Sunday, December 30, 2012

PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MASYARAKAT SEBAGAI IMPLEMENTASI MANAJEMEN HUBUNGAN MASYARAKAT OLEH MADRASAH


PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MASYARAKAT SEBAGAI IMPLEMENTASI MANAJEMEN HUBUNGAN MASYARAKAT OLEH MADRASAH
(Studi Kasus di Madrasah Tsanawiyah/MTs Banjir Embun)



(Tulisan ini kupersembahkan untuk Madrasah-madrasah yang berada di Indonesia sebagai pedoman dalam  mengembangkan Lembaga Madrasah agar Syiar Islam memancar di tengah-tengah Masyarakat)


A.      Latar Belakang Masalah
Madrasah merupakan lembaga pendidikan yang memilki ciri khas dan kultur simbolik yang berbeda dengan lembaga pendidikan lainnya. Jika zaman dulu madrasah secara kualitas di mata masyarakat memiliki kesan yang tertinggal, terbelakang, dan kurang memiliki nilai guna pada bidang pekerjaan dan urusan dunia. Selian itu secara kuantitas madrasah dipandang sebagai wadah penampungan siswa-siswa yang tertinggal yang tidak ‘masuk’ pada sekolahan umum teruatama yang berstatus Negeri. Maka sesungguhnya di zaman sekarang ini kesan masyarakat yang seperti itu sudah mulai memudar seiring banyaknya lembaga Madrasah yang mengadakan pembenahan diri mulai dari peningkatan kualitas dan kuantitas sarana-prasarana, peningkatan kualitas guru, dan pembaruan kurikulum yang lebih aplikatif serta bernilai guna secara praktis di masyarakat.
Pembenahan diri tersebut tidak akan bisa diketahui oleh seluruh elemen masyarakat yang menjadi ‘konsumen’ pendidikan secara efektif dan efisien jika tidak ada pengelolaan manajemen hubungan masyarakat (public relations) secara tepat. Pada hakikatnya secara praktis konsep hubungan masyarakat sudah diterapkan oleh manusia sepanjang manusia telah melakukan perkumpulan (semacam organisasi) yang kemudian melibatkan atau bisa dikatakan bertumpu pada ‘bantuan’ masyarakat umum untuk mewujudkan tujuan ‘perkumpulan’ tersebut. Bantuan tersebut bisa bersifat komplementer (hanya pelengkap) atau bisa menjadi kebutuhan utama bagi perkembangan organisasi tersebut. Konsep humas yang kuno tersebut karena seiring berjalannya waktu telah berkembang serta diadopsi oleh beberapa kelompok atau institusi pada zaman berikutnya ke dalam bidang  politik (kerajaan), bisnis (perusahaan), pendidikan (sekolah), dan institusi-institusi lain yang posisinya berada atau membutuhkan masyarakat.
Betapa pentinganya humas (Hubungan Masyarakat) bagi sebuah organisasi tidak terkecuali bagi lembaga pendidikan sepeti madrasah. Dengan adanya manajemen humas yang canggih maka ‘beban’ madrasah yang begitu rumit dan membutuhkan waktu panjang bisa terbantukan oleh adanya hasil analisis informasi dari manajemen humas madrasah. Memang bisa dikatakan tanpa manajemen humaspun sebuah madrasah masih bisa tetap berdiri (eksis) dan melakukan aktivitasnya dengan lancar. Namun tanpa humas menyebabkan kinerja manajemen madrasah secara umum akan menjadi berat dan memakan waktu yang relatif lama.  Selain itu menurut Munifah humas sangat berperan penting dalam mengembangkan pendidikan madrasah secara umum yang sesuai dengan perubahan iklim pendidikan yang semakin modern. Menurut dia pentingya hubungan sekolah dengan masyarakat dapat ditinjau dari beberapa faktor, diantaranya pertama faktor perubahan sifat, tujuan, dan metode mengajar di madrasah, kedua faktor masyarakat yang menuntut adanya perubahan-perubahan dalam pendidikan di madrasah dan perlunya bantuan masyarakat terhadap madrasah, ketiga faktor perkembangan ide demokrasi pendidikan yang ada di masyarakat.[1]
Dalam mengoptimalkan potensi sumber daya masyarakat yang melimpah ruah di sekitar madrasah maka diperlukan sebuah ilmu dalam upaya pemanfaatan sumber daya masyarakat tersebut, tidak lain dan tidak bukan ilmu tersebut adalah manajemen hubungan masyarakat (public relations). Sehingga bisa dikatakan bahwa humas berperan dalam membangun dan mempertahankan hubungan yang baik dan bermanfaat antara lembaga madrasah dengan masyarakat umum (publik). Pembangunan hubungan yang baik antara madrasah dengan masyarakat sangat diperlukan karena bagaimanapun juga madrasah sangat memerlukan masyarakat untuk kemajuan dan masyarakat juga memerlukan madrasah sebagai wadah dalam upaya memajukan pendidikan masyarakat baik secara langsung maupun tidak langsung sehingga terwujudlah masyarakat madani.
Berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa kinerja guru akan lebih efektif jika pendidik mengetahui latar belakang dan pengelaman peserta didik di rumah beserta lingkungannya. Pendekatan kepada orang tua siswa juga sangat penting untuk membantu guru dalam menyelesaikan permasalahan peserta didik agar tujuan pembelajaran bisa tercapai.[2] Oleh karena itu pemanfaat manajemen humas digunakan untuk mencari informasi tentang latar belakang peserta didik beserta mengetahui cara mengadakan pendekatan dengan orang tua pesert didik. Dan karena madrasah berada di lingkungan masyarakat, dari masyarakat, dan untuk masyarakat maka segala macam program beserta kegiatan madrasah harus mendapat dukungan dari masyarakat. Sebagai upaya menjaga eksitensi madrasah maka madrasah perlu memberi informasi kepada masyarakat tentang program-program dan problem-problem yang dihadapi, agar masyarakat bisa memahami kondisi dan situasi madrasah sehingga masyarakat bisa memberikan penilaian yang objektif terhadap madrasah. Sebagai tindak lanjutnya diusahakan masyarakat meberikan umpan balik dari potensi baik yang dimiliki oleh madrasah dan kekurangan madrasah. Sehingga bisa menumbuhkan rasa simpati dan empati masyarakat terhadap keadaan madrasah, program-program madrasah, dan permasalahan yang terjadi di madrasah. Kemudian diharapkan fenomena madrasah yang diinfokan pada masyarakat dapat menggugah masyarakat untuk berpartisipasi secara aktif dalam mengembangkan madrasah.
Madrasah bisa menjadi alternatif dalam upaya mengembangkan kebudayaan, ilmu pengetahuan, dan teknologi yang sedang berkembang di masyarakat. Selayaknya maka pendidikan pelaksanaan madrasah menjadi harapan bahkan dambaan masyarakat, maka kegiatan-kegiatan yang berada dalam madrasah harus terpadu dengan masyarakatnya dan tidak boleh ada reaksi keras terhadap nilai dan norma yang sudah berakar kuat pada masyarakat walaupun itu menyalahi ajaran Islam. Karena masyarakat secara sosial (bukan secara formal) merupakan sebuah kekuatan besar yang tidak bisa dikendalikan oleh madrasah jika arus gelombang alam fikir dan fisik dilakukan secara bersamaan dengan tindakan agresi yang tak terkontrol.
Walaupun demikian sekarang ini masih ada kita dapati madrasah yang tetap nyaman dengan tatanan lama meskipun masyarakat secara umum sudah tidak berminat dan menengok sedikitpun pada madrasah tersebut. Hal ini dikarenakan madrasah tidak mempunyai kepekaan terhadap kebutuhan dan keinginan masyarakat khususnya wali murid yang mempunyai kepentingan terhadap madrasah tersebut. Kurangnya kepekaan madrasah berdampak pada tidak meningkatnya kualitas pelayanan madrasah kepada stakeholders sehingga seakan madrasah terlalu angkuh untuk berdiri, terlalu pilih-pilih dalam pelayanan fasilitas, dan daya juang serta semangat keislaman personalia lembaga pendidikan yang menurun seperti tidak adanya upaya untuk mewujudkan pencapaian tujuan pendidikan. Selain itu madrasah belum bisa menjadi solusi praktis dalam melakukan pencerahan kepada masyarakat, misalnya banyak sekali kita jumpai gedung-gedung lembaga madrasah yang berdiri kokoh disekelilingnya masih ditemui masyarakat yang Islam tapi belum mencerminkan karakter islami.
Permasalahan lain yang semakin mempertajam jurang kesenjangan antara teori manajemen humas pada madrasah di tengah-tengah realitas masyarakat adalah nampak belum bekerjanya manajemen humas secara terorganisir, sehingga menyebabkan ‘bangunan’ hubungan masyarakat dengan madrasah belum terjalin dengan kokoh. Kerapuhan ini terjadi karena minimnya kemampuan personalia madrasah dalam mempengaruhi masyarakat, padahal kemampuan personalia humas bisa dimanfaatkan dalam mengoptimalkan manajemen humas. Permasalah lain mengenai humas yang terjadi di madrasah adalah biasanya hanya kepala madrasah yang memiliki figur dan kewibaan dalam mengadakan pendekatan kepada masyarakat untuk menjalin hubungan kerja sama antara masyarakat dengan madrasah. Oleh karena itu berdasarkan pemaparan di atas maka penulis akan merumuskan masalah dalam makalah ini agar pembahasannya lebih fokus dan bernilai guna secara praktis diantaranya adalah sebagai berikut:
1.      Apa perbedaan hubungan masyarakat (humas) dengan sumber daya masyarakat (sumdamas)?
2.      Bagaimana pengembangan manajemen hubungan masyarakat oleh madrasah?
3.      Bagaimana implementasi manajemen hubungan masyarakat di MTs Banjir Embun?



B.       Kajian Teoritis
1.      Perbedaan Hubungan Masyarakat dengan Sumber Daya Masyarakat
Menurut penulis yang dimaksud dengan sumber daya adalah sebuah kekuatan, potensi, atau energi yang bisa dimanfaatkan untuk mencapai tujuan. Sedangkan masyarakat merupakan sekumpulan manusia yang saling berinteraksi secara formal maupun secara luwes satu sama lain, yang mana dalam interaksi (komunikasi) tersebut adalah untuk mencapai tujuan tertentu. Salah satu interaksi yang baik adalah apabila kedua belah pelaku interaksi memiliki satu tujuan. Jika tidak memiliki satu tujuan yang utuh maka harus diadakan lobi atau perundingan kembali. Inilah manfaat manajeman humas digunakan untuk mempengaruhi masyarakat mendukung upaya mencapai kemajuan dan perkembangan madrasah.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa Sumber Daya Masyarakat (Sumdamas) adalah potensi yang dimiliki masyakarat untuk mencapai tujuan tertentu. Sumdamas hampir sama dengan Manajeman Hubungan Masyarakat, dengan asumsi keduanya sama-sama menggunakan potensi masyarakat untuk mencapai tujuan tertentu. Masih menurut penulis, keduanya juga memiliki fungsi, esensi, dan konten yang sama, dengan kata lain kedua istilah tersebut  hanya memiliki perbedaan istilah saja yang mana istilah Sumber Daya Masyarakat lebih terkesan modern dan pragmatis. Di sisi lain istilah Hubungan Masyarakat memiliki kesan manusiawi dan ada unsur kerja samanya. Namun juga ada perbedaan yang mendasar dari kedua istilah tersebut yaitu bahwa manajemen humas adalah alat yang lebih bersifat aktif untuk mengoptimalkan dan menggerakkan Sumdamas. Sedangkan Sumdamas lebih cenderung pasif sebagi sebuah objek yang digunakan untuk mencapai tujuan. Sehingga sumdamas akan bisa bermanfaat dengan optimal jika manajemen humas bisa berjalan dengan baik.
Humas merupakan ‘mesin’ lembaga madrasah dalam upaya menjaga eksistensi peran madrasah di mata masyarakat, sehingga dalam manajemen kehumasan perlu adanya pemantapan fungsi manejemen secara matang agar fungsi humas bisa berjalan sesuai tujuan. Salah satu tujuannya adalah untuk menjaga brand image/ciri khas  madrasah di dalam masyarakat yang menjadi ‘nilai jual’ madrasah. Oleh karena itu sesungguhnya humas memerlukan gabungan beberapa elemen ilmu menejemen publik, manejemen konflik, manajemen komunikasi, manajemen psikologi, manajemen politik, manajemen budaya, dan manajemen sosial. Walaupun kadang kala setiap lembaga madrasah memiliki titik tekan tertentu karena melihat kondisi madrasah serta kondisi masyarakat maka satu sama lain antar lembaga madrasah berbeda dalam memusatkan bidang tertentu tersebut.
Sedangkan sumdamas merupakan sasaran bagi madrasah dalam upaya menjaga eksistensi peran madrasah di masyarakat. Pemanfaatan sumber daya masyarakat bisa dilakukan dengan berbagai cara yang salah satunya adalah melakukan bentuk kerja sama (walaupun tidak  formal) misalnya ekstrakurikuler rebana ditampilkan pada acara pengajian atau acara peringatan hari besar tertentu di tengah-tengah masyarakat umum. Bentuk kerja sama tersebut adalah bentuk pemanfaatan sumdamas yang terwujud dalam bentuk ‘kepanitiaan’ atau orang yang mempunyai pengaruh dan wewenang dalam kegiatan tersebut. Dengan kata lain kepanitiaan sebuah kegiatan merupakan salah satu sumdamas yang harus dimanfaatkan oleh madrasah untuk digunakan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan madrasah dalam mengadakan kerjasama dengan panitia tersebut.



2.      Tinjauan tentang Manajemen Hubungan Masyarakat
a.      Pengertian Manajemen Humas Madrasah
Menurut penulis manajemen humas di Madrasah merupakan seni mempengaruhi (bukan tipu muslihat) masyarakat secara umum dan menggali informasi sebagai bentuk konkrit madrasah sebagai upaya pelibatan peran masyarakat dan orang tua murid dalam mengelola lingkungan madrasah. Menurut Mulyono dalam konteks Islam istilah humas jarang terpakai baik dalam bahasa tulisan maupun lisan. Namun sebenarnya ada dua kata yang memiliki makna yang sepadan dengan humas yaitu habl yang artinya tali atau hubungan dan silaturahmi yang artinya menyambung persaudaraan. Dalam kazhanah Islam kerja sama antar individu atau kelompok (lembaga) dapat membentuk ukhuwah Islamiyah (QS Al-Hujarat [49]: 10 dan Al-Anfal [8]: 1) yang dapat terwujud ke dalam langkah-langkah sebagai berikut; ta’aruf, tafahum, ta’awun (saling menolong), tafakul (saling mananggung dengan bentuk hati Sali menyatu dan saling percaya.)[3] Sedangkan Fungsi manajeman humas Madrasah meliputi fungsi manajemen secara umum diantaranya; perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, pengkoordinasian, pengarahan, dan pengawasan.[4]





b.      Manfaat Hubungan Madrasah dengan Masyarakat
Secara umum peranan serta manfaat humas bagi madrasah dan juga bagi masyarakat antara lain sebagaimana pemaparan tabel berikut ini[5];
Manfaat hubungan Madrasah dengan Masyarakat
Bagi Madrasah
Bagi Masyarakat
1.    Menjadi lebih mawas diri,hati-hati, dan tidak gegabah
Mengetahui aktivitas sekolah beserta program-programnya
2.    Memudahkan dalam perbaikan pengelolaan mardrasah
Kebutuhan masyarakat terhadap keberadaan madrasah bisa lebih mudah terwujud.
3.    Mengurahi kesalah pahaman (error) masyarakat tentang madrasah
Mendapatkan nilai guna dengan adanya inovasi dan kreativitas madrasah
4.    Memberikan masukan dan kritikan bagi madrasah
Memberikan harapan yang lebih baik bagi masa depan siswa
5.    Memudahkan dalam meminta bantuan serta dukungan dari masyarakat
Menyalurkan dukungan spiritual, moral, dan kemanusiaan dari masyarakat
6.    Memudahkan menggunakan laboratorium masyarakat
Mendorong terciptanya masyarakat universal yang rahmatalil alamin
7.    Memudahkan pendataan nara sumber

                                                                                                      

c.       Strategi Humas Madrasah
Dalam menerapkan humas perlu adanya penguasaan ilmu komunikasi, bagaimana menghadapi masyarakat baik secara individu maupun kelompok. Komunikasi yang baik adalah komunikasi yang efektif, walupun sanga sulit diterapkan karena dalam komunikasi perlu membangun dan menyamakan presepsi, selain itu juga adanya perbedaan latar belakang dan proses berpikir setiap individu yang berbeda satu sama lain. Dalam berkomunikasi pada hakikatnya memerlukan beberapa komponen diantaranya sender (komunikator), recivier (komunikan), messege (informasi), dan channel (media).
Hubungan masyarakat merupakan sebuah ujung tombak dari terkenal tidaknya sebuah madrasah di kalangan khalayak ramai, Oleh karena itu perlu adanya sebuah strategi yang tepat dan cerdas agar peran humas dapat berjalan optimal untuk kemajuan madrasah dan masyarakat. Menurut Munifah bahwa konsep dasar humas adalah dititik tekankan pada faktor-faktor kepentingan bersama antara madrasah (internal) dengan masyarakat (eskternal) sehingga kegiatannya ditujukan kepada public intern  (personalia lembaga beserta siswa) dan public ekstern (orang di luar organisasi). Karena mengingat bahwa organisasi lembaga madrasah merupakan sistem organisasi terbuka yang berarti selalu mengadakan kontak hubungan secara langsung dengan lingkungan.[6] Kontak ini harus dijaga dengan baik agar madrasah tidak terbebani oleh stigma negatif masaryarakat. Menurut penulis ada beberapa strategi yang perlu diperhatikan dalam menerapkan manajemen humas diantarnya adalah:

1.    Mengetahui landasan hukum dan perundang-undang negara indonesia terutama yag berkenaan dengan pendidikan (kalau perlu adanya konsultan hukum).
2.    Melakukan indoktrinasi atau menanamkan nilai-nilai madrasah secara simultan kepada setiap individu di internal dan masyarakat bahwa nilai-nilai Islam yang diemban oleh madrasah bisa bermanfaat bagi masa depan.
3.    Memahami seni merayu masa, baik secara individu maupun kelompok.
4.    Mempergunakan elemen komunikasi yang telah teruji dan disukai oleh publik (jika perlu).
5.    Humas harus memahami segala sesuatu yang ada di dalam madrasah  dan fenomena apa yang sedang terjadi di masyarakat dengan baik dan benar. Serta humas juga tahu informasi apa saja yang tidak harus dipublikasikan ke dalam masyarakat atau bahkan kepada beberapa kalangan internal organisasi madrasah sendiri.

d.      Pendekatan dan Teknik Pelibatan Masyarakat dalam Humas Madrasah
Menurut Ibrahim Bafadal yang dikutip oleh Sri Minarti ada empat pendekatan yang dapat dilakukan dalam kegiatan humas antara madrasah dengan masyarakat sekitarnya yaitu komunikasi, peragaan ketrampilan serta produk karya peserta didik, pelibatan masyarakat, dan pengguanaan fasilitas madrasah oleh masyarakat. Sebelum mengimplementasikan program-program humas maka terlebih dahulu melakukan perencanaan mengenai langkah konkrit. Yang mana perencanaan tersebut didasarkan pada penilaian kebutuhan dan analisis kondisi madrasah. Secara sistematis proses tersebut tergambar pada tabel berikut ini[7]:

Kemudian dalam ranah operasional dari pendekatan humas tersebut maka lahir beberapa teknik humas yang dilakukan oleh pihak madrasah. Menurut Don Begin yang dikutip oleh Sri Minarti humas dapat dibedakan menjadi dua kegiatan yaitu humas luar (external public raltions) misalnya kunjungan ke rumah peserta didik, mengundang orang tua siswa, serta pembentukan forum pembantu madrasah dan humas ke dalam (internal public raltions) meliputi memberi penjelasan kebijakan penyelenggaraan sekolah meliputi situasi beserta perkembangannya, menampung saran dan pendapat dari warga madrasah, dan memelihara hubungan yang harmonis dan terciptanya suasana yang kerja sama di lingkungan madrasah. Dengan asumsi bahwa di madrasah ada  pemberian informasi ke luar dan ke internal.[8]



e.       Prinsip Pengembangan Manajemen Humas Madrasah
Beberapa prinsip yang harus diperhatikan dalam rangka mengembangkan humas di madrasah agar program humas bisa bermanfaat secara luas dan tetap berlandaskan pada nilai-nilai Islam diantaranya adalah keterpaduan antar komponen madrasah dengan komponen masyarakat, berkesinambangunan (tidak pragmatis dan transaksional), menyeleruh (menyajikan fakta-fakta dari seluruh aspek, pembelajaran siswa dalam bidang agama dan dunia), sederhana (pesan yang disampaikan mudah dipengerti), konstruktif (pesan berdampak positif/membangun bagi masyarakat), kesesuaian dengan kondisi masyarakat, dan fleksibel (mampu merubah program teknis jika diperlukan masyarakat). Untuk lebih mendalamnya pengembangan humas bagi madrasah harus dilandasi nilai-nilai islam, maka pada lembaga madrasah harus memberhatikan prinsip-prinsip dan kaidah-kaidah sebagai berikut:
1.    Prinsip kemanfaatan; memiliki nilai manfaat (ilmu pengetahuan) bukan hanya propaganda.
2.    Prinsip kejujuran; informasi yang dipublikasikan harus berdasarkan fakta yang menyeluruh (bukan separuh-separuh) tidak memihak salah satu golongan.
3.    Prinsip kehalalan/keridhaan;  infromasi yang disampaikan tidak ada unsur memaksa dan merugikan bagi salah satu pihak.
4.    Berkesan/berbekas; informasi yang bisa memberikan inspirasi, menimbulkan kesadaran untuk bergerak.
5.    Menyenangkan; bahasa komunikasi yang tidak menimbulkan kecemasan dan ketidak nyamanan.
6.    Prinsip pengulangan; agar pesan yang hendak disampaikan benar-benar tertanam pada si penerima.
7.    Meyakinkan, kuat, dan mantap; agar komunikan bisa merasa tergugah emosinya.
8.    Berkelompok dan bekerjasama; pesan yang hendak disampaikan benar-benar bisa terorganisir dan termanajemen.[9]


f.       Unsur-unsur Humas
Dalam melaksanakan manajemen humas, menurut George R. Terry, seorang praktisi humas mengemukakan bahwa dalam mengimplimentasikan humas perlu melihat unsur-unsurnya yaitu sebebagi berikut:

1.      Men and women; keterlibatan manusia sebagai unsur utama humas.
2.      Materials; peralatan atau barang.
3.      Machines; sarana pendukung.
4.      Methods; cara atau metode yang digunakan dalam mengimplementasikan humas.
5.      Money; anggaran atau alokasi dana untuk melaksanakan program humas.
6.      Market; sasaran atau masyarakat yang ingin dijadikan mitra dalam humas.[10]

3.      Pengembangan Manajemen Hubungan Masyarakat oleh Madrasah
Pentingnya dalam mengembangkan manajemen humas madrasah dilakukan bisa untuk mencegah terjadinya tindakan-tindakan merugikan bagi madrasah yang dilakukan oleh masyarakat misalnya mencegah wali murid untuk main hakim sendiri ketika menemui permasalahan serius, mencegah wali murid atau siswa melaporkan kepada pihak ketiga (polisi) ketika ditemui permasalahan serius, mencegah terjadinya gangguan secara sengaja maupun tidak disengaja yang dilakukan oleh oknum atau kelompok secara langsung maupun tidak langsung, dan secara umum bisa sebagai antisipasi ketika terjadi ketidak berhasilan madrasah dalam mewujudkan tujuan institusional.
Pengembangan manajemen hubungan Masyarakat oleh Madrasah dilakukan sebagai langkah antisipasi dari perkembangan yang terjadi di madrasah, sehingga aa yang diinginkan madrasah tidak mengalami ketertinggalan atau ada jarak dengan masyarakat. Apabila ditinjau dari kepentingan bersama antara madrasah dan masyarakat, maka pengembangan manajemen hubungan sekolah dengan masyarakat bertujuan untuk:
1.    Mengkampanyekan pentingnya madrasah dan pendidikan secara umum kepada masyarakat (bermanfaat bagi madrasah dan masyarakat).
2.    Saling memperoleh keuntungan bersama; baik yang berbentuk (materi) maupun yang berupa konsep (moral) sehingga terbentuk masyarakat madani.
3.    Saling Memberikan informasi yaitu yang segala fenomena maupun program yang ada di madrasah dan masyarakat.
4.    Memperdalam program madrasah dan menata struktur masyarakat sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan.
5.    Masyarakat juga memiliki andil untuk mendidik siswa di lingkungan masyarakat pasca melakakun pembelajaran di madrasah dan madrasah memiliki tanggung jawab moral yang dikontrol masyarakat pasca pendidikan di madrasah.

C.      Implementasi Manajemen Hubungan Masyarakat di Banjir Embun
Madrasah Tsanawiyah Banjir Embun merupakan madrasah yang baru berdiri pada tahun 2010 dan merupakan Madrasah pertama setingkat SMP yang berada dekat dengan lereng Gunung Banbun. Penulis telah menjadi guru di madrasah tersebut mulai berdiri hingga sekarang. Pada awalnya penulis selama dua tahun masuk setiap hari ke Madrasah namun karena adanya kendala lain terutama masalah kuliah akhirnya penulis memutuskan untuk menjadual ulang datang ke MTs hanya pada hari Senin dan Selasa. Suasana masyarakat sekitar MTs didominasi oleh kultur budaya yang masih dalam tahap imitasi (tahap peniruan dan pencarian jati diri) misalnya banyak sekali para mantan TKI dan TKW yang berpakaian terbuka menirukan budaya-budaya baru yang sebenarnya tidak cocok dengan suhu lereng Kelud yang dingin. Namun demikian masih ada beberapa kalangan masyarakat yang masih peduli dengan dunia pendidikan dan peduli perkembangan syiar Islam. Oleh karena itu didirikanlah MTs Banjir Embun sebagai fasilitas dan insturmen dalam melakukan syiar Islam oleh tokoh-tokoh Agama dan masyarakat yang peduli pendidikan.
Kondisi siswa MTs Banjir Embun sangat beragam, keberagaman tersebut mulai dari aspek latar belakang ekonomi keluarga, pekerjaan orang tua (tukang, petani, TKI, burung tani, dan pedagang), perbedaan perkembangan kognitif, faktor perbedaan usia, orientasi berangkat sekolah[11],  perbedaan kemampuan beragama, dan perbedaan latar belakang sekolah. Jumlah siswa pada awal berdirinya hanya berjumlah 11 orang (sekarang siwsa kelas 9) namun kemudian karena banyak peminatnya pada tahun pertama jumlahnya menjadi 14 orang dan sekarang ini berjumlah 16 orang. Pada tahun ke dua (angkatan ke dua) jumlah siswa menjadi 35 orang, dan ada tahun ketiga menjadi 39 siswa. Walaupun jumlahnya tidak tetap (konstan) karena banyak yang keluar dan masuk namun bisa dikatakan jumlahnya sangat stabil hingga sekarang. Oleh karena berdasarkan data tersebut dapat diakakatan mengelola dan mengajar MTs Banjir Embun bisa dikatakan sangat rumit dan berat.
Jika ditinjau dari manajemen kehumasannya maka sesungguhnya MTs Banjir Embun sebagai MTs baru belum memiliki organisasi kehumasan yang mapan. Hal ini disebabkan karena beberapa dari enam unsur kehumasan belum terpenuhi secara sempurna yaitu minimnya SDM yang menguasai bidang kehumasan secara praktis dan teoritis, minimnya pendaan, dan belum tersusunya program-program kehumasan secara luas serta mendalam. Berdasarkan fenomena tersebut serta untuk lebih fokus pembahasannya maka penulis akan memaparkan beberapa implementasi humas yang telah dilakukan oleh MTs Banjir Embun adalah sebagai berikut:
   1.      Implementasi humas masih difokuskan pada kepala madrasah terutama pendekatan secara formal baik kepada wali murid maupun kepada komite beserta tokoh masyarakat.
   2.      Implementasi humas secara holistik, terbuka, dan alami dilakukan dengan cara pendakatan pribadi oleh guru-guru MTs melalui kegiatan kemasyarakat seperti mengikuti kegiatan sholawatan, kunjungan siswa jika ada siswa yang sakit atau keluarga meninggal dunia, dan pemanggilan wali murid jika diperlukan jika siswa melakukan pelanggara atau wali murid datang sendiri ke MTs walaupun tidak dipanggil oleh pihak madrasah.
    3.      Implementasi humas dalam bidang pencarian inforamasi latar belakang siswa dilakukan secara acak oleh setiap guru yang mempunyai jaringan di Sekolah siswa terdahulu baik dari MI maupun SD atau jaringan kepada wali murid.
    4.      Implementasi humas masih didominasi ‘mengundang’ masyarakat belum terjun ke masyarakat. Misalnya undangan buka bersama, undangan mengambil zakat oleh masyarakat miskin, undangan kerja bakti membangun madrasah, dan undangan wali murid saat pengambilan raport serta adanya penjaringan aspirasi.
    5.      Implementasi humas belum berjalan terorganisir dengan indikasi belum adanya personalia humas yang ditunjuk oleh sekolah, walaupun sudah ada program-program humas dan jaringan kerjasama dengan lembaga pendidikan lain.
    6.      Implemetnasi humas belum menyentuh ranah afektif  dan antisipatif hanya masih dalam aspek formalitas dan merespon atau mereaksi terhadap fenomena yang ada. Misalnya tetangga yang berada di sebelah utara MTs masih merasa terganggu dengan keramaian yang dibuat oleh siswa-siswinya serta belum ada kepekaan guru terhadap adanya wali murid di depan pintu gerbang yang menjemput siswa-siswi, dengan asumsi wali murid bisa melihat kondisi dalam kelas serta gurupun dapan melihat keberadaan wali murid di luar pagar sekolah karena pagar sekolah tidak tinggi sehingga sangat terbuka.
Kendala-kendala terdahulu dan sekarang ini yang dimiliki oleh MTs BE dalam bidang kehumasan meliputi:
   1.      Belum ada kesadaran masyarakat sekitar MTs BE untuk mendukung program-progarm MTs secara moral, karena saat istirahat banyak sekali siswa-siswi yang keluar dari lingkungan madrasah (tidak ada pintu gerbang dan kondisi MTs bisa terlihat jelas melalu jalan raya).
   2.      MTs disangka lebih condong pada golongan Islam minoritas, padahal sebagian besar pengurus yayasan beserta komite merupakan punggawa NU di masyarakat.
   3.      Cetak biru bahwa MTs merupakan lembaga pendidikan pilihan kedua dibuktikan dengan banyaknya pendaftar siswa baru yang pada awalnya memilih MTs kemudian pindah ke SMP dan banyaknya siswa pindahan dari lembaga lain yang masuk serta ditampung oleh pihak MTs BE.
     4.      Isu sensitif tentang perekonomian dan gender yang merebak dikalangan siswa sehingga menjalur ke orang tua masing-masing karena siswa mengadu ke orang tua masing-masing ketika saling berolok-olok di madrasah.
     5.      Adanya kantin ‘liar’ yang berada di sekitar lingkungan luar madrasah padahal diharapkan kantinnya hanya satu yaitu orang yang telah mewakafkan tanahnya untuk MTs BE. Orang yang mewakafkan yayasan berada dalam satu petak bahkan satu pagar di samping MTs.
 
D.      Alternatif Pengembangan Humas oleh MTs Banjir Embun
Alternatif pengembangan yang harus segera dibuat sebagai bentuk antisipasi kegagalan kehumasan sehingga bisa merugikan pihak MTs BE adalah sebagai berikut:
     1.      Mengontrol siswa ketika menggunakan jejaring sosial facebook dengan cara membuat wadah khusus bagi siswa beserta masyarakat yang ingin memberikan sumbangan moral dan masukan bagi MTs. Karena di wilayah sekitar MTs jejaring sosial FB masih menjadi trend yang hangat bagi siswa dan masyarakat yang sadar teknologi.
       2.      Memperbarui blog MTs Banjir Embun dengan cara memposting karya-karya siswa atau foto-foto siswa.
     3.      Membuat papan pengumungan yang besar dan terbuka untuk umum sebagai sarana penghubung madrasah dengan masyarakat.
     4.      Membuat buletin atau semacam selebaran sebagai sarana promosi ke masyarakat tentang karya tulis siswa dan berbagai foto kegiatan Madrasah.
    5.      Kepala Madrasah sebagai figur utama di Madrasah mengadakan pendekatan dari hati ke hati dengan masyarakat sekitar dan guru-guru diajak bersilaturhim ke tetangga MTs bersama-sama atas nama lembaga saat hari raya.
   6.      Mengadakan kerjasama atau lebih tepatnya melibatkan pihak koramil atau polsek dalam membina kedisiplinan murid-murid melalui kegiatan baris-berbaris, perkemahan, dan kegiatan out bond.

E.       Analisis SWOT
Sudah menjadi rumus bahwa sebelum melangkah atau melaksanakan pengembangan program atau bahkan ketika akan membuat program terlebih dahulu harus membuat analisis SWOT. Pada intinya analisa SWOT ditujukan pada internal yaitu Stengths (Potensi/kekuatan) serta Weaknesses (kelemahan diri) dan eksternal yaitu Opportunities (peluang) serta Threats (ancaman/kendala). Lebih spesifik analisa SWOT dalam mengembangkan manajemen humas di MTs Banjir Embun adalah sebagai berikut:
1.    Kekuatan, potensi, dan kelebihan yang dimiliki MTs BE; memiliki figur kepala madrasah yang sudah menyukseskan MI Banjir Embun menjadi lebih maju dan figur sebagai mantu salah satu orang terkaya di desa Manggis yang bertindak sebagai wakil ketua Yayasan Banjir Embun, memiliki potensi SDM yang masih berumur muda, memiliki jumlah siswa yang semakin tahun terus meningkat, memiliki sarana peralatan Drum Band, memiliki siswa yang berprestasi lomba-lomba saat di SD, memiliki siswa yang mempunyai semangat pengembangan diri di luar aspek akademis, dan MTs Banjir Embun memiliki guru yang ahli di bidang masing-masing seperti sosial, ketrampilan pramuka, ketrampilan rebana, qiroah, motivasi, dan keras dalam mendidik.
2.    Kelemahan dan kekurangan yang dimiliki oleh MTs BE; belum adanya personalia yang diberi tanggung jawab secara khusus mengenai humas semuanya masih dipegang penuh oleh kepala madrasah, minimnya pendaan karena hampir seluruh pendaan masih difokuskan kepada pembangunan gedung beserta kebutuhan honor guru maupun bantuan kebutuhan siswa, dan minimnya kekompakan antar guru maupun kekompakan siswa dalam bekerja sama.
3.    Peluang dan harapan yang dimiliki oleh MTs BE; memiliki dukungan secara lisan dari kepolisian dalam meluruskan perilaku siswa-siswinya, memiliki MI Banjir Embun sebagai partner ketika terjun ke masyarakat, memiliki dukungan moral beserta dana dari masyarakat yang peduli dengan pendidikan dan agama terutama dari pihak yayasan dan perangkat desa, dan kesadaran masyarakat akan pendidikan agama karena melihat fenomena yang makin marak di masyarakat sekitar banyaknya siswa serta perempuan umum hamil di luar nikah serta perilaku siswa yang tak terkontrol seperti tak mengormati orang tua.
4.    Anacaman, hambatan, dan kendala yang dimiliki oleh MTs BE; adanya SMP Negeri yang berada di Utara MTs DH berjarah kurang lebih 100 Meter karena akan terjadi perebutan opini positif di tengah-tengah masyarakat, wali murid beserta masyarakat secara umum rata-rata tidak bisa membaca, dan UPTD diknas Kecamatan Banjir belum ‘mengakui’ keberadaan MTs dengan indikasi belum melibatkan ekstra kurikuler MTs saat ada acara peringatan hari Besar dan belum menerbitkan NPSN. 

F.       Kesimpulan dan Peta Konsep




DAFTAR RUJUKAN


 “Manajemen Humas,” dalam http://id.wikipedia.org/wiki/Manajemen_humas, diakses tanggal 26 Desember 2012.

Minarti, Sri. Manajemen Sekolah: Mengelola Lembaga Pendidikan Secara Mandiri. Yogyakarta: Ar-ruzz Media, 2011.

Mulyono, Manajemen Administrasi & Organisasi Pendidikan. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2009.

Munifah, Manajemen Pendidikan dan Implementasinya. Kediri: STAIN Kediri, 2009.

Nasution, Zulkarnain. Manajemen Humas di Lembaga Pendidikan. Malang: UMM, 2010.








[1]Munifah, Manajemen Pendidikan dan Implementasinya (Kediri: STAIN Kediri, 2009), 157.
[2]Sri Minarti, Manajemen Sekolah: Mengelola Lembaga Pendidikan Secara Mandiri (Yogyakarta: Ar-ruzz Media, 2011), 291.
[3]Mulyono, Manajemen Administrasi & Organisasi Pendidikan, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2009), 206-207.
[4]Zulkarnain Nasution, Manajemen Humas di Lembaga Pendidikan (Malang: UMM, 2010), 11.
[5]Minarti, Manajemen Sekolah: Mengelola, 284.
[6]Munifah, Manajemen Pendidikan dan, 157-158.
[7]Minarti, Manajemen Sekolah: Mengelola, 293-194.
[8]Ibid., 295-300.
[9]Mulyono, Manajemen Administrasi & Organisasi, 214-218.
[10]“Manajemen Humas,” dalam http://id.wikipedia.org/wiki/Manajemen_humas, diakses tanggal 26 Desember 2012.
[11]Karena sekolah tersebut memberikan fasilitas gratis dan pemberian gratis seragam lengkap dan buku LKS sehingga banyak sekali siwa dari kalangan menengan ke bawah ingin bersekolah di madrasah tersebut. Orientasi mereka datang ke sekolah dapat dibedakan ke dalam; pertama ingin terbebas dari kekangan orang tua dan terbebas dari pekerjaan rumah yang dibebankan, Kedua faktor gengsi karena teman sebayanya sudah banyak yang mulai bersekolah, karena tidak memiliki kemampuan biaya maka dipilihlah MTs Banjir Embun untuk dijadikan tempat sekolah, ketiga karena paksaan orang tua untuk menuntut pendidikan yang berafiliasi pada pendidikan dan pembinaan agama Islam agar tidak terpengaruh dengan siswa-siswa umum yang lebih cenderung tak bermoral, dan yang keempat karena siswa ingin diajak berkarya wisata ke berbagai wilayah Kabupaten Embun naik bis bersama-sama secara gratis sesuai seperti kakak kelasnya terdahulu. Sebagian besar kondisi siswa bisa dikatakan belum pernah pergi dengan jarak jauh, sehingga bila diajak berkarya wisata di kota dan kabupaten Embun yang berada di belahan lain jauh dari Kecamatan Banjir sudah senang.

No comments:

Post a Comment