Pengembangan Pendidikan Agama Islam: Reinterpretasi Berbasis Interdisipliner

Pengembangan Pendidikan Agama Islam

--- SELALU ADA YANG BARU DI BLOG BANJIR EMBUN: "Kami Mengucapkan Terima Kasih Atas Kunjungan Anda. Bila butuh bantuan atau ada pertanyaan silakan hubungi ke nomor 08563350350 atau kirim email ke: banjirembun@yahoo.co.id subjek: BanjirEmbun Menjawab”---

Selasa, 25 September 2012

ISLAM DI SPANYOL MASA MULUK al-THAWAIF


ISLAM DI SPANYOL
MASA MULUK al-THAWAIF

Oleh: Istifadah
 

PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Spanyol Muslim sejak penaklukan bangsa Arab sampai likuidasi kekuasaan muslim di Granada pada tahun 1492 yang mencerminkan varian ke khilafah yang khas dari peradaban Islam masa awal. Peradaban tersebut terbentuk berdasarkan asimilasi antara bangsa Spanyol dan warga Berber dengan kultur Islam dan bahasa Arab yang ditunjang dengan kondidi perekonomian yang sangat makmur. Spanyol Muslim melahirkan pancaran cahaya yang agung. Masjid Agung Cordova, sejumlah pertamanan, pancuran dan alun-alun istana al-Hambra, sejumlah kebun-kebun irigasi di Seville dan Valencia, sains dan masih banyak lagi, semua itu merupakan monument peninggalan Islam Spanyol.[1]
Lebih kurang setengah abad, antara keruntuhan final kekhalifahan Umayah dan tampilnya al-Murawiyah, merupakan masa fragmentasi politis. Sejumlah dinasti local, menurut A. R. Nykl ada dua puluh tiga, ada juga yang menyebutkan lebih dari tiga puluh Negara kecil berkuasa di berbagai bagian Andalusia, sebagian diantaranya hanyalah Negara-kota.[2] Dinasti-dinasti ini dari berbagai ras yang mencerminkan kemajemukan kelas-kelas militer di bawah Umayyah dan ketegangan etnis dan persaingan di kalangan kelompok-kelompok sehingga muncul di banyak kota atau provinsi dibawah pimpinan kepala suku atau raja kecil yang oleh orang Arab disebut Muluk al-Thawa’if (Spanyol: reyes de taifas, raja-raja kelompok).[3]
B.  Rumusan Masalah
1.    Bagaimana terbentuknya Muluk al-Thawaif?
2.    Apa saja dinasti-dinasti pada Muluk al-Thawaif?




PEMBAHASAN
A.      Terbentuknya Muluk al-Thawaif
Sebagaimana yang pernah berlangsung didalam pemerintahan Abbasiyah, Negara Muslim-Spanyol juga dilanda sejumlah kerusuhan konflik internal yang sangat rumit. Permusuhan antara elite propinsional dan elite pedagang perkotaan, antara warga kota dengan tentara Berber, antara non-Arab yang baru masuk Islam dengan bangsa Arab, menjadikan Negara muslim Spanyol tidak mampu memperkokoh rezim. Kehancuran Bani Umayah Spanyol merupakan awal dari terbentuknya muluk al-Thawaif. Awal dari kehancuran Khilafah Bani Umayah di Spanyol Ketika Hisyam naik tahta berusia sebelas tahun, oleh karena itu kekuasaan actual berada di tangan para pejabat. Ibnu Abi Amir ditunjuk menjadi pemegang kekuasaan sehari-hari pada tahun 981 M. ia adalah seorang yang ambisius yang berhasil menancapkan kekuasaannya dan melebarkan wilayah kekuasaannya dengan ia tidak segan-segan menyingkirkan rekan-rekan dan pesaing yang dianggap menjadi penghalang baginya. Atas keberhasilannya memperluas wilayah kekuasaan, ia mendapat gelar al-Mansur Billah. Ia wafat pada tahun 1002 M dan digantikan oleh anaknya al-Muzaffar yang masih dapat mempertahankan keunggulan kerajaan. Akan tetapi, setelah wafat pada tahun 1008 M, ia digantikan oleh adiknya yang tidak memilikikualitas bagi jabatan itu. Dalam beberapa tahun saja, Negara yang tadinya makmur dilanda kekacauan dan akhirnya kehancuran total. Pada tahun 1009 M khalifah mengundurkan diri beberapa orang yang dicoba untuk menduduki jabatan itu tidak ada yang sanggup memperbaiki keadaan.[4] Kemunduran dan kehancuran Bani Umayah di Spanyol disebabkan oleh beberapa hal:
1.    Khalifah-khalifah yang tidak cakap. Sepeninggal Hakam II, para khalifah tidak mampu membawa Spanyol pada kemajuan. Mereka tidak dapat mengatasi krisis politik yang bermunculan. Pada masa Hisyam II, Hajib al- Mansur justru yang memegang kendali pemerintahan. Hal ini, di satu sisi menimbulkan berbagai macam kecemburuan di kalangan internal istana. Permusuhan internal tidak dapat dihindari lagi yang memancing pemberontakan di Cordova, sehingga mengakibatkan khalifah Abdurrahman mundur dari jabatanya. Namun, disisi lain kemajuan militer Hajib al-Mansur menimbulkan kecemasan negara-negara yang mayoritas Kristen.
2.    Konflik Islam dan Kristen. Sejak awal sebagian kelompok Kristen garis keras menolak kedatangan Islam. Namun ketika kekuasaan Islam berkembang dan mencapai puncak kejayaan, umat Islam memberikan toleransi yang amat tinggi bagi umat Kristen, dan membiarkan kerajaan-kerajaan kecil Kristen bertahan, dan tetap menjalankan hukum, agama dan tradisinya. Namun, kedatangan bangsa Arab disisi lain ternyata membuat kebangsaan orang-orang Spanyol Kristen semakin kuat dan mengkristal. Kekuatan inilah yang kemudian menjadi duri dalam daging. Upaya mempertentangkan antara Islam dan Kristen sering muncul  dari kekuatan ini. Dalam pada itu, ketika kekuasaan Islam melemah di abad ke 11 dan seterusnya, sementara kekuatan Kristen semakin mengalami kemajuan. Maka disinilah muncul berbagai serangan dari kerajaan-kerajaan Spanyol Kristen terhadap pemerintahan Arab Islam.
3.    Pluralisme etnik, agama dan budaya, di pihak lain ternyata menimbulkan potensi konflik dan perpecahan manakala tidak ada ideologi pemersatu. Ketika kekuasaan Islam masih sangat efektif, pluralism tidak menimbulkan permasalahan berarti, tetapi kekuatan Islam sendiri mengalami kelemahan, maka pluralism di Spanyol berpotensi konflik. Fakta menunjukkan system aristokrasi ke-Arab-an tidak sepenuhnya bisa diterima oleh kelompok muwalladun (para muallaf dari penduduk Spanyol), yang mereka masih dianggap warga Negara kelas dua setelah orang-orang Arab. Semenjak kematian Abdurrahman III, suku-suku non Arab seperti Berber, Slavia dan lain-lainnya saling berebut pengaruh dan bertujuan untuk mendirikan Negara kesukuan yang merdeka. Jadi fanatisme kesukuan yang tidak dapat dipersatukan dengan suatu ideologi menjadikan pemeritahan Islam Spanyol terpecah-pecah.
4.    Permasalahan ekonomi pemerintahan Bani Umayyah juga menyebabkan kemunduran dinasti itu. Karena pemerintah semula hanya mengandalkan pajak dan upeti dari orang-orang kaya dan kerajaan-kerajaan yang dibawahinya, sementara tidak ada upaya pengembangannya, maka hal ini menimbulkan merosotnya income Negara. Kondisi ekonomi semakin parah dengan datangnya musibah kekurangan pangan sehingga para petani yang mayoritas adalah bekas budak yang dimerdekakan tidak mampu membayar beban pajak. Maka perselisihan antara kaum majikan dengan kaum buruh tidak dapat dihindarkan.[5]
Pada tahun 1013 M, Dewan Menteri yang memerintah Cordova menghapuskan jabatan khalifah dari Bani Umayyah. Dari puing-puing kekhalifahan Umayyah, muncul sejumlah negara kecil yang terus menerus bertikai dalam perang saudara, dan setelah sebagian dari mereka dikalahkan oleh dua dinasti Berber-Maroko, satu demi satu Negara-negara itu menyerah pada kekuasaan Kristen yang tengah bangkit di utara. Pada paruh pertama abad ke 11, Spanyol telah terpecah dalam banyak sekali Negara-negara kecil yang berpusat di kota-kota tertentu. Pada periode ini Spanyol terpecah menjadi lebih dari tiga puluh Negara kecil dibawah pemerintahan raja-raja golongan atau raja-raja kecil yang disebut dengan Muluk al-Thawaif, yang berpusat di suatu kota seperti Seville, Cordova, Toledo, dan sebagainya.[6]
B.  Dinasti-dinasti pada Muluk al-Thawaif
Spanyol terpecah menjadi Negara-negara kecil dibawah pemerintahan raja-raja golongan atau raja-raja kecil, diantaranya:
1.      Bani Hamudiyyah yang memproklamirkan sebagai penguasa yang berkuasa di Malaga dan Algeciras antara tahun 400-409H/ 1010 – 1057M. Pendirinya adalah ‘Ali ibn Hammid tahun 1016 – 1018, yang dari namanya ia menghubungkan garis keturunannya kepada menantu Rasulullah   ( ‘Ali bin Abi Tholib ), tetapi ia sendiri sebenarnya keturunan Barbar. Sebelumnya ‘Ali ibn Hamid menjabat sebagai gubernur Ceuta dan Tangier sampai akhirnya ia memproklamirkan sebagai khalifah di Cordova. Ia juga menaklukan Malaga dan Algeciras. Dinasti ini bertahan sampai ampai tahun 1057M.

Diantara para penguasanya antara lain:
a.       Ali an Nasir (400H/ 1010M)
b.      Al-Qasim I al-Ma’mun, memerintah pertama kali (407H/ 1016 M)
c.       Yahya I al-Mu’tali, memerintah pertama kali (412H/ 1021M)
d.      Al-Qasim I, memerintah kedua kali (413H/ 1023M)
e.       Yahya I, memerintah kedua kali (414H/ 1023M)
f.       Idris I al-Muta’ayyid (427H/ 1036M)
g.      Yahya II (430H/ 1039M)
h.      Al-Hasan al-Mustanshir (430H/ 1039M)
i.        Idris II al-Ali, memerintah pertama kali (434H/ 1043M)
j.        Muhammad I al-Mahdi (438H/ 1046M)
k.      Muhammad II al-Mu’tashim (440H/ 1048M)
l.        Al-Qasim II aWatsiq (440H/ 1048M)
m.    Idris III al-Muwaffaq (446H/ 1054M)
n.      Idris II, memerintah kedua kali (446H/ 1054M)
o.      Muhammad III al-Musta’li (447-449H/ 1055-1057M)[7]
2.      Dinasti ‘Abbadiyyah. Dinasti ini didirikan oleh Muhammad ibn Abbad 1023 – 1042, yang berkuasa di Seville dan kemudian kekuasaannya meluas sampai ke Toledo.[8] Banu ‘Abbad mengaku keturunan raja-raja Lakhmi kuno dari Hirah. Leluhur Spanyol mereka dulunya adalah perwira yang bergabung dalam resimen Emessa pada pasukan Suriah tak lama setelah penaklukan. Pelopor dinasti ‘Abbadiyah adalah seorang qadhi cerdik dari Seville, yang memanfaatkan seseorang dengan mengaku sebagai khalifah terakhir Umayyah, Hisyam III. Pada tahun 1042, putra qadhi itu, ‘Abbad, menggantikan ayahnya sebagai pengurus rumah tangga kerajaan dibawah sang khalifah palsu, tetapi kemudian ia menyingkapkan topeng penipu itu dan mengambil alih kekuasaan dengan gelar al-Mu’tadhid. Pada masa raja Mu’tamid  dinasti ‘Abbadiyyah meminta bantuan kepada penguasa Murabithun di Maroko untuk menghadapi pasukan Kristen ( pasukan Al Fonso VI ) di Spanyol. Tapi sayang setelah pasukan Murabithun berhasil mengalahkan pasukan AlFonso VI, tak lama kemudian malah menyerang dan menguasai dinasti ‘Abbadiyyah, maka berakhirlah dinasti ‘Abadiyyah di tangan sekutunya sendiri pada tahun 1091.
Penguasa-penguasa dinasti ‘Abbadiyah di Seville antara lain:
a.       Muhammad I ibn ‘Abad (414H/ 1023M)
b.      ‘Abbad al-Mu’tadhid (433H/ 1042M)
c.       Muhammad II al-Mu’tamid (461-484H/ 1069-1091M)[9]
3.      Afthasiyyah atau Banu Maslama, dinasti ini didirikan oleh Abdullah Al-Mansyur tahun 1022 – 1045 yang berkuasa di Badajos. Pada pemerintahan yang ke 3 yaitu masa Umar Al-Mutawakkil 1068 – 1094 bersedia bekerja sama dengan orang Kristen ( pasukan Al Fonso IV ) dengan menyerahkan daerahnya yaitu Leon dan Castile  untuk menyerang dan menaklukan kerajaan Islam lainnya yaitu Al-Murawiyyah.
Penguasa-penguasa dinasti Afthasiyyah atau Banu Maslama antara lain:
a.    Abdullah al-Mansur (413H/ 1022M)
b.    Muhammad al-Muzhaffar (437H/ 1045M)
c.    Umar al-Mutawakkil 460-487H/ 1068-1084M)[10]
4.      Jahwariyyah, dinasti ini didirikan oleh Jahwar tahun 1031 – 1041 yang berkuasa di Cordova, dinasti ini bertahan sampai 1069 dengan penguasanya yang terakhir  Abdul Malik.
Penguasa-penguasa dinasti Jahwariyyah antara lain:
a.       Jahwar (422H/ 1031M)
b.      Muhammad ar-Rasyid (435H/ 1043M)
c.       Abdul Malik (450-461H/ 1058-1069M)[11]
5.      Dzun Nuniyyah, didirikan oleh Abdur Rahman ibn Dzin Nun dengan wilayah kekuasaan di Toledo tahun 1028 , dinasti ini berasal dari keluarga Berber kuno yang sering memberontak, dan bertahan sampai tahun 1085 dengan raja terakhir Yahya Al-Qadir 1085  setelah ditaklukkan oleh pasukan AlFonso VI.
Penguasa-penguasa dinasti Dzun Nuniyyah antara lain:
a.       Abdur Rahman ibn Dzin Nun
b.      Isma’il al-Zhafir (419H/ 1028M)
c.       Yahya al-Ma’mun (435H/ 1043M)
d.      Yahya al-Qadir (467-478H/ 1068-1085M)
6.      ‘Amiriyyah di Valencia 1021 – 1096, didirikan oleh Abdul Aziz Al-Mansyur 1021- 1061. Dinasti dipimpin sampai beberapa generasi sampai akhirnya ditaklukan pada masa Al Qadhi’ Ja’far tahun 1096 oleh Al Murawiyyah.
Penguasa-penguasa ‘Amiriyyah antara lain:
a.       Abdul Aziz al-Mansur (412H/ 1021M)
b.      Abdul Malik al-Muzhaffar (453H/ 1061M)
c.       Abu Bakar (468H/ 1076M)
d.      Al-Qadhi Usman (478H/ 1085M)
e.       Al-Qadhi Ja’far (483-489H/ 1090-1096M)
Itulah sebagian di antara kerajaan – kerajaan kecil di Spanyol yang saling berperang sesama kerajaan Islam yang akhirnya mereka ditumpas oleh pasukan Kristen atau oleh pasukan lain dari luar Spanyol, seperti Murabithun yang datang ke Spanyol atas undangan raja ‘Abadiyyah, yang akhirnya menguasai sebagian besar wilayah Spanyol.
7.      Ziriyyah di Granada ((403-483H/ 1012-1090M), didirikan Ibn Zirri (1012-1019) berkebangsaan Berber. Rezim ini dihancurkan oleh Murabitun Maroko pada tahun 1090M. inilah satu-satunya kota muslim di Spanyol yang didalamnya seorang Yahudi, Wazir Isma’il ibn Naghzalah yang pernah memegang kekuasaan yang benar-benar kuat.
Selain dinasti-dinasti tersebut di atas, terdapat dinasti lain yang termasuk dalam kategori Muluk al- Thawaif , diantaranya:
1.      Banu Yahya di Niebla (414-441/ 1023-1051)
2.      Banu Muzayn di Silves, Algarve (419-445/ 1028-1053)
3.      Banu Razin di Albarracin, La Sahla ((402-500/ 1011-1107)
4.      Banu Qasim di Alpuente (420-485/ 1029-1092)
5.      Banu Shumadiyyah di Almeria 1039 – 1087
6.      Banu Mujahid dan Banu Ghaniyah di Majorca 1022 – 1205
7.      Tujibiyyah dan kemudian Hudiyyah di Saragosa, Lerida, Tudela, Calatayud, Denia, Tortosa (410-536/ 1019-1142)[12]
Semua kerajaan kecil tersebut berada di wilayah Spanyol.
C.  Politik, ekonomi dan peradaban masa Muluk al-Thawaif
Meskipun secara politik masyarakat Islam Spanyol terpecah menjadi beberapa Negara kecil dan terjadinya kemunduran kekuasaan islam, namun masyarakatnya tidak ikut terpecah. Hukum Islam dan sebuah identitas muslim Arab tetap diterima secara universal dan ulama terus mewakili aspirasi warga. Mereka juga tetap disatukan dalam perdagangan regional maupun internasional dengan Afrika Utara, Mesir, Irak, Siria, Iran, Arabia dan India. Kehidupan intelektualpun terus berkembang dimana istana-istana mendorong para sarjana dan sastrawan untuk mendapatkan perlindungan dari satu istana ke istana lain. [13] Dalam bidang fiqh, Spanyol Islam dikenal sebagai penganut mazhab Maliki. Ahli-ahli Fiqih diantaranya adalah Abu Bakr ibn al-Quthiyah, Ibn Hazm yang menulis kitab al-Muhalla (tentang fiqih)  dan al-Ihkam fi Usul al-Ahkam (tentang usul fiqih).[14]









KESIMPULAN
Dari makalah yang telah dipaparkan tersebut dapat di tarik kesimpulan:
1.        Pada saat keruntuhan final kekhalifahan Umayah, pada paruh pertama abad ke 11, Spanyol telah terpecah dalam banyak sekali Negara-negara kecil yang berpusat di kota-kota tertentu. Pada periode ini Spanyol terpecah menjadi lebih dari tiga puluh Negara kecil dibawah pemerintahan raja-raja golongan atau raja-raja kecil yang disebut dengan Muluk al-Thawaif
2.        Dinasti-dinasti pada Muluk al-Thawaif diantaranya: Bani Hamudiyyah, Dinasti ‘Abbadiyyah, Afthasiyyah atau Banu Maslama, Jahwariyyah, Dzun Nuniyyah, ‘Amiriyyah, Ziriyyah, dan masih banyak lagi dinasti-dinasti kecil lainnya.
3.        Meskipun secara politik masyarakat Islam Spanyol terpecah menjadi beberapa Negara kecil dan terjadinya kemunduran kekuasaan Islam, hukum Islam dan sebuah identitas muslim Arab tetap diterima secara universal. Dalam bidang ekonomi, perdagangan regional maupun internasional tetap terjalin dengan Negara-negara tetangga. Dalam bidang fiqih, ahli-ahli Fiqih diantaranya adalah Abu Bakr ibn al-Quthiyah, Ibn Hazm.
4.        Kehancuran dinasti Islam disebabkan 2 faktor:
a.       Internal : Perebutan kekuasaan dan pengaruh dikalangan istana.
b.      Ekternal : Adanya serangan dari pihak luar baik dari kerajaan Islam atau dari pihak Kristen.
DAFTAR PUSTAKA


C.E. Bosworth terj. Ilyas Hasan, Dinasti-Dinasti Islam. Bandung: Mizan, 1993.
Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam. Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 2002.
Http// Islam di Afrika Utara dan Spanyol   « R I U is M E.htm, diunduh pada tanggal 3 Juni 2012.
K. Hitti, Philip, terj. R. Cecep Lukman Yasin dan Dedi Slamet Riyadi, Histori of The Arabs. Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2002.
M. Lapindus,Ira, Sejarah Sosial Umat Islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2003.
Nur Hakim, Moh., Sejarah dan Peradaban Islam. Malang: UMM Press, 2003.
Yatim, Badri, Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2000.


[1] Ira M. Lapindus, Sejarah Sosial Umat Islam, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2003), 581.
[2] C.E. Bosworth terj. Ilyas Hasan, Dinasti-Dinasti Islam, (Bandung: Mizan, 1993), 35.
[3] Philip K. Hitti terj. R. Cecep Lukman Yasin dan Dedi Slamet Riyadi, Histori of The Arabs,(Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2002), 683.
[4] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah, ( Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2000), 97.
[5] Moh. Nur Hakim, Sejarah dan Peradaban Islam, (Malang: UMM Press, 2003), 127-128.
[6] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah, 97.
[7] C.E. Bosworth terj. Ilyas Hasan, Dinasti-Dinasti Islam, 37.
[8] http// Islam di Afrika Utara dan Spanyol   « R I U is M E.htm, diunduh pada tanggal 3 Juni 2012.
[9] C.E. Bosworth terj. Ilyas Hasan, Dinasti-Dinasti Islam, 37.
[10] Ibid., 38.
[11] Ibid.
[12] Ibid., 36-37.
[13] Taufiqurrahman, Sejarah Sosial Politik Masyarakat Islam, (Surabaya: Pustaka Islamika Press, 2003), 184.
[14] Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, " Andalusia”, Ensiklopedi Islam, (Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 2002), 146.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar