Pengembangan Pendidikan Agama Islam: Reinterpretasi Berbasis Interdisipliner

Minggu, 14 Oktober 2012

PENGEMBANGAN MUTU PENDIDIKAN


PENGEMBANGAN MUTU PENDIDIKAN


 
 Oleh: Miftahkul Munir



foto Miftahkul Munir. Sumber foto: Facebook

1.      Pengertian Mutu Pendidikan
Mutu pendidikan adalah kualitas seorang guru baik pemahamanya atau kemampuannya terhadap intruksi belajar mengajar yang indikatornya dapat dilihat dari hasil prestasi belajar siswa, baik itu prestasi dalam menempuh ujian semester ataupun prestasi dalam menempuh ujian akhir.
2.       Mutu Pendidikan di Sekolah
Dalam pengembangan mutu pendidikan, maka diperlukan peran kepala sekolah, berikut adalah peran kepala sekolah dalam pengembangan di sekolah sebagai berikut:
a.       Sarana dan Prasarana
Kegiatan pengadaan sarana dan prasarana yaitu mencakup penambahan sarana olah raga, kegiatan ekstrakurikuler, laboratorium, perbaikan gedung sekolah, pembangunan sarana beribadah.[1]
Penyelenggaraan perpustakaan sekolah adalah perpustakaan yang diselenggarakan di sekolah bermaksud untuk menunjang program belajar dan mengajar di lembaga pendidikan formal. Maka tujuan dari adanya perpustakaan di sekolah sebagai berikut:
1.)    Agar timbul kecintaan terhadap membaca, memupuk kesadaran membaca dan menanamkan kebiasaan membaca.
2.)    Memperluas dan memperdalam pengalaman belajar.
3.)    Membantu perkembangan percakapan bahasa dan daya pikir murid.
4.)    Memberi dasar-dasar kemampuan penelusuran informasi.
5.)    Memberikan dasar kemampuan ke arah studi sendiri.[2]
Perawatan halaman sekolah yang sebaiknya ditanami pohon-pohonan rindang sehingga dapat untuk dijadikan sebagai tempat istirahat atau tempat bermain serta ditanami bunga-bunga yang menarik dan indah dipandangnya.
b.      Pengelolaan Hubungan Mayarakat (Humas)
Dengan adanya hubungan kerjasama antara pihak sekolah dengan masyarakat, maka pihak sekolah dapat mengetahui potensi yang ada dalam masyarakat untuk kemudian didayagunakan untuk kepentingan kemajuan pendidikan anak di sekolah.
Elsbree telah mengemukakan tujuan hubungan sekolah dengan masyarakat sebagai berikut:
1)      Untuk meningkatkan kualitas belajar dan pertumbuhan anak.
2)      Untuk meningkatkan tujuan masyarakat dan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat.
3)      Untuk mengembangkan antusiasme atau semangat dalam membantu kegiatan hubungan sekolah dengan masyarakat di sekolah.[3]

Sedangkan jika ditinjau dari kebutuhan masyarakat itu sendiri, tujuan hubungan masyarakat dengan sekolah yaitu:
1)      Memajukan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, terutama dalam bidang mental-spiritual.
2)      Memperoleh bantuan sekolah dalam memecahkan berbagai masalah yang dihadapi oleh masyarakat.
3)      Menjamin relevansi program sekolah dengan kebutuhan masyarakat.
4)      Memperoleh kembali anggota-anggota masyarakat yang makin meningkat kemampuannya.[4]
Pengaruh sekolah terhadap masyarakat pada dasarnya tergantung kepada luas tidaknya produk serta kualitas dari produk sekolah itu sendiri. Semakin luas sebaran produk sekolah di tengah-tengah masyarakat, terlebih bila diikuti dengan tingkatan kualitas yang memadai, tentu produk persekolahan tersebut membawa pengaruh positif dan berarti bagi perkembangan masyarakat.
Macam-macam pengaruh pendidikan persekolahan terhadap perkembangan di masyarakat sebagai berikut:
1)      Mencerdaskan kehidupan masyarakat.
Tingkat kecerdasan masyarakat dapat dikembangkan melalui program pendidikan di sekolah.
2)      Membawa virus pembaruan bagi perkembangan masyarakat
Pertumbuhan ilmu pengetahuan dan teknologi di satu pihak, dan masalah-masalah atau tantangan kehidupan yang tidak ada henti-hentinya di lain pihak, kedua kenyataan tersebut memotori lahirnya pemikiran-pemikiran dan praktek-praktek baru yang inovatif, tentu saja untuk diabadikan bagi perbaikan kehidupan di masyarakat.
3)      Melahirkan warga masyarakat yang siap dan terbekali bagi kepentingan kerja di lingkungan masyarakat
Lembaga pendidikan formal di dalam memberikan bekal-bekal pengetahuan ketrampilan dan sikap-sikap yang relevan bagi dunia kerja, hal tersebut secara langsung membawa pengaruh terhadap lapangan kerja di masyarakat.
4)      Melahirkan sikap-sikap positif dan kontruktif bagi warga masyarakat, sehingga tercipta integrasi sosial yang harmonis di tengah-tengah masyarakat.[5]
Ada beberapa jalur yang mungkin dapat ditempuh walaupun demikian jalur yang paling menguntungkan adalah jalur yang langsung berhubungan dengan murid dan situasi pertemuan langsung, jalur-jalur lain yang ditempuh dalam hubungan sekolah-masyarakat adalah:
1)      Anak atau murid
Anak atau murid merupakan mata rantai komunikasi yang paling efektif antara masyarakat dengan sekolah.
2)      Surat-surat selebaran dan buletin sekolah
Biasanya orang tua akan membaca dengan cermat selebaran dan buletin yang langsung di terima dari sekolah.
3)      Media masa
Media masa seperti radio, surat kabar, televisi merupakan media yang sangat berharga untuk menyampaikan informasi kepada orang tua murid.
4)      Pertemuan informal
Para guru dan staf sekolah lainnya dapat mengadakan hubungan dengan warga masyarakat secara tidak resmi, dengan santai.
5)      Laporan kemajuan murid (Rapor)
Laporan kemajuan murid yang secara formal disampaikan kepada orang tua merupakan alat lain bagi sekolah untuk berkomunikasi dengan mereka.
6)      Kontak formal
Hal ini dapat dilakukan dengan melalui pertemuan-pertemuan resmi
7)      Memanfaatkan sumber-sumber yang tersedia di masyarakat
Umumnya para guru memanfaatkan sumber-sumber yang tersedia di masyarakat dalam menghidupkan dan memperkaya program pengajaran.
8)      Badan Pembantu Penyelenggara Pendidikan (BP3)
Organisasi ini bekerja sama dengan sekolah dalam mengembangkan hubungan-hubungan yang sehat antara sekolah dengan masyarakat, BP3 ini merupakan wadah, sehingga Kepala Sekolah, guru dan masyarakat, dapat melakukan komunikasi dan memberikan informasi tentang inovasi-inovasi yang sedang dijalankan dalam program pengajaran dewasa ini.[6]


c.       Pengelolaan Keuangan
Usaha-usaha penyedian, penyelenggaraan pengaturan dan ketatausahaan keuangan bagi pembiayaan fasilitas materiil dan tenaga-tenaga personil sekolah serta aktifitas-aktifitas pendidikan pengajaran dan kegiatan-kegiatan sekolah dengan demikian maka dalam bidang ini menyangkut masalah-masalah urusan gaji guru-guru dan staf sekolah, urusan penyelenggaraan otorisasi sekolah, urusan uang sekolah dan uang alat-alat murid, usaha-usaha penyediaan biaya bagi penyelenggara pertemuan-pertemuan dan perayaan serta keramaian sekolah, pembiayaan proyek bersama antara sekolah, orang tua dan masyarakat.[7]
Penyusunan anggaran keuangan sekolah atau sering disebut anggaran belanja sekolah (ABS), biasanya dikembangkan dalam format-format yang meliputi:
1)      Sumber pendapatan terdiri dari DPP (Dana Pengembangan Pendidikan) dan SPP (Sumbangan Pengembangan Pendidikan).
2)      Pengeluaran untuk kegiatan belajar mengajar, pengadaan dan pemeliharaan sarana prasarana, bahan-bahan dan alat pelajaran, honorarium dan kesejahteraan[8]
Pelaksanaan keuangan sekolah dalam garis besarnya dapat dikelompokkan ke dalam dua kegiatan, yakni penerimaan dan pengeluaran, dengan penjelasan sebagai berikut:
1)      Penerimaan
Dalam pelaksanaan keuangan sekolah dari sumber-sumber dana perlu dibukukan berdasarkan prosedur pengelolaan yang selaras dengan ketetapan yang disepakati, baik berupa konsep teoritis maupun peraturan pemerintah.
2)      Pengeluaran
Pengeluaran sekolah berhubungan dengan pembayaran keuangan sekolah untuk pembelian beberapa sumber atau input dari proses sekolah seperti tenaga administrasi, guru, bahan-bahan, perlengkapan dan fasilitas.[9]
d.      Pengelolaan Pengajaran
Pengelolaan pengajaran ini merupakan titik sentral dari kegiatan pengelolaan yang lain. Kegiatan yang berhubungan dengan pengelolaan, maka pemimpin pendidikan hendaknya menguasai Garis-Garis Besar Program Pengajaran (GBPP) untuk tiap-tiap bidang studi dan tiap-tiap kelas antara lain:
1)      Menyusun program sekolah untuk satu tahun.
2)      Menyusun jadwal pelajaran.
3)      Mengkordinir kegiatan-kegiatan penyusunan model satuan pelajaran.
4)      Mengatur kegiatan penilaian.
5)      Mencatat dan melaporkan hasil kemampuan belajar murid-murid kepada atasannya.[10]
Menurut Wahjo Sumidjo dalam buku Kepemimpinan Kepala Sekolah mengemukakan bahwa Kegiatan ektrakurikuler yaitu “kegiatan-kegiatan siswa di luar jam pelajaran dengan tujuan untuk memperluas pengetahuan, memahami keterkaitan antara berbagai mata pelajaran dan penyaluran bakat dan minat”.[11]
Ada tiga hal pokok yang perlu diperhatikan oleh para Kepala Sekolah, bahwa kegiatan ekstrakurikuler bertujuan:
1)      Untuk memperdalam dan memperluas pengetahuan siswa, dalam arti memperkaya, mempertajam, serta memperbaiki pengetahuan para siswa yang berkaitan dengan mata pelajaran mata pelajaran sesuai dengan program kurikuler yang ada.
2)      Untuk melengkapi upaya pembinaan, pemantapan dan pembentukan nilai-nilai kepribadian siswa.
3)      Untuk membina dan meningkatkan bakat, minat dan keterampilan. Kegiatan ini untuk memacu ke arah kemampuan mandiri, percaya diri dan kreatif.[12]
e.       Pengelolaan Kesiswaan
Perencanaan pada dasarnya menjawab pertanyaan: apa yang harus dilakukan, bagaimana melakukannya, di mana dilakukan, oleh siapa dan kapan dilakukan kesemuanya itu haruslah direncanakan oleh Kepala Sekolah, hasilnya berupa rencana tahunan sekolah yang akan berlaku pada tahun ajaran berikutnya. Rencana tahunan tersebut kemudian dijabarkan ke dalam program tahunan sekolah yang biasanya dibagi ke dalam dua program semester.[13]
Adapun rencana tahunan tersebut mencakup penerimaan siswa baru, berapa banyak yang akan ditampung, apakah perlu menambah kelas lagi atau menguranginya, pengadaan bimbingan dan penyuluhan bagi siswa dengan bekerja sama dengan lembaga-lembaga bimbingan yang bersangkutan, pelaksanaan kebersihan dan keindahan sekolah dengan mengadakan lomba kebersihan dan keindahan sekolah setiap tahun.[14]
f.       Profesionalisme Guru
Profesioalisme adalah orang yang memiliki kemampuan dan keahlian khusus dalam bidang keguruan sehingga ia mampu melakukan tugas dan fungsinya sebagai guru dengan kemampuan maksimal atau dengan kata lain, guru profesional adalah orang yang terdidik dan terlatih dengan baik serta memiliki pengelaman yang kaya di bidangnya.[15]
Untuk memenuhi dalam peningkatan profesionalisme guru kepala sekolah dituntut dapat melakukan beberapa hal antara lain:
1)      Mengikut sertakan atau mengajak bawahan untuk berpartisipasi dan memberikan kesempatan kepada mereka untuk mengajukan ide-ide, rekomendasi dalam proses pengambilan keputusan
2)      Menginformasikan secara tegas tentang tujuan yang ingin di capai
3)      Memberikan penghargaan dan pengakuan yang tepat serta wajar kepada bawahan atas prestasi yang di capai
4)      Memberikan tanggung jawab secara otonomi dalam tugasnya
5)      Memberikan kompetensi dalam bentuk intensif
6)      Mengikut sertakan guru dan karyawan dalam berbagai jenis pelatihan sesuai dengan kebutuhan kompetensi dalam tugasnya.[16]


[1] Ibid,. 122.
[2] Ibid,. 212-213.
[3] Hendyat Soetopo-Wasty Soemanto, Pengantar Operasional Administrasi Pendidikan (Surabaya : Usaha Nasional), 236.
[4] M. Ngalim Purwanto, Administrasi dan Supervisi Pendidikan (Bandung: Remaja Rosda, 1998), 190.
[5] Tim Dosen FIP-IKIP Malang, Pengantar Dasar-Dasar Kependidikan (Surabaya: Usaha Nasional, 1988), 179-182.
[6] M. Daryanto, Administrasi Pendidikan. 76-79.
[7] Dirawat, Pengantar Kepemimpinan Pendidikan, 83.
[8] Mulyasa, Menjadi Kepala Sekolah Profesional, 198.
[9] Ibid,. 201-203.
[10] Dirawat, Pengantar Kepemimpinan Pendidikan (Surabaya: Usaha Nasional, 1983), 80.
[11] Wahjo Sumidjo, Kepemimpinan Kepala Sekolah, 256.
[12] Ibid,. 264.
[13] M. Daryanto, Administrasi Pendidikan, 82.
[14] Yusak Burhanuddin, Administrasi Pendidikan untuk Fakultas Tarbiyah Komponen MKDK (Bandung: Pustaka Setia, 1998), 104-105.
[15] Moh. Uzer Usman, Menjadi Guru Professional (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1998), 15.
[16] Http://www. Daarulfudlola. Com/ index.php? option=com content, dan task, view, dan id=103, dan itemid= 144, diakses 26 Mei 2009.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar