--- SELALU ADA YANG BARU DI BLOG BANJIR EMBUN: "Kami Mengucapkan Terima Kasih Atas Kunjungan Anda. Bila butuh bantuan atau ada pertanyaan silakan hubungi ke nomor 08563350350 atau kirim email ke: banjirembun@yahoo.co.id subjek: BanjirEmbun Menjawab”---

Minggu, 15 Juli 2012

PERKEMBANGAN DINASTI SYAFAWIYAH DI PERSIA


PERKEMBANGAN DINASTI SYAFAWIYAH DI PERSIA

Oleh:  TAZKIYAH BASA'AD
(Mahasiswa S2 Program Pasca Sarjana STAIN Kediri)


           A.    Pendahuluan
Syafawi adalah salah satu dari ketiga kekhilafahan atau kerajaan Islam yang dikategorikan besar di akhir masa sejarah Islam klasik dan di masa pertengahan. Kekhilafahan ini berpusat di Persia (Iran). Nama Syafawi diambil dari nama pemimpin tarekat Safi’uddin yang kemudian mempelopori berdirinya kekhilafahan ini. Kekhilafahan ini adalah penganut sekte Syi’ah Itsna As’ariyah[1] (Shi’ah Duabelas), yang dijadikan dasar-dasar doktrin Islam bagi pemerintahan Iran setelahnya hingga sekarang. Dibanding dengan masa Turki Uthmani, masa pemerintahan Syafawi tidak terlalu lama, sekitar 2,5 abad kurang sedikit. Yakni sejak pemerintahan Ismail pada 1501 M hingga akhir pemerintahan Abbas III pada 1736 M.
Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya, Dinasti Syafawi yang mulai diproklamirkan berdirinya pada tahun 1501M oleh Syah Ismail, memiliki karakteristik dengan konsep Syi’ah Imamiyah (biasa juga disebut Syia’ah Istna Asyara). Konsepsi Imamiah Syi’ah meyakini bahwa pemimpin negara (Syah) adalah wakil atau pengganti Imam Mahdi dalam masa kegaibannya untuk menegakkan hukum Tuhan.
Keyakinan ini tentunya membawa konsekwensi pada bentuk pemerintahan dinasti Syafawi, sehingga hal ini membuatnya berbeda dengan sistem atau bentuk pemerintahan pada dinasti/kekhalifaan sunni yang ada sebelumnya. Jika disandarkan pada konsepsi keyakinan Syi’ah Imamiyah, maka bentuk dan sistem pemerintahan dinasti Syafawi adalah monarkhi teokrasi, artinya, bahwa pemerintahan dijalankan secara turun temurun dan dibangun di atas dasar keyakinan bahwa Syah adalah pengganti Imam selama kegaibannya untuk menegakkan hukum Allah.
          B.     Pembentukan dan Perkembangan
Ketika Dinasti Ottoman mencapai puncak kejayaannya pada masa Sultan Sulaiman al-Qanuni ( 1520-1566 M), di sebelah timur kerajaan itu, tepatnya  di sekitar Laut Tengah hingga Teluk Persia berdiri sebuah kerajaan baru yang dipimpin oleh Dinasti Syafawiyah.[2] Penamaan dinasti ini dengan dinasti Syafawi karena kelahiran dinasti ini berawal dari tarekat Syafawiyah. Mirip dengan asal-usul Dinasti Murabithun dan Muwahiddun, kekhilafahan Syafawi bermula dari gerakan kelompok tarekat kemudian berubah menjadi gerakan politik yang dipimpin oleh Safi’uddin (1252-1332M), di Ardabil sebuah kota di Azarbaijan.
Gerakan tarekat Syafawiyah yang didirikan oleh Syah Safi’uddin adalah mewakili sebuah kebangkitan Islam populer yang menentang dominasi militer yang meresahkan dan bersikap eksploitatif, dan gerakan tarekat ini memprakarsai penaklukan Iran dan mendirikan sebuah dinasti baru.[3] Tujuan tarekat, memerangi orang-orang yang ingkar dan kelompok ahli bid’ah. Karena itu tarekat bersikap fanatik dan menentang kelompok-kelompok selain Syi’ah. Untuk itu pula gerakan ini merasa perlu memasuki wilayah politik.
Hierarki kepemimpinan tarekat ini diawali oleh Safi’uddin Ishaq al-Ardabily (1252-1334M)[4], lalu diteruskan putranya Sadr al-Din Musa (1334-1399 M), lalu diteruskan putranya Khawaja Ali (1399-1427 M), dan diteruskan putranya Ibrahim (1427-1447 M). Pada fase kedua gerakan Syafawi berubah bentuk menjadi gerakan politik pada masa Junaid bin Ibrahim (1447-1460 M). Sepeninggal Imam Junaid tarekat diteruskan putranya Haidar, dan putra dari Haidar yaitu Ismail inilah dianggap sebagai tonggak pemimpin dinasti Syafawi.
Perjalanan tarekat syafawiyah menuju terbentuknya dinasti Syafawi dibedakan menjadi 2 fase yaitu[5]:
-          Sebagai tarekat murni[6]
-          Sebagai gerakan politik, terjadi pada masa Junaid bin Ibrahim
Beralihnya sikap gerakan tarekat ini kepada gerakan politik karena gerakan ini mendapat dukungan luas dari masyarakat Persia yang sudah terpengaruh dengan ajaran tarekat Syafawiyah. Faktor penting yang mendukung berkembangnya tarekat Syafawiyah adalah : Pertama, banyaknya orang Persia yang mencari ketenangan hidup melalui aliran tasawuf. Kedua, bosan dengan suasana hidup yang penuh dengan peperangan dan perebutan kekuasaan.[7]
                        Berdirinya Dinasti Syafawiyah diprakarsai oleh Ismail putra Haidar, selama 5 tahun Ismail mempersiapkan pasukan Qizilbash[8] yang bermarkas di Gilan. Qizilbash dapat mengalahkan pasukan musuh beratnya Aq-Qoyunlu[9] dan dapat menguasai Tibriz pusat kekuasaan Aq-Qoyunlu. Disini Ismail memproklamirkan diri sebagai raja pertama dinasti Syafawi.[10] 


               C.     Politik Pemerintahan
Dilihat dari asal-usulnya, Syafawi dipimpin oleh 2 kekuatan yaitu:
Pertama, kepemimpinan agama (tarekat) sebagai perintisnya dipimpin oleh Safi’uddin hingga Haidar (1252-1494 M). Kedua, kepemimpinan formal (dinasti) yaitu sejak kepemimpinan Ismail bin Haidar (1501-1524 M) hingga Abbas III (1732-1736 M). Masa diantara 2 sultan tersebut Dinasti Syafawiyah dipimpin oleh: Tahmasp I, Ismail II, Muhammad Khudabanda, Abbas I, Safi Mirza, Abbas II, Sulaiman, Husein, Tahmasp II. Jadi seluruh sultan Dinasti syafawiyah berjumlah 11 orang.
          Dinasti Syafawi merupakan dinasti agama karena lebih dilandasi oleh praktek Syi’ah Itsna As’ariyah. Sebagaimana dinasti yang muncul pada masa disintegrasi, seperti Fatimiyah yang Syi’i dan Ayyubiyah yang Sunni.[11] Dengan gagasan ideologi Syi’ah yang menjadi perekat konsolidasi, nasionalisme Syafawi dalam waktu 10 tahun mampu menguasai wilayah-wilayah yang nantinya pada masa modern menjadi wilayah negara Iran.
          Ketika Imperium Uthmaniyah yang menjadi rivalnya bergerak ke arah barat untuk merebut Anatolia Timur dan Imperium Syaibaniyah bergerak ke arah timur untuk mengambil alih kekuasaan atas wilayah Transoxania sampai sejauh sungai Oxus, ismail berhasil memperkokoh beberapa wilayah perbatasan yang sampai sekarang ini tetap menjadi wilayah Iran. Ismail berhasil mengawali perluasan wilayah yang meliputi wilayah Persia, dan wilayah subur “Bulan Sabit”. Awal mula ia menumpas sisa-sisa kekuatan Aq-Qoyunlu kemudian menaklukkan provinsi Caspia, Gurgan, Zayd, Diyar Bakr, Baghdad, dan wilayah barat daya, diteruskan penaklukkan ke Khurasan pada 1508 M.[12]
          Namun, kemenangan dan kemampuan Ismail membendung kekuasaan Syafawi yang Syi’ah ini telah melalaikannya karena rasa superioritas dan fanatisme. Akibatnya beberapa usaha penaklukkan berikutnya dan termasuk usaha para penggantinya : Tahmasp I (1524-1576 M), Ismail II (1576-1577 M), Muhammad Khudabanda (1578-1588 M), selalu dapat dikalahkan oleh kekuatan Turki Uthmani, sehingga usaha perluasan wilayah di masa ini mengalami hambatan. Akibat lebih jauh dari kekalahan tersebut adalah terjadinya persaingan dan perebutan segitiga yaitu antara pemimpin suku Turki, pejabat-pejabat keturunan Persia dan pasukan elit Qizilbash, yang menyebabkan kerajaan Syafawi semakin hari semakin lemah.[13]
          Syah kelima, Abbas I (1588-1628 M) dianggap berhasil memulihkan kekuatan Syafawi untuk kembali melakukan ekspansi. Kebijakan yang ia ambil, Pertama, mengurangi dominasi pasukan Qizilbash dengan cara membentuk korp baru yang direkrut dari budak-budak dari tawanan perang bangsa Georgia, Armenia, dan Sircassia yang telah ada sejak raja Thamasp I. Kedua, sebagai upaya antisipatif dengan menghilangkan idiologi nasionalisme yang salah, maka Abbas I bersikap lebih terbuka dan toleran dengan kebijakan politik luar negrinya yaitu mengadakan perjanjian damai dengan Turki Uthmani dengan melepaskan sebagian wilayah Azarbaijan dan Georgia. Ketiga, Abbas berjanji untuk tidak mencaci 3 Khalifah al-Rasyidah: Abu Bakar, Umar, dan Uthman, sebagai jaminan atas perjanjian ia bersedia menyerahkan saudara sepupunya sebagai sandera di Istanbul.[14] 
          Syafawi mulai meneruskan usaha perluasan wilayah setelah memiliki kekuatan militer yang cukup kuat, sasaran utamanya adalah daerah-daerah yang pernah hilang dari kekuasaannya. Maka mereka melangkah ke daerah bagian timur, Abbas memindahkan ibukota kerajaan dari Qiswan ke Isfahan (1597). Lalu melakukan serangan ke Herat, Marw, dan Balk. Lalu mengalihkan serangan ke barat dan berhadapan dengan Turki Uthmani[15], dengan pasukan yang baru Abbas dapat merebut kembali Tibriz, Sirwan, dan Bagdad. Tahun 1605-1606 dapat menguasai kota Nakhchivan,Erivan, Ganja dan Tiflis. Berikutnya tahun 1622 dapat menguasai kepulauan Hormuz dari tangan Portugis dan pelabuhan Gumron yang diubah namanya menjadi bandar Abbas.
          Demikianlah Syah Abbas I dinilai sebagai sultan yang paling berhasil dengan usahanya memulai program rekonstruksi militer yang mana dengan membentuk kekuatan militer baru dari budak-budak Georgia, Circassia, Armenia dan Turki untuk menandingi kekuatan pasukan militer Turki dan mengkonsolidasi sejumlah poerbatasan wilayah kekuasaannya dan mengamankan otoritas internalnya. 

             D.    Kemajuan di bidang Peradaban
Di bidang perekonomian, Hormuz, merupakan kota pelabuhan sebagai jalur perdagangan timur barat yang berhasil dikuasai Syafawi, membuat perekonomian Syafawi semakin membaik. Wilayah yang biasa diperebutkan oleh Belanda, Inggris, dan Perancis sepenuhnya menjadi milik Syafawi. Sektor perdagangan akhirnya menjadi salah satu andalan perekonomian Syafawi, disamping pertani yang mengandalkan kesuburan wilayahnya yaitu Bulan Sabit Subur. Dengan pencapaian ekonomi maka daerah Syafawi mampu mengembangkan peradabannya.
Di bidang pembangunan fisik, kunci dari program administrasi dan ekonomi Syah Abbas adalah pembentukan sebuah ibukota baru yang besar yaitu Isfahan.[16]  Syafawi membangun kota Isfahan dengan mengitari Maydani Syah yakni sebuah alun-alun besar dengan luas 160x500 meter yang berfungsi sebagai pasar, tempat perayaan dan lapangan. Pada sisi bagian timur dibangun masjid Syaikh Luthfallah (1603-1618) sebagai tempat peribadatan pribadi Syah. Pada sisi bagian selatan dibangun masjid kerajaan yaitu masjid Syah (1611-1629), pada sisi bagian barat berdiri istana Ali Qapu yang merupakan gedung pusat pemerintahan. Pada sisi bagian utara dari Maydani berdiri bangunan monumental yang menjadi simbol bagi gerbang menuju bazzar kerajaan dan sejumlah pertokoan, tempat pemandian, caravansaries, masjid, dan sejumlah perguruan. Dari Maydani terdapat sebuah jalan raya Qushar Bagh sepanjang 2,5 mil menuju istana musim panas, pada sisi lainnya terdapat sejumlah pertamanan yang luas, tempat tinggal harem-harem Syah, tempat tinggal para pegawai istana, dan para duta besar asing. Seluruh pembangunan ini merupakan masterpiece bagi tata kota Timur Tengah.[17] Pada tahun 1666 menurut keterangan seorang pengunjung Eropa, Isfahan memiliki 162 masjid, 48 perguruan, 162 caravansaries, 1821 losmen, 182 pusat perdagangan dan 273 tempat pemandian umum yang hampir seluruhnya dibangun masa Abbas I dan penggantinya Abbas II (1642-1666).
 Di bidang seni, kemajuan tampak dalam gaya arsitektur bangunan masjid-masjid yang ada. Unsur seni lainnya terlihat dalam bentuk kerajinan tangan, keramik, karpet, permadani, pakaian dan tenunan, tembikar dan benda-benda seni lainnya. Syah Abbas I menciptakan sebuah corak publik tentang Isfahan dan bahkan mengembangkan lukisan-lukisan tentang peperangan, pemandangan perburuan, dan upacara kerajaan. Juga terdapat sebuah Shah Name (buku tentang raja-raja) yang memuat karya agama berupa seni manuskrip bergambar Iran dan Islam.[18] Pada masa Syah Ismail I juga pernah membawa pelukis timur yang bernama Bizhad ke Tibris.
Di bidang intelaktual, walaupun tidak semaju zaman Abbasiyah, dinasti Syafawiyah telah memberikan kontribusinya dalam sektor ilmu pengetahuan. Dibanding dengan Turki Uthmani, Syafawi lebih unggul dalam pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya filsafat.[19] Jika dikalangan Sunni pasca kemajuan Bani Abbas filsafat mengalami kemunduran, tetapi di kalangan Syi’ah hal demikian tidak terjadi bahkan masa Syafawi filsafat Islam di kalangan Syi’ah berkembang pesat. Beberapa ilmuan yang terkenal di masa ini antara lain Zain al-Din ibn Ali Ahmad Jaba’i, Ali ibn Abd al-Ali Amaly, Baha’uddin al-Syairazi ahli berbagai maam ilmu, Sadr al-Din al-Syairazi filosof yang menulis al-Hikmah al-Mutawaliyah, Muhammad Baqir Damad dikenal sebagai ahli sejarah, tekhnologi dan filsafat yang termasuk peneliti mengenai kehidupan lebah-lebah.
Dan juga kontribusi Syafawi Persia dalam membangun ilmu pengetahuan adalah banyaknya teks-teks tradisional yang dipakai madrasah-madrasah Persia. Menurut catatan Syed Hossein Nashr teks-teks tersebut meliputi: morfologi (shorof), sintaksis (nahwu), ma’ani wa bayan (retorika), badi’ (metafora). Ma’alimu al-Din karya Hasan ibn Syaikh Zaini al-Din (16 M) yang dikomentari sejumlah besar penulis, Zubdat al-Ushul risalah keagamaan karya Baha’ al-Din Amaly. Adapula risalah Kitab al-Wafiyah karya Mulla Aballah ibn Aj Muhammad Tho Bushrawi Khurasani (17 M), dan Ensiklopedi Keagamaan (Bihar al-Anwar) bervolume besar karya Muhammad Bagir Majlisi.
Adanya berbagai kemajuan ini disamping beberapa faktor pendukung kemajuan peradaban, juga berperannya ideologi Syi’ah yang mampu merangsang penganutnya untuk berkreatifitas, sesuai dengan kecerdasan akal yang dimiliki yang konsen dengan pengembaraan intelektualnya.
  
              E.     Kemunduran dan Kehancuran
Sepeninggal Abbas I, Syafawi dipimpin oleh raja-raja yang tidak mampu mempertahankan kemajuan Syafawi. Akibatnya dinasti mengalami kemunduran yang disebabkan oleh faktor internal dan eksternal.
Faktor internal antara lain: Pertama, keadaan para Syah (raja) yang tidak cakap dalam memimpin negara, tidak bersikap bijak terhadap para pembesar kerajaan, hidup berfoya-foya, Syah memiliki banyak harem-harem di istana, Syah Husein terlalu mengutamakan ulama’ Syi’ah yang sering memaksakan pendapat pada aliran Sunni yang berakibat kemarahan dan pemberontakan Sunni Afghanistan dimana akan berhasil menggulingkan Syafawi di kemudian hari. Kedua, melemahnya semangat pasukan budak-budak yang direkrut Abbas I (pasukan Gulam) dan generasi Qizilbash yang barupun tidak memiliki semangat juang yang tinggi seperti pendahulunya. Dan yang terpenting hampir seluruh penguasa kerajaan Syafawi tidak menyiapkan kader calon penggantinya dengan baik sehingga mengakibatkan instabilitas nasional kerajaan.
Faktor eksternal antara lain: Pertama, timbulnya kekecewaan Sunni Afghanistan akibat perlakuan Syah Husein yang berakibat pada pemberontakan dan penggulingan kekuasaan Syafawi oleh penguasa Afghanistan Mir Mahmud pada 1722 M. Kedua, ketegangan dan konflik dengan Turki Uthmani yang keberadaannya jauh lebih besar dan kuat daripada Syafawi.
Setelah kota Isfahan diduduki oleh Afghanistan (1722 M), maka tahun 1729 muncul kekuatan baru oleh Nadir Quli[20], yang mana berhasil merebut dan menguasai dinasti Syafawi  dan pada 24 Syawwal 1148 H/8 Maret 1736 Nadir Quli secara resmi dinobatkan sebagai Syah Iran.[21] Dengan demikian berakhir dinasti Syafawiyah yang berkuasa selama 235 tahun.

F.     Penutup
Kehancuran rezim Iran ini juga disebabkan sejumlah perubahan yang luar biasa dalam hal hubungan negara dan agama. Pada periode Mongol dan Timuriyah, beberapa gerakan sufi di perkampungan mengorganisir perlawanan umum terhadap kekejaman rezim asing. Islam kembali berperan dalam menyatukan masyarakat yang tengah di dalam perpecahan menjadi gerakan moral dan politik yang lebih besar, sebagaimana yang pernah dijalankan di masa Nabi SAW.
 Syafawiyah semula merupakan sebuah gerakan, tetapi setelah berkuasa rezim ini justru menekan bentuk-bentuk millenerian Islam Sufi seraya cenderung kepada pembentukan lembaga ulama negara Syafawiyah menjadikan Syi’isme “dua belas” sebagai agama resmi bagi pemerintah Iran, dan mengeleminir pengikut sufi mereka sebagaimana yang dilakukannya terhadap ulama Sunni.
Demikianlah rezim Syafawiyah telah meninggalkan warisan kepada Iran modern berupa tradisi Persia perihal sistem kerajaan yang agung, yakni sebuah rezim yang dibangun berdasarkan kekuatan unsur-unsur kesukuan yang utama, dan mewariskan sebuah kewenangan keagamaan Syi’ah yang kohesif, monolitik, dan mandiri.



 BIBLIOGRAFY

Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam. Ensiklopedi Islam, (Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 1997).
Daftary, Farhad. Tradisi-tradisi Intelektual Islam, (PT Gelora Aksara Pratama, 2000).
Lapidus, Ira.M. Sejarah Sosial Umat Islam, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2000).
Nurhakim, Mohammad. Sejarah Peradaban Islam, (Malang: UMM Pres, 2003).
Rahman, Taufiq. Sejarah Sosial Politik Masyarakat Islam, (Surabaya: Pustaka Islamika, 2003).
Sunanto, Musyrifah. Sejarah Islam Klasik, (Bogor: Kencana, 2003).
Tim Karya Ilmiah Purnasiswa, Sejarah Tasyri’ Islam, (Lirboyo: Forum Pengembangan Intelektual Islam, 2006).


[1] adalah cabang dari ajaran Syiah yang memiliki pengikut terbanyak. Mereka yang mengikuti ajaran yang disebut sebagai Syiah Imamiyah ini mempercayai bahwa mereka mempunyai 12 orang pemimpin, yang pemimpin pertamanya adalah Imam Ali ra. dan pemimpin terakhir mereka adalah Imam Mahdi Al-Muntazhar (Imam Mahdi yang ditunggu), seorang Imam yang muncul pada tahun 868 dan kemudian menghilang. Para pengikut Itsna Asyariyyah yakin bahwa Imam Mahdi akan kembali untuk menghadapi dajjal dan akan membangun pemerintahan Islam.
[2] Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam, (Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 1997),  Cet 4, 193.
[3] Ira.M. Lapidus, Sejarah Sosial Umat Islam, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2000), Cet-2, 440.
[4] Mengenai asal-usul Safi’uddin ada 2 riwayat yakni ia keturunan Musa al-Kazim (imam ke-7 Syi’ah Imamiyah) dan keturunan penduduk asli Iran dari Kurdistan serta seorang Sunni bermadhab Syafi’i.
[5] Taufiq Rahman, Sejarah Sosial Politik Masyarakat Islam, (Surabaya: Pustaka Islamika, 2003), 241.
[6] Pada fase ini terdapat 2 opsi yang berkembang dalam tarekat yaitu: Sunni (pada masa Safi’uddin dan Sadr al-Din), Syi’ah (pada masa Khawaja Ali sikap syi’ahnya sangat toleran namun pada masa Ibrahim bersikap ekstrem pada syi’ah itsna As’ariyah). 
[7] Seperti Hulagu yang mendirikan Dinasti Ilkhan di Persia, penghancuran Timur Lenk terhadap dinasti Muzaffariyah di Persia Selatan (1393 M), dan anak cucu Timur Lenk saling berebut kekuasaan.
[8] Pasukan elit bentukan Haidar dengan ciri mengenakan atribut serba merah yang bercumbai dua belas sebagai lambang Syi’ah Itsna Asyarah.
[9] Dinasti dari bangsa Turki yang berkuasa saat itu di Persia yang beraliran Sunni.
[10] Mohammad Nurhakim, Sejarah Peradaban Islam, (Malang: UMM Pres, 2003), 142.
[11] Farhad Daftary, Tradisi-tradisi Intelektual Islam, (PT Gelora Aksara Pratama, 2000), 215.
[12] Tim Karya Ilmiah Purnasiswa, Sejarah Tasyri’ Islam, (Lirboyo: Forum Pengembangan Intelektual Islam, 2006), 323.
[13] Taufiq Rahman, Sejarah Sosial Politik Masyarakat Islam, 245.
[14] Langkah ini memang terlihat merugikan kedaulatan negara yang baru bangkit. Namun, konsesi seperti ini merupakan langkah yang bijaksana demi keutuhan ketahanan nasional daripada harus bersiteru dengan kekuasaan lain yang lebih kuat.
[15] Perseteruan antara 2 kerajaan ini disebabkan karena perbedaan ideologi, kerajaan Syafawi (Syi’ah) sedangkan Turki (Sunni).
[16] Isfahan merupakan kota yang sangat penting bagi tujuan politik dan ekonomi bagi bangsa Iran yang memusat dan bagi legitimasi simbolik dinasti Syafawiyah.
[17] Ira. M.Lapidus, Sejarah Sosial Umat Islam, 453.
[18] Ibid, 454.
[19] Muh Nurhakim, Sejarah Peradaban Islam, 143.
[20] Orang dari suku Asfar yang tidak menginginkan wilayah Persia di bawah kekuasaan orang-orang Afghan, Turki dan kekuasaan bangsa-bangsa lain.
[21] Musyrifah Sunanto, Sejarah Islam Klasik, (Bogor: Kencana, 2003), 258.

0 komentar:

Poskan Komentar