--- SELALU ADA YANG BARU DI BLOG BANJIR EMBUN: "KAMI TIDAK MENGAMBIL KEUNTUNGAN MATERI DARI AKTIVITAS ANDA DI BLOG INI. BLOG BANJIR EMBUN ADALAH BLOG SOSIAL, BUKAN BLOG BERORIENTASI KEUNTUNGAN MATERI (LABA). Terima kasih atas kunjungan Anda”---

Minggu, 15 Juli 2012

REFLEKSI KEIMANAN DALAM KEHIDUPAN

Buku A. Rifqi Amin (pendiri Banjir Embun) berjudul: 




REFLEKSI KEIMANAN DALAM KEHIDUPAN

Oleh:  TAZKIYAH BASA'AD
(Mahasiswa S2 Program Pasca Sarjana STAIN Kediri)


A.  Latar Belakang

Bagi seorang muslim, iman adalah bagian yang paling mendasar dari kesadaran keagamaannya. Dalam berbagai makna dan tafsirannya, perkataan iman menjadi bahan pembicaraan di setiap pertemuan keagamaan, yang selalu disebutkan dalam rangka peringatan agar dijaga dan diperkuat.
Begitu pula setiap manusia tidak bisa menjalani kehidupan yang baik atau mencapai sesuatu yang bermanfaat bagi kemanusiaan dan peradaban manusia, tanpa memiliki keimanan atau keyakinan. Sebab, manusia yang tidak memiliki keimanan akan menjadi manusia yang sepenuhnya hanya mementingkan diri sendiri, ragu-ragu, goyah, dan tidak mengetahui tugas serta kewajibannya sebagai hamba dalam kehidupan ini.
Itulah sebabnya, keimanan menjadi sesuatu yang sangat berharga bagi seorang Muslim. Karenanya, ia menjadi modal utama agar dapat menjalani kehidupan yang lurus, seperti yang telah ditunjukkan oleh Allah SWT. Sabda Rasulullah SAW tentang iman yaitu:[1]
فأخبرني عن الإيمان. قال  رسول الله صلى الله عليه وسلّم: "أن تؤمن بالله، وملائكته، وكتبه، ورسله، واليوم الآخر, وتؤمن بالقدر خيره وشره".( رواه البخارى و المسلم )
Seseorang bertanya kepada Rasulullah, “Kabarkan kepadaku tentang iman” Rasulullah menjawab “Iman itu ialah engkau beriman kepada Allah, kepada malaikat-malaikat-Nya, kepada kitab-kitab-Nya, kepada rasul-rasul-Nya, kepada hari akhir, dan engkau beriman kepada qadha dan qadar, yang baik dan yang buruk.” (HR Bukhari dan Muslim)
Iman bukanlah sekadar percaya dan membenarkan saja. Kepercayaan dan pembenaran memerlukan pembuktian yang menunjukkan sah atau tidaknya iman tersebut. Karena itu, iman yang sekadar melekat di hati bukanlah iman yang sempurna. Sebab, iman berarti juga pengungkapan dengan lisan dan pembuktian dengan amal perbuatan.
Sebagaimana telah dijelaskan di atas, bahwa tiang pokok dari iman itu adalah membenarkan keberadaan Allah, malaikat, kitab, rasul, hari akhir, dan ketentuan baik atau buruk yang ditetapkan Allah SWT bagi manusia. Seorang Mukmin adalah yang meyakini semua informasi, petunjuk, dan bimbingan Allah dan Rasul-Nya, kemudian ia melaksanakannya dengan berdasar atas iman dan penghambaan kepada Allah SWT. Semua hal yang diperbuat diperhitungkan dengan nilai ukhrawi yang pasti, dan tidak akan meleset.
Refleksi keimanan seseorang idealnya menggambarkan secara utuh penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian seseorang dikatakan beriman, apabila pengaruh dan manfaat iman pada kehidupannya bukan hanya sekedar kepercayaan dalam hati, melainkan juga menjadi kekuatan yang mendorong dan membentuk sikap dan perilaku hidup.

B.  Rumusan Masalah
1.      Dalil-dalil tanda orang beriman & tidak beriman
2.      Refleksi iman dalam kehidupan sehari-hari
3.      Standarisasi perilaku mukmin sejati sesuai keadaan kontemporer Indonesia

C.  Dalil –dalil dan pencerminan keimanan dalam kehidupan
Secara garis besar telah banyak kita ketahui iman seorang Muslim adalah kepercayaannya yang teguh pada Islam, dihayati dalam hatinya (al-Iman bi al-Qolb) dan diucapkan dengan lisannya      ( al-Iman bi al-Lisan) dan dilaksanakan seluruh perintah dalam Islam (al-Iman bi al-Jawārih). Jadi dapat diambil kesimpulan bahwa Iman adalah keadaan mental dari pendirian seorang Muslim dalam mengesahkan pengalaman dari apa yang dipercayainya.
Beberapa dalil naqli yang menyinggung tentang iman antara lain yaitu:

(ayat al Quran tidak dapat ditampilkan di blog ini)

mereka yang beriman[2] kepada yang ghaib[3], yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka.[4]
فأخبرني عن الإيمان. قال  رسول الله صلى الله عليه وسلّم: "أن تؤمن بالله، وملائكته، وكتبه، ورسله، واليوم الآخر, وتؤمن بالقدر خيره وشره".
( رواه البخارى و المسلم )[5]
Seseorang bertanya kepada Rasulullah, “Kabarkan kepadaku tentang iman” Rasulullah menjawab “Iman itu ialah engkau beriman kepada Allah, kepada malaikat-malaikat-Nya, kepada kitab-kitab-Nya, kepada rasul-rasul-Nya, kepada hari akhir, dan engkau beriman kepada qadha dan qadar, yang baik dan yang buruk.” (HR Bukhari dan Muslim.
Keimanan seorang Muslim meliputi 6 rukun iman yang komprehensif. Dimana pencerminan dari keimanan ini adalah saling terkait. Diantara pencerminan dari keimanan ini berpangkal percaya sepenuhnya kepada Allah SWT yang Maha Segalanya berarti, percaya juga kepada malaikat Allah dan mempercayai bahwa mereka adalah makhluk yang diagungkan, makhluk yang tidak pernah membantah terhadap perintah-Nya.[6] Disamping itu juga wajib mempercayai seluruh kitab suci yang diturunkan oleh Allah kepada Rasul-Nya melalui malaikat Jibril. Selanjutnya wajib mempercayai bahwa Allah mengutus Rasul-rasulnya dari manusia pilihan untuk memberi kabar gembira dan peringatan kepada manusia dengan berbagai mukjizat. Iman itu juga haruslah dicerminkan dengan tidak membedakan antara satu Rasul dengan yang lainnya.[7]
Ungkapan dari iman kepada Hari akhir dapat juga dicerminkan dengan mempercayai bahwa umur dunia ini akan ada batasnya, dan akan berakhir, setelah itu ada masa dihidupkannya kembali manusia-manusia yang telah mati, dan juga dikumpulkannya kembali dalam padang mahsyar untuk dihisab. Begitu pula wajib mengimani qadha dan qadar (ketentuan dan hukum Allah) yang berlaku terhadap segala sesuatu menurut ilmu dan kebijaksanaan-Nya. 
Jadi implikasi dan urgensi dari rukun iman yang 6 tersebut bersumber dari Iman kepada Allah SWT, ketika seseorang menyatakan  imannya/ kepercayaannya kepada Allah SWT maka secara otomatis dia mengimani rukun-rukun iman yang lain. Dan sebaliknya apabila dia mengingkari rukun iman yang pertama (iman kepada Allah SWT) maka secara otomatis dia mengingkari rukun iman yang lain. Atau apabila seseorang mengingkari salah satu rukun iman maka sama saja ia tidak beriman kepada Allah SWT.
Refleksi dari keimanan seorang mu’min harus tercerminkan dalam kehidupan, karena iman merupakan pondasi yang mendasari segala aspek kehidupan muslim untuk mencapai tujuan mendapatkan ridha Allah SWT. Seperti dikatakan dalam al-Qur’an[8]:
öNs9r& ts? y#øx. z>uŽŸÑ ª!$# WxsWtB ZpyJÎ=x. Zpt6ÍhŠsÛ ;otyft±x. Bpt7ÍhsÛ $ygè=ô¹r& ×MÎ/$rO $ygããösùur Îû Ïä!$yJ¡¡9$# ÇËÍÈ  
"Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik (kalimat tauhid) seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit".
Dari ayat tersebut, jelaslah bahwa implementasi orang beriman bagai pohon yang besar yakni[9]:
1.      Pohon yang berdiri tegak dan kuat memiliki akar yang kuat dan tangguh, hal ini merupakan gambaran dari keimanan sebagai pondasi/akar dari pohon.
2.      ranting-rantingnya adalah menuruti perintah Allah SWT dan menjauhi larangannya, sedangkan bunganya adalah segala kebaikan yang dilakukan oleh seorang mukmin, serta daunnya menjadi tempat berteduh yakni memberi perlindungan kepada sesama.
3.      Buahnya bisa dinikmati orang lain yakni perilakunya selalu menyenangkan dan menguntungkan sesama manusia.
Adapun tebal tipisnya kadar iman seseorang memang sulit diketahui, karena iman sebagai sikap batin yang berada pada tingkat keabstrakan yang tinggi, tapi paling tidak kita mampu melihat refleksi keimanan dari sepak terjangnya seseorang dalam kehidupan sehari-hari. Diantaranya adalah nilai-nilai kebajikan dan sejauh mana orang tersebut mematuhi segenap perintah Allah SWT dan meninggalkan segala larangan-Nya (taqwa).[10] Seperti yang termaktub dengan jelas dalam firman Allah SWT:

(ayat al Quran tidak dapat ditampilkan di blog ini)
“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa”.
Redaksi ayat diatas menurut tafsir al-Misbah[11], kebajikan yang sempurna ialah orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian sebenar-benar iman sehingga meresap kedalam jiwa dan membuahkan amal-amal saleh. Lalu percaya kepada malaikat, kitab-kitab Allah, para nabi yang membawa wahyu untuk membimbing manusia.
Setelah menyebutkan sisi keimanan yang hakikatnya tidak tampak, ayat ini juga menjelaskan contoh-contoh kebajikan sempurna yang lahir dari pencerminan keimanan yaitu mengorbankan kepentingan pribadi demi orang lain dengan memberikan harta yang dicintai secara tulus kepada kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir yang memerlukan pertolongan, dan orang yang meminta-minta serta memerdekakan budak. Melaksanakan shalat secaara benar sesuai syariat, menunaikan zakat sesuai ketentuan, menepati janji apabila berjanji. Dan adapun yang amat terpuji dari kebajikan ini adalah orang yang sabar yakni tabah, menahan diri, dan berjuang mengatasi kesempitan. Termasuk kebajikan yang sempurna adalah orang-orang yang berbuat benar (jujur) sesuai sikap, ucapan dan perbuatannya dan orang-orang yang bertaqwa.  
Imam al-Ghazali dalam kitabnya Raudhatu al-Thālibin[12] menyebutkan bahwa wujud iman seorang mu’min adalah selalu bersyukur atas segala ni’mat Allah SWT dan menyandarkan hati kepada Allah SWT[13], tanpa ada keraguan di dalamnya serta ridha dengan segala ketentuan Allah.
Lain halnya dengan Badi'uzzaman Seid Nursi menyebutkan dalam kitabnya “Mafātihu al-Nūr”[14], bahwa refleksi dari keimanan seorang muslim adalah adanya keikhlasan dalam beribadah sehingga menghasilkan kedekatan kepada sang Pencipta (taqarrub).
Dalam sebuah hadith nabi bersabda [15]:
فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم:
(دعه فإن الحياء من الإيمان) رواه البخارى
Malu adalah sebagian dari iman” (Riwayat al-Bukhari)
Dari hadith tersebut menyebutkan sifat penting yang harus dimiliki seorang mu’min yaitu rasa malu. Yaitu memiliki rasa malu untuk tidak melakukan perbuatan yang bertentangan dengan keimanannya.[16] Karena ada rasa malu maka seorang mu’min sebisa mungkin menghindarkan dirinya dari menggunakan fasilitas kekayaan umat untuk kepentingan pribadi, tidak meninggalkan tugas-tugas yang diamanahkan, dan dengan malu dapat memacu produktifitas kerja.
Di sisi lain juga disebutkan bahwa refleksi keimanan dalam kehidupan (pribadi & keluarga), tercermin pada seorang mu’min yang mampu mempraktekkan seluruh cabang iman dalam kehidupan sehari-hari. Adapun cabang iman tersebut berjumlah 70 cabang lebih[17], cabangnya yang paling tinggi adalah ucapan kalimat tauhid/syahadat sedangkan cabang yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan yang terdapat di jalan.
Adapun tanda-tanda orang yang tidak beriman kepada Allah adalah tidak mengakui sebuah kebenaran baik yang datang melalui indera dan akalnya maupun melalui Rasul utusan Allah (wahyu) apalagi melaksanakan perintah Allah SWT. Hal ini merupakan bentuk pendustaan sebagai akibat dari kesombongan dan kemunafikan mereka. Dalil naqli yang menjelaskan orang-orang yang tidak beriman antara lain:
(ayat al Quran tidak dapat ditampilkan di blog ini)
Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. Mereka jika melihat tiap-tiap ayat(Ku), mereka tidak beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka terus memenempuhnya. Yang demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai dari padanya.[18]
(ayat al Quran tidak dapat ditampilkan di blog ini)
Di antara mereka ada orang-orang yang beriman kepada Al Quran, dan di antaranya ada (pula) orang-orang yang tidak beriman kepadanya. Tuhanmu lebih mengetahui tentang orang-orang yang berbuat kerusakan.[19]
    
Dari beberapa dalil yang diajukan penulis mengenai orang yang beriman dan yang tidak beriman, dapat kita ketahui perbedaan yang mendasar dari keduanya yaitu :
1.      Orang yang benar-benar beriman adalah yang meyakini kebenaran dari rukun iman dengan sungguh-sungguh tanpa keraguan.
2.      Orang yang tidak beriman adalah yang menolak dan mendustakan kebenaran yang telah sampai kepada mereka, sebagai akibat dari kesombongan mereka. 

D.  Standarisasi Perilaku Mu’min Sejati
Berbicara mengenai standarisasi perilaku mu’min sejati maka ada korelasinya dengan akhlak, karena Islam menghubungkan akhlak dengan keimanan. Orang yang beriman dengan benar-benar sudah barang tentu keimanan tersebut membentuk pribadinya sehingga ia berakhlak. Orang yang paling sempurna keimanannya ialah orang yang paling baik akhlaknya. Dalam hadits juga Rasulullah Saw. memberikan standarisasi kesempurnaan iman seorang mukmin dengan indikator akhlak.
قال رسول الله صلّى الله عليه وسلّم : أكملُ المؤمنين إيماناً أحسنُهُم خُلُقاً (رواه أبوداود)
Artinya: “Seorang mukmin yang paling sempurna imannya adalah siapa yang paling baik akhlaknya”. (HR. Abu Dawud).
Itulah korelasi antara iman dan akhlak. Iman tidak bisa dipisahkan dari akhlak. Karena akhlak merupakan indikator baiknya keimanan seseorang. Seorang mukmin yang sejati pasti memiliki akhlak yang baik. Semakin sempurna keimanan seseorang maka semakin baik akhlaknya.
Imam Syafi’i menegaskan dalam kitabnya “Tafsir al-Kabir”[20] dan juga Ibnu Kathir dalam “Tafsir al-Qur’ān al-'Adhīm”[21], bahwa seorang mu’min yang beriman dengan lisannya, hatinya dan perbuatannya pasti akan melaksanakan amal Shalih dan menjauhi syahawāt (maksiat). Hal ini sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT. Amal shalih yang dilaksanakan seorang mu’min dalam kehidupannya terintrepretasi dari pembentukan kepribadiannya (akhlak) sebagai wujud dari iman dan ketaatan kepada Allah SWT. Dari nilai-nilai amal shalih ini bisa disebut sebagai manifestasi taqwa yaitu dengan melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Oleh karena itu terdapat korelasi langsung antara taqwa dan akhlak.
Dari beberapa keterangan diatas dapat kita simpulkan bahwa standarisasi perilaku mu’min sejati bersumber pada akhlaqul al-karimah yang mana melahirkan perilaku beramal shalih dan menjauhi maksiat sehingga berujung pada manifestasi taqwa.

E.  Refleksi Keimanan dalam Materi PAI
Porsi pengenalan sekaligus praktek penanaman atau internalisasi iman pada anak didik menjadi yang utama, ini terkait dengan aqidah, akhlak, ibadah, muamalah, kemudian Al-Qur’an. Hal ini sesuai dengan urutan substansi pembinaan generasi oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassallam. “Beliau mengajari iman sebelum al-Qur’an, dan ketika al-Qur’an diajarkan maka iman semakin bertambah.”
Bagaimana konkritnya penanaman iman dalam diri siswa ini? Petunjuknya ada di Shahih Muslim dan Shahih Bukhari dengan narasi berbeda , bahwa “iman itu ada 70 lebih cabang dan malu adalah termasuk iman”. Disamping itu juga guru PAI harus mampu menjabarkan dan memberikan aplikasi konkrit daripada keimanan yang mana pancaran dari keimanan mu’min membentuk pribadi berakhlaq, dari pribadi berakhlaq pasti akan melaksanakan kebajikan/amal shalih (al-Birru) dan menghasilkan manifestasi taqwa kepada Allah SWT. Itulah sumber-sumber materi penananam iman pada para anak didik kita nantinya.
Mungkin reaksi spontan orang yang mendengarnya rata-rata adalah “berat amat silabus-nya?” Tentu untuk anak-anak usia 4-12 tahun, materi tersebut harus disampaikan dengan cara yang sesuai usianya. Bukan hanya dengan teori dan pembahasan yang njlimet, tetapi juga melalui praktek mencoba, melatih dan membiasakan sehingga seluruh cabang-cabang iman bener-bener mendarah daging pada anak didik.
Membiasakan siswa belajar dan merefleksikan bentuk-bentuk keimanan memang bukan hal yang mudah bagi setiap guru, maka diperlukan adanya peningkatan wawasan guru, keteladanan secara moral maupun spiritual, kesungguhan hati mengantarkan anak didik, dan tak yang kalah penting yaitu kontinuitas penerapan pembelajaran  (keimanan). 

  
F.   Kesimpulan
Dalam hal ini bersangkutan dengan materi keimanan dan refleksinya dalam kehidupan mu’min (pribadi & keluarga), maka penulis mengambil beberapa kesimpulan antara lain:
*   Orang yang beriman adalah orang yang benar-benar meyakini secara komprehensif rukun Iman yang 6 tanpa adanya keraguan, sedangkan orang yang tidak beriman adalah yang menolak dan mendustakan kebenaran yang telah sampai kepada mereka.
*    Refleksi dari keimanan dalam kehidupan yang disesuaikan dengan al-Qur’an surat al-Baqarah 177 antara lain:
-          Keimanan kita harus sejati dan murni
-          Kita harus siap untuk memancarkan iman keluar dalam bentuk tindakan kemanusiaan
-          Kita harus menjadi warga masyarakat yang baik, yang mendukung sendi-sendi kehidupan kemasyarakatan
-          Jiwa pribadi kita harus teguh dan tak goyah dalam setiap keadaan.
*   Standarisasi perilaku seorang mu’min sejati berpangkal dari beriman Þ berakhlak Þ beramal Þ bertaqwa

  

 BIBLIOGRAFY

Al-Qur’an al-Karim.
Abdul, Hameed Hakeem, Aspek-aspek Pokok Agama Islam, (Jakarta: Dunia Pustaka Jaya, 1983).
Bukhori, Imam, Sahih Bukhari, Maktabah Mausū'ah al-Hadith, (CD-Rom, Maktabah Mausū'ah al-Hadith, tt).
al-Ghazali, Abu Hamid, Raudhātu al-Thālibin, ( Beirut: Dār al-Kutub al-'ilmiyah, tt).
Khozin, Refleksi Keberagaman dari Kepekaan Teologis Menuju Kepekaan Sosial, (Malang: UMM Press, 2004).
Kathir Ibnu, al-Tafsir al-Qur’ān al-'Adhīm, (Beirut: Dār al-Kutub al-'Ilmiyah, tt).
Majid Nurcholish, Islam Doktrin dan Peradaban, (Jakarta: Paramadina, 2005).
Rizal Hamid, Syamsul, Buku Pintar Agama Islam, (Bogor: LPKI Cahaya Islam, 2008), Cet-2.
Sunarso, Ali, Islam Praparadigma, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2009).
Shihab, M.Quraish, Tafsir al-Misbah, (Jakarta: Lentera Hati, 2002).
Seid Nursi Badi'uzzaman, Mafātihu al-Nūr, (Maghrib: Jāmi'atu Sulthan al-Maulā Isma'il,tt).
Syafi’i Imam, al-Tafsīr al-Kabīr, (Beirut: Dār al-Kutub al-'ilmiyah, tt), jilid 3.







[1]Imam Bukhori, Kitab al-Iman, Maktabah Mausū'ah al-Hadith, (CD-Rom, Maktabah Mausū'ah al-Hadith, tt). Untuk riwayat lengkapnya bisa dilihat dalam Sahih Bukhori, Kitab al-Iman, Mausuah al-Hadith.
[2] Iman ialah kepercayaan yang teguh yang disertai dengan ketundukan dan penyerahan jiwa. Tanda-tanda adanya iman ialah mengerjakan apa yang dikehendaki oleh iman itu.
[3] Yang ghaib ialah yang tak dapat ditangkap oleh pancaindera. Percaya kepada yang ghjaib yaitu, mengi'tikadkan adanya sesuatu yang maujud yang tidak dapat ditangkap oleh pancaindera, karena ada dalil yang menunjukkan kepada adanya, seperti: adanya Allah, Malaikat-Malaikat, Hari akhirat dan sebagainya.
[4] Al-Qur’an al-Karim, al-Baqarah ayat 3
[5] Imam Bukhari, Sahih Bukhari, (CD-ROM Mausū’ah Digital), tt.
[6]Hakeem Abdul Hameed, Aspek-aspek Pokok Agama Islam, (Jakarta: Dunia Pustaka Jaya, 1983), 59.
[7] Ali Sunarso, Islam Praparadigma, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2009), 110.
[8] Al-Qur’an al-Karim, Ibrahim ayat 24
[9] Syamsul Rizal Hamid, Buku Pintar Agama Islam, (Bogor: LPKI Cahaya Islam, 2008), Cet-2, 35.
[10] Nurcholish Majid, Islam Doktrin dan Peradaban, (Jakarta: Paramadina, 2005), 43.
[11] M.Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah, (Jakarta: Lentera Hati, 2002), 467.
[12] Abu Hamid al-Ghazali, Raudhātu al-Thālibin, ( Beirut: Dār al-Kutub al-'ilmiyah, tt), 83.
[13] Konsep tawakkal Ghazali dengan menyandarkan segala keputusan kepada Allah SWt setelah apa yang diikhtiarkan (diusahakan) manusia.
[14] Badi'uzzaman Seid Nursi, Mafātihu al-Nūr, (Maghrib: Jāmi'atu Sulthan al-Maulā Isma'il,tt), 59.
[15] Imam Bukhari, Kitab al-Iman, (CD_ROM, Mausū'ah Digital, tt)
[16] Khozin, Refleksi Keberagaman dari Kepekaan Teologis Menuju Kepekaan Sosial, (Malang: UMM Press, 2004), 55.
[17] Selengkapnya dari cabang-cabang iman dapat dibaca di Buku Pintar Agama Islam oleh Syamsul Rizal Hamid.
[18] Al-Qur’an al-Karim, al-A'rāf ayat 146.
[19] Al-Qur’an al-Karim, Al-Yunus ayat 40
[20] Imam Syafi’i, al-Tafsīr al-Kabīr, (Beirut: Dār al-Kutub al-'ilmiyah, tt), jilid 3, 31.
[21] Ibnu Kathir, al-Tafsir al-Qur’ān al-'Adhīm, (Beirut: Dār al-Kutub al-'Ilmiyah, tt), jilid 1, 357.

0 komentar:

Poskan Komentar