Pengembangan Pendidikan Agama Islam: Reinterpretasi Berbasis Interdisipliner

Pengembangan Pendidikan Agama Islam

--- SELALU ADA YANG BARU DI BLOG BANJIR EMBUN: "Kami Mengucapkan Terima Kasih Atas Kunjungan Anda. Bila butuh bantuan atau ada pertanyaan silakan hubungi ke nomor 08563350350 atau kirim email ke: banjirembun@yahoo.co.id subjek: BanjirEmbun Menjawab”---

Kamis, 08 November 2012

ISLAM VS MODERNITAS

ISLAM VS MODERNITAS

 

oleh Dwi Harizma An-niesa pada 13 Oktober 2012 pukul 16:31 ·

Islam pada zaman sekarang  memiliki tantangan ketika dihadapkan dengan modernitas.  Haruskah umat Islam lari dan antipati dengan modernitas adalah sebuah problem yang harus dijawab. Sementara kita tahu bahwa hampir dari segala aspek kehidupan kita menggunakan produk barat yang merupakan hasil karya modernitas. Teknologi cangggih sehari-hari yang kita temui maupun yang kita konsumsi, tak ayal lagi sebagian besar merupakan karya cipta dari ilmu pengetahuan dan teknologi mereka.
Melihat hal yang demikian, tentu kita sebagai umat Islam sudah mulai berpikir bahwa menghindari modernitas adalah hal yang mustahil. Bukankah perubahan posisi dari konsumen teknologi- yang notabene sangat dekat dengan modernitas- menjadi produsen akan menjadi prestasi membanggakan bagi umat Islam? Ya, di sinilah istilah dikotomi ilmu pengetahuan antara ilmu agama dan ilmu umum harus dihilangkan. Karena, kedua ilmu itu penting bagi keberlangsungan hidup manusia. Ilmu pengetahuan yang merupahkan cikal bakal dari teknologi penting untuk diperhatikan. Ingat Sebuah hadis, “bekerjalah untuk duniamu seakan-akan kamu hidup selama-lamanya. Dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan-akan kamu mati besok”.Keseimbangan hidup seperti ini adalah  hal yang sangat didambakan dalam Islam.
Mengikuti modernitas bukanlah hal yang tabu selama kita masih memegang ajaran Islam. Jadilah modern, tapi jangan melupakan agama. Itu adalah sebuah kata yang tepat. Sudah seharusnya kita mengikuti tradisi-tradisi yang baru jika memang itu lebih baik. Berislam dengan konteks kekinian bukanlah hal yang dilarang selama ruh-ruh Islam yang menjadi esensinya tetap dijaga.
Sebuah torehan yang harusnya kita renungkan adalah, pada Zaman Daulah Abbasiyah, Islam pernah Berjaya. Ilmu pengetahuan berkembang pesat di saat dunia Barat mengalami kegelapan. Kaum Muslim saat itu tidak meninggalkan agamanya meskipun mereka harus maju. Bukankah fenomena tersebut bisa membangkitkan semangat kita sebagai kaum muslim untuk menjadi yang terdepan kembali? Kita bisa besar dengan agama kita. Kita punya sebuah pedoman luar biasa yang diakui oleh ilmuwan muslim maupun nonmuslim, yakni Al-Quran. Entah dari aspek sosial,  hukum, sains, ataupun yang lain diacungi jempol dari berbagai kalangan.
Peyoratifme kehidupan kaum muslimin harus sedikit demi sedikit dihilangkan. Memang, sikap kitalah yang menjadikan apakah suatu kaum terkesan lebih prestisius atau justru sebaliknya. Di sini, kita tidak berbicara dalam hal perlombaan duniawi.  Sekali lagi, untuk menjadi umat yang dikehendaki dalam al-Quran, rahmatal li’alamin, jelaslah, kita tidak bisa lari dari kehidupan dunia. Tanpa melupakan orientasi utama yakni akhirat, umat Islam harus bisa kembali menjadi terdepan seperti pada tempo dulu bahkan lebih dari itu. Islam dengan modernitas, why not???


sumber: http://www.facebook.com/notes/dwi-harizma-an-niesa/islam-vs-modernitas/10152192761805154

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar