Pengembangan Pendidikan Agama Islam: Reinterpretasi Berbasis Interdisipliner

Pengembangan Pendidikan Agama Islam

--- BUKU MURAH (ASLI bukan FOTOCOPY-AN/BUKAN BUKU BAJAKAN): " Buku MURAH BERKUALITAS hanya Rp.47.000,- (belum ongkos kirim) berjudul PENGEMBANGAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM: REINTERPRETASI BERBASIS INTERDISIPLINER (Yogyakarta: LKiS, 2015). Sebagai info harga buku ini di pasaran berkisar 70-90 ribu). Info lebih lanjut hubungi: 08563-350-350 (11 digit)”---

Tuesday, September 4, 2012

Contoh RESENSI buku Ahmad Sjalabi Sedjarah Pendidikan Islam


RESENSI
Oleh: A. Rifqi Amin
Judul Buku    :           “SEDJARAH PENDIDIKAN ISLAM”
Pengarang      :           AHMAD SJALABI
Penerjemah    :           MUCHTAR JAHJA DAN SANUSI LATIF
Penerbit          :           BULAN BINTANG,  Jakarta Tahun 1973.

Melihat buku ini secara sekilas nampak seperti buku yang bermotif kuno dan sudah usang sehingga terkesan kandungannya tidak bisa mengimbangi dengan buku-buku zaman sekirang. Dugaan terebut sangat salah besar, bantahan ini bukan berarti tanpa alasan. Di manapun tempatnya yang dinamakan buku sejarah sampai kapanpun tetap akan relevan untuk digunakan selama kebenaran dari isi dalam buku tersebut dapat dibuktikan. Walaupun ada ‘kebenaran’ lain yang muncul di buku-buku yang bersebarangan pendapat. Hal ini wajar karena sejarah bukanlah milik satu orang saja tapi milik semua orang. Sehingga wajar jika setiap orang memiliki penilaian sendiri terhadap sebuah peristiwa sejarah yang telah terjadi.
Buku ini menjelaskan secara menyeluruh dan terperinci dalam mecantumkan berbagai komponen-komponen sejarah pendidikan. Seperti tempat pembelajaran, pendidik, metode pembelajaran, perpustakaan, peserta didik, sumber belajar, dan sarana-sarana lain yang menunjang terjadinya proses pembelajaran. Mulai dari komponen pembelajaran yang sederhana seperti kuttab (sekolah dini) hingga komponen pembelajaran yang modern yaitu konsep madrasah. Namun dalam memaparkan fakta-fakta sejarah yang diyakini Syalabi tidaklah mencantumkan tanggal terjadinya peristiwa dan tidak banyak memberikan ‘fakta’ dari literatur lain sebagai pembanding. Waktu kejadian atau tanggal peristiwa sangatlah penting, karena ilmu sejarah adalah illmu yang terikat dengan waktu dan data-data (catatan), bukan hanya dari hasil pemikiran dan analisis. Karena jika misalnya dalam jangka satu tahun yang sama ada sebuah peristiwa besar, maka pasti terdapat banyak respon dari masyarakt pada waktu itu. Hal ini juga menyebabkan berbagai banyak macam data atau catatan yang diperoleh dari beberapa sumber data.
Dari segi runtutan penulisan dari BAB ke BAB hingga dari paragraf ke pargaraf dan kalimat ke kalimat satu dengan yang lain terkesan terususun dengan rapi, sistematis, dan nampak tidak tumpang tindih. Walaupun buku ini adalah buku yang diterjemahkan pada tahun 1973 dan masih menggunakan bahasa Indonesia ejaan lama. Tapi secara subtantif buku ini telah memaparkan data-data yang sangat lengkap. Namun hanya saja dari segi istilah-istilah lama yang perlu diadakan perpadanan dengan istilah masa kini. Contoh dalam istilah lama adalah istilah “salon-salon kesusatraan” yang saya artikan dengan padanan ‘sanggar kesusastraan’ dan istilah kata “penurun” yang saya pahami dengan arti masa kini adalah pengcopy atau pengganda buku, istilah “kedai-kedai saudagar kitab”, dan istilah lain yang perlu diadakan pembaruan sesui dengan konteks keadaan sekarang. Sebagai contoh zaman sekarang ini tengah marak istilah baru seperti “peserta didik”, “proses pembelajaran”, dan metode pembelajaran. Karena sebenarnya buku ini secara subtantif  juga menjelaskan bagaimana cara memberlakukan peserta didik dan guru sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.
Banyak sekali ilmu tentang pendidikan dan pembelajaran pada zaman modern ini dan juga di kalangan bangsa barat yang masih menggunakan konsep Madrasah yang dicanangkan umat islam pada masa abad pertama hingga tujuh Hijriah. Sebagai contoh pembatasan peserta didik pada madrasah, memusatkan proses pembelajaran pada suatu wilayah yang dilengkapi dengan segala kebutuhan pembelajaran, adanya pembedaan peserta didik sesuai bakat, dan standarisasi komponen pembelajaran terutama standarisasi guru. Tidak sembarangan orang bisa menjadi guru atau pendidik. Selain itu adanya prinsip kohesifitas pada masyarakat, yang mana orang kaya memakafkan sebagian hartanya untuk kepentingan publik seperti mendirikan madrasah, masjid, dan perpus. Sehingga kepentingan umum bisa ditopang bersama-sama dalam satu sistem yang saling membantu. Yang miskin dapat beasiswa dan jaminan hidup untuk belajar dan yang kaya dapat beribadah mewakafkan hartanya.
Sehingga dapat saya katakan bahwa buku ini akan tetap layak dibaca dan digunakan referensi sampai kapanpun karena muatan nilai, konsepsi, dan data-data yang pengarang paparkan digali dari sumber yang terpercaya. Namun secara bahasa dan format (tampilan) buku perlu ada pembaruan untuk disesuikan dengan keadaan zaman sekarang, agar bisa dipahami oleh pemuda zaman sekarang dan bisa  menarik perhatian bagi pembaca.

No comments:

Post a Comment