Judul buku Pengembangan Pendidikan Agama Islam: Reinterpretasi Berbasis Interdisipliner

Judul buku Pengembangan Pendidikan Agama Islam: Reinterpretasi Berbasis Interdisipliner
--- SELALU ADA YANG BARU DI BLOG BANJIR EMBUN: "Kami Mengucapkan Terima Kasih Atas Kunjungan Anda. Bila butuh bantuan atau ada pertanyaan silakan hubungi ke nomor 08563350350 atau kirim email ke: banjirembun@yahoo.co.id subjek: BanjirEmbun Menjawab”---

Tuesday, September 4, 2012

Pemangku Ilmu pengetahuan dan Objek Ilmu Pengetahuan pada Abad I Hijirah Hingga Abad 7 Hijriah


 Pemangku Ilmu pengetahuan dan Objek Ilmu Pengetahuan pada Abad I Hijirah Hingga Abad 7 Hijriah 

Disadur (diambil sebagaian) dari BAB V dan VI dalam bukunya: Ahmad Sjalabi, SEDJARAH PENDIDIKAN ISLAM, penerjemah Muchtar Jahja dan Sanusi Latif (Jakarta: Bulan Bintang, 1973).
 Oleh: Fuad Imron


PARA PEMANGKU ILMU PENGETAHUAN DAN FALSAFAH TATA TERTIB PADA LEMBAGA-LEMBAGA ILMIAH

1.    Para Pendiri Lembaga-lembaga Ilmiah
Para tokoh yang mempunyai peranan besar dalam sejarah gerakan Ilmiah yang diselenggarakan oleh kaum Muslimin pada abad pertengahan antara lain adalah Abdullah Al-Ma’mun, Nizhamul Muluk, Nuruddin Zanky, dan Shalahuddin AL-Ayyuby. Berikut ini  akan kami sampaikan garis-garis besar dari kegiatan –kegiatan ilmiah yang telah mereka lakukan.
a.    Al-Makmun. Masa pemerintahan al-Ma’mun merupakan masa yang paling gemilang dibanding para khalifah yang lain dalam kaitannya dengan pengembangan pendidikan. Al-Makmun mendirikan Baitul Hikmah yang merupakan  suatu lembaga kebudayaan yang pertama kali muncul di kalangan umat Islam. Dia menaruh perhatian yang besar terhadap lembaga tersebut dan mengeluarkan harta benda yang cukup besar untuk membiayainya.
b.    Nuruddin Zanky. Nuruddin adalah penguasa di Syiria yang memerintahsetelah hancunya kerajaan bani Seljuk.Selain dikenal sebagai panglima perang melawan tentara salib, Nuruddin juga berperan dalam berbagai pembaharuan dan perbaikan sosial. Hasil kerjanya dalam bidang ini yang paling menonjol adalah usahanya dalam memelihara ilmu pengetahuan. Dia melanjutkan usaha-usaha yang telah dilakukan oleh Nizhamul Muluk dengan membangun beberapa Madrasah  di Syiria dan menampung para guru yang berasal dari Irak dan Khurasan setelah terjadinya perpecahan dan keguncangan  pada kedua tempat tersebut.
c.    Salahuddin AL-Ayyuby. Salahuddin melanjutkan usaha-usaha yang telah dilakukan Nuruddin dengan membangun beberapa Madrasah di Mesir. Dia mengeluarkan biaya yang cukup besar untuk operasional lembaga-lembaga pendidikan yang didirikannya. Kedermawanan Salahuddin merupakan faktor pendorong yang menarik para ulama dan pelajar baik dari Irak maupun Afrika Utara untuk mendatanginya.
d.    Nizhamul Muluk. Menurut pendapat Sjalabi, Nizhamul Muluk adalah orang yang pertama kali mendirikan Madrasah. Dia mendirikan beberapa Madrasah Nidzamiyah di beberapa tempat. Nidzamul Muluk lahir pada hari Jumat tanggal 21 Dzulhijjah tahun 408 H. di Nuqan, salah satu dari dua buah ibukota provinsi Thus. Pada masa remaja, Nizhamul Muluk bekerja sebagai sekretaris pada ‘Ali ibnu Syayanal-Mu’tamad ‘Alaih di kota Balch. Kemudian mengabdi pada Daud ibnu Mikail  al-Saljuqi, ayah Sultan Alp Arselan. Dengan dibantu Nizhamul Muluk, Alp Arselan memberontak pemerintahan saudaranya, yaitu Sulaiman ibnu Daud. Setelah berhasil merebut kekuasaan maka Sultan Alp Arselan menunnjuk Nizhamul Muluk sebagai wazirnya.  Setelah Alp Arselan meninggal, kerajaan dijadikan rebutan oleh para puteranya. Dalam situasi ini Nizhamul Muluk berhasil mengatasi permasalahan yang terjadi dan mengukuhkan kekuasaan Sultan Malik Syah sebagai sultan yang baru. Nizhamul Muluk berhasil mengatasi berbagai macam persoalaan dengan kebijaksanaan dan siasatnya yang jitu. Berkat jasa-jasanya yang besar, Nizhamul Muluk mendapatkan kepercayaan yang besar dari sultan untuk mengurusi semua persoalaan keagamaan .  Selain mempunyai keahlian dalam bidang politik juga mampunyai latar belakang pendidikan yang cukup luas, Nizhamul Muluk menaruh perhatian yang besar terhadap para ulama’. Hal itu dibuktikan dengan pembatalannya atas  pengutukan terhadap golongan Asy’ariyah. Kebijakannya tersebut mendorong  para ulama yang ada di luar daerah untuk kembali ke negerinya. Misalnya  Imam al-Haramain dan Abu al-Qasim al-Qusyairi. Nizhamul Muluk mendirikan beberapa Madrasah, asrama, dan masjiddi seluruh negeri  untuk mengisi lembaga-lembaga yang didirikannya. Madrasah-madrasah yang didirikan oleh Nizhamul Muluk diberi nama Nidzamiyah sebagai penghormatan atas peranan besar Nizhamul Muluk mendirikan madrasah-madrasah tersebut.  

2.        Waqaf-Waqaf untuk Pendidikan dan Pengajaran
Pada awalnya, kegiatan pendidikan dan pengajaran tidak dilaksanakan di tempat-tempat khusus. Namun setelah adanya kebutuhan untuk mendirikan tempat-tempat khusus untuk pendidikan dan pengembangan kebudayaan, muncullah ide untuk perlunya membentuk badan-badan waqaf untuk lembaga-lembaga pendidikan itu yang akan mendatangkan penghasilan yang cukup untuk membiayai pendidikan. Pendapat itu pertama kali disampaikan oleh Khalifah al-Makmun. Ide yang dilaksanakan al-Makmun tersebut diikuti oleh para khalifah sesudahnya. Pada perkembangannya, waqaf tersebut juga diperuntukkan bagi orang-orang yang menyediakan dirinya untuk kegiatan-kegiatan ilmiah di masjid-masjid. Bahkan juga diberikan untuk kelompok-kelompok kajian ilmiah yang terdapat di setiap sudut masjid.  Berikut ini beberapa contohnya:

a.    Waqaf Nizhamul Muluk.   
Berikut ini akan kami Harta hasil dari waqaf dipergunakan un gtuk memberi bantuan ke Madrasah-Madrasah Nizhamiyyah. Dalam setahun dana yang dikeluarkan mencapai 600.000 dinar. Khusus untuk daerah baghdad waqaf yang dikeluarkan mencapai 15.000 dinar setiap tahun, sedangkan untuk daerah Ashfahan mencapai 10.000 dinar setiap tahun.



b.    Waqaf Nuruddin.
Nuruddin memberikan waqaf untk penyelenggaraan pendidikan di Madrasah An-Nuriyyah al-Kubra, yaitu untuk para guru dan pelajar. Nuruddin juga banyak mengeluarkan waqaf untuk Madrasah-Madrasah Syafiiyyah, Hanafiyyah, Malikiyyah, dan Hambaliyyah.
c.    Waqaf untuk pendidikan di Mesir.
Jauh sebelum Nizhamul Muluk dan Nuruddin, Al-Aziz Billah di Mesir telah menggunakan waqaf untuk pendidikan di Al-Azhar. Ketika bani Ayyub nenguasai Mesir, maka apa yang dilakukan Nidzamul Muluk dan Nuruddin dikembangkan di Mesir.

3.        Kelompok Pendidikan dan Pengajaran.
Kelompok-kelompok pendidikan dan pengajaran muncul dan berkembang sejalan dengan muncul dan berkembangnya Islam itu sendiri. Masing-masing lembaga pendidikan mayoritas masih mempertahankan metode dan ciri khas masa lalu yang dijunjung tinggi. Dalam proses pembelajaran biasanya Syaikh duduk di atas sehelai kasur kecil yang disebut syultah sambil bersandar di tiang masjid atau duduk di atas kursi. Sedangkan para pelajar duduk melingkar mengelilingi Syaikh tersebut. Guru memulai pelajaran dengan salam dan membaca shalawat. Terkadang juga membaca ayat atau hadits yang berisi dorongan kepada para pelajar dalam menuntut ilmu. Apabila pelajaran telah selesai, seringkali guru mencantumkan tanda tangannya pada catatan murid-murid dengan menyebutkan bahwa murid-murid tersebut telah membacakan catatan-catatan itu kepadanya dan telah ditelitinya. Dari dasil dikte-dikte guru kepada murid terwujudlah manuskrip-manuskrip yang kemudian dicetak. 
Jika pelajaran diberikan dari buku-buku yang dapat diperoleh, maka biasanya para pelajar mendapatkan satu naskah dari buku tersebut. Masing-masing siswa berhak mengajukan pertanyaan tentang masalah apapun, dan untuk memeinta keterangan kepada guru tentang apa-apa yang dirasanya sukar untuk difahami. Dalam mengajukanpertanyaan, siswa harus menggunakan cara-cara tertentu dan bertujuan  benar-benar karena ingin mendalami ilmu. Terkadang guru yang mengajukan pertanyaan kepada siswa.Dalam hal ini tujuannya adalah unuk menguji pengertian mereka, dan ia sendiri memberikan jawabannya mengenai hal-hal yang sulit bagi siswa untuk menjawabnya.

4.        Periode-periode  Pendidikan dan Pengajaran.
Pada masa sekarang ini, periode atau tingkatan pendidikan yang dijalankan di kebanyakan negara maju terbagi dalam empat tingkatan, yaitu tingkat dasar, tingkat menengah, tingkat universitas, dan tingkat tinggi dalam bidang research dan study. Yang menakjubkan adalah, tingkatan-tingkatan pendidikan  tersebut di kalangan kaum muslimin masa lalu sudah dipakai dan mempunyai perbedaan-perbedaan yang nyata. Pentahapan pembelajaran juga sudah teratur, mulai dari pelajaran yang ringan pada tingkat dasar, dan semakin tinggi tingkatannya maka pelajarannya semakin sulit. Pelajar di tingkat dasar hanya boleh mendengar dan mempelajari ilmu yang pokok-pokok saja, penjelasan yang diberikan juga secara global dan garis besar saja sehingga mudah difahami. Mereka dilarang mendengarkan atau mempelajari ilmu pada tingkatan di atasnya. Adapun pembelajaran yang dilaksanakan dimasjid-masjid terdapat tingkat yang berbeda jenjangnya. Masing-masing berkelompok sesuai dengan tingkatannnya. Setelah berdiri Madrasah-Madrasah di negeri Islam, tampaklah bahwa taraf suatu Madrasah tergantung pada mutu guru yang memberi prlajaran didalamnya.Madrasah yang hanya diajar oleh para asisten syaikh yang terkemuka kualitasnya berada di bawah Madrasah yang diajar langsung oleh para syaikh tersebut.

5.        Asrama di Madrasah-Madrasah.
Umat Islam telah mengenal sistem asrama dalam masa-masa belajar. Salah satunya di al-Azhar. Semenjak didirikan, al-Azhar telah menerima rombongan pelajar dari berbagai penjuru  Mesir dan berbagai negeri lainnya. Untuk masing-masing rombingan dibuatkan suatu asrama atau yang biasa disebut ruwak. Selain itu juga ada asrama yang khusus untuk tempat tinggal para guru. Asrama yang awalnya didirikan di al-Azhar kemudian menyebar ke tempat-tempat lain. Asrama yang didirikan di Madrasah al-Mustanshiriyyah sangat megah dan mewah.Para guru dan pelajarar mendapatkan fasilitas yang bagus yang berasal dari kedermawanan khalifah.  Di Syiria, asrama merupakan sarana yang sangat pentinga pada setiap Madrasah.Salah satu Madrasah yang representatif untuk dijadikan contoh adalah Madrasah al-Nuriyyah al-Kubra. Bagi para pelajar yang bermukim di asrama, ada peraturan dan tata tertib yang harus mereka taati.



BAB ENAM
OBJEK-OBJEK STUDI

1.        Di Antara Pengajaran dan Ilmu Pengetahuan
Ilmu pengetahuan yang berkembang di negeri-negeri Islam dan banyak mendapatkan perhatian dan dorongan yang besar dari para pemimpin umat Islam antara lain adalah ilmu syariah, filsafat, kedokteran, dan matematika. Pembelajaran di Mesir pada masa Fatimiyyah memiliki corak tersendiri dan condong untuk mengajarkan madzhab Syiah Ismailiyyah yang dianut oleh para Khalifahnya. Penyiaran madzhab tersebut serta propagandanya menempuh cara-cara baru yang belum pernah enyiaran madzhab tersebut serta propagandanya menempuh cara-cara baru yang belum pernah dikenal sebelumnya di wilayah tersebut. Masalah-masalah yang menjadi obyek studi dan sistem yang digunakan juga berbeda dengan yang lain.

2.        Madzhab Ismaily di Mesir
Pada waktu fatimiyyah menguasai Mesir, mereka menyadari bahwa masyarakatnya telah memiliki peradaban yang tinggi dibanding wilayah afrika yang lain. Bahkan bangsa Mesir mengancam akan memberontak jika permintaan tersebut tidak dituruti. Akhirnya Jauhar pun menyetujuinya. Dengan demikian, maka kaum Fatimiyyin menyadari bahwa menyiarkan madzhab mereka di Mesir bukanlah pekerjaa yang mudah. Sejak itu mulaiah mereka menyusun program dan strategi untuk mengatasi sikap permusuhan bangsa Mesir terhadap madzhab mereka. Program kaum Fatimiyyin meliputi dua tahap. Pertama, Pelaksanaan pengajaran serta penyusunan undang-undang dan peraturan. Kedua, dakwah secara rahasia. Dalam menjalankan programnya kaum Fatimiyyin mengangkat para proagandis agung. 
Salah satu cara yang dilakukan oleh para propagandis adalah mengajarkan ilmu dan hukum sekitar madzhab Syiah secara terbuka. Krtika mereka menemukan orang-orang yang menerima dakwah mereka dan ingin menambah pengetahuan, maka orang-orang tersebut dipindahkan ke majlis khusus. Pada tahap pengajaran dan pendidikanakan difokuskan pada tiga permasalahan, yaitu:
a.    Aqidah-aqidah Ismailiyyah
1)   Tentang al-Washy dan Imam-Imam.
Kaum syiah menganut kepercayaan bahwa setisp nsbi mempunyaiseorang washy, yaitu seseorang yang dipercaya sebagai wakilnya setelah nebi wafat. Mereka juga percaya bahwa Alloh sendiri lah yang memilih washy tersebut untuk nabinya. Tugas washy menurut menurut kaum Syiah adalah untuk membantu nabi dalam mengurusi masalah-masalah batin, sedangkan nabi mengurusi masalah dhohir.Oleh sebab itu Alloh telah menunjuk Ali untuk menjadi Washy nabi Muhamad. Setelah Ali wafat maka perannya digantikan oleh putranya, Hasan. Kemudian dilanjutkan oleh para Imam.

2)   Tentang ‘Ismah
Kaum Syiah mempercayai bahwa Rasul dan para Imam mereka adalah orang yang ‘ismah (tidak mungkin berbuat dosa). Alasan harus adanya ‘ismah bagi Nabi dan para Imam adalah tidak mungkin mereka melakukan dosa dan kesalahan baik kecil maupun besar karena peran mereka adalah sebagai penyampai wahyu Alloh.

3)   TentangSifat-sifat para Imam.
Sifat-sifat yang dimiliki para Imam adalah sama dengan sifat yang dimiliki para nabi. Dengan sifat-sifat tersebut maka derajat para Imam setingkat dengan derajat para Nabi. Imam adalah wajah Allloh, tangan Allod, dan cahaya Alloh. Apabila Imam ingin mengetahui sesuatu maka Alloh memberitahukannya.

4)   Yang Dzahir dan yang Bathin.
Masalah ini adalah letak perbedaan yang paling mencolok antara syiah Ismailiyyah dengan aliran syiah yang lain. Pendapat tentangyang dzahir dan yang bathin merupakan prinsip yang sangat penting bagi kaum Ismailiyyah. Menurut merek Islam adalah dzahir dan Iman adalah bathin. Yang dzahir hanya dapat tegak jiaka ada yang batin, begitu juga sebaliknya.
5)   Imam-imam dan Pembinaan Hukum.
Kaum Syiah berkeyakinan jika tidak ada ketetapan hukum dalam al-Qur’an atau hadits ketika terjadi permasalahan, maka mereka yang diriwayatkan oleh para ulama’ mereka sendiri.



b.    Usaha-usaha kaum Fatimiyyah untuk menyiarkan Madzhab.
1)   Melalui kelompok-kelompok Pendidikan.
Dalam hal ini kaum fatimiyyah mendirikan lembaga-lembaga pendidikan yang berorientasi untuk menyebarkan madzhab mereka. Salah satu usaha mereka adalah mendirika lembaga pendidikan al-Azhar.

2)   Syair-syair untuk kepentingan Madzhab Ismaily.
Pada masa itu syair adalah salah satu sarana penting untuk propaganda. Para penyair mempunyai kekuatan untuk memimpin dan mengarahkan fikiran masyarakat. Maka syair-syair mereka bernuansa politik.
3)   Perayaan-perayaan hari keagamaan
Hari-hari yang dirayakan antara lain Hari Raya Telaga, Hari Raya Asyura, Hari Raya Maulid,
4)   Menyerahkan jabatan-jabatan negara kepada orang-orang Ismailiyyah

0 comments:

Post a Comment