Pengembangan Pendidikan Agama Islam: Reinterpretasi Berbasis Interdisipliner

Kamis, 02 Agustus 2012

SKRIPSI BAB IV: IMPLEMENTASI KELAS AKSELERASI (PERCEPATAN) DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) DI SMA NEGERI 1 KEDIRI TAHUN AJARAN 2010/2011 (Bagian ke dua)



IMPLEMENTASI KELAS AKSELERASI (PERCEPATAN) DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)
DI SMA NEGERI 1 KEDIRI
TAHUN AJARAN 2010/2011
BAB IV
LAPORAN HASIL PENELITIAN

Oleh :
DWI HARIS MASTUN NISA’
(Mahasiswa S2 Program Pascasarjana STAIN Kediri)
 (foto Dwi Kharis, sumber photo: facebook)

B.       Faktor-faktor Pendukung Dan Penghambat Implementasi Kelas Akselerasi dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Di SMA Negeri 1 Kediri   Tahun Ajaran 2010/2011
Untuk menghasilkan sosok pribadi siswa yang berkualitas dan seimbang baik fisik-jasmaniahnya maupun mental-rohaniahnya, baik jiwa dan raganya maupun akal dan semangatnya, ada faktor yang mendukung dan ada pula faktor penghambat terhadap implementasi kelas akselerasi dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMA Negeri 1 Kediri.
Faktor pendukung dan penghambat implementasi program akselerasi dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMA Negeri 1 Kediri adalah sebagai berikut:
1.         Faktor Pendukung implementasi program akselerasi dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMA Negeri 1 Kediri
Berdasarkan observasi dan wawancara yang dilakukan oleh peneliti, terdapat beberapa faktor pendukung dalam implementasi program akselerasi dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMA Negeri 1 Kediri yaitu:
a.    Komunikasi yang baik dan hubungan emosional yang erat antara guru dan siswa
Dalam hal ini, Ibu Rosyidah mengungkapkan bahwa, “saya biasanya menanyakan kepada anak-anak bagaimana kabarnya hari ini, atau hal-hala sepele yang terjadi dalam kehidupan mereka biar nambah keakraban”[1]
Saat peneliti observasi di kelaspun tampak adanya hubungan yang komunikatif antara guru dan siswa. Misalnya saat materi tentang akhlak terpuji, beberapa siswa seperti Regina, Hanita, Bagus, Yuriko, dan yang lainnya begitu leluasa dalam beberapa hal yang belum mereka ketahui terlebih pada persoalan aplikatif yang sering terjadi. Berikut catatan observasinya.
Pada hari Kamis jam 06.40 WIB peneliti sudah berada di depan kelas akselerasi. Bel berbunyi ketika jam menunjukkan pukul 06.45 WIB, seluruh siswa masuk ke kelas masing-masing. Penulispun masuk kelas mengikuti  ibu Rosyidah kemudian duduk di bagian belakang untuk melihat pembelajaran yang akan belangsung. Setelah guru pendidikan Agama Islam (Ibu Rosydah) masuk ke dalam kelas, ketua kelas langsung menyiapkan teman sekelasnya untuk berdo’a sebagai pembuka kegiatan proses belajar mengajar. Selanjutnya guru Agama Islam memberi apersepsi kemudian membagikan lembaran kertas kepada setiap siswa yang berisi tentang soal materi hari itu yakni akhlak terpuji (khouf, roja’, dan taubat). Setiap anak terlihat antusias mencari jawaban. Setelah jawaban mereka temukan, soal tersebut dibahas bersama-sama. Guru membahas secara global serta memberikan penjelasan yang analogi dan memberi kesempatan tanya jawab sebagai feed back. Suasana pembelajaran terkesan santai dan menyenangkan, guru sebagai partner pembelajaran sehingga antara guru dengan siswa seperti tidak ada batasnya, guru terlihat seperti teman siswa. Anak-anak terlihat aktif dalam mengikuti pelajaran yang disampaikan guru, mereka menanggapi pertanyaan dari guru dan menanyakan materi yang belum dimengerti. Tidak terasa waktu sudah menunjk  jam 08.15 WIB, bunyi bel pergantian jam ke-3 pun berbunyi menunjukkan waktu untuk pelajaran Pendidikan Agama Islam  harus diakhiri. Ibu Rosyidah menutup pembelajaran dengan menarik kesimpulan dan memberi motivasi kepada siswa [2]

b.    Ketrampilan guru dalam penggunaan  metode pembelajaran
Ibu Rosyidah selaku guru Pendidikan Agama Islam (PAI) di kelas akselerasi SMA Negeri 1 Kediri, mengatakan bahwa:
Metode yang saya gunakan untuk mengajar tergantung materi yang di pelajari saat itu. Misalkan materi tentang ayat-ayat maka karus dihafalkan, kayak kemarin masalah iman kepada rosul untuk mengulas sejauh mana mereka tahu tentang nabi dan rosul, saya suruh cerita, kalau materi yang bisa dipresentasikan maka anak-anak saya suruh menpresentasiakan dan  metode yang lain yaitu biasanya ceramah, tanya jawab, diskusi.[3]

Hal tersebut senada dengan pengakuan Hanita, salah satu siswa akselerasi,
Yang menjadi pendukung belajar kita ya... gurunya penyampaiannya enak terus kita juga ngerasa butuh gitu, menggugah rasa ingin tahu. Ya... kalau bu Rosyidah itu termasuk bisa memotivasi ya mbak, misalkan dhuha itukan hampir kayak wajib, jadi bu Rosyidah itu emang nggak pernah bilang kalau itu wajib, cuma beliau memberikan penilaian khusus bagi yang rajin sholat. Emang kita nggak dipaksa tapi akhirnya timbul kesadaran, walaupun awal-awalnya mungkin terpaksa lama-lamakan akhirnya terbiasa.[4]









c.    Sarana dan prasana pembelajaran yang memadai
Hal tersebut seperti yang diungkapkan oleh Ibu Rosyidah yang mengatakan bahwa:
sarana prasarana yang sudah cukup lengkap, siswanya juga unik-unik dan berprestasi dan metode pembelajarannya ketika KTSP kan terserah kita jadi kita lebih mudah mengelola pembelajaran dengan cara kita sendiri, kita sesuaikan dengan siswanya bagaimana, kalau siswanya misalkan ramai kita mencoba dengan mereka yang belajar kita kasih soal atau gimana, kalau mereka respon ya materinya ceramah dan seterusnya gitu.[5]

Menurut Bapak Sulistyo widodo, ketika diwawancarai tentang sarana dan prasarana, ia mengatakan bahwa:
kalau sarana dan prasarana itu, ya sama dengan kelas lain, di sini programnya tinggal RSBI reguler, RSBI smart dan akselerasi, yang program regular saja kan sudah mau lulus. Jadi, sarana prasarananya sama, ada AC, LCD, hotspot area dan lain-lain.[6]

Hal senada juga diungkapkan oleh Ibu Dwi Retnani, yang mengatakan bahwa “yang mendukung sarana-prasarana jelas., sarana prasarana jelas mendukung semua”.[7]
Ketika peneliti kali pertama memasuki kelas`akselerasi, di sana tampak beberapa sarana seperti laptop, LCD, AC, dan gedung yang representatif. Selain itu, ada juga bantalan pada masing-masing kursi untuk kenyamanan duduk siswa.[8] Tentang sarana dan prasarana di luar kelas yang mendukung pembelajaran[9] seperti yang telah dicantumkan pada bab sebelumnya.
d.   Siswa akselerasi yang berkualitas
Hal itu diungkapkan oleh Suyadi, bahwa “syarat siswa masuk ke kelas akselerasi itu harus mempunyai IQ di atas 130 yang diukur oleh tim psikolog dari Universitas Muhammadiyah Malang”.[10]
Menurut Sulistyo widodo Sulistyo widodo, ketika diwawancarai mengatakan bahwa:
Siswa akselerasi diambil dari siswa yang intelegensinya di atas 130.kemudian, kita juga menyeleksi masalah komitmen, motivasi, kemauan orang tua juga mbak, apakah mendukung anaknya atau tidak, dan masih banyak lagi itu. Pokoknya, pertimbangan-pertimbangan itu ditentukan tim psikolog dari Universitas Muhammadiyah malang,. Terus, karena program di SMA 1 sini akselerasi IPA, jadi kami mengambil anak-anak yang menonjol di pelajaran IPA nya, kemarin ada yang menonjol di IPS tidak kami ambil.[11]

e.    Kemampuan siswa akselerasi dalam menggunakan teknologi informasi
Ibu Rosyidah menuturkan, ”anak-anak biasanya juga saya suruh untuk berdiskusi, mencari bahan sendiri untuk didiskusikan kemudian saya suruh menampilkan dalam bentuk slide gitu, lha itu yang membuat anak semakin antusias”[12]
Hal senada juga diungkapkan oleh Bagus, bahwa “Bu Rosyidah pernah nyuruh kita presentasi lewat power point, terus yang nggak lewat power point juga pernah presentasi lisan seperti itu”.
f.     Adanya program khusus akselerasi, yaitu pelayanan motivasi dan Klinik Mata Pelajaran (KMP)
Menurut Sulistyo widodo Sulistyo widodo, ia menuturkan bahwa:
Di sini yang membedakan kalau dari akselerasi ada pelayanan motivasi mbak, kami datangkan beberapa psikolog dari Unair misalnya, atau cukup dari pihak BK sekolah. Kalau dari tim psikolog luar biasanya seperti dulu itu kami mengadakan hipnoterapi, agar anak-anak itu alam bawah sadar mereka diberikan masukan-masukan positif, semacam motivasi lah mbak, biar prestasi mereka naik.[13]

Berkaitan dengan adanya program khusus akselerasi, Bapak Sulistyo widodo menambahkan:
atau tiap akhir semester, untuk akselerasi itu kan 4 bulan sekali, kami mendatangkan psikolog, kami undang anak beserta orang tuanya untuk membicarakan bagaimana perkembangan prestasi anak-anak dan itu untuk memperbaiki masalah motivasi kalau misal sempet kendor.[14]

Bu Dwipun juga memaparkan hal yang sama,“di kelas akselerasi biasanya ada pelayanan motivasi belajar yang lebih, selain dari BK, kami mendatangkan psikolog dari luar buat meningkatkan kualitas belajar siswa aksel.”
Mengenai klinik mata pelajaran (KMP), Sulistyo widodo Sulistyo widodo menjelaskan bahwa:
KMP itu klinik mata pelajaran, tiap waktu kalau diperlukan, kami memberikan fasilitas semacam, yaa... katakanlah tambahan pelajaran buat anak aksel yang membutuhkan penjelasan materi yang belum mereka pahami. Dan ini individual bu..., Jadi, anak-anak  di luar jam pelajaran boleh menemui guru mata pelajaran yang bersangkutan untuk minta pengulangan atau pendalaman materi gitu.[15]

Ibu Rosyidah menegaskan,ada program Klinik Mata Pelajaran, di luar jam pelajaran. Anak-anak bisa menemui guru di kantor misal kalau ada materi yang belum dimengerti.”[16]
2.    Faktor penghambat implementasi kelas akselerasi dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di SMA Negeri 1 Kediri
Beberapa faktor penghambat yang mempengaruhi pembelajaran Pendidikan Agama Islam di kelas akselerasi di SMA Negeri 1 Kediri. antara lain sebagai berikut:
a.    Jumlah siswa akselerasi yang sedikit
Bapak Sulistyo widodo mengungkapkan bahwa, “anak aksel, jumlahnya sedikit, cuma  9 anak, kalau ada outbound dananya yang terkumpul sedikit, motivasinya kurang karena hanya sedikit.[17]
Beliau juga menambahkan bahwa jumlah siswa akselerasi yang sedikit menyebabkan daya persaingan di kelas tidak tinggi, seperti yang beliau tuturkan, “kalau muridnya sedikit jadinya persaingannya gak terlalu tinggi bu...”.[18]
Hal ini sesuai dengan yang dikatakan Ibu Rosyidah, “ mungkin ya..., jumlahnya sedikit menjadikan siswa itu   merasa saingannya nggak banyak, artinya lebih semangat bersaing  kalau temennya banyak. Tapi, meskipun begitu, anak-anak aksel kalau saya perhatikan lebih unggul dari kelas lain.”[19]
b.    Minimnya penguasaan guru dalam menggunakan media pembelajaran yakni  Teknologi Informasi (TI)
Ibu Rosyidah selaku guru mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) SMA Negeri 1 Kediri ketika diwawancarai oleh peneliti mengenai faktor penghambat dalam menyampaikan materi pelajaran PAI khususnya terkait dengan penggunaan teknologi informasi (TI) mengungkapkan bahwa “Sarana prasarana di dalam kelas bagi saya itu sudah bagus dan lengkap karena saya tidak perlu praktek-praktek yang rumit, tapi kalau teknologinya saya yang tidak bisa jadi anak-anak yang saya suruh ngerjakan”.[20]
Hal tersebut sesuai dengan observasi kami yang selama penelitian berlangsung kami tidak pernah melihat Ibu Rosyidah menggunakan teknologi informasi seperti menampilkan slide power point dalam pembelajaran.[21]
c.    Belum tersedianya peralatan khusus untuk praktik manasik haji
Menurut Ibu Rosyidah, selaku guru mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI), ia mengatakan bahwa:
Apa yaa... selama ini kalau agama sih yang nggak ada untuk praktiknya, mungkin peralatannya belum lengkap, cuma ada masjid aja, misalnya kalau kemarin tu untuk manasik haji ada materinya, tapi gak ada peralatannya, seperti dulu pernah prakteknya di aula, peralatannya juga ada.[22]

Belau juga  menambahkan, bahwa “yang lainnya seperti pada praktek jenazah, harusnya praktek jenazah lebih bagus kalau ada boneka (sebagai mayat) nya”.[23]
Hal ini seperti diungkapkan Hanita, salah seorang siswi kelas akselerasi SMA Negeri 1 Kediri, bahwa “kalau materinya tentang haji kita nggak praktek, mungkin cuma dibilang nanti kita disini itu ngapain yang kita lakuin terus nanti gambaran tempatnya seperti apa, paling cuma seperti itu soalnya juga nggak ada fasilitas”.[24]
d.   Adanya siswa yang memiliki  latar belakang keagamaan yang minim
Seperti yang dikatakan Ibu Rosyidah terkait tentang hal ini yaitu,
yang menjadi penghambat di sini misalnya ada salah satu anak, karena dia berasal dari keluarga mayoritas nonmuslim, masalah baca tulis Al-Qur’an masih sangat minim, jadinya khusus dia harus diajari pelan-pelan. Seperti misalnya ini (sambil menunjukkan lembar hasil ujian seorang siswa), ketika ada soal menjelaskan ayat, dikosongi nomernya, nggak dijawab.[25]
       
            Anak yang bersangkutan, yakni Yuriko juga mengakui bahwa, “background keluarga saya kan mayoritas nonmuslim to mbak, jadi saya kadang sedikit kesulitan pelajaran agamanya, banyak hal yang belum saya kuasai. Rasanya dua jam dalam satu minggu singkat sekali”[26]

B.     Temuan Penelitian

Dari  paparan data di atas, maka pada bagian ini peneliti mengklasifikasikan data temuan penelitian berdasarkan fokus penelitian terkait tentang implementasi kelas akselerasi dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMA Negeri I Kediri tahun ajaran 2010/2011.

1.    Implementasi kelas akselerasi dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMA Negeri I Kediri tahun ajaran 2010/2011

Dari hasil wawancara dan observasi peneliti di SMA Negeri 1 Kediri, maka ditemukan data-data terkait tentang bagaimana implementasi kelas akselerasi dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMA Negeri I Kediri tahun ajaran 2010/2011, yaitu:

a.    Rekrutmen siswa
1)   Informasi Data Obyektif, yang diperoleh dari pihak sekolah berupa skor akademis dan skor hasil pemeriksaan psikologis.
(a)  Skor akademis, yang diperoleh dari skor: Nilai Ujian Nasional dari sekolah sebelumnya, dengan rata-rata 8,0 ke atas, tes kemampuan akademis, dengan nilai sekurang-kurangnya 8,0 dan nilai rapor dengan rata-rata seluruh mata pelajaran tidak kurang dari 8,0.
 (b) Skor psikologis, yang diperoleh dari hasil pemeriksaan psikolog yang meliputi tes inteligensi umum, tes kreativitas, dan inventori keterikatan pada tugas. Peserta didik yang lulus tes psikologis adalah mereka yang memiliki kemampuan intelektual umum dengan kategori jenius, IQ ≥ 130)
(c) Informasi Data Subyektif, yang diperoleh dari orang tua dan guru sebagai hasil dari pengamatan ciri-ciri keberbakatan.
  (d) Kesehatan fisik, yang ditunjukkan dengan surat keterangan sehat dari dokter.
  (e) Kesediaan calon siswa dan persetujuan orang tua
b.    Tujuan penyelenggaraan kelas akselerasi SMA Negeri 1 Kediri
Tujuan penyelenggaraan kelas akselerasi di SMA Negeri 1 adalah untuk melayani kebutuhan peserta didik yang memiliki kecerdasan luar biasa, yaitu IQ diatas 130 sehingga mereka bisa mengikuti proses pembelajaran yang nyaman sesuai dengan tantangan yang dibutuhkan.
c.    Kegiatan Pembelajaran  Pendidikan Agama Islam di kelas akselerasi
1)   Kurikulum akselerasi
Kurikulum pendidikan di kelas akselerasi adalah kurikulum nasional (kelas reguler) yang dikembangkan secara berdiferensiasi dengan mempersingkat dari tiga tahun menjadi dua tahun disertai dengan pendalaman-pendalaman materi yang disesuaikan dengan kebutuhan siswa.
2)        Metode pembelajaran
Metode pembelajaran  kelas akselerasi di SMA Negeri 1 Kediri di antaranya adalah metode hafalan, bercerita, ceramah, tanya-jawab, demontrasi, presentasi, diskusi, dan resitasi.
3)        Evaluasi pembelajaran
            Evaluasi pembelajaran kelas akselerasi  di SMA Negeri 1 Kediri sama dengan di kelas reguler yakni terdiri dari ulangan harian, ulangan umum( semester) dan ujian akhir sekolah (UAS). Tetapi jadwalnya dipercepat mengingat deadline kelulusannya adalah dua tahun.

2.      Faktor pendukung dan penghambat implementasi kelas akselerasi dalam  pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di SMA Negeri 1 Kediri tahun ajaran 2010/2011

Berdasarkan hasil wawancara dan observasi peneliti di SMA Negeri 1 Kediri, maka ditemukan beberapa faktor pendukung dan penghambat implementasi kelas akselerasi dalam  pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di SMA Negeri 1 Kediri tahun ajaran 2010/2011, sebagai berikut:

a.    Faktor  pendukung implementasi kelas akselerasi dalam  pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di SMA Negeri 1 Kediri
1)   Komunikasi yang baik dan hubungan emosional yang erat antara guru dan siswa
2)   Ketrampilan guru dalam penggunaan metode pembelajaran
3)   Sarana dan prasarana pembelajaran yang memadai
4)   Siswa akselerasi yang berkualitas
5)   Kemampuan siswa akselerasi dalam menggunakan teknologi informasi
6)   Adanya program khusus akselerasi , yaitu pelayanan motivasi dan Klinik Mata Pelajaran (KMP)
b.    Faktor  penghambat implementasi kelas akselerasi dalam  pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di SMA Negeri 1 Kediri
Di antara yang menjadi faktor penghambat di sini adalah:
1)   Jumlah siswa akselerasi yang sedikit
2)   Minimnya penguasaan guru dalam menggunakan media pembelajaran yakni teknologi informasi (TI)
3)   Belum tersedianya peralatan khusus untuk praktik manasik haji
4)   Adanya siswa yang memiliki latar belakang keagamaan yang minim






Justru Metodeny guru harus paham perbedaan individual karakter,  juga harus mengenali model bernalarnya anak, jadi anak itu mayoritas menggunakan pola berpikir apa. Di sini yang jadi masalah adalah banyak guru yang tidak tau.
Intinya di aksel it yan pngenalan karakter, Yang jadi masalah adalah pengenalan karakter anak, faktanya guru itu pinter tapi tak pahami karakter anak, jadi ketika masuk ya sudah nanti anda mental blok. Kalo sudah gitu kan nada tirai dan mempengaruhi pelajran lain.
Sebenarnya di keunikan karakter aja.
Harusnya guru itu sekali masuk harus senyum, eh basa-basi, lebih ke pengelolaan mental kejiwaan.
Selama ini orang awam itu memahami anak aksel itu mesti jagoan sembarang pelajaran, justru itu yanga akan menjustis mereka “eh mosok anak aksel gak bisa, goblok. It kan membuat mereka down.


[1] Wawancara dengan Ibu Rosyidah, Guru Pendidikan Agama Islam (PAI)  kelas akselerasi SMA Negeri 1 Kediri, Ruang Guru, 24 Maret 2011.
[2] Observasi, di kelas XI akselerasi SMAN 1 Kediri, 28 April 2011
[3]Wawancara dengan Ibu Rosyidah, Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) di Kelas Akselerasi SMA Negeri 1 Kediri, Ruang Guru, 24 Maret 2011.
[4]Wawncara dengan Hanita, siswi kelas akselerasi, ruang kelas akselerasi, 12 Mei 2011.
[5]Wawancara dengan Ibu Rosyidah, Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) di Kelas Akselerasi SMA Negeri 1 Kediri, Ruang Guru, 24 Maret 2011.
[6]Wawancara dengan Bapak Sulistyo widodo  Sulistyo widodo, Sekretaris Departemen/Kelas Akselerasi SMA Negeri 1 Kediri, Depan Kantor Guru, 11 Mei 2011
[7]Wawancara dengan Ibu Dwi Retnani, Ketua Departemen/ Kelas akselerasi  SMA Negeri 1 Kediri, Kantor  Guru, 14 April 2011.
[8]Observasi di kelas akselerasi , 19 Januari 2011
[9] Dokumentasi sarana dan prasarana SMA Negeri 1 Kediri
[10]Wawancara dengan Bapak Suyadi, Waka Kurikulum SMA Negeri 1 Kediri, kantor  kepala sekolah, 14 Maret 2011.
[11]Wawancara dengan Bapak Sulistyo widodo  Sulistyo widodo, Sekretaris Departemen/Kelas Akselerasi SMA Negeri 1 Kediri, halaman kantor guru, 11 Mei 2011
[12]Wawancara dengan Ibu Rosyidah, Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) di kelas akselerasi SMA Negeri 1 Kediri, ruang guru, 24 Maret 2011.
[13]Wawancara dengan Bapak Sulistyo widodo  Sulistyo widodo, Sekretaris Departemen/Kelas  Akselerasi SMA Negeri 1 Kediri, halaman kantor guru, 11 Mei 2011
[14] Ibid.
[15] Ibid.
[16]Wawancara dengan Ibu Rosyidah, Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) di Kelas Akselerasi SMA Negeri 1 Kediri, Ruang Guru, 24 Maret 2011.
[17]Wawancara dengan Bapak Sulistyo widodo,  Sekretaris Departemen/Kelas Akselerasi, 11 Mei 2011
[18]Ibid.
[19]Wawancara dengan Ibu Rosyidah, Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) di Kelas Akselerasi SMA Negeri 1 Kediri, Ruang Guru, 12 Mei 2011.
[20]Wawancara  dengan Ibu Rosyidah, Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) di Kelas Akselerasi SMA Negeri 1 Kediri, ruang guru, 24 Maret 2011.
[21] Observasi, di kelas akselerasi, Maret- Mei
[22]Wawancara dengan Ibu Rosyidah, Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) di Kelas Akselerasi SMA Negeri 1 Kediri, ruang guru, 24 Maret 2011.
[23] Ibid.
[24]Wawancara dengan Hanita, siswi kelas akselerasi, ruang kelas akselerasi, 12 Mei 2011.
[25]Wawancara dengan Ibu Rosyidah, Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) di Kelas Akselerasi SMA Negeri 1 Kediri, ruang guru, 14 Mei 2011
[26]Wawancara dengan Yuriko,siswa akselerasi SMA Negeri 1 Kediri, 12 Mei 2011

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar