--- SELALU ADA YANG BARU DI BLOG BANJIR EMBUN: "KAMI TIDAK MENGAMBIL KEUNTUNGAN MATERI DARI AKTIVITAS ANDA DI BLOG INI. BLOG BANJIR EMBUN ADALAH BLOG SOSIAL, BUKAN BLOG BERORIENTASI KEUNTUNGAN MATERI (LABA). Terima kasih atas kunjungan Anda”---

Minggu, 15 Juli 2012

MANAGEMENT SUMBER DAN MEDIA PEMBELAJARAN PAI

Link terkait tulisan atau kajian tentang sistem pembelajarandi sini

Baca juga:

1. Tesis Lengkap Karya A. Rifqi Amin (Tesis terbaik Tahun 2013)

2. Sistem Pembelajaran Pendidikan Agama Islam pada Perguru Tinggi Umum (Buku karya A. Rifqi Amin pendiri blog Banjir Embun)




MANAGEMENT SUMBER DAN MEDIA PEMBELAJARAN PAI


Oleh:  TAZKIYAH BASA'AD
(Mahasiswa S2 Program Pasca Sarjana STAIN Kediri)


  
    A.    PENDAHULUAN
Belajar adalah proses yang kompleks yang terjadi pada diri setiap orang sepanjang hidupnya. Proses belajar itu terjadi karena adanya interaksi antara seseorang. Oleh karena itu belajar dapat terjadi dimana dan kapan saja.
Apabila proses belajar itu diselenggarakan secara formal di sekolah-sekolah, tidak lain ini dimaksudkan untuk mengarahkan perubahan pada diri siswa secara terencana, baik dalam aspek pengetahuan, ketrampilan, maupun sikap. Interaksi yang terjadi selama proses belajar tersebut dipengaruhi oleh lingkungannya, yang antara lain terdiri atas murid, guru, kepala sekolah, petugas perpustakaan, bahan/materi pelajaran, dan berbagai sumber belajar serta fasilitas.
 Salah satu masalah yang dihadapi dunia pendidikan Islam kita adalah masalah lemahnya proses pembelajaran. Dalam proses pembelajaran, anak kurang didorong untuk mengembangkan kemampuan berpikir. Proses pembelajaran di kelas diarahkan kepada kemampuan anak untuk menghafal informasi, otak anak dipaksa untuk mengingat dan menimbun berbagai informasi tanpa dituntut untuk memahami secara mendalam informasi yang diingatnya itu dengan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Akibatnya, anak didik kita lulus sekolah pintar secara teoritis akan tetapi miskin aplikasi.
Kecenderungan management pembelajaran yang kurang menarik ini, merupakan hal wajar yang di alami oleh guru yang kurang memahami kebutuhan dari siswa tersebut baik dalam hal sumber, karakteristik pembelajaran, maupun dalam pengembangan ilmu. Maka dalam hal ini, peran seorang guru PAI khususnya harus mampu mengembangkan management pembelajaran PAI dengan tepat dan efisien bagi peserta didik. Pembelajaran yang baik tersebut dapat ditunjang dari berbagai aspek diantaranya, sumber pembelajaran, media pembelajaran, suasana pembelajaran yang kondusif, serta hubungan komunikasi antara guru dan siswa.     
Namun, dalam era perkembangan iptek yang begitu pesat dewasa ini, profesionalisme guru tidak cukup hanya dengan kemampuan membelajarkan siswa, tetapi juga harus mampu mengelola informasi dan lingkungan untuk menfasilitasi kegiatan belajar siswa. Dampak perkembangan iptek terhadap proses pembelajaran adalah diperkayanya sumber dan media pembelajaran, seperti buku teks, modul, overhead transparasi, film, video, televisi, slide, hypertext, web, dan sebagainya. Guru profesional dituntut mampu memilih dan menggunakan berbagai jenis media pembelajaran yang ada di sekitarnya.

   B.     MANAGEMENT SUMBER PEMBELAJARAN PAI
Sumber belajar adalah segala sesuatu yang dapat dimanfaatkan oleh siswa untuk mempelajari bahan dan pengalaman belajar sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai.[1] Dalam proses perencanaan program pembelajaran PAI, terdapat 2 sumber pembelajaran yaitu sumber pokok dan sumber tambahan.
1.      Sumber Pokok Pembelajaran PAI yaitu al-Qur'ān dan al-Hadith. Kedudukan al – Qur’an, sebagai sumber belajar yang paling utama dijelaskan oleh Allah dalam al – Qur’an. Dalam salah satu firman Allah surat al-Nahl ayat 64 yaitu:

(ayat al Quran tidak dapat ditampilkan di blog ini)
Dan kami tidak menurunkan kepadamu Alkitab (al-Qur’an) ini melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka perselisihan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.”

2.      Sumber tambahan, yang meliputi beberapa komponen penting dalam terselenggaranya proses pembelajaran. Diantaranya:
*      Manusia sebagai sumber utama pembelajaran yang menyampaikan langsung informasi tanpa menggunakan alat lain sebagai perantara.[2] Mereka itu adalah guru, dosen, instruktur tutor, nara sumber dan yang lainnya. Dalam hal pembelajaran PAI, sumber belajar manusia ini sangat penting karena terkait dengan salah satu penerapan aqidah dan syari’ah, maka guru sangat berperan dalam kontekstualisasi hal tersebut terhadap anak didik.
*       Alat dan bahan pengajaran (media) sebagai sesuatu yang memiliki pesan untuk tujuan pembelajaran. Alat dan bahan  biasanya merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan.
*      Berbagai aktifitas dan kegiatan yang dirancang oleh guru untuk menfasilitasi kegiatan belajar siswa. Seperti kegiatan berdiskusi, demonstrasi, melakukan percobaan di laboratorium, dan yang lainnya.
*      Lingkungan yang dapat mempengaruhi belajar siswa. antara lain bangunan sekolah, masjid/musholla sekolah, perpustakaan, laboratorium, ruang micro teaching, dan yang lainnya.
  Setelah mengetahui beberapa komponen sumber belajar PAI, maka seorang guru harus banyak berupaya dan berinovasi demi mengembangkan proses pembelajaran PAI agar dirasa tidak membosankan dan menjenuhkan peserta didik. Sehingga dalam hal ini, guru harus benar-benar mampu memanfaatkan beberapa sumber belajar tersebut yang disesuaikan dengan materi pelajaran, karakter siswa, kondisi dan situasi, serta efektifitas sumber pembelajaran.
Menurut hemat penulis sumber pembelajaran PAI baik yang pokok maupun tambahan memiliki produktifitas sesuai dengan kadarnya masing-masing. Sumber pokok pembelajaran PAI yaitu Al-Qur’an dan Hadith harus menjadi bagian integral dan landasan bagi setiap materi pembelajaran PAI. Sedangkan sumber tambahan pembelajaran harus dimanage sesuai dengan materi, karakter siswa, situasi dan efektifitas pembelajaran. Sebagai salah satu contoh pembelajaran materi fiqih tentang haji, maka seorang guru dianggap sangat membosankan dan tidak efektif apabila siswa hanya diajar secara teori. Maka harus ada inovasi dengan mengadakan materi secara praktek langsung dengan media yang memadai seperti membuat Ka’bah buatan, diadakan di lapangan atau ruangan terbuka dengan suasana thawaf dan sa’i, dan sebagainya.
Disamping memgembangkan sumber pembelajaran PAI dengan berbagai ragam inovasi maka seorang guru dituntut pula mampu memanfaatkan suber pembelajaran dengan seefisien mungkin. Diantara langkah pemanfaatan sumber pembelajaran yaitu:
a.       Mengidentifikasi kebutuhan akan sumber pembelajaran
b.      Mengelompokkan sumber pembelajaran yang disesuaikan dengan kelompok belajar siswa
c.       Menentukan dan menganalisa relevansi antara kelompok sumber pembelajaran dengan materi pelajaran
Dengan hal berbagai inovasi diatas diharapkan tujuan pembelajaran PAI dan produktifitas pendidikan mampu ditingkatkan sebaik mungkin dan sesuai dengan visi dan misi dari pembelajaran PAI.


     C.    MANAGEMENT MEDIA PEMBELAJARAN PAI
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini menuntut para guru PAI untuk mampu mengupayakan pembaharuan dalam pemanfaatan hasil teknologi dalam proses pembelajaran PAI. Guru sekurang-kurangnya dapat menggunakan alat yang murah dan efisien meskipun sederhana tetapi merupakan keharusan dalam upaya mencapai tujuan pembelajaran PAI yang diharapkan. Untuk itu guru harus memiliki pengetahuan tentang media pengajaran serta managementnya yang meliputi[3]: 1. Media sebagai alat komunikasi, 2. Landasan teoritis penggunaan media pembelajaran, 3. Pemanfaatan media & sumber belajar dalam mencapai tujuan, 4. Berbagai jenis dan tekhnik media pembelajaran PAI, 5. Pemilihan media pembelajaran PAI, 6. Usaha inovasi dalam media pembelajaran PAI., dan 7. Evaluasi media pembelajaran.
1.      Media sebagai Alat Komunikasi
Proses belajar mengajar pada hakekat adalah proses komunikasi, penyampaian pesan dari pengantar ke penerima. Pesan berupa ajaran tersebut dituangkan ke dalam simbol-simbol baik secara lisan maupun tulisan, yang kemudian ditafsirkan oleh penerima pesan/siswa.[4] Namun, dalam penafsiran tersebut ada kalanya berhasil dan ada kalanya gagal, kegagalan tersebut banyak disebabkan oleh gangguan yang menjadi penghambat komunikasi. Semakin banyak verbalisme semakin abstrak pemahaman yang diterima oleh siswa.
Untuk kepentingan komunikasi pembelajaran PAI tersebut, guru perlu menggunakan media dan alat pembelajaran. Dan untuk bisa mempertinggi perhatian siswa terhadap materi, guru perlu menggunakan setiap media sesuai dengan kebutuhan.[5] Sebagai contoh, media kaset audio merupakan media yang mampu mengajarkan topik-topik pembelajaran yang bersifat verbal seperti pengucapan lafal niat sholat fardhu, lafal adzan, atau pengajaran bahasa arab (muhadatsah). Contoh yang lain yaitu kebutuhan menelusuri ayat-ayat al-Qur'ān dan Hadith nabi, misalnya saat ini telah tersedia media program khusus dengan variasinya yang bisa dioperasikan dengan mudah dan cepat lewat komputer.
Di sisi lain, Mahmud Yunus juga menyebutkan bahwa dalam menggunakan media guru harus mempertimbangkan usia siswa yang akan diajar. Demikian juga tingkat intelektual, tingkat kemampuan berbahasa, dan latar belakang sosial budayanya. Isi materi pada media tersebut juga harus sesuai dan relevan dengan minat siswa.[6]
     Media pembelajaran dipahami secara garis besar adalah manusia, materi, atau kejadian yang membangun kondisi dimana membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, ketrampilan, atau sikap.[7] Dalam pengertian ini, guru, buku teks, dan lingkungan sekolah merupakan media. Secara lebih khusus pengertian media dalam proses belajar mengajar cenderung diartikan sebagai alat-alat grafis atau elektronis untuk menangkap, memproses, menyusun kembali informasi visual atau verbal dan sebagai komponen komunikasi antara guru dan siswa .
Dari penjelasan tersebut dapat dipahami bahwa media bukan hanya alat perantara seperti TV, radio, atau slide tetapi meliputi manusia sebagai sumber belajar atau juga berupa kegiatan semacam diskusi, seminar, karya wisata, dan lain sebagainya yang dikondisikan untuk menambah pengetahuan dan wawasan, mengubah sikap siswa, dan menambah ketrampilan.
2.         Landasan Teoritis Penggunaan Media Pembelajaran
Belajar adalah proses perubahan tingkah laku melalui pengalaman langsung maupun tidak langsung. Pengalaman langsung merupakan proses belajar yang sangat bermanfaat, sebab dengan mengalami secara langsung kemungkinan kesalahan persepsi akan dapat dihindari.[8]
Namun, tidak semua proses belajar dapat disajikan secara langsung. Misalnya, untuk mempelajari bagaimana kehidupan makhluk Allah di dasar laut, tidak mungkin guru membawa siswa langsung menyelam ke dasar lautan atau membelah dada manusia untuk mempelajari cara kerja organ tubuh manusia. Untuk memberikan pengalaman belajar pada siswa, guru memerlukan media seperti film atau foto-foto. Demikian juga memiliki ketrampilan membedah/melakukan operasi pada manusia, dengan menggunakan media boneka yang mirip manusia.  
Untuk memahami peranan media dalam proses mendapatkan pengalaman belajar siswa, Edgar Dale[9] menggambarkannya dalam sebuah kerucut yang dinamakan kerucut pengalaman (Cone of Experience). [10] Kerucut pengalaman ini dianut secara luas untuk menentukan media apa yang sesuai agar siswa memperoleh pengalaman belajar secara mudah.


    
Gambar 1.1. Kerucut Pengalaman Edgar Dale
            Teori yang kerucut pengalaman yang dikembangkan oleh Edgar Dale ini menjadi salah satu gambaran yang paling banyak dijadikan acuan sebagai landasan teori penggunaan media dalam proses belajar.[11] Maka landasan teori ini dapat kita terapkan dalam pembelajaran PAI, pastinya dengan mengaplikasikan teori ini dalam materi-materi PAI. Diantara uraian dan contoh aplikasinya adalah:
a.       Pengalaman langsung yaitu siswa berhubungan langsung dengan objek yang dipelajari tanpa menggunakan perantara. Misalnya, praktek tata cara bersuci, praktek shalat, praktek membaca al-Qur'ān, dan yang lainnya.
b.      Pengalaman tiruan yaitu pengalaman yang diperoleh melalui benda/kejadian yang dimanipulasi agar mendekati keadaan yang sebenarnya. Misalnya, praktek haji yang kita buat objek benda/ keadaannya hampir sama (ka’bah, hajar aswad, batas thawaf dan sa’i, dsb), penelitian organ tubuh makhluk hidup, dan yang lainnya.
c.       Pengalaman melalui drama yaitu pengalaman yang diperoleh melalui kondisi/situasi yang diciptakan melalui drama dengan menggunakan skenario yang sesuai dengan tujuan pembelajaran. Misalnya, drama mengenai kisah Nabi-nabi, drama mengenai keteladanan kaum Muhajirin dan Anshar, drama tentang pentingnya berbakti kapada orang tua, dan yang lainnya.
d.      Pengalaman melalui demonstrasi yaitu teknik penyampaian informasi melalui peragaan. Kalau dalam pengalaman drama siswa terlibat secara langsung namun, dalam pengalaman demonstrasi siswa hanya melihat peragaan orang lain. Misalnya mendemokan tata cara shalat gerhana, tata cara menjadi imam, dan yang lainnya.
e.       Pengalaman wisata yaitu pengalaman yang diperoleh melalui kunjungan siswa ke suatu objek yang ingin dipelajari. Misalnya, tadabbur alam ciptaan Allah, ziarah makam wali, dan yang lainnya.
f.       Pengalaman melalui televisi yaitu pengalaman tidak langsung dengan perantara televisi. Misalnya, siswa menyaksikan sejarah peristiwa peperangan perluasan wilayah Islam, menyaksikan keajaiban-keajaiban alam (versi Harun Yahya), dan yang lainnya.
g.      Pengalaman melalui film atau gambar hidup. Misalnya, penjelasan syar’i tentang darah haidh, nifas, isthihadah, kehamilan, keguguran, dan persoalan fiqih lainnya.
h.      Pengalaman melalui radio, tape recorder, dan gambar. Pengalaman melalui media ini sifatnya lebih abstrak. Misalnya, siswa diperdengarkan lafadz-lafadz azan, iqomah, niat-niat shalat, dan yang lainnya.
i.        Pengalaman melalui lambang visual seperti grafik, gambar, dan bagan.
j.        Pengalaman melalui lambang verbal yaitu pengalaman yang sifatnya lebih abstrak sebab siswa memperoleh pengalaman melalui bahasa baik secara lisan maupun tulisan. Misalnya, praktek pembelajaran bahasa arab, penelusuran ayat-ayat suci al-Qur'ān dan Hadith Rasulullah dengan menggunakan media verbal.
Dari landasan teori Edgar Dale ini, semakin jelas bahwa pengetahuan diperoleh dari pengalaman langsung dan tidak langsung. Semakin langsung objek yang dipelajari, maka semakin konkret pengetahuan diperoleh. Semakin tidak langsung pengetahuan itu diperoleh, maka semakin abstrak pengetahuan siswa. Dalam keadaan ini media dapat digunakan agar lebih memberikan pengetahuan yang konkret dan tepat serta mudah dipahami.
3.         Pemanfaatan Media & Sumber Pembelajaran
Penggunaan media pembelajaran pada tahap orientasi pengajaran akan sangat membantu keefektifan proses pembelajaran dan penyampaian pesan. Disamping membangkitkan motivasi dan minat siswa, media pengajaran juga dapat membantu siswa meningkatkan pemahaman, menyajikan data dengan menarik & terpercaya, memudahkan penafsiran data dan memadatkan informasi.
Hal ini juga diungkapkan oleh Abdulhalim Ibrahim[12], dalam bukunya Al-Muwajjih Al-Fanniy li Mudarrisi al-Lughah al-Arabiyah:
وسائل التعليم تجلب السرور للتلاميذ وتجدّد نشاتهم وأنّها تساعد على تثبيت الحقائق
في أذهان التلاميذ و تحيى الدرس         
Media pengajaran membawa dan membangkitkan rasa senang bagi murid-murid dan memperbarui semangat mereka. Serta membantu memantapkan pengetahuan pada benak siswa dan menghidupkan pelajaran.”
            Secara khusus media pembelajaran memiliki fungsi praktis dan peran untuk[13]:
a.       Mengatasi keterbatasan pengalaman yang dimiliki siswa
b.      Menyajikan bahan belajar yang sulit dipahami secara langsung
c.       Memungkinkan terjadinya interaksi langsung antara siswa dan lingkungan
d.      Menghasilkan keseragaman pemahaman siswa
e.       Memahamkan konsep dasar yang benar, tepat, dan nyata.
f.       Membangkitkan motivasi dan merangsang siswa untuk belajar lebih baik
g.      Membangkitkan keinginan dan minat baru
h.      Mengontrol kecepatan belajar siswa
i.        Meningkatkan kreativitas dan ijtihad
j.        Memberikan pengalaman yang menyeluruh dari hal-hal yang konkret sampai yang abstrak
Dari beberapa uraian mengenai manfaat dari media pembelajaran, maka pemanfaatan media pembelajaran tersebut harus dipandang dari kebutuhan siswa. Diantaranya: a) media tidak hanya dimanfaatkan untuk mempermudah guru menyampaikan materi, tetapi benar-benar membantu siswa belajar sesuai dengan tujuan yang akan dicapai. b) media yang digunakan harus sesuai dengan kompleksitas materi pelajaran, misalnya untuk membelajarkan siswa memahami tata cara bersuci dari hadas maka guru perlu mempersiapkan dan mempraktekkan semacam gambar/film, demonstrasi yang menggambarkan tata cara bersuci. c) media pembelajaran harus sesuai dengan minat, dan kondisi siswa. d) media yang digunakan harus memperhatikan efektivitas dan efisiensi. e) media yang digunakan harus sesuai dengan kemampuan guru dalam mengoperasikannya.
4.         Berbagai Jenis & Tekhnik Media Pembelajaran PAI
Sebagaimana telah disebutkan diatas, bahwa media pembelajaran diciptakan untuk menghilangkan verbalisme. Beberapa pakar pendidikan juga mengklasifikasikan media pembelajaran berdasarkan tujuan dan karakteristik jenis media.[14] Media pembelajaran dan tekniknya yang akan dibahas di makalah ini, yang mana disesuaikan dengan pembelajaran PAI adalah mengikuti taksonomi Leshin dan kawan-kawan[15], diantaranya:
a.       Media berbasis manusia, media ini memiliki tujuan mengubah sikap dan secara langsung terlibat dengan pemantauan pembelajaran siswa sehingga mampu mempengaruhi proses belajar melalui eksplorasi terbimbing. Salah satu faktor terpenting dalam media pengajaran berbasis manusia ialah rancangan pelajaran yang interaktif. Contoh pemanfaatan media berbasis manusia ini yaitu berupa pengalaman langsung dari praktek Thaharah, praktek shalat, praktek haji, dsb. Pengajaran interaktif dengan media berbasis manusia dapat diaplikasikan dalam berbagai bentuk: 1) partisipatori yaitu pelajaran dimulai dari sesi curah pendapat dari siswa kemudian guru mengelompokkan, mengevaluasi, dan membahas pendapat bersama siswa, 2) bermain peran yang terdiri dari beberapa siswa kemudian butir informasi penting dibahas dan disimpulkan, 3) kooperatif yaitu menciptakan kelompok/tim yang bertanggung jawab saling mengajar pengetahuan dan praktek khusus, 4) debat terstruktur.
b.      Media berbasis cetakan, yan paling umum kita kenal adalah buku teks, jurnal, majalah, dan lembaran lepas. Media ini mulai populer pada tahun 1960-an dengan istilah pengajaran terprogram yang merupakan materi untuk belajar mandiri. Beberapa cara digunakan untuk menarik perhatian pada media ini dengan kolaborasi pada warna, huruf, dan kotak pada tulisan.
c.       Media berbasis visual, media ini dapat memperlancar pemahaman, memperkuat ingatan, menumbuhkan minat siswa, dan menghubungkan antara isi materi dengan dunia nyata. Bentuk visual berupa: 1) gambar representasi (gambar, lukisan, foto), yang diaplikasikan seperti gambar kebudayaan-kebudayaan Islam di Baghdad/Mesir, 2) diagram yang melukiskan hubungan konsep, organisasi, dan struktur isi materi, 3) peta yang diaplikasikan seperti peta perluasan wilayah Islam pada masa Khulafatu al-Rāshidūn, 4) grafik, 5) pameran, papan info, slide, proyektor transparasi yang biasanya dapat diaplikasikan untuk pengenalan kosakata pengajaran bahasa arab, 6) flash card (kartu kecil yang berisi gambar/teks yang mengingatkan siswa dengan gambar tersebut) misalnya diaplikasikan dalam latihan memperlancar gerakan shalat melalui gambar-gambar flash card, 7) strip story (berupa potongan-potongan kertas yang dibuat secara acak) banyak diaplikasikan untuk cara cepat membaca dan menghafal al-Qur'ān, hadith nabi, bacaan dalam shalat, mahfudhat, dsb.
d.      Media berbasis audio visual, media ini diaplikasikan sebagai produksi dan penggunaan materi yang penyerapannya melalui pandangan dan pendengaran. Bentuk audio visual berupa: 1) video, 2) film, 3) program slide-tape, 4) televisi, rekaman tape recorder, dan ynag lainnya.
e.       Media berbasis komputer, media ini menyajikan materi pembelajaran tidak dalam bentuk cetak, visual, namun berupa digital yang dapat dianalisis oleh penggunanya. Dengan perkembanagn teknologi yang dihasilkan dari media berbasis komputer ini membuat sesuatu yang tidak mudah menjadi mudah dan yang tidak mungkin menjadi mungkin. Misalnya, penelusuran hadith-hadith Rasulullah dari segi matan dan sanad melalui software-software yang telah diciptakan.

5.         Pemilihan Media Pembelajaran PAI
Proses pendidikan PAI yang menyenangkan tentu merupakan strategi pembelajaran yang ideal karena didalamnya tidak terjadi paksaan atau kejenuhan. Peserta didik tertarik untuk belajar bukan sekedar karena mereka membutuhkan ilmu, melainkan juga karena proses yang dijalaninya itu menyenangkan.[16] Untuk mewujudkan hal tersebut maka media yang digunakan memerlukan perencanaan yang baik.
Beberapa hal yang patut diperhatikan guru dalam memilih media diantaranya:
a.       Sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai, dimana tujuan tersebut mengacu kepada ranah kognitif, afektif dan psikomotorik.
b.      Tepat untuk mendukung materi pembelajaran. Agar dapat membantu proses pembelajaran secara efektif, media harus selaras dengan kebutuhan tugas pembelajaran dan kemampuan mental siswa.
c.        Praktis, luwes, dan bertahan. Media yang dipilih sebaiknya dapat digunakan dimanapun kapanpun dengan peralatan yang tersedia di sekitarnya.
d.      Guru terampil menggunakannya.
e.       Pengelompokan sasaran. Media yang efektif untuk kelompok kecil belum tentu sama efektifnya juka digunakan pada kelompok besar.
f.       Mutu teknis.





PEMILIHAN MEDIA MENURUT SIFAT TUGAS PEMBELAJARAN (PAI)
MEDIA/TUGAS ISI
GURU INSTRUKTUR
CETAK
TRANSPARASI
SLIDE
GAMBAR ILUSTRASI
AUDIO TAPE
RADIO
FILM
KOMPUTER
VIDEO DISC
TELEVISI
SIFAT TUGAS











Menghafal
Ö
Ö


Ö

Ö

Ö


Memerlukan  prosedur fisik
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
Memerlukan penerapan prinsip-prinsip
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö


Ö
Ö
Ö
Ö
Pemahaman konsep dan hubungan
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö


Ö
Ö
Ö

Memerlukan pemikiran tingkat lebih tinggi
Ö
Ö
Ö
Ö



Ö
Ö
Ö


MEDIA/TUGAS ISI
GURU INSTRUKTUR
CETAK
TRANSPARASI
SLIDE
GAMBAR ILUSTRASI
AUDIO TAPE
RADIO
FILM
KOMPUTER
VIDEO DISC
TELEVISI
SIFAT RESPON











Memerlukan respon lisan
Ö


Ö
Ö
Ö

Ö
Memerlukan peralatan teknis
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
Suara penting untuk mempelajari tugas
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
KONTEKS PEMBELAJARAN



Memerlukan revisi dan update
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö

kelompok besar >50
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö


Ö
Kelompok sedang 10-50
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö


Ö
Kelompok kecil 2-10
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö

Latihan tutor/perorangan

Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö


6.         Usaha & Inovasi Media Pembelajaran PAI
Jika alat dan media pendidikan tersebut benar-benar dibutuhkan dan mampu membantu kesuksesan pendidikan maka membuat kreasi media dan alatnya menjadi hal yang harus dilakukan. Terlebih lagi pada masa sekarang dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi, maka proses pembelajaran PAI tidak lagi bisa dilepaskan dari media modern. Seperti peralatan laboratorium, komputer, film, dan lainnya akan sangat membantu peserta didik dalam belajar.
Sebagai guru harus berupaya untuk mengembangkan media pembelajaran, apabila media yang sesuai belum tersedia. Beberapa hal yang perlu dikembangkan guru terhadap media pembelajaran khususnya PAI yaitu:
a.       Visualisasi pesan atau informasi dikembangkan dalam berbagai ilustrasi gambar/foto yang hampir menyamai kenyataan dari suatu obyek. Dengan menampilkan gagasan visual yang jelas, dapat dimengerti dan menarik perhatian siswa. Aplikasinya bisa berupa foto, flash card, strip story, papan kantong,dll.
b.      Melalui media audio visual guru mengembangkan ketrampilan mendengar siswa dan mengevaluasi apa yang didengar, mengkombinasikan dengan varian multimedia yang menarik (radio tape-slide).
c.        Melalui media komputer guru harus mampu membuat belajar menjadi menyenangkan, menimbulkan rasa ingin tahu siswa, dan memotivasi siswa untuk terus berlatih.
7.         Evaluasi Media Pembelajaran PAI
Evaluasi media pembelajaran termasuk salah satu dari program pengembangan media. Maka sudah menjadi sesuatu yang wajib dalam mengevaluasi media pembelajaran, jika media tersebut dirancang sebagai bagian integral dari proses pengajaran.
Evaluasi terhadap media pembelajaran khususnya PAI meliputi beberapa point penting diantaranya[17]:
a.       Menentukan apakah media pengajaran tersebut efektif dilihat dari fungsinya dan dari hasil belajar siswa
b.      Menentukan apakah media tersebut dapat ditingkatkan atau diperbaiki
c.       Menentukan apakah materi pengajaran sudah tepat disajikan dengan media tersebut
d.      Menilai kemampuan guru-siswa menggunakan media tersebut
e.       Mengetahui sikap siswa terhadap media tersebut
Evaluasi dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti diskusi kelas dan kelompok, interview perorangan, observasi mengenai perilaku siswa, dan evaluasi media yang telah tersedia. 

     D.    PENUTUP
Harus diakui bahwa proses pendidikan yang tidak memanfaatkan teknologi akan mengakibatkan lambannya perkembangan keilmuan peserta didik. Sebab pendidikan yang memanfaatkan bantuan teknologi tinggi dapat meningkatkan kreativitas subjek didik. Jika laboratorium pendidikan Islam sudah lengkap dan kualitasnya memadai, maka penciptaan tradisi keilmuan di lembaga pendidikan Islam bukanlah sesuatu hal yang susah. Tradisi keilmuan yang kondusif tersebut akan sangat bermanfaat untuk peserta didik.
Dari sini tampak jelas bahwa Islam sangat menghormati hasil teknologi bahkan wajib mengembangkannya agar dapat memberikan nilai manfaat lebih kepada umat manusia guna mendapatkan kemaslahatan, kebaikan, dan kelestarian alam semesta.


BIBLIOGRAFY

Arsyad, Azhar, Media Pembelajaran, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2003).
Daryanto, Media Pembelajaran, (Yogyakarta: Gava Media, 2010).
Hamalik, Oemar, Media Pendidikan, (Bandung: PT Citra Aditya Bakti, 1994).
Ibrahim, Abdulhalim, Al-Muwajjih Al-Fanniy li Mudarrisi al-Lughah al-Arabiyah, (Cairo: Dār al-Ma'rif, 1962).
Nata, Abuddin, Prespektif Islam tentang Strategi Pembelajaran, (Jakarta: Kencana, 2011).
Roqib, Mohammad, Ilmu Pendidikan Islam, (Yogyakarta: LKIS, 2009).
Sanjaya, Wina, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, (Jakarta: Kencana Prenada Media, 2011).
Yunus, Mahmud, Pendidikan dan Pengajaran, (Jakarta: Hidakarya Agung, 1981).


[1] Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, (Jakarta: Kencana Prenada Media, 2011), Cet-8,
[2] Abuddin Nata, Prespektif Islam tentang Strategi Pembelajaran, (Jakarta: Kencana, 2011), Cet-2, 297.
[3] Oemar Hamalik, Media Pendidikan, (Bandung: PT Citra Aditya Bakti, 1994), Cet-7, 6.
[4] Daryanto, Media Pembelajaran, (Yogyakarta: Gava Media, 2010), 5
[5] Mohammad Roqib, Ilmu Pendidikan Islam, (Yogyakarta: LKIS, 2009), Cet-1, 71.
[6] Mahmud Yunus, Pendidikan dan Pengajaran, (Jakarta: Hidakarya Agung, 1981), 1.
[7] Azhar Arsyad, Media Pembelajaran, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2003), Cet-4, 3.
[8] Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran,
[9] Edgar Dale (April 27, 1900 – March 8, 1985) was an American educationist who developed the Cone of Experience. He made several contributions to audio and visual instruction, including a methodology for analyzing the content of motion pictures. Born and raised in North Dakota he received a B.A. and M.A. from the University of North Dakota and a Ph.D from the University of Chicago.
[10] Kerucut pengalaman yang dikemukakan Edgar Dale, memberikan gambaran bahwa pengalaman belajar yang diperoleh siswa dapat melalui proses perbuatan, proses mengamati melalui media, dan proses mendengarkan melalui bahasa. 
[11] Azhar Arsyad, Media Pembelajaran, 10.
[12] Abdulhalim Ibrahim, Al-Muwajjih Al-Fanniy li Mudarrisi al-Lughah al-Arabiyah, (Cairo: Dār al-Ma'rif, 1962), 432.
[13] Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran,
[14] Diantaranya 5 model klasifikasi menurut Wilbur Schramm, Gagne, Allen, Gerlach dan Ely, dan Ibrahim. 
[15] Azhar Arsyad, Media Pembelajaran, 80.
[16] Mohammad Roqib, Ilmu Pendidikan Islam, 73.
[17] Azhar Arsyad, Media Pengajaran, 174

0 komentar:

Poskan Komentar