Pengembangan Pendidikan Agama Islam: Reinterpretasi Berbasis Interdisipliner

Minggu, 14 Oktober 2012

BAB V SKRIPSI: UPAYA KEPALA SEKOLAH DALAM MENGEMBANGKAN MUTU PENDIDIKAN DI MTsN PLANDI JOMBANG


UPAYA KEPALA SEKOLAH DALAM MENGEMBANGKAN MUTU PENDIDIKAN DI MTsN PLANDI JOMBANG
 
 Oleh: Miftahkul Munir



foto Miftahkul Munir. Sumber foto: Facebook



BAB V
PEMBAHASAN

Mutu pendidikan dari tahun ke tahun tampaknya selalu menjadi program utama pemerintah, karena pendidikan yang baik adalah yang bermutu, baik kepala sekolah, guru, murid, dan faktor pendukung lainya. Bahwa seorang kepala sekolah sangat berperan penting dalam memajukan pendidikan di sekolah. Beriring dengan peningkatan mutu pendidikan di sekolah, maka secara langsung upaya kepala sekolah dalam mengembangkan mutu pendidikan harus di laksanakan.
A.    Upaya Kepala Sekolah Dalam Mengembangkan Mutu Pendidikan Di Mtsn Plandi - Jombang
1.       Sarana dan Prasarana di MTsN Plandi – Jombang
Prasarana adalah alat tidak langsung untuk mencapai tujuan misalnya lokasi, bangunan sekolah, lapangan olah raga dan sebagainya sedangkan sarana adalah alat langsung untuk mencapai tujuan pendidikan, misalnya ruang, buku, perpustakaan, laboratorium, dan sebagainya. Sarana prasarana yang disediakan di MTsN Plandi - Jombang  agar bisa menunjang belajar siswa-siswi lebih efektif dan efisien.
 Dengan melengkapi sarana di MTsN Plandi- Jombang seperti ruang komputer, laboratorium IPA, Laboratorium Bahasa, perpustakaan selain itu juga upaya untuk melengkapi dari prasaran seperti lapangan olah raga, menambah bangun lokal kelas. Hal tersebut tujuanya untuk meningkatkan kualitas pendidikan yang ada di MTsN Plandi - Jombang.
Hal tersebut sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Hendyat Soetopo-Wasty Soemanto, dalam bukunya yang berjudul Pengantar Operasional Administrasi Pendidikan,  yang menyatakan bahwa:
Kepala sekolah bertanggung jawab pengadaan dan pemeliharaan meskipun dia harus bekerjasama dengan stafnya, para guru. Oleh karena itu semua murid akan terpengaruh langsung dari usahanya, Pemeliharaan sarana prasarana itu hendaknya dijaga agar tidak mudah rusak hal ini menjadi tanggung jawab bagi semuanya[1]

Untuk meningkatkan cara belajar siswa di MTsN Plandi – Jombang salah satu sarana penunjang adalah perpustakan. Maksud di selenggarakannya perpustakaan guna untuk menunjang program belajar dan mengajar di lembaga pendidikan formal.
Hendyat Soetopo-Wasty Soemanto, juga menyatakan tentang prinsip pokok perpustakaan sebagai berikut:
a.       Penyelengaraan perpustakaan diintegrasikan dengan kurikulum yang di jalankan
b.      Perpustakaan diselenggarakan secara sederhana dan menarik
c.       Perpustakaan diselenggarakan secara partisipasi murid dan guru
d.      Memperhatikan perkembangan anak dengan adanya koleksi yang sekira pantas dibaca guna dapat menambah pengetahuan dalam belajar di sekolah
e.       diselenggarakan oleh seorang guru dan seorang guru dapat mengembangkan kurikulum dan menggunakan secara efisien[2]

Madrasah memiliki ruang laboratorium IPA, Bahasa, dan Komputer sebagai berikut:
a.       Laboratorium Bahasa, yang mana bertujuan untuk menunjang pembelajaran dalam bidang bahasa inggris ataupun bahasa arab
b.      Laboratorium IPA, yang mana sebagai penunjang untuk pembelajaran dalam bidang IPA, terutama dalam pembelajaran untuk praktek langsung
c.       Laboratorium Komputer, selain hanya diberikan materi secara teoritik di kelas mata pelajaran Komputer juga di berikan pelatihan atau praktek secara langsung.
2.       Menjalin Hubungan Dengan Masyarakat (Humas)
Salah satu faktor penting yang turut berpengaruh kemajuan lembaga pendidikan selain sekolah dan keluarga adalah masyarakat. Oleh karena itu sekolah diharapkan mampu berinteraksi dengan masyarakat luas dan instansi terkait dengan baik.
Komite sekolah sangatlah menunjang dalam meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah, jadi semua kegiatan di sekolah tidaklah lepas dari pengawasan komite. Hal tersebut sesuai dengan teori yang di paparkan oleh Indra Djati Sidi bukunya yang berjudul Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah. Komite sekolah merupakan “suatu badan atau lembaga non profit dan non politis, dibentuk berdasarkan musyawarah yang demokratis oleh para stake-holder pendidikan pada tingkat satuan pendidikan sebagai representasi dari berbagai unsur yang bertanggung jawab terhadap peningkatan kualitas proses dan hasil pendidikan”.[3]
Sekolah bukan lembaga yang berdiri sendiri atau terpisah dari masyarakat sekitar, untuk meningkatkan kualitas pendidikan di MTsN Plandi Jombang, maka upaya yang di lakukan sekolah adalah menjalin hubungan dengan masyarakat. Adapun bentuk kerjasamanya mengadakan program mingguan, program bulanan, program tahunan.
E. Mulyasa dalam judul bukunya menjadi kepala sekolah profesional mengemukakan bahwasanya kepala sekolah dan tenaga kependidikan melakukan pendekatan untuk menggalang partisipasi masyarakat di antaranya:
a.       Melibatkan masyarakat dalam berbagai program dan kegiatan di sekolah yang bersifat sosial kemasyarakatan, seperti bakti sosial, perpisahan, PHBN, keagamaan, dan pentas seni
b.      Mengidentifikasi tokoh masyarakat, yaitu orang-orang yang mampu mempengaruhi masyarakat pada umumnya
c.       Melibatkan tokoh masyarakat tersebut dalam berbagai program dan kegiatan sekolah yang sesuai dengan minatnya misalnya olahragawan  dapat dilibatkan  dalam pembinaan olah raga di sekolah, dokter dapat dilibatkan dalam usaha kesehatan sekolah (UKS), atau palang merah remaja (PMR) dan lainya
d.      Memilih waktu yang tepat untuk melibatkan masyarakat sesuai dengan kondisi dan perkembangan masyarakat[4]


3.       Pengelolaan Keuangan
Upaya dari kepala sekolah MTsN Plandi Jombang dalam pengelolaan keuangan untuk pengalian dana sekolah diperoleh dari menjalin kerjasama dengan pemerintah, masyarakat, orang tua.
Sesuai dengan teori dari Hendyat Soetopo-Westy Soemanto dalam bukunya yang berjudul Pengantar Operasional Administrasi Pendidikan menyatakan bahwa “sumber-sumber penerimaan keuangan sekolah adalah dapat digolongkan menjadi 3 golongan sebagai berikut: a) Bantuan dari masyarakat, b) Bantuan dari siswa atau orang tua murid, c) Bantuan dari pemerintah”.[5]
Sesuai dengan peranya, pendidikan atau tangung jawab proses tercapainya tujuan pendidikan adalah menjadi tangung jawab bersama keluarga, masyarakat, dan pemerintah. Ketiga komponen tersebut tak dapat dipisah-pisahkan apabila satu diantara ketiga kompenen kurang berperan dalam mencapai cita-cita pendidikan, maka cita-cita pendidikan kurang tercapai dengan efektif.[6]
4.       Pengelolaan Pengajaran
Dalam bidang pengajaran, langkah konkrit yang dapat dilakukan oleh kepala sekolah MTsN Plandi Jombang adalah dengan menambah beberapa kegiatan-kegiatan ektrakurikuler. Karena kegiatan ektrakurikuler merupakan salah satu usaha yang tepat untuk mengembangkan minat dan bakat yang dimiliki siswa-siswi di MTsN Plandi Jombang. Mengingat begitu besarnya manfaat dari kegiatan ektrakurikuler dalam mendukung keberhasilan belajar siswa.
 Hal tersebut sesuai dengan apa yang telah dijelaskan oleh Oemar Hamalik dalam bukunya yang berjudul Administrasi Dan Supervisi Pengembangan Kurikulum bahwasanya “kegiatan extrakurikuler adalah kegiatan pendidikan di luar ketentuan kurikulum yang berlaku, akan tetapi bersifat poedagogis dan menunjang pendidikan dalam rangka ketercapaian tujuan sekolah”. [7] Karena itu kegiatan ini perlu di programkan secara baik dan didukung oleh semua guru, jadi kegiatan-kegiatan kurikuler harus diprogramkan sedemikian rupa untuk memberikan pengalaman kepada para siswa.
Selanjutnya Oemar Hamalik menambahkan, bahwa Kegiatan-kegiatan ektra ini mengandung nilai kegunaan tertentu, antara lain:
a.       Memenuhi kebutuhan kelompok
b.      Menyalurkan minat dan bakat
c.       Memberikan pengalaman eksploratorik (penjajakan)
d.      Mengembangkan dan mendorong motivasi terhadap mata ajaran
e.       Mengikar para siswa di sekolah
f.       Mengembangkan loyalitas terhadap sekolah
g.      Mengintegrasikan kelompok-kelompok sosial
h.      Mengembangkan sifat-sifat tertentu
i.        Menyediakan kesempatan pemberian bimbingan dan layanan secara informal
j.        Mengembangkan citra masyarakat terhadap sekolah[8]

Hal-hal tersebut sekaligus menunjukan keuntungan dan kebaikan program ektrakulikuler dalam hubungannya dengan proses pendidikan bagi siswa, dalam rangka membantu mereka berkembang secara optimal
5.       Pengelolan Kesiswaan
Di MTsN Plandi Jombang untuk pengelolaan kesiswaan di awali dengan adanya siswa pendaftaran tes masuk dan pengelompokan kelas, dalam pengelompokan kelas tindakan yang di lakukan oleh sekolah atau lembaga sekolah dengan cara membuat 3 kelas unggulan, tujuan dari pengelompokan kelas agar pelaksanaan kegiatan proses belajar mengajar di sekolah bisa berjalan tertib dan di capai tujuan pendidikan yang telah di programkan.
Hal tersebut kalau di hubungkan dengan teori yang telah dirumuskan oleh Suharsimi Arikunto dalam bukunya yang berjudul Pengelolaan Kelas dan Siswa Sebuah Pendekatan Evaluatif, yang menyatakan bahwa:
Prinsip belajar tuntas dilaksanakan agar setiap siswa dapat mencapai tingkat penguasaan maksimal dalam mempelajari bahan pelajaran. Akan tetapi disebabkan karena kemampuan dan tempo belajar yang tidak sama, maka waktu yang digunakan oleh siswa untuk mencapai tingkat penguasaan tentu menjadi berbeda pula. [9]

Pada suatu saat ketika siswa kelompok cepat sudah mencapai tingkat penguasaan tertentu sedangkan siswa kelompok sedang dan lambat belum, maka agar kelompok cepat dapat terus maju perkembangannya, kepadanya diberikan kegiatan pengayaan guru memperluas pengetahuan dan keterampilan.[10]
Sebuah pendidikan perlu adanya disiplin disekolah, di MTsN Plandi Jombang juga menerapkan beberapa peraturan-peraturan yang harus ditaati oleh siswa dengan tujuan menciptakan kedisiplinan siswa di sekolah. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Moh. Uzer Usman dalam bukunya yang berjudul menjadi guru profesional bahwasanya “pengembangan disiplin diri sendiri oleh siswa merupakan tujuan akhir dari pengelolaan kelas. Untuk itu guru harus selalu mendorong siswa untuk melaksanakan disiplin diri sendiri”.[11]
Sesuai dengan tata tertib siswa di MTsN Plandi Jombang di buat beberapa sangsi yang kita sepakati dilihat dari kadar pelanggaran itu sendiri misalnya segi absensi T (tanpa keterangan) maksimal 6 menginjak 7 anak tidak boleh mengikuti semesteran dan ini di ketahui oleh wali murid semuanya dan berikutnya kalau dari standar itu 6 berlanjut sampai 8, 9, 10 maka siswa di keluarkan dari sekolah
6.       Peningkatkan Profesionalisme Guru
Upaya yang di lakukan oleh kepala sekolah di MTsN Plandi Jombang dalam peningkatan profesionalisme guru di antaranya: mengikutkan pelatian (musyawarah guru mata pelajaran) MGMP, work shop, mengikutkan penataran-penataran, memaksimalkan guru-guru untuk mengikuti program pasca sarjana (S2), di sarankan bagi guru-guru yang masih di tingkat belum sarjana maka diikutkan atau didaftarkan segera mengikuti sarjana termasuk guru-guru yang tidak sesuai bidang ajarnya juga di harapkan untuk mengikuti kuliah lagi. Jadi upaya yang di lakukan oleh kepala sekolah di dalam meningkatkan Profesionalisme Guru tersebut sesuai dengan pengertian yang di utarakan oleh Ace Suryani tentang pengertian guru profesional adalah “mereka yang memiliki kemampuan profesional dengan berbagai kapasitasnya sebagai pendidik”. [12]
 Ace Suryani menambahkan bahwa Guru yang bermutu dapat di ukur dengan 5 indikator sebagai berikut:
a.       Kemampuan profesional terukur dari ijazah, jenjang pendidikan, jabatan dan golongan, serta pelatian
b.      Upaya profesional terukur dari kegiatan mengajar, pengabdian, dan pelatihan
c.       Waktu yang dicurakan untuk kegiatan profesional, terukur dari masa jabatan, pengalaman mengajar
d.      Kesesuaian antara keahlian dan pekerjaannya terukur dari mata pelajaran yang di ampu, apakah telah sesuai dengan spesialisasinya
e.       Tingkat kesejahteraan terukur dari upah, honor atau penghasilan rutinnya.[13]

Begitu juga dari pendapat yang di utarakan oleh sudarwan danim dalam bukunya yang berjudul inovasi pendidikan dalam upaya peningkatan atau profesionalisme tenaga ke pendidikan menjelaskan untuk melihat apakah seorang guru dikatakan profesional atau tidak dapat di lihat dari dua prospektif. Pertama, di lihat dari tingkat pendidikan minimal dari latar belakang pendidikan untuk jenjang sekolah tempat dia menjadi guru. Kedua, penguasaan guru terhadap materi bahan ajar, mengelola proses pembelajaran mengelola siswa melakukan tugas-tugas bimbingan, dan lain-lain. Menurut Sudarwan Danim, tenaga profesional merupakan “tenaga kependidikan sekurang-kurangnya S1 (atau yang setara) dan memiliki wewenang penuh dalam perencanaan, penilaian, dan pengendalian pendidikan atau pengajaran”.[14] 
Upaya-upaya tersebut di atas sudah dilaksanakan sekolah dan merupakan kebijakan dari pemerintah untuk mengembangkan profesionalisme guru dan juga meningkatkan dari pada mutu pendidikan di sekolah. Selain untuk menambah wawasan keilmuan, ada juga untuk perbaikan kerja dan MTsN Plandi Jombang sudah melakukan pengawasan terhadap para guru tentang kecakapan kerja, agar guru tidak seenaknya melakukan proses pembelajaran di kelas. Jadi setiap 3 bulan sekali kepala sekolah melakukan pemantauan ke kelas-kelas untuk mengetahui kerja guru
Di MTsN Plandi Jombang upaya yang di lakukan kepala sekolah dalam meningkatkan profesionalisme guru sudah terlaksana dengan baik, tetapi sedikit ada hambatan yaitu masalah pembuatan alat mengajar (RPP) selama ini mereka sudah membuat perangkat pengajaran yang di ketahui oleh waka kurikulum kemudian kepala sekolah menyesuaikan tiap awal tahun atau persemester.
B.     Implikasi  Dari Upaya Kepala Sekolah Dalam Mengembangkan Mutu Pendidikan Di Sekolah
  1. Prestasi Belajar Siswa yang diterima pada Sekolah Menengah
Dari jumlah siswa pada tahun ajaran 2006/2007 berjumlah 120 siswa-siswi, yang mana 120 siswa tersebut yang diterima di MAN berjumlah 40%, di SMAN berjumlah 15%, di SMKN berjumlah 20%, dan 20% di terima di Sekolah Menengah Swasta
 Untuk tahun ajaran 2007/2008 berjumlah 175 anak,  yang mana 175 siswa tersebut yang diterima di MAN berjumlah 45%, di SMAN berjumlah 15%, di SMKN berjumlah 20%, dan 15% di terima di Sekolah Menengah Swasta, melihat dari kelulusan siswa-siswi di MTsN Plandi Jombang rata-rata siswa-siswi melanjutkan di Sekolah Menengah Negeri, hal tersebut menunjukan bahwa prestasi belajar siswa di MTsN Plandi Jombang baik.
            Selanjutnya Saifudin Azwar, menyatakan bahwa dalam pengukuran dan penilaian prestasi siswa dapat di lakukan dengan mengunakan beberapa cara di antaranya:  
a.       Pengunaan hasil tes prestasi belajar untuk klasifikasi individu kedalam bidang atau jurusan yang sesuai dengan kemampuan yang telah diperhatikan pada hasil belajar yang lalu seperti: pengunaan nilai rapot kelas 2 untuk menentukan studi di kelas 3
b.      Penggunaan hasil tes prestasi belajar guna melihat sejauh mana kamajuan belajar yang telah di capai oleh siswa dalam suatu program pelajaran seperti: tes ujian tengah semester, tes hasil belajar (THB)
c.       Pengunaan hasil tes prestasi untuk memperoleh informasi mengenai penguasaan pelajaran yang telah direncanakan sebelumnya dalam suatu program pelajaran seperti: tes sumatif di kelas untuk menentukan kenaikan kelas. [15]

  1. Menjadikan Guru Profesional
Guru adalah salah satu komponen dalam keberhasilan proses belajar mengajar, yang ikut berperan dalam usaha pembentukan sumber daya manusia yang potensial di bidang pembangunan. Oleh karena itu, guru merupakan salah satu unsur di bidang kependidikan harus berperan aktif dan menempatkan kedudukanya sebagai tenaga profesional, sesuai dengan tuntutan masyarakat yang berkembang.
Senada dengan teori yang diungkapkan oleh lesson study bahwasanya “pengembangan keprofesionalan guru harus selalu di tingkatkan, karena peningkatan keprofesionalan guru akan diikuti oleh peningkatan efektifitas kegiatan belajar mengajar dan secara tidak langsung peningkatan keprofesionalan guru akan berdampak pada peningkatan mutu pendidikan di sekolah”.[16]

C.    Faktor-Foktor Pendukung Dan Penghambat Dari Upaya Kepala Sekolah Dalam Mengembangan Mutu Pendidikan Di MTsN Plandi Jombang Sebagai Berikut:
Dalam pengembangan mutu pendidikan di sekolah ditemui beberapa faktor pendukung dan penghambat. Faktor-faktor tersebut bisa datang dari guru sendiri, dari peserta didik, lingkungan keluarga, diantara faktor-faktor pendukung dan penghambat sebagai berikut:
1.      Faktor pendukung
1)      Adanya anggaran untuk sarana dan prasarana
2)      Sekolah melakukan hubungan timbal balik antara sekolah dan masyarakat untuk menjalin kerjasama
3)      Bantuan oprasional sekolah dari pemerintah dan swadaya dengan masyarakat sekitar dalam menambahkan fasilitas gedung di sekolah
4)      Adanya kesukarelaan antara siswa lulusan untuk menyumbangkan buku Refensi di perpustakaan
5)      Adanya program anggaran dana dari sekolah untuk bidang ektrakurikuler
6)       Banyaknya guru-guru diikutkan musyawarah guru mata pelajaran (MGMP), seminar pendidikan, work shop selain itu guru-guru juga banyak yang di ikutkan program pasca sarjana (S2)
Sedangkan faktor pendukung pengembangan pendidikan di sekolah dalam bukunya Hadari Nawawi disebutkan, “beberapa faktor yang mempengaruhi perwujudan manajemen kelas diantaranya adalah kurikulum, bangunan dan sarana, guru, murid, dinamika kelas, dan lingkungan sekitar”.[17]
Pada kenyataannya, faktor-faktor pendukung tersebut bisa juga menjadi faktor-faktor penghambat di MTsN Plandi Jombang, antara lain faktor-faktor seorang guru berkewajiban meningkatkan pengajaran di kelas. Menurut Michel Marland menyatakan, “tugas guru dalam mengelola kelas diantaranya menyangkut pengontrolan kelompok, pengaturan waktu serta pengorganisasian alat peraga  pembelajar”.[18]
2.      Faktor penghambat
1)      Kurangnya media pembelajaran dalam hal ini perlu adanya penambahan LCD, 2 sampai 3 LCD
2)      Untuk kontiyuitas pertemuan stake-holder dengan masyarakat masih terbatas kurang
3)      Kurangnya dana dalam penambahan sarana di sekolah
4)      Untuk pengadaan buku di sekolah masih ada keterbatasan
5)      Kurangnya pembinaan-pembinaan, khususnya yang ahli dalam bidangnya ektrakurikuler
6)      Untuk meningkatkan SDM guru-guru pengajar perlu diadakan pelatihan-pelatihan khusus dalam mengunakan metode pengajaran atau media yang tersedia
3.      Langkah untuk mengatasi faktor penghambat dari upaya kepala sekolah dalam mengembangan mutu pendidikan di MTsN Plandi Jombang sebagai berikut:
1)      Untuk sementara penambahan sarana di fokuskan untuk penambahan LCD sebanyak 2 sampai 3 LCD
2)      Untuk menjalin hubungan dengan masyarakat sekolah menerima kunjungan masyarakat, ikut serta dalam kegiatan kemasyarakatan
3)      Penambahan jumlah uang sumbangan dari wali murid guna untuk penambahan sarana di sekolah 
4)      Untuk menambah dari jumlah buku di sekolah, usaha yang dilakukan sekolah meminta dari siswa-siswi yang lulus untuk menyumbangkan 1 (satu) buku refensi di perpustakaan
5)      Mendatangkan pembina yang profesional dalam bidang ektrakurikuler
6)      Untuk meningkatkan SDM guru-guru pengajar kepala sekolah mewajibkan guru-guru untuk mengikuti musyawarah guru mata pelajaran (MGMP), seminar pendidikan, work shop



[1] Hendyat Soetopo-Wasty Soemanto, Pengantar Operasional Administrasi Pendidikan (Surabaya: Usaha Nasional, 1998), 209.
[2] Ibid., 213.
[3] Indra Djati Sidi, Dewan Pendidikan Dan Komite Sekolah, (Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jendral Pendidikan Dasar Dan Menengah), 18.
[4] E. Mulyasa, Menjadi Kepala Sekolah Profesional (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2006), 173-174.
[5] Hendyat Soetopo-Wasty Soemanto, Pengantar Operasional Administrasi Pendidikan (Surabaya: Usaha Nasional 1998), 222.
[6] Ibid., 222
[7] Oemar Hamalik, Administarsi dan Supervisi Pengembangan Kurikulum ( Bandung: Mandar Maju, 1992), 128-130.
[8] Ibid., 128-130.
[9] Suharsimi Arikunto, Pengelolaan Kelas dan Siswa Sebuah Pendekatan Evaluatif (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1996), 46.
[10] Ibid., 46.
[11] Moh. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional ( Bandung: Remaja Rosda Karya, 1998), 98.
[12] http://wordpress. Com/2009/03/30/ Pentingnya-Supervisi-Pendidikan- Sebagai- Upaya Peningkatan- Profesionalisme- Guru, diakses tanggal 21 Mei 2009.
[13] Ibid.,
[14] Sudarwan Danim, Inovasi Pendidikan Dalam Upaya Peningkatan atau Profesionalisme Tenaga Ke Pendidikan (Bandung: Putaka Setia, 2002), 30.
[15] Saifuddin Azwar, Tes Prestasi Fungsi dan Pengembangan Pengukuran Prestasi Belajar (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007), 10.
[16] http://wordpress. Com/2009/03/30/ Pentingnya-Supervisi-Pendidikan- Sebagai- Upaya Peningkatan- Profesionalisme- Guru, diakses tanggal 21 Mei 2009..
[17] Hadari Nawawi, Organisasi Sekolah dan Pengelolaan Kelas (Jakarta: PT. Gunungb Agung, 1985), 116
[18] Michel Marland, Seni Mengelola Kelas, disadur dari Craft of The Classroom (Semarang: Dahara Prize, 1985),14.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar