--- SELALU ADA YANG BARU DI BLOG BANJIR EMBUN: "KAMI TIDAK MENGAMBIL KEUNTUNGAN MATERI DARI AKTIVITAS ANDA DI BLOG INI. BLOG BANJIR EMBUN ADALAH BLOG SOSIAL, BUKAN BLOG BERORIENTASI KEUNTUNGAN MATERI (LABA). Terima kasih atas kunjungan Anda”---

Kamis, 02 Agustus 2012

Pembelajaran Pendidikan Agama Islam



 Pembelajaran Pendidikan Agama Islam


Oleh :
DWI HARIS MASTUN NISA’
(Mahasiswa S2 Program Pascasarjana STAIN Kediri)
 (foto Dwi Kharis, sumber photo: facebook)




Pembelajaran adalah upaya membelajarkan siswa untuk belajar. Dalam definisi ini terkandung makna bahwa dalam pembelajaran tersebut terdapat kegiatan memilih, menetapkan, dan mengembangkan metode atau strategi yang optimal untuk mencapai hasil pembelajaran yang diinginkan dalam kondisi tertentu.[1]
Menurut Oemar Hamalik, pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur yang saling mempengaruhi mencapai untuk tujuan pembelajaran.[2]
Berdasarkan pengertian di atas, maka yang dimaksud dengan pembelajaran  Pendidikan Agama Islam adalah proses pembelajaran  dengan mengorganisasikan lingkungan anak didik dan diarahkan untuk mencapai tujuan Pendidikan Agama Islam yaitu terbentuknya kepribadian muslim yang sesuai dengan nilai-nilai Islam.
Secara lebih lanjut, kajian tentang pendidikan Agama Islam akan dijelaskan sebagai berikut:
1.      Pengertian Pendidikan Agama Islam
                        Sesuai dengan Undang-Undang Republik Indonesia No 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional pasal 1, dikatakan bahwa pendidikan adalah “usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.”[3]
                        Menurut Zakiyah Daradjat, Pendidikan Agama Islam adalah suatu usaha untuk membimbing dan mengasuh peserta didik agar senantiasa dapat memahami ajaran Islam secara menyeluruh. Lalu, menghayati tujuan, yang pada akhirnya dapat mengamalkan serta menjadikan Islam sebagai pandangan hidup demi keselamatan dan kesejahteraan hidup di dunia maupun di akhirat. [4]
Sedangkan Haidar Putra Daulay, mengemukakan bahwa Pendidikan Agama Islam pada dasarnya adalah pendidikan yang bertujuan untuk membentuk pribadi muslim seutuhnya, mengembangkan seluruh potensi manusia baik yang berbentuk jasmani maupun rohani.[5]
Dari beberapa definisi di atas, maka dapat diambil pengertian bahwa yang dimaksud pendidikan Agama Islam adalah suatu aktivitas atau usaha-usaha  berupa bimbingan atau pengasuhan yang dilakukan secara sadar dan  terencana yang mengarah pada terbentuknya kepribadian anak didik yang sesuai dengan norma-norma yang ditentukan oleh ajaran agama dengan mengembangkan aspek jasmani dan rohani.
2.      Tujuan Pendidikan Agama Islam
            Tujuan merupakan sasaran yang ingin dicapai oleh seseorang atau sekelompok orang yang melakukan suatu kegiatan. Jadi, tujuan pendidikan agama Islam adalah sasaran yang akan dicapai seseorang atau sekelompok orang yang melaksanakan pendidikan Islam.[6]



Zakiah Daradjad membagi tujuan Pendidikan Agama Islam menjadi 4, yaitu:
1)   Tujuan umum
Tujuan umum merupakan tujuan yang akan dicapai dengan semua kegiatan pendidikan. Dan, yang dimaksud di sini adalah terbentuknya pribadi muslim yang utuh (insan kamil) dengan pola ketakwaan yang meliputi sikap, tingkah laku, penampilan, kebiasaan, dan pandangan.
2)   Tujuan akhir
Pendidikan Agama Islam berlangsung seumur hidup, maka tujuan akhir tersebut terdapat pada akhir hidup di dunia pula. Pendidikan yang berlaku seumur hidup ini diharapkan mampu mempertahankan dan mengembangkan kualitas ketakwaan seorang muslim hingga mencapai tujuan akhirnya yakni meninggal dalam keadaan berserah diri kepada Alloh.
3)   Tujuan sementara
    Tujuan sementara merupakan tujuan yang dicapai setelah anak didik memperoleh pengalaman pendidikan tertentu. Dalam pendidikan formal, tujuan sementara bisa disebut dengan tujuan instruksional dengan sifat yang berbeda. Pada tujuan ini, bentuk insan kamil dengan pola takwa sudah mulai terbentuk meskipun dalam ukuran yang sederhana.

4)   Tujuan operasional
            Dalam tujuan operasional ini, anak didik lebih dituntut pada kemampuan atau ketrampilan tertentu.. Dalam hal ini, sangat dikaitkan dengan kegiatan lahiriyah seperti ritual ibadah dan akhlak dalam kehidupan sehari-hari.[7]
                        Selanjutnya, Prof. Dr.M. Athiyah Al Abrasy dalam Uhbiyati mengemukakan tentang tujuan Pendidikan Agama Islam dengan lebih menonjolkan dalam sisi akhlak, seperti uraiannya:
            Para ahli pendidikan Islam telah sepakat bahwa maksud dari pendidikan dan pengajaran bukanlah memenuhi otak anak didik dengan segala macam ilmu yang belum mereka ketahui, tetapi maksudnya ialah mendidik akhlak dan jiwa mereka, menanamkan rasa fadhilah (keutamaan) membiasakan mereka dengan kesopanan yang tinggi, mempersiapkan mereka untuk suatu kehidupan yang suci seluruhnya, ikhlas, dan jujur. Maka tujuan pokok dan terutama dari pendidikan Islam adalah mendidik budi pekerti dan jiwa.[8]

                        Lebih luas lagi, Dr Omar Al Taumy dalam Muhammad Zein mengungkapkan bahwa tujuan pendidikan Islam berkisar pada pembinaan pribadi muslim dalam perkembangan intelektual, emosional, dan spiritual. Secara lebih jelas, pendidikan tersebut meliputi pembinaan warga muslim yang baik, yang percaya pada Tuhan, berpegang teguh pada ajaran agama, berakhlak mulia, luas ilmu pengetahuan, sadar dan kritis terhadap masalah-masalah di sekitarnya, sanggup menggunakan masa luangnya dengan hal yang berfaedah, serta melaksanakan kewajiban-kewajibanya dengan penuh keikhlasan.[9]
Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan Pendidikan Agama Islam adalah sebagai usaha untuk mengarahkan dan membimbing manusia dalam hal ini peserta didik agar mereka mampu menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT, serta meningkatkan pemahaman, penghayatan, dan pengamalan mengenai Agama Islam, sehingga menjadi manusia Muslim, berakhlak mulia dalam kehidupan baik secara pribadi, bermasyarakat dan berbangsa dan menjadi insan yang beriman hingga mati dalam keadaan Islam.
3.      Ruang lingkup Pendidikan Agama Islam
   Ruang lingkup Pendidikan Agama Islam meliputi terwujudnya keserasian, keselarasan, dan keseimbangan hubungan manusia dengan Allah SWT sebagai Penciptanya, hubungan manusia dengan dirinya sendiri, hubungan manusia dengan sesama, serta hubungan manusia dengan makhluk lain dan lingkungannya.
           Sebagaimana diketahui, bahwa inti ajaran Islam meliputi:
(a) masalah keimanan; (b) masalah keislaman (syari’ah); dan (c) masalah ihsan (akhlak). Kemudian, dilengkapi dengan pembahasan dasar hukum Islam  yaitu Al-Qur’an dan Al-Hadits, serta ditambah dengan sejarah Islam (tarikh), sehingga secara berurutan ruang lingkup Pendidikan Agama Islam adalah: (a) ilmu tauhid/keimanan; (b) ilmu fiqih; (c) Al-Qur’an; (d) Al-Hadits; (e) akhlak; dan (f) tarikh Islam.[10]
          Mengenai lingkup Pendidikan Agama Islam sebenarnya telah dicontohkan oleh Luqman ketika mendidik putranya sebagaimana digambarkan dalam Al-Qur'an surat Luqman ayat 13, 14, 17, 18 dan 19 sebagai berikut:
وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لاِبْنِهِ وَهُوَ يَعِظَهُ يَبَنِى لاَتُشْرِكْ بِاللهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ (13) وَوَصَّيْنَا اْلإِنْسَانَ بِوَلِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَلُهُ فِيْ عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لْى وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ اْلمَصِيْرُ (14)
يَاُبنَيَّ أَقِمِ الصَّلاَةَ وَأْمُرْ بِاْلمَعْرُوْفِ وَانْهَ عَنِ اْلمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَآ أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ اْلأُمُوْرِ (17) وَلاَ تُصَعِّرْ خَدَكَ لِلنَّاسِ وَلاَ تَمْشِ فِي اْلأَرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللهَ لاَيُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْرٍِ (18) وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ إِنَّ أَنْكَرَ اْلأَصْوَاتِ لِصَوْتُ الْحَمِيْرِ (19).
Artinya: Dan (ingatlah) ketika luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya, "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan allah adalah benar-benar kezaliman yang besar".(13) Dan kami perintahkan kepada manusia terhadap kedua orang tuanya (ibu bapaknya); ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah lemah dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tua ibu bapakmu, hanya kepada-Ku-lah kembalimu(14)
 Hai anakku, dirikanlah salat dan suruhlah manusia mengerjakan yang baik dan cegahlah mereka dari perbuatan yang munkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan oleh Allah.(17) Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia karena sombong dan janganlah kamu berjalan di muka dengan angkuh.(18) Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanakanlah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-seburuk suara ialah suara keledai".(19)[11]

Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa pada dasarnya ruang lingkup Pendidikan Agama Islam (PAI) merupakan materi yang komprehensif yang memberikan aturan bagi manusia dalam berbagai aspek, entah itu mengenai hubungan manusia dengan Tuhannya, hubungan manusia dengan makhluk lain, maupun dengan alam dan secara terus- menerus membangun pengalaman belajarnya, baik pada ranah kognitif, afektif, maupun psikomotor.


[1]Muhaimin dkk, Strategi Belajar Mengajar:Penerapannya dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, (Surabaya: Karya Anak Bangsa, 1996), 133.
[2]Oemar Hamalik, Kurikulum dan Pembelajaran, (Jakarta: Bumi Aksara, 2003), 57.   
[3]Undang-undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
[4] Dzakiah Daradjat dkk,  Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara,1996), 86.
[5] Haidar Putra Daulay, Pendidikan Islam, (Jakarta : Kencana, 2004), 153.
[6] Nur Uhbiati dan Abu Ahmadi, Ilmu Pendidikan Islam 1, (Bandung:Pustaka Setia, 1997), 33.
[7]Daradjad,  Ilmu Pendidikan.,31-33.
[8]Uhbiyati, Ilmu Pendidikan Islam 1.,39.
[9] Ibid.,40.
[10]Zuhairini dan Abdul Ghofur, Metodologi Pembelajaran Agama Islam, (Malang: UM Press, 2004), 48.
[11] QS. Ali Imran (3):13, 14, 17, 18, 19.

0 komentar:

Poskan Komentar