Pengembangan Pendidikan Agama Islam: Reinterpretasi Berbasis Interdisipliner

Pengembangan Pendidikan Agama Islam

--- BUKU MURAH (ASLI bukan FOTOCOPY-AN/BUKAN BUKU BAJAKAN): " Buku MURAH BERKUALITAS hanya Rp.47.000,- (belum ongkos kirim. Ongkos kirim diperkirakan Rp. 18.000 - Rp. 35.000 tergantung lokasi pengiriman) berjudul PENGEMBANGAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM: REINTERPRETASI BERBASIS INTERDISIPLINER (Yogyakarta: LKiS, 2015). Sebagai info harga buku ini di pasaran berkisar 70-90 ribu). Serta buku ini hanya dijual di toko buku daerah YOGYAKARTA saja.Info lebih lanjut hubungi: 08563-350-350 (11 digit)”---

Thursday, September 13, 2012

DAULAH ABBASIYAH


DAULAH ABBASIYAH


Oleh: Eny Faridatunnisa


BAB I
PENDAHULUAN

            Pada akhir kepemimpinan khalifah Bani Umayyah, yang mengalami kemunduran dan menyebabkan keruntuhan Daulah tersebut, para keturunan Abbas mengadakan gerakan revolusi yang berhasil mendapat dukungan masa. Karena banyak kelompok ummat yang tidak mendukung kekuasaan imperium Bani Umayyah yang korup, sekuler dan memihak sebagian kelompok, kelompok Syi’ah sejak awal berdirinya Daulah Bani Umayyah telah memberontak karena merasa hak mereka terhadap kekuasaan dirampok oleh Mu’awiyah. Kelompok Khawarij juga merasa hak politik umat tidak boleh dimonopoli oleh keturunan tertentu tetapi merupakan hak setiap Muslim.
            Dengan runtuhnya kekuasaan Bani Umayyah, Bani Abbasiyah memimpin umat Islam dengan format dan ideologi baru. Khalifah Abbasiyah menganggap kekuasaannya berasal dari Tuhan (Devine origin) dan menjadi penuntun yang sebenarnya bagi masyarakat Muslim. Gelar al-Manshur, al-Mahdi, al-Hadi, dan al-Rasyid mengidentifikasikan bahwa mereka mengklaim diri mendapat tuntunan dari Tuhan di jalan yang lurus untuk membawa pencerahan dan mengembalikan ummat Islam ke jalan yang benar.[1]



BAB II
DAULAH ABBASIYAH

A.    Berdirinya Daulah Abbasiyah
Abbasiyah berasal dari keluarga paman Nabi yang bernama Al-Abbas dari golongan Hasyim di Makkah dan karena keturunan ini, mereka dapat mengklaim legitimasi di mata orang-orang saleh. Sesuatu yang tidak dimiliki Bani Umayyah. Untuk membela diri Bani Abbasiyah segera menggunakan sistem gelar kehormatan (alqa>b, bentuk jamak dari laqab) agar dapat mempertahankan jabatan khalifah.[2]
Sebelum berdirinya Daulah Abbasiyah terdapat 3 poros yang merupakan pusat kegiatan, antara satu dengan yang lain mempunyai kedudukan tersendiri dalam memainkan perannya untuk menegakkan kekuasaan. Tiga tempat itu ialah Humaimah, Kufah dan Khurrasan. Humaimah merupakan tempat yang tenteram, bermukim di kota kecil itu keluarga Bani Hasyim baik dari kalangan pendukung Ali maupun pendukung keluarga Abbas. Kufah adalah wilayah yang penduduknya menganut aliran Syi’ah, pendukung Ali ibn Abi Thalib, yang selalu bergolak dan ditindas oleh Bani Umayyah, sehingga mudah untuk dipengaruhi agar memberontak terhadap Umayyah. Khurrasan mempunyai warga yang bertemperamen pemberani, kuat fisiknya, tegap tinggi, teguh pendirian, tidak mudah terpengaruh nafsu dan tidak mudah bingung terhadap kepercayaan yang menyimpang.[3]
Daulah Abbasiyah didirikan oleh Abdullah al-Saffah ibn Muhammad ibn Ali ibn Abdullah ibn Abbas. Kekuasaannya berlangsung dalam rentang waktu yang panjang, dari tahun 132 H (750 M) s.d. 656 H (1258 M).[4] untuk pertama kalinya dalam sejarah Islam, di sisi singgasana khalifah tergelar karpet yang digunakan sebagai tempat eksekusi. Ketika berhasil merebut kekuasaan, orang Abbasiyah mengklaim dirinya sebagai pengusung konsep sejati kekhalifahan, yaitu gagasan negara teokrasi, yang menggantikan pemerintahan sekuler (mulk) Daulah Umayyah. Sebagai cirri khas keagamaan dalam istana kerajaannya, dalam berbagai kesempatan seremonial, seperti ketika dinobatkan sebagai khalifah dan pada shalat jum’at, khalifah mengenakan jubah yang pernah dikenakan oleh saudara, Nabi Muhammad.[5]
Dalam perkembangannya Daulah Abbasiyah dibagi menjadi tiga periode, yakni pertama tahun 132-232 H. di mana para khalifah Abbasiyah berkuasa penuh, kedua 232-590 H. tat kala kekuasaan para khalifah Abbasiyah sebenarnya berada di tangan orang lain, dan ketiga 590-656 H. kembalinya kekuasaan Abbasiyah di tangan  mereka tetapi hanya di sekitar Baghdad saja. Dalam periode pertama semua wilayah kekuasaan Islam berada di tangan Abbasiyah kecuali Andalusia yang ada di bawah Bani Umayyah. Dalam masa ini para khalifah Abbasiyah kuat, ditopang oleh para ulama besar yang saling bersilaturrahmi dan mengeluarkan fatwa serta banyak berijtihad. Dalam periode kedua kekuasaan berada di tangan keluarga lain, yakni di tangan orang-orang Turki (Atrak), Bani Buwaih dan Bani Saljuk. Dalam periode ketiga kekuasaan berada di tangan para khalifah Abbasiyah lagi yang wilayahnya telah menyempit, hanya di sekitar ibu kota, yakni Baghdad saja.[6]

B.     Para Khalifah Abbasiyah
  1. Abu Al- Abbas Al-Saffah ( 750 – 754 M / 132 – 136 H )
Al-Saffah adalah khalifah pertama dari Bani Abbasiyah. Dia dikenal dengan sebutan Abu Al-Abbas Abdullah ibn Muhammad ibn Ali ibn Abdullah ibn Abbas ibn Abdul Muthalib ibn Hisyam. Dia dilahirkan pada tahun 108 H, ada pula yang mengatakan 104 H. Di al-Humaimah sebuah tempat di dekat al-Balqa’. Dia dibesarkan dan berkembang di tempat itu. Dia dibaiat sebagai khalifah pada tanggal 3 Rabiul Awal  tahun 132 H. kemudian dia memimpin shalat jum’at di Kufah setelah pelantikannya.[7]
Al-Saffah adalah gelar yang diberikan ahli sejarah disebabkan kebijaksaan yang dijalankannya selama masa pemerintahannya dan ketika itu beliau masih berusia 27 tahun. Al-Saffah bermakna yang haus darah atau penumpa darah. Pada masa kepemimpinannya beliau menghabisi semua keturunan Bani Umayyah. Sebuah tragedi yang merupakan noda hitam bagi sejarah Daulah Abbasiyah adalah pembunuhan massal yang amat sadis di Damaskus.
Setiap para penguasa pasti  memiliki titik kelemahan dan titik kekuatan dalam sejarah hidupnya. Titik kekuatan dalam sejarah pemerintahannya khalifah Abul-Abbas yang muda belia itu ialah kemampuannya memadamkan perusuhan dan pemberontakan yang meluas semenjak penghujung masa kekuasaan Daulah Umayyah dan masa permulaan kekuasaan daulah Abbasiyah hingga keamanan berangsur pulih kembali dalam wilayah Islam yang sedemikian luas saat itu. Titik kelemahannya ialah kebijaksanaan pemerintahannya berdasarkan kekerasan, hingga digelari dengan al-Shaffah. Untuk pertama kalinya pada masa Daulah Abbasiyah menggunakan istilah wazi>r (menteri=minister) dan lembaga pemerintahannya disebut al-wiza>ra>t.[8]
Al-Saffah membangun kediamannya di Hasimia di Anbar, Baghdad kota tetangga Kufah. Karena khawatir terhadap para pembelot dan para pendukung Ali di Kufah. Di ibukota kerajaan yang baru ia dirikan, al-Saffah meninggal dunia karena sakit cacar air.[9]

  1. Abu Ja’far Al-Mans}ur ( 754 – 775 M / 136 – 185 H )
Abu Ja’far Abdullah ibn Muhammad di usianya yang ke-41 menjabat khalifah ke-2 dari Daulah Abbasiyah. Ahli sejarah menyebutnya dengan empire builder (pembangun imperium). Disebabkan beliau senantiasa menang di peperangan dalam memadamkan perusuhan ataupun menghadapi imperium Byzantium, maka ia pun digelari al-Mans}ur yaitu yang memperoleh pertolongan Allah.[10]
Al-Mans}ur dibaiat sebagai khalifah berkat penobatan dirinya sebagai putra mahkota oleh saudaranya al-Saffah. Dia adalah orang yang sangat terpandang dari kalangan Bani Abbas dan terkenal dengan kharisma, keberanian, tekad yang kuat, pendapatnya yang cemerlang dan kekejamannya. Dia juga terkenal sebagai orator ulung dengan ungkapan kata yang mempesona. Dia juga seorang penumpuk harta yang terkenal dan kikir sehingga degelari dengan Abu al-Dawaniq.
Dalam usahanya menegakkan kekuasaannya, al-Mans}ur telah melakukan pembunuhan besar-besaran. Dialah yang mencambuk Abu Hanifah dan memenjarakannya sehingga beliau meninggal dalam penjara.[11] Dalam masa pemerintahannya juga terjadi pembunuhan terhadap orang-orang kuat yang berjasa dalam merebut kekuasaan dari tangan Bani Umayyah. Tiga pihak yang dikhawatirkan menjadi saingannya ialah Abdullah ibn Ali, pamannya sendiri. Kemudian Abu Muslim al-Khurrasani, yang berjasa dalam mendirikan dan menegakkan daulah Bani Abbas. Dan yang terakhir ialah keturunan Ali ibn Abi Thalib yang pengikutnya banyak.[12]
Al-Manshur memindahkan ibukota Negara ke kota baru dibangunnya, Baghdad. Di ibukota yang baru ini al-Manshur melakukan konsolidasi dan penertiban pemerintahannya. Dia mengangkat sejumlah personal untuk menduduki jabatan di lembaga eksekutif dan yudikatif. Di bidang pemerintahan, dia menciptakan tradisi baru dengan mengangkat wazi>r sebagai koordinator departemen. Dia juga membentuk protokol negara, sekretaris negara, dan kepolisian negara di samping membenahi angkatan bersenjata.[13]
Sistem pemerintahan yang digunakan oleh al-Mans}ur adalah berdasarkan agama. Agama adalah yang mengatur banyak hal yang kemudian diikuti oleh khalifah.[14] Al-Mans}ur meninggal karena sakit dalam suatu perjalanan haji bersama rombongan keluarga dan pembesar Abbasiyah. Pemerintahan Abbasiyah kemudian dipegang oleh putranya, al-Mahdi.[15]

  1. Abu Abdullah Muhammad Al-Mahdi ( 775 – 785 M / 158 – 169 H )
Beliau adalah Abu Abdullah Muhammad ibn Abi Ja’far al-Mans}ur menjabat khalifah ketiga dari Daulah Abbasiyah di usianya yang ke-33 tahun dengan panggilan al-Mahdi.[16] Beliau terkenal sebagai sosok yang pemurah dan terpuji, menyenangi rakyatnya, memiliki akidah yang baik, selalu memburu orang-orang zindiq dan berhasil membinasakan mereka dalam jumlah yang cukup besar.
Al-Mahdi adalah khalifah pertama yang memerintahkan ulama untuk mengarang buku-buku dalam rangka menentang orang-orang zindiq dan orang-orang mulhid (ingkar).[17] Al-Mahdi sangat populer karena lebih lunak pada lawan politiknya, lebih dermawan dan lebih berperan dalam membela Islam dibanding ayahnya yang lebih sekuler. Sebelum menjadi khalifah, dia sudah mempunyai pengalaman politik yang cukup dan memiliki kontak dengan kebanyakan orang-orang kuat dan berpengaruh di Abbasiyah. Ketika dia memerintah, pemerintahan Abbasiyah mulai aman dan kekayaan negara bertambah banyak.[18]
Dalam masa pemerintahan al-Mahdi terjadi perubahan-perubahan dari sifat keras yang diterapkan oleh ayahnya ke sifat moderat dan murah hati. Ia mengembalikan harta kekayaan yang disita oleh ayahnya kepada pemiliknya, dan membebaskan para tawanan politik dari kelompok Syi’ah serta memerangi kaum kafir yang menyimpang dari ajaran Islam. Ia membangun gedung-gedung di sepanjang jalan menuju ke Mekkah. Ia membangun kolam dan sumur untuk kepentingan kafilah di jalur yang dilalui para pedagang itu dan memberi santunan terhadap tawanan dan penderita penyakit kusta agar tidak meminta-minta sehingga penyakit tidak menular ke mana-mana. Ia memperluas masjid Madinah dan menghapus nama Khalifah al-Walid (Umaiyah) pada dinding masjid itu untuk diganti dengan namanya sendiri. Ia juga memperbaiki sistem pembayaran pos tiap mil, dan menambah pelayanan pos antara Makkah dan Madinah, serta Yaman, ia membuat benteng-benteng pertahanan untuk kota-kota, terutama Rusafah, Baghdad timur.[19]
Sebelum meninggal, al-Mahdi telah mempersiapkan dua anaknya, al-Hadi dan Harun al-Rasyid, untuk bergiliran menggantikan kekuasaannya. Mereka dilatih untuk aktif mengurus jalannya pemerintahan dan sesekali memimpin pasukan di medan pertempuran. Alasan al-Mahdi mengangkat dua orang putra mahkota adalah agar kekuasaan Abbasiyah tetap di tangan keturunan al-Abbas. Jika salah seorang putra mahkota meninggal secara mendadak, masih terdapat satu lagi putrra mahkota pengganti. Al-Mahdi meninggal ketika sedang berburu dan jatuh dari kuda yang ditunggangi, tetapi ada juga yang mengatakan ia meninggal karena diracun. Setelah al-Mahdi meninggal maka putra mahkota pertama al-Hadi naik tahta sebagai penggantinya.[20]

  1. Musa al-Hadi ( 785 – 786 M / 169 – 170 H )
Al-Hadi Abu Muhammad Musa ibn al-Mahdi ibn al-Mans}ur. Dia diangkat sebagai khalifah setelah ayahnya meninggal sesuai dengan wasiat ayahnya. Dia menjadi khalifah hanya dalam jangka setahun beberapa bulan. Ayahnya memerintahkannya untuk membunuh para zindiq. Sehingga dia benar-benar melaksanakan perintah dan wasiat ayahnya itu. Sehingga banyak para zindiq yang dibunuh pada zamannya.[21]
Sifatnya sangat berbeda dengan ayahnya. Ayahnya adalah orang yang lembut dan mencintai orang-orang, sedangkan dia adalah orang yang bengis, keras, dan kaku. dia tidak simpati terhadap orang lain dan tidak mempedulikan apa yang dikatakan orang lain tentang dirinya. Al-Hadi berlaku keras, memutuskan hubungan dan bantuan terhadap keluarga Ali, serta mezhalimi mereka dan para pekerja mereka.[22]
Al-Hadi mengendalikan pemerintahan dengan keras. Ini sesuai dengan karakternya yang kasar dan mudah tersinggung. Dia kurang menghargai orang-orang non-Arab  (mawali) dan kelompak Syi’ah yang dulu menjadi tulang punggung kekuatan revolusi Abbasiyah. Ia melanggar keputusan ayahnya yang mengangkat saudaranya, Harun untuk menggantikan tahtanya setelah meninggal dengan mengangkat anaknya sendiri, Ja’far, sebagai putra mahkota. Namun, rencana ini tidak sepenuhnya berjalan. Ketika tiba-tiba dia meninggal, saudaranya Harun al-Rasyid dibaiat oleh pendukungnya.[23] Masa pemerintahannya tidak memperlihatkan sesuatu yang istimewa dan bahkan terpandang suatu kekuasaan yang lemah.[24]

  1. Harun al-Rasyid ( 786 – 809 M / 170 -193 H )
Sepeninggal al-Hadi tahun 170 H, al-Rasyid secara otomatis naik tahta, ia adalah seorang khalifah yang murah hati, menggunakan akal dari pada emosi, berlaku sopan santun, dan dermawan. Ia menyukai syair, menghormati para ulama, menyantuni para nara pidana dengan memberi makanan yang cukup, dan memberinya pakaian untuk musim panas dan musim dingin yang dianggarkan dari dana Baitul Mal. Kemenangan demi kemenangan yang dicapai oleh para pendahulunya menyebabkan tercapai kemakmuran dan kemewahan di masa kekuasaannya.[25]
Nama Harun dalam masa sekian lamanya termasyhur sekali dan menjadi buah bibir, baikpun di timur maupun di barat, mungkin sebagian besarnya disebabkan dia merupakan tokoh legendaris di dalam sebagian kisah-kisah seribu satu malam. Khalifah yang mencapai puncak kekuasaan, kemakmuran, dan kebudayaan pada masanya.[26]Harun al-Rasyid adalah seorang pendukung kesenian dan kecendikiawanan, dan mengilhami kebangkitan kembali kebudayaan yang besar. Kritik sastra, filsafat, puisi, kedokteran, matematika dan astronomi berkembang pesat bukan hanya di Baghdad, tapi di Kufah, Basrah, Jundayvebar dan Harran. Dhimmi turut serta dalam gairah kebangkitan itu dengan menerjemahkan teks filsafat dan medis hellenisme klasik dari Yunani dan Syiria ke dalam bahasa Arab.[27]
Pada masa pemerintahannya kondisi terlihat lebih damai dengan kekayaan yang berlimpah ruah. Perkembangan peradaban juga sangat tinggi.[28] Sistem administrasi dibuat dalam bentuk kementrian dengan sistem yang rapi. Hal tersebut telah mencapai target. Aktifitas kementrian menjadi jelas, dan masa jabatan seorang mentri dibatasi. Administrasi negarapun dicatat dan dikontrol. Ia memilih orang-orang yang ahli dan cabang-cabang yang terkoordinasi.[29] Sebelum mengakhiri jabatannya, Harun al-Rasyid menyiapkan dua anaknya untuk menjadi putra mahkota yaitu Muhammad (al-Amin) yang dihadiahi wilayah Abbasiyah bagian barat dan Abdullah (al-Makmun) yang diberi otonomi luas untuk mengatur wilayah Abbasiyah di bagian timur. Beliau meninggal ketika memimpin ekspedisi perang di Khurasan.[30]
  1. Muhammad al-Amin ( 809 – 813 M / 193 – 198 H )
Al-Amin adalah khalifah Abbasiyah yang keturunan Arab. Al-Amin kurang serius dalam memegang kendali pemerintahan dan lemah, tetapi kegemaran di bidang sastra menonjol. Terjadi permusuhan dan perebutan kekuasaan antara khalifah al-Amin dengan saudaranya, al-Makmun yang dimenangkan oleh al-Makmun. Perselisihan ini terjadi karena al-Amin ingin mengangkat anaknya, Musa, sebagai putra mahkota sepeninggalnya, yang ditolak al-Makmun karena menyalahi wasiat ayahnya, Harun.[31]
Perang antara dua orang bersaudara ini terus berlanjut. Pengaruh dan kekuasaan al-Amin semakin hari semakin melemah. Karena dia selalu berfoya-foya dan terlena dalam leha-leha serta tindakannya yang bodoh. Sebaliknya, al-Makmun, pengaruhnya semakin hari semakin besar hingga akhirnya penduduk Mekkah dan Madinah membaiatnya, demikian juga mayoritas wilayah Irak. Kerusakan yang ada pada pemerintahan al-Amin parah sekali. Mentalitas kesatuan tentara menjadi hancur, kas negara bangkrut, kondisi kehidupan penduduk menjadi sangat buruk, kejahatan menyebar dan kerusakan merayap dimana-mana akibat perang yang terus menerus dan akibat lemparan manjaniq, hingga akhirnya keindahan dan keelokan kota Baghdad menjadi suram. Beliau meninggal karena dibunuh.[32]

  1. Abdullah al-Makmun ( 813 – 833 M / 198 – 218 H )
Al-Makmun Abdullah Abu al-Abbas ibn al-Rasyid, dilahirkan pada tahun 170 H, pada malam wafatya khalifah al-Hadi pamannya.[33] Al-Makmun dikenal sebagai khalifah yang sangat cinta kepada ilmu. Pada masa pemerintahannya, penerjemahan buku-buku asing digalakkan. Untuk menerjemahkan buku-buku Yunani, Ia menggaji penerjemah-penerjemah dari golongan Kristen dan penganut agama lain yang ahli. Ia juga banyak mendirikan sekolah, salah satu karya besarnya yang tepenting adalah pembangunan Bait al-Hikmah, pusat penerjemahan yang berfungsi sebagai perguruan tinggi dengan perpustakaan yang besar. Pada masa al-Makmun ini lah Baghdad mulai menjadi pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan.[34]
Ketika al-Makmun memerintah timbul masalah agama yang pelik, yakni faham apakah al-Qur’an itu makhluk atau bukan. Kaum Mu’tazilah berpendapat bahwa al-Qur’an itu adalah makhluk, dan itu pula lah pendapat khalifah. Sehingga ia menggunakan kekerasan untuk mempertahankan pendapatnya itu. Al-Makmun meninggal karena sakit demam yang keras sewaktu masih dalam peperangan di Tarsus tahun 218 H. Al-Makmun membaiat al-Mu’tashim sebagai putra mahkota karena dinilainya lebih cerdik dan cocok untuk jabatan tersebut, bukan kepada saudaranya al-Qasim atau anaknya Abbas.[35]

  1. Al-Mu’tas}im Billah Abu Ishaq ( 833 – 842 M / 218 – 227 H )
Al-Mu’tas}im dilantik sebagai khalifah setelah meninggalnya al-Makmun. Dia bertindak seperti yang dilakukan oleh al-Makmun dan menghabiskan masa-masa akhir hidupnya dengan menguji manusia tentang kemakhlukan al-Qur’an. Dia menulis surat perintah agar semua penduduk mengakui hal itu. Dia memerintahkan kepada guru dan pengajar untuk mengajari anak mendidik mereka dengan paham tersebut. Tindakannya ini membuat banyak orang menderita kesengsaraan. Banyak ulama yang dibunuh karena mereka menolak menyatakan bahwa al-Qur’an itu makhluk. Imam Ahmad sendiri adalah orang yang menerima peteka ini, dia dihukum cambuk.[36]
Banyak terjadi pertempuran dan pemberontakan orang-orang Arab terhadap khalifah karena ia cenderung kepada orang-orang Turki yang banyak diserahi tugas dalam pemerintahannya. Ibu kota pemerintahan pada masanya dipindahkan dari Baghdad ke Samarra, dari perkataan Arab (surra man ra’a) yang berarti digemberikanlah orang yang melihatnya. Ia membasmi para pemberontak Zatti atau Zott  ( gypsies ). Keturunan orang-orang India yang tinggal di pantai Teluk Persia. Khalifah dengan pasukannya banyak menundukkan wilayah Byzantium, antara lain kota Angura dan Amora, sehingga banyak penduduknya terbunuh dan tertawan yang menyebabkan ditebusnya mereka itu dengan tebusan yang tinggi. Setelah khalifah meninggal maka diganti oleh putranya, al-Wasiq.[37]

  1. Al-Wasiq Billah Harun ( 842 – 847 M / 227 – 232 H )
Masa pemerintahannya sedemikian singkat akan tetapi ia terpandang khalifah yang bersikap tegas ke arah ke dalam dan bersikap perkasa ke arah keluar, terutama dalam berhadapan dengan imperium Byzantium. Al-Wasiq menaruh minat yang besar terhadap bidang ilmiah dan filsafat. Sejarah mencatat bahwa ia menghidupkan kembali kemegahan zaman, al-Makmun.[38]
Pada masa al-Wasiq orang-orang Turki menambah kekuatannya di dalam tubuh pemerintahan. Tindak kejahatan korupsi merajalela pada masa tersebut. Ia tidak mau menetapkan putra mahkota sebagaimana para khalifah terdahulu. Dengan wafatnya al-Wasiq berakhirlah masa kejayaan Abbasiyah.[39]

C.    Sistem Pemerintahan
Daulah Abbasiyah menampilkan diri di depan publik sebagai pemerintahan imamah, yang menekankan karakteristik dan kewibawaan religius. Khalifah melimpahkan otoritas sipilnya kepada seorang wazir, otoritas pengadilan kepada seorang hakim (qa>d}i )militer kepada seorang jenderal (ami>r), tetapi khalifah tetap menjadi pengambil keputusan akhir dalam semua urusan pemerintahan. Pergantian kepemimpinan secara turun temurun seperti telah dipraktikkan pada masa Umayyah. Sumber pemasukan negara adalah zakat, pajak perlindungan dari rakyak non-Muslim  (jizyah) dan pajak tanah (kharaj).
Terdapat juga biro-biro pemerintahan, di antaranya kantor pengawas (di>wa>n al-dzima>m), dewan korespondensi atau kantor arsip (di>wa>n al-tauqi’), dewan penyelidik keluhan (di>wa>n al-naz}ar fi> al-maz}alim), departemen kepolisian (di>wa>n al-shurt}ah) departemen pos (di>>wa>n al-bari>d). Sistem organisasi militer pada daulah Abbasiyah pasukan regular terdiri atas pasukan infanteri (h}arbiyah), pasukan panah (ra>miyah) dan kaveleri (fursa>n). Pembagian wilayah ke dalam provinsi dipimpin oleh seorang gubernur.[40]

D.    Perkembangan Peradaban di Bidang Ilmu Pengetahuan
Setelah jatuhnya Dinasti Umayyah, kekuasaan berpindahnya kepada Bani abbasiyah. Untuk pertama kalinya dinasti ini dipimpin oleh para khilafah yang cerdas dan kuat, seperti al-Manshur, al-Rasyid dan al-Makmun, sehingga dinasti ini mampu bertahan selama berabad-abad. Selama dinasti ini mereka pimpin, mereka berhasil mengantarkannya ke gerbang kecemerlangan peradaban Islam. Sebuah peradaban yang mampu memimpin peradaban dunia selama berabad-abad. Pada waktu itu para ilmuwan yang lahir dari peradaban ini adalah para ilmuwan yang sangat dikenal di berbagai pelosok dunia. Seperti Ibn Haitsan, al-Biruni, al-Razi, Ibn Sina, al-Zahrawi, al-Kharizmi, Ibn Nafis, Ibn Rusyd dan masih banyak yang lainnya. Selain itu, buku-buku karya mereka juga menjadi acuan utama bagi para ilmuwan lainnya, baik di Barat maupun di Timur. Sebagai contoh, dalam ilmu kedokteran, buku yang paling dikenal adalah buku al-Hawi karya al-Razi, al-Qanun karya Ibn Sina, al-Tashrif liman 'Ajiza 'an al-Ta'lif karya al-Zahrawi dan buku al-Kulliyyat karya Ibn Rusyd. Lalu, saat itu bahasa Arab digunakan sebagi induk ilmu pengetahuan di dunia. Oleh sebab itu, saat itu siapa saja yang ingin mendalami ilmu pengetahuan, mereka harus terlebih dahulu menguasai bahasa Arab dengan baik. Saat itu juga, berbicara dengan menggunakan bahasa Arab adalah merupakan simbol bahwa yang bersangkutan memiliki pendidikan yang sangat tinggi.[41]
Peradaban Islam mengalami puncak kejayaan pada masa daulah Abbasiyah. Perkembangan ilmu pengetahuan sangat maju. Kemajuan ilmu pengetahuan diawali dengan penerjemahan naskah-naskah asing terutama yang berbahasa Yunani ke dalam bahasa Arab, pendirian pusat pengembangan ilmu dan perpustakaan Bait al-Hikmah, dan terbentuknya mazhab-mazhab ilmu pengetahuan dan keagamaan sebagai buah dari kebebasan berpikir. Kemajuan peradaban Abbasiyah sebagiannya disebabkan oleh stabilitas politik dan kemakmuran ekonomi daulah ini. Pusat kekuasaan Abbasiyah berada di Baghdad. Daerah ini bertumpu pada pertanian dengan sistem irigasi dan kanal di sungai Eufrat dan Tigris yang mengalir sampai Teluk Persia. Perdagangan juga menjadi tumpuan kehidupan masyarakat Baghdad yang menjadi kota transit perdagangan antara wilayah timur seperti Persia, India, China dan Nusantara dan wilayah barat seperti negara-negara Eropa dan Afrika Utara. Sebelum ditemukan jalan laut menuju timur melalui Tanjung Harapan di Afrika Selatan.[42]
Kejayaan daulah Abbasiyah terjadi pada masa khalifah Harun al-Rasyid dan anaknya, al-Makmun. Empat mazhab Fiqih tumbuh dan berkembang pada masa Abbasiyah. Imam Abu Hanifah yang meninggal di Baghdad tahun 150 H/677 M adalah pendiri mazhab Hanafi. Imam Malik ibn Anas yang banyak menulis hadis dan pendiri mazhab Maliki itu wafat di Madinah tahun 179 H/795 M. Muhammad ibn Idris al-Syafi’I yang meninggal di Mesir tahun 204 H/819 M adalah pendiri mazhab Syafi’I, dan Ahmad ibn Hanbal pendiri mazhab Hanbali meninggal dunia tahun 241 H/855 M. Di samping itu berkembang pula ilmu filsafat, logika, metafisika, matematika, alam, geografi, aritmatika, mekanika, astronomi, musik, kedokteran dan kimia.
Dalam masa itu berkumpul para seniman di Baghdad seperti Abu Nawas, diantara karya seni sastranya yang terkenal adalah (Alfu Lailah wa Lailah) diterjemahkan dalam bahasa Inggris The Arabian Nights.39[43]



BAB III
PENUTUP

            Demikian gambaran singkat tentang daulah Abbasiyah dari sejak berdirinya hingga mencapai masa kejayaannya. Daulah Abbasiyah pada masa pemerintahannya lebih menekankan pembinaan peradaban dan kebudayaan Islam dari pada perluasan wilayah. Terdapat juga ciri-ciri perbedaan dengan Daulah Umayyah, diantaranya, Daulah Abbasiyah memindahkan pemerintahan ke Baghdad yang dahulunya di Damaskus sehingga jauh dari pengaruh Arab. Pemerintahan Abbasiyah dipengaruhi oleh kebudayaan bangsa Persia, kemudian politik dominan dipengaruhi oleh bangsa Turki. Daulah Abbasiyah dalam penyelenggaraan negara menggunakan wazir yang membawahi kepada kepala departemen. Kemudian ketentaraan professional terbentuk pada pemerintah Abbasiyah yang sebelumnya belum ada tentara khusus dan professional.
            Puncak perkembangan kebudayaan dan pemikiran Islam terjadi pada masa pemerintahan Abbasiyah. Pesatnya perkembangan peradaban juga didukung oleh kemajuan ekonomi yang menjadi penghubung dunia timur dan barat dan juga stabilitas politik yang relatif baik.




DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman, Dudung. Sejarah Peradaban Islam : dari masa klasik hingga masa modern. Yogyakarta: Lesfi, 2004.

Al-Isy, Yusuf. Dinasti Abbasiyah. Terj. Arif Munandar. Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2007.

Al-Suyuti. Tarikh al-Khulafa’ . Terj. Samson Rahman, cet.5. Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2006.

Armstrong, Karen. Islam Sejarah Singkat. Terj., Fungky Kusnaedy Timur. Yogyakarta: Jendela, 2002.

Bosworth, C.E. Dinasti-Dinasti Islam. Terj. Ilyas Hasan, cet.1. Bandung: Mizan, 1993.

Hitti, Philip, K. History of The Arabs. Terj. R. Cecep Lukman Yasin, dkk, cet.1. Jakarta: Serambi, 2006.

Mufrodi, Ali. Islam di Kawasan Kebudayaan Arab. Jakarta: Logos, 1997.

Qardhawi Yusuf. Meluruskan Sejarah Umat Islam. Terj. Cecep Taufiqurrahman. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2005.

Sou’yb, Joesoef. Sejarah Daulat Abbasiyah I. Jakarta: Bulan Bintang, 1997.

Syalabi, Ahmad. Sejarah dan Kebudayaan Islam, Jilid III. Jakarta: Pustaka Al-Husna, 1993. 

Yatim, Badri. Sejarah Peradaban Islam. Cet.14. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2003.




[1]    Dudung Abdurrahman, Sejarah Peradaban Islam: dari masa klasik hingga modern (Yogyakarta: Lesfi, 2004), 98-100.
[2]    C.E. Bosworth, Dinasti-Dinasti Islam, terj Ilyas Hasan, Cet. 1 (Bandung: Mizan, 1993), 29.
[3]    Ali Mufrodi, Islam di Kawasan Kebudayaan Arab (Jakarta: Logos, 1997), 87.
[4]    Badri Yatim,, Sejarah Peradaban Islam, Cet.14 (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2003), 49.
[5]    Philip K. Hitti, History Of The Arabs, terj R. Cecep Lukman Yasin, dkk, Cet.1 (Jakarta: Serambi, 2006), 358.
[6]    Ahmad Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan Islam, Jilid III (Jakarta: Pustaka Al-Husna, 1993), 2-4.
[7]    Al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa’, terj. Samson Rahman, Cet.5 (Jakarta: Pustaka al-kautsar, 2006), 309-310.
[8]    Joesoef Sou’yb, Sejarah Daulat Abbasiyah I (Jakarta: Bulan Bintang, 1997), 23-26.
[9]    Philip K. Hitti, History of The Arabs, 36.
[10] Joesef  Sou’yb, Sejarah Daulat Abbasiyah I, 38.
[11] Al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa’, 313.
[12] Ali Mufrodi, Islam di Kawasan Kebudayaan Arab, 211-212.
[13] Badri Yatim, Sejarah Kebudayaan Islam, 51
[14] Yusuf Al-Isy, Dinasti Abbasiyah, terj. Arif Munandar (Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2007), 36. 
[15] Dudung Abdurrahman, Sejarah Peradaban Islam: dari masa klasik hingga modern, 101.
[16] Joesef  Sou’yb, Sejarah Daulat Abbasiyah I, 77.
[17] Al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa’, 329-330.
[18] Dudung Abdurrahman, Sejarah Peradaban Islam: dari masa klasik hingga modern, 101.
[19]Ali Mufrodi, Islam di Kawasan Kebudayaan Arab, 91-92.
[20] Dudung Abdurrahman, Sejarah Peradaban Islam: dari masa klasik hingga modern, 101.
[21] Al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa’, 334.
[22] Yusuf Al-Isy, Dinasti Abbasiyah, terj. Arif Munandar, 50.
[23] Dudung Abdurrahman, Sejarah Peradaban Islam: dari masa klasik hingga modern, 102.
[24] Joesef  Sou’yb, Sejarah Daulat Abbasiyah I, 101.
[25]Ali Mufrodi, Islam di Kawasan Kebudayaan Arab, 94. 
[26] Joesef  Sou’yb, Sejarah Daulat Abbasiyah I, 103.
[27] Karen Armstrong, Islam: A Short History, terj. Fungky Kusnaedy Timur, Cet.1 (Yogyakarta: Jendela, 2002), 80.
[28] Dudung Abdurrahman, Sejarah Peradaban Islam: dari masa klasik hingga modern, 102.
[29] Yusuf Al-Isy, Dinasti Abbasiyah, terj. Arif Munandar, 53.
[30] Dudung Abdurrahman, Sejarah Peradaban Islam: dari masa klasik hingga modern, 102.
[31] Ali Mufrodi, Islam di Kawasan Kebudayaan Arab, 95.
[32] Al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa’, 364.
[33] Ibid., 373.
[34] Badri Yatim,  Sejarah Kebudayaan Islam, 53.
[35] Ali Mufrodi, Islam di Kawasan Kebudayaan Arab, 97.
[36]Al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa’, 410.
[37] Ali Mufrodi, Islam di Kawasan Kebudayaan Arab, 98.
[38] Joesoef  Sou’yb, Sejarah Daulat Abbasiyah I, 230.
[39] Ali Mufrodi, Islam di Kawasan Kebudayaan Arab, 98.
[40] Philip K. Hitti, History of The Arabs, 395-411.
[41] Yusuf Qardhawi, Meluruskan Sejarah Umat Islam, Terj Cecep Taufiqurrahman (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2005), 119-120.
[42] Dudung Abdurrahman, Sejarah Peradaban Islam: dari masa klasik hingga modern, 97.
[43] Ali Mufrodi, Islam di Kawasan Kebudayaan Arab, 103.

No comments:

Post a Comment