Pengembangan Pendidikan Agama Islam: Reinterpretasi Berbasis Interdisipliner

Jumat, 04 Januari 2013

FILSAFAT PENDIDIKAN ESSENSIALISME

FILSAFAT PENDIDIKAN ESSENSIALISME


Oleh: Luthfi Damayanti
( Mahasiswa Program Pascasarjana STAIN Kediri Angkatan II)

BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Secara sederhana filsafat dapat dijelaskan sebagai proses pemikiran dan perenungan, namun ternyata filsafat memiliki makna dan pengertian yang jauh lebih dalam. Filsafat adalah pandangan hidup seseorang atau sekelompok orang yang merupakan konsep dasar mcngenai kehidupan yang dicita-citakan. Filsafat juga diartikan sebagai suatu sikap seseorang yang sadar dan dewasa dalam memikirkan segala sesuatu secara mendalam dan ingin melihat dari segi yang luas dan menyeluruh dengan segala hubungan.  
Kata filsafat berasal dari bahasa yunani yaitu Philosophia yang terdiri dari kata philos yang berarti cinta dan Sophia yang berarti kebijaksanaan, kearifan atau pengetahuan. Jadi, filsafat berarti cinta pada kebijaksanaan atau cinta pada pengetahuan. Ada juga yang menyatakan bahwa filsafat berasal dari bahasa arab, falsafah yang berarti hikmah.[1]
Pengertian dari segi bahasa ini belum cukup menjelaskan tentang filsafat. Berfilsafat adalah berusaha menemukan kebenaran tentang segala sesuatu dengan mengunakan pemikiran secara serius. Filsafat adalah pencarian kebenaran melalui alur berfikir yang sistematis, artinya perbincangan mengenai segala sesuatunya dilakukan secara teratur mengikuti sistem yang berlaku sehingga tahapan-tahapannya mudah diikuti dan tidak meloncat-loncat.[2] 
Pendidikan adalah upaya mengembangkan potensi-potensi manusiawi peserta didik baik potensi fisik, potensi cipta, rasa, maupun karsanya, agar potensi itu menjadi nyata dan dapat berfungsi dalam perjalanan hidupnya. Filsafat pendidikan adalah filsafat yang digunakan dalam studi mengenai masalah-masalah pendidikan. Filsafat pendidikan merupakan terapan dari filsafat umum, maka salama membahas filsafat pendidikan akan berangkat dari filsafat umum. Dalam arti bahwa filsafat pendidikan pada dasarnya menggunakan cara kerja filsafat umum dan akan menggunakan hasil-hasil dari filsafat, yaitu berupa hasil pemikiran manusia tentang realitas, pengetahuan, dan nilai.
Dunia pendidikan berkembang seiring kemajuan zaman yang tidak terbantahkan lagi. Keadaan ini menimbulkan banyak permasalahan yang perlu dipecahkan. Oleh karena itu, muncullah filsafat pendidikan. Menurut E. J. Power dalam bukunya Phylosophi of  Education (1982) sebagaimana dikutip kembali oleh Nur Wati bahwa, filsafat pendidikan bertujuan memberikan inspirasi bagaimana mengorganisasikan proses pembelajaran  yang ideal.[3]
Filsafat dan pendidikan dengan demikian sangat berkaitan. Keduanya tidak dapat dipisahkan, hal ini juga disebabkan karena kehadiran filsafat memang lebih dahulu hadir dari ilmu pengetahuan. Filsafat adalah ibu dari ilmu pengetahuan itu sendiri. Hal-hal penting yang dilakukan oleh filsafat pendidikan adalah :
1.  Memberikan inspirasi, yakni menyatakan/mengemukakan tujuan pendidikan Negara bagi masyarakat. Di Indonesia, tujuan pendidikan nasional tercantum dalam Undang-Undang Nomor 2 tahun 1989 tentang Sisten Pendidikan Nasional.
2.    Melaksanakan analisis, yaitu menemukan dan menginterpretasikan dalam kegiatan pembahasan teori pendidikan ataupun praktik pendidikan.
3.    Memberikan pengarahan, artinya memberikan arah yang jelas dan tepat untuk melaksanakan praktik pendidikan sebagai implementasi dari perencanaan.
4.    Melaksanakan penyelidikan dan mengajukan pertanyaan. Dalam hal ini filsafat pendidikan menanyakan kebijakan pendidikan dan praktik di lapangan dengan tujuan memberikan kritik, persetujuan atau kalau perlu mengadakan perubahan/modifikasi.[4]

Filsafat pendidikan memiliki banyak sekali aliran, Dalam filsafat terdapat berbagai mazhab atau aliran-aliran seperti materialisme, idealisme, realisme, pragmatisme, dan lain-lain. Karena filsafat pendidikan merupakan terapan dari filsafat, sedangkan filsafat beraneka ragam alirannya, maka dalam filsafat pendidikan akan temukan berbagai aliran. Dalam makalah ini, penulis ingin membahas permasalahan filsafat pendidikan essensialisme.
B.  Rumusan Masalah
-          Bagaimanakah teori filsafat pendidikan essensialisme?
-          Siapa saja tokoh essensialisme?
-          Bagaimana implikasi logis dari filsafat pendidikan essensialisme?
C.  Tujuan Pembahasan
-          Untuk mengetahui teori filsafat pendidikan essensialisme
-          Untuk mengetahui tokoh essensialisme
-          Untuk mengetahui implikasi logis dari filsafat pendidikan essensialisme



BAB II
PEMBAHASAN
A.  Teori Filsafat Pendidikan Essensialisme
1.      Filsafat Essensialisme
Teori filsafat essensialisme di dasarkan kepada nilai-nilai kebudayaan yang telah ada sejak awal peradaban umat manusia. Essensialisme muncul pada zaman Renaissance dengan ciri-ciri utama yang berbeda dengan progresivisme. Idealisme dan realisme adalah aliran filsafat yang membentuk corak essensialisme. Dua aliran ini bertemu sebagai pendukung essensialisme, akan tetapi tidak lebur menjadi satu dan tidak melepaskan sifatnya yang utama pada dirinya masing-masing.[5]
Renaissance adalah pangkal sejarah timbulnya essensialisme karena timbul pada zaman itu. Essensialisme adalah konsep meletakkan sebagian ciri alam pikir modern. Essensialisme pertama-tama muncul dan merupakan reaksi terhadap simbolisme mutlak dan dogmatis abad pertengahan. Maka, disusunlah konsep yang sistematis dan menyeluruh mengenai manusia dan alam semesta, yang memenuhi tuntutan zaman. Beberapa tokoh dalam aliran ini: william C. Bagley (1874-1946), George  Wilhelm Friedrich Hegel (1770 – 1831), Thomas Briggs, Frederick Breed dan Isac L. Kandell.
Secara ontologis essensialisme mengakui adanya realita obyektif di samping pre-determinasi, supernatural dan transendental. Semesta ini merupakan satu kesatuan yang mekanis, menurut hukum alam obyektif (Kausalitas). Manusia adalah subyek dan bagian alam semesta, serta tunduk pada hukum alam. Karena essensialisme berangkat dari dialektika antara rasionalisme dan eksistensialisme, maka ada sebuah kata kunci untuk bisa membongkar faham essensialisme. Baik rasionalisme dan eksistensialisme mengedepankan akal dalam memandang segala sesuatunya. Sehingga kebenaran atau pengetahuan terlahir dari proses penelaahan akal fikiran.[6]
Pandangan epistemologi essensialisme berangkat dari teori kepribadian manusia. Manusia sebagai refleksi Tuhan adalah jalan untuk mengerti epistemologi Essensialisme. Sebab, jika manusia mampu menyadari realita dirinya sebagai mikrokosmos dalam makrokosmo, maka manusia pasti mengetahui dalam tingkat/kualitas apa rasionya mampu memikirkan kesemestaan itu.[7] Dari berdasarkan kualitas itulah dia memproduksi secara tepat pengetahuannya dalam bidang-bidang: Ilmu alam, Biologi, Sosial, Estetika, dan Agama.
Pandangan ontologi dan epistemologinya amat mempengaruhi pandangan axiologi. Bagi essensialisme, nilai, seperti juga kebenaran berakar dalam dan berasal dari sumber objektif. Watak sumber ini dari mana nilai itu berasal. Teori nilai dalam essensialisme terbagi menjadi dua, idealisme dan eksistensialisme. Karena essensialisme memang dibangun dari dua akar filsafat tersebut.
a.       Menurut Idealisme
1)      Idealisme: “Menurut aliran ini bahwa hukum etika adalah kosmos, karena itu seseorang dikatakan baik hanya jika ia secara aktif berada di dalam dan melaksanakan hukum-hukum itu”.
2)       Idealisme Modern: “Idealisme lebih di ungkapkan oleh E. Kant: Bahwa manusia yang baik adalah manusia yang bermoral”.
3)       Teori Sosial Idealisme: “Disini E. Kant menekankan akan adanya rasa sosialis, kekluargaan, patriotisme, dan nasionalisme. Yang dimaksud E. Kant adalah adanya kemerdekaan individu agar bisa bersosialisasi dengan manusia lainnya.
4)       Teori Estetika: “Bahwa yang disebut nilai adalah suatu keindahan” (E. Kant).
b.      Menurut eksistensialisme
1)      Etika Determinisme: “Semua unsur semesta, termasuk manusia adalah satu kesatuan dalam satu rantai yang tak berakhir dan dalam kesatuan hukum kausalitas. Seseorang tergantung seluruhnya pada sebab-akibat kodrati itu dan yang menentukan keadaannya sekarang, baik ataupun buruk.
2)       Teori Sosial: Teori ini lebih menekankan kepada unsure ekonomi, social, politi dan Negara. Free man (Bertrand Russel). Dan lebih menekankan kepada kehidupan sekarang.
3)      Teori Estetika: Menurut paham ini bahwa keindahan itu tidak hanya sesuatu yang bagus, namun ada pula yang buruk.
Aliran filsafat essensialisme pertama kali muncul sebagai reaksi atas simbolisme mutlak dan dogmatisme abad pertengahan. Filsafat ini menginginkan agar manusia kembali kepada kebudayaan lama karena kebudayaan lama telah banyak melakukan kebaikan untuk manusia. Prinsip-prinsip essensialisme berakar pada ungkapan eksistensialisme objektif dan idealisme objektif yang moderen. Yaitu alam semesta diatur oleh hukum alam sehingga tugas manusia memahami hukum alam adalah dalam rangka penyesuaian diri dan pengelolaannya. Nilai (kebenaran bersifat korespondensi ) berhubungan antara gagasan dengan fakta secara objekjtif. Bersifat konservatif (pelestarian budaya) dengan merefleksikan humanisme klasik yang berkembang pada zaman renaissance.[8]
2.      Pandangan Essensialisme di Bidang Pendidikan

Essensialisme memandang bahwa pendidikan harus berpijak pada nilai-nilai yang memiliki kejelasan dan tahan lama yang memberikan kestabilan dan nilai-nilai terpilih yang mempunyai tata yang jelas. Faham idealisme sebagai dasar dari essensialisme, memulai tinjauannya mengenai pribadi individu dengan menitik beratkan pada aku. Menurut idealisme, bila seorang itu belajar pada taraf permulaan adalah memahami akunya sendiri, terus bergerak keluar untuk memahami dunia obyektif. Dari mikrokosmos menuju ke makrokosmos.[9]
Segala pengetahuan yang dicapai oleh manusia melalui indera memerlukan unsur apriori, yang tidak didahului oleh pengalaman lebih dahulu. Bila orang berhadapan dengan benda-benda, tidak berarti bahwa mereka itu sudah mempunyai bentuk, ruang dan ikatan waktu. Bentuk, ruang dan waktu sudah ada pada budi manusia sebelum ada pengalaman atau pengamatan. Jadi, apriori yang terarah bukanlah budi kepada benda, tetapi benda-benda itu yang terarah kepada budi. Budi membentuk, mengatur dalam ruang dan waktu.
Esessensialisme modern dalam pendidikan adalah gerakan pendidikan yang memprotes terhadap skeptisisme dan sinisme dari gerakan Progresivisme terhadap nilai-nilai yang tertanam dalam warisan budaya/sosial. Menurut Esessensialisme, nilai-nilai yang tertanam dalam warisan budaya/sosial adalah nilai-nilai kemanusiaan yang terbentuk secara berangsur-angsur dengan melalui kerja keras dan susah payah selama beratus tahun, dan di dalamnya telah teruji dalam gagasan-gagasan dan cita-cita yang telah teruji dalam perjalanan waktu.[10]
Dengan mengambil landasan pikir tersebut, belajar dapat didefinisikan sebagai jiwa yang berkembang pada sendirinya sebagai substansi spiritual. Jiwa membina dan menciptakan diri sendiri. Pandangan-pandangan realisme mencerminkan adanya dua jenis determinasi mutlak dan determinasi terbatas:
1)      Determinisme mutlak, menunjukkan bahwa belajar adalah mengalami hal-hal yang tidak dapat dihalang-halangi adanya, jadi harus ada, yang bersama-sama membentuk dunia ini. Pengenalan ini perlu diikuti oleh penyesuaian supaya dapat tercipta suasana hidup yang harmonis.
2)      Determinisme terbatas, memberikan gambaran kurangnya sifat pasif mengenai belajar. Bahwa meskipun pengenalan terhadap hal-hal yang kausatif di dunia ini berarti tidak dimungkinkan adanya penguasaan terhadap mereka, namun kemampuan akan pengawas yang diperlukan.
Pada prinsipnya, proses belajar menurut Essensialisme adalah melatih daya jiwa potensial yang sudah ada dan proses belajar sebagai proses menyerap apa yang berasal dari luar. Yaitu warisan-warisan sosial yang disusun dalam kurikulum  tradisional, dan guru berfungsi sebagai perantara.
b.      Pandangan Essensialisme Mengenai Kurikulum
 Beberapa tokoh idealisme memandang bahwa kurikulum itu hendaklah berpangkal pada landasan idiil dan organisasi yang kuat. Kurikulum itu bersendikan alas fundamen tunggal, yaitu watak manusia yang ideal dan ciri-ciri masyarakat yang ideal. Kegiatan dalam pendidikan perlu disesuaikan dan ditujukan kepada yang serba baik. Atas ketentuan ini kegiatan atau keaktifan anak didik tidak terkekang, asalkan sejalan dengan fundamen-fundamen yang telah ditentukan.
Menurut Essensialisme: “Kurikulum yang kaya, yang berurutan dan sistematis yang didasarkan pada target yang tidak dapat dikurangi sebagai suatu kesatuan pengetahuan, kecakapan- kacakapan  dan  sikap  yang  berlaku  di  dalam  kebudayaaan  yang  demokratis. Kurikulum dibuat memang sudah didasarkan pada urgensi yang ada di dalam kebudayaan tempat hidup si anak”.
c.       Peranan Sekolah menurut Essensialisme
Sekolah berfungsi sebagai pendidik warga negara supaya hidup sesuai dengan  prinsip-prinsip dan lembaga-lembaga sosial yang ada di dalam masyarakatnya serta  membina kembali tipe dan mengoperkan kebudayaan, warisan sosial, dan membina  kemampuan penyesuaian diri individu kepada masyarakatnya dengan menanamkan pengertian tentang fakta-fakta, kecakapan-kecakapan dan ilmu pengetahuan.
d.      Penilaian Kebudayaan menurut Essensialisme
Essensialisme sebagai teori pendidikan dan kebudayaan melihat kenyataan bahwa lembaga-lembaga dan praktik-praktik kebudayaan modern telah gagal dalam banyak hal untuk memenuhi harapan zaman modern. Maka untuk menyelamatkan manusia dan kebudayaannya, harus diusahakan melalui pendidikan.
e.       Teori Pendidikan
1)      Tujuan Pendidikan
         Tujuan pendidikan adalah menyampaikan warisan budaya dan sejarah melalui suatu inti pengetahuan yang telah terhimpun, yang telah bertahan sepanjang waktu dan dengan demikian adalah berharga untuk diketahui oleh semua orang. Pengetahuan ini diikuti oleh keterampilan. Keterampilan-keterampilan, sikap-sikap, dan nilai-nilai yang tepat, membentuk unsur-unsur yang inti (esensial) dari sebuah pendidikan. Pendidikan bertujuan untuk mencapai standar akademik yang tinggi, pengembangan  intelek atau kecerdasan.
2)      Metode Pendidikan
a)      Pendidikan berpusat pada guru (teacher centered). Umumnya diyakini bahwa pelajar tidak betul-betul mengetahui apa yang diinginkan, dan mereka haru dipaksa belajar. Oleh karena itu pedagogi yang bersifat lemah-lembut harus dijauhi, dan memusatkan diri pada penggunaan metode-metode tradisional yang tepat.
b)      Metode utama adalah latihan mental, misalnya melalui diskusi dan pemberian tugas; dan penguasan pengetahuan, misalnya melalui penyampaian informasi dan membaca.
3)      Kurikulum
Bogoslousky, dalam bukunya The Ideal School, mengutarakan hal-hal yang lebih jelas tentang kurikulum. Ia menegaskan supaya kurikulum dapat terhindar dari adanya pemisahan mata pelajaran yang satu dengan yang lain.[11] Kurikulum dapat diumpamakan sebagai sebuah rumah yang mempunyai empat bagian.
Keempat bagian tersebut ialah:  Universum, pengetahuan yang merupakan latar belakang dari segala manifestasi hidup manusia, diantaranya adalah adanya kekuatan-kekuatan alam, asal-usul tata surya dan lain-lainnya. Basis pengetahuan ini adalah ilmu pengetahuan alam kodrat yang diperluas. Civilization. Karya yang dihasilkan manusia sebagai akibat hidup masyarakat. Dengan sivilisasi manusia mampu mengadakan pengawasan terhadap lingkungannya, mengejar kebutuhan, hidup aman dan sejahtera. Kebudayaan. Karya manusia yang mencakup diantaranya filsafat, kesenian, kesusasteraan, agama, penafsiran dan penilaian mengenai lingkungan. Kepribadian. Bagian yang bertujuan pembentukan kepribadian dalam arti riil yang tidak bertentangan dengan kepribadian yang ideal.[12]
Tujuan umum aliran essensialisme adalah membentuk pribadi bahagia didunia dan akhirat. Isi pendidikannya mencakup ilmu pengetahuan, kesenian dan segala hal yang mampu menggerakan kehendak manusia. Kurikulum sekolah bagi essensialisme merupakan semacam miniatur  dunia yang bisa dijadikan sebagai ukuran kenyataan, kebenaran dan kegunaan. Maka dalam sejarah perkembangannya, kurikulum essensialisme menerapkan berbagai pola kurikulum, seperti pola idealisme, realisme dan sebagainya. Sehingga peranan sekolah dalam menyelenggarakan pendidikan bisa berfungsi sesuai dengan prinsip-prinsip dan kenyataan sosial yang ada dimasyarakat.
Dengan demikian ada beberapa hal penting yang menjadi perhatian essensialisme dalam merumuskan kurikulum, antara lain adalah:
1)      Kurikulum berpusat pada mata pelajaran yang mencakup mata-mata pelajaran akademik yang pokok.
2)      Kurikulum Sekolah Dasar ditekankan pada pengembangan keterampilan dasar dalam membaca, menulis, dan matematika.
3)      Kurikulum Sekolah Menengah menekankan pada perluasan dalam mata pelajaran matematika, ilmu kealaman, humaniora, serta bahasa dan sastra. Penguasaan terhadap mata-mata pelajaran tersebut dipandang sebagai suatu dasar utama bagi pendidikan umum yang diperlukan untuk dapat hidup sempurna. Studi yang ketat tentang disiplin tersebut akan dapat mengembangkan kesadaran pelajar, dan pada saat yang sama membuat mereka menyadari dunia fisik yang mengitari mereka. Penguasaan fakta dan konsep-konsep pokok dan disiplin-disiplin yang inti adalah wajib.
f.       Pelajar
Siswa adalah makhluk rasional dalam kekuasaan fakta dan keterampilan-keterampilan pokok yang siap melakukan latihan-latihan intelektif atau berpikir.[13] Sekolah bertanggungjawab atas pemberian pelajaran yang logis atau dapat dipercaya. Sekolah berkuasa untuk menuntut hasil belajar siswa.

g.      Pengajar
Peranan guru kuat dalam mempengaruhi dan mengawasi kegiatan-kegiatan di kelas. Guru berperan sebagai sebuah contoh dalam pengawalan nilai-nilai dan penguasaan pengetahuan atau gagasan-gagasan.[14] Dengan demikian guru harus benar-benar menjadi contoh yang baik dari muridnya sendiri.

B.  Tokoh-Tokoh Filsafat Pendidikan Essensialisme dan Pemikirannya
Beberapa tokoh terkemuka yang berperan dalam penyebaran aliran essensialisme dan sekaligus memberikan pola dasar pemikiran mereka adalah:
1.    Desidarius Erasmus,  humanis Belanda yang hidup pada akhir abad ke15 dan permulaan abad ke 16, adalah tokoh pertama yang menolak pandangan hidup yanag berbijak pada “dunia lain”. Ia berusaha agar kurikulum di sekolah bersifat humanistis dan bersifat internasional, sehingga dapat diikuti oleh kaum tengahan dan aristokrat.
2.      Johan Amos Comeniuc (1592-1670), tokoh Reinaissance yang pertama yang berusaha mensistematiskan proses pengajaran. Ia memiliki pandangan realis yang dogmatis, dan karena dunia ini dinamis dan bertujuan, maka tugas kewajiban pendidikan adalah membentuk anak sesuai dengan kehendak Tuhan.
3.      John Lock (1632-1704), tokoh dari inggris dan populer sebagai “pemikir dunia” mengatakan bahwa pendidikan hendaknya selalu dekat dengan situasi dan kondisi.
4.      Johan Henrich Pestalozzi (1746-1827), mempunyai kepercayaan bahwa sifat-sifat alam itu tercermin pada manusia, sehingga pada diri manusia terdapat kemampuan-kemampuan wajarnya. Selain itu ia percaya kepada hal-hal yang transendental, dan manusia mempunyai hubungan transendental langsung dengan Tuhan.
5.      Johan Frederich Frobel (1782-1852), seorang tokoh transendental pula yang corak pandangannya bersifat kosmissintetis, dan manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang merupakan bagian dari alam ini. Oleh karena itu ia tunduk dan mengikuti ketentuan dari hukum-hukum alam. Terhadap pendidikan ia memandang anak sebagai makhluk yang berekspresi kreatif, dan tugas pendidikan adalah memimpin peserta didik kearah kesadaran diri sendiri yang murni, sesuai fitrah kejadiannya.
6.      Johan Fiedrich Herbart (1776-1841), salah seorang murid Immanuel Kant yang berpandangan kritis. Ia berpendapat bahwa tujuan pendidikan adalah menyesuaikan jiwa seseorang dengan kebajikan dari Yang Mutlak, berarti penyesuaian dengan hukum-hukum kesusilaan, dan ini pula yang disebut “pengajaran yang mendidik” dalam proses pencapaian pendidikan.
7.      Tokoh terakhir dari Amerika Serikat, William T. Harris (1835-1909)-pengikut Hegel, berusaha menerapkan Idealisme Obyektif pada pendidikan umum. Menurut dia bahwa tugas pendidikan adalah mengizinkan terbukanya realita berdasarkan susunan yang pasti, berdasarkan kesatuan spiritual. Keberhasilan sekolah adalah sebagai lembaga yang memelihara nilai-nilai yang telah turun temurun dan menjadi penuntun penyesuaian diri setiap orang kepada masyarakat.[15]

C. Implikasi Logis Filsafat Pendidikan Essensialisme
Essensialisme sebagai filsafat sangat menekankan arti tentang manusia dan pengembangan diri secara pribadi agar ia memahami perannya dalam alam ini.. Setiap individu dipandang sebagai makhluk yang tidak bisa melepaskan diri dari keterikatan dengan alam semesta Essensialisme berhubungan sangat erat dengan pendidikan karena keduanya bersinggungan satu sama lain pada masalah-masalah yang sama, yaitu manusia, hidup, hubungan antar manusia, dan hakikat keberadaan manusia.
Impilkasi aliran filsafat essensialisme dalam dunia pendidikan. Tujuan pendidikan adalah untuk mendorong setiap individu agar mampu mengembangkan semua potensinya untuk pemenuhan diri. Setiap individu memiliki kebutuhan dan perhatian yang spesifik berkaitan dengan pemenuhan dirinya. Hal ini dilakukan agar pendidikan benar-benar mampu memberikan penyadaran kepada manusia akan peran dan fungsinya di alam semesta.
Kurikulum ideal adalah kurikulum yang mampu mendorong para siswa kepada pemahaman yang benar. Dalam arti memahami akan eksistensi dan essensi mereka sebagai manusia di alam semesta. Tidak ada satu mata pelajaran tertentu yang lebih penting daripada yang lainnya. Mata pelajaran merupakan materi dimana individu akan dapat menemuian dirinya dan kesadaran akan dunianya.
Mata pelajaran yang dapat memenuhi tuntutan diatas adalah mata pelajaran IPA, Sejarah, Sastra, Filsafat, dan Seni. Bagi beberapa anak, pelajaran yang dapat membantu untuk menemukan dirinya adalah IPA, namun bagi yang lainnya mungkin saja bisa Sejarah, Filsafat, Sastra, dan lain sebagainya.
Essensialisme memberikan perhatian yang besar pada humaniora dan seni. Karena kedua materi tersebut diperlukan agar individu dapat mengadakan introspeksi dan mengenalkan gambaran dirinya. Pelajar harus didorong untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang dapat mengembangkan keterampilan yanag dibutuhkan, serta memperoleh pengetahuan yang diharapkan.
Konsep belajar mengajar essensialisme lebih banyak menekankan peran guru atau teacher centered. Pendidikan merupakan paksaaan. Anak dipaksa menyerah pada kemauan guru, atau pada pengetahuan yang tidak fleksibel, dimana guru menjadi penguasanya.[16] Hal ini karena pada sebenarnya murid belum memiliki bekal apapun dalam menuntut ilmu. Karenanya ia harus patuh dan menerima apapun yang diberikan oleh gurunya.
Guru berbeda dengan seorang instruktur, karena ia hanya akan merupakan perantara yang sederhana antara materi pelajaran dengan siswa. Kalau guru dianggap sebagai instruktur, ia akan turun martabatnya, hanya sekedar alat untuk mentransfer ilmu pengetahuan, dan murid akan menjadi hasil dari transfer itu. Pengetahuan akan menguasai manusia, sehingga manusia akan menjadi alat dan produk dari pengetahuan itu. Disinilah pentingnya keteladanan guru kepada murid. Dengan keteladanan tersebut guru menjadi cermin bagi murid dalam menuntut ilmu.[17]








BAB III
PENUTUP
A.  Kesimpulan
Aliran filsafat Essensialisme adalah suatu aliran filsafat yang menginginkan agar manusia kembali kepada kebudayaan lama. Aliran Essensialisme ini memandang bahwa pendidikan yang bertumpu pada dasar pandangan fleksibilitas dalam segala bentuk dapat menjadi sumber timbulnya pandangan yang berubah-ubah, mudah goyah, kurang terarah, tidak menentu dan kurang stabil.
Beberapa hal yang menjadi perhatian essensialisme adalah proses pembelajaran, kurikulum, peran sekolah, murid, guru, dan orientasi dari pembelajaran itu sendiri. Tokoh-tokoh terkemuka yang berperan dalam penyebaran aliran essensialisme diantarnya adalah Desidarius Erasmus, Johann Amos Comenius, John Locke, Johann Henrich Pesta Lozzi, Johann Friederich Frobel, Johann Friedrich Herbart dan William T. Harris.
Implikasi logis dari adanya filsafat essensialisme dalam bidang pendidikan ini adalah bahwa pendidikan harus diwujudkan secara ideal. Karena dengan pendidikan yang baik manusia baru akan mengerti eksistensi dan essensinya. Pengaturan kurikulum, rekruitmen guru, serta peraturan sekolah wajib dipertimbangkan dan dilihat kembali.
B.  Saran
Gagasan tentang filsafat pendidikan essensialisme merupakan sebuah tawaran yang menarik untuk coba diterapkan kembali dalam iklim pembelajaran modern. Karena jika melihat dari karakteristiknya, sistem ini telah berhasil mengantarkan santri pondok pesantren yang masih memegang tradisi salafy. Jika mau jujur, banyak kedekatan antara sistem pendidikan essensialisme dengan sistem pendidikan yang ada di pondok pesantren salafy.







Daftar Pustaka
Abdul hakim, Atang, Filsafat umum, Bandung:Setia, 2008.
Barnadib, Imam, Filsafat Pendidikan, Yogjakarta:Andy Offset, 1990.
F. Oneil, William, Ideologi-Ideologi Pendidikan, pent. Omi Intan Naomi, Yogjakarta:Pustaka Pelajar, 2008.
Mudyahardjo, Redja, dkk.,  Dasar-dasar Kepependidikan, Jakarta: Universitas Terbuka, 1993.
Nurwati, “Filsafat Pendidikan”, dalam, http://nurwatiazzah.blogspot.com, diakses 15 Oktober 2012.
Russel, Bertrand, Sejarah Filsafat Barat:dan kaitannya dengan sosio-politik dari zaman kuno hingga sekarang, pent:Sigit Djatmiko dkk, Yogjakarta:Pustaka Pelajar, 2007.
Salam, Burhanudin, Pengantar Pedagogik, Jakarta:Rineka Cipta, 2006.
Sa’dullah, Uyoh,  Pengantar Filsafat Pendidikan, Bandung:Alfabeta, 2006.
Surahman, Dadang,  “Filsafat Pendidikan Essensialisme”, dalam, http://dadanggani. blogspot.com/essensialisme-dalam-filsafat, diakses 17 Oktober 2012.
Tim, “Filsafat Pendidikan Essensialisme”, dalam, http:// kumpulanmakalahdanartikelkuliah. blogspot .com/ filsafat/ pendidikan/essensialisme.html, diakses pada 17 Oktober 2012.


[1] Atang abdul hakim, Filsafat umum, (Bandung:Setia, 2008) 14.
[2] Ibid, 15.
[3] Nurwati, “Filsafat Pendidikan”, dalam, http://nurwatiazzah.blogspot.com, diakses 15 Oktober 2012
[4] ibid.
[5] Bertrand Russel, Sejarah Filsafat Barat:dan kaitannya dengan sosio-politik dari zaman kuno hingga sekarang, pent:Sigit Djatmiko dkk, (Yogjakarta:Pustaka Pelajar, 2007) 675.
[6] Atang abdul hakim, Filsafat umum, 247.
[7]Ibid., 334.
[8] Bertrand Russel, Sejarah Filsafat Barat:dan kaitannya dengan sosio-politik dari zaman kuno hingga sekarang, 680.
[9] Hal ini disandarkan pada pernyataan essensialisme bahwa: alam semesta beserta segala unsurnya diaturoleh hukum yang mencakup semuanya serta tatanan yang sudah mapan sebelumnya. Karena itu tugas manusia adalah memahami hukum dan tatanan itu hingga bisa menghargai dan menyesuaikan diri. William F. Oneil, Ideologi-Ideologi Pendidikan, pent. Omi Intan Naomi, (Yogjakarta:Pustaka Pelajar, 2008) 22.
[10] Dadang Surahman, “Filsafat Pendidikan Essensialisme”, dalam, http://dadanggani.blogspot.com/essensialisme-dalam-filsafat, diakses 17 Oktober 2012.
[11]Tim, “Filsafat Pendidikan Essensialisme”, dalam, http://kumpulanmakalahdanartikelkuliah.blogspot .com/ filsafat/ pendidikan/essensialisme.html, diakses pada 17 Oktober 2012
[12]Ibid.
[13]Redja Mudyahardjo, dkk.,  Dasar-dasar Kepependidikan, (Jakarta: Universitas Terbuka, 1993), 3.
[14] Ibid.
[15] Imam Barnadib, Filsafat Pendidikan, (Yogjakarta:Andy Offset, 1990) 11-12.
[16] Uyoh Sa’dullah, Pengantar Filsafat Pendidikan, (Bandung:Alfabeta, 2006) 57.
[17] Burhanudin Salam, Pengantar Pedagogik, (Jakarta:Rineka Cipta, 2006) 73.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar