Pengembangan Pendidikan Agama Islam: Reinterpretasi Berbasis Interdisipliner

Pengembangan Pendidikan Agama Islam

--- BUKU MURAH (ASLI bukan FOTOCOPY-AN/BUKAN BUKU BAJAKAN): " Buku MURAH BERKUALITAS hanya Rp.47.000,- (belum ongkos kirim) berjudul PENGEMBANGAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM: REINTERPRETASI BERBASIS INTERDISIPLINER (Yogyakarta: LKiS, 2015). Sebagai info harga buku ini di pasaran berkisar 70-90 ribu). Info lebih lanjut hubungi: 08563-350-350 (11 digit)”---

Saturday, August 24, 2013

Contoh BAB II Tesis: Strategi Pembelajaran PAI di Perguruan Tinggi Umum


 Oleh: A. Rifqi Amin

3.    Strategi Pembelajaran PAI di Perguruan Tinggi Umum
Stertegi pembelajaran adalah perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang didesain untuk pencapaian tujuan pendidikan tertentu. Dengan kata lain strategi digunakan untuk diperolehnya kesuksesan atau keberhasilan dalam pencapaian tujuan. Sedangkan metode adalah upaya pengimplementasian rencana yang sudah disusun dalam kegiatan yang nyata agar tujuan yang disusun tercapai secara optimal. Dengan demikian metode digunakan untuk perealisasiaan strategi  yang telah ditentukan. Artinya bisa terjadi pada satu stertegi pembelajaran digunakan beberapa metode misalnya ceramah, tanya jawab, diskusi dll.[1]
Sedangkan Made Wena fokus dalam penitiktekanan strategi pembelajaran pada ‘cara’, yaitu cara-cara yang berbeda untuk pencapaian hasil pembelajaran yang berbeda di bawah kondisi pembelajaran yang berbeda pula. Secara detail menurutnya strategi pembelajaran diklasifikasikan menjadi tiga yaitu:
1.    Strategi pengorganisasian (organizational strategy), yaitu cara untuk menata isi suatu bidang studi, dan kegiatan ini berhubungan dengan tindakan pemilihan isi/materi, penataan isi, pembuatan diagram, format, dan semacamnya.
2.    Strategi penyampaian (delivery strategy), adalah cara penyampaian pembelajaran pada mahasiswa dalam menerima serta merespon masukan dari mahasiswa.
3.    Strategi pengelolaan (management strategy), yakni cara dalam penataan interaksi antara siswa dengan variabel strategi pengorganisasian dan strategi penyampaian. Ini berarti strategi pengelolaan berhubungan dengan pemilihan tentang dua strategi tersebut yang mana harus digunakan selama proses pembelajaran berlangsung. Misalnya dilakukan penjadwalan, kontrol pembelajaran, pembuatan catatan kemajuan belajar, dan motivasi.[2]
Penggunaan strategi pembelajaran sangat penting sekali baik bagi dosen maupun mahasiswa. Bagi pendidik strategi dapat dijadikan pedoman dan acuan dalam bertindak secara sistematis. Sedang bagi mahasiswa sebagai pemermudah dan pemercepatan mahasiswa untuk paham tentang isi atau materi pembelajaran yang telah disampaikan sehingga dapat dikatakan setiap strategi pembelajaran dirancang sebagai pemermudah proses pembelajaran oleh mahasiswa.[3] Dari pembahasan di atas maka dapat disimpulkan strategi pembelajaran PAI merupakan cara dalam perencanaan pembelajaran PAI yang dilandaskan padan sumber-sumber agama Islam agar tercapai pembelajaran PAI yang mampu sebagai penarik, penggugah mahasiswa untuk mempelajarinya, dan agar tercapai tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien. Dengan demikian segala strategi bisa digunakan disertai berbagai inovasi pembelajaran dengan berbagai bentuk strategi pembelajaran asal sesuai dengan nilai-nilai agama Islam. Dengan kata lain strategi pembelajaran Agama Islam tidak lagi relevan dengan jenis strategi yang menjaga kemandekan inovasi PAI di perguruan tinggi umum.
Pada konsep ideal seharusnya materi perkuliahan agama Islam juga bersentuhan dengan aspek rasional yang dikaitkan erat relevansinya pada kebutuhan-kebutuhan modernitas yang menjadi konsekuen bersama.  Namun pada kenyataannya materi agama Islam masih lebih banyak menyentuh sapek tradisional yang dogmatis dan aspek ritualnya saja sehingga kehadiran mata kuliah PAI menjadi kajian membosankan, tidak hidup, dan tidak menantang. Padahal hasil atau kompetensi yang dicapai dari aspek tradisional tersebut tidak dapat dinilai atau dijelaskan dengan kata-kata atau tulisan, namun hanya dapat dijelaskan dengan perbuatan dan amalan. Selain itu materi PAI di PTU dengan 2 SKS pada umumnya dianggap terlalu minim dan tidak mencukupi sehingga dosen dipaksa untuk cerdas dalam pemilihan aspek materi agama, metodologi, dan mantap dalam pengamalannya.[4]
Lebih gamblang sebagaimana sikap kritis Muhaimin tentang sistem pembelajaran PAI di lembaga pendidikan umum yang mana masih terdapat titik lemah terletak pada komponen metodologinya. Kelemahan tersebut teridentifikasi yang meliputi kurang bisa diubahnya pengetahuan agama yang kognitif menjadi ‘makna’ dan “nilai”, kurang bekerja sama dan berjalan bersama dengan program-program pendidikan non agama, dan kurang adanya relevansi terhadap perubahan sosial yang terjadi di masyarakat atau kurang ilustrasi konteks sosial budaya.[5] Dengan demikian dapat disimpulkan pembelajaran PAI dipandang masih kering dengan makna, tidak membumi dengan ilmu pengetahuan, dan tidak kontekstual dengan kondisi masyarakat. Padahal sebagaimana pada penjelasan sebelumnya sesungguhnya ruang lingkup pembelajaran PAI itu sangat luas, tidak boleh diambil secara parsial, dan harus dijabarkan secara umum terlebih dahulu.
Sedang pada strategi penangan mahasiswanya biasanya pada awal kuliah mahasiswa merasa bingung karena belum pernah tahu materi apa yang akan diajarkan atau bahkan sebaliknya mata kuliah PAI diremehkan karena beberapa faktor. Untuk pencegahan terhadap keraguan dan kebutaan mahasiswa tentang peta perjalanan mata kuliah PAI dari awal hingga akhir semester maka lebih baik dosen aktif dalam pendalaman serta penggalian seberapa besar pengetahuan mahasiswa tentang PAI dengan digunakan strategi pembelajaran critical incident (pengalaman penting) dengan cara mahasiswa dilibatkan untuk berbicara tentang pengalaman pribadinya berkaitan dengan mata kuliah PAI.[6]
Dengan demikian dari pembahasan di atas dapat disimpulkan suatu bahan ajar atau materi bisa mudah dipahami dan masuk dalam struktur kognitif apabila terkandung makna dan terkait dengan apa yang ada dalam struktur kognitif mahasiswa. Namun pada kenyataannya sturktur kognitif tiap mahasiswa tidak sama, tergantung pada pengalaman yang dilihat dan dipelajarinya. Oleh karena itu penyampaian materi PAI harus terkait dengan pengetahuan yang dimiliki mahasiswa. Dalam ini bisa berakibat mahasiswa lebih senang pada mata kuliah agama yang selalu dikaitkan dengan bidang studinya (sesui prodi). Maka perlu dibutuhkan pendekatan kontekstual, walaupun pendekatan ini diperlukan dosen PAI yang punya wawasan dalam bidang studi (prodi) yang diminati mahasiswa. Masalah ini bisa diminimalisir dengan penempuhan atau pengadaan pelatihan bagi dosen PAI.[7]


[1]Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran  Berorientasi: Standar Proses Pendidikan (Jakarta:Kencana, 2011), 126.
[2]Made Wena, Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer: Suatu Tinjauan Konseptual Operasional (Jakarta: Bumi Aksara, 2001), 5-6.
[3]Ibid., 3.
[4]Mastuhu, “Pendidikan Agama Islam, 31.
[5]Muhaimin,  Pengembangan Kurikulum Pendidikan, 27.
[6]Zaini, dkk. Strategi Pembelajaran Aktif,  2.
[7]Anonim, dalam Dinamika Pemikiran Islam di Perguruan Tinggi, ed. Fuaduddin&Cik Hasan Bisri (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999), 181.

No comments:

Post a Comment