Pengembangan Pendidikan Agama Islam: Reinterpretasi Berbasis Interdisipliner

Pengembangan Pendidikan Agama Islam

--- BUKU MURAH (ASLI bukan FOTOCOPY-AN/BUKAN BUKU BAJAKAN): " Buku MURAH BERKUALITAS hanya Rp.47.000,- (belum ongkos kirim. Ongkos kirim diperkirakan Rp. 18.000 - Rp. 35.000 tergantung lokasi pengiriman) berjudul PENGEMBANGAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM: REINTERPRETASI BERBASIS INTERDISIPLINER (Yogyakarta: LKiS, 2015). Sebagai info harga buku ini di pasaran berkisar 70-90 ribu). Serta buku ini hanya dijual di toko buku daerah YOGYAKARTA saja.Info lebih lanjut hubungi: 08563-350-350 (11 digit)”---

Sunday, July 7, 2013

Contoh Tesis lengkap BAB I


Berikut adalah link yang terkait dengan tulisan (postingan) pada halaman ini: Tesis Lengkap Karya A. Rifqi Amin


Oleh:  
A. Rifqi Amin



BAB I
PENDAHULUAN


A.  Konteks Penelitian
Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi Umum (PTU) merupakan mata kuliah yang sangat penting bagi pembentuk kepribadian dan karakter mahasiswa. Sehingga diharapkan tujuan utama PAI (Pendidikan Agama Islam)  dalam PTU tidak hanya terfokus pada pemprosesan mahasiswa dari yang belum paham tentang agama dijadikan lebih paham, dari yang belum mampu dalam penerapan dijadikan lebih mampu, dan dari yang belum taat dalam penerapan keagamaan menjadi lebih taat. Namun lebih dari sekedar itu, PAI adalah penanaman nilai-nilai keislaman secara utuh dan universal dalam diri mahasiswa. Selain itu PAI juga memiliki peran dalam penenaman nilai-nilai karakter yang dinyatakan dalam perilaku melekat sehingga menjadi pedoman hidup. Bukan hanya pedoman hidup dalam beribadah secara normatif, namun juga pedoman hidup dalam menghadapi permasalahan kehidupan yang semakin dinamis serta adanya fenomena laju modernitas sebagai akibat dari perkembangan ilmu pengetahuan teknologi yang semakin pesat. Salah satunya ditandai dengan fenomena manusia dalam berlomba-lomba untuk pemenuhan kebutuhan gaya hidup yang ‘ideal’ menurut kekinian.
Mahasiswa dipandang sebagai manusia yang sudah pada tahap pencapaian kematangan (kedewasaan) secara fisik, psikologis, dan cara berfikirnya. Mereka sudah mampu secara rasional pada dirinya sendiri dalam penentuan sikap, pengambilan keputusan, dan pengolahan terhadap resiko untuk setiap permasalahan yang dihadapi. Maka tentulah cara belajar antara di perguruan tinggi dengan di sekolah sangatlah berbeda karena berbeda pula suasana lingkungan belajar, strategi, dan bentuk tuntutan tugas-tugasnya. Serta yang menjadi ciri utama di perguruan tinggi adalah adanya kegiatan-kegiatan berupa pengabdian masyarakat dan penelitian ilmiah. Semua kegiatan itu memerlukan kematangan pola fikir ilmiah yang harus dimiliki mahasiswa. Lebih detailnya mahasiswa sebagai pembelajar di perguruan tinggi memiliki perbedaan jenjang, usia, dan tingkatan kedewasaan berfikir yang lebih matang jika dibandingkan dengan pembelajar lain yang berada di tingkat pendidikan menengah seperti SMA, MA, SMK, dan MAK terlebih lagi pada tingkat pendidikan dasar seperti SMP, MTs, MI, dan SD atau bentuk lain yang sederajat. Hal ini selaras dengan pendapat Hisyam Zaini dkk. yang mengemukakan bahwa “pembelajaran untuk mahasiswa di perguruan tinggi seyogyanya dibedakan dengan proses pembelajaran untuk siswa sekolah menengah.”[1] Oleh karena itu sebagaimana yang disampaikan oleh Yahya Ganda bahwa sistem pembelajaran di perguruan tinggi juga harus dibedakan dengan sistem pembelajaran di pendidikan tingkat menengah dan dasar.[2]
Sebagai upaya pendalaman pembahasan tentang mahasiswa maka menurut Agus M. Hardjana semua pengarahan dan masukan dari dosen kepada mahasiswa sebaiknya diolah dan dikaji penuh pendalaman (klarifikasi), serta mahasiswa seharusnya tidak sangat tergantung dan total dipengaruhi oleh pengarahan dan pemikiran dosen.[3] Hal yang semakna disampaikan oleh E. P Hutabarat bahwa bahan atau materi pembelajaran ilmu pengetahuan umum yang disajikan oleh dosen harus dikritisi oleh mahasiswa, yang mana bahan pembelajaran merupakan sebuah ‘fakta’ yang masih bisa berubah karena sebuah materi tersebut dilahirkan berdasarkan dari penelitian. Oleh karena itu dosen bukan sekedar alat penyampai informasi, namun juga dilakukan penyampaian dan pemeriksaan kembali oleh dosen terhadap dasar serta alasan kepada mahasiswa kenapa informasi tersebut harus dipercayai. Dengan asumsi mahasiswa harus aktif dalam pencarian referensi atau sumber ilmu lain yang berperan dalam peningkatan keilmuan. Walau demikian seharusnya sikap kritis dan rasional mahasiswa ini tidak menjadi sebuah ancaman bagi dosen PAI, malah sebaliknya menjadi sebuah tantangan bagi dosen PAI dalam pengembangan materi PAI sehingga bisa menjadi kajian keilmuan yang menarik seperti halnya ilmu pengetahuan umum.[4]
Hal tersebut hampir sama esensinya sebagaimana menurut Andreas Anangguru Yewangoe bahwa sosok mahasiswa adalah seorang yang berintelektualitas diharapkan mampu dalam proses pemilihan dan pemilahan ‘kebenaran’ sebuah persoalan secara kritis dan objektif. Selain itu mahasiswa dalam pergaulan sehari-hari dipandang cenderung mampu untuk penolongan seseorang dalam mengambil jarak dengan permasalahan-permasalah dan mampu dalam pemberian solusi untuk membantu seseorang.[5] Sehingga mahasiswa sebagai manusia ‘ilmiah’ bisa berperilaku serta berfikir ilmiah, memiliki nalar yang kritis, logis, dan sistematis tidak hanya saat di perguruan tinggi saja namun saat lulus studi dari perguruan tinggi.[6] Oleh karena itu rasa cinta pada ilmu pengetahuan umum sekaligus ilmu pendidikan Islam secara integratif hendaknya tetap dimiliki mahasiswa setelah lulus.
Dalam PTU selama ini masih ditemui mahasiswa Islam yang lebih terfokus pada pendalaman ilmu pengetahuan umum sehingga terjadi pengabaian ilmu pengetahuan agama yang tersedia dalam mata kuliah PAI. Tentulah dosen mata kuliah PAI sebagai pendidik memiliki peran utama dan sangat penting dalam perencanaan, pengontrolan, dan pengevaluasian sistem pembelajaran PAI di PTU. Jika sebuah sistem pembelajaran PAI tidak direncanakan secara matang yang dilandaskan pada karakter, latar belakang, minat, bakat, tingkat kecerdasan, tingkat pemahaman tentang agama Islam, dan orientasi mahasiswa dalam berkuliah maka dapat berakibat sebuah sistem pembelajaran PAI tidak akan berjalan dengan lancar, normal, efektif, efisien, dan tidak tercapainya sebuah tujuan pembelajaran secara utuh.
Sebagaimana menurut konstitusi bahwa pendidikan agama di perguruan tinggi merupakan rumpun Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian (MPK) dalam struktur Mata Kuliah Umum (MKU) yang di dalamnya ada pemahaman serta dilakukan pengembangan filosofis untuk berkembangnya kepribadian mahasiswa. Dengan kata lain MPK memuat kaidah-kaidah dengan tingkat filosofis yang cukup tinggi dengan maksud agar timbul keingintahuan mahasiswa dalam pemahaman, penghayatan, pendalaman, dan pengamalan atas ilmunya. Oleh karena itu PAI sebagai salah satu mata kuliah yang dikatagorikan masuk dalam kurikulum inti diusahakan bisa membentuk karakter, watak, kepribadian, dan sikap serta wawasan beragama dalam kehidupan sosial. Mata Kuliah PAI diharapkan juga mampu menjadi landasan dan pencerahan bagi mahasiswa dalam pengembangan ilmu umum yang ditekuninya sesuai dengan program studi yang ia ambil.[7] Sehingga pengembangan materi PAI hendaknya harus disesuaikan dengan prodi yang dipilih mahasiswa, dengan artian bahwa dosen memberi materi wawasan dan pedoman pada mahasiswa yang muatannya selaras dengan program studinya.
Sebuah penelitian dari Puslitbang Kehidupan Keagamaan Kementerian Agama RI pada tahun 2010 pada 7 Perguruan Tinggi Umum Negeri (PTUN) yang ternama di Indonesia yaitu UDAYANA, UNDANA, UNHAS, UI, UNDIP, UNPAD, dan UGM dari hasilnya ditunjukkan bahwa sistem pembelajaran Pendidikan Agama (bukan hanya agama Islam) pengaruh yang dimilikinya  merupakan terkecil terhadap toleransi beragama pada mahasiswa dibandingkan dengan komponen lain misalnya adalah lingkungan pendidikan secara luas memiliki pengaruh langsung maupun tidak langsung yang lebih besar terhadap toleransi beragama.[8] Selain itu juga berdasar hasil penelitian Kasinyo Harto di Universitas Sriwijaya Palembang dari hasilnya ditunjukkan bahwa di sana terdapat beberapa organisasi gerakan keagamaan ekstra kampus yang pendekatannya pada kajian keagamaan lebih cenderung bernuansa normatif-doktriner, yaitu suatu pendekatan yang dibangun atas norma-norma keagamaan (wahyu) dengan pola top down dan deduktif tanpa keterlibatan pertimbangan nalar, konteks historis, sosial, dan kenyataan-kenyataan yang hidup di masyarakat.[9] Sehingga nampak dari hasil penelitian tersebut terjadi pola fikir dan tindakan mahasiswa yang ekslusif (tertutup).  
Dua temuan di atas menunjukkan bahwa salah satu komponen dari sistem pembelajaran Pendidikan Agama termasuk Pembelajaran PAI belum berjalan secara integral. Misalnya komponen tujuan dalam sistem pembelajaran belum diarahkan atau ditekankan pada pentingnya bertoleransi agama yang baik dan benar. Salah satunya bertoleransi yang Islami adalah menjadi muslim yang kuat untuk melindungi non muslim  yang lemah, menjadi muslim yang mayoritas untuk mengayomi yang minoritas, dan menjadi muslim yang kokoh untuk menjaga non muslim yang rapuh. Dan juga tentunya toleransi kepada sesama umat Islam sendiri yang memiliki perbedaan pandangan terhadap ajaran Islam. Sehingga ke depannya nanti diharapkan tidak ada mahasiswa yang berpola fikir ekslusif tanpa dilakukan syiar Islam yang cinta dalam pembangunan peradaban, radikal secara buta tanpa pendalaman teks dengan konteks masyarakat secara bersamaan, dan fanatik yang  pada waktu dan tempat yang salah.
Jika ditinjau dari segi alokasi waktu mata kuliah PAI di PTU yang secara formal hanya 2 sks (16 kali tatap muka) dan hanya pada 1 semester saja hingga wisuda  adalah alokasi yang sangat minim untuk tercapainya tujuan pembelajaran secara umum. Oleh karena itu mahasiswa harus punya kesadaran dalam pendalaman dan pengkajian ajaran Islam secara non formal dengan cara ikut serta berbagai kegiatan dan diskusi keagamaan di luar jam kuliah.[10] Maka jika dikaji lebih jauh bagaimana mungkin pembelajaran PAI di PTU bisa dihasilkan generasi umat yang unggul apabila dalam sistem pembelajaran pendidikannya tidak unggul dan berkualitas dengan alokasi yang minim.
Kualitas sistem pembelajaran PAI terwujud tidak hanya karena sebuah kebetulan atau kepasrahan buta pada Tuhan namun diusahakan serta direncanakan. Oleh sebab itu perlu adanya pengkajian dan pendalaman khusus tentang sistem pembelajaran PAI di PTU. Pembelajaran PAI selama ini dipandang sebelah mata oleh kebanyakan kalangan masyarakat baik yang awam maupun yang memiliki keahlian dan ilmu. Cara pandang seperti itu disebabkan karena PAI selama ini hanyak diedentikan dengan ketertinggalan karena sifatnya yang dianggap tidak mau berubah dan cederung tetap dari dulu hingga sekarang mulai dari metode, materi, tujuan, hingga teknologi atau media pembelajarannya.
Memang dari tinjauan ajaran dan kandungannya, materi PAI lebih banyak bersifat dogmatis dan statis dari zaman Nabi Muhammad hingga kiamat. Belum lagi jika ditambahi dengan pengaruh-pengaruh tertentu dari salah satu golongan atau paham tentang keagamaan Islam maka doktrinasi dan penanaman nilai menjadi bertambah kuat serta radikal. Namun demikian semangat serta cara perjuangan dan penyebarluasan syiar Islam tidak bersifat statis melainkan dinamis, luwes, dan universal sehingga sistem pembelajaran PAI bisa disandingkan dengan laju modernitas. Salah satu caranya menurut Wina Sanjaya adalah dengan cara mengaitkan dan adanya rajutan interaksi antara materi (muatan kurikulum) dan pendidik (dosen) PAI dengan materi dan pendidik non-PAI besarta sarana prasarananya.[11]
Dalam Islam kehadiran pendidik PAI tidak hanya sebagai penghakim tentang benar dan salah, pembimbing peserta didik dalam perjalanan belajar, dan sebagai perpanjangan tangan ilmu-ilmu atau ajaran dari para ulama pendahulu saja. Namun pendidik dalam Islam merupakan pewaris para nabi, tidak hanya pewaris ilmu-ilmu nabi namun juga pewaris sifat-sifat nabi yaitu patut menjadi contoh, kepemilikan semangat dalam perjuangan agama Islam (bukan perjuangan dengan paksaan dan kekerasan namun dengan cara kelembuatan dan kasih sayang), dan pendidikan terhadap umat dengan semangat pembaruan (mendobrak tatanan yang mapan untuk kemajuan umat). Oleh karena itu dalam upaya pembaruan dan pengembangan PAI di PTU terlebih dahulu perlu adanya pendalaman terlebih dahulu tentang bagaimana kinerja dari tatanan sistem pembelajaran PAI di PTU.
Sistem pembelajaran PAI pada kurikulum di PTU dapat diumpamakan sebagai salah satu dari beberapa tatatan sistem pada organisme (individu). Pada organisme terdapat sistem peredaran darah, sistem pencernaan, dan sistem pernafasan yang mana di dalam sistem-sistem tersebut terdapat organ-organ yang memiliki fungsi yang adakalanya satu sama lain saling bergantung. Begitu juga dalam kurikulum yang dipadankan dengan organisme terdapat salah satu sistem yaitu sistem pembelajaran PAI yang juga terdiri dari beberapa ‘organ’ atau komponen yang terbentuk saling bekerja sama untuk pewujudan tujuan khusus. Bisa disimpulkan bahwa pengkajian sistem pembelajaran PAI di PTU sangat diperlukan untuk diarahkan pada penelusuran kelemahan dan kekuatannya. Sehingga tidak ada kesan bahwa pelaksanaan mata kuliah PAI di PTU hanya untuk pemenuhan kewajiban undang-undang semata.
Sebagaimana yang telah diketahui secara jamak bahwa pemberian mata kuliah PAI di PTU merupakan hak bagi setiap mahasiswa yang bergama Islam sebagai peserta didik dan merupakan kewajiban bagi perguruan tinggi untuk memuat pendidikan agama dalam kurikulumnya. Pernyataan tersebut sesuai dengan amanat Undang-undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dalam BAB V tentang Peserta Didik pada Pasal 12 Ayat 1 bahwa “setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak: (a) mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianutnya dan diajarkan oleh pendidik yang seagama,.” Serta mengacu pada BAB X tentang Kurikulum pada Pasal 37 Ayat 2 bahwa “kurikulum pendidikan tinggi wajib memuat: a. Pendidikan agama; b. Pendidikan kewarganegaraan; c. Bahasa.”[12]
Seiring dengan berjalannya waktu sejak penetapan Undang-undang tersebut peraturan tersebut banyak dilaksanakan oleh PTU. Tidak terkecuali Universitas Nusantara PGRI Kediri untuk seterusnya nanti sesuai dengan Pedoman Akademik disingkat dengan UNP Kediri[13]. Berdasarkan informasi dari studi pendahuluan yang dilakukan bahwa UNP Kediri pada setiap Program Studi (selanjutnya nanti disebut dengan Prodi) yang berjumlah 22 Prodi dari 5 Fakultas yang ada semuanya terdapat mata kuliah PAI. Walaupun ada beberapa prodi yang belum melaksanakan mata kuliah PAI karena prodi tersebut masih baru berdiri dan untuk mata kuliah PAI-nya dialokasikan pada semester akhir (semester delapan). Sebagaimana menurut Kaprodi PGSD menyatakan bahwa “Berhubung PGSD adalah prodi baru maka prodi kami belum menyelenggarakan mata kuliah agama karena sebaran mata kuliah yang sangat padat, sehingga kami meletakkannya di semeseter akhir [semester delapan]”.[14]  
Namun perlu penulis tegaskan bahwa yang menjadi beberapa alasan logis pemilihan UNP Kediri sebagai tempat penelitian adalah bahwa UNP merupakan perguruan tinggi yang memiliki lebih dari 15.000 mahasiswa yang mayoritanya adalah beragama Islam[15] dan memiliki 22 Prodi dari 5 Fakultas yang ada.[16] Dengan ditemukannya data tersebut maka jika dikontekskan dengan keadaan sosiogeografi Kediri dapat diambil pernyataan bahwa di UNP Kediri mahasiswanya sangat heterogen atau beragam terutama jika didasarkan pada minat mahasiswa dalam memilih prodi walaupun ada prodi-prodi tertentu yang gemuk salah satunya adalah prodi Penjaskesrek.[17] Sehingga untuk penanggulangan realitas tersebut perlu adanya sebuah sistem pembelajaran PAI yang tentu berbeda dengan sistem pembelajaran di perguruan-perguruan tinggi yang berbentuk sekolah tinggi, politeknik, apalagi akademik yang lebih cenderung homogen.
Selain itu berdasarkan observasi dari studi pendahulun terdapat penemuan Masjid bernama An-Nur yang padanya diselenggarakan Sholat Jum’at dengan bukti bahwa ada tulisan peringatan bahwa saat Kuthbah sholat Jumat berlangsung dilarang ramai di sekitar Masjid.[18] Dan di dalam Masjid tersebut juga didirikan sholat Dhuhur, Ashar, dan Maghrib yang aktivitas sholat berjamaah tersebut diikuti oleh peneliti dengan jumlah jamaah putranya berjumlah 20 orang dan untuk jumlah jamaah putrinya lebih dari 7 orang. Dan kadang kala terutama pada sholat Maghrib juga terdapat jamaah-jamaah sholat lain karena disebabkan tempatnya sudah tidak mampu lagi menampung dan juga karena terlambat datang sehinggi mendirikan jamaah sendiri.[19]
Hal unik lainnya adalah bahwa UNP Kediri juga memiliki organisasi mahasiswa yang berbasis pada agama Islam yang bernama Unit Kegiataan Kerohaniaan Islam (UKKI) yang sering mengadakan kegiatan-kegiatan keislaman di kampus.[20] Fenomena lain yang menjadi daya tarik dan alasan untuk dilakukan penelitian tindak lanjut adalah berdasarkan observasi awal di halaman kampus terdapat banyaknya mahasiswa putri yang berjilbab, jika dikalkulasikan berdasarkan prosentasi adalah berjumlah antara 30-45% dari seluruh mahasiswa putri yang berada di halaman kampus memakai jilbab sebagai indikasi terhadap penggunaan simbol-simbol Islam.[21] Berdasarkan temuan awal penelitian tersebut dipandang perlu untuk diadakan penelitian tindak lanjut karena untuk pendalaman apakah data-data awal yang telah ditemukan tersebut merupakan hasil kompetensi lulusan dari sistem pembelajaran mata kuliah PAI yang cukup berhasil atau ada faktor lain yang menyebabkan perilaku mahasiswa secara simbolik bercirikan Islam.
Penulis memandang perlu untuk melakukan penelitian tentang Pembelajaran PAI di PTU karena menurut sebagian kalangan bahwa PTU pada dasarnya masih dipengaruhi oleh pola atau tradisi lama yaitu bahwa pendidikan umum dipandang lebih cenderung dan dominan untuk dikaji serta fokus dalam pengembangan ilmu pengetahuan umum saja. Sehingga dikawatirkan terjadi pengabaian terhadap PAI di lembaga pendidikan umum. Penelitian ini diharapakan juga bisa menemukan jawaban dari asumsi dan pertanyaan-pertanyaan skeptis tentang pelaksanaan pembelajaran PAI di PTU.
UNP Kediri merupakan lembaga Perguruan Tinggi yang memiliki keunggulan terutama dalam hal jumlah mahasiswanya yang sangat banyak dibandingkan perguruan tinggi lain di lingkungan Karisidenan Kediri. Jumlah yang banyak tersebut didukung oleh berbagai latar belakang mahasiswa yang berbeda, baik latar pendidikan pada jenjang pendidikan menengahnya, pemahaman terhadap agama Islam, dan orientasi masuk atau menjadi mahasiswa UNP Kediri. Sehingga peneliti memandang sangat perlu diadakan penelitian tentang sistem pembelajaran PAI di UNP Kediri sebagai kampus yang populer dan terbesar di Karesidenan Kediri.
Berangkat dari fenomena-fenomena dan keunikan permasalahan yang penulis temukan dalam studi pendahuluan yang masih bersifat mendasar serta masih berupa gambaran umum dan bersifat sementara. Maka dapat disimpulkan bahwa sangat perlu diadakan penelitian tindak lanjut secara mendalam di UNP Kediri. Dan dapat peneliti sadari bahwa penelitian tindak lanjut ini sangat diperlukan untuk memperoleh sebuah kesimpulan yang komperhensif, objektif, dan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya sehingga bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Di sisi lain prasangka tanpa dasar akan menjadi simpang siur jika tidak dicari kebenarannya melalui sebuah penelitian ilmiah. Oleh karena itu berdasarkan pemaparan di atas, perlu diadakan penelitian ilmiah  sebagai tindak lanjut yang dalam konteks pembahasan ini disebut tesis yang bertempat di UNP Kediri kemudian dikembangkan ke dalam judul “SISTEM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI PERGURUAN TINGGI UMUM (STUDI KASUS DI UNIVERSITAS NUSANTARA PGRI KEDIRI).”

B.  Fokus Penelitian
Berdasarkan konteks penelitian dan dari studi atau penelitian pendahuluan yang telah dilakukan di UNP Kediri maka fokus penelitian yang akan menjadi acuan dalam pelaksanaan penelitian ini adalah “Sistem Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di UNP Kediri” yang diuraikan dalam sub fokus sebagai berikut:
a.    Materi Kurikulum PAI yang digunakan UNP Kediri.
b.    Kompetensi Mahasiswa yang diharapkan dalam Kurikulum PAI di UNP Kediri.
c.    Strategi Pembelajaran PAI yang digunakan UNP Kediri.
d.   Evaluasi Pembelajaran PAI yang digunakan UNP Kediri.

C.  Tujuan Penelitian
Menindak lanjuti dari fokus penelitian di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk:
a.    Menemukan materi Kurikulum PAI yang digunakan UNP Kediri.
b.    Menemukan Kompetensi Mahasiswa Pasca mengikuti matakuliah PAI di UNP Kediri.
c.    Menemukan Strategi Pembelajaran PAI yang digunakan UNP Kediri.
d.   Menemukan Evaluasi Pembelajaran PAI yang digunakan UNP Kediri.

D.  Manfaat Penelitian
Dengan adanya penelitian ini maka sejumlah harapan atas segala hasil penelitian dapat bermanfaat dan berperan penting dalam penambahan wawasan ilmu pengetahuan dalam dunia pendidikan, khususnya dalam bidang pembelajaran PAI di PTU. Berdasarkan analisa secara komperhensif, maka penelitian yang akan dilakukan ini memang layak untuk dilakukan dan diperdalami karena sangat berguna dan penting bagi terwujudnya syiar Islam yang membawa kasih bagi setiap umat manusia sekaligus karena Islam adalah agama Universal. Pemaparan tentang manfaat yang diharapkan di kemudian hari dari penelitian ini secara detail adalah sebagai berikut:
a.    Manfaat untuk mahasiswa Perguruan Tinggi Umum
1)      Sebagai Liteteratur Mahasiswa dalam mengembangkan ilmu Pendidikan Agama Islam.
2)      Membuka wawasan Keagamaan Mahasiswa sehingga bisa menjadi Umat beragama yang Inklusif (terbuka) dan memiliki toleransi terhadap keberagaman budaya, agama, dan ras yang membentuk masyarakat dinamis. Sehingga mampu menghargai perbedaan dan mampu hidup secara harmonis dengan berbagai macam perbedaan terutama perbedaan agama di berbagai tempat misalnya di tempat kost, kampus, masyarakat, dan dalam pergaluan remaja karena itu adalah ajaran Nabi Muhammad SAW.
b.    Manfaat untuk Dosen di Perguruan Tinggi Umum
1)   Sebagai literatur pembanding atau literatur tambahan bagi dosen PAI dalam upaya mengembangkan pembelajaran PAI.
2)   Sebagai motivasi dosen PAI dalam mengembangkan ilmu pembelajaran Pendidikaan Agama Islam.
c.    Manfaat untuk Lembaga UNP Kediri
1)   Sebagai instumen dalam mengembangkan Sistem Pembelajaran PAI di UNP Kediri.
2)   Sebagai Tambahan literatur Perpustakaan Pusat UNP Kediri.
3)   Sebagai Instrumen UNP Kediri dalam Penggalian informasi tentang pelaksanaan Pembelajaran PAI.
4)   Sebagai salah satu masukan dan informasi pendukung atau pelengkap bagi UNP Kediri dalam proses evaluasi Sistem Pembelajaran PAI.
d.   Manfaat untuk Kementerian Pendidikan Nasional dan Kebudayaan, serta Kementerian Agama Pemerintah Republik Indonesia.
1)   Sebagai Informasi tentang Pelaksanaan Pembelajaran PAI di perguruan tinggi umum.
2)   Sebagai salah satu masukan dalam pengembangan sistem Pembelajaran PAI di PTU.
3)   Sebagai masukan agar pembelajaran PAI di PTU terus mengalami perkembangan dan peningkatan kualitas hingga optimal, kemudian bisa menghasilkan mahasiswa yang memiliki karakter, dan berkomitmen tinggi dalam menjaga kerukunan umat beragama dan  mampu hidup berdampingan secara harmonis dengan berbagai keberagaman suku, ras, dan agama.
e.    Manfaat untuk Semua Masyarakat yang Peduli dalam Pengembangan Ilmu Pengetahuan.
1)   Sebagai instrumen informasi bagi Masyarakat (calon mahasiswa, orang tua calon mahasiswa, dan orang yang peduli terhadap PAI) tentang pelaksanaan pembelajaran PAI di Kediri  yang diharapkan dapat menguntungkan UNP Kediri salah satunya bisa menambah jumlah Mahasiswa
2)   Sebagai rujukan bagi praktisi pendidikan dalam mengambil sikap untuk memutuskan kebijakan dalam mengembangkan pembelajaran PAI di PTU.
3)   Sebagai antitesis (pembanding) dari anggapan ‘lama’ bahwa PAI dipandang sebagai mata kuliah yang tidak aplikatif.
4)   Sebagai literature (referensi) karya ilmiah, khususnya di bidang pembelajaran PAI di PTU.

E.  Definisi Istilah
Kata kunci dan tema atau objek penelitian dalam penelitian ini adalah tentang sistem pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi Umum. Objek penelitian adalah sesuatu yang dijadikan pusat pengkajian dalam sebuah penelitian, atau bisa juga disebut sebagai sebuah permasalahan yang diteliti untuk diselesaikan. Jadi objek penelitian tidak memiliki arti yang sama dengan lokasi atau tempat yang dijadikan penelitian. Sebagaiman menurut Hamidi “objek penelitian adalah fokus, kata-kata kunci atau topik penelitiannya.”[22] Objek penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah sistem pembelajaran PAI di UNP Kediri. Sebagai tindaklanjutnya guna mempermudah pemahaman pembaca terhadap kajian penelitian yang akan dilakukan dan untuk menghindari terjadinya kesalahan dalam menginterpretasikan istilah-istilah dalam judul tesis ini. Maka perlu ditegaskan dan dipaparkan istilah-istilah yang sesuai dengan maksud dan subtansi tesis yang telah dirumaskan berupa istilah-istilah tersebut ke dalam beberapa pemahaman sebagaimana dirumuskan sebagai berikut:
a.    Sistem, adalah satu kesatuan dari beberapa komponen baik benda maupun non benda yang saling berkatian satu dengan yang lain untuk bekerja sama dalam pencapaian tujuan.
b.    Pembelajaran; adalah terjadinya motivasi mahasiswa untuk berinteraksi dengan sumber belajar dan mendalami ilmu pengetahuan yang kemudian ia terapkan dan dikembangkan dalam kehidupan sehari-hari.
c.    Pendidikan Agama Islam; adalah upaya berdakwah dengan mendidik mahasiswa agar mampu melaksanakan dan memahami ajaran serta nilai-nilai Islam supaya menjadi pedoman dalam setiap aspek kehidupannya yang didasarkan pada komitmen dan keimanan kepada Allah SWT sehingga syiar Islam dapat menyebar di masyarakat secara luas baik dalam bidang Bidang Pendidikan (FKIP) UNP Kediri, bidang manajemen Ekonomi, bidang Telekomunikasi dan Komputer, dan bidang- bidang ilmu lain yang ada di UNP Kediri. Selain itu diuapayakan PAI bisa mencetak mahasiswa yang mampu hidup bersama dan berinteraksi secara harmonis dengan berbagai agama yang penuh toleransi namun tetap mempertahankan akidah Islamnya sebagaimana yang telah dicontohkan oleh nabi pada masa pemerintahannya di negara Madinah.
d.   Perguruan Tinggi Umum; adalah Pendidikan Tinggi yang tidak berafilisasi pada ideologi agama tertentu, yang murni untuk pengemnbangan ilmu pengetahuan umum baik secara praktis maupun teoritis. Dalam konteks UNP Kediri pemahaman PTU adalah jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah yang padanya diselenggarakan program pendidikan diploma dan sarjana. Dengan kata lain PTU merupakan lembaga pendidikan tinggi yang secara  terperinci bertujuan mengembangan ilmu pengetahuan umum.

F.   Orisinalitas Penelitian
Secara garis besar kata kunci dari penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah Sistem Pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan Perguruan Tinggi Umum yang menjadi salah satu bagian dari lembaga pendidikan umum. Kata kunci tersebut digunakan sebagai acuan peneliti dalam mencari hasil penelitian dan kajian ilmiah terdahulu dari berbagai sumber relevan dan dapat dipertanggung jawabkan. Artinya pengambilan dan pencantuman hasil dari penelitian dan karya ilmiah terdahulu dalam tesis ini didasarkan pada kemiripan tema, kata kunci, serta  ditinjau dari isi, dasar teori, atau berdasarkan hasil-hasil penelitiannya.
Tujuan dari sub pembahasan ini adalah untuk antisipasi terjadinya titik tekan objek penelitian (masalah yang dikaji) yang sama, terhindar dari pengulangan kajian, dan diketahuinya sisi-sisi yang berbeda antara penelitian terdahulu yang sudah dilakukan secara formal dengan penelitian sekarang ini. Oleh karena itu perlu dikaji secara dalam pada pokok bahasan atau titik tekan tertentu yang belum pernah dibahas secara mendalam oleh penelitian dan kajian ilmiah terdahulu. Pencarian hasil karya ilmiah  terdahulu mengacu dalam bentuk buku, tesis, artikel, atau jurnal ilmiah yang memiliki titik tekan bahasan (tema) yang hampir sama dengan penelitian ini. Sehingga penelitian yang akan penulis lakukan bisa bermanfaat bagi pengembangan teori yang sudah ada, dengan maksud penelitian ini tidak mengulangi pola, prosedur, dan hasil dari penelitian sebelumnya.
Sebagaimana berdasar pada buku pedoman karya tesis dan karya ilmiah Program Pascasarjana STAIN Kediri (buku lama) yang menyatakan bahwa penelitian terdahulu “ditekankan pada penelusuran karya-karya dan penelitian sebelumnya yang memiliki kemiripan tema, disertai penjelasan tentang konstribusi yang akan diberikan oleh peneliti dalam membahas tema tersebut. Dengan demikian peneliti dapat menegaskan posisinya secara signifikan dalam mengembangkan pokok bahasan yang ditelitinya;”[23] Menurut peneliti pernyataan ini memiliki arti bahwa pertama, hasil penelitian terbaru (sekarang ini) harus ada pembuktian posisi yang khas (orisinal) dalam mata rantai pengembangan ilmu dari penelitian terdahulu. Kedua, ditunjukkan hasil penelitian terdahulu yang telah dilakukan oleh orang lain sebagai bukti terjadi perbedaan, dan ketiga penelitian terbaru harus dititik tekankan pada sebuah pendalaman tema untuk penguatan atau bahkan pengkritikan atas penelitian terdahulu sebagai upaya pemberlakuan uji kebenaran teori lama. 
Penelusuran penelitian dan kajian-kajian ilmiah terdahulu dilakukan untuk menemukan posisi hasil penelitian ini dalam kajian keilmuan yang telah ada. Sehingga diharapkan para peneliti selanjutnya mengisi lubang-lubang kekurangan dari penelitian ini untuk kemudian dilanjutkan dengan pengembangan hasil keilmuan yang penulis teliti ini. Kegiatan ini juga dilakukan sebagai langkah untuk terbangunnya kesinambungan dalam mata rantai keilmuan bidang tertentu, dalam konteks tesis ini adalah bidang pembelajaran PAI di PTU. Dengan artian pada penjagaan kesinambungan tersebut maka diharapkan hasil penelitian tesis ini akan dilanjutkan oleh peneliti selanjutnya sebagai upaya pendalaman terhadap kajian tema penelitian. Penelusuran penelitian dan kajian-kajian ilmiah terdahulu yang dilakukan adalah dengan cara penelusuran kepustakaan dalam bentuk pencarian atau eksplorasi terhadap berbagai sumber seperti internet, perpustakaan, dan soft file tesis dari pemberian teman. Dari penelusuran tersebut terdapat beberapa hasil penelitian dan kajian ilmiah  terdahulu yang mempunyai hubungan kata kunci yang sama. Namun ada beberapa yang lain tidak memiliki hubungan secara khusus dengan tema penelitian sehingga tidak dicantumkan dalam tesis ini.
Berbeda dengan beberapa penelitian terdahulu, penelitian sekarang ini lokasi penelitian berada pada PTU swasta yaitu di UNP Kediri. Untuk Penelitian setingkat tesis di UNP Kediri belum pernah diadakan peneletian tentang pembelajaran PAI. Penelitian di UNP Kediri ini memiliki fokus pada sistem pembelajaran PAI secara umum dan lebih luas sedangkan dua buah penelitian sebelumnya lebih cenderung dalam pembahasan strategi pembelajaran PAI di PTU saja. Sedangkan satu buah lainnya tentang peranan pembelajaran PAI dalam menanamakan Nilai Akhlak pada mahasiswa di PTU, yang perlu dikritisi adalah apakah ajaran atau materi dalam PAI hanya tentang Akhlak saja. Lebih spesifik untuk pengembangan semua aspek tersebut yaitu strategi dan penanaman Akhlak mulia melalui pembelajaran PAI perlu ditemukan terlebih dahulu deskripsi dari pelakasanaan sistem pembelajaran PAI secara luas. Kontribusi lain dari penelitian ini jika dibandangkan dengan penelitian terdahulu adalah agar diketahui bagaimana beberapa komponenn dari sebuah sistem pembelajarn PAI bekerja. Sehingga dalam penelitian ini bisa ditemukan data-data yang bisa menggambarakan keadaan pembelajaraan PAI di UNP Kediri secara komperhensif.
Berikut ini adalah isi secara garis besar dari hasil penelitian dan kajian ilmiah terdahulu yang memiliki persamaan tema atau kata kunci yaitu persamaan dalam pembahasan Pembelajaran PAI dan persamaan dalam karakteristik lokasi  penelitian di lembaga pendidikan umum atau PTU. Namun titik tekan yang dimiliki sangat berbeda dengan penelitian yang sekarang ini. Lebih Konkritnya diuraikan sebagai berikut:

1.    Riris Lutfi Ni’matul Laila, dengan judul tesis Strategi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi Negeri (Studi Multi Kasus di Universitas Brawijaya dan Universitas Negeri Malang) yang isinya mengemukakan tentang: a) Konsep strategi pembelajaran PAI: Pengertian, jenis-jenis, faktor yang mempengaruhi, dan prinsip yang mempengaruhi strategi pembelajaran PAI; b) PAI di perguruan tinggi: Pengertian, dasar, tujuan, fungsi, dan kedudukan PAI; dan c) Strategi Pembelajaran PAI: Strategi pengorganisasian isi, strategi penyampaian, dan strategi pengelolaan pembelajaran PAI.[24] Serta hasil dari penelitian itu menemukan bahwa:
a.       Strategi pengorganisasian isi pembelajaran PAI di kedua Universitas tersebut (PTU) dilakukan dengan cara pemilihan jenis materi yang disesuaikan dengan standar kompetensi materi PAI yang telah ditentukan oleh Dirjen DIKTI  berdasarakan SK Dirjen DIKTI No. 43/DIKTI/Kep/2006 tentang Rambu-rambu Pelaksanaan Kelompok Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian (MPK) di Perguruan Tinggi kemudian dikembangkan oleh dosen masing-masing sesuai dengan kondisi mahasiswa.
b.    Strategi penyampaian pembelajaran PAI di kedua Perguruan tinggi umum  tersebut dilakukan dengan cara pemanfaatan berbagai media pembelajaran, mengatur interaksi mahasiswa dengan  media pembalajaran.
c.    Strategi pengelolaan pembelajaran PAI di kedua Universitas Negeri tersebut dilakukan dengan cara mengatur penggunaan strategi pembelajaran terhadap suatu jenis materi pembelajaran yang diperlukan metode, media, dan sistem evaluasi/penilaian yang berbeda.[25]
2.    Lilik Nur Kholidah, dengan disertasinya yang berjudul Implementasi Strategi Pembelajaran Mata Kuliah Pendidikan Agama Islam Pada Perguruan Tinggi Negeri Di Surabaya. Isi secara umum penelitian ini membahas tentang strategi pembelajaran Mata Kuliah PAI pada 3 Perguruan Tinggi Umum di Surabaya yaitu, Universitas Airlangga (UNAIR), Universitas Negeri Surabaya (UNESA), dan Institut Teknologi Negeri Surabaya (ITS). [26] Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa:
a.    Adanya pengorganisasian materi, menjabarkan isi bahan, mengurutkan isi materi menjadi menjadi sub-sub tema
b.    Pemanfaatan media pembelajaran dalam proses penyampaian pembelajaran mata kuliah PAI (dosen, pesan, bahan, alat, teknik dan latar) di ketiga situs terteliti, tampak sangat membantu proses pencapaian tujuan pembelajaran.
c.    Pengelolaan motivasional dilakukan dengan cara memberikan penilaian secara langsung, memberikan kebebasan untuk memanfaatkan latar, media pembelajaran, memberikan bimbingan secara individual, dan memberikan penghargaan terhadap kegiatan positif yang dilakukan oleh mahasiswa.
d.   Faktor internal yang mempengaruhi strategi pembelajaran dari sisi dosen adalah kemampuan dan keterampilan dosen dalam bidang PAI, minat dan motivasi dosen dalam mengajar mata kuliah PAI. Dari sisi mahasiswa adalah kemampuan, motivasi dan minat mahasiswa dalam mengikuti proses pembelajaran mata kuliah PAI. Sementara faktor eksternal yang mempengaruhi strategi pembelajaran adalah visi, misi perguruan tinggi, kurikulum, sarana prasarana yang ada pada setiap perguruan tinggi serta karakteristik mata kuliah PAI yang cenderung bersifat afektif dan menekankan pada sikap.
e.    Sebagian besar mahasiswa PTN di kota Surabaya telah menerapkan mata kuliah PAI dalam kehidupan sehari-hari.
f.     Pembelajaran mata kuliah PAI telah menunjukkan kualitas yang tercermin dari kemampuan dosen memfasilitasi proses belajar dalam menghasilkan proses dan hasil belajar yang optimal sesuai dengan tuntutan kurikuler.[27]
3.    Marzuki, dengan judul karya tulis ilmiahnya adalah Penanaman Nilai-nilai Akhlak Mulia di Kalangan Mahasiswa Melalui Perkuliahan Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi Umum. Karya ilmiah ini merupakan tindak lanjut dari hasil laporan penelitian oleh Marzuki sendiri yang dilakukan pada tahun 2008 di Universitas Negeri Yogyakarta dengan judul “Pembentukan Kultur Akhlak Mulia di Kalangan Mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta Melalui Pembelajaran PAI” yang diterbitkan oleh FISE UNY. Abstrak dari kajian ilmiah ini adalah sebagai berikut:

Tujuan pendidikan nasional adalah untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Sebagai bagian dari pendidikan nasional, Pendidikan Agama Islam mempunyai peran yang sangat penting dan strategis dalam rangka mewujudkan fungsi dan tujuan pendidikan nasional. Karena itulah, Pendidikan Agama Islam menjadi salah satu mata kuliah pokok dari mata kuliah pengembangan kepribadian (MPK). Salah satu tujuan yang paling mendasar dari perkuliahan Pendidikan Agama Islam di perguruan tinggi umum (PTU) adalah terbentuknya manusia yang memiliki akhlak mulia dengan didasari iman yang tangguh dan aturan-aturan syariah yang memadai. Penanaman nilai akhlak mulia di kalangan mahasiswa, karena itu, menjadi penting untuk memfasilitasi mahasiswa agar benar-benar terbina akhlaknya di samping berkembang intelektualitas dan kreativitasnya.[28]

Supaya pemaparannnya mendalam maka perlu disajikan persamaan dan perbedaan bidang kajian dalam tesis ini dengan penelitian dan kajian ilmiah terdahulu sebagai bukti orisinalitas penelitian dengan digunakan bentuk tabel agar lebih spesifik ebagai berikut:

Tabel 1.1
Orisinalitas Penelitian

No.
Nama Peneliti, Judul, dan Tahun Penelitian
Persamaan
Perbedaan
Orisinalitas Penelitian
1.
Riris Lutif Ni’matul Laila, Strategi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Universitas Brawijaya dan Universitas Negeri Malang, 2012.
Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (di PTU)
Strategi Pembelajaran PAI
1.     Bagaimana Materi Kurikulum PAI-nya?
2.     Mengapa tidak menyajikan kondisi keagamaan mahasiswa?
3.     Kompetensi Mahasiswa apa yang diharapkan?
4.     Bagaimana pelaksanaan evaluasi yang dilakukan?
2.
Lilik Nur Kholidah, Implementasi Strategi Pembelajaran Mata Kuliah Pendidikan Agama Islam Pada Perguruan Tinggi Negeri di Surabaya Disertasi.
Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (di PTU)
Implementasi Strategi Pembelajaran Mata Kuliah PAI

1.    Bagaimana evaluasi dari aspek kognitif, afektif, dan psikomotoriknya?
2.    Mengapa tidak dijelaskan arah Pembelajaran PAI di PTU sesuai dengan kondisi keberagaman (karakter) mahasiswa atau perguruan tinggi tersebut?
3.
Marzuki, Penanaman Nilai-nilai Akhlak Mulia di Kalangan Mahasiswa Melalui Perkuliahan Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi Umum
Pendidikan Agama Islam (di PTU)
Penanaman Nilai Akhlak Mulia pada Mahasiswa melalui Pembelajaran PAI di Perguruan Tinggi Umum.
1.   Bagaimana kondisi mahasiswa?
2.   Mengapa aspek nilai akhlak (moralitas) menjadi titik tekan utama dalam pembelajaran PAI?

G.  Sistematika Pembahasan
Penulisan tesis ini secara teknis dibagi menjadi tiga bagian utama yaitu pertama bagian awal tesis; yang memuat beberapa halaman terletak pada sebelum halaman yang memiliki bab. Kedua bagian inti tesis; yang memuat beberapa bab dengan format (susunan/sistematika) penulisan disesuaikan pada karakteristik pendekatan penelitian kualitatif. Dan ketiga bagian akhir tesis; meliputi daftar rujukan, lampiran-lampiran yang berisi lampiran foto atau dokumen-dokumen lain yang relevan, dan daftar riwayat hidup penulis yang diuraikan secara naratif terdiri dari beberapa paragraf.[29]
Penelitian ini terdiri dari enam bab, yang mana satu bab dengan bab lain memiliki keterkaitan dan ketergantungan secara sistematis, berurutan pembahasannya dari bab pertama hingga ke enam. Dengan artian bahwa dalam pembacaan tesis ini secara utuh dan benar adalah harus diawali dari bab satu terlebih dahulu, kemudian baru bab ke dua, dan seterusnya secara berurutan hingga bab ke enam. Dengan kata lain karena penelitian ini adalah penelitian kualitatif maka analasa yang digunakan adalah berpola induktif yaitu dari khusus ke umum.[30] Artinya, penelitian ini terdapat pemaparan pernyataan-pernyataan yang didasarkan pada realitas (khusus), kemudian disimpulkan dengan cara mengembangkan teori berdasarkan realitas dan teori yang ada (umum). Sebagaimana menurut Trianto bahwa penelitian yang induktif adalah kegiatannya dimulai dari pengumpulan data yang kemudian dikaji dan disimpulkan secara rasional dengan acuan pada pengetahuan (teori) yang relevan.[31] Jika digambarkan hubungan antara beberapa bab dan sejauh mana cakupan pembahasannya tersebut maka dapat diuraikan sebagai berikut:

 
                                                                                      Dasar (pijakan)
Eksplorasi Teori

  Khusus                                                                                       Struktur Instrumen
 Pemaparan temuan data
                                                                                                                                                                         
  Pengembangan bahasan (gagasan)                                                                                 
   Umum                                                                              Kesimpulan (konklusi)

Gambar 1.1  Model Penelitian Piramida Terbalik

Model Penelitian piramida terbalik tersebut digunakan agar bacaan mudah dipahami secara tuntas dan komperhensif sehingga bisa diketahui isi tesis secara utuh dan benar. Lebih lanjut guna mempermudah penulisan dan pemahahman secara menyelur tentang pembahasan penelitian ini, maka dipandang perlu untuk pemaparan sistematika penulisan laporan dan pembahasan tesis sesuai dengan penjabaran berikut:
a.    Bab pertama merupakan konteks penelitian, fokus penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, orisinalitas penelitian, definisi istilah, dan diakhiri dengan sistematika pembahasan. Dalam bab ini secara umum pembahasannya berisi tentang harapan supaya pembaca bisa menemukan latar belakang atau alasan secara teoritis dari sumber bacaan terpercaya dan keadaan realistis di lokasi penelitian. Selain itu dalam bab ini juga dipaparkan tentang posisi tesis dalam ranah ilmu pengetahuan yang orisinal dengan tetap dijaga hubungan kesinambungan ilmu pengetahuan masa lalu. Dengan demikian disimpulkan bahwa  bab ini menjadi dasar  atau titik acuan metodologis dari bab-bab selanjutnya. Artinya bab-bab selanjutnya tersebut isinya adalah penemuan teori-teori yang kokoh atau terpercaya kemudian teori tersebut dikembangkan, menentukan metodologi penelitian, menemukan data yang kemudian dianalisis serta diakhiri dengan pemaparan data di lokasi penelitian, dan sebagainya yang semua penulisannya tersebut didasarkan atau mengacu pada bab 1 ini sebagi patokan pengembangannya.  
b.    Bab kedua memuat kajian pustaka atau kajian teori yang meliputi pengertian sistem pembelajaran PAI, peran penting dan tujuan pembelajaran PAI, faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan sistem pembelajaran PAI, pengertian Perguruan Tinggi Umum, Standar Nasional Kurikulum PAI di perguruan tinggi umum, Kompetensi Mahasiswa yang diharapkan setelah mengikuti mata kuliah PAI, strategi pembelajaran PAI diperguruan tinggi umum, dan evaluasi pembelajaran PAI di PTU. Bab ini memuat tentang bagimana ciri khusus sistem pembelajarn PAI termasuk faktor-faktor pengaruhnya, penjelasan tentang alasan penggunakan istilah PTU beserta contoh-contohnya, dan pendalaman teorit tentang Materi PAI di PTU, Kompetensi mahasiswa yang diharapkan setelah mengikuti mata kuliah PAI di PTU, stretegi pembelajaran PAI di PTU, dan Evaluasi pembelajaran PAI di perguruan tinggi umum.  
c.    Bab ketiga merupakan metodologi penelitian yang mengurai tentang pendekatan dan jenis penelitian, kehadiran peneliti, lokasi penelitian, sumber data, prosedur pengumpulan data, analisis data, pengecekan keabsahan data, dan tahap-tahap penelitian. Lebih jelasnya bab ini dijelaskan tentang alasan penggunaan pendekatan kualitatif, posisi atau peran peneliti di lokasi penelitian, penjelasan keadaan secara konkrit lokasi penelitian, dan strategi penelitian yang digunakan agar dihasilkan penelitian penelitian ilmiah yang bisa dipertanggungjawabahkan secara hukum dan kaidah keilmiahan yang universal.
d.   Bab keempat berisi pemaparan data-data dari hasil penelitian tentang gambaran umum yang berkaitan dengan sistem pembelajaran PAI di UNP Kediri meliputi data dosen PAI, latar belakang Mahasiswa, kegiatan keagamaan agama Islam, pengaturan sistem pembelajaran PAI oleh Pengelola, kepedulian pengelola terhadap kegiatan keagamaan di kampus, dan upaya pembentukan forum dosen PAI di UNP. Sedang temuan penelitian ini dihasilkan tentang sistem pembelajaran PAI di UNP yang diuraikan pada Materi Kurikulum PAI, Kompetensi Mahasiswa yang diharapkan setelah mengikuti mata kuliah, Strategi Pembelajaran PAI, dan Evaluasi Pembelajaran PAI.
e.    Bab kelima pembahasan tentang hasil penelitian yang terkait dengan tema penelitian dengan cara penelusuran untuk titik temu antara teori yang sudah di paparkan di bab 1, dan bab 2 yang kemudian dikaitkan dengan hasil penemuan penelitian yang merupakan realitas empiris. Dengan artian pada bab ini dilakukan pembahasan secara holistik dengan cara pengembangak gagasan yang didasarkan pada bab-bab sebelumnya.
f.     Bab keenam adalah penutup yang berisi kesimpulan dan saran-saran atau rekomendasi, kemudian dilanjutkan dengan daftar rujukan dan lampiran-lampiran. Bab ini berisi tentang inti sari dari hasil penelitian yang dikerucutkan, kemudian berdasarkan pada bab-bab sebelumnya dijabarkan implikasi teoritis dan praktis dari hasil penelitian ini yang ditindaklanjuti dengan pemberian beberapa rekomendasi ilmiah.


[1]Hisyam Zaini, Desain Pembelajaran di Perguruan Tinggi (Yogyakarta: Center for Teaching Staff Development IAIN Yogyakarta, 2002), 4
[2]Yahya Ganda, Petunjuk Praktis: Cara Mahasiswa Belajar di Perguruan Tinggi (Jakarta: Grasindo, 2004), x.
[3]Agus M. Hardjana, Kiat Sukses Studi di Perguruan Tinggi (Yogyakarta: Kanisius, 1994), 34.
[4]E.P. Hutabarat, Cara Belajar: Pedoman Praktis untuk Belajar Secara Efisien dan Efektif. Pegangan bagi Siapa saja yang Belajar di Perguruan Tinggi (Jakarta: Gunung Mulia, 1988), 115-116.
[5]Andreas Anangguru Yewangoe, “Agama dan Kerukuanan,” Buku Google, http://books.google.co.id/books?id=SykwKPJfFKkC&hl=id, diakses tanggal 26 Maret 2013, hlm. 40.
[6]Ganda, Petunjuk Praktis: Cara, 2.
[7]Abidin Nurdin, “Pendidikan Agama, Multikulturalisme & Kearipan Lokal (Internalisasi Nilai-nilai Agama pada Perguruan Tinggi Umum Menuju Kerukunan Umat Beragama),” Jurnal Penamas, Vol. XXIV No. 2  (2011), Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Jakarta,  179.
[8]Badan Litbang dan Diklat Kementrian Agama, Toleransi Beragama Mahasiswa (Studi Tentang Pengaruh Kepribadian, Keterlibatan Organisasi, Hasil Belajar Pendidikan Agama, dan Lingkungan Pendidikan terhadap Toleransi Mahasiswa Berbeda Agama pada 7 Perguruan Tinggi Negeri Umum Negeri) (Jakarta: Maloho Jaya Abadi,2010), 139.
[9]Kasinyo Harto, Islam Fundamentalis di Perguruan Tinggi Umum: Kasus Gerakan Keagamaan Mahasiswa Universitas Sriwijaya Palembang (Jakarta: Badan Litbang dan Diklat Depag RI, 2008), xvii.
[10]Wahyudin, dkk., “Pendidikan Agama Islam untuk Perguruan Tinggi,” Buku Google, http:// books.google.co.id/books?isbn=9790258623, diakses tanggal 26 Maret 2013, hlm. x-xi.
[11]Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan (Jakarta: Kencana, 2008), 5.
[12]Undang-undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional 2003 Beserta Penjelasannya, Jakarta: Cemerlang, 2003.
[13]Walaupun letaknya di kawasan adminsitratif Kota Kediri namun dalam buku pedoman akademik Universitas Nusantara PGRI Kediri BAB III Pasal 6 tentang batasan dan pengertian  ayat 1 menerangkan bahwa “Universitas adalah Universitas Nusantara PGRI Kediri yang selanjutnya disingkat UNP Kediri.” Lihat Buku Pedoman Akademi UNP Kediri halaman 10.
[14]Endang Sri Mujiwati, Kaprodi PGSD UNP Kediri, Kantor Kaprodi PGSD UNP Kediri, 14 Maret 2013.
[15]Nur Sokhib, Dosen PAI Prodi Penjaskesrek dan Prodi PKn, Tempat Piket Guru SMA 7 Kota Kediri, 09 Februari 2013.
[16]“Data Program Studi UNP Kediri,” UNP Kediri, http://www. unpkediri.ac.id/?p=tabel&inis=prodi, diakses tanggal 09 Februari 2013.
[17]Staff Kaprodi Penjaskesrek, Ruang Kantor Kaprodi Penjaskesrek UNP Kediri, 11 Maret 2013.
[18]Observasi, di UNP Kediri, 11 Desember 2012.
[19]Observasi, di UNP Kediri, 11, 25,  dan 27 Februari dan 14 Maret  2013.
[20]Anonim, Mahasiswa Prodi Ekonomi Akuntasi semeseter IV, Pusat Fotocopy Selatan Masjid UNP Kediri, 11 Februari 2013.
[21]Observasi, di UNP Kediri, 11,19 Desember 2012 dan 11 Februari 2013.
[22]Hamidi, Metode Penelitian Kualitatif:Pendekatan Praktis Penulisan Proposal dan Laporan Penelitian (Malang: UMM Press, 2010), 74.
[23]Tim Penyusun, Buku Pedoman Penulisan Tesis dan Karya Ilmiah Program Pascasarjana (Kediri: STAIN Kediri, 2011), 11.
[24]Riris Lutfi Ni’matul Laila, “Strategi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi Negeri (Studi Multi Kasus di Universitas Brawijaya dan Universitas Negeri Malang),” (Tesis M.Pd.I, UIN Maulana Malik Ibrahim, Malang, 2012), viii.
[25]Ibid., xiii-xiv.
[26]Lilik Nur Kholidah, Implementasi Strategi Pembelajaran Mata Kuliah Pendidikan Agama Islam Pada Perguruan Tinggi Negeri Di Surabaya (Disertasi Doktor, Universitas Negeri Malang, Malang)
[27]http://www.library.um.ac.id/free-contents/downloadpdf.php/pub/implementasi-strategi-pembelajaran-mata-kuliah-pendidikan-agama-Islam-pada-perguruan-tinggi-negeri-di-surabaya-lilik-nur-kholidah-45687-03083KI10-LILIK%20NUR%20KHOLIDAH.pdf, diakses tanggal 31 Januari 2013.
[28]Marzuki, “Penanaman Nilai-nilai Akhlak Mulia di Kalangan Mahasiswa Melalui Perkuliahan Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi Umum,” Staff UNY, http:// staff.uny.ac.id/sites/default/files/penelitian/Dr.%20Marzuki,%20M.Ag./Dr.%20Marzuki,%20M.Ag_.%20Penanaman%20Nilai-nilai%20Akhlak%20Mulia%20di%20Kalangan%20Mahasiswa%20melalui%20Perkuliahan%20PAI%20di%20PTU.pdf, diaskes tanggal 31 Januari 2013.
[29]Tim Penyusun, Pedoman Penulisan Tesis & Karya Ilmiah Program Pascasarjana (Kediri: Program Pascasarjana STAIN Kediri, 2012), 16-21.
[30]Ibid,.
[31]Trianto, Pengantar Penelitian Pendidikan bagi Pengembangan Profesi Pendidikan dan Tenaga Kependidikan (Jakarta: Kencan, 2010), 155.

No comments:

Post a Comment