Pengembangan Pendidikan Agama Islam: Reinterpretasi Berbasis Interdisipliner

Pengembangan Pendidikan Agama Islam

--- BUKU MURAH (ASLI bukan FOTOCOPY-AN/BUKAN BUKU BAJAKAN): " Buku MURAH BERKUALITAS hanya Rp.47.000,- (belum ongkos kirim) berjudul PENGEMBANGAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM: REINTERPRETASI BERBASIS INTERDISIPLINER (Yogyakarta: LKiS, 2015). Sebagai info harga buku ini di pasaran berkisar 70-90 ribu). Info lebih lanjut hubungi: 08563-350-350 (11 digit)”---

Thursday, September 12, 2013

Macam – macam Aktivitas Belajar

Terima kasih, blog Banjir Embun telah dipercaya untuk digunakan sebagai referensi karya tulis oleh beberapa akademisi dan calon ilmuwan muda. Berikut puluhan BUKTI blog Banjir Embun mendapat kepercayaan masyarakat ilmiah (ilmuwan):

<<  Puluhan bukti blog Banjir Embun mendapat kepercayaan masyarakat luas  >> 

Lihat juga profil lengkap buku ke-2 A. Rifqi Amin berjudul "Pengembangan Pendidikan Agama Islam: Reinterpretasi Berbasis Interdisipliner"

 BUKU-BUKU KARYA A. RIFQI AMIN TERBEBAS DARI KEJAHATAN ILMIAH (UTAMANYA PLAGIASI)!!!

DOWNLOAD BAGIAN BUKU 

"PENGEMBANGAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM: REINTERPRETASI BERBASIS INTERDISIPLINER"

FORMAT PDF  >> di sini <<


Link Terkait buku A. Rifqi Amin:



Buku A. Rifqi Amin (pendiri Banjir Embun) berjudul: 








Macam – macam Aktivitas Belajar


Oleh:
Agus Puguh Santosa
(Penulis adalah Alumni Mahasiswa Pascasarjana (S2) STAIN Kediri Tahun 2013)
 

 Sumber foto: Koleksi Pribadi Agus Pugoh Santoso

Keaktifan siswa dalam belajar merupakan ciri dari tercapainya keberhasilan belajar. Dengan demikian yang menjadi tugas pendidik adalah bagaimana menciptakan kondisi yang memungkinkan siswa menjadi aktif dalam belajarnya. Keaktifan siswa dituntut tidak hanya terjadi pada proses belajar saat di kelas saja, akan tetapi juga harus tercipta di dalam lingkungan belajar di luar kelas. Ini karena waktu siswa di luar kelas lebih banyak ketimbang waktunya saat berada di dalam kelas.
Dalam kaitannya dengan macam-macam aktifitas belajar, Sardiman membaginya menjadi:
1)      Visual activities
2)      Oral activities
3)      Listening activities
4)      Writing activities
5)      Drawing activities
6)      Motor activities
7)      Emotional activities[1]
Sedangkan Abu Ahmadi membagi aktivitas belajar menjadi:
1)      Mendengarkan
2)      Memandang
3)      Meraba, membau, mencicipi
4)      Menulis dan mencatat
5)      Membaca
6)      Membuat ringkasan dan menggarisbawahi
7)      Mengamati tabel, diagram dan bagan
8)      Menyusun paper atau kertas kerja
9)      Mengingat
10)  Berfikir
11)  Latihan atau praktik [2]
Sedangkan Nana Sudjana meninjau aktivitas dari dua segi, yaitu segi bentuk kegiatan belajar dan sesuatu yang dipelajarinya. Dari suduh kegiatan belajar dapat digolongkan menjadi belajar secara klasikal, kelompok dan mandiri. Sedangkan dari segi materi pelajarannya dapat digolongkan menjadi belajar informasi, belajar konsep, belajar prinsip dan belajar ketrampilan.[3]
Dari pendapat tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa aktivitas belajar siswa dapat ditinjau dari tiga sudut pandang; bentuk aktivitasnya, tempat serta materi yang dipelajarinya. Berikut ini akan diuraikan belajar yang menyangkut tempat sekaligus bentuk dan sesuatu yang dipelajarinya.
a.       Aktivitas belajar di sekolah
1.      Aktivitas mengikuti pelajaran
Kewajiban yang pertama dari para siswa yang adalah mengikuti pelajaran. Belajar yang diikuti secara tertib dan penuh perhatian serta dicatat dengan baik akan memberikan pengetahuan yang banyak kepada setiap siswa.[4] Dengan demikian, kehadiran siswa merupakan prasyarat di dalam meningkatkan prestasi belajar, karena dengan mengikuti pelajaran siswa akan lebih banyak mendapatkan pengetahuan.
2.      Aktivitas mendengarkan pelajaran
Aktivitas mendengarkan tergolong dalam kelompok “listening activities”, seperti halnya dalam suatu diskusi dan ketika guru mempergunakan metode ceramah. Mendengarkan merupakan salah satu jenis kegiatan yang banyak dipergunakan dalam proses belajar mengajar.
Aktivitas mendengarkan, termasuk aktivitas belajar yang berkaitan erat dengan masalah perhatian, sebagaimana yang dikemukakan oleh E.P. Hutabarat bahwa mendengarkan itu bukanlah suatu kegiatan yang pasif, dimana hanya telinga saja yang bekerja, melainkan suatu kegiatan dimana perhatian dan pikiran juga terlibat dengan aktif.[5] Sedangkan untuk dapat mendengarkan dengan baik maka perlu adanya persiapan fisik (kebugaran tubuh), emosi (kemauan yang kuat) dan intelektual (kesiapan bahan pelajaran).[6]
3.      Aktivitas mencatat pelajaran
Kegiatan belajar mengajar tidak dapat dipisahkan dengan kegiatan mencatat. Karena mencatat merupakan kegiatan yang sangat penting dalam belajar. Untuk membuat catatan yang baik, catatan tersebut harus memenuhi kriteria-kriteria tertentu sebagaimana yang dikemukakan Slameto bahwa “dalam membuat catatan sebaiknya tidak semua yang dikatakan guru itu ditulis, tetapi diambil inti sarinya saja. Tulisan harus jelas dan teratur agar mudah dibaca atau dipelajari. Perlu ditulis juga tanggal dan hari mencatatnya, pelajaran apa, gurunya siapa, bab atau pokok yang dibicarakan dan buku pegangan wajib atau pelengkap.”[7]
Sedangkan The Liang Gie mengatakan bahwa:
Tehnik membuat catatan yang baik ialah menuliskan kalimat topik yang utuh dengan tulisan tangan yang sejelas mungkin. Definisi suatu pengertian harus dicatat selengkapnya. Demikian pula istilah tehnis, rumus teoritis dan gambar bagan yang ditulis dosen pada papan tulis harus disalin seutuhnya. Contoh-contoh dapat dipersingkat dan dicatat seperlunya saja.[8]

Berpijak pada pendapat di atas, dapat dikatakan bahwa aktivitas mencatat merupakan kegiatan yang sangat penting dalam proses belajar mengajar. Karena dengan mencatat kita memperoleh keuntungan:
1.      Mampu mempertahankan daya mental kita tetap jaga dan siap siaga waktu mengikuti kuliah
2.      Mampu tetap berfikir pada waktu mengikuti kuliah dan mudah mempelajari sesudahnya.
3.      Memiliki rekaman tertulis guna membantu kita untuk melihat kembali dan mempelajari, menambah serta memperdalam bahan kuliah yang sudah diberikan.
4.      Dibantu untuk mengatasi keterbatasan daya ingat kita.
5.      Memiliki bahan lengkap tercatat teratur yang kita perlukan untuk belajar dalam persiapan ujian.[9]

4.      Aktivitas bertanya dan menjawab pertanyaan
Antara bertanya dan menjawab pertanyaan merupakan dua istilah yang memiliki pengertian berbeda, akan tetapi berkaitan langsung. Karena tidak akan ada jawaban kalau tidak ada pertanyaan dan pertanyaan tidak akan ada artinya kalau tidak dijawab.
Aktivitas bertanya dan menjawab akan sangat nampak dalam proses belajar mengajar. Secara terperinci fungsi tersebut adalah:
a.       Meningkatkan partisipasi siswa dalam kegiatan belajar mengajar
b.      Membangkitkan minat dan rasa ingin tahu terhadap suatu masalah yang sedang dihadapi atau dibicarakan
c.       Mengembangkan pola dan cara belajar aktif dari siswa sebab berfikir itu sendiri sesungguhnya adalah bertanya
d.      Menuntun proses berfikir siswa sebab pertanyaan yang baik akan membantu siswa agar dapat menentukan jawaban yang baik
e.       Memusatkan perhatian siswa terhadap masalah yang sedang dibahas.[10]

Dengan demikian kegaitan bertanya dan menjawab pertanyaan merupakan media untuk menjadikan siswa aktif dalam aktivitas belajar mengajar, serta dapat membantu siswa untuk mengembangkan kemampuan yang dimilikinya.
5.      Aktivitas berfikir
Berfikir merupakan suatu kegiatan mental yang tidak hanya melibatkan kerja otak, tetapi juga melibatkan seluruh pribadi manusia, kehendak dan perasaannya. Karena memikirkan sesuatu itu berarti mengarahkan diri pada objek tertentu, menyadari kehadirannya seraya secara aktif menghadirkan dalam pikiran kemudian mempunyai gagasan atau wawasan tentang objek tersebut.[11]
Berfikir sangat diperlukan selama belajar disekolah atau diperguruan tinggi. Masalah dalam belajar terkadang ada yang harus dipecahkan seorang diri, tanpa bantuan orang lain. Pemecahan masalah itulah yang memerlukan pemikiran. Berfikir itu sendiri adalah kemampuan jiwa untuk meletakkan hubungan antara bagian-bagian pengetahuan. Ketika berfikir dilakukan maka disana terjadi suatu proses.[12]

Oleh karena itu dalam kegaitan belajar mengajar, berfikir merupakan aktivitas yang penting, karena dengan berfikir siswa akan bisa menggunakan nalarnya guna menyelesaikan suatu masalah yang dihadapinya. Selain itu berfikir juga akan menunjukkan tingkat perkembangan siswa dalam proses belajar terkait perubahan mentalnya.
b.      Aktivitas belajar di luar sekolah
Sebagaimana yang telah dikemukakan dalam pembahasan terdahulu bahwa aktivitas belajat tidak hanya dilakukan di sekolah, akan tetapi juga berlangsung di luar sekolah. Demikian juga yang dimaksud di luar sekolah bukan hanya di rumah, akan tetapi juga di luar rumah. Aktivitas belajar di luar sekolah merupakan lanjutan dari aktivitas di sekolah karena pada hakekatnya semua itu merupakan rangkaian kegiatan yang dilakukan sekolah.
Adapun aktivitas belajar di luar sekolah meliputi:
1.      Aktivitas mengatur waktu belajar
Belajar merupakan suatu proses yang memerlukan perencanaan dan pengaturan waktu yang baik. Karena belajar yang terus menerus dalam jangka waktu yang lama tanpa istirahat ternyata bukan cara yang efisien dan efektif. Oleh karena itu, untuk belajar yang produktif diperlukan adanya pembagian waktu belajar.[13]
Untuk mengatur waktu belajar diperlukan jadwal belajar. Untuk membuat jadwal yang baik, maka Slameto memberikan pedoman sebagai berikut:
a.       Memperhitungkan waktu setiap hari untuk keperluan tidur, belajar, makan, mandi dan lain sebagainya
b.      Menentukan dan menyelidiki waktu yang ada setiap hari
c.       Merencanakan penggunaan waktu belajar dengan menentukan jenis mata pelajaran dan urutan-urutan yang akan dipelajari
d.      Menyelidiki waktu mana yang dapat digunakan untuk belajar dengan baik
e.       Berhematlah dengan waktu, setiap siswa jangan ragu-ragu untuk memulai pekerjaan termasuk belajar.[14]

Sedangkan manfaat membuat jadwal pelajaran sebagaimana yang dikemukakan Agus M Hardjana adalah:
a.       Membiasakan diri belajar dengan teratur
b.      Membantu kita belajar dengan tenang
c.       Membantu kita menghemat waktu dan tenaga
d.      Membantu kita menciptakan kebiasaan belajar.[15]
2.      Aktivitas membaca pelajaran
Membaca merupakan aktivitas yang tidak dapat dipisahkan dengan belajar. Membaca bukanlah kegiatan yang pasif, akan tetapi merupakan kegaitan yang aktif. untuk dapat menjadi pembaca yang efisien, The Liang Gie memberikan arahan sebagai berikut:
a.       Memiliki kebiasaan-kebiasaan yang baik dalam membaca
b.      Dapat membaca secara cepat
c.       Dapat menangkap dan memahami isi bahan bacaannya
d.      Seusai membaca dapat mengingat kembali butir-butir gagasan utama dari bahan bacaannya.[16]
Dengan memahami cara-cara belajar yang efisien, diharapkan siswa dalam proses belaajr dapat mencapai hasil belajar yang sebaik-baiknya.
3.      Aktivitas menghafal pelajaran
Menghafal merupakan kelompok jenis belajar yang berfokus pada kemampuan mental siswa. Dalam aktivitas menghafal, terkait erat dengan aktivitas membaca. Menghafal juga merupakan aktivitas yang tidak dapat dipisahkan dalam kegiatan belajar mengajar.
Dalam aktivitas menghafal, agar dapat menghafal dengan baik maka Slameto memberikan pedoman sebagai berikut:
a.       Menyadari sepenuhnya tujuan belajar
b.      Mengetahui betul-betul tentang makna bahan yang akan dihafal
c.       Mencurahkan perhatian sepenuhnya sewaktu menghafal
d.      Menghafal dengan teratur sesuai dengan kondisi bahan yang sebaik-baiknya serta daya serap otak terhadap bahan yang dihafal.[17]
Sedangkan The Liang Gie mengatakan bahwa:
Cara yang terbaik untuk menghafal suatu bahan pelajaran tergantung pada bahan itu. Kalau tiap-tiap cara itu dipergunakan pada tempatnya, pastilah seorang mahasiswa dapat menghafal dengan hasil yang sebaik-baiknya. Untuk bahan pelajaran yang memerlukan pengertian yang mendalam, hendaklah dihafal dengan melalui penglihatan. Untuk bahan pelajaran yang berupa definisi, sebaiknya dihafal dengan suara keras-keras dan untuk bahan pelajaran yang berupa bagan, grafik, peta, gambar dan yang sejenisnya, lebih cepat dihafal dengan gerak tangan.[18]

Dari uraian tersebut dapatlah dikatakan bahwa untuk dapat menghafal dengan baik diperlukan cara yang sesuai baik dalam hal kemampuan sisiwa, materi yang dihafal serta faktor-faktor lain terutama kondisi badannya.
4.      Aktivitas mengerjakan tugas
Pemberian tugas merupakan metode pengajaran yang melibatkan keaktifan siswa dalam belajarnya. Dalam pemberian tugas, tercakup aktivitas belajar yang lain, seperti membaca, menghafal, berfikir dan lain sebagainya.
Mengerjakan tugas yang merupakan sebagai implementasi dari pemberian tugas, mempunyai pengaruh yang besar dalam diri siswa terhadap keberhasilan belajarnya. Sebagai mana yang dikemukakan Slameto bahwa agar siswa berhasil dalam belajarnya, perlulah mengerjakan tugas dengan sebaik-baiknya. Tugas itu mencakup mengerjakan PR, menjawab soal-soal latihan buatan sendiri, soal dalam buku pegangan, ulangan harian, ulangan umum dan ujian.[19]
Sedangkan manfaatnya adalah sebagai sarana latihan untuk memperdalam bahan kuliah, mempraktikkan penerapan hukum, rumus, dalil tertentu atau memecahkan soal berdasarkan hukum, rumus, dalil yang sudah dijelaskan diruang kuliah.[20]


[1] Sardiman, Interaksi, 99-100
[2] Abu Ahmadi, Psikologi Belajar (Jakarta: Rineka Cipta, 2004), 132-137
[3] Nana Sudjana, Cara Belajar,54
[4] The Liang Gie, Cara Belajar yang Efisien II (Yogyakarta: Liberti, 1995), 8
[5] E.P. Hutabaret, Cara Belajar (Jakarta: PT BPK Gunung Mulia, 1988), 104
[6] The Liang Gie, Cara Belajar yang Efisien II , 11-12
[7] Slameto, Belajar dan Faktor, 85
[8] The Liang Gie, Cara Belajar,18
[9] Agus M Hardjana, Kiat Sukses,  47
[10] Moh. Uzer Usman,  Menjadi Guru yang Profesional (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1998), 74
[11] Alex Sobur, Psikologi Umum, 201
[12] Syaiful Bahri Djamarah, Psikologi Belajar (Jakarta: Rineka Cipta, 2002), 34
[13] M. Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002), 114
[14] Slameto, Belajar dan Faktor, 83
[15] Agus M Hardjana, Kiat Sukses, 100-102
[16] The Liang Gie, Cara Belajar yang efisien I (Yogyakarta: PUBIB, 1998), 59
[17] Slameto, Belajar dan Faktor, 86
[18] The Liang Gie, Cara Belajar Jilid II, 164
[19] Slameto, Belajar dan Faktor, 88
[20] Agus M Hardjana, Kiat Sukses, 116

No comments:

Post a Comment