Pengembangan Pendidikan Agama Islam: Reinterpretasi Berbasis Interdisipliner

Pengembangan Pendidikan Agama Islam

--- SELALU ADA YANG BARU DI BLOG BANJIR EMBUN: "Kami Mengucapkan Terima Kasih Atas Kunjungan Anda. Bila butuh bantuan atau ada pertanyaan silakan hubungi ke nomor 08563350350 atau kirim email ke: banjirembun@yahoo.co.id subjek: BanjirEmbun Menjawab”---

Sabtu, 17 November 2012

Problematika Pembelajaran Pada Anak Usia Dini


Problematika Pembelajaran Pada Anak Usia Dini


Oleh:
MUH ROSIHUDDIN
(Mahasiswa S2 Program Pasca Sarjana STAIN Kediri Angkatan I. Selain itu ia
pernah Menjabat sebagai Ketua IPNU Kecamatan Plosoklaten, Kepala MI Al-Muwazanah II, dan Guru di MTs Al-muwazana serta MTs Darul Hikmah Ngancar) 



sumber foto: facebook



Dari paparan di atas, dapat diketahui bahwa dalam pencapaian tujuan pembelajaran banyak sekali problematika yang dihadapi peserta didik. Sementara itu, apabila objek problematika tersebut dibatasi pada anak usia dini saja, maka problematika-problematika  yang dihadapinya   menurut Suyadi dalam bukunya Bimbingan Konseling Untuk PAUD di kelompokkan menjadi empat aspek, yaitu aspek kognitif, fisik-motorik, sosio-emosional, moral keagamaan[1]. Keempat aspek itu di jelaskan sebagai berikut :
a)      Aspek kognitif
Menurut Suyadi, perilaku bermasalah pada anak didik pada anak didik paling tidak ada sepuluh kejadian, yaitu “berpikir irrasional, pikiran negatif, suka menyalahkan orang lain dan menganggap dirinya paling benar, malas belajar, tidak mau sekolah, sulit menghafal kata dan nama benda, tidak memperhatikan, terlambat berpikir, pelupa, dan rendahnya rasa ingin tahu”[2]
b)      Aspek fisik-motorik
“Kondisi bermasalah pada aspek psikomotorik seperti halnya permasalahan tangan kidal, berjalan pincang, buta, tuli, bisu, terlalu gemuk atau kurus, dan berambut kriting”[3].
Selain itu, menurut Yeni Rahmawati seseorang dapat mengalami kendala fa’ali karena terjadi kerusakan otak yang disebabkan oleh penyakit atau kecelakaan. Kemungkinan lain seseorang menyandang kelainan fisik yang dapat menghambat pengembangan kreativitasnya[4].
c)      Aspek sosio-emosional
Perilaku bermasalah pada aspek sosio emosional setidak-tidaknya mencakup beberapa permasalahan yaitu : pendiam, pemalu, minder, citra diri( self esteem) yang negative, egois, sulit berteman (bersosialisasi), menolak relitas( suka membuat kegaduhan), bersikap kaku (tidak objektif), dan membenci guru tertentu.[5]

d)     Aspek moral keagamaan
Perilaku bermasalah pada moral keagamaan, contohnya adalah anak nakal, sombong atau congkak, berbohong atau menipu, bersikap kasar dan tidak sopan, suka membantah perintah orang tua dan guru, kikir, iri, dengki, sulit diajak belajar beribadah, suka berpenampilan vulgar, dan terpengaruh oleh ritual agama lain[6].

Problematika pembelajaran pada anak usia dini bisa juga dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu problematika internal dan problematika eksternal. Untuk lebih jelasnya dibahas sebagai berikut :
1)                  Problematika Internal
Yang dimaksud problematika internal adalah segala permasalahan yang timbul dari diri masing-masing anak didik. Permasalahan internal yang berkaitan dengan kognitif anak didik semisal sangat sulitnya anak didik dalam memahami materi-materi agama Islam bisa juga berasal dari latar belakang anak didik tersebut.Adapun permasalahan-permasalahan internal yang bisa menghambat pembelajaran pada anak adalah sebagai berikut :
1.      Stress
2.      Perasaan takut
3.      Phobia sekolah[7]
4.      Mencari perhatian[8]
5.      Ingin menguasai kelas
6.      Agresif
7.      Tidak menurut
8.      Suka berkelahi
9.      Menganggu teman yang lain
10.  Menyendiri [9]
11.  Tidak memperhatikan guru
Selain permasalahan-permasalahan yang telah disebutkan diatas yang juga bisa menghambat pembelajaran pada anak usia dini adalah masalah yang berkaitan dengan jasmani atau cacat fisik yang terjadi karena kecelakaan atau dibawa sejak lahir. Menurut Nur’aeni “masalah yang dihadapi adalah penyesuaian kecacatannya dengan lingkungan bagi mereka yang mendapatkannya karena kecelakaan atau amputasi”.[10]
2)                  Problematika eksternal
Yang dimaksud dengan problematika eksternal adalah permasalahan-permasalahan pembelajaran pada anak didik yang timbul dari luar masing-masing anak didik. Problematika-problematika itu adalah sebagai berikut:

1.      Guru
Menurut Fajar SS ada sepuluh penyakit guru yang dapat menjadi masalah atau hambatan bagi proses pembelajaran pada anak. Sepuluh penyakit itu adalah sebagai berikut :
1.                  Tipus   = Tidak punya selera
2.                  Mual    = mutu amat lemah
3.                  Kudis  = kurang disiplin
4.                  Asma   = Asal masuk kelas
5.                  Kusta   = Kurang strategi
6.                  TBC    = Tidak banyak cara
7.                  Kram   = Kurang terampil mengajar
8.                  Asam Urat       = Asal Susun Materi
9.                  Lesu    = Lemah Sumber Belajar
10.              WTS    = Wawasan Tidak Luas[11]

2.      Sarana Prasarana
Sarana prasarana juga sangat mempengaruhi bagi pembelajaran anak. Sarana prasarana sangat penting untuk menambah motivasi belajar anak didik. Sebaliknya kurangnya sarana prasana bisa menimbulkan kejenuhan, ngantuk, atau malas belajar.
Menurut Abu Ahmadi bahwa:

untuk belajar hendaknya anak didik memilih tempat yang memenuhi syarat kesehatan, tempat itu harus bersih, udara selalu berganti, sinar matahari bisa masuk, terutama di pagi hari, ada penerangan yang cukup, tidak terlalu lemah atau menyilaukan dan usahakan sinar  datang dari belakang atau samping sebelah kiri. Tempat itu harus teratur rapi, dan jauh dari ganngguan serangga, hiruk pikuk dan lalu lalang orang yang dapat menganggu ketenangan belajar. Kalau ada hiasan hendaknya hiasan yang dapat mendorong semangat dan gairah belajar serta menambah ketenangan jiwa.[12]

3.      Media Massa
Era sekarang adalah era informasi, dimana banyak media massa yang menyajikan informasi-informasi yang menarik untuk dibaca dan dilihat, baik yang negatif maupun yang positif, baik media massa cetak maupun elektronik. Media elektronik misalnya saja televisi, disatu sisi walaupun televisi membawa informasi tayangan yang positif, namun televisi juga berdampak negatif Bila anak melihat TV, maka sebaiknya orang tua harus mendampinginya, agar orang tua bisa menerangkan hal-hal yang belum dimengerti oleh anak. Namun jika tidak maka hal-hal yang ditayangkan di TV akan diserap semua oleh anak, baik yang positif maupun yang negatif.
Sekarang media cetak juga tidak mau kalah, banyak media cetak yang penyajiannya kurang mendidik anak, seperti semakin banyaknya gambar-gambar pomo yang tertera dalam media tersebut yang dirasa sangat mengganggu dan sangat mempengaruhi kepribadian anak. Terlebih lagi untuk usia anak-anak biasanya cenderung untuk meniru apa saja yang dilihatnya. Hal ini tenntunya sangat berbahaya kalau anak sampai meniru hal-hal negatif yang dia lihat di TV, Koran ataupun media masa lainnya.
4.      Lingkungan
Lingkungan adalah salah satu permasalahan pembelajaran yang sangat penting.Lingkungan masyarakat yang baik, yaitu masyarakat yang masih kental dengan ajaran-ajaran agama Islam. Lingkungan yang seperti itu dapat mempengaruhi anak untuk berperilaku baik. Namun apabila lingkungan masyarakatnya itu buruk dan jauh dan nilai-nilai ajaran agama, maka besar kemungkinannya juga akan melunturkan pendidikan agama anak yang telah ditanam dalam keluarga, bahkan anak akan jauh dari ajaran agama Islam.
Perilaku anak  yang negatif seperti berbicara kotor, suka berkelahi ,suka berbicara kasar dan tidak sopan pada guru[13] dan yang lain sebagainya merupakan perilaku bermasalah yang ditimbulkan karena pengaruh lingkungan yang buruk.



[1] Yang dimaksud problematika pembelajaran anak usia dini dilihat dari aspek kognitif menurut Suyadi adalah perilaku-perilaku bermasalah anak yang menyangkut pola pikir. Selanjutnya fisik-motorik adalah permasalahan yang disebabkan karena cacat fisik yang di derita anak didik. Sosio-emosional adalah problematika pembelajaran anak yang dilihat dari emosi, kognisi, dan perilaku  sosial anak didik usia dini. Adapun aspek moral keagamaan adalah permaslahan-permasalahan anak didik usia dini yang berkaitan dengan proses pembentukan perilaku positif dan bermoral tinggi. Untuk lebih lanjut lihat Suyadi, Buku Pegangan Bimbingan Konseling Untuk PAUD.(Jogjakarta : DIVA Press.2009), 262-314
[2] Ibid, 240
[3] Suyadi, Buku Pegangan Bimbingan Konseling Untuk PAUD, 262
[4] Yeni Rahmawati, S.Pd.M.Pd & Euis Kurniawati, S.Pd.M.Pd, Strategi Pengembangan Kreativitas Pada Anak Usia Taman Kanak-kanak (Jakarta : Kencana.2010), 8
[5] Suyadi, Buku Pegangan Bimbingan Konseling Untuk PAUD, 277
[6] Ibid , 304
[7] Menurut Nur’aeni “stress tidak saja terjadi pada orang dewasa, tetapi juga anak-anak bahkan pada balita. Anak yang mempunyai adik baru, atau pindah rumah, atau punya pengasuh baru, atau mulai masuk sekolah (TK) sering mengalami stress. Stress biasanya ditandai oleh kerewelan yang panjang, menangis terus, atau tampak sedih dan murung”. Selain itu, anak biasa mengalami rasa takut pada usia ini. Rasa takut ini bisa tumbuh karena pengalaman dan juga dipelajari dari orang tua. Adapun phobi sekolah adalah rasa takut yang sangat tanpa sebab, atau sebabnya tidak jelas atau tidak masuk akal. Misalnya orang takut pada biji sawo, naik tangga dan lain sebagainya. Bentuk phobi di sekolah ini adalah masalah sekolah, menolak sekolah, membolos atau atau kabur pada waktu jam-jam belajar. Untuk lebih lanjut lihat Nur’aeni, Intervensi Dini Bagi Anak Bermasalah, (Jakarta : PT. Rineka Cipta.1997),82-85
[8]Anak-anak yang masuk ke dalam situasi berkelompok untuk pertama kalinya harus menyesuaikan diri untuk berbagi perhatian orang dewasa yang menjaganya dengan anak-anak lain. Saat kebutuhan anak untuk mendapat perhatian tidak terpenuhi, ia akan melakukan apapun bahkan perilaku negatif untuk mendapatkan perhatian dari orang dewasa maupun dari temannya. Lihat Laverne Warner dan Sharon Anna Lynch, Mengelola Kelas Prasekolah ( Jakarta : Erlangga.2006),136
[9] Ibid , 132
[10] Nur’aeni, Intervensi Dini Bagi Anak Bermasalah,87
[11]“ hambatan pembelajaran “http:// fajarss.blog.uns.ac.id/tag/hambatan-pembelajaran, diakses pada tanggal 25 Juli pada pukul 20.08 WIB
[12] “ Hambatan Pembelajaran”, http;//www.scribd.com/doc/27422047/sarana-prasarana-belajar, diakses pada tanggal 25 Juli pada pukul 20.32 WIB
[13] Menurut Suyadi, sikap kasar dan tidak sopan termasuk dalam kategori perilaku bermasalah pada aspek moral keagamaan. Sebab sikap ini berkaitan erat dengan perlakuan atau etika moralitas yang mengatur huungan antara sesama manusia. Sikap ini tidak hanya dimiliki oleh orang dewasa, tetapi juga anak-anak. Biasanya anak-anak yang bersikap kasar dan tidak sopan disebabkan oleh pola asuh yang juga kasar dan tidak sopan atau keras dan menegangkan. Lihat Suyadi, Buku Pegangan Bimbingan Konseling Untuk PAUD.(Jogjakarta : DIVA Press.2009), 314.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar