--- SELALU ADA YANG BARU DI BLOG BANJIR EMBUN: "KAMI TIDAK MENGAMBIL KEUNTUNGAN MATERI DARI AKTIVITAS ANDA DI BLOG INI. BLOG BANJIR EMBUN ADALAH BLOG SOSIAL, BUKAN BLOG BERORIENTASI KEUNTUNGAN MATERI (LABA). Terima kasih atas kunjungan Anda”---

Rabu, 25 Juli 2012

MANAJEMEN PROSES PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM YANG BERORIENTASI PADA PROBLEMATIKA PESERTA DIDIK

Buku A. Rifqi Amin (pendiri Banjir Embun) berjudul: 



MANAJEMEN PROSES PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM YANG BERORIENTASI PADA PROBLEMATIKA PESERTA DIDIK




PEMBAHASAN

A.    Tinjauan Teori
Proses pembelajaran agama islam adalah sebagai perwujudan dakwah yang senantiasi dinamis dalam memunculkan kesadaran motivasi yang besar pada peserta didik guna mencari ridha Allah SWT. Jika pembelajaran agama islam dimaknai sebagai sesuatu yang statis maka pembelajaran hanyalah menjadi rutinitas yang kurang memiliki makna. Selain itu pembelajaran pendidikan islam hendaknya didasarkan dan digerakkan pada keimanan dan komitmen tinggi terhadap ajaran agama islam.[1]
Pembelajaran adalah proses mental dan emosional, serta berfikir dan merasakan. Seseorang pembelajar dikatakan melakukan pempbelajaranan apabila pikiran dan perasaannya aktif.[2] Dalam melakukan proses pembelajaran pendidikan agama islam seorang pendidik hendaknya harus meperhatikan prinsip-prinsip pembelajaran, karena hal tersebut digunakan sebagai kontrol bagi pendidik. Berikut ini prinsip-prinsip dalam proses pembelajaran yang harus diperhatikan oleh pendidik ketika proses pembelajaran berlangsung:
1.    Prinsip perhatian dan motivasi
2.    Prinsip keaktifan
3.    Prinsip keterlibatan langsung/berpengalam
4.    Prinsip pengulangan
5.    Prinsip tantangan
6.    Prinsip balikan dan penguatan
7.    Prinsip perbedaan individual.[3]
Pembelajaran ilmu Pendidikan Agama Islam bukan sekedar upaya untuk memberikan pengetahuan yang beroerientasi pada target penguasan materi (peserta didik lebih banyak menghafal dari pada memahami dan mengimani materi) yang diberikan pendidik. Akan tetapi hendaknya pendidik juga memberikan sebuah  pedoman hidup (pesan pembelajaran) kepada peserta didik yang akan dapat bermanfaat bagi dirinya dan manusia lain.  Pembelajaran Agama Islam juga harus memberikan hiburan (eduatainment) kepada peserta didik agar bisa menjalankan aktivitas pembelajaran dengan menyenangkan bukan karena keterpakasaan. Karena Rasulullah pun dalam mendidik para sahabat kadang kala juga menyertakan selipan-selipan canda.  Pernyataan tersebut diperkuat oleh pendapat Ahmad Sabri dalam bukunya bahwa orang yang sudah melakukan proses bempembelajaran diharapkan akan bisa merasa lebih bahagia, lebih pantas memanfaatkan alam sekitar, menjaga kesahatan, meningkatan pengabdian untuk ketrampilan serta melakukan pembedaan (terdapat perbedaan keadaan antara sebelum dan sesudah melakukan proses pembelajaran).[4]
Istilah pembelajaran berhubungan erat dengan pengertian pembelajaran dan mengajar, yang mana pembelajaran-mengajar dan pembelajaran terjadi secara bersama-sama. Proses pembelajaran dapat pula terjadi tanpa kehadiran pendidik atau tanpa kegiatan mengajar dan pembelajaran secara formal. Akan tetapi proses pembelajaran dapat dilakukan di manapun dan kapanpun tanpa terikat formalitas lembaga pendidikan. Sedangkan mengajar atau pembelajaran secara formal yaitu meliputi segala hal yang pendidik lakukan di kelas atau di luar kelas dalam suatu jam mata pelajaran atau di luar jam mata pelajaran yang masih ada ikatan dengan peraturan sekolah. Hal ini diperkuat oleh pernyataan Wijaya Kusumah dalam artikelnya bahwa Strategi dan pendekatan pembelajaran tidak lagi bertumpu pada pendidik tetapi berorientasi pada peserta didik sebagai subyek (student centered). Pendidik bukan lagi satu-satunya sumber pembelajaran bagi peserta didik. Tanpa pendidik, pembelajaran tetap dapat dilaksanakan karena adanya sumber pembelajaran yang lain.[5]
Sehingga dapat penulis katakan fungsi pendidik dalam dunia pendidikan islam adalah sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran pendidikan agama Islam. Pernyataan tersebut diperkuat oleh Wijaya Kusumah bahwasanya:

Kegiatan pembelajaran bisa saja terjadi walaupun tidak ada kegiatan mengajar. Begitu pula sebaliknya, kegiatan mengajar tidak selalu dapat menghasilkan kegiatan pembelajaran. Ketika Anda menjelaskan pelajaran di depan kelas misalnya, memang terjadi kegiatan mengajar. Tetapi, dalam kegiatan  itu tak ada jaminan telah terjadi kegiatan pembelajaran pada setiap peserta didik yang Anda ajar. Kegiatan mengajar dikatakan berhasil hanya apabila dapat mengakibatkan / menghasilkan kegiatan pembelajaran pada diri peserta didik. Jadi, sebenarnya hakekat pendidik mengajar adalah usaha pendidik untuk membuat peserta didik pembelajaran. Dengan kata lain, mengajar merupakan upaya menciptakan kondisi agar terjadi kegiatan pembelajaran.[6]

Istilah pembelajaran lebih menggambarkan usaha pendidik untuk membuat pembelajaran para peserta didiknya. Kegiatan pembelajaran tidak akan berarti jika tidak menghasilkan kegiatan pembelajaran pada para peserta didiknya. Kegiatan pembelajaran hanya bisa berhasil jika si pembelajaran secara aktif mengalami sendiri proses pembelajaran. Seorang pendidik tidak dapat “mewakili” pembelajaran untuk peserta didiknya. Begitu pula peserta didik tidak dapat mewaikili pembelajaran peserta didik lainnya. Seorang peserta didik belum dapat dikatakan telah melakukan proses pembelajaran hanya karena ia sedang berada dalam satu ruangan dengan pendidik yang sedang mengajar. Bisa jadi peserta didik dalam sebuah ruangan tersebut hanya melamun dan tidak mempertahitakan materi pembelajaran dari sumber pembelajaran yang telah difasilitasi oleh pendidik. Ada satu syarat mutlak yang harus dipenuhi agar terjadi kegiatan pembelajaran. Syarat itu adalah adanya interaksi antara pepembelajaran (learner) dengan sumber pembelajaran. Jadi, pembelajaran hanya terjadi jika ada interaksi antara pembelajaran dengan sumber pembelajaran. Tanpa terpenuhi syarat itu, mustahil kegiatan pembelajaran akan terjadi.[7]
Pembelajaran pendidikan Agama Islam adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seorang peserta didik. Inilah yang merupakan sebagai inti proses pembelajaran. Perubahan teresebut bersifat; 1. Intensional, yaitu perubahan yang terjadi karena pengalaman atau praktek yang dilakukan, proses pembelajaran dengan sengaja dan disadari, bukan terjadi karena kebetulan, 2. Positif-aktif, perubahan yang bersifat positif-aktif. Perubahan bersifat positif yaitu perubahan yang bermanfaat sesuai dengan harapan pelajar, disamping menghasilkan sesuatu yang baru dan lebih baik dibanding sebelumnya, sedangkan perubahan yang bersifat aktif yaitu perubahan yang terjadi karena usaha yang dilakukan pelajar, bukan terjadi dengan sendirinya, 3. Efektif fungsional, perubahan yang bersifat efektif yaitu dimana adanya perubahan yang memberikan pengaruh dan manfaat bagi pelajar. Adapun yang bersifat fungsional yaitu perubahan yang relatif tetap serta dapat diproduksi atau dimanfaatkan setiap kali dibutuhkan.[8] Teori pembelajaran tidak saja berbicara tentang bagaimana peserta didik belajar, tetapi juga mempertimbangkan hal-hal lain  yang mempengaruhi peserta didik secara psikologis, biologis, antropologis, dan sosiologis.[9]
Dapat penulis simpulkan dalam pembahasan di atas bahwasanya terjadinya perubahan menjadi lebih baik pada diri peserta didik tidak hanya disebabkan oleh faktor penyampaian materi pembelajaran oleh pendidik yang baik dan mudah dicerna oleh peserta didik, akan tetapi perubahan itu murni dari kehendak peserta didik itu sendiri. Oleh karena itu tugas pendidik dalam proses pembelajaran adalah menjadikan peserta didik mau dan mampu melakukan proses pembelajaran pendidikan Agama Islam secara efektif dan efesian (tepat sasaran/sesuai kebutuhan atau kemampuan dan berdaya guna). Dan media pembelajaran adalah sarana yang cukup meringankan tugas pendidik untuk proses pembelajaran.

B.     Manajemen Proses Pembelajaran PAI
Menurut penulis arti dari  manajeman adalah pengelolalaan umpan balik dari berbagai hal untuk melahirkan kebijakan dalam jangka pendek dan panjang. Sedangkan proses adalah usaha atau pergerakan secara terus menurus yang memiliki tujuan. Pembelajaran adalah terjadinya motivasi pada peserta didik untuk berinteraksi dengan sumber belajar. Dalam konsep pembelajaran terkandung lima konsep, yakni interaksi, peserta didik, pendidik, sumber belajar, dan lingkungan belajar. 
Sehingga penulis dapat merumuskan pengertian dan teori tentang manajemen proses pembelajaran PAI, yaitu usaha sistematis dan upaya pembaruan yang didasarkan pada pengelolaan umpan balik (fungsi manajeman) untuk memotivasi peserta didik agar sadar dalam mempelajari ajaran islam dan mempraktikan nilai-nilai islam dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini berbeda dengan pengertian manajemen proses pembelajaran PAI secara normatif yang mengidentifikasikan pengertian manajeman proses pembelajaran PAI sebagai ilmu terapan yang tersistem dan berlaku formal bagi seorang pendidik, di mana memiliki  keterbatasan ruang dan waktu. Ditentukan tema dan prosedural (terdapat RPP: kegiatan awal, inti, dan akhir).
Perencanaan dalam proses pembelajaran PAI adalah bagian utuh dari fungsi Manajemen proses pembelajaran PAI. Dengan adanya perencanaan maka pola pikir pendidik akan mengarah pada bagaimana agar tujuan pembelajaran dapat dicapai dengan efektif dan efisien. Dengan kata lain adanya hasil yang ingin dicapai akan mewujudkan cara bagaimana memperoleh hasil tersebut. Selain itu dengan adanya perencanan menurut Kaufman yang dikutip oleh Wina Sanjaya bahwa perencanaan adalah suatu proses dalam menetapkan arah dan fokus tujuan.[10] Sehingga dapat disimpulkan bahwa pada setiap perencanaan minimal harus memiliki empat unsur sebagai berikut:
1.      Adanya tujuan yang ingin diperoleh.
2.      Terdapat strategi dalam mencapai tujuan.
3.      Memiliki sumber daya yang sesuai dengan tujuan.
4.      Implementasi setiap keputusan.[11]
Pembelajaran dikatakan sebagai sistem karena di dalamnya mengandung komponen yang saling berkaitan untuk mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan.[12] Manajemen proses pembelajaran PAI tidak bisa lepas dari manajemen-manajemen lain dalam satu sistem pendidikan secara umum. Dapat dirumuskan bahwa manajemen pembelajaran PAI merupakan ilmu terapan yang sistematis yang berkenaan dengan peran seorang pendidik PAI melalui perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, kepemimpinan, dan evaluasi[13]
Secara praktis dalam manajemen proses pembelajaran PAI posisi proses sangat penting dan utama daripada hasil untuk menentukan keberhasilan pengajaran. Karena hasil yang dilihat untuk mengetahui keberhasilan pendidikan agama islam bukanlan dari nilai yang tertera di raport atau lembar penilaian namun sikap dan prilaku keagamaannya yang baik. Oleh karena itu pendidik sebagai fasilitator dalam pendidikan agama Islam dalam mengetahui keberhasilan pembelajaran peserta didiknya dapat terlihat pada prilaku dan sikap keagamaan peserta didik setelah di berikan pengajaran. Dalam proses pembelajaran agama islam di sekolah setingkat SMA biasanya dilakukan melalui proses pembelajaran intrakurikuler yaitu proses pembelajaran di kelas dan ekstrakurikuler proses pembelajaran melalui organisasi keagamaan.[14]
Adapun manfaat dalam melakukan manajemen proses pembelajaran PAI adalah sebagai berikut:
  1. Menghindarkan pendidik dari pencapaian keberhasilan yang spekulatif. Dengan manajemen akan diketahui prediksi seberapa besar keberhasilan pembelajaran yang akan dicapai.
  2. Data atau dokumen manajemen dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk memecahkan masalah dalam proses pembelajarann PAI.
  3. Untuk memanfaatkan sumber daya secara tepat.
  4. Proses pembelajaran berjalan dengan sistematis dan terorganisir.[15]

C.    Pendidikan Agama Islam Beroirientasi pada Problematika Peserta Didik
Pendidik diharapkan mampu meningkatkan keterlibatan mental peserta didik dalam proses pembelajaran, aspek emosional, spiritual dan intelektualnya. Selain itu guru harus mampu menjadi mitra belajar bagi peserta didik, peserta didik akan belajar kalau guru juga belajar. Kegiatan belajar peserta didik juga harus memiliki kaitan dengan pengalaman mereka dalam kehidupan sehari-hari. Pelajaran akan menarik jika memiliki kaitan dengan kehidupan sehari-hari peserta didik serta difasilitasi oleh guru agar peserta didik tertantang untuk menerapkannya.[16]
Selama ini kebanyakan pendidik PAI terutama di Madrasah telah melakukan penyeragaman berfikir dengan memfokuskan materi PAI dalam satu titik, tanpa melibatkan peserta didik untuk memberikan sumbangan pemikirin. Pendidik PAI dalam melakukan proses pembelajaran PAI hendaknya berpanduan pada ‘sesuatu’ yang ada pada peserta didik, baik peserta didik secara pribadi maupun kolektif satu kelas. Bukan perbanduan pada materi ajar yang memaksakan peserta didik harus menerima doktrin tanpa mengetahui esensi materi ajarnya. Karena pada dasarnya peserta didik sudah memiliki modalitas yaitu berupa ‘doktrin’ dari keluarganya, baik doktrin yang sengaja diberikan oleh orang tuanya, maupun doktrin yang diterima oleh peserta didik melalui pengamatan tingkah laku keluarganya.
Untuk memperkuat pendapat penulis di atas maka akan penulis paparkan hasil dari peneletian yang dilakukan oleh Miller, ia menemukan bahwa peserta didik sebagai subjek didik telah mengalami keterasingan di sekolah. Keterasingan peserta didik di Madrasah telah menjadi pemicu munculnya berbagai penyimpangan, seperti vandalisme, seks bebas, dan tindakan yang melanggar norma. Miller juga menemukan bahwa salah satu penyebab utama peserta didik mengalami keterasingan di sekolah adalah karena model pembelajaran yang melanggar nilai-nilai kemanusiaan.[17] Atau dengan kata lain dapat penulis simpulkan bahwa dengan adanya perasaan bahwa dirinya ‘asing’ oleh siswa di sekolah telah menimbulkan sikap pelampiasan diri yang pada siswa memiliki tujuan masing-masing. Keterasingan tersebut terjadi karena tidak adanya hubungan sosiologis dan psikologis antara peserta didik dengan seluruh komponen lingkungan pendidikan. Peserta didik tidak memiliki rasa cinta dan rasa memiliki madrasah sebagai tempat mereka untuk proses pembelajaran.
PAI pada lembaga pendidikan formal selama ini lebih menekankan pada aspek normatif dari pada berorietasi pada peserta didik. Pendidik dalam merancang PAI biasanya berorientasi mengejar materi pelajaran pada SK (standar kompetensi) dan KD (kompetensi dasar) yang telah ditetapkan. Padahal peserta didik sebagai manusia mempunyai nalar dan kesadaran (walaupun adakalnya peserta didik belum mempu menjelaskan secara verbal pada orang lain) tentang apa yang peserta didik lebih butuhkan[18]. Dengan kata lain, Proses pembelajaran PAI hendaknya lebih didasarkan pada kebutuhan subjek didik dari pada secara normatif, karena peserta didik memiliki latar belakang sosio-kultur dan madhab atau organisasi keagamaan berbeda-beda yang telah ia bawa dari rumah.
PAI yang berorientasi pada subjek didik adalah proses pembelajaran yang melihat kondisi objektif peserta didik. Salah satu kondisi umum yang ada pada peserta didik dalam proses pembelajaran PAI adalah berkurangnya pola pikir kritis dan kreatif. Proses pembelajaran lebih ditekankan pada proses penyeragaman ‘hasil’ yang dicapai pada setaip peserta didik. Sehingga dalam proses pembelajara PAI hendaknya juga dituangkan metode-metode yang bisa mebuat peserta didik mau dan mampu mengeluarkan pendapat, menganalisi suatu kasus, dan memberikan penilaian serta menyimpulkan suatu perkara.[19]

D.    Faktor yang Mempengaruhi Kualitas Proses Pembelajaran
Menurut Husnul Atiah tentang kualitas pembelajaran bahwa “Proses belajar mengajar dapat berlangsung dengan baik apabila seorang pendidik mampu mengatur waktu yang tersedia dengan sebaik mungkin.[20] Berikut ini Husnul mengidentifikasi empat fungsi umum yang merupakan ciri pekerjaan seorang guru sebagai manajer adalah:
1. Merencanakan. Ini pekerjaan seorang guru untuk menyusun tujuan belajar
2. Mengorganisasikan. Ini adalah pekerjaan seorang guru untuk mengatur dan menghubungkan sumber-sumber belajar, sehingga dapat mewujudkan tujuan pembelajaran dengan cara yang paling efektif dan efisien.
3. Memimpin. Ini adalah pekerjaan seorang guru untuk memotivasikan, mendorong dan menstimulasikan siswanya, sehingga mereka akan siap untuk mewujudkan tujuan pembelajaran.
4. Mengawasi. Ini adalah pekerjaan seorang guru untuk menentukan apakah fungsinya dalam mengorganisasikan dan memimpin telah berhasil dalam mewujudkan tujuan yang telah dirumuskan.[21]
        Kualitas proses pembelajaran merupakan salah satu titik tolak ukur yang dapat menentukan berhasil atau tidaknya proses pembelajaran. Perlu penulis tegaskan di sini bahwa ukuran berkualitas atau tidaknya suatu sekolah adalah relatif, karena tolak ukur yang digunakan terus menerus akan senantiasia mengalami perubahan sesuai dengan perubahan tantangan era atau jaman. Menurut Rohmat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kualitas pendidikan yaitu ”faktor pendidik, faktor peserta didik, faktor kurikulum, faktor pembiayaan, dan lain-lain.[22] Untuk mempertegas realitas kualitas Proses Pembelajaran PAI selama ini, maka penulis akan memaparkan pendapat Sukirman, berikut pendapatnya:
Suatu kenyataan yang dihadapi dunia pendidikan khususnya Pendidikan Agama Islam di lembaga pendidikan formal saat ini, adalah rendahnya kualitas manajerial pembelajaran baik pada tataran perencanaan, pelaksanaan maupun cara pengendaliannya, akibatnya proses pembelajaran pendidikan Agama Islam kurang berhasil dalam pembentukan perilaku positif siswa. Lemahnya aspek metodologi yang dikuasai oleh guru juga merupakan penyebab rendahnya kualitas pembelajaran. Metode yang banyak dipakai adalah model konvensional yang kurang menarik. Ketidakberdayaan pendidikan agama dalam menginternalisasikan nilai-nilai agama juga merupakan salah satu faktor penyebab munculnya output yang tidak mampu mengemban misi pendidikan nasional yaitu menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah Swt. Oleh karenanya rekonstruksi terhadap manajemen program-program pembelajaran agama mutlak dilakukan demi tercapainya tujuan yang diharapkan.[23]

Yang dimaksud proses pembelajaran di sini adalah efektif tidaknya proses pembelajaran dalam pencapaian tujuan pembelajaran. Hasil pembelajaran yang dicapai peserta didik dipengaruhi oleh dua faktor utuma yakni faktor dari lingkungan dan faktor dari diri peserta didik seperti motivasi pembelajaran, minat dan  perhatian, sikap dan kebiasaan pembelajaran, ketekunan, sosial, ekonomi dan faktor fisik dan psikis serta faktor utama yaitu kemampuan yang dimiliki peserta didik untuk cepat memahami segala sesuatu.
Tiga unsur yang sangat mempengaruhi kualitas pembelajaran adalah kompetensi pendidik, karakteristik kelas dan karakteristik sekolah. Untuk lebih jelasnya penulis akan memaparkan secara acak ke tiga unsur tersebut agar dapat dipahami dengan mudah. Komptensi pendidik mempengaruhi kualitas pembelajaran adalah satu proses yang terjadinya interaksi antara pendidik dan peserta didik, salah satu yang mempengaruhi kualitas pembelajaran adalah pendidik (dalam hal ini adalah kompetensi yang dimilikinya). Dengan asumsi, bahwa pendidik adalah sutradara dan sekaligus aktor dalam proses pembelajaran. Ini tidaklah berarti mengesampingkan variabel lain, yaitu seperti media pembelajaran.
Selain karena faktor pendidik, kualitas pengajaran juga dipengaruhi oleh karakteristik kelas. Variabel karakteristik kelas antara lain;
a.    Besarnya (class size). Artinya, banyak sedikitnya jumlah peserta didik yang mengikuti proses pengajaran.
b.    Suasana pembelajaran. Suasana pembelajaran yang demokratis akan memberi peluang mencapai hasil pembelajaran yang optimal, dibandingan dengan suasana yang kaku, disiplin yang ketat dengan otoritas penuh pada pendidik.
c.    Fasilitas dan sumber pembelajaran yang tersedia. Sering kita temukan dalam proses pembelajaran di kelas bahwa pendidik sebagai sumber pembelajaran satu-satunya. Padahal seharusnya peserta didik diberi kesempatan untuk berperan sebagai sumber pembelajaran dalam proses pembelajaran.[24]
Faktor lain yang mempengaruhi kualitas pengajaran di sekolah adalah karakteristik sekolah itu sendiri, yang mana sangat berkaitan erat dengan disiplin (tata tertib) sekolah, media pembelajaran yang dimiliki, letak geografis sekolah, lingkungan sekolah, estetika dan etika dalam arti sekolah memberikan perasaan nyaman, kepuasan peserta didik, bersih, rapi dan memberikan inspirasi.
Menurut penulis faktor-faktor tersebut merupakan komponen pendidikan yang satu diantara yang lain saling berhubungan dan menunjang, karena apabila salah satu diantara unsur tersebut tidak memenuhi standar kualitas  pendidikan, maka kemungkinan besar kualitas pembelajaran tidak akan tercapai secara optimal.

E.     Problematika Proses Pembelajaran PAI

Sebelum penulis membahas tentang beberapa problem yang ada pada peserta didik, perlu kiranya penulis jabarkan dulu arti dari kata ‘problematika’ itu sendiri. Kata problematika berasal dari kata problem yang berarti masalah atau persoalan, dan juga berakar kata dari kata problematik yang berarti permasalahan; hal yang menimbulkan masalah, hal yang belum dapat dipecahkan.[25] Sehingga penulis dapat menyimpulkan bahwa problematika yang ada pada peserta didik merupakan suatu masalah yang ada pada diri peserta didik yakni dapat berupa multiculturnya peserta didik dalam satu kelas, perbedaan golongan agama, perbedaan latar belakang ekonomi dan ideologi politik serta ideologi fanatisme pada ‘sesuatu’ yang ada pada keluarganya.
Menurut penulis ada enam macam istilah problematika pemanfaatan media pembelajaran yang istilah tersebut penulis ambil dari pendapat Abu Ahmadi dan Nur Uhbiyati dalam bukunya yang sebenarnya problematika itu menyangkut promblematika pendidikan secara umum, berhubung istilah itu sangat relevan maka penulis mengambil isitlah itu untuk dimasukkan ke dalam problematika proses pembelajaran PAI secara umum. Problematika yang berkaitan dengan proses pembelajaran itu menyangkut 5 W 1 H, yaitu:
1.      Probelamatika Who (siapa), menyangkut pendidik dan anak didik dalam menyukseskan proses pembelajaran.
2.      Problematika Why (mengapa), menyangkut pelaksanaan proses pembelajaran.
3.      Problematika Where (di mana), menyangkut tempat proses pembelajaran, di laboratorium PAI, terjun langsung di Masyarakat, atau di dalam kelas.
4.      Problematika When (bilamana/kapan), menyangkut pengaturan waktu dalam pelaksanaan proses pembalajaran, juga menyangkut usia peserta didik dalam menentukan pendekatan pendidik dalam mengajar.
5.      Problematika What (apa), menyangkut dasar, tujuan dan bahan/materi proses pembelajaran itu sendiri.
6.      Problematika How (bagaimana), menyangkut cara/metode yang digunakan dalam proses pembelajaran, berhubung peserta didik mempunyai sifat dan bakat yang berbeda-beda dalam proses pembelajaran.[26].
Peserta didik sebagai manusia adalah makhluk yang unik dan penuh misteri, makhluk yang dinamis, dan memiliki potensi yang pada setiap perkembangannya  memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Manusia sebagai makhluk hidup memiliki perbedaan dengan makhluk lain yaitu hanya manusia yang memiliki iman dan ilmu.[27]


BIBLIOGRAFI

 “Implementasi Pendidikan Agama Islam dalam Proses Pembelajaran pada Iswa SMA 1 Tanjung Agung,” dalam http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2024319-implementasi-pendidikan-agama-islam-dalam/.

 “Manajemen Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam Membentuk Etos Kerja Islami Peserta Didik di SMK,” dalam http://novanardy.blogspot.com/2010/11/manajemen-pembelajaran-pendidikan-agama.html.

Atiah, Husnul “Manajemen Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Sebagai Upaya Guru Dalam Menciptakan Siswa Aktif di Sekolah Dasar Negeri 120/V Tungkal Harapan.” Skripsi tidak diterbitkan. Jambi:Tarbiyah.  Sekolah Tinggi Agama Islam An – Nadwah Kuala Tungkal Kopertais Wilayah XIII, Jambi, 2010.

Departeman Pendidikan dan Kebudayaan. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 1993.

Kusumah, Wijaya. Pemanfaatan Sumber Belajar di Sekolah, dalam http://purwanto.web.id/?p=90.

Moh. Roqib, Ilmu Pendidikan Islam: Pengembangan Pendidikan Integratif di Sekolah, Keluarga, dan Masyarakat .Yogyakarta: Lkis, 2009.

Nusibad, Laila.  “Manajemen Proses Pembelajaran Pada Sekolah Kejuruan (Studi Kasus Di SMK Negeri 4 Malang),” dalam http://karya-ilmiah.um.ac.id/index.php/ASP/article/view/18498.

R. Ibrahim, dkk., Kurikulum dan Pembelajaran .Jakarta: Rajawal, 2011.

Rohmad, Ali. Kapita Selekta Pendidikan .Tulungagung: STAIN Tulungagung, 2004.

Sabri, Ahmad. Strategi Belajar Mengajar dan Micro Teaching. Jakarta: Quantum Teaching, 2005.

Sanjaya, Wina. Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran. Jakarta: Kencana, 2011.

Sukirman, “Manajemen Pengembangan Program Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Malang.” Tesis tidak diterbitkan, Malang: Universita Islam Negeri Malang, 2010.

Sutrisno, “Pendidikan Agama Islam Berorientasi pada Problem Subyek Didik” Seminar Pasca Sarjana STAIN Kediri.
Warsita, Bambang. Teknologi Pembelajaran;, Landasan dan Aplikasinya. Jakarta: Rineka Cipta, 2008.



[1]Moh. Roqib, Ilmu Pendidikan Islam: Pengembangan Pendidikan Integratif di Sekolah, Keluarga, dan Masyarakat (Yogyakarta: Lkis, 2009), 18-19.
[2]R. Ibrahim, dkk., Kurikulum dan Pembelajaran (Jakarta: Rajawal, 2011), 125.
[3]Ibid., 183-187.
[4]Ahmad Sabri, Strategi Belajar Mengajar dan Micro Teaching (Jakarta: Quantum Teaching, 2005), 34.
[5]Wijaya Kusumah, Pemanfaatan Sumber Belajar di Sekolah, dalam http://purwanto.web.id/?p=90, diakses tanggal 6 Juni 2009, pukul 19.34 WIB.
[6]Ibid,.
[7]Wijaya Kusumah, Pemanfaatan Sumber Belajar di Sekolah, dalam http://purwanto.web.id/?p=90, diakses tanggal 6 Juni 2009, pukul 19.34 WIB.
[8]Sabri, Strategi Pembelajaran Mengajar, 34.
[9]Bambang Warsita, Teknologi Pembelajaran;, Landasan dan Aplikasinya (Jakarta: Rineka Cipta, 2008), 61.
[10]Wina Sanjaya, Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran, (Jakarta: Kencana, 2011), 24.
[11]Sanjaya, Perencanaan dan Desain, 24.
[12]Laila Nusibad, “Manajemen Proses Pembelajaran Pada Sekolah Kejuruan (Studi Kasus Di SMK Negeri 4 Malang),” dalam http://karya-ilmiah.um.ac.id/index.php/ASP/article/view/18498, diakses tanggal 05 Mei 2012 pukul 19.30 WIB.
[13]Manajemen Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam Membentuk Etos Kerja Islami Peserta Didik di SMK,” dalam http://novanardy.blogspot.com/2010/11/manajemen-pembelajaran-pendidikan-agama.html, diakses tanggal 05 Mei 2012 pukul 19.35 WIB.
[14]“Implementasi Pendidikan Agama Islam dalam Proses Pembelajaran pada Iswa SMA 1 Tanjung Agung,” dalam http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2024319-implementasi-pendidikan-agama-islam-dalam/
[15]Sanjaya, Perencanaan dan Desain, 33-34.
[16]Husnul Atiah, “Manajemen Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Sebagai Upaya Guru Dalam Menciptakan Siswa Aktif di Sekolah Dasar Negeri 120/V Tungkal Harapan,” (Skripsi, Sekolah Tinggi Agama Islam ( Stai ) An – Nadwah Kuala Tungkal Kopertais Wilayah XIII, Jambi,2010).
[17]Sutrisno, “Pendidikan Agama Islam Berorientasi pada Problem Subyek Didik” Makalah disajikan dalam Seminar Pasca Sarjana STAIN Kediri, Kediri, 15 Maret 2012, 1.
[18]Sutrisno, “Pendidikan Agama Islam,” 2.
[19]Ibid., 3-4.
[20]Husnul Atiah, “Manajemen Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Sebagai Upaya Guru Dalam Menciptakan Siswa Aktif di Sekolah Dasar Negeri 120/V Tungkal Harapan,” (Skripsi, Sekolah Tinggi Agama Islam ( Stai ) An – Nadwah Kuala Tungkal Kopertais Wilayah XIII, Jambi,2010).
[21]Husnul Atiah, “Manajemen Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Sebagai Upaya Guru Dalam Menciptakan Siswa Aktif di Sekolah Dasar Negeri 120/V Tungkal Harapan,” (Skripsi, Sekolah Tinggi Agama Islam ( Stai ) An – Nadwah Kuala Tungkal Kopertais Wilayah XIII, Jambi,2010).
[22]Ali Rohmad, Kapita Selekta Pendidikan (Tulungagung: STAIN Tulungagung, 2004),  20.
[23]Sukirman, “Manajemen Pengembangan Program Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Malang,” (Tesis MA., Universita Islam Negeri Malang,Malang, 2010), V.
[24]Sabri, Strategi Pembelajaran Mengajar, 51-52.
[25]Departeman Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia(Jakarta: Balai Pustaka, 1993), 701.
[26]Abu Ahmadi dan Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan (Jakarta: Rineka Cipta, 2001), 255-260.
[27]Ibid,. 24.

0 komentar:

Poskan Komentar