Pengembangan Pendidikan Agama Islam: Reinterpretasi Berbasis Interdisipliner

Pengembangan Pendidikan Agama Islam

--- SELALU ADA YANG BARU DI BLOG BANJIR EMBUN: "Kami Mengucapkan Terima Kasih Atas Kunjungan Anda. Bila butuh bantuan atau ada pertanyaan silakan hubungi ke nomor 08563350350 atau kirim email ke: banjirembun@yahoo.co.id subjek: BanjirEmbun Menjawab”---

Sabtu, 24 Agustus 2013

Contoh BAB II Tesis: Kompetensi Mahasiswa yang Diharapkan setelah Mengikuti Mata Kuliah PAI di PTU


 Oleh: A. Rifqi Amin

2.    Kompetensi Mahasiswa yang Diharapkan setelah Mengikuti Mata Kuliah PAI di PTU

Secara institusional tujuan pendidikan dan pengajaran PAI di PTU meliputi pertama kognitif berisi tentang pengetahuan, pemahaman, dan pengertian tentang akidah dan syariah Islam (Q.S al-Tawbah: 122). Kedua psikomotorik bermuatan pengamalan, penghayatan, dan keyakinan pada syari’ah Islam baik ibadah maupun muamalah sehingga ia mampu berzikir pada Allah dan bertafakur tentang ciptaan-Nya (Q.S ali Imran: 190-191). Ketiga merupakan Afektif yang terdiri dari  pembudayaan diri dan lingkungannya dengan nilai-nilai Islam (Q.S. al Baqarah 138 dan Q.S ali Imran: 110). Dan tujuan keempat adalah menjadi sarjana muslim yang mampu dalam pengamalan ilmu dan keterampilannya sesuai dengan ajaran Islam (Q.S Ibrahim: 24-27).[1]
Sedang secara umum kemampuan mahasiswa yang harus tercapai setelah ikut serta pada mata Kuiah PAI diantaranya meliputi kemampuan literasi, numerasi, pemahaman perkembangan sejarah, pengertian terhadap pluralitas, kedewasaan moral, kedewasaan estetika, pemahaman terhadap proses pencarian kebenaran, dan kelapangan dada terhadap perbedaan penemuan ilmu pengetahuan teknologi. Dengan demikian dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dilakukan mahasiswa perlu disertai nilai kepercayaan pada kemahakuasaan Tuhan supaya ia tidak sombong dan merasa unggul setelah kemudian berhasil menjadi ilmuwan atau menjadi penemu.[2] Oleh karena itu dengan adanya  PAI salah satunya berfungsi supaya mahasiswa mampu dalam pengatasan dan pengendalian emosi serta kehendak ketika mereka berhasil dalam proses pengembangan ilmu pengetahuan umum berupa terciptanya produk-produk IPTEK.
Pelaksanaan pembelajaran PAI di PTU tidak hanya dijalankan untuk pemenuhan kewajiban penyelenggaraan perkuliahan saja namun juga memiliki visi dan misi. Visi PAI di PTU adalah “menjadikan agama sebagai sumber nilai dan pedoman berperilaku mahasiswa dalam menekuni disiplin ilmu yang dipilihnya.” Sedangkan misinya adalah pemberi motivasi mahasiswa dalam pengamalan nilai-nilai agama untuk produktifitas dan pemanfaatan IPTEK.[3] Bisa dikatakan PAI di PTU tidak hanya berperan pada pecerdasan mahasiswa dalam beragama secara teoritis dan praktis namun juga pendorong mahasiswa untuk pengembangan ilmu pegetahuan umum beserta produk-produknya. Bisa dikatakan fungsi PAI di PTU adalah sebagai penyokong mata kuliah lain yaitu sebagai pembentuk mental, kepribadian, dan inspirasi bagi mahasiswa dalam pengembangan materi-materi mata kuliah umum tersebut. Dengan kata lain diharapkan mahasiswa berkompetensi dalam ilmu pengetahuan umum yang didasarkan pada sumber nilai dan pedoman ajaran agama Islam.
Memang tidak mungkin keilmuan bisa dikuasai dalam semua bidang-bidangnya oleh  seseorang secara utuh dalam waktu bersamaan. Namun secara hakiki PAI bisa dijadikan pendorong terhadap munculnya penemuan-penemuan yang sangat diperlukan untuk pemecahan sebagaian dari persoalan dunia.[4] Dengan kata lain muatan kompetensi dalam PAI sangat dihargai bahkan menjadi pendorong untuk tejradinya perkembangan ilmu pengetahuan. Hal ini sebagaimana yang tertuang pada SK no. 34/2006 Dirjen Dikti dalam pasal 3 ayat 2 poin (a) diterangkan tentang pendidikan agama di perguruan tinggi harus punya kompetensi dasar sebagaimana rumusan berikut yaitu lulusan atau mahasiswa harus “menjadi ilmuwan dan profesional yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, dan memiliki etos kerja, serta menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan kehidupan.[5]
Idealnya mahasiswa yang ikut dalam mata kuliah PAI punya bekal minimal dan standar yang ditentukan oleh lembaga perguruan tinggi yang bersangkutan, serta siap dihadapkan pada pemikiran-pemikiran kritis yang tidak emosional. Oleh karena itu mahasiswa dituntut mampu dalam pembedaan antara ajaran Islam yang dihasilkan dari penafsiran dengan ajaran atau pemikiran agama yang murni tanpa penafsiran.  Namun pada kenyataannya banyak ditemui di PTU tentang sejumlah mahasiswa yang  punya kesiapan dan kemampuan agama Islam tersebar secara tidak merata. Dengan kata lain ada mahasiswa yang punya kemampuan unggul dalam agama Islam, namun ada pula yang nyaris buta dalam ajaran agama.[6]
Dari pemaparan di atas maka dapat diambil kesimpulan PAI tidak hanya berkutat pada pengetahuan atau wawasan ilmu agama namun juga sebagai pemberi kontribusi bagi mahasiswa menjadi ilmuwan profesional yang agamis. Pernyataan tersebut didukung oleh Zainul Muhibbin, dkk. diterangkan PAI di PTU diharapkan mampu dalam penciptaan lulusan dengan kualifikasi sebagai berikut:
a.    Manusia yang unggul secara intelektual; penguasaan terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi, seni, dan keterampilan yang bermanfaat bagi masyarakat.
b.    Manusia yang anggun secara moral; punya nilai-nilai religius, etika, moral, dan estetika yang berguna bagi kehidupan pribadi dan masyarakat di mana ia tinggal.
c.    Berkompeten; penguasaan ilmu pengetahuan umum dan teknologi yang relevan dengan kebutuhan zaman.
d.   Memiliki komitmen tinggi bagi berbagai peran sosial kemanusiaan.[7]


[1]Anonim, dalam Dinamika Pemikiran Islam di Perguruan Tinggi, ed. Fuaduddin&Cik Hasan Bisri (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999), 142.
[2]Ibid., 82.
[3]Sudrajat, Din-al-Islam Pendidikan Agama, iv.
[4]Anonim, dalam Dinamika Pemikiran Islam di Perguruan Tinggi, ed. Fuaduddin&Cik Hasan Bisri (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999), 83.
[5]Keputusan Dirjen Dikti Depdiknas RI Nomor: 43/DIKTI/Kep/2006 tentang Rambu-rambu Pelaksanaan Kelompok Matakuliah Pengembangan Kepribadian di Perguruan Tinggi.
[6]Mastuhu, “Pendidikan Agama Islam, 33-34.
[7]Zainul Muhibbin, Pendidikan Agama Islam: Membangun Karakter Madani (Surabaya, ITS Prress, 2012),  6-7.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar