Pengembangan Pendidikan Agama Islam: Reinterpretasi Berbasis Interdisipliner

Sabtu, 04 Mei 2013

Contoh SKRIPSI Penelitian Tindakan Kelas BAB II


Link terkait tulisan atau kajian tentang sistem pembelajarandi sini

IMPLEMENTASI METODE CARD SORT DALAM MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR MATA PELAJARAN AQIDAH AKHLAQ SISWA KELAS X-1 MAN PRAMBON TAHUN PELAJARAN 2010/2011
 Oleh:
LUTHFI DAMAYANTI
 Sumber Foto: Facebook
(Penulis adalah Alumni MAN Nganjuk dan STAIN Kediri, saat ini masih menjadi Mahasiswa Program Pascasarjana STAIN Kediri Angkatan ke-2)


BAB II
LANDASAN TEORI

A.    Tinjauan Tentang Metode  Card Sort
1.      Pengertian Metode Card Sort
Metode berasal dari bahasa Yunani methodos yang berarti jalan atau cara yang ditempuh. Sehubungan dengan upaya ilmiah maka metode menyangkut masalah cara kerja untuk  dapat memahami objek yang menjadi sasaran ilmu yang bersangkutan.[1] Menurut Suryosubroto, metode adalah cara yang dalam fungsinya adalah alat untuk mencapai tujuan.[2] Dalam menentukan metode, terdapat faktor lain yang mempengaruhi dalam keefektifannya dalam mencapai tujuan. Antara lain adalah faktor guru itu sendiri, faktor anak dan faktor situasi (lingkungan belajar).
Menurut Ahmad Sabri metode pembelajaran adalah cara – cara atau teknik penyajian bahan pelajaran yang akan digunakan oleh guru pada saat menyajian bahan pelajaran, baik secara individual atau secara kelompok.[3] Agar tercapainya tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan, seorang guru harus mengetahui berbagai metode. Dengan memiliki banyak metode maka seorang guru akan lebih mudah menetapkan metode yang paling sesuai dengan kondisi dan situasi.
Dari pemaparan beberapa pengertian mengenai metode maka bisa kita simpulkan bahwa metode adalah suatu cara yang digunakan oleh seseorang yang berfungsi sebagai alat untuk mencapai tujuan.
Adapun syarat yang harus diperhatikan oleh seorang guru dalam penggunaan metode ketika pembelajaran berlangsung menurut Sabri adalah:
a.       Metode yang dipergunakan dapat membangkitkan motif, minat, atau gairah belajar siswa.
b.      Metode yang digunakan dapat merangsang keinginan siswa untuk belajar lebih lanjut, seperti melakukan inovasi dan ekspotasi.
c.       Metode yang digunakan harus dapat memberikan kesempatan bagi siswa yang mewujudkan hasil karya.
d.      Metode yang digunakan harus bisa menjamin perkembangan kegiatan kepribadian siswa.
e.       Metode yang digunakan harus dapat mendidik murid dalam teknik belajar sendiri dan cara memperoleh pengetahuan melalui usaha pribadi.
f.       Metode yang digunakan harus bisa menanamkan dan mengembangkan nilai – nilai dan sikap siswa dalam kehidupan sehari – hari.[4]   
Pengetahun tentang metode-metode mengajar sangat diperlukan oleh para pendidik. Sebab berhasil tidaknya siswa tergantung pada tepat atau tidaknya metode mengajar yang digunakan oleh guru tersebut. Salah satu cara terbaik umtuk meningkatkan belajar aktif adalah dengan pemberian tugas belajar yang dilakukan dalam kelompok kecil siswa. Karena dukungan sesama dan keragaman pendapat, pengetahuan, serta ketrampilan mereka akan membantu menjadikan belajar bersama sebagai bagian berharga dari sebuah pembelajaran. Namun tidaklah selalu demikian, terkadang juga terdapat partisipasi yang tidak seimbang. Sehingga muncul beberapa metode yang dirancang untuk memaksimalkan manfaat dari belajar bersama dan meminimalkan kesenjangan.
Metode Card Sort adalah salah satu contoh dari metode belajar bersama. Dan  dalam pelaksanaannya itu adalah dengan mengelompokkan kartu yang dimilki siswa satu dengan kartu yang dimiliki oleh siswa lain sesuai dengan kategorinya. Dengan mencari kelompok kartunya, maka secara tidak langsung guru telah mengikut sertakan fisik para siswa untuk ikut serta dalm proses belajar mengajar.
Menurut Melvin L. Silberman, Cart Sort merupakan aktivitas kerjasama yang bisa digunakan untuk mengajarkan konsep, karakteristik klasifikasi, fakta tentang benda, atau menilai informasi. Gerak fisik yang ada di dalamnya dapat membantu menggairahkan siswa yang merasa penat.[5]
Dalam pembelajaran, tidak ada metode yang paling baik diantara beberapa metode yang ada. Tetapi, ketrampilan guru yang akan membuat suasana pembelajaran menjadi paling baik jika menerapkan metode yang sesuai dengan situasi yang ada.
2.      Langkah – langkah Metode Card Sort
Dalam metode ini seorang guru harus membuat potongan kertas – kertas yang di dalamnya tertulis kata pokok dari materi yang sedang diajarkan. Hal ini akan meningkatkan kreatifitas guru dalam pembelajaran. Kemudian potongan kertas tersebut disebar secara acak kepada para siswa, dan meminta kepada siswa untuk mencari kelompok kata yang ada pada kartunya.
Agar suasana kelas lebih hidup dan terkendali dalam mencari kelompok kata, para siswa diberi waktu antara 5-10 menit. Hal ini bertujuan agar meminimalisir kegaduhan di kelas. Setelah mendapatkan kelompok mintalah para siswa untuk berkumpul dengan kelompok kartunya.
 Zaini menjelaskan dalam metode card sort ini, langkah – langkahnya adalah :
a.    Setiap siswa atau mahasiswa diberi potongan kertas yang diberi informasi atau contoh yang tercakup dalam satu atau lebih kategori.
b.   Mintalah siswa atau mahasiswa untuk bergerak dan berkeliling di dalam kelas untuk menemukan kartu dengan kategori yang sama.
c.    Siswa atau mahasiswa dengan kategori yang sama diminta mempresentasikan ketegori masing – masing di depan kelas.
d.   Seiring dengan presentasi dari tiap – tiap kategori tersebut, berikan poin – poin penting terkait materi pelajaran atau perkuliahan.[6]
Silberman menjelaskan prosedur dalam pelaksanaan Card Sort:
a.       Beri tiap siswa kartu indeks yang berisi tentang informasi atau contoh yang cocok dengan satu atau beberapa kategori.
b.      Perintahlah siswa untuk berkeliling ruangan dan mencari siswa lain yang kartunya cocok dengan kategori yang sama. (Anda dapat mengimumkan kategorinya sebelum nya atau biarkan siswa menemukan nya sendiri).
c.       Perintahkan siswa yang kartunya memiliki kategori sama untuk menawarkan diri kepada siswa lain.
d.      Ketika tiap kategori ditawarkan, kemukakan poin – poin pengajaran yang menurut Anda penting.[7] 
Metode Card Sort adalah proses pembelajaran yang pertisipatif dalam membentuk kelompok berdasarkan kata yang ada dalam kartunya. Hal ini melibatkan semua teman satu kelas yang memiliki karakteristik berbeda-beda. Sehingga mengharuskan tiap siswa harus bisa membaur dengan semua teman yang ada di kelas. Ini merupakan salah satu cara guru agar para siswa bisa lebih mengenal dekat dengan temannya.
Metode Cart Sort ini tepat digunakan pada pembelajaran Aqidah Akhlaq, karena pada pembelajaran Aqidah Akhlaq diharapkan para siswa bisa memahami mata pelajaran Aqidah Akhlaq karena dalam pengamalannya yang sebagian besar merupakan dari kehidupan sehari-hari. Sehingga dalam pengamalannya diharapkan mereka  mengetahui tentang dasar atau alasan tentang hal  yang dilakukannya.
Metode Card Sort juga dapat merangsang partisipasi siswa dalam pembelajaran. Sehingga aktifitas dan kemampuan siswa dalam menyampaikan gagasan atau pendapat dalam proses pembahasan kategorinya bisa semakin bermakna. Selain itu kondisi kelas bisa lebih hidup dengan keadaan siswa yang mencari kelompok kartunya. Karena siswa diharuskan berkeliling kelas ketika mencari kelompok kartunya.
Adapun untuk variasi, maka tiap kelompok diminta untuk presentasi tentang kategorinya. Hal ini akan meningkatkan mental siswa ketika berada di depan kelas dan menjelaskan tentang kategorinya.
3.      Kelemahan dan Kelebihan Metode Card Sort
a.       Kelemahan Metode Card Sort
1)      Tidak semua materi tersampaikan dengan metoda Card Sort.
2)      Terbatas penggunaannya pada kelompok kecil.
3)      Dianggap kurang penting bila dibanding dengan metode lain.
b.      Kelebihan Metode Card Sort
1)      Dapat menarik konsentrasi siswa pada materi pelajaran.
2)      Siswa aktif mengikuti, melaksanakan instruksi yang ada.
3)      Siswa termotivasi sehingga dapat membangkitkan keinginan dan minatnya yang baru dalam belajar.
4)      Mengahasilkan keseragaman perhatian.
B.     Tinjauan Tentang Prestasi Belajar
1.      Pengertian Prestasi
Menurut Syaiful Bahri Djamaroh bahwa prestasi adalah, ”hasil dari suatu kegiatan yang telah dikerjakan, diciptakan, baik secara individu maupun kelompok.”[8] Poerwadarrminta berpendapat, bahwa prestasi adalah hasil yang telah dicapai (dilakukan, dikerjakan, dan sebagainya). Sedangkan menurut Mas’ud Khasan prestasi adalah apa yang telah dapat diciptakan, hasil pekerjaan, hasil yang menyenangkan hati yang diperoleh dengan jalan keuletan kerja.[9]
Peengertian prestasi menurut Sardiman A.M, adalah kemampuan nyata yang merupakan hasil interaksi antara berbagai faktor yang mempengaruhi baik dari dalam atau dari luar individu dalam belajar. Sedangkan menurut Atabrani, adalah kemampuan nyata yang dicapai individu dari suatu kegiatan atau usaha. Menurut Kamus Bahasa Indonesia, prestasi adalah hasil yang telah dicapai (dilakukan, dikerjakan, dan sebagainya). Sedangkan menurut W.S Winkel prestasi adalah bukti yang telah dicapai.[10]
Dari beberapa pengertian prestasi yang dikemukakan tadi, terdapat perbedaan kata – kata tertentu namun intinya sama, yaitu hasil yang dicapai dari suatu kegiatan. Atau kecakapan atau hasil konkrit yang dapat dicapai pada saat atau periode tertentu.  Dapat difahami bahwa prestasi adalah suatu kegiatan yang dikerjakan, diciptakan, yang menyenangkan hati yang diperoleh dengan jalan keuletan kerja, baik individu maupun kelompok dalam bidang kegiatan tertentu. Maka dapat ditarik kesimpulan bahwa prestasi merupakan suatu hasil yang telah dicapai sebagai bukti usaha yang telah dilakukan.
2.      Macam – macam Prestasi
Prestasi merupakan suatu hasil usaha yang tidak selamanya identik dengan hasil baik. Misalnya seorang siswa yang mengikuti ujian dan mendapatkan nilai lima bisa dikatakan memperoleh prestasi buruk atau rendah. Namun pada umumnya kita mengasosiasikan prestasi sebagai hasil yang baik. Ketika kita mengatakan seseorang berprestasi maka yang kita maksud adalah orang tersebut memperoleh hasil atau prestasi yang baik.
Terdapat beberapa macam prestasi, antara lain adalah:
a.       Prestasi belajar, yaitu hasil yang didapat dari hasil belajar.
b.      Prestasi kerja, yaitu hasil yang didapat dari kerja.
c.       Prestasi di bidang iptek, yaitu hasil yang didapat dari penerapannya tentang iptek, dan lain-lain.
Berdasarkan subyek penelitian yang dilakukan peneliti maka macam prestasi dalam penelitian ini adalah prestasi belajar yang merupakan hasil yang telah dicapai siswa dalam proses belajar.
3.      Jenis-jenis Prestasi
Prestasi belajar pada dasarnya adalah hasil akhir yang diharapkan dapat dicapai setelah seseorang belajar. Menurut Ahmad Tafsir, hasil belajar atau bentuk perubahan tingkah laku yang diharapkan itu merupakan suatu target atau tujuan pembelajaran yang meliputi 3 (tiga) aspek yaitu: 1) tahu, mengetahui (knowing); 2) terampil melaksanakan atau mengerjakan yang ia ketahui itu (doing); dan 3) melaksanakan yang ia ketahui itu secara rutin dan konsekwen (being).
Adapun menurut Benjamin S. Bloom, sebagaimana yang dikutip oleh Abu Muhammad Ibnu Abdullah, bahwa hasil belajar diklasifikasikan ke dalam tiga ranah yaitu: 1) ranah kognitif (cognitive domain); 2) ranah afektif (affective domain); dan 3) ranah psikomotor (psychomotor domain).
Dari kedua pendapat tersebut di atas, maka penulis lebih cenderung kepada pendapat Benjamin S. Bloom. Kecenderungan ini didasarkan pada alasan bahwa ketiga ranah yang diajukan lebih terukur, dalam artian bahwa untuk mengetahui prestasi belajar yang dimaksudkan mudah dan dapat dilaksanakan, khususnya pada pembelajaran yang bersifat formal. Sedangkan ketiga aspek tujuan pembelajaran yang diajukan oleh Ahmad Tafsir sangat sulit untuk diukur. Walaupun pada dasarnya bisa saja dilakukan pengukuran untuk ketiga aspek tersebut, namun akan  membutuhkan waktu yang tidak sedikit, khususnya pada aspek being, di mana proses pengukuran aspek ini harus dilakukan melalui pengamatan yang berkelanjutan sehingga diperoleh informasi yang meyakinkan bahwa seseorang telah benar-benar melaksanakan apa yang ia ketahui dalam kesehariannya secara rutin dan konsekuen.
Berdasarkan hal tersebut, maka penulis berkesimpulan bahwa jenis prestasi belajar itu meliputi 3 (tiga) ranah atau aspek, yaitu: 1) ranah kognitif (cognitive domain); 2) ranah afektif (affective domain); dan 3) ranah psikomotor (psychomotor domain).
Untuk mengungkap hasil belajar atau prestasi belajar pada ketiga ranah tersebut di atas diperlukan patokan-patokan atau indikator-indikator sebagai penunjuk bahwa seseorang telah berhasil meraih prestasi pada tingkat tertentu dari ketiga ranah tersebut.[11] Dan dalam penelitian ini peneliti mengambil prestasi siswa dari ranah kognitif yang didasarkan pada hasil ulangan hariannya.
4.      Pengertian Belajar
Manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan bantuan dari orang lain. Mulai dari kelahirannya yang tidak berdaya tanpa adanya bantuan orang lain. Jika bayi manusia tidak mendapat bantuan dari manusia dewasa, tidak akan ada belajar, maka binaslah. Ia tidak akan mampu hidup sebagai manusia jika ia tidak dididik/ diajar oleh manusia.
Menurut Ahmad Fauzi belajar adalah suatu proses dimana suatu tingkah laku ditimbulkan atau diperbaiki melalui serentetan reaksi atas situasi (atau rangsang) yang terjadi.[12] Sobur  dalam bukunya psikologi umum mengatakan bahwa balajar adalah, “Perubahan perilaku yang relatif tetap sebagai hasil adanya pengalaman.”[13] Dan belajar menurut anggapan sementara orang adalah proses yang terjadi dalam otak manusia. Saraf dan sel – sel otak yang bekerja mengumpulkan semua yang dilihat oleh mata, didengar oleh telinga, dan lain – lain. Lantas disusun oleh otak sebagai hasil belajar. Itulah sebabnya, orang tidak bisa belajar jika fungsi otaknya terganggu.[14]
Sehingga bisa disimpulkan bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku karena adanya interaksi antara stimulus dan respon.
Beberapa elemen penting yang mencirikan pengertian belajar adalah:
a.          Belajar merupakan suatu perubahan dalam tingkah laku, dimana perubahan itu dapat mengarah kepada tingkah laku yang lebih baik, tetapi juga ada kemungkinan mengarah pada tingkah laku yang lebih buruk.
b.      Belajar merupakan suatu perubahan yang terjadi melalui latihan atau pengalaman;dalam arti perubahan – perubahan yang disebabkan oleh pertumbuhan atau kematangan idak dianggap sebagai hasil belajar; seperti perubahan – perubahan yang terjadi pada diri seorang bayi.
c.     Untuk dapat disebut belajar, maka perubahan itu harus relatif mantap; harus merupakan akhir dari suatu periode waktu yang cukup panjang. Berapa lama periode waktu itu berlangsung sulit ditentukan dengan pasti, tetapi perubahan itu hendaknya merupakan akhir dari suatu periode yang mungkin berlangsung berhari – hari, berbulan – bulan, atau bertahun – tahun. Ini berarti kita harus mengesampingkan perubahan – perubahan tingkah laku yang disebabkan oleh motivasi, kelelahan, adaptasi, ketajaman perhatian atau kepekaan seseorang yang biasanya berlangsung sementara.
Tingkah laku yang mengalami perubahan karena belajar menyangkut berbagai aspek kepribadian, baik fisik ataupun psikis, seperti: perubahan dalam pengertian, pemecahan suatu masalah, ketrampilan, kecakapan, kebiasaan, ataupun sikap.
5.      Faktor – Faktor Prestasi
Suatu prestasi yang dicapai oleh seseorang adalah tidak jauh dari apa yang menfaktorinya. Adapun faktor dari prestasi atau hasil dari belajar, menurut Ngalim Purwanto adalah:[15]



Menurut Sobur, secara garis besar faktor yang mempengaruhi prestasi belajar dapat dibagi dalam dua bagian yaitu:
a.       Faktor endogen atau disebut juga faktor internal, yaitu semua faktor yang berada dalam diriindividu atau dari dalam diri misalnya bakat, potensi, kepandaian, intelektual, minat, kebiasaan, motivasi, pengalaman, kesehatan. Atau bisa lebih disingkat dengan hal yang berkaitan dengan fisik dan psikis.
b.      Faktor endogen atau disebut juga faktor eksternal, yaitu semua faktor yang berada di luar diri individu misalnya keluarga, sekolah, masyarakat, sarana prasarana, fasilitas, gizi, dan tempat tinggal.[1]
Kedua faktor tersebut sangat mendukung antara satu dengan yang lainnya. Orang yang berprestasi adalah orang yang dianggap sukses dalam bidang tertentu, karena dia memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh orang lain. 

A.    Tinjauan Tentang Aqidah Akhlaq
1.      Pengertian Aqidah Akhlaq
a)      Pengertian Aqidah
Secara bahasa (etimologi) kata aqidah diambil dari kata dasar al-‘aqdu yaitu ar-rabth (ikatan), al-Ibraam  (pengesahan), al-ihkam (penguatan), at-tawatstsuq (menjadi kokoh, kuat), asy-syaddu biquwwah (pengikatan dengan kuat), at-tamaasuk (pengokohan) dan al-itsbaatu (penetapan). Di antaranya juga mempunyai arti al-yaqiin (keyakinan) dan al-jazmu (penetapan). Aqidah bisa diartikan sebagai ketetapan yang tidak ada keraguan pada orang yang mengambil keputusan.
Sedang pengertian aqidah dalam agama maksudnya adalah berkaitan dengan keyakinan bukan perbuatan. Seperti aqidah dengan adanya Allah dan diutusnya pada Rasul. Jadi Pengertian aqidah adalah apa yang telah menjadi ketetapan hati seorang secara pasti adalah aqidah; baik itu benar ataupun salah.
Pengertian aqidah secara istilah (terminologi) yaitu perkara yang wajib dibenarkan oleh hati dan jiwa menjadi tenteram karenanya, sehingga menjadi suatu kenyataan yang teguh dan kokoh, yang tidka tercampuri oleh keraguan dan kebimbangan.
Dengan kata lain, keimanan yang pasti tidak terkandung suatu keraguan apapun pada orang yang menyakininya. Dan harus sesuai dengan kenyataannya yang tidak menerima keraguan atau prasangka. Jika hal tersebut tidak sampai pada singkat keyakinan yang kokoh, maka tidak dinamakan aqidah. Dinamakan aqidah, karena orang itu mengikat hatinya diatas hal tersebut.[2]
Sejalan dengan itu, Mahmud Syaltut mendefinisikan Aqidah Islam adalah suatu sistem kepercayaan dalam Islam. Artinya, sesuatu yang harus diyakini sebelum apa-apa dan sebelum melakukan apa-apa tanpa keraguan sedikitpun dan tanpa ada unsur yang mengganggu kebersihan keyakinan. Susuatu yang harus diyakini sebelum apa-apa adalah keyakinan akan keberadaan Allah degan segala fungsinya. Semua itu tercakup dalam rukun iman sebagai ikrar bagi setiap muslim dalam menyatakan keislamannya sejak lahir dan merupakan landasan bagi setiap muslim.[3] 
Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa, aqidah adalah suatu perkara yang wajib dibenarkan (dipercayai) hati dengan penuh kemantapan atau keyakinan dalam qalbu (hati) sehingga terhindar dari keragu–raguan. Aqidah ini bisa juga diidentifikasikan dengan keyakinan yang dikaitkan dengan rukun iman dan merupakan asas dari seluruh ajaran Islam.
b)      Pengertian akhlaq
Pengertian akhlak secara etimologi berasal dari kata “Khuluq” dan jama’nya “Akhlaq”, yang berarti budi pekerti, etika, moral. Demikian pula kata “Khuluq” mempunyai kesesuaian dengan “Khilqun”, hanya saja khuluq merupakan perangai manusia dari dalam diri (ruhaniah) sedang khilqun merupakan perangai manusia dari luar (jasmani).
Selanjutnya Ibnu Maskawaih mendefinisikan akhlaq dengan keadaan gerak jika yang mendorong ke arah melakukan perbuatan dengan tidak memerlukan pikiran. Akhlaq adalah “sikap hati yang mudah mendorong anggota tubuh untuk berbuat sesuatu”[4]
Imam Ghozali mengemukakan definisi akhlak sebagai suatu sifat yang tertanam dalam jiwa yang daripadanya timbul perbuatan – perbuatan dengan mudah, dengan tidak memerlukan pertimbangan pikiran (lebuh dahulu)”[5]
Adapun maksud dari ilmu akhlaq adalah ilmu yang menjelaskan tentang arti baik buruk, menerangkan apa yang harus dilakukanoleh seorang manusia. Dan baik buruk akhlak itu harus sesuai dengan dengan nilai dan norma agama, nilai serta norma yang terdapat dalam masyarakat.
Perbuatan baik dan buruk dalam moral dan etika ditentukan adat istiadat dan pikiran manusia dalam masyarakat pada suatu tempat di suatu masa. Oleh karena itu, dipandang dari sumbernya, akhlak Islami bersifat tetap dan berlaku untuk selamanya. Sedang moral dan etika berlaku selama masa tertentu disuatu tempat tertentu. Konsekwensinya, akhlaq Islam bersifat mutlak, sedang etika dan moral bersifat relatif. Perbedaan pengertian ini harus difahami supaya kita dapat membedakan sifat dan isi akhlaq, moral, dan etika. Walaupun dalam masyarakat ketiga istilah ini disinonimkan dan dipakai silih berganti untuk menunjukkan sesuatu yang baik atau yang buruk.
Dari definisi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa akhlaq adalah suatu sifat tertanam dalam jiwa seseorang yang dari sifat tersebut timbul suatu perbuatan. Dimana perbuatan itu bisa berupa kebaikan atau keburukan dengan tanpa melakukan pertimbangan akal pikiran terlebih dulu.
Setelah melihat pengertian akhidah akhlaq dalam konteks bidang studi yang diajarkan di Madrasah Aliyah adalah merupakan upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, mengetahui, mengimani Alah swt dan merealisasikannya dalam perilaku akhlaq mulia dalam kehidupan sehari – hari berdasarkan Al-quran dan Hadist melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, latihan, serta penggunaan pengalaman. Dengan tuntutan untuk menghormati penganut agama lain da hubungan untuk menjalin keruknan antar umat beragama dalam mesyarakat hingga terwujud kesatuan dan persatuan bangsa. 
Maka dapat disimpulkan bahwa Aqidah Akhlaq adalah wahana pemberian pengetahuan, meyakini dan menghayati kebenaran agama Islam serta bersedia mengamalkan dalm kehidupan sehari – hari.
Dalam pengajaran Pendidikan Agama Islam khususnya aqidah akhlaq sebagai landasannya adalah dalam firman Allah surat Al Qashash: 77
(ayat tidak bisa ditampilkan)

Artinya: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”.[6]
2.      Tujuan Pelajaran Aqidah Akhlaq
Dengan adanya pembelajaran aqidah akhlaq ini, diharapkan para siswa Madrasah Aliyah memahami, meyakini rukun iman yang telah ditetapkan oleh nabi Muuhammad saw. Mempunyai keyakinan atau kepercayaan yang benar seperti yang telah diajarkan nabi melalui firman Allah dalam surat Al-ikhlash:
ö@è% uqèd ª!$# îymr& ÇÊÈ   ª!$# ßyJ¢Á9$# ÇËÈ   öNs9 ô$Î#tƒ öNs9ur ôs9qムÇÌÈ   öNs9ur `ä3tƒ ¼ã&©! #·qàÿà2 7ymr& ÇÍÈ                                                                                             
Artinya: “1. Katakanlah: "Dia-lah Allah, yang Maha Esa.
2. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala         
    sesuatu.
3. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,
4. dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”.[7]
 Dan diharapkan juga memilki akhlak yang mulia sesuai dengan ajaran Islam. Allah berfirman dalam surat Al-Ahzab: 21
(ayat tidak bisa ditampilkan)

Artinya: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah”.[8]
Dari pemaparan ayat di atas dapat diketahui bahwa Rasulullah adalah sosok yang harus dicontoh perilakunya dalam kehidupan sehari – hari. Agar kita bisa menjadi manusia yang berbudi luhur sesuai dengan ajaran Islam.

B.     Penerapan Metode Card Sort Pada Mata Pelajaran Aqidah Akhlaq.
Metode Cart Sort ini tepat digunakan pada pembelajaran Aqidah Akhlaq, karena pembelajaran dalam Aqidah Akhlaq diharapkan para siswa bisa memahami mata pelajaran Aqidah Akhlak karena merupakan sebagian pengamalan dari kehidupan sehari-hari. Sehingga dalam pengamalannya itu diharapkan mereka  mengetahui tentang dasar atau alasan tentang hal  yang dilakukannya.
Metode Card Sort juga dapat merangsang partisipasi siswa dalam pembelajaran. Sehingga aktifitas dan kemampuan siswa dalam menyampaikan gagasan atau pendapat dalam proses pembahasan kategorinya bisa semakin bermakna. Selain itu kondisi kelas bisa lebih hidup dengan keadaan siswa yang mencari kelompok kartunya. Karena siswa diharuskan berkeliling kelas ketika mencari kelompok kartunya.


[1] Alex Sobur, Psikologi Umum, 244.
[2]Abdullah bin Abdul Hamid Al-Atsari, “Definisi Akhidah” http//lesehan-muslim.forumotion.com/t4-definisi-aqidah, diakses tanggal 18 April 2011.
[3] Roli Abdul Rahman, M. Khamzah, Menjaga Akhidah Dan Akhlak, (Solo: Tiga Serangkai, 2008), 3.
[5]Mustofa, Akhlak Tasawuf, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2010), 11.
[6] Departemen Agama RI, Al-qur’an Dan Terjemahanya, ( Depok: Cahaya Quran,2088), 394.
[7] Departemen Agama RI, Al-qur’an Dan Terjemahanya, 604.
[8] Departemen Agama RI, Al-qur’an Dan Terjemahanya, 420.

[1] Ktiptk.blogspirit.com/archive/2009/01/26. Diakses 14Mei2011.
[2] B. Suryosubroto, Proses Belajar Mengajar Di Sekolah, ( Jakarta: Rineka Cipta, 2009), 141.
[3] Ahmad Sabri, Srategi Belajar Mengajar Dan Micro Teaching, (Ciputat: PT. Ciputat Press, 2005), 52.
[4] Ahmad Sabri, Srategi Belajar Mengajar, 52.
[5] Melvin L. Silberman, Active Learning 101 Cara Belajar Siswa Aktif, ( Bandung: Nusamedia, 2006), 169.
[6] Hisyam Zaini dkk, Strategi Pembelajaran Aktif  (Yogyakarta: CTSD, 2007), 53.
[7] Melvin L. Silberman, Active Learning, 169.
[8] Syaiful Bahri Djamaroh, prestasi Belajar Dan Kmpetensi Guru, (Surabaya: Usaha Nasional,1994), 19.
[9] Ibid, 20.
[10] Tentangkomputerkita.blogspot.com/2010/04/17, diakses 21Mei2011.
[12] Ahmad fauzi, Psikologi Umum, (Bandung: CV Pustaka Setia, 1999), 44.
[13] Alex Sobur, Psikologi Umum, (Bandung: CV Pustaka Setia,2009), 218.
[14] Ibid, 217.
[15] Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, (Bandung: Remaja Roda Karya,2007), 107.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar