Blog ini Tanpa Tampilan Iklan dan Tanpa Download Berbayar Sampai Kiamat!
--- SELALU ADA YANG BARU DI BLOG BANJIR EMBUN: KAMI TIDAK MENGAMBIL KEUNTUNGAN MATERI DARI AKTIVITAS ANDA DI BLOG INI. BLOG BANJIR EMBUN ADALAH BLOG SOSIAL BUKAN BLOG BERORIENTASI KEUNTUNGAN MATERI (LABA)”---

Rabu, 04 Juli 2012

MODEL PEMBELAJARAN PAI DI SD, SMP DAN SMA

MODEL PEMBELAJARAN PAI
DI SD, SMP DAN SMA


Foto Fajar Nahari (sumber foto: facebook)
Oleh: Fajar Nahari 
(Mahasiswa Program Pascasarjana S2 STAIN Kediri)



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Islam sudah mengatur agar manusia menjadi seseorang yang berpendidikan. Ada hadits yang menerangkan bahwa menuntut ilmu hukumnya wajib bagi umat Islam dan juga hadits yang menerangkan tuntutlah ilmu walaupun ke negeri Cina. Hal ini membuktikan bahwa Islam menganjurkan umatnya untuk bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu. Di dalam pendidkan tidak lepas dari berbagai komponen yang ada. Sebagaimana kita ketahui, di dalam proses pendidikan haruslah ada seorang pendidik, terdidik, sarana prasarana, dan juga kurikulum. Dengan adanya komponen yang baik dari komponen tersebut maka tujuan pendidikan akan terwujud.
Tujuan adalah suatu yang diharapkan tercapai setelah sesuatu usaha atau kegiatan selesai. Maka pendidikan, karena merupakan suatu usaha dan kegiatan yang berproses melalui tahap-tahap dan tingkatan-tingkatan, tujuannya bertahap dan bertingkat.[1] Muhammad Athiyah al-Abrasyi merumuskan tujuan pendidikan Islam secara lebih rinci. Dia menyatakan bahwa tujuan pendidkan Islam adalah untuk membentuk akhlak mulia, persiapan menghadapi kehidupan dunia-akhirat, persiapan untuk mencari rizki, menumbuhkan semangat ilmiah, dan menyiapkan profesionalisme subjek didk. Dari lima tujuan pendidikan tersebut semuanya harus menuju pada titik kesempurnaan yang salah satu indikatornya adalah nilai tambah kuantitatif dan kualitatif.[2] Dari tujuan tersebut nyatalah bahwa Islam menginginkan agar kelak setelah mendapat pendidikan agama Islam terciptalah manusia yang siap dalam segala hal.
Pendidikan tidak lepas dari segala aspek yang sudah tersebutkan tadi. Aspek yang penting diantaranya adalah kurikulum dan juga peserta didik. Kurikulum dan peserta didik ini menjadi hal yang tidak terpisahkan. Ini karena kurikulum menyesuaikan dengan tingkatan peserta didik itu sendiri. Di dalam proses pembelajaran PAI, terjadi pula interaksi antara guru (pendidik) dan siswa (peserta didik). Para guru PAI di setiap institusi pendidikan,, sangat diharapkan memiliki bahkan dituntut untuk menguasai pembelajaran PAI.[3] Ini tidak lain bertujuan agar materi yang tersampaikan nanti bisa tersampaikan secara maksimal kepada peserta didik. Di dalam pembelajaran adanya manajemen kesiswaan. Ini tidak lain agar bertujuan untuk mengatur berbagai kegiatan dalam bidang kesiswaan agar kegiatan pembelajaran di sekolah dapat berjalan dengan lancar, tertib, teratur, serta mampu mencapai tujuan pendidikan sekolah.[4]
 Sebagaimana kita ketahui bahwa dalam sistem pendidikan di negara Indonesia ini peserta didik dibagai dalam tingkatan-tingkatan. Diantaranya adalah tingkat SD, SMP dan SMA. Tingkatan ini sudah menjadi formula agar materi pendidikan dapat tersampaikan di masing-masing tingkatan. Dalam menyampaikan materi untuk masing-masing tingkatan perlu juga adanya model pembelajaran yang sesuai. Hal ini tidak lain agar peserta didik menerima materi secara maksimal. Hal ini pula terjadi untuk Materi PAI.
Materi PAI adalah materi yang berisikan tentang hal-hal yang berdasarkan Islam yang bersumber pada Al-Qur’an, hadits, ijma’ dan qiyas. Materi ini penting disampaikan, dan juga penyampaiannya menggunakan model yang sesuai dengan tingkatan kelas masing-masing. Ini agar nantinya tercipta insan kamil yang bertaqwa kepada Allah SWT. Oleh karena itu dalam makalah ini akan disampaikan mengenai materi PAI apa yang sesuai dengan tingkatan SD, SMP, dan SMA. Dan juga bagaimana model pembelajaran untuk tingkatan SD, SMP, dan SMA.

B.     Rumusan Masalah
Dari latar belakang yang sudah terpaparkan, maka dapat diambil rumusan masalah sebagai berikut:
  1. Apa materi PAI bagi SD, SMP dan SMA?
  2. Bagaimana model pembelajaran PAI bagi SD, SMP dan SMA?




BAB II
PEMBAHASAN
Proses pembelajaran pada hakikatnya merupakan pelayanan yang khusus diperuntukkan bagi siswa (peserta didik). Proses pembelajaran dalam pendidikan agama Islam, sebenarnya menggunakan prinsip-prinsip umum proses pembelajaran yang dikemas secara Islami. Komponen-komponen yang terlihat pun umumnya sama, yaitu mencakup tujuan, bahan, metode, alat, evaluasi termasuk siswa dan gurunya.[5] Ini jelas bahwa materi yang disampaikan dalam PAI ini mempunyai perbedaan dengan materi pelajaran yang lainnya. Sudah dikenal bahwa materi PAI adalah materi yang bernafaskan agama Islam. Dan juga dalam penyampaian materi tersebut sudah ada pembagian tersendiri yang terbagi dalam tingktaan-tingkatan masing-masing. Tingkatan tersebut sesuai dengan usia dan kemampuan akal anak (biqadri uqulihim).[6] Ini tidak lain agar mereka mampu merangsang pemikiran serta memperteguh keimanan dan daya kreatifnya.

A.    Materi PAI bagi SD, SMP dan SMA
  1. Materi PAI bagi SD
Matrei PAI yang ada pada tingkatan SD yaitu: Akhlak, Ibadah, Al-Qur’an, Keimanan, Tarikh Islam.[7] Itulah materi yang secara umum ada dalam tingkatan SD. Dari materi PAI tersebut anak SD diharapkan:
a.       Mampu membaca Al-Qur’an dengan benar.
b.      Beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, hari kiamat, dan qadha-qadar.
c.       Terbiasa berperilaku dengan sifat terpuji, menghindari sifat-sifdat tercela, dan bertata kerama dalam kehidupan sehari-hari.
d.      Mengenal rukun Islam dan mampu melaksanakn beribadadah salat, puasa, zakat fitrah, dan zikir serta do’a setelah salat.[8]

  1. Materi PAI bagi SMP
Materi PAI di tingkat SMP tidak jauh beda dengan yang ada di SD. Materi-materi tersebut adalah: Keimanan, Ibadah/fiqih, akhlak, Al-Qur’an, hadits, sejarah Islam.[9] Dari materi tersebut anak-anak pada tingkatan SMP diharapkan:
a.       Mampu membaca dan menulis ayat Al-Qur’an serta mengetahui hukum bacaannya.
b.      Beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, hari kiamat, dan qadha-qadar dengan mengetahui maknanya.
c.       Terbiasa berperilaku dengan sifat terpuji, menghindari sifat-sifat tercela, dan bertata kerama dalam kehidupan sehari-hari.
d.      Memahami dan mampu mengambil manfaat dan hikmah perkembangan Islam fase Makkah, Madinah, dan Khulafaurrasyidin serta mampu melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari.[10]

  1. Materi PAI bagi SMA
Materi PAI untuk tingkatan SMA tidak jauh beda dengan SD dan SMP. Akan tetapi hasil yang diinginkan pada tingkatan SMA ini lebih tinggi dari pada tingkatan sebelumnya. Materi PAI bagi SMA yaitu: Keimanan, Ibadah/Fiqih, Akhlak, Sejarah Islam, Tafsir/Hadits.[11] Dari materi tersebut, anak SMA diharapkan mampu:
a.       Membaca dengan mengetahui hukum bacaannya, menulis, dan memahami ayat Al-Qur’an serta mampu mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
b.      Beriman kepada Allah SWT., malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, hari kiamat, dan qadha qadar dengan mengetahui fungsi dan hikmahnya serta direfleksikan dalam sikap, perilaku, dan akhlak peserta didik pada dimensi kehidupan sehari-hari.
c.       Terbiasa berperilaku dengan sifat terpuji, menghindari sifat-sifat tercela, dan bertata kerama dalam kehidupan sehari-hari.
d.      Memahami sumber hukum dan ketentuan hukum Islam tentang ibadah, muamalah, mawaris, munakahat, jenazah, dan mampu mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
e.       Memahami dan mampu mengambil manfaat dan hikmah perkembangan Islam di Indonesia dan dunia serta mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.[12]

B.     Model Pembelajaran PAI bagi SD, SMP dan SMA
Secara umum model pembelajaran PAI pada SD, SMP dan SMA dapat dilaksanakan dengan menggunakan beberapa metode. Seperti:
  1. Metode antisipatif. Metode ini merupakan sebuah cara mengantisipasi permasalahan anak didik yang langsung muncul di kalangan mereka. Guru mengetahui semua permasalahan anak yang sering timbul dan mepersiapkan solusinya sedini mungkin sehingga muncul permasalahan itu maka ia akan segera menghadapi dan memecahkannya cepat dan bijkasana.
  2. Metode dialog kreatif. Metode ini merupakan salah satu cara yang  lebih efektif karena melibatkan siswa secara langsung berdialog dengan guru tentang suatu permasalahan yang sedang dihadapi. Anak didik mengungkapkan pendapatnya langsung dari hati nuraninya dan guru siap mendengar serta melayani semua permasalahan anak didik dan berupaya membantu mencarikan solusinya.
  3. Metode studi kasus. Metode ini adalah metode menganagkat suatu contoh permasalahan yang pernah terjadi pada diri seseorang atau kelompok orang untuk dijadikan rujukan atau contoh maupun teladan sebagai solusi alternatif yang bisa diambil.
  4. Metode pelatihan. Metode ini berupa latihan-latihan yaitu cara pelibatan fisik dan mental mereka untuk melakukan serangkaian latihan beribadah dan melakukan suatu perbuatan yang sesuai dengan perintah Allah dan Rasul-Nya sehingga anak didik dapat mengembangkan intelektualnya secara lebih baik dan benar.
  5. Metode merenung. Metode ini merupakan melatih anak didik untuk memikirkan permasalahan yang mereka miliki. Sehingga semuanya dapat dikembalikan kepada Allah.
  6. Metode lawatan. Metode ini merupakan cara lawatan ke daerah-daerah dalam rangka meningkatkan rasa ukhuwah, persaudaraan sesama muslim, memupuk rasa persatuan dan kesatuan diantara sesama pelajar.
  7. Metode kontemplasi. Metode ini melatih siswa merenungkan kembali peristiwa-peristiwa di masa lalu sehingga membuahkan sifat sabar pada diri anak didik.
  8. Metode taubat. Metode ini merupakan cara agar siswa menyesali diri atas perbuatan-perbuatan yang mereka lakukan dan memohon ampunan kepada Allah SWT.
  9. Metode-metode lain yang dapat digunakan dalam proses belajar agama, diantaranya: metode analisis, metode problem solving, metode tanya-jawab, creramah, pemberian tugas, dsb.[13]

Dari beberpaa metode tersebut dapat diterapakan untuk segala tingkatan kelas, baik SD, SMP maupun SMA. Akan tetapi untuk masing-masing tingkatan ada perbedaan yang mendasar dalam model pembelajarannya. Adalah sebagai berikut:

1)      Model Pembelajaran PAI bagi SD
Di dalam tingkatan SD, tentu berbeda cara pembelajaran dengan tingkat-tingkat yang lebih dari SD atau dibawahnya SD seperti di Taman Kanak-kanak. Kita ketahui di SD umur peserta didik adalah adalah rata-rata dari usia 6-12 tahun. Usia ini tergolong pada usia kanak-kanak. Umur 6-9 tahun masuk dalam golongan usia pertengahan anak-anak. Sedangkan usia 9-12 tahun masuk dalam golongan akhir masa anak-anak. Oleh karena itu dalam fase anak-anak ini peserta didik yang duduk pada tignkatan SD merupkaan permulaan bagi mereka untuk mengenal orang dewasa di luar keluarganya. Dan juga pada masa ini, anak yang pada mulanya tertuju kepada dirinya sendiri dan bersifat egosentris mulai tertuju kepada dunia luar, terutama perilaku orang-orang disekitarnya, sopan santun, dan tata kerama sesuai dengan lingkungan rumah dan sekolahnya.[14]
Oleh karena itu untuk tingkat SD materi PAI tersebut diberikan secara sederhana sesuai dengan kemampuan daya berpikir murid, baik itu materi PAI yang berhubungan manusia dengan Allah, manusia dengan manusia, manusia dengan alam sehingga ini dapat dipahami, diresapi oleh anak didik dan selanjutnya dapat mewarnai tingkah lakunya sehari-hari.[15]

2)      Model Pembelajaran PAI bagi SMP
Pada tingkatan SMP yakni rata-rata usia 12-15 tahun, ini masuk dalam golongan Pra-Remaja. Dalam fase ini ditandai dengan semakin meningkatnya sikap sosial pada anak. Gejala yang dominana pada masa ini adalah kecenderungan untuk bersaing yang berlangsung antara teman sebaya dan lingkungan jenis kelamin yang sama. Pada periode ini ada kesempatan yang sangat baik untuk membantu anak, disamping mneguasai ilmu dan teknologi yang sesuai dengan tingkat perkembangan intelektualnya. Juga menumbuhkan sikap tanggung jawab dan menghargai nilai-nilai, terutama yang bersumber dari agama Islam.[16]
Untuk tingkat SMP cara penyampaiannya diperluas yaitu dengan mengemukakan alsan-alasan/dalil-dalil baik naqli maupun aqli, sehingga anak didik yang telah meningkat remaja itu dapat menyelesaikan pertanyaan-pertanyaan yang timbul dalam pikirannya. Dan selanjutnya dapat memahami alasan-alasan tersebut dan menjadikan sebuah keyakinan.[17]

3)      Model Pembelajaran PAI bagi SMA
Dalam tingkatan SMA yang rata-rata usianya yaitu 15-18 tahun, merupakan usia yang tergolong dalam masa pubertas. Masa ini merupakan tahap akhir bagi individu dalam mempersiapkan dirinya untuk menjadi manusia dewasa yang berdiri sendiri. Pada fase ini anak banyak mengalami krisis, namun krisis itu tidak akan dirasakan berat jika sejak awal anak-anak dan para remaja telah hidup dalam keluarga yang menenmpatkan ajaran Islam sebagai penuntunnya. Jika dalam diri remaja telah tertanam nilai-nilai religi maka sebagai orang yang beriman, ia akan selalu mampu menyikapi permasalahan hidup, baik yang muncul dari dalam maupun dari luar dirinya.[18]
Pada tingkatan SMA cara penyampaiannya yaitu tiap materi yang disampaikan dilengkapi dengan faedah atau arti dari materi PAI tersebut, sehingga dengan demikian mereka dapat meningkatkan pengertiannya terhadap aspek yang sedang dipelajari setelah mendapat penjelasan tentang faedah atau artinya. Disamping itu dapat menolong untuk menenteramkan jiwanya dalam menghadapi banyak kegelisahan yang timbul dalam jiwa mudanya.[19]

BAB III
KESIMPULAN
1.      Matrei PAI yang ada pada tingkatan SD yaitu: Akhlak, Ibadah, Al-Qur’an, Keimanan, Tarikh Islam. Materi PAI di tingkat SMP tidak jauh beda dengan yang ada di SD. Materi-materi tersebut adalah: Keimanan, Ibadah/fiqih, akhlak, Al-Qur’an, hadits, sejarah Islam. Materi PAI untuk tingkatan SMA tidak jauh beda dengan SD dan SMP. Akan tetapi hasil yang diinginkan pada tingkatan SMA ini lebih tinggi dari pada tingkatan sebelumnya. Materi PAI bagi SMA yaitu: Keimanan, Ibadah/Fiqih, Akhlak, Sejarah Islam, Tafsir/Hadits.
2.   Secara umum model pembelajaran PAI pada SD, SMP dan SMA dapat dilaksanakan dengan menggunakan beberapa metode. Seperti: Metode antisipatif, metode dialog kreatif, metode studi kasus, metode pelatihan. metode merenung. metode lawatan, metode kontemplasi, metode taubat, dan metode-metode lain yang dapat digunakan dalam proses belajar agama, diantaranya: metode analisis, metode problem solving, metode tanya-jawab, creramah, pemberian tugas, dsb. Untuk tingkat SD materi PAI tersebut diberikan secara sederhana sesuai dengan kemampuan daya berpikir murid, baik itu materi PAI yang berhubungan manusia dengan Allah, manusia dengan manusia, manusia dengan alam sehingga ini dapat dipahami, diresapi oleh anak didik dan selanjutnya dapat mewarnai tingkah lakunya sehari-hari. Untuk tingkat SMP cara penyampaiannya diperluas yaitu dengan mengemukakan alsan-alasan/dalil-dalil baik naqli maupun aqli, sehingga anak didik yang telah meningkat remaja itu dapat menyelesaikan pertanyaan-pertanyaan yang timbul dalam pikirannya. Dan selanjutnya dapat memahami alasan-alasan tersebut dan menjadikan sebuah keyakinan. Pada tingkatan SMA cara penyampaiannya yaitu tiap materi yang disampaikan dilengkapi dengan faedah atau arti dari materi PAI tersebut, sehingga dengan demikian mereka dapat meningkatkan pengertiannya terhadap aspek yang sedang dipelajari setelah mendapat penjelasan tentang faedah atau artinya. Disamping itu dapat menolong untuk menenteramkan jiwanya dalam menghadapi banyak kegelisahan yang timbul dalam jiwa mudanya.


DAFTAR PUSTAKA

Darajat, Zakiah. Ilmu Pendidikan islam. Jakarta: Bumi Aksara, 1996.
Majid, Abdul dan Dian Andayani. Pendidikan Agama Islam Berbasisi Kompetensi. Bandung: Remaja Rosada Karya, 2006.
Qomar, Mujamil. Manajemen Pendidikan islam. Jakarta: Erlangga, 2007.
Roqib, Muhammad. Ilmu Pendidikan islam. Yogyakarta: LKiS, 2009.
Tohrin. Psikologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Jakarta: RajaGarafindo persada, 2006.
Umar, Bukhari. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Amzah, 2010.
Zuhairini dkk. Methodik Khusus Pendidikan Agama. Surabaya: Usana Offset printing, 1983.


[1]Zakiah Darajat, Ilmu Pendidikan islam (Jakarta: Bumi Aksara, 1996), 29.
[2]Muhammad Roqib,  Ilmu Pendidikan islam  (Yogyakarta: LKiS, 2009), 28.
[3]Tohrin, Psikologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam  (Jakarta: RajaGarafindo persada, 2006), 16.
[4]Mujamil Qomar, Manajemen Pendidikan islam. (Jakarta: Erlangga, 2007), 142.
[5] Tohrin, Psikologi Pembelajaran..…, 16.
[6] Muhammad Roqib,  Ilmu….., 97.
[7] Zuhairini dkk., Methodik Khusus Pendidikan Agama (Surabaya: Usana Offset printing, 1983), 68.
[8]Abdul Majid dan Dian Andayani, Pendidikan Agama Islam Berbasisi Kompetensi (Bandung: Remaja Rosada Karya, 2006), 147.
[9] Zuhairini dkk., Methodik…,68.
[10]Abdul Majid dan Dian Andayani, Pendidikan…, 147.
[11] Zuhairini dkk., Methodik…,69.
[12]Abdul Majid dan Dian Andayani, Pendidikan…, 148
[13]Ibid., 102.
[14]Bukhari Umar,  Ilmu Pendidikan Islam  (Jakarta: Amzah, 2010), 120.
[15]Zakiah Darajat, Ilmu…., 134.
[16]Bukhari Umar,  Ilmu…, 121.
[17]Zakiah Darajat, Ilmu…., 134.
[18]Bukhari Umar,  Ilmu…, 122.
[19]Zakiah Darajat, Ilmu…., 135.

3 komentar:

  1. saya usul, selain pelajaran agama, juga harus ada mentoring intensif, seperti halqoh Rasul dan pondok pesantren, agar pai lebih efektif

    BalasHapus
  2. saya usul pelibatan aktif rohis atau ski sekolah dalam implementasi pai

    BalasHapus
  3. Sy sgt terinspirasi merampungkan thesis sy d tengah kesibukan mengajar plus ide dr dr jilbab hazna menyadarkn hal y slm ni sy abaikn. Trimksh

    BalasHapus