--- SELALU ADA YANG BARU DI BLOG BANJIR EMBUN: "Kami Mengucapkan Terima Kasih Atas Kunjungan Anda. Bila butuh bantuan atau ada pertanyaan silakan hubungi ke nomor 08563350350 atau kirim email ke: banjirembun@yahoo.co.id subjek: BanjirEmbun Menjawab”---

Selasa, 04 September 2012

SENI DEKLAMASI (Pengertian, Fungsi, dan Unsur-unsurnya)


 Terima kasih, blog Banjir Embun telah dipercaya untuk digunakan sebagai referensi karya tulis oleh beberapa akademisi dan calon ilmuwan muda. Berikut puluhan BUKTI blog Banjir Embun mendapat kepercayaan masyarakat ilmiah (ilmuwan):




Buku A. Rifqi Amin (pendiri Banjir Embun) berjudul: 




SENI DEKLAMASI
(Pengertian, Fungsi, dan Unsur-unsurnya)

(Diambil dari buku karya Zaini BA “Kesusastraan Indonesia Jilid III untuk Sekolah Menengah Tingkat Atas (SMTA) Tahun 1972)

Ditulis ulang dan diadakan perubahan seperlunya oleh Tim Banjir Embun

          A.    Pengertian
Deklamasi berasal dari bahasa Inggris “declamation” yang terbentuk dari kata kerja “to declaim” yang berarti “Speak with strong feelling”. Sedangkan arti dari seni deklamasi adalah suatu bentuk bahasa pengucapan secara lisan dari ungkapan puitis yang memiliki sifat khas dan memiliki gaya bahasa tersendiri. Seseorang yang melakukan deklamasi  bisa saja membawakan sajak dari cerpen sendiri maupun cerpen orang lain di depan umum.
Dengan menggunakan bahasa lisan yang baik, penuh dengan penjiwaan, dan perasaan yang sangat mendalam. Seakan pendeklamasinya mengerti atau bahkan memiliki perasaan sama persis dengan pencipta sajaknya. Agar penonton bersama-sama dapat menikmati keindahannya, serta menimbulkan rasa keharuan atau emosional artistik, lebih-lebih mengenai isinya.
Deklamasi adalah suatu pembeberan fonitis dan motoris untuk menyatakan kehadiran puisi, secara eronologis dari pada puisi. Dengan kata lain deklamasi merupakan reprodosir dari pada puisi untuk memberi bentuk terhadap konsepsi ideal, agar resep rohani yang dituangkan oleh penair dalam puisinya. Setelah dilakukan analisa, disintesakan kembali dengan secara keseluruhan, dibawakan menurut alam kenyataan.
Berdeklamasi tidak hanya menghafal sajak saja dengan tidak memperhatikan aturan-aturan dari beberapa unsur-unsur deklamasi. Karena jika hanya menghafal saja maka hal tersebut bisa dikatakan jauh dari hakekat dan kriteria ilmu seni deklamasi.

    B.     Fungsi
Fungsi praktis deklamasi adalah menceritakan dan berusaha mendapatakan gambaran yang objektif dari gejala-gejala kejiwaan serta melukiskan olah bahasa dari puisi itu secara kongkrit. Oleh karena itu alangkah lebih baiknya sebelum pendeklamasi mendeklamasikan sajaknya terlebih dahulu menganalisa apa yang terkandung dalam puisi yang akan dipertunjukkan tersebut. Atau dengan kata lain seorang pendeklamasi tidak hanya menjiwai isi puisi saja, tapi mencari jiwa puisi yang terkandung di dalamnya. Karena puisi dengan sendirinya sudah mengandung penjiwaan yang lahir dari penciptanya.

     C.     Unsur-unsur
Deklamasi terdiri dari beberapa unsur, diantaranya adalah:
     1.     Intonasi; intonasi adalah suatu kesatuan yang terjadi dari jenis jenis gejala suatu irama, tekanan dinamik, tekanan nada, tekanan tempo, jeda dan lain sebagainya. Menurut W.Y.S. Poerwodaminto intonasi disebut juga sebagai ‘lagu pengucapan’ atau ‘lagu tutur’.
      2.     Dukungan fungsi psikis; seorang penyaji sajak harus memiliki penjiwaan yang tepat (funsi psikis). Salah satu syarat penting bagi seorang yang ingin berdeklamasi adalah harus mendapat dukungan dari jiwanya.
     3.      Volume suara; volume suara menentukan keindahan dari deklamasi. Volume suara yang tepat dan teratur sesuai dengan sajaknya dapat menggetarkan jiwa serta mengharukan bagi pendengarnya.
    4.      Jelasnya suara;  kejelasan suara merupakan bagian yang penting yang tidak dapat terabaikan. Seperti kejelasan dan ketepatan bacaan dari seorang deklamator pada tiap huruf dalam kalimat tiap suatu puisi. Apabila huruf-huruf tersebut tidak dibaca dengan semestinya maka belum dapat dikatakan bahwa deklamasi itu baik.
    5.     Bayangan sinar air-muka (mimik); mimik muka adalah pencerminan perasaan serta pencerminan penjiwaan dari deklamator. Karena akan nampak jelas kelihatan apakah kalimat-kalimat yang dibawakan tersebut sungguh-sungguh mendapat dukungan dari hasil proses fungsi psikis. (Banjir Embun)

0 komentar:

Poskan Komentar