--- SELALU ADA YANG BARU DI BLOG BANJIR EMBUN: "Kami Mengucapkan Terima Kasih Atas Kunjungan Anda. Bila butuh bantuan atau ada pertanyaan silakan hubungi ke nomor 08563350350 atau kirim email ke: banjirembun@yahoo.co.id subjek: BanjirEmbun Menjawab”---

Sabtu, 24 Agustus 2013

Contoh BAB II Tesis: Peran Penting Sistem Pembelajaran PAI


 Oleh: A. Rifqi Amin


3.      Peran Penting Sistem Pembelajaran PAI
Proses pembelajaran agama Islam adalah sebagai perwujudan dakwah yang senantiasi terjadi secara dinamis serta dimunculkannya kesadaran motivasi yang besar pada peserta didik guna pencarian keridhaan dari Allah SWT. Jika pembelajaran agama Islam dimaknai sebagai sesuatu yang statis maka pembelajaran hanyalah menjadi rutinitas yang kurang dimiliki makna. Selain itu pembelajaran pendidikan Islam hendaknya didasarkan dan digerakkan pada keimanan dan komitmen tinggi terhadap ajaran agama Islam.[1] Oleh karena itu untuk diperolehnya hasil dan pencapaian tujuan secara optimal pada pembelajaran PAI maka perlu dibentuknya sistem pembelajaran PAI secara utuh dan kokoh. Selain itu dengan adanya sistem pembelajaran PAI yang kokoh dapat menjadi pengaruh positif, baik sistem pembelajaran PAI yang dinaungi oleh satu pendidik sebagai penanggung jawab tujuan pembelajaran di dalam kelas (sistem pembelajaran PAI yang dilaksanakan dan dikelola oleh satu pendidik) maupun sistem pembelajaran PAI dalam lingkup satu lembaga yang terdiri dari seluruh pendidik atau dosen PAI di lembaga tersebut dalam usaha pensuksesan tujuan  institusional.
Guna sebagai pendukung pada pembahasan di atas tentang peran penting sistem pembelajaran PAI secara umum dan lebih bersifat konstruksi pada PAI agar eksistensinya terjaga maka menurut Wina Sanjaya ada beberapa manfaat yang dicapai jika kajian tentang sistem pembelajaran dilaksanakan dengan baik, di antara manfaat tersebut adalah:
a.      Arah dan tujuan pembelajaran dapat direncanakan serta dirumuskan dengan jelas, konkrit, dan terorganisir. Hal ini supaya dapat membantu dalam penentuan langkah-langkah proses pembelajaran, sebagai bahan utama dalam pengembangan komponen-komponen pembelajaran, dan dijadikan tolak ukur sejauh mana efektivitas proses pembelajaran.
b.      Kinerja pendidik lebih sistematis, sehingga pola fikirnya dan kegiatannya lebih runtut yang dimungkinkan diperoleh hasil optimal. Dengan kata lain bisa terhindar dari kegiatan-kegiatan yang tidak perlu dilakukan.
c.      Sebagai perancang pembelajaran dengan optimalisasi segala potensi serta sumber daya yang relevan dan tersedia. Pada akhirnya diharapkan tercapainya efisiensi, dengan alakosi waktu yang sama namun bisa dihasilkan mutu pembelajaran yang berkualitas.
d.     Menjadi bahan umpan balik, yaitu untuk diketahuinya keberhasilan pembelajaran sudah sesuai tujuan atau belum. Selain itu untuk penilaian komponen pembelajaran manakah yang perlu ditingkatkan dan diperbaiki kualitasnya agar bisa pada tahap pencapaian tujuan pembelajaran yang diharapkan.[2]
Dari pembahasan di atas maka dapat diambil intisarinya yaitu sistem pembelajaran secara umum punya nilai guna teknis yang sangat tinggi dan sebagai instrumen dalam perbaikan-perbaikan dari beberapa komponen pada sistem yang dinilai masih kurang. Namun sebagaimana pada pembahasan sebelumnya khusus untuk sistem pembelajaran PAI di dalamnya perlu ditambah komponen yang tak nampak (non fisik) yaitu penyelenggaraan sistem pembelajaran PAI menjadi bagian dari salah satu bentuk dakwah. Artinya penyelenggaraan sistem pembelajaran PAI tidak hanya bentuk mentransfer ilmu saja, namun sebagai wujud dakwah atau ajakan untuk menuju kebenaran. Dengan penekanan pada ajakan atau seruan ini maka sistem pembelajaran PAI bisa menjadi salah satu cara dalam mencetak generasi yang cinta pada kebenaran, pada nilai-nilai moralitas, dan nilai-nilai etika serta estetika yang Islami. Sebagaimana menurut Syafaruddin dan Irwan Nasution  tentan perang penting sistem pembelajaran adalah sebagai bantuan bagi pendidik supaya mudah dalam pelaksanaan pembelajaran sehingga mampu menjadi pengantar peserta didik  kepada tujuan. Selain itu agar kinerja dosen bisa dipermudah dengan adanya solusi permasalahan yang terjadi pada pembelajaran secara holistik yang muncul bisa dari peserta didik, pendidik (dosen), kurikulum, dan karena faktor lingkungan.[3]
Berdasarkan pembahasan di atas dapat disimpulkan tentang peran penting sistem pembelajaran PAI dengan sudut pandang tertentu bisa digunakan dalam penilaian dan pemahaman tentang PAI yang tidak hanya berkutat tentang masalah–masalah syariat seperti benar-salah, haram-halal, pahala-dosa, iman-kafir, dan surga-neraka. Namun sistem pembelajaran PAI diupayakan bisa terjadi pemaduan antara pengetahuan keagamaan dengan upaya pengembangan ilmu pengetahuan teknologi untuk peningkatan mutu manusia. Sebagaimana menurut Peraturan Pemerintah RI Nomor 55 Tahun 2007 pada pasal 2 ayat 2 yang diterangkan “Pendidikan agama bertujuan untuk berkembangnya kemampuan peserta didik dalam memahami, menghayati, dan mengamalkan nilai-nilai agama yang menyerasikan penguasaannya dalam ilmu pengetahuan, teknologi dan seni.[4]


[1]Moh. Roqib, Ilmu Pendidikan Islam: Pengembangan Pendidikan Integratif di Sekolah, Keluarga, dan Masyarakat (Yogyakarta: Lkis, 2009), 18-19.
[2]Sanjaya, Perencanaan dan Desain, 7-8.
[3]Syafaruddin & Irwan Nasution, Manajemen Pembelajaran (Ciputat: Ciputat Press, 2005), 49.
[4]Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 55 Tahun 2007 tentang Pendidkan Agama dan Pendidikan Keagamaan.

0 komentar:

Poskan Komentar