Pengembangan Pendidikan Agama Islam: Reinterpretasi Berbasis Interdisipliner

Selasa, 04 September 2012

Hamka dan H.B. Yasin Sebagai Pujangga Segala Zaman


Hamka dan H.B. Yasin Sebagai Pujangga Segala Zaman

(Diambil dari buku karya Zaini BA “Kesusastraan Indonesia Jilid III untuk Sekolah Menengah Tingkat Atas (SMTA) Tahun 1972)
   1.      Hamka
Hamka memiliki nama lengkap Haji Abdul Malik Karim Amrullah. Beliau lahir di Sungai Batang, Maninjau pada 17 Pebruari 1908. Riwayat pendidikan beliau adalah bersekolah hanya sampai kelas II di sekllah desa. Hamka pernah mendapat  gelar doktor kehormatan (doctor inhonoris causa) dari Universitas al Azhar Kairo. Ia dipandang seebagai pujangga Islam yang terkenal pada masanya. Seperti halnya Hamzah Fansuri dalam kesustraan lama.
Berbeda dengan pujangga yang lain. Hamka tidak dapat digolongkan dalam salah satu angkatan manapaun juga. Oleh karena itu dapat dikatakan sebagai pujangga segala zaman. Sifat karyanya mempunyai corak dan gaya tersendiri yaitu bersifat keagamaan dedaktis dan menyedihkan oleh karena itu ia diberi julukan sebagai Pujangga Air Mata. Karyanya berisi cerita luas dan modern tetapi gaya bahasana masih memperlihatkan gaya lama.
Karya-karya Hamka adalah di Bawah lembah kehidupan (Kumpulan Cerpen), Di Bawah Lindungan Ka’bah (roman bertenden), Tenggelamnya Kapan Van Der Wijck (Roman Bertenden), Ayahku (Biografi), Kenang-kenangan Hidup (Autobiografi), Mandi Cahaya di Tanah Suci (Kisah Perjalanan), Merantau ke Deli, Falsafah Hidup, Falsafah Ideologi Islam, Menanti Bedug Berbunyi, Revolusi Agama, dan sebagainya.

   2.      H. B. Yasin
Karya-karya H.B. Yasin adalah Gema Tanah Air, Pancaran Cinta, Anggkatan 45, Renungan Indonesia, Lama dan Baru dalam Roman Indonesia Modern, Pujangga Baru, Tifa Penyair dan Daerahnya, Rival Afin dan Chairil Anwar, Chairil Anwar Pelopor Angkatarn 45, kesusastraan Indonesia di Masa Jepang, Analisa, dan Angkatan 66 Prosa dan puisi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar