Pengembangan Pendidikan Agama Islam: Reinterpretasi Berbasis Interdisipliner

Selasa, 01 Oktober 2013

INTEGRASI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DENGAN SAINS DAN TEKNOLOGI


Terima kasih, blog Banjir Embun telah dipercaya untuk digunakan sebagai referensi karya tulis oleh beberapa akademisi dan calon ilmuwan muda. Berikut puluhan BUKTI blog Banjir Embun mendapat kepercayaan masyarakat ilmiah (ilmuwan):

<<  Puluhan bukti blog Banjir Embun mendapat kepercayaan masyarakat luas  >> 


Lihat juga profil lengkap buku ke-2 A. Rifqi Amin berjudul "Pengembangan Pendidikan Agama Islam: Reinterpretasi Berbasis Interdisipliner"

 BUKU-BUKU KARYA A. RIFQI AMIN TERBEBAS DARI KEJAHATAN ILMIAH (UTAMANYA PLAGIASI)!!!

DOWNLOAD BAGIAN BUKU 

"PENGEMBANGAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM: REINTERPRETASI BERBASIS INTERDISIPLINER"

FORMAT PDF  >> di sini <<




Link Terkait buku A. Rifqi Amin:




Buku A. Rifqi Amin (pendiri Banjir Embun) berjudul: 





INTEGRASI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DENGAN SAINS DAN TEKNOLOGI


I.       PENDAHULUAN


Pada era kemajuan  IPTEK ini, perubahan global semakin cepat terjadi dengan adanya kemajuan dari Negara maju di bidang Sains serta teknologi informasi dan komunikasi. Menurut Soetjipto Wirosardjono temuan IPTEK telah menyebarkan hasil yang membawa kemajuan, dan dampaknya  terasa bagi kehidupan seluruh umat manusia. Semua hasil temuan IPTEK di satu sisi harus diakui telah secara nyata mempengaruhi bahkan memperbaiki taraf  dan mutu hidup manusia.[1] Berbagai sarana modern industry, komunikasi dan transportasi misalnya, telah terbukti amat bermanfaat. Ditemukannya teknologi pesawat terbang telah membuat manusia dapat pergi ke seluruh penjuru dunia dalam waktu yang singkat. Dahulu orang pergi haji dengan naik kapal laut dapat menempuh perjalanan selama 17-20 hari untuk dapat sampai ke Jeddah, sekarang dengan naik pesawat terbang  hanya membutuhkan waktu 8 jam saja. Kemajuan di bidang televisi satelit telah memungkinkan kita  untuk  melihat sebuah peristiwa penting dan  hebat   di tempat yang jauh tanpa harus keluar rumah. Penemuan telepon genggam telah memungkinkan kita untuk menghubungi siapa saja dan di mana saja  kita berada.  Kemajuan di bidang komputer telah menciptakan jaringan internet yang memungkinkan kita untuk mengakses segala informasi  dengan mudah, cepat dan akurat.
Akan tetapi di sisi lain, tak jarang iptek berdampak negatif karena merugikan dan membahayakan kehidupan dan martabat manusia.  Bom atom telah menewaskan ratusan ribu manusia di Hiroshima dan Nagasaki pada tahun 1945. Bayi tabung di Barat bisa berlangsung walaupun asal usul sperma dan ovumnya bukan dari suami isteri. Kloning hewan rintisan Ian Willmut yang sukses menghasilkan domba cloning bernama Dolly, akhir-akhir ini diterapkan pada manusia (humancloning). Lingkungan hidup seperti laut, atmosfer udara, dan hutan juga tak sedikit yang mengalami kerusakan dan pencemaran yang sangat parah dan berbahaya. Tak sedikit   yang memanfaatkan teknologi internet sebagai sarana untuk melakukan kejahatan dunia maya (cybercrime) dan mengakses pornografi, kekerasan dan perjudian.[2]
 Kenyataan yang demikian akan mempengaruhi nilai, sikap atau tingkah laku kehidupan individu dan masyarakat. Ada beberapa nilai, sikap dan tingkah individu dan masyarakat modern yang kongruen (sejalan) dengan ajaran Islam dan mendukung keberhasilan pembangunan bangsa. Ada pula nilai dan sikap modernitas yang tidak kongruen (berlawanan) dengan ajaran Islam sekaligus tidak mendukung keberhasilan pembangunan. Misalnya, lemahnya keyakinan keagamaan, sikap individualistis, materialistis, hedonistis, dan sebagainya. Nilai-nilai dan sikap yang negative akan muncul bersamaan dengan nilai dan sikap positif lainnya, yang sudah barang tentu merupakan ancaman bagi terwujudnya cita-cita pembangunan bangsa.
Indonesia merupakan negara dengan jumlah muslim terbesar di dunia. Jumlah yang begitu besar menjadikan sebuah keunggulan sekaligus masalah. Keunggulan dapat diraih ketika umat Islam mampu menjadi frontier atau ujung tombak pembangunan negara dan perwujudan kemakmuran seluruh rakyat yang berlandaskan nilai-nilai keislaman.  Sedangkan jumlah yang begitu besar juga bisa menjadi masalah, ketika umat Islam tidak mampu mempraktekkan nilai-nilai keislaman, dan tidak mampu menunjukkan kualitasnya sebagai seorang muslim untuk mewujudkan kemakmuran yang sesuai dengan tujuan penciptaan agar menjadi khalifah utusan Allah di bumi ini dan  umat Islam belum banyak berperan dalam menyelesaikan problem umat maupun bangsa dalam menghadapi perkembangan sains dan teknologi.
 Saat ini bangsa kita sedang menghadapi krisis nasional dalam berbagai dimensi  kehidupan seperti ekonomi, politik, hokum dan sebagainya.. Akibatnya timbul kerusuhan social di mana-mana, semakin menjamurnya tindakan criminal, unjuk rasa yang disertai dengan tindakan brutalisme dan sebagainya. Menurut Muhaimin dalam kondisi semacam ini masyarakat berharap banyak terhadap jasa dan peran agama yang di dalamnya sarat akan dimensi moralitas dan spiritualitas, baik secara konseptual maupun aktualitasnya, dan/atau normativitas maupun historisitasnya.[3] Maka dari itu, pendidikan Agama harus dapat memberikan kontribusi dalam upaya mengatasi persoalan yang sedang melanda bangsa ini, terutama dalam rangka mengantisipasi dampak negative yang ditimbulkan perkembangan IPTEK.
Agar kemajuan dalam bidang teknologi dan sains dapat memberikan banyak manfaat dan meminimalis mudharat (dampak negatifnya), maka diperlukan integrasi antara sains dan teknologi dengan agama. Integrasi yang dimaksud adalah  integrasi pendidikan agama dengan sains dan teknologi  yang  diartikan sebagai upaya untuk menghubungkan dan memadukan antara pendidikan agama dengan sains dan teknologi, bukan berarti menyatukan atau bahkan mencampuradukkan ketiga-tiganya, karena ketiga entitas itu tak mesti hilang atau harus tetap dipertahankan. Integrasi yang diinginkan adalah integrasi yang konstruktif,   hal ini dapat dimaknai sebagai suatu upaya integrasi yang menghasilkan konstribusi baru (untuk sains dan/atau agama) yang dapat diperoleh jika keduanya terpisahkan
Bertolak dari uraian di atas, maka pembahasan tentang integrasi Pendidikan Agama Islam dengan  sains dan teknologi  penulis fokuskan pada hal-hal   yang  berkaitan dengan definisi Pendidikan Agama Islam,  sains dan teknologi,    permasalahan-permasalahan yang muncul  dan upaya-upaya yang dilakukan dalam mengintegrasikan  Pendidikan  Agama Islam  dengan sains dan  teknologi.

II.    PEMBAHASAN

A.    Definisi Pendidikan Agama Islam, Sains dan Teknologi
Apabila kita berbicara pendidikan agama dalam konteks dunia pendidikan di Indonesia, pengertiannya mencakup dua hal : pertama, lembaga pendidikan Agama atau Perguruan Agama dan kedua, isi atau program pendidikan.
Perguruan / lembaga pendidikan Agama (yang Islam) yang lazim dikenal masyarakat dan menjadi binaan Departemen Agama meliputi Raudlatul Athfal/Bustanul Athfal, Madrasah, (terdiri dari tingkat Ibtidaiyah, Tsanawiyah dan Aliyah Negeri dan swasta), Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN)[4], Pondok Pesantren dan Madrasah Diniyah/Sekolah Agama terdiri dari tingkat Awaliyah, Wustha dan Ulya. Di tingkat Perguruan Tinggi terdapat IAIN dan Fakultas-fakultas atau  Akademi Agama yang dikelola masyarakat/pihak swasta. [5]
Adapun pendidikan agama dalam arti isi atau program  adalah merupakan bagian dari Pendidikan Islam, di mana tujuan utamanya ialah membina dan mendasari kehidupan anak didik dengan nilai-nilai agama dan sekaligus mengajarkan ilmu agama Islam, sehingga ia mampu mengamalkan syari’at Islam secara benar sesuai pengetahuan agama.[6] Dalam sistem pendidikan di negeri kita istilah pendidikan agama Islam dibakukan menjadi nama mata pelajaran yang berisikan tentang pengajaran Al-Qur'an, Hadits, Fiqh, Akhlak, dan Sejarah Islam. Dengan demikian Pendidikan Agama Islam (PAI) yang dimaksud dalam judul makalah ini adalah pendidikan  agama yang diberikan pada lembaga-lembaga formal baik yang yang menyelenggarakan “pengajaran” agama Islam maupun yang menyelenggarakan  “pendidikan” Islam. Pengajaran agama Islam diselenggarakan di sekolah-sekolah umum dengan “pendidikan agama Islam” sebagai sebuah bidang studi. Sedangkan pendidikan Islam diselenggarakan pada sekolah-sekolah atau perguruan agama  seperti madrasah mulai tingkat  dasar sampai dengan tingkat PerguruanTinggi.
Istilah sains  adalah terminologi yang dipinjam dari bahasa Inggris yakni science [7] dan sering dikaitkan dengan teknologi serta dikhususkan penggunaannya untuk ilmu-ilmu alam. Kata sains berasal dari kata science (bahasa Inggris). Sains sepenuhnya adalah hasil usaha manusia dengan perangkatnya yaitu panca indra dan akal, maka sains tidak membicarakan sesuatu yang tidak dapat dijangkau oleh panca indra dan akal. Sains tergolong ke dalam pengetahuan, tapi bukan sembarang pengetahuan. Sains adalah pengetahuan yang diperoleh melalui metoda sains (scientific methode). Metoda sains  adalah proses sebagai berikut : kumpulan fakta - hipotesa - pengujian hipotesa – teori sains. Jika ditemukan fakta baru maka perlu dibuat hipotesa baru lalu dilakukan lagi pengujian hipotesa (baru) lalu diperoleh teori sains baru begitu seterusnya sebagai proses yang tidak akan pernah berakhir. Maka  sains akan terus berubah berbanding lurus dengan ditemukannya fakta-fakta baru.[8] Jadi yang dimaksud dengan ilmu pengetahuan (sains) di sini adalah ilmu sains  yang tergolong dalam kumpulan sains terapan yang dikaitkan dengan teori dan dasar untuk menciptakan sesuatu hasil atau sesuatu yang dapat memberi manfaat kepada manusia. Jelasnya sains merupakan pemahaman ilmu tentang fenomena fisik yang digunakan di dalam teknologi dan proses penciptaan teknologi tersebut dengan menggunakan kaidah yang paling efisien.
Istilah teknologi telah dikenal manusia sejak jutaan tahun yang lalu, karena dorongan untuk hidup yang lebih nyaman, lebih makmur dan lebih sejahtera. Pengertian teknologi dari segi istilah secara umum ialah penggunaan sains. Perkataan “tekno” itu sendiri membawa maksud kemahiran teknik atau hasil kerja sementara, “logi” bermaksud doktrin, teori atau ilmu. Menurut pengertian bahasa , teknologi merujuk kepada penggunaan barang ataupun perusahaan yang dihasilkan melalui ciptaan sains untuk meningkatkan kualiti kehidupan manusia sehari-hari.[9] Teknologi dapat didefinisikan pula  sebagai, “Cara melakukan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan manusia dengan bantuan alat dan akal, sehingga seakan-akan memperpanjang, memperkuat atau membuat lebih ampuh anggota tubuh, pancaindera dan otak manusia”. Dengan demikian secara sederhana teknologi dapat diartikan ilmu tentang cara menerapkan sains untuk memanfaatkan alam bagi kesejahteraan dan kenyamanan manusia.
            Berkaitan dengan  sains dan teknologi, Al-Qur’an memerintahkan manusia supaya terus berupaya meningkatkan kemampuan ilmiahnya untuk terus mengembangkan teknologi dengan memanfaatkan anugerah Allah yang dilimpahkan kepadanya. Menurut sebagian ulama, terdapat sekitar 750 ayat Al-Qur’an yang berbicara tentang alam materi dan fenomenanya, dan yang memerintahkan manusia untuk mengetahui dan memanfaatkan alam ini.[10]
            Para ahli peneliti kandungan Al-Qur’an dari aspek ilmu dan teknologi; antara lain Prof. Afzalurrahman dan Prof Dr. Maurice Bucaille mendapatkan kesimpulan-kesimpulan bahwa kitab suci Al-qur’an memberi dorongan daya cipta umat manusia dalam berpikir dan menganalisa serta mengembangkan fenomena semesta alam ciptaan Allah yang bergerak secara sistematis dan bertujuan itu, menjadi benda-benda atau alat-alat teknologi yang tepat guna bagi kesejahteraan hidup manusia, sejak dari ilmu dan teknologi pertanian, irigasi, botani, perkebunan, bio-kimia, arsitektur, archeology, astronomi, fisika, matematika sampai kepada ilmu dan teknologi ruang angkasa dan kedokteran. Ayat-ayat Al-Qur’an yang menjelaskan hal tersebut di atas dapat kita telaah dalam surat-surat Al-An’am; 99, dan Qaaf ; 9, Abasa : 26-27, Al-baqarah : 266, An-Nahl ; 15 dan sebagainya.[11].        
Dalam kasus paradigma epistemologi Islam, integrasi antara agama dengan sains dan teknologi dalam artian sebagai upaya untuk menghubungkan dan memadukan antara pendidikan agama dengan sains dan teknologi adalah sesuatu yang mungkin adanya, karena didasarkan pada gagasan Keesaan (tauhid). Dalam hal ini, ilmu pengetahuan, studi tentang alam, dianggap terkait dengan konsep Tauhid (Keesaan Tuhan), seperti juga semua cabang pengetahuan lainnya. Dalam Islam, alam tidak dilihat sebagai entitas yang terpisah, melainkan sebagai bagian integral dari pandangan holistik Islam pada Tuhan, kemanusiaan, dan dunia.
Dalam pandangan Islam, ilmu pengetahuan dan alam adalah berkesinambungan dengan agama dan Tuhan. Hubungan ini menyiratkan aspek yang suci untuk mengejar pengetahuan ilmiah oleh umat Islam, karena alam itu sendiri dilihat dalam Al Qur'an sebagai kumpulan tanda-tanda menunjuk kepada Tuhan. Secara normatif, sejak awal diwahyukannya, al-Qur’an melalui surah al-Alaq 1-5,  sudah tergambar bahwa konstruksi pengetahuan dalam Islam dibangun di atas nilai-nilai tauhid. Dari ayat-ayat yang pertama turun tersebut terlihat bahwa ada perintah untuk “membaca” yang merupakan proses pencapaian ilmu pengetahuan dengan rambu-rambu “atas nama Tuhan” sehingga proses pencapaian ilmu pengetahuan semestinya ekuivalen dengan proses makrifat kepada Tuhan. Disini teknologi dapat dijadikan sebagai media pembuktian  atas keesaan dan kekuasaan Allah.

B.     Permasalahan yang muncul dalam mengintegrasikan  pendidikan agama Islam  dengan sains dan  teknologi

Pada dasarnya integrasi Pendidikan Agama Islam dengan sains dan teknologi adalah upaya untuk memadukan antara Pendidikan Agama Islam dengan sains  dan teknologi dalam rangka peningkatan kualitas pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan hasil yang dicapai oleh peserta didik. Dengan cara ini diharapkan pendidikan agama Islam tidak sekedar sebagai wahana transfer pengetahuan keagamaan semata, tetapi juga penanaman nilai-nilai keislamaan yang nantinya mampu diterapkan oleh peserta didik dalam kehidupan bermasyarakat sebagai seorang  muslim yang mampu berperan dalam menyelesaikan problem umat maupun bangsa menghadapi perkembangan sains dan teknologi yang begitu pesat dengan segala dampak yang ditimbulkan.

Dalam pelaksanaannya integrasi Pendidikan Agama Islam dengan sains dan teknologi menemui beberapa  permasalahan  antara lain;
1.         Kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) Umat Islam
     Berbicara tentang sumber daya manusia, umat Islam seharusnya dapat memberikan konstribusi yang besar linier sebanding dengan jumlahnya. Akan tetapi, dengan kuantitas yang besar, ternyata belum sebanding dengan kualitasnya. Masih banyak di antara umat Islam yang “Gaptek alias Gagap Teknologi”. Demikian halnya di kalangan dunia pendidikan kita, terutama di tingkat sekolah menengah ke bawah masih banyak guru yang hanya kaya dalam hal  pengetahuan agama, tetapi miskin  dalam pengetahuan umum. Selain itu masih banyak juga  siswa dan guru yang belum menguasai teknologi terutama dalam penggunaan komputer dan internet.
2.      Keterbatasan sarana dan prasarana serta sumber bacaan materi keagamaan terutama yang berkaitan dengan sains, mengakibatkan pengelolaan cenderung seadanya. Pendidikan agama yang diklaim sebagai aspek yang penting, seringkali kurang diberi prioritas dalam urusan fasilitas.
      Tidak semua sekolah atau madrasah mempunyai dana yang cukup untuk pengadaan sarana dan prasarana yang memadai. Banyak materi pendidikan agama yang membutuhkan pengkajian dan pembuktian secara ilmiah, namun karena tidak tersedianya tenaga ahli dan peralatan yang memadai sampai sejauh ini materi-materi itu hanya disampaikan secara dogmatis. Sebagai contoh tentang diharamkannya daging anjing dan babi, perbedaan status najis untuk air kencing bayi laki-laki yang dihukumi najis mukhaffafah, se dangkan air kencing bayi  perempuan dihukumi najis mutawasitah, juga terhadap air liur anjing yang dikatagorikan najis mughalladzah yang cara pensuciannya harus dibasuh sampai tujuh kali dan salah satunya harus diserta pasir atau debu,  tentunya ada rahasia atau hikmah  yang dapat diungkap di balik semua itu.
Selain itu buku sumber rujukan yang digunakan oleh guru dan siswa masih membahas hal-hal yang berkaitan dengan materi agama semata belum banyak yang menghubungkan kebenaran ajaran agama dengan kebenaran sains.
3.      Sistem dan metode pendidikan yang diterapkan dalam proses kependidikan Islam masih belum seluruhnya mengintegrasikan sains dan teknologi.
      . Bila dianalisis lebih jeli, selama ini khususnya sistem pendidikan Islam seakan-akan masih terkotak-kotak antara urusan duniawi dengan urusan ukhrowi. Ada pemisahan antara keduanya sehingga dari paradigma yang salah itu, menyebabkan umat Islam belum mau ikut andil dan berpartisipasi banyak dalam agenda-agenda yang tidak ada hubungannya dengan agama. Sebagai permisalan, tentang sains sering kali umat Islam fobia dan merasa sains bukan urusan agama. Jadi ada pemisahan antara urusan agama yang berorientasi akhirat dengan sains yang dianggap hanya berorientasi dunia saja.
            Pada sistem pendidikan kita yang telah berjalan  terdapat dikotomi antara sains dan  ilmu agama yang telah melahirkan dua jenis manusia yang ekstrim ; sistem pendidikan agama yang melahirkan manusia yang hanya berfikir kepada fikih, halal haram dan kurang memperdulikan kemajuan pembangunan material, sementara sistem lainnya hanya melahirkan manusia yang pandai membuat kemajuan dan pembangunan material tetapi makin jauh dari Allah.
            Nilai urgensi pengembangan studi sains dan agama khususnya Islam di banyak Perguruan Tinggi sampai sekarang masih terasa parsial dan terpotong-potong. Agama dan Islam sebagai paradigma keilmuan masih ditempatkan sebagai “pelengkap” bahasan-bahasan sains yang artifisial. Keberadaannya hanya tak lebih dari sekedar penjustifikasi konsep-konsep sains dan  belum menjadi sebuah paradigma keilmuan yang holistic yang di dalamnya  mensyaratkan elaborasi-elaborasi saintifik sesuai konsep ilmu yang ada. [12]
4.       Sejauh ini Pendidikan Agama Islam yang diberikan kepada peserta didik dianggap belum mampu mengantisipasi dampak-dampak negatif dari perkembangan sains dan teknologi seperti terjadinya krisis moral dan krisis social yang kini makin menggejala dalam kehidupan masyarakat..
                       Kemajuan dalam bidang sains dan teknologi telah menimbulkan perubahan yang sangat cepat dalam kehidupan manusia. Hampir tidak ada segi-segi kehidupan yang tidak tersentuh oleh perubahan. Perubahan ini pada kenyataannya telah menimbulkan pergeseran nilai-nilai dalam kehidupan umat manusia, termasuk di dalamnya nilai-nilai agama, moral dan kemanusiaan. Seharusnya Pendidikan Agama Islam  mampu berperan  sebagai perisai dan filter bagi peserta didik dalam menangkal  dampak-dampak negatif perkembangan sains dan teknologi pada masa sekarang ini. Namun kenyataannya pendidikan Agama masih jauh dari yang diharapkan. Menurut Rasdianah seperti  dikutip oleh Muhaimin ada beberapa kelemahan dari Pendidikan Agama Islam di sekolah, baik dalam pemahaman materi pendidikan agama Islam maupun dalam pelaksanaannya, yaitu (1) dalam bidang teologi, ada kecenderungan mengarah pada fatalistic; (2) bidang akhlak yang berorientasi pada urusan sopan santun dan belum dipahami sebagai keseluruhan pribadi manusia beragama; (3) bidang ibadah diajarkan sebagai kegiatan rutin agama dan kurang ditekankan sebagai proses pembentukan pribadi; (4) dalam bidang hukum ( fiqih) cenderung dipelajari sebagai tata aturan yang tidak akan berubah sepanjang masa, dan kurang memahami dinamika dan jiwa hokum Islam; (5) agama Islam cenderung diajarkan sebagai norma dan kurang mengembangkan rasionalitas serta kecintaan pada kemajuan ilmu pengetahuan; (6) orientasi mempelajari al-Qur’an masih cenderung pada kemampuan membaca teks, belum mengarah pada pemahaman arti dan penggalian makna.[13]

5.    Belum seluruhnya Guru Agama Islam memiliki kompetensi menjadi   guru  agama sebagai hasil (produk) lembaga pendidikan profesional keguruan.
                       Guru sebagai komponen utama dalam pendidikan dituntut untuk mampu mengimbangi bahkan melampaui perkembangan sains dan teknologi, menghasilkan peserta didik yang berkualitas, baik secara akademis, skill (keahlian), kematangan emosional, moral serta spiritual. Oleh karena itu, diperlukan seorang guru yang mempunyai kualifikasi, kompetensi personal-religius dan kompetensi professional religious serta dedikasi yang tinggi dalam menjalankan tugas profesionalnya . Keberadaan guru, apalagi guru Pendidikan Agama Islam tidak bisa digantikan oleh sumber-sumber belajar yang lain. Hal ini karena guru Pendidikan Agama Islam tidak semata-mata berperan dalam kegiatan transfer of knowledge saja, tetapi juga berperan dalam kegiatan transfer of value. Namun kenyataannya, masih banyak guru Pendidikan Agama Islam yang belum bisa menulis ayat-ayat Al-Qur’an dengan baik dan benar, belum bisa membaca  Al-Qur’an yang benar dan baik sesuai dengan ilmu tajwid, tidak mampu menjawab masalah fiqih sederhana yang tumbuh dan berkembang di masyarakat, kurang menguasai sejarah Islam dan seterusnya,[14] apalagi penguasaan materi lintas ilmu sains.

C.           Upaya-upaya untuk mengatasi permasalahan dalam mengintegrasikan  Pendidikan  Agama Islam  dengan sains dan  teknologi.

                    Untuk menjawab beberapa permasalahan di atas sebagai upaya untuk merealisasikan integrasi pendidikan Agama Islam dengan Sains dan teknologi sebagaimana yang diharapkan, penulis mencoba memberikan solusi sebagai berikut :
1.      Kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang rendah.
           Bangsa yang maju pastilah bangsa yang unggul dalam hal penguasaan ilmu. Fakta sejarah ini bersesuaian dengan pandangan Islam yang mengatakan bahwa Allah mengangkat derajat orang-orang  yang berilmu pengetahuan (Al-Mujadalah [58]:11. Keunggulan orang yang berpengetahuan dibanding dengan yang tidak berpengetahuan adalah kemampuannya dalam mengungkap misteri atau problem-problem yang dihadapi manusia serta kemampuannya memberdayakan alam lingkungan dan manusia itu sendiri.[15] Tiga kemampuan manusia yang unggul dan berkualitas adalah (1) manusia yang sadar iptek, (2) manusia kreatif, dan manusia beretika solidaritas sangat berperan dalam menghadapi era globalisasi.[16] Salah satu indikasi manusia yang sadar iptek adalah menguasai sains dan teknologi. Untuk itu dalam dunia pendidikan hendaknya  para guru dan juga para murid  menyiapkan diri mereka dalam ketrampilan penggunaan teknologi khususnya komputer dan kemampuan pencarian informasi sebanyak-banyaknya tentang keterkaitan antara sains dan ilmu pengetahuan agama melalui internet yang sudah menjadi kebutuhan tidak terpisahkan di dalam dunia informasi seperti saat ini.  Selain itu SDM yang berkualitas  harus cerdas komprehensif dan cerdas kompetitif. Menurut Muhaimin  SDM Indonesia yang cerdas komprehensif adalah yang memiliki kecerdasan spitual, kecerdasan emosional, kecerdasan social, kecerdasan intelektual dan kecerdasan kinestetis[17]. Sedangkan SDM yang cerdas kompetitif adalah SDM yang berkepribadian unggul dan gandrung akan keunggulan, bersemangat juang tinggi, mandiri, pantng menyerah, pembangun dan Pembina jejaring, bersahabat dengan perubahan, inovatif dan menjadi agen perubahan, produktif, sadar mutu, berorientasi global dan pembelajar sepanjang hayat.[18]
2.        Salah satu komponen pendidikan adalah sarana dan prasarana yang memadai.
           Salah satu komponen terpenting dalam pencapaian tujuan pendidikan dipengaruhi  oleh tersedianya sarana dan prasarana.yang memadai.   Maka dari itu Pemerintah dalam hal ini bagian  Kemenag yang menangani pendidikan agama   di sekolah-sekolah umum maupun madrasah  (MAPENDAIS) hendaknya sudah mulai memperhatikan permasalahan tentang keterbatasan peralatan teknologi dan laboratorium keagamaan sebagai media pembelajaran ini, terutama untuk madrasah-madrasah swasta yang mengalami keterbatasan dana sehingga mengalami kesulitan untuk pengadaan media terutama yang berbasis TI (Teknologi Informasi) dan sumber pembelajaran yang memadai.
          Tak terbantahkan bahwa fungsi informasi teknologi saat ini dalam pembelajaran PAI sangat besar, namun yang perlu disadari oleh penggunanya, baik dosen atau mahasiswa, bahwa teknologi hanya sekedar alat bantu saja, bukan segala-galanya. Artinya, tanpa teknologi pun proses pembelajaran dapat berhasil, namun memerlukan waktu yang lebih lama. Penggunaan teknologi bukan tanpa resiko, karena disamping ada sisi positifnya terdapat juga sisi negatif yang perlu dihindari. Di antaranya, belajar mandiri dengan menggunakan IT berarti meniadakan interaksi dengan guru yang memiliki pengaruh besar terhadap kejiwaan siswa, karena guru dapat membimbing, mengevaluasi, dan meluruskan moral siswa. Oleh karena itu  menurut Bakar, masih ada di kalangan ummat Islam yang masih menolak kehadiran IT dalam proses pembelajaran PAI. [19]
          Dengan demikian IT ibarat dua sisi mata uang, sisi pertama penuh dengan nilai positif, sisi kedua penuh dengan nilai negatif. Sisi positifnya, dengan IT proses pembelajaran berkembang lebih cepat, lebih efektif, hasil penelitian lebih cepat dalam realisasi dan sosialisasinya. Sedangkan sisi negatifnya bahwa, kebenaran dapat bercampur baur dengan kepalsuan dan kekeliruan. Oleh karena itu, guru dan murid harus memiliki pemikiran kritis untuk dapat menilai antara yang asli dengan yang palsu dan antara yang baik dengan dengan yang buruk. Karena informasi bukan ilmu dan ilmu bukan hikmah.
3.      Sistem dan metodologi pendidikan yang tepat guna dalam proses kependidikan Islam yang kontekstual dengan sains dan teknologi.
           Orientasi dan sistem pendidikan Islam di perguruan tinggi  maupun di madrasah atau di sekolah-sekolah umum tidak perlu lagi terjadi  dikotomis antara sains dengan Islam. Pendidikan Agama Islam di semua jenjang pendidikan tersebut harus dilakukan dengan pendekatan  yang bersifat holistic, integralistik dan fungsional.[20] Dengan pendekatan holistic, Islam harus dipahami secara utuh, tidak parsial dan partikularistik dengan mengikuti pola iman, ibadah dan akhlaqul karimah tanpa terpisah satu dengan yang lain sehingga dapat memperkaya pemikiran dan wacana keislaman dan melahirkan kualitas moral (akhlaq al-karimah) sebagai tujuan dari pendidikan agama itu sendiri. Dengan pendekatan integralistik, pendidikan agama tidak boleh terpisah dan dipisahkan dari pendidikan sains dan teknologi. Sedangkan dengan pendekatan secara fungsional, pendidikan agama harus menjadi  way of life seseorang dan berguna bagi kemaslahatan umat serta mampu menjawab tantangan dan perkembangan zaman.
           Selanjutnya di sini  penulis contohkan tentang UIN Malang dengan Fakultas Sains dan Teknologi  hadir sebagai jawaban atas problematika keilmuan di atas dalam konteks relasi sains dan Islam. UIN Malang dicita-citakan sebagai  center  of excellent bagi pengembangan keilmuan dan keislaman, sehingga terbentuk komunitas ilmiah-religius yang bersendikan Islam. Bukan sekedar pengawal, penjaga dan pelestari tradisi yang ada. Tidak saja piawai sebagai pemroduk “Guru Agama” dan “Kyai Tradisional”, melainkan mampu melahirkan “Kyai-kyai professional” di dalam mengurus pesantren perikanan, pesantren peternakan, pesantren perindustrian dan sebagainya.[21]
Dari segi metodologi, pendidikan dan pengajaran agama di semua jenjang pendidikan dalam penggunaan metode pembelajaran harus berfungsi secara efektif dalam proses pencapaian tujuan pendidikan agama Islam. Menurut Bakar, ada dua macam metodologi pengajaran. Pertama metodologi konseptual. Pendekatan ini terkait dengan pendekatan (approaches) dalam rangka memahami ajaran Islam. Di dalamnya terdapat pendekatan filosofis, pendekatan sejarah atau historis, pendekatan sosiologis, dan sebagainya. Kedua pendekatan teknikal yang terkait dengan isu-isu peralatan pengajaran (technical teaching tools), seperti penggunaan video, presentasi power point, internet, dan lain sebagainya.[22]
Pada saat ini, dengan adanya inovasi pembelajaran metode pembelajaran pun makin beragam dan bervariasi. Namun apapun metode yang digunakan, essensi  dari pendidikan Agama ini  dilakukan dengan memberikan penekanan pada aspek afektif melalui praktik dan pembiasaan, pengalaman langsung dan keteladanan perilaku dan amal shalih.  
Hakikat mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dimasukkan ke dalam kurikulum adalah agar generasi muda Indonesia bukan hanya cerdas dan pandai dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga menjadi manusia Indonesia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Sehubungan dengan itu, maka : (1Pendidikan Agama diharapkan mampu membentengi peserta didik dalam  mengantisipasi dampak- dampak negatif dari perkembangan sains dan teknologi terhadap nilai-nilai etika keagamaan Islam dan nilai-nilai moral.        Pendidikan agama hendaknya tidak sekedar transfer of knowledge semata dengan menyentuh  aspek kognitif dan kecerdasan intelektual (IQ) semata, tapi juga menyentuh kecerdasan emosi (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ) peserta didik. Dengan demikian,  Pendidikan Agama Islam memiliki karakter  sebagai berikut : (1) PAI berusaha untuk menjaga akidah peserta didik agar tetap kokoh dalam situasi dan kondisi apa pun; (2) PAI berusaha menjaga dan memelihara ajaran dan nilai-nilai yang tertuang dan terkandung di dalam Al-Qur’an dan al-Sunnah serta ontensitas keduanya sebagai sumber utama ajaran Islam; (3)PAI menonjolkan kesatuan iman, ilmu, dan amal dalam kehidupan keseharian; (4) PAI berusaha membentuk dan mengembangkan kesalehan individu dan sekaligus kesalehan sosial; (5) PAI menjadi landasan moral dan etika dalam pengembangan ipteks…[23]
4.        Guru agama sebagai hasil (produk) lembaga pendidikan profesional keguruan harus memiliki kompetensi yang mencerminkan guru yang professional pula.
          Pembelajaran PAI merupakan sebuah sistem yang di dalamnya terdapat berbagai komponen yang saling terkait dan memiliki fungsi masing-masing. Salah satu komponen terpenting yang sangat menentukan keberhasilan pembelajaran PAI adalah komponen sumber daya manusia, yaitu guru/dosen.
         Menurut Muhammad Surya seperti yang dikutip Ramayulis kompetensi guru agama sekurang-kurangnya ada empat, yaitu: menguasai substansi materi pelajaran, menguasai metodologi mengajar, menguasai teknik evaluasi dengan baik, memahamai, menghayati, dan mengamalkan nilai-nilai moral dan kode etik profesi.[24] Pemerintah dalam kebijakan pendidikan nasional telah merumuskan kompetensi guru ada empat, hal tersebut tercantum dalam Penjelasan Peraturan Pemerintah No 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, yaitu kompetensi pedagogik, kepribadian, profesional, dan sosial.[25]
Dengan demikian seorang guru Pendidikan Agama Islam dituntut untuk dapat melaksanakan peranan bukan hanya sekedar melaksanakan proses transformasi ilmu, tetapi juga harus dapat melaksanakan tugasnya sebagai pendidik, artinya guru juga harus dapat membentuk sikap dan perilaku peserta didiknya sebagai cerminan dari sikap dan perilaku yang sesuai dengan ajaran agama Islam.  Selain itu untuk memperoleh hasil yang optimal guru dituntut tidak hanya mengandalkan terhadap apa yang ada di dalam kelas (apalagi hanya membaca buku ajar), tetapi harus mampu dan mau menelusuri serta mendayagunakan berbagai sumber pembelajaran yang diperlukan seperti majalah, surat kabar, dan internet. Hal ini penting agar apa yang dipelajari sesuai dengan kondisi dan perkembangan masyarakat, sehingga tidak terjadi kesenjangan dalam pola pikir peserta didik .
Penguasaan bahan ajar yang berkaitan dengan materi pokoknya dari ilmu-ilmu lain seringkali sangat dibutuhkan dalam memberikan penjelasannya. Hal ini menjadi sebuah kebutuhan di masa sekarang, di mana arus informasi begitu cepat untuk diketahui siswa. Dengan mengintegrasikan materi pelajaran Pendidikan Agama Islam dengan ilmu lain akan menjadikan proses pembelajaran lebih bermakna dan semakin mudah dipahami siswa, tidak sekedar mata pelajaran yang bersifat dogmatis. Apalagi kalau ditinjau lebih ke dalam, pemahaman tentang Islam sendiri juga beragam, sehingga tidak heran jika dalam memahami Al-Qur’an dan Hadis sebagai sumber pokok dalam Islam banyak sekali pendapat yang berbeda, bahkan tidak sedikit yang bertolak belakang. Terhadap bahan dari ilmu lain yang ada hubungannya dengan materi pelajaran PAI, guru tidak harus tahu secara mendetail. Cukuplah gambaran umum sebagai penunjang untuk memahami materi pokoknya.  Berikut beberapa contohnya :[26]
Ø   Dalam materi kelas 9 tentang Iman Kepada Hari Kiamat. Dalam praktiknya agar pembelajaran lebih bermakna dan mudah dipahami, guru sedikit banyak tahu tetang ilmu astronomi, fisika, biologi, kimia, matematika, vulkanologi, demografi dan lain-lain. Guru seharusnya juga tahu tentang gejala atau fenomena-fenomena  alam yang menjadi pemberitaan media massa, baik tingkat lokal, regional maupun global.
Ø   Materi tentang Iman Qadha dan Qadar. Agar pembelajaran bermakna maka dalam menyampaikan contoh konkrit tidak cukup sebatas mati, rizki, jodoh. Setidaknya guru juga tahu banyak contoh lain, yang jika ditinjau dari ilmu lain akan lebih memudahkan dalam pemahaman dan penerapannya, serta dapat meningkatkan keimanan siswa. Mulai dari ilmu bumi, kedokteran, sosial dan budaya, geografi, dan lain-lain.
Ø   Pemahaman tentang mati suri. Pada acara Kick Andy yang disiarkan salah satu stasiun televisi, pernah menayangkan orang yang mati suri secara langsung. Orang yang mati suri melibatkan warga Muslim, dan agama yang lain. Akibat dari tayangan itu, muncul kegundahan dalam diri siswa dalam memahami konsep kematian. Karena dari empat orang yang “diuji coba” mati suri dengan latar belakang agama yang berbeda, ternyata pengalamannya berbeda-beda. Untuk menjelaskan hal tersebut, setidaknya guru perlu tahu sedikit ilmu kedokteran, anatomi, dan psikologi. Pada akhirnya muara dari penjelasan mati suri masuk ke dalam materi Qadha Qadar dan Kiamat Sughra. Tentunya dengan penjelasan yang mengglobal tersebut lebih memudahkan pemahaman siswa tentang ajaran Islam dari hasil tayangan di televisi.
Selain itu dengan pemanfaatan teknologi materi pendidikan agama dapat juga disampaikan dengan cara berikut ini :
§  materi syariah, maka dapat divisualkan perkembangan institusi-isntitusi berdasarkan syariah sepanjang sejarah.
§  materi ibadah dapat divisualkan cara-cara wudlu dan  shalat yang benar, tuntunan palaksanaan rangkaian ibadah haji,  dan sebagainya.
§  materi muamalah dapat divisualkan proses transaksi bank-bank Islam, transaksi jual beli dan sebagainya.
§  materi aqidah dapat dapat divisualisasikan  contoh-contoh-contoh ciptaan Allah atau peristiwa-peristiwa yang menakjubkan  sebagai bukti kekuasaan Allah dan sifat-sifatnya  yang terkandung dalam Asma al-Husna.
§  sejarah peradaban Islam dapat ditayangkan film tentang perjuangan nabi (selain nabi boleh divisualkan) seperti perang badar dan perang uhud. Film tentang penyebaran Islam di Nusantara (wali songo) yang menyebarkan Islam melalui bisnis dan perdagangan, film tentang tokoh saintis muslim seperti Ibnu Sina, al-Ghazali, dan sebagainya.
§  bidang seni dapat divisualkan tentang keindahan seni kaligrafi, seni nasyid, seni sastra, dan sebagainya.
Oleh karena itu perlunya guru PAI membekali dirinya dengan ketrampilan pemanfaatan teknologi dan senantiasa mengembangkan wawasan keilmuan yang berhubungan langsung dengan materi pelajaran, dan hal-hal lainnya yang berkaitan  agar dapat membantu pemahaman siswa. Selain itu Guru Agama juga harus memiliki kompetensi profesional dalam hal  penguasaan materi pelajaran secara luas dan mendalam terkait dengan mata pelajaran lainnya (sains) dan mengerti tujuan proses pembelajaran terhadap materi yang diajarkan dan hasil yang akan didapat, serta  melengkapi dengan kompetensi-kompetensi lainnya sebagaimana telah diuraikan di muka.

III  PENUTUP

             Penggunaan informasi dan teknologi (IT) sangat dibutuhkan dalam pembelajaran pendidikan agama Islam, baik dilihat secara filosofis maupun praktis. Informasi dan teknologi adalah alat bantu yang berfungsi mempermudah kebehasilan tujuan pembelajaran PAI. IT memiliki nilai positif dan negatif. Oleh karena itu, guru dan siswa harus memiliki daya kritis dalam menggunakan kecanggihan IT untuk hal-hal yang positif dan menghindari penggunaan IT untuk hal-hal yang berdampak negative. Teknologi miliki peran yang sangat besar, yaitu mampu meningkatkan kualitas pembelajaran PAI, memudahkan riset, membantu guru dan dosen dalam menjelaskan konsep dan ide dengan cara yang lebih mudah. IT juga mampu menyajikan pembelajaran lebih menarik.
IT merupakan fasilitas yang wajib disediakan oleh pihak sekolah atau universitas, karena guru dan dosen berhak mendapatkan fasilitas IT, baik dari segi pelatihan dan penyediaan sarananya.
Sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas yang cerdas komprehensif dan cerdas kompetitif serta menguasai sains dan teknologi merupakan salah satu kunci sukses dalam menghadapi globalisasi. Guru dan murid yang trampil dalam menggunakan komputer dan mengakses informasi dari internet memudahkan dalam integrasi Pendidikan Agama Islam dengan sains dan teknologi.
Dalam kaitannya dengan integrasi  pendidikan Agama  Islam dengan sains dan teknologi, dibutuhkan sistem pendidikan yang  kurikulumnya memadukan antara sains dengan pendidikan agama. Karena dalam Islam tidak pernah mendikotomikan (memisahkan   dengan tanpa saling terkait) antara ilmu-ilmu agama dan umum. Pendidikan Agama Islam yang terdiri atas Al-Qur’an-Hadis, Akidah Akhlaq, Fiqih, Sejarah  dan Kebudayaan Islam  menjadi motivator, pembimbing dan dinamisator bagi pengembangan kualitas IQ (Intelligent Quotient), EQ (Emotional Quotient), CQ (Creativity Quotient), dan EQ Spiritual Quotient). PAI merupakan inti, sehingga bahan-bahan kajian yang termuat dalam  sains dan pelajaran umum lainnya di samping harus mengembangkan kualitas IQ, EQ, CQ, dan SQ, juga harus dijiwai oleh ajaran dan nilai-nilai Islam (PAI).
Pengembangan  semua bahan kajian atau mata pelajaran tersebut harus didukung oleh guru dan tenaga kependidikan yang memiliki kompetensi pedagogis religious, personal religious, social religious dan professional religious, yang juga mengembangkan kualitas IQ, EQ, CQ dan SQ serta didukung oleh media dan sumber belajar dan/fasilitas serta dana yang memadai. Sebagai konsekuensinya, guru PAI dan guru-guru mata pelajaran lainnya harus saling berinteraksi secara kompak dan melakukan interkoneksi mulai dari pengembangan perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi pembelajaran.
Selain itu guru PAI membekali dirinya dengan ketrampilan pemanfaatan teknologi dan senantiasa mengembangkan wawasan keilmuan yang berhubungan langsung dengan materi pelajaran, dan hal-hal lainnya yang berkaitan  agar dapat membantu pemahaman siswa. Selain itu Guru Agama juga harus memiliki kompetensi guru dalam melaksanakan kewajiban-kewajiban secara bertanggung jawab dan layak. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menuntut guru untuk memiliki kompetensi pedagogis, personal, profesional, dan sosial.
Sistem belajar mengajar inovatif dan kreatif perlu digalakkan di lembaga-lembaga pendidikan Islam pada khususnya dan dalam kegiatan belajar mengajar agama di sekolah-sekolah umum pada semua jenjang. Sistem belajar mengajar yang taklidi (dogmatis) dalam Pendidikan Agama Islam harus segera ditinggalkan. Guru Agama atau Dosen perlu menjalin hubungan akrab dengan para ilmuan muslim dalam sains dan teknologi khususnya, untuk bertukar pikiran masalah-masalah keagamaan terkait kedua bidang tersebut atau studi banding ke tempat-tempat perindustrian besar seperti pembuatan alat-alat transportasi dan komunikasi, tempat peternakan,  pengawetan makanan dan minuman dan lain sebagainya. Dengan melihat fakta langsung di lapangan, para guru dan dosen agama mampu menjelaskan tentang sains dan teknologi juga bidang-bidang lainnya yang terkait dengan materi agama yang diajarkan.


DAFTAR PUSTAKA

Djamaludin Ancok dan Fuat Nashori Suroso, Psikologi Islami Solusi Islam atas Problem-Problem Psikologi, (Yogyakarta :Pustaka Pelajar. 1994)





http:/www.scribd.com/doc/36601185/Iptek-Dalam-Islam, diakses 11 Nopember 2011

Jujun S. Suriasumantri, Filasafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, (Jakarta : Pustaka Sinar Harapan, 2009)

Kementerian Pendidikan Nasional, http://www.kemdiknas.go.id/media/103777/permen _27_2008.pdf, diakses 6 Nop 2011.

M. Arifin, Kapita Selekta Pendidikan (Islam dan Umum),(Jakarta : Bumi Aksara, 1995)

Marwan Saridjo, Bunga Rampai Pendidikan Agama Islam, (Jakarta : Amissco, 1996)

Muhaimin, Pemikiran dan Aktualisasi Pengembangan Pendidikan Islam, (Jakarta : RajaGrafindo Persada, 2011)

---------------------,. Paradigma Pendidikan Islam, Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama Di Sekolah , (Bandung ; Rosdakarya., 2001)
Ramayulis, Metodologi Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: Kalam Mulia,2005 )


Samsul Nizar dan Muhammad Syarifudin, Isu-Isu Kontemporer tentang Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2010)

Sulaiman Nordin, Sains Menurut Perspektif Islam, terj. Munfa’ati, (Kuala Lumpur,  Dwi rama,2000)


[1]Muhaimin. Paradigma Pendidikan Islam, Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama Di Sekolah , (Bandung ; Rosdakarya., 2001), 85
[2] http:/www.scribd.com/doc/36601185/Iptek-Dalam-Islam, diakses 11 Nopember 2011
[3] Muhaimin, . Paradigma Pendidikan Islam,  86.
[4] Dewasa ini PGA difungsikan menjadi Madrasah Aliyah dan untuk menyiapkan Guru Agama Islam dilakukan Fakultas Tarbiyah STAIN / IAIN
[5] Marwan Saridjo, Bunga Rampai Pendidikan Agama Islam, (Jakarta : Amissco, 1996), 37
[6] M. Arifin, Kapita Selekta Pendidikan (Islam dan Umum),(Jakarta : Bumi Aksara, 1995), 5.
[7] Jujun S. Suriasumantri, Filasafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, (Jakarta : Pustaka Sinar Harapan, 2009),  295
[9] Sulaiman Nordin, Sains Menurut Perspektif Islam, terj. Munfa’ati, (Kuala Lumpur, Dwi rama,2000), 150.
[10] Samsul NIzar dan Muhammad Syarifudin, Isu-Isu Kontemporer tentang Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2010),  121.
[11] M. Arifin, Kapita Selekta Pendidikan, 47         
[13] Muhaimin, . Paradigma Pendidikan Islam
[14] Muhaimin, Pemikiran dan Aktualisasi Pengembangan Pendidikan Islam, (Jakarta : RajaGrafindo Persada, 2011), 194
[15] Djamaludin Ancok dan Fuat Nashori Suroso, Psikologi Islami Solusi Islam atas Problem-Problem Psikologi, (Yogyakarta :Pustaka Pelajar. 1994), 103
[16] Muhaimin, Pemikiran dan Aktualisasi Pengembangan Pendidikan Islam,  89
[17] Ibid., 92
[18] Ibid., 93
[23] Muhaimin, Pemikiran dan Aktualisasi Pengembangan Pendidikan, 183
[24] Ramayulis, Metodologi Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: Kalam Mulia,2005 ),  60
[25] Kementerian Pendidikan Nasional, http://www.kemdiknas.go.id/media/103777/  permen _27_2008.pdf, diakses 6 Nop 2011.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar