Pengembangan Pendidikan Agama Islam: Reinterpretasi Berbasis Interdisipliner

Pengembangan Pendidikan Agama Islam

--- BUKU MURAH (ASLI bukan FOTOCOPY-AN/BUKAN BUKU BAJAKAN): " Buku MURAH BERKUALITAS hanya Rp.47.000,- (belum ongkos kirim. Ongkos kirim diperkirakan Rp. 18.000 - Rp. 35.000 tergantung lokasi pengiriman) berjudul PENGEMBANGAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM: REINTERPRETASI BERBASIS INTERDISIPLINER (Yogyakarta: LKiS, 2015). Sebagai info harga buku ini di pasaran berkisar 70-90 ribu). Serta buku ini hanya dijual di toko buku daerah YOGYAKARTA saja.Info lebih lanjut hubungi: 08563-350-350 (11 digit)”---

Tuesday, September 4, 2012

Sejarah Peserta didik (murid) dari Abad I Hijirah Hingga Abad 7 Hijriah


Sejarah Peserta didik (murid) dari Abad I Hijirah Hingga Abad 7 Hijriah


Disadur (diambil sebagaian) dari BAB IV dalam bukunya: Ahmad Sjalabi, SEDJARAH PENDIDIKAN ISLAM, penerjemah Muchtar Jahja dan Sanusi Latif (Jakarta: Bulan Bintang, 1973).


Oleh: Istifadah

1.    Islam dan Pengajaran
Para pelajar Islam telah memperlihatkan semangat yang berkobar-kobar dalam menuntut ilmu pengetahuan. Walaupun pada masa itu jalan yang akan ditempuh untuk menuntut ilmu pengetahuan belumlah begitu rata dan penghidupan tidaklah begitu mudah, namun para pelajar islam maju terus tanpa ragu-ragu untuk mencapai tujuannya. Faktor pendorong semangat mereka adalah ayat-ayat al-Qur’an, Hadis Rasulullah, pepatah-pepatah dan kata-kata mutiara dari para cendekiawan dan pemimpin-pemimpin Islam. Diantara ayat-ayat al-Qur’an itu adalah: Surat al-Mujadalah ayat 11, Surat Al-Zumar ayat 9,Surat al-Taubah ayat 122, Surat Taha ayat 114 dan Surat al-Nahl ayat 43.
Selanjutnya, diantara hadis-hadis yang berhubungan dengan masalah ini antara lain:
a.       “Suatu waktu yang pendek di pagi hari digunakan untuk menuntut ilmu, adalah lebih disukai Allah dari pada berperang seratus kali”.
b.      “Barang siapa dikehendaki Allah untuk mendapat kebaikan, maka Allah mengaruniainya pengetahuan yang mendalam tentang agama”.
c.       “Orang yang berilmu pengetahuan itu adalah pewaris para Nabi”.
d.      “Orang yang terbaik ialah orang yang beriman, lagi berilmu pengetahuan”.
e.       “carilah ilmu pengetahuan itu walaupun ilmu pengetahuan itu berada di negeri Cina”.
Dan masih banyak lagi hadis-hadis lain tentang ilmu pengetahuan
Adapun Kata-kata mutiara dari para cendekiawan Islam antara lain:
a.       Ucapan Ali Ibnu Abi Talib kepada Kamil yang mengatakan bahwa ilmu pengetahuan itu leih baik dari pada harta benda, sebab ilmu pengetahuan dapat menjaga dirimu, sedangkan harta itu engkaulah yang menjaganya, ilmu pengetahuan adalah pihak yang berkuasa, sedangkan harta benda adalah pihak yang dikuasai.
b.      Ali juga berkata: “Setiap hari dimana aku tidak dapat menambah ilmu pengetahuan, maka aku tidak mendapatkan keberkatan dengan terbitnya matahari pada hari itu. Dan ketahuilah bahwa yang dikatakan kebaikan itu bukanlah bertambahnya harta benda dan anakmu, melainkan bertambahnya ilmu pengetahuanmu”.
c.       Al-Ahnaf juga berkata: “Setiap kemuliaan yang tidak ditunjang oleh ilmu pengetahuan pasti membawa kepada kehinaan”.
d.      Al-Zubair Ibnu Abi Bakr berkata: “Ayahku di Irak pernah menulis surat kepadaku, memesankankan seagai berikut: Tuntutlah ilmu pengetahuan, karena dengan adanya ilmu pengetahuan itu, jika kamu jatuh miskinniscaya kamu akan memilliki keindahan”.

2.   Melatih Kanak-Kanak Menurut Pandangan Beberapa Filosof Islam
Menurut al-Ghazali, metode untuk melatih kanak-kanak adalah salah satu dari hal yang sangat penting, karena anak merupakan amanat yang dipercayakan kepada ibu bapaknya. Hatinya yang masih murni itu merupakan permata yang amat berharga, sederhana dan bersih dari ukiran dan gambaran apapun. Ia dapat menerima setiap ukiran yang digoreskan padanya, dan  ia akan condong ke arah mana dia kita condongkan. Wali harus menyadari bahwa mendidik anak tidaklah terbatas pada usaha-usaha untuk memberikan pelajaran kepada mereka, melainkan mencakup bermacam-macam usaha lainnya yang tidak kurang pentingnya dari pelajaran itu. Wali haruslah mengawasinya dengan sebaik-baiknya. Anak harus diberi kesibukan di Madrasah-Madrasah dasar untuk mempelajari al-Qur’an. Dan cerita-cerita tentang orang baik-baik dan hal ihwal mereka supaya tertanam dalam jiwanya kecintaan kepada orang-orang saleh. Disamping itu, apabila ada anak yang menampakkan suatu pekerti yang baik atau suatu perbuatan yang terpuji, maka sepantasnyalah kita memberikan pujian, penghormatan atau tanda penghargaan berupa sesuatu yang dapat menggembirakannya. Anak hendaklah di didik pula supaya ketika duduk bersama orang lain, dengan mengajarkan tata tertib yang baik dan sopan santun, cegahlah anak dari ucapan-ucapan kotor dan bergaul dengan orang-orang yang mempunyai kebiasaan jelek.
Menurut Ibnu Sina, kita harus menumpahkan perhatian untuk memelihara akhlak kanak-kanak dengan cara menjaga agar ia jangan sampai menjadi pemarah dan penakut. Dari buku Minhajul Muta’allim dapat kita baca sebagai berikut: Ayah harus mendidik anaknya dan menyerahkannya kepada seseorang untuk mengajarinya. Apabila si ayah tidak mendidiknya dan tidak menyerahkannya kepada seorang guru, niscaya akan tampaklah perubahan-perubahan yang tidak sehat pada anggota badannya, terutama pada lidahnya.
Persamaan Kesempatan untuk Belajar
Kesempatan belajar di dunia Islam adalah sama-sama terjamin bagi setiap lapisan rakyat, baik kaya maupun miskin, karena kemiskinan itu tidak pernah menjadi penghalang bagi orang-orang yang ingin menuntut ilmu pengetahuan. Pengajaran telah dimulai di masjid yang selalu terbuka lebar bagi semua morang. Dan kelompok-kelompok pelajar selalu siap menerima pelajaran secara cuma-cuma tanpa ada suatu ikatan atau persyaratan. Peraturan yang berlaku bagi kelompok belajar itu adalah bahwa bagi mereka yang baru, yang ingin menggabungkan diri kepada kelompok itu untuk mendengar dan mendapatkan ilmu pengetahuan, disediakan tempat duduk. Mereka semua dihadapan guru dan kelompok-kelompok belajarnya adalah sama derajatnya, tidak ada perbedaan antara yang kaya dan yang miskin. Perhatian guru terhadap murid-muridnya yang miskin itu tidak hanya terbatas pada bidang pengajaran saja, melainkan juga sampai kepada perbelanjaannya, dimana guru juga memberikan bantuan uang kepada mereka dari milik pribadinya sebagaimana yang dicontohkan oleh Imam Abu Hanifah. Namun bukan hanya guru-guru saja yang memberikan perhatian kepada murid-murid yang miskin, bahkan mereka ini mendapat bagian yang cukup banyak dari wakaf para hartawan yang disediakan untuk para pelajar. Hal ini mempunyai pengaruh yang nyata terhadap situasi pengajaran di dunia Islam, karena dengan itu muncullah di kalangan kaum muslimin sejumlah besar sarjana ulung yang berasal dari kalangan yang miskin, seperti: Abu Tammam al-Thay, al-Djahizh dan Imam Syafi’i.
Setelah berdirinya Madrasah-Madrasah di negeri-negeri Islam maka kesempatan untuk belajar bagi anak-anak yang miskin menjadi semakin nyata dan lebih merata. Para pendiri Madrasah-Madrasah Islam mengetahui bahwa sebagian besar sarjana yang cakap dalam ilmu pengetahuan itu justru timbul dari keluarga-keluarga yang miskin yang mengalami kesukaran-kesukaran dalam hidupnya yang dijadikan motivasi untuk terus semangat dalam menuntut ilmu. Sultan Nizamul Muluk adalah pelopor dalam bidang ini. Beliau memaklumkan bahwa menuntut ilmu di Madrasah-Madrasah yang didirikannya adalah menjadi hak bagi semua orang, dan beliau memberikan kesempatan itu kepada masyarakat tanpa imbangan pembelajaran apapun. Kemudian beliau memperluas lagi kesempatan cuma-cuma ini dengan menetapkan adanya gaji yang teratur bagi para pelajar yang miskin. Diantara para pelajar yang memanfaatkan kesempatan ini adalah Imam Abu Hamid al-Gazali dan saudaranya yang bernama Ahmad.
Sultan Nuruddin juga mengikuti jejak Nizamul Muluk. Ia membangun Madrasah-Madrasah di Damaskus dan menyediakan wakaf yang cukup untuk menjamin para pelajar dan guru-guru sehingga mereka dapat menikmati kehidupannya. Begitu juga yang ada di al-Azhar Mesir Kairo, disana juga ditemukan adanya perhatian yang sangat besar terhadap para pelajar, serta usaha-usaha untuk meringankan hidup mereka. Sedang pada zaman pemerintahan Bani Ayyub, setiap pelajar di Mesir memperoleh tempat tinggal yang dapat menampung, dan seorang guru yang akan mengajarinya ilmu pengetahuan. Dengan adanya bantuan tersebut, maka pelajar-pelajar dari kalangan miskin  telah memperoleh jalannya menuju kemuliaan dalam bidang ilmiah, dan mereka dapat membekali diri dengan ilmu pengetahuan dalam berbagai bidang tanpa mengalami suatu kesukaran dan kesulitan apapun. Penyediaan kesempatan untuk menuntut ilmu itu tidak hanya terdapat di Madrasah-Madrasah dan masjid-masjid, tetapi juga disediakan pada kuttab-kuttab (Madrasah-Madrasah dasar atau Madrasah-Madrasah rendah), sehingga anak-anak yatim dan miskin dapat memulai pelajaran sejak masa kanak-kanak mereka tanpa ada suatu hambatan apapun sehingga bakat dan kecakapan mereka dapat berkembang dengan baik. Kuttab-kuttab yang diadakan secara Cuma-Cuma ini terdapat pada setiap penjuru negeri-negeri Islam.

3.        Pengarahan Murid-Murid Menurut Bakatnya Masing-Masing
Pada abad-abad pertengahan, kaum muslimin telah mengenal ide tentang pengarahan murid-murid menurut bakatnya masing-masing. Praktek pengarahan ini dimulai setelah murid memilih tahap pertama dari pendidikanya. Setiap anak harus mempelajari suatu kelompok ilmu pengetahuan dasar yang vital dalam kehidupan sehari-hari, seperti membaca, menulis dan berhitung. Setelah itu ia harus menjurus kepada suatu ilmu atau kejuruan sesuai dengan bakat dan pembawaannya karena tidaklah setiap orang cocok untuk mempelajari dan memperdalam ilmu-ilmu pengetahuan. Menurut al-Zarnuji, jangan memilih sendiri macam ilmu yang akan dipelajarinya, melainkan hal itu harus diserahkan kepada Ustaz, sebab Ustaz tersebut telah mempunyai pengalaman-pengalaman yang cukup dalam hal itu sehingga ia lebih tahu tentang apa yang patut bagi seseorang, dan apa yang lebih sesuai dengan pembawaannya. Adapun masing-masing pengajar berkewajiban untuk memilih dan memperhatikan betul-betul pelajaran-pelajarannya. Dan seharusnya ia tidak mengizinkan seseorang mengikuti pelajaran pada kelompoknya, kecuali orang-orang yang betul-betul mampu untuk mengikuti pelajaran-pelajaran yang diberikan dalam kelompok itu. Sebab tiadalah setiap kepandaian yang diinginkan anak benar-benar dapat dipelajari dan difahaminya, melainkan hanya apa yang benar-benar sesuai dengan bakat dan pembawaannya.


4.    Usia Belajar
Rasulullah bersabda: “Tuntutlah ilmu pengetahuan mulai sejak dari buaian sampai ke liang lahat”. Berdasarkan hadis ini maka tidak ada batas umur untuk menuntut ilmu pengetahuan. Bahkan setiap orang Islam wajib untuk menuntut ilmu dimana saja ada kesempatan, pada tingkatan manapun dari usianya bahkan sampai pada saat dimana usianya telah lanjut. Seluruh usia kita ini hendaknya dimanfaatkan untuk belajar. Para ahli didik Islam mengetahui dengan jelas bahwa mempercepat usia belajar itu sangat bermanfaat. Menurut Hj. Chalifah, salah satu dari syarat-syarat memperoleh ilmu pengetahuan ialah bahwa pelajar adalah seorang yang muda usianya, tidak terpengaruh oleh hal-hal duniawi dan masih sedikit penghalang-penghalangnya. Sahal ibnu Abdillah Ats-Tsaury telah selesai menghafal al-Qur’an ketika ia masih berusia tujuh tahun. Imam Syafi’I juga telah menghafal al-Qur’an letika beliau berusia tujuh tahun dan menghafal kitab al-Muwatta’ ketika ia berusia sebelas tahun. Ibnu Sina dalam usia sepuluh tahun telah menguasai ilmu yang berhubungan dengan al-Qur’an dan sastra Arab, dan telah menghafal beberapa masalah dalam ilmu usuluddin, ilmu hitung, aljabar dan al-Muqabalah.

5.    Jumlah Murid dalam Satu Kelas atau Satu Kelompok
Salah satu dari prinsip ilmu pendidikan yang diperhatikan oleh para ahli didik modern ialah bahwa mereka harus memberikan kesempatan kepada anak untuk dapat berkumpul bersama anak-anak lainnya yang sebaya dengannya, agar ia dapat bercakap-cakap dengan mereka dan dapat pula mendengarkan ucapan mereka. Hal ini dipandang sebagai suatu cara untuk memperkembangkan anak dengan perkembangan yang baik. Mendidik anak bersama anak-anak yang lainnya merupakan suatu cara untuk suksesnya anak dalam belajar dan untuk mempertinggi kegemaran dan kesuksesan mereka kepada pelajaran itu. Adapun jumlah para pelajar yang belajar di masjid berbeda dengan jumlah para pelajar yang belajar di madrasah. Kendatipun jumlah mereka yang tergabung dalam kelompok-kelompok di masjid-masjid itu ada yang banyak dan ada pula yang sedikit, sesuai dengan kemasyhuran sang guru dan kemahirannya yang mendalam pada bidang ilmunya, namun jumlah pelajar dalam kelompok-kelompok yang belajar pada masjid itu pada umumnya lebih besar dari pada yang belajar di madrasah. Hal ini dikarenakan masjid-masjid itu terbuka untuk umum dan jumlah pelajar pada tiap-tiap kelompok tidak di batasi. Sedangkan di Madrasah-Madrasah, jumlah pelajarnya tertentu, tidak boleh melebihi kuota.

6.    Tubuh dan Akal
Kaum Muslimin sejak masa-masa permulaan telah mengetahui bahwa ada hubungan yang amat kuat antara tubuh dan akal, sebagaimana yang diungkapkan dalam kata-kata mutiara: “Akal yang sehat terdapat pada jiwa yang sehat”. Oleh karena itu, mereka sangat berhati-hati dalam menjaga kesehatan tubuh. Mereka berusaha untuk meringankan pikulan tubuh supaya tubuh tersebut dapat memikul jiwa yang besar, dan dapat membantu akal untuk belajar dan mengajar. Para ahli pendidik Islam telah mengetahui bahwa tubuh yang sedang payah atau sakit tidak sanggup membantu akal untuk berfikir dan memahami sesuatu. Menurut al-Asyfihani, cara memelihara kesegaran jiwa dalam belajar yaitu dengan cara mencegah murid dari belajar maupun bekerja secara terus-menerus tanpa diselingi waktu untuk istirahat dan olahraga. Karena kerja keras yang berlangsung terus-menerus akan membawa kegagalan. Menurutnya, seorang pelajar hendaklah terus belajar selama akalnya masih giat dan dapat memahami pelajaran. Tetapi, apabila ia telah merasakan adanya kelelahan pada akalnya, maka ia harus berhenti, lalu beristirahat sebab fikiran yang sedang payah itu tidak akan mendatangan hasil. Lembaga-lembaga pendidikan Islam telah melaksanakan peraturan-peraturan yang sangat bermanfaat dan latihan yang teratur untuk memberikan istirahat kepada murid-murid dan menyegarkan kembali perhatian mereka terhadap pelajaran. Ada bermacam-macam latihan olah raga yang dilakukan oleh murid-murid. Khalifah Umar ibn Khattab menasehatkan agar murid-murid di ajar berenang, memanah dan naik kuda dan latihan berlari.

7.    Budi Pekerti Murid-Murid dan Kewajiban-Kewajiban Mereka
Banyak diantara ahli didik Islam yang menumpahkan perhatian mereka untuk menulis buku-buku tentang budi pekerti murid-murid dan kewajiban mereka. Pertama, pelajar hendaklah menjaga kesucian dirinya terhadap pekerti yang rendah dan sifat-sifat tercela, sebab kesucian jiwa dan kebaikan akhlak itu adalah merupakan dasar untuk mencapai kemahiran dalam ilmu pengetahuan. Kedua, pelajar hendaklah mengurangi hubungannya dengan masalah-masalah duniawi, serta jauh dari sanak keluarga dan kamung halaman supaya hal tersebut jangan sampai mengganggunya dalam perjuangannya mencari ilmu.. ia juga harus membersihkan niatnya, jangan sampai niatnya ingin menarik perhatian orang lain, atau karena mengharapkan harta benda duniawi. Ketiga, pelajar hendaklah bersikap rendah hati kepad guru. Ia harus memuliakan dan menghormati guru serta mematuhi nasehat-nasehatnya.
Al-Zarnuji telah menyebutkan beberapa peraturan sopan santun yang harus diperhatikan oleh pelajar terhadap gurunya. Pelajar janganlah sekali-kali berjalan di hadapan gurunya, jangan duduk pada tempat yang biasa diduduki guru, jangan mulai berbicara dihadapannya kecuali dengan seizinnya, kalau berbicara dihadapannya janganlah berbicara terlalu banyak, janganlah menanyakan sesuatu kepadanya bila ia sedang marah, dan ikutilah perintahnya selama perintah itu tidak menyuruh kepada kemaksiatan. Pelajar haruslah memulai dengan mempelajari masing-masing ilmu pengetahuan yang berfaedah, sehingga ia dapat mengetahui maksud dan tujuan masing-masing. Kemudian barulah ia memilih diantara satu diantara ilmu-ilmu tersebut untuk diperdalam dengan ketentuan bahwa janganlah ia memperdalami ilmu tersebut secara sekaligus, melainkan harus memperhatikan tata tertib dan sistematikanya, dan memulainya dengan bagian-bagian yang terpenting. Pelajar juga harus dapat membuat dirinya kepada ilmu, sehingga ia benar-benar menyenangi ilmu tersebut dan mempelajarinya dengan penuh kesetiaan. Janganlah ia segan-segan mempelajari ilmu dan budi pekerti yang luhur dari siapapun juga walaupun dari seor ang yang berasal dari kalangan rendah, sebab mutiara yang mahal itu tidaklah akan menjadi hina lantaran kehinaan orang yang menghasilkannya. Pelajar juga harus selalu semangat dan menghadapi tugasnya dengan penuh minat.

8.    Hubungan Antara Murid dengan Murid
Antara murid dengan murid lainnya terdapat suatu hubungan yang menurut ahli didik Islam tidak kurang pentingnya dari pada hubungan seseorang dengan kerabatnya sendiri, atau hubungan seseorang dengan saudara kandungnya. Apabila para pelajar sama-sama menerima pelajaran dari seorang guru, atau pada Madrasah yang sama, maka hubungan yang terjalin diantara mereka itu tentulah lebih kokoh dan lebih kuat, karena mereka adalah anak-anak didik. Al-Zarnuji menasehatkan kepada pelajar bahwa hendaklah memilih teman yang berhati mulia dan hidup sederhana serta berwatak jujur. Dan sebaliknya, ia hendaklah menjauhi teman-teman yang bersifat malas, suka menganggur, berpangku tangan dan banyak bicara.

9.        Kesungguhan Murid-Murid untuk Mencari Ilmu
Para pelajar Islam telah mengikuti jejak guru-guru mereka tentang kegiatan dan semangat menuntut ilmu itu. Keinginan pelajar untuk mengambil dan mempelajari ilmu pengetahuan itu adalah pemantulan dari kegairahan guru-guru mereka untuk memberikan pelajaran.

10.    Merantau untuk Menuntut Ilmu
Rasulullah saw. bersabda:“ Barang siapa yang mengadakan perjalanan untuk menuntut ilmu, maka ia adalah pejuang fi-sabilillah, dan barang siapa meninggal dunia dalam perjalanan untuk menuntut ilmu, maka matinya adalah mati syahid”. Prinsip yang telah ditetapkan Rasulullah ini telah tersiar luas, untuk memberikan dorongan kepada masyarakat supaya menuntut ilmu, dan bersedia menghadapi kesusahan dan penderitaan yang biasa ditemui oleh orang-orang yang menuntut ilmu. Para pelajar Islam telah mengadakan perjalanan jauh untuk menuntut ilmu. Padahal pada masa itu perjalanan adalah merupakan sesuatu yang amat sulit dan sangat memayahkan, karena belum adanya jalan-jalan yang tetap dan qafilah-qafilah yang teratur. Namun demikian, para pelajar ini tidak mengindahkan semua kesulitan dan kepayahan itu. Bahkan mereka meninggalkan kampong halaman dengan tekad dan keuletan yang tinggi dengan mengadakan perjalanan untuk menuntut ilmu. Perjalanan jauh untuk menuntut ilmu sangatlah berfaedah karena manusia dapat mengambil dan mempelajari ilmu pengetahuan dan akhlak dengan dua cara: pertama, dengan mengetahuinya sendiri, mengajarkan dan memberikannya kepada orang lain. Kedua, dengan mencontoh atau dengan diajarkan oleh orang kepada kita secara langsung. Akan tetapi tertanamnya pelajaran itu pada jiwa dan melekatnya pada fikiran kita adalah lebih kokoh dan lebih kuat, bila pelajaran itu diajarkan langsung oleh seorang guru kepada kita. Penilaian masyarakat terhadap para pelajar di masa itu tergantung pada banyaknya perjalanan-perjalanan ilmiah yang mereka lakukan, dan jumlah guru-guru yang pernah mereka hubungi untuk menuntut ilmu. Fator-faktor yang telah memberikan dorongan yang kuat kepada para pelajar dan penyelidik-penyelidik ini untuk melakukan perjalanan itu ialah bantuan dan fasilitas yang luar biasa, yang tak putus-putusnya mereka peroleh dimanapun mereka berada, dan di negeri manapun mereka singgah.

11.    Pendidikan dan Pengajaran pada Kaum Wanita
Kaum wanita pada masa abad-abad pertengahan, baik di timur maupun di barat, hanya memperoleh bagian yang kecil sekali dalam bidang pendidikan dan pengajaran. Dan bahwa kesempatan-kesempatan yang diberikan kepada mereka jauh lebih sedikit dibanding kesempatan-kesempatan yang diberikan kepada kaum pria yang sezaman dengan mereka. Selama abad-abad pertengahan, perhatian yang diberikan kepada kaum wanita Eropa adalah sangat terbatas, sesuai dengan aliran fikiran katolik yang menganggap kaum wanita itu sebagai makhluk yang rendah martabatnya. Orang-orang pada abad itu sangat cenderung untuk membatasi kekuasaan wanita-wanita Eropa, dan enggan memberikan wewenang dalam bentuk apapun kepada mereka, selain dalam bidang yang amat sempit dimana mereka hidup, yaitu dalam rumah tangga.
Adapun mengenai anak-anak perempuan dari para pembesar istana dan anak para hakim, para dokter dan yang sederajat dengan mereka, menurut John Langdon Davies, mereka telah menerima bagian dari pendidikan dan pengajaran kanak-kanak dari guru-guru pribadi. Pada masa itu, para wanita yang bukan dari kalangan keluarga raja belumlah sampai pada tingkatan pendidikan yang lumayan, seperti yang telah dicapai oleh kaum wanita kalangan atas. Mengenai keadaan kaum wanita di Inggris sebelum akhir abad pertengahan, perhatian yag diberikan kepada kaum wanita juga amat kurang. Menurut Abram, pada masa itu memang tidak diinginkan agar kaum wanita mencapai taraf pendidikan yang lebih tinggi. Karena itu, wakaf-wakaf yang disediakan sebagai dana-dana pendidikan hanyalah terbatas untuk pendidikan anak laki-laki saja, sedang anak perempuan tidak mendapat bagian.
Kembali kepada wanita-wanita Islam, bahwa pendidikan dan pengajaran bagi kaum wanita Islam belum merata. Kaum terpelajar wanita lebih kecil jumlahnya dari pada kalangan pria. Faktor yang menghalangi kaum wanita Islam untuk menyamai kaum pria dalam menuntut ilmu pada masa itu tidak lain hanyalah kesukaran-kesukaran yang dihadapi para penuntut ilmu pada masa itu. Oleh sebab itu, maka jumlah kaum terpelajar dari kalangan wanita adalah sangat rendah. Akan tetapi, banyak juga diantara para wanita Islam telah berhasil mengatasi kesukaran-kesukaran itu dengan berbagai cara, sehingga mereka berhasil memperoleh pendidikan yang dapat dikatakana mendalam dan beraneka ragam, dan hal ini dapat dicapai oleh wanita-wanita Eropa pada masa itu. Dalam buku al-Aghany disebutkan bahwa anak-anak perempuan juga belajar pada Madrasah-Madrasah Dasar pada abad kedua hijriyah. Dr. Muhammad Fuad al-Ahwani pada awalnya menyebutkan bahwa anak-anak perempuan itu juga ikut belajar pada Madrasah-Madrasah Dasar. Tetapi kemudian Dr. al-Ahwani berbalik dari pendapatnya, dan berpendapat lain bahwa anak-anak perempuan diberi pelajaran di rumah mereka sendiri, atau dari seorang guru yang didatangkan untuk mereka.
Al-Baladzuri meriwayatkan bahwa ketika lahirnya agama Islam, ada lima orang wanita-wanita Arab yang pandai membaca dan menulis, yaitu Hafshah binti Umar, Ummu Kultsum binti ‘Aqabah, Aisyah binti Sa’ad, Karimah binti al-Miqdad dan asy-Syifa’ binti Abdillah al-Adawiyyah, yang pernah memberikan pelajaran kepada Hafsah, dan kemudian Nabi memintanya untuk terus memberikan pelajaran kepada Hafsah. Al-A’sya telah mendidik dan memberikan pelajaran kepada anak perempuannya sendiri, sehingga anak tersebut menjadi seorang sastrawati dan kritikus sastra yang ulung. Isa ibn Miskin, biasa memberikan pelajaran kepada murid-muridnya sampai waktu asar. Sesudah itu lalu dipanggilnya dua anak perempuannya, dan anak perempuan saudaranya, serta cucu-cucunya yang perempuan untuk diberinya pelajaran al-Qur’an dan ilmu-ilmu lainnya.
Beberapa wanita Islam yang telah mencapai kemasyhuran dalam bidang keahliannya masing-masing, diantaranya:
Bidang ilmu-ilmu agama: Nafisah binti al-Hasan ibni Zaid ibni al-Hasan ibni ‘Ali, Syaikhah Syuhdah yang bergelar “Fahrun Nisa’, Zainab binti Abdirrahman asy-Sya’ry dan ‘Unaidah.
Di bidang ilmu sastra: An-Nadzar bint Haris, istri al-Farazdaq, Rabi’ah al-Adawiyyah, Zubaidah Ummu Ja’far istri Harun al-Rasyid), Hamdah binti Zijjad, Maryam binti Ya’qut al-Ansary, Badaniyah dan Hafsah binti al-Rakuny.
Bidang musik dan nyanyi: Jamilah (bekas hamba sahaya Bani Salim), Dananir (bekas hamba sahaya Yahya ibn Khalid), ‘Ulaiyah binti al-Mahdi (saudara perempuan Harun al-Rasyid), Mutaiyam al-Hasyimiyyah, Khadijah (putri Khalifah al-Ma’mun), ‘Unaidah at-Tanburiyyah.
Bidang ilmu kedokteran: Zaenab, Ummul Hasan binti al-Qadhi Abi Ja’far at-Tanjaly dan saudara perempuan dari al-Hafid ibnu Zahr.
Dalam urusan peperangan: Nashibah istri Zaid ibn ‘Ashim dalam perang Uhud, Hindun binti ‘Utbah dalam pertempuran di Yarmuk, al-Zarqa’ binti ‘Ady al-Hamdaniyyah dan Ikrisyah binti al-Athrasy dalam pertempuran di Shiffin.

No comments:

Post a Comment