Pengembangan Pendidikan Agama Islam: Reinterpretasi Berbasis Interdisipliner

Pengembangan Pendidikan Agama Islam

--- BUKU MURAH (ASLI bukan FOTOCOPY-AN/BUKAN BUKU BAJAKAN): " Buku MURAH BERKUALITAS hanya Rp.47.000,- (belum ongkos kirim) berjudul PENGEMBANGAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM: REINTERPRETASI BERBASIS INTERDISIPLINER (Yogyakarta: LKiS, 2015). Sebagai info harga buku ini di pasaran berkisar 70-90 ribu). Info lebih lanjut hubungi: 08563-350-350 (11 digit)”---

Saturday, November 17, 2012

Tujuan dan Materi Pendidikan Agama Islam Pada Anak Usia Dini


 Terima kasih, blog Banjir Embun telah dipercaya untuk digunakan sebagai referensi karya tulis oleh beberapa akademisi dan calon ilmuwan muda. Berikut puluhan BUKTI blog Banjir Embun mendapat kepercayaan masyarakat ilmiah (ilmuwan):



Buku A. Rifqi Amin (pendiri Banjir Embun) berjudul: 




 Tujuan dan Materi Pendidikan Agama Islam Pada Anak Usia Dini

Oleh:
MUH ROSIHUDDIN
(Mahasiswa S2 Program Pasca Sarjana STAIN Kediri Angkatan I. Selain itu ia
pernah Menjabat sebagai Ketua IPNU Kecamatan Plosoklaten, Kepala MI Al-Muwazanah II, dan Guru di MTs Al-muwazana serta MTs Darul Hikmah Ngancar)

 sumber foto: faceook
 



1.      Tujuan Pendidikan Agama Islam Pada Anak Usia Dini
Tujuan ialah “suatu yang diharapkan tercapai setelah suatu usaha atau kegiatan selesai”.[1] Tujuan pendidikan agama Islam adalah merupakan arah yang hendak disetujui dalam suatu kegiatan pendidikan Islam sebagaimana menurut Al Abrasyi dalam kajiannya tentang pendidikan Islam yang dikutip oleh Nur Uhwati telah menyimpulkan tujuan umum bagi pendidikan Islam, yaitu:
1)      Untuk membantu terbentuknya akhlak yang mulia
2)      Persiapan untuk mencari rizki dan kehidupan akhirat.
3)      Persiapan untuk mencari rizki dan pemeliharaan segi-segi kemanfaatan
4)      Menumbuhkan semangat ilmiah (scientific spirit) pada pelajar dan memuaskan keinginan dan memungkinkan ia mengkaji ilmu demi ilmu itu sendiri.
5)      Menyiapkan pelajar dari segi professional atau keahlian tertentu, agar dapat mencari rizki dalam kehidupannya di samping juga memelihara segi kerohanian dan keagamaan.[2]

Dengan demikian tujuan pendidikan Islam yang utama adalah budi pekerti atau akhlak yang mulia dengan tidak mengabaikan pendidikan jasmani, akal-pikiran, keimanan dan kepribadian sehingga tujuan pendidikan Islam itu adalah membentuk pribadi muslim yang integral atau menyeluruh.
Hasil rumusan tujuan pendidikan Islam menurut kongres pendidikan Islam sedunia di Islamabad tahun 1980 yang dikutip oleh Nur Uhbiati menyatakan bahwa:
Pendidikan harus merelisasikan cita-cita (idelitas) Islam yang mencakup pengembangan kepribadian muslim yang bersifat menyeluruh secara harmonis berdasarkan potensi psikologis (jasmaniah) manusia dengan mengacu kepada keimanan dan sekaligus berilmu pengetahuan secara berkesinambungan sehingga terbentuklah manusia muslim yang paripurna yang bersifat tawakal (menyerah diri) secara total kepada Allah SWT.[3]
Sedangkan rumusan tujuan pendidikan agama Islam menurut Nur Uhbiati dan Abu Ahmadi adalah
“Rumusan tujuan akhir pendidikan Islam ialah merealisasikan manusia muslim yang beriman dan bertaqwa serta berilmu pengetahuan yang mampu mengabdikan dirinya kepada penyerahan diri kepada-Nya dalam segala aspek kehidupan duniawiah dan ukhrawiah”.[4]
Menurut Ahmad D Marimba dalam bukunya pengantar filsafat pendidikan Islam yang dikutip oleh Zuhairini dkk menyatakan “tujuan akhir pendidikan agama Islam ialah terbentuknya kepribadian muslim ”.[5]  Rumusan tujuan yang sedemikian singkat pada hakekatnya mengembangkan makana yang sangat luas, dalam arti terbentuknya manusia yang utuh jasmani dan rohani yang dalam dirinya terwujud idelitas islami yang dijiwai oleh iman dan taqwa kepada Allah SWT.
Menurut Zuhairini, dkk, dalam bukunya Pendidikan Agama disebutkan bahwa” secara umum tujuan Pendidikan Agama Islam adalah  membimbing anak agar mereka menjadi orang muslim sejati, beriman teguh, beramal sholeh dan berakhlak mulia serta berguna bagi masyarakat, Agama dan Negara”.[6]
Sedangkan tujuan pendidikan dalam Islam secara garis besamya adalah untuk membina manusia agar menjadi hamba Allah yang saleh dengan seluruh aspek kehidupannya, perbuatan, pikiran, dan perasaanya.[7] Allah berfirman:
$tBur àMø)n=yz £`Ågø:$# }§RM}$#ur žwÎ) Èbrßç7÷èuÏ9 ÇÎÏÈ  

Artinya: Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah-Ku”. (Q.S. Adz-Dzariyat (51): 56).[8]

Terbentuknya kepribadian muslim yang menjadi tujuan akhir pendidikan Islam, untuk sampai kepada terbentuknya kepribadian muslim ada beberapa cara yang perlu di realisasikan, yaitu:
a.                Menenamkan perasaan cinta dan taat kepada Allah dengan meningkatkan rasa syukur atas nikmat Allah yang tidak terhitung banyaknya.
b.               Menanamkan I’tikad yang benar dan kepercayaan yang betul dalam hati anak.
c.                Mendidik anak dari kecilnya agar mengikuti perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya, serta membiasakan akhlak yang mulia dan adapt kebiasaan yang baik.
d.               Mengajar pada siswa untuk mengetahui macam-macam ibadah yang wajib dikerjakan dan cara mengerjakannya serta mengetahui hikmah dan faidahnya.
e.                Memberi petunjuk para siswa bagaimana hidup di dunia menuju akhirat dan memberikan contoh dan suri tauladan yang baik.[9]

Dari beberapa uraian di atas dapat diambil suatu pengertian bahwa tujuan pendidikan agama Islam pada anak usia dini adalah untuk mencapai keseimbangan pertumbuhan diri pribadi anak usia nol sampai enam tahun secara menyeluruh melalui latihan kejiwaan, akal pikiran, kecerdasan dan perasaan, sehingga memiliki kepribadian yang utama. Oleh karena itu pendidikan Islam harus mengembangkan seluruh aspek kehidupan manusia, baik spiritual, jasmaniah dan keilmuannya ke arah kebaikan atau kesempurnaan hidup.

2.      Materi Pendidikan Agama Islam Pada Anak Usia Dini
Materi adalah bahan yang dipergunakan dalam mencapai tujuan pendidikan, dimana materi ini termasuk salah satu bagian dari alat pendidikan. Dengan demikian materi pendidikan agama Islam adalah bahan yangt dipergunakan untuk mencapai tujuan pendidikan Islam yang berdasar dan dan bersumber pada al-qur’an dan hadis.
Materi pendidikan agama Islam adalah “segala sesuatu yang hendak diberikan kepada dan dicerna, diolah, dihayati serta diamalkan oleh peserta didik dalam proses kegiatan pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan Is1am”.[10] Pada dasamya materi yang diberikan kepada anak didik adalah sangatlah universal yang mengandung aturan-aturan sebagai aspek kehidupan manusia, baik yang berhubungan dengan sesama manusia maupun dengan yang lainnya. Karena Pendidikan Agama Islam berdasarkan pada AI-Qur’an dan As-Sunnah, maka sangat luas jangkauannya dan Islam mendorong pada setiap pemeluknya untuk memperoleh pendidikan tanpa kenal batas.
“Islam memiliki tiga ajaran yang merupakan inti dasar dalam mengatur kehidupan. Secara umum dasar Islam yang dijadikan materi pokok pendidikan agama Islam dalam keluarga yaitu: masalah keimanan (Aqidah) dan masalah Ihsan (Akhlak)”[11]
1) Keimanan (Aqidah)
Dalam Pendidikan Agama Islam yang pertama dan utama yang harus dilakukan adalah pembentukan keyakinan kepada Allah, yang diharapkan mendasari setiap sikap dan tingkah laku serta kepribadian anak, karena pada dasarnya manusia itu membutuhkan sebuah kepercayaan yang akan membentuk sikap dan pandangannya. Hal itu sebagaimana firman Allah dalam surat Luqman ayat 13
øŒÎ)ur tA$s% ß`»yJø)ä9 ¾ÏmÏZö/ew uqèdur ¼çmÝàÏètƒ ¢Óo_ç6»tƒ Ÿw õ8ÎŽô³è@ «!$$Î/ ( žcÎ) x8÷ŽÅe³9$# íOù=Ýàs9 ÒOŠÏàtã ÇÊÌÈ  

Artinya: “Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, diwaktu Ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yangbesar.”(Q.S. Luqman(31): 13).[12]

Ayat diatas mengingatkan bahwa Luqman mengajarkan kepada anaknya untuk tidak menyekutukan Allah. Hal tersebut merupakan pelajaran terhadap keimanan anak agar jiwa keimanannya kepada Allah bisa teguh, sehingga tidak akan menyekutukan Allah dengan yang Iainnya.
Adapun langkah dasar yang bisa diambil untuk membentuk tingkah laku anak yang berkepribadian Islam adalah memberikan pemahaman kepada anak tentang tujuan hidup yang jelas. bahwa hidup itu harus memiliki motivasi, dan motivasi hidup itu hanya mendapatkan ridho dan Allah. “Untuk mendapatkan ridho dan Allah maka harus berhubungan dengan Allah melalui berlatih diri untuk melaksanakan perintah dan menjauhi Iarangan-Nya”.[13]
“Sedangkan cara untuk menegakkan aqidah bagi anak adalah dengan memahamkan kepada anak agar menjauhi syirik. Selain itu juga dengan belajar menegakkan shalat yang disertai dengan doa-doa dan gerakan yang benar”.[14] Semua ini merupakan perwujudan yang dapat menimbulkan rasa keimanan dan ketaqwaan yang dalam terhadap Allah.


2). lhsan (Akhlak)
Sejalan dengan usaha pembentukan keyakinan atau keimanan juga diperlukan pembentukan akhlak yang mulia. Akhlak merupakan jiwa pendidikan Islam. Akhlak sendiri adalah amalan yang bersifat pelengkap dan penyempurna bagi kedua amalan diatas dan yang mengajarkan tentang tata cara pergaulan hidup manusia.
Akhlaq bisa diartikan sebagai etika, etos, moral dan budi pekerti. Etika merupakan adat kebiasaan. Etos mempunyai arti watak atau karakter. Secara lengkap etos adalah karakteristik dan kebiasaan, serta kepercayaan yang bersifat khusus tentang individu atau kelompok manusia. Moral merupakan pengembangan pemahaman atau etika yang diartikan sebagai paket atau produk jadi yang bersifat normatif mengikat, yang harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari seorang muslim.[15]

Sedangkan pendidikan akhlaq adalah pendidikan untuk mengarahkan anak agar berperilaku baik, mempunyai moral dan etika yang baik. Pendidikan akhlak ini sangat penting bagi anak, bila diumpamakan buah maka akhlak merupakan sebagian dan buah yang matang. Maka bagaimana caranya agar buah yang matang itu bisa manis dan tidak busuk. Jika sebelumnya anak sudah diajarkan tentang keimanan dan aqidah, maka langkah selanjutnya adalah membentuk atau mengajak anak untuk berakhlakul karimah. Tanpa akhlak yang baik tidak akan sempuma keimanan seseorang.
Sedangkan pembentukan akhlak anak termaktub dalam Al-Qur’an surat Luqman, yang perinciannya sebagai berikut:
a.       Bersyukur kepada Allah dan banyak berterima kasih kepada kedua orangtua. Sebagaimana Firman Allah dalam QS. Luqman ayat 14 :
$uZøŠ¢¹urur z`»|¡SM}$# Ïm÷ƒyÏ9ºuqÎ/ çm÷Fn=uHxq ¼çmBé& $·Z÷dur 4n?tã 9`÷dur ¼çmè=»|ÁÏùur Îû Èû÷ütB%tæ Èbr& öà6ô©$# Í< y7÷ƒyÏ9ºuqÎ9ur ¥n<Î) 玍ÅÁyJø9$# ÇÊÍÈ  

Artinya: “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku, dan kepada dua ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu’. (Q.S. Luqman(31): 14).[16]

b.      Bertingkah laku sabar. Sebagaimana termaktub dalam QS. Luqman ayat 17.
¢Óo_ç6»tƒ ÉOÏ%r& no4qn=¢Á9$# öãBù&ur Å$rã÷èyJø9$$Î/ tm÷R$#ur Ç`tã ̍s3ZßJø9$# ÷ŽÉ9ô¹$#ur 4n?tã !$tB y7t/$|¹r& ( ¨bÎ) y7Ï9ºsŒ ô`ÏB ÇP÷tã ÍqãBW{$# ÇÊÐÈ  

Artinya: “Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah(manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dan perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)”. (Q.S. Luqman (31):17).[17]

c.       Berperangai ramah kepada sesamanya. Seperti tertera dalam Q.S.Luqman Ayat 19 sebagai berikut:
ôÅÁø%$#ur Îû šÍô±tB ôÙàÒøî$#ur `ÏB y7Ï?öq|¹ 4 ¨bÎ) ts3Rr& ÏNºuqô¹F{$# ßNöq|Ás9 ÎŽÏJptø:$# ÇÊÒÈ  
Artinya : “Dan sederhanakanlah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara adalah suara keledai”. (Q.S.Luqman (31): 19).[18]

Sesuai dengan ayat di atas, maka yang termasuk perangai ramah kepada sesamanya diantaranya adalah:
a. Tidak membuang muka ketika berjumpa dengan sesamanya.
b. Tidak sombong.
    c.  Ketika berbicara dimuka umum tidak menggunakan suara lantang, namun suara yang menyejukkan hati sesamanya.
d. Patuh terhadap orang yang memberikan informasi kebenaran[19]

Apabila langkah-langkah yang tertera di atas dapat ditanamkan dengan baik maka anak akan bisa berakhlakul karimah, menjadi anak yang shalih-sholihah serta akan membahagiakan kedua orangtuanya.


[1] Zakiah Darajat dkk, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2000), 29.
[2] Nur Uhbiati, Ilmu Pendidikan Islam, (Bandung: Pustaka Setia, 1997), 50
[3] Ibid, 59.
[4] Nur Uhbiati, Abu Ahmadi, Ilmu Pendidikan Islam I, (Jakarta: Pustaka Setia, 1995), 64.
[5] Zuhairini dkk, Metodologi Penididikan  Agama,( Solo: Ramadhani. 1993), 17.
[6] Zakiah Darajat, Pendidikan Islam dalam Keluarga dan Sekolah, (Jakarta: Ruhama, 1995), 35.
[7] Zuhairini., Methodik Khusus Pendidikan Agama .,45 .
[8] Depag RI. Al Qur’an dan Terjemahanya.(Jakarta: DEPAG RI. 1997) , 862.
[9] Moh Amin, Pengantar Ilmu Pendidikan Islam, (Pasuruan: Garoeda Buana Indah, 1992), 23.
[10] Tim Dosen IAIN Malang, Dasar-Dasar Pendidikan Islam: Suatu Pengantar Ilmu Pendidikan Islam (Surabaya: Karya Aditama, 1996), 100.
[11] Zuhairini., Methodik Khusus Pendidikan Agama.,61.
[12] Depag RI. Al Qur’an dan Terjemahanya.,. 654
[13] Abdurrahman An-Nahlawi, Prinsip-Prinsip dan Metoda Pendidikan Islam Dalam Keluarga, di Sekolah dan di Masyarakat , (Bandung: Diponegoro, 1989), 118.
[14] Mukhotim El Moekry, Membina Anak Beraqidah Kokoh, (Jakarta: Wahyu Press, 2004), 35
[15] EI-Harakah edisi 57, tahun XXII, Desember-Pebruari, 2002, hal. 74-75
[16] Depag RI. Al Qur’an dan Terjemahanya., 654.
[17] Ibid., 655.
[18] Ibid., 655
[19] Mukhotim El Moekry, Membina Anak., 7-9.

2 comments: