahnya diganti dengan fathah menjadi ṣafay, 3) ya diganti dengan wawu menjadiṣafaw, baru kemudian 4) ditambahkan ya nisbah –huruf sebelum ya nisbah selalu dibaca kasrah- menjadi ṣafawī. Lihat Ibnu Mālik, Alfiyat Ibni Mālik (Nganjuk: Reka Cipta Salavy, tt.), 82-83.
[8] Sebagaimana kata ‘ayn ketika kemasukan ya nisbah menjadi ‘aynī/‘aynīyah.
[9] ‘Alī Muḥammad Muḥammad al-Ṣalābī, al-Dawlatu al-‘Uthmānīyatu, I: 232.
[10] Badrri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, 146.
[11] AK Koyunlu ini sebenarnya adalah sekutu Ḥaydar dan atas bantuan Ḥaydar, AK Koyunlu  dapat mengalahkan Kara Koyunlu pada tahun 1476 M namun akhirnya AK Koyunlu memandang Ḥaydar sebagai lawan politik dalam meraih kekuasaan selanjutnya. Karena pandangannya itu, AK Koyunlu berkeinginan menghancurkan kekuatan militer Ḥaydar. Peperangan antara Ḥaydar dan pasukannya dengan tentara Sirwan merupakan kesempatan bagi AK Koyunlu untuk menghancurkan kekuatan pasukan Ḥaydar dengan mengirimkan bantuan militer kepada Sirwan. Lihat ibid., 140.
[12] Ibid., 139-140.
[13] Ibid., 140-141.
[14] Ibid., 141. Bulan Sabit Subur meliputi Mesir, Palestina, Yordania, Syria, dan Lebanon. Secara makro, kawasan ini termasuk Timau Tengah, tetapi secara mikro dapatlah disebut sebagai kawasan Bulan Sabit Subur. Lihat , Ali Mufrodi, Islam di Kawasan Kebudayaan Arab (Surabaya: Anika Bahagia, 2010), 145.
[15] Badrri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, 156.
[16] Karen Armstrong, Islam Sejarah Singkat, terj. Fungky Kusnaendy Timur (Yogyakarta: Jendela, 2002), 166.
[17] Badrri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, 156..
[18] Ibid., 150; 156.
[19] Ibid., 156-157.
[20] Ibid., 157-158.
[21] Karen Armstrong, Islam Sejarah Singkat, terj. Fungky Kusnaendy Timur, 167.

No comments:

Post a Comment