Pengembangan Pendidikan Agama Islam: Reinterpretasi Berbasis Interdisipliner

Kamis, 12 September 2013

Hubungan Antara Sikap Siswa Dengan Aktivitas Belajar



Hubungan Antara Sikap Siswa Dengan Aktivitas Belajar

Oleh:
Agus Puguh Santosa
 
(Penulis adalah Alumni Mahasiswa Pascasarjana (S2) STAIN Kediri Tahun 2013)
 
 Sumber foto: Koleksi Pribadi Agus Pugoh Santoso



Pada bagian ini akan diuraikan tentang hubungan antara sikap siswa kepada guru dengan aktivitas belajarnya. Dengan kata lain, uraian ini mengarah kepada bagaimana sikap individu memiliki hubungan dengan peningkatan aktivitas belajarnya. Hal ini sangat penting mengingat dalam kaitannya dengan interaksi sosial dengan seorang guru, baik di dalam atau di luar sekolah, segala perilaku siswa bermula dari sikapnya. Dan dengan sikap yang benar, siswa akan bisa lebih aktif dalam merespon objek sehingga bisa menampilkan prilaku yang sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada guna mencapai tujuan yang diinginkannya.
Adanya hubungan antara sikap siswa kepada guru dan aktivitas belajarnya di dasarkan pada teori konsistensi kognitif afektif yang dikemukakan oleh Rosenberg tentang perubahan sikap. Teori ini mengatakan bahwa hubungan antara komponen kognitif dan afektif dalam pembentukan sikap akan selalu berjalan konsisten. Sikap tidak hanya mencakup pengetahuan tentang objek saja, tetapi juga kepercayaan antara objek dengan nilai yang ada dalam diri subjek. Penilaian yang muncul dalam diri seseorang akan menimbulkan sikap positip atau negatif terhadap objek sikap sehingga akan berpengaruh terhadap prilakunya dalam menghadapi objek.[1]
Menurut pandangan Green Wald, Petty, Ostrom dan Brock yang mengemukakan tentang teori respon kognitif (cognitive response theory) bahwa  seseorang memberikan respon terhadap suatu komunikasi dengan beberapa pikiran posistif atau negatif (atau respon kognitif) atas dasar adanya pertimbangan untung dan rugi jika seseorang mengambil sikap tersebut.[2]
Dengan demikian berdasarkan teori ini, sikap memiliki peranan yang penting di dalam proses interaksi sosial. Karena sikap merupakan landasan awal bagi individu untuk memulai suatu interaksi. Bagaimana individu tersebut akan berperilaku terhadap objek maka akan ditentukan oleh sikap awalnya terhadap objek. Begitupun dalam proses belajar mengajar. Ketika siswa berinteraksi dengan bapak atau ibu guru, maka siswa akan menampilkan perilaku sesuai dengan sikap yang sudah diambilnya. Apakah ia cenderung untuk berperilaku baik karena dipikir ada keuntungannya atau malah sebaliknya, karena dipandang merugikan dirinya, itu bergantung dari bagaimana siswa memandang sosok seorang guru.
Dari pandangan siswa inilah yang pada akhirnya akan menimbulkan pengaruh terhadap aktivitas belajarnya. Karena bagi siswa yang senang terhadap guru yang mengajarnya, maka ia akan memperhatikan dengan seksama segala pelajaran yang diberikannya. Dan begitupun sebaliknya, bagi siswa yang sudah merasa tidak senang terhadap guru yang mengajarnya, maka materi pelajaran yang diajarkannya tidak lagi mengasikkan dan menarik, sehingga siswapun cenderung untuk tidak memperhatikan. Oleh karena itu sikap siswa terhadap guru akan sangat berpengaruh terhadap proses belajarnya.
Selanjutnya jika dikaitkan dengan kebutuhan untuk berprestasi, menurut David McClelland dalam teorinya needs for achievement (kebutuhan untuk berprestasi), ia mengemukakan bahwa untuk membuat sebuah pekerjaan bisa berhasil, yang paling penting adalah sikapnya terhadap pekerjaan tersebut.[3] Hal ini menandakan bahwa sikap siswa terhadap penting tidaknya arti belajar bagi dirinya akan berpengaruh terhadap proses belajarnya. Dengan kata lain, bagi siswa yang memandang bahwa belajar itu adalah suatu yang penting, maka ia akan lebih giat dan aktif dalam menjalaninya dan bagi siswa yang merasa belajar tidaklah penting, maka ia akan cenderung untuk bersikap pasif bahkan ia akan malas dalam mengikuti segala aktivitas belajarnya. Oleh karena itu sikap siswa terhadap arti belajar sangat berpengaruh terhadap aktivitas belajarnya.
Dari teori-teori yang dikemukan di atas, maka nampaklah bahwa antara sikap siswa dan aktivitas belajarnya memiliki hubungan antara satu dengan yang lainnya. Sehingga dengan memunculkan sikap yang positif dalam diri siswa, maka aktivitas siswa dalam kegiatan belajarnya akan semakin meningkat.


[1] Bimo Walgito, Teori-teori Psikologi Sosial,  68.
[2] David O. Sears, Psikologi Sosial jilid 1(Jakarta: Erlangga, 1985), 144-145
[3] Alex Sobur, Psikologi Umum, 284.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar