Pengembangan Pendidikan Agama Islam: Reinterpretasi Berbasis Interdisipliner

Pengembangan Pendidikan Agama Islam

--- SELALU ADA YANG BARU DI BLOG BANJIR EMBUN: "Kami Mengucapkan Terima Kasih Atas Kunjungan Anda. Bila butuh bantuan atau ada pertanyaan silakan hubungi ke nomor 08563350350 atau kirim email ke: banjirembun@yahoo.co.id subjek: BanjirEmbun Menjawab”---

Selasa, 01 Oktober 2013

Syi'ah dan Sunni: Konflik Antara Buwaihi dan Saljuq


Lihat juga profil lengkap buku ke-2 A. Rifqi Amin berjudul "Pengembangan Pendidikan Agama Islam: Reinterpretasi Berbasis Interdisipliner"

 BUKU-BUKU KARYA A. RIFQI AMIN TERBEBAS DARI KEJAHATAN ILMIAH (UTAMANYA PLAGIASI)!!!

DOWNLOAD BAGIAN BUKU 

"PENGEMBANGAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM: REINTERPRETASI BERBASIS INTERDISIPLINER"

FORMAT PDF  >> di sini <<


Link Terkait buku A. Rifqi Amin:




SYI’AH DAN SUNNI; KONFLIK ANTARA BUWAIHI DAN SALJUQ


BAB I   PENDAHULUAN

A.           LATAR BELAKANG
            Munculnya Dinasti Abbasiyah dalam sejarah peradaban Islam, telah membawa perubahan yang cukup signifikan dan radikal dalam catatan sejarah Islam. Hal ini tidak hanya sekedar pergantian kekuasaan saja, akan tetapi lebih dari itu adalah pergantian struktur sosial dan ideology.  Karena itu, mayoritas ahli sejarah menilai bahwa kebangkitan Dinasti Abbasiyah merupakan suatu revolusi.
            Menurut Richard N. Frye cirri-ciri yang menyertai kebangkitan Dinasti Abbasiyah sama dengan ciri-ciri yang menyertai revolusi di berbagai Negara di dunia modern sekarang ini  yaitu :[1] (1) Bahwa pada masa sebelum revolusi, ideology yang berkuasa mendapat kritik yang keras dari masyarakat yang disebabkan oleh kekecewaan dan penderitaan masyarakat yang ditimbulkan oleh ketimpangan-ketimpangan dari ideology yang berkuasa itu, (2) mekanisme pemerintahannya tidak efisien karena kelalaiannya dalam beradaptasi terhadap perkembangan dan perubahan-perubahan zaman yang terjadi secara dinamis, (3) terjadinya penyebarangan kaum intelektual dari kondisi awal yaitu mendukung ideologi penguasa kepada wawasan baru yang ditawarkan, (4) bahwa revolusi itu pada umumnya bukan hanya dipelopori dan digerakkan oleh orang-orang lemah dan bawahan, melainkan juga dipelopori dan digerakkan oleh kaum penguasa yang karena hal-hal tertentu merasa tidak puas dengan sistem yang ada atau sistem yang berjalan. Selama Dinasti Abbasiyah berkuasa, pola pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik, social dan  budaya.
            Berdasarkan perubahan pola pemerintahan dan politik itu, para sejarawan membagi masa pemerintahan Bani Abbas menjadi lima periode :[2]
1.      Periode Pertama (132 H/750 M – 232 H/847 M), disebut periode pengaruh Persia pertama
2.      Periode Kedua (232 H/847 M – 334 H/945 M) disebut masa pengaruh Turki pertama
3.      Periode Ketiga (334 H/945 M – 447 H/1055 M) masa kekuasaan Dinasti Buwaihi dalam pemerintahan khalifah Abbasiyah  disebut juga masa pengaruh Persia kedua
4.      Periode Keempat (447 H/1055 M – 590 H/1194 M masa kekuasaan Dinasti Bani Seljuk dalam pemerintahan khalifah Abbasiyah disebut juga dengan masa pengaruh Turki kedua
5.      Periode Kelima (590 H/1194 M – 656 H/1258 M, masa khalifah bebas dari pengaruh dinasti lain, tetapi kekuasaannya hanya efektif di sekitar Baghdad.
Pada periode pertama dinasti Abbasiyah mampu mengatasi berbagai gerakan politik internal dan eksternal yang merongrong pemerintah dan gerakan-gerakan massa yang mengganggu stabilitas yang muncul dimana-mana. Keberhasilan ini semakin mengukuhkan posisi dan kedudukan mereka sebagai pemimpin yang tangguh.  Namun dalam perjalanan selanjutnya pencapaian kemajuan peradaban dan kebudayaan periode pertama ini membawa para penguasa Abbasiyah, hartawan dan anak-anak pejabat untuk hidup mewah. Keadaan ini ditambah lagi dengan kelemahan khalifah dan faktor lainnya menyebabkan roda pemerintah terganggu dan rakyat menjadi miskin. Kondisi ini memberi peluang kepada tentara profesional asal Turki yang semula diangkat oleh Khalifah al-Mu’tashim untuk mengambil kendali pemerintah. Usaha mereka berhasil, sehingga kekuasaan sesungguhnya berada di tangan mereka. Kekuasaan khalifah yang mulai memudar merupakan awal dari keruntuhan dinasti ini. Dan merupakan prestasi sejarah tersendiri bahwa walaupun kekuasaan khalifah telah pudar namun dinasti ini masih dapat bertahan lebih dari empat ratus tahun.
Hadirnya Bani Buwaihi dan Bani Saljuk dalam pemerintahan Dinasti Abbasiyah tidak berarti kekuasaan Abbasiyah hilang. Kekuasaan Khalifah memang menjadi hilang pada tataran temporal (kekuasaan  yang berorientasi pada keduniaan di mana khalifah bertindak sebagai pemegang otoritas dalam pemerintahan), namun tetap  pada tataran spiritual (berorientasi pada keagamaan dimana khalifah berfungsi sebagai wakil Tuhan di muka bumi).[3] Dengan demikian kekuasaan  khalifah Bani Abbas hanya dijadikan penguasa simbolik (dejure) dan pengendalian pemerintahan secara defakto berada di tangan para amir yaitu Bani Buwaihi dan Bani Saljuq.

B.            RUMUSAN MASALAH
  
              Bertolak dari latar belakang di atas , maka pembahasan makalah ini difokuskan pada masalah-masalah berikut ini ;
A.           SEJARAH PERJALANAN DINASTI BUWAIHI
1.  Kemunculan Dinasti Buwaihi Dalam Kekuasaan Dinasti Abbasiyah
2.    Prestasi Dinasti Buwaihi
3.    Kemunduran Dinasti Buwaihi
B.            SEJARAH PERJALANAN DINASTI SALJUQ
1.      Kemunculan Dinasti Saljuq Dalam Kekuasaan Dinasti Abbasiyah
2.      Prestasi Dinasti Saljuq
3.      Keruntuhan Dinasti Saljuq
C.            KONFLIK  BANI BUWAIHI DAN BANI SALJUQ
1.      Latar Belakang Pemicu konflik


BAB II PEMBAHASAN

A.                     SEJARAH PERJALANAN  BANI BUWAIHI

1. Kemunculan Bani Buwaihi Dalam Kekuasaan Dinasti Abbasiyah
Periode Buwaihi dimulai pada tahun 334 H/945 M sampai tahun 447 H/1055 M. Pada periode ketiga ini posisi Daulah Abbasiyah berada di bawah kekuasaan bani Buwaihi. Keadaan khalifah lebih buruk ketimbang pada masa sebelumnya, karena Bani Buwaihi menganut aliran Syiah yang kuat dan keras serta memiliki kebebasan yang tinggi.[4] . Akibatnya kedudukan khalifah tidak lebih sebagai pegawai yang diperintah dan diberi gaji.
Masyarakat Buwaihi merupakan suku Dailami yang berasal dari kabilah Syirdil Awandan dari dataran tinggi Jilan sebelah selatan Laut Kaspia. Profesi mereka yang terkenal adalah sebagai tentara, khususnya infantri bayaran. Dinasti Buwaihi merupakan dinasti yang dibangun oleh elite politik dan militer dari tokoh-tokoh nomadik dengan bantuan militer budak mereka menggantikan kedudukan elite birokrasi dan tuan tanah yang telah kehilangan otoritasnya.[5] Kehadiran Bani Buwaihi berawal dari tiga orang putra Abu Ayuja Buwaihi yang berprofesi sebagai pencari ikan yang tinggal di daerah Dailam sekitar Laut Kaspia, yaitu: ‘Alî ibnu Bûwayh yang oleh khalifah al-Mustakfî digelari sebagai ‘Imâd al-Daulah, Hasan ibnu Bûwayhi bergelar Rukn al-Daulah  dan Ahmad ibnu Bûwayhi bergelar Mu’iz al-Daulah. 
            Banyak  faktor yang  mendukung kemunculan Bani Buwaihi, antara lain: kekuasaan khalifah yang telah melemah dan mengandalkan panglima perangnya, dengan demikian Irak berada di bawah kendali amîr al-umarâ,  perpecahan dalam Kerajaan Abbasiyah pada tahun 324 H/ 935 M mengakibatkan  kerajaan Islam yang berada   di bawah Dinasti Abbasiyah terpecah belah menjadi kerajaan-kerajaan kecil, kemewahan hidup melanda para pembesar kerajaan dan perselisihan di masyarakat ibu kota Baghdad.
Kemunculan Dinasti Buwaihi  yang kemudian mampu mengembangkan diri dan eksis selama 110 tahun, menurut analisa Joel L. Kraemer bukanlah suatu kebetulan, ia menyatakan bahwa munculnya Dinasti Syi’ah yang bersamaan dengan pertumbuhan yang pesat dari sebuah kebudayaan yang sangat besar, ketika para pelaku dan penerusnya sering merupakan orang-orang Muslim non-Sunni, atau Non-Muslim, tentu bukan merupakan fenomena yang bersifat kebetulan. Pandangan luas yang telah memberikan konstribusi terhadap pertumbuhan budaya ini dapat pula dianggap berasal dari orientasi ke-Iran-an (baca: Persia) dari anggota-anggota dinasti ini dan perwakilan-perwakilannya. Penerimaan terhadap kultur Iran pra-Islam menumbuhkan sikap positif terhadap warisan dari peradaban-peradaban besar pra- Islam. [6]       
Adapun penguasa Bani Buwaihiyyah (945 -1055 M) sebagai berikut : (1)Muizz al- Dawlah (945-949), (2) ‘Adud al-Dawlah (949-983), (3) Syaraf al-Dawlah  (983-989), (4) Ṣamṣần al-Dawlah (989-998), (5) Baha’ al-Dawlah  (998-1012), (6) Sultan al-Dawlah 1012-1024), (7) Imad al-Dawlah (1024-1048), (8) Khusru Firus Malik al-Raḫỉm (1048-1055).
2.     Prestasi Bani Buwaihi

            Kekuasaan Bani Buwaihi berlagsung selama 110  tahun, yaitu dari tahun 945 sampai 1055 M.  Banyak kemajuan yang dicapai selama pemerintahan lebih seabad itu.          Para ahli sejarah sepakat bahwa kemajuan dan kejayaan Dinasti  Buwaihi diperoleh ketika pemerintahan Adus al-Dawlah. Philip K. Hitti  bahkan menyebutnya sebagai “the greatest Buwayhid, the most illustrious ruler of his time”  (penguasa paling termasyhur di masanya). [7] Berikut ini paparan dari prestasi yang telah dicapai oleh dinasti Buwaihi :

A.    DINAMIKA KEAGAMAAN
     Pada masa awal kemunculan Buwaihi Syi’ah Imamiyyah merupakan aliran Syi’ah yang berpengaruh di Irak dan Iran. Ajarannya secara aktif dielaborasi oleh tokoh-tokohnya yang legendaris seperti: (1). Al-Kulini (atau Al-Kulaini) yang wafat pada tahun 329 H/941 M, (2) . Ibn Babuya atau Babawaih yang wafat pada tahun 381 H/991 M, (3). Al-Syaikh Al-Muftid  juga dikenal sebagai Ibn Al-Mu’allim – yang wafat pada tahun 413 H/1022 M.
     Meskipun Bani Buwahi menganut aliran Syi’ah akan tetapi tidaklah bertindak memaksakan aliran Syi’ah itu kepada masyarakat. Setiap pihak memperoleh kebebasan penuh untuk menganut aliran yang dipeganginya maupun keyakinan keagamaan yang dipercayainya. Namun demikian, walaupun toleransi keagamaan dikembangkan oleh pemerintah – Mu’izz Al-Daulah tetap saja terdapat riak-riak yang menggambarkan intoleransi. Ketegangan-ketegangan antar aliran memang sudah memburuk sebelum Buwaihi berkuasa.. Salah satu contoh kondisi intoleransi ini adalah perampasan kekuasaan oleh golongan Sunni terhadap perkampungan Karkh yang Syi’ah yang terjadi pada musim panas tahun 338 H/949 M dan saat itu Mu’izz Al-Daulah tidak berada di ibu kota. Kerusuhan ini telah menelan banyak korban jiwa dan menyebar sampai ke perkampungan yang sebagian penghuninya adalah Syi’ah.

B.            DINAMIKA SOSIAL POLITIK.
Dinamika sosial masyarakat pada dinasti Buwaihi pada tulisan ini hanya difokuskan pada penduduk Baghdad yang pada abad ke-4 H/9 M telah padat populasinya, yakni sekitar seperempat sampai setengah juta jiwa. Berbagai hal menjadi penyebab kesulitan kehidupan di kota yang padat penduduk ini, antara lain: (1). Kekurangan fasilitas ,(2). Pelayanan yang tidak tepat (3). Kemulti-etnik-an penduduk, khususnya keragaman komposisi orientasi keagamaan masyarakat (4). Kekurang-efisienan administrasi perkotaan. [8] Menyadari hal-hal tersebut maka tidak mengherankan bila Baghdad pada pertengahan dan akhir abad ke-10 M – pada masa kejayaan Buwaihi – telah mencapai puncaknya dalam pertumbuhan kota tetapi dalam saat yang sama memasuki masa kemunduran sosial-ekonomi.        
Ketakutan akan kemerosotan sosial-ekonomi berbanding terbalik dengan pembangunan istana. Pembangunan istana digalakkan dengan penuh semangat. Pemerintahan Buwaihi memiliki semangat yang menggebu dalam menjalankan program pembangunan kerajaan. Mu’izz Al-Daulah, pada 350H/961 M, mendirikan sebuah istana yang besar (Dar Al-Mu’iziyyah [Istana Keluarga Mu’izz]) di Pintu Gerbang Syammasiyyah, termasuk lapangan upacara yang luas (maidan), dermaga, dan taman-taman. Biaya pembangunan yang dilakukan secara besar-besaran ini diperkirakan mencapai 12 juta atau 13 juta dirham (sekitar 1 juta dinar). Adhud Al-Daulah membangun sebuah istana (‘Adhudi Dar Al-Mamlakah [Istana Kerajaan ‘Adhud Al-Daulah]). Ia membangun taman-taman yang sangat indah dan mengeluarkan biaya yang sangat besar guna melengkapi ketersediaan sarana dan prasarana untuk menyirami taman-taman tersebut dengan mengalirkan air dari Kanal Khalish.  Ia juga membangun rumah sakit terkenal yang disebut Bimaristan Al-‘Adhudi (Rumah sakit ‘Adhud Al-Daulah) (372 H/982 M) dengan memakan biaya 100.000 dinar atau 2 juta dirham; memiliki 24 dokter ahli yang sekaligus menjadi guru besar di fakultas kedokteran.[9]
Konsep politik dinasti Buwaihi adalah bentuk kekuasaan bersama Abbasiyyah-Syi’ah, sedangkan bentuknya adalah patrimonial[10] dan kekeluargaan. Oleh sebab itu pola kepemimpinan tiga pemimpin Buwaihi yang pertama dipererat oleh ikatan-ikatan persaudaraan dari para pendirinya.[11] Prinsip kekeluargaan ini dapat dilihat dari kebiasaan mendahulukan yang lebih tinggi dan menghormati yang lebih tua.
Selama ini secara teori Bani Buwaihi menolak pemerintahan Khalifah Abbasiyah yang Sunni, tapi ketidak adanya kekuatan , mereka menerima khalifah tersebut (taqiyah) dan lebih berkonsentrasi pada pengajaran agama.[12]Meskipun Bani Abbas beraliran sunni dan Buwaihi adalah Syi’ah, namun penguasa Buwaihi tidak berusaha menghapuskan kekhalifahan ‘Abbasiyyah. Tentu saja kebijakan ini didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan praktis, yaitu:  (1)Mayoritas penduduk Baghdad dan Irak pada umumnya Sunni oleh sebab itu mereka harus mampu menjaga keseimbangan yang sulit antara sentimen Syi’ah di satu pihak dan tekanan Sunni di pihak lain, (2)Buwaihi memerlukan media legislasi atas kekuasaannya dari otoritas khalifah Abbasiah yang tersebar luas di Irak dan di dunia Islam umumnya, (3) Dukungan formal khalifah Abbasiyah diperlukan untuk mendapatkan dukungan dari Bani ‘Aliyyah yang sah.
            Oleh sebab itu kekhalifahan Abbasiyah tetap dijaga namun roda pemerintahan berada sepenuhnya di tangan Buwaihi. Atau dengan kata lain, khalifah memegang otoritas spiritual tanpa kekuasaan temporal yang riil. Kekuasaannya telah digeser oleh wazir sehingga pengaruhnya hanya terbatas pada pembuataan kebijakan-kebijakan keagamaan berkenaan dengan golongan Sunni di Baghdad dan pengawasan terhadap beberapa urusannya sendiri (yang terbatas). Secara fisik administratif dapat dinyatakan bahwa pergeseran kekuasaan dari khalifah kepada amir adalah pemusatan kontrol politik dan administrasi dari Istana Kekhalifahan (Dar Al-Khilafah) ke Istana Kerajaan (Dar Al-Mamlakah) yang baru saja didirikan di Baghdad. Buwaihi sadar sepenuhnya bahwa berdasarkan hukum syari’ah khalifah berkewajiban memimpin jihad dan membela kaum Muslim. Oleh sebab itu Buwaihi tidak menanggalkan hak prerogratif khalifah ini, tetapi untuk membatasi kekuasaan khalifah dalam hal ini mereka tidak memberikan akses kepada khalifah terhadap sarana-sarana dan sumber-sumber dalam melakukan hak tersebut. Sementara itu pembagian kekuasaan di antara amir (raja) dan khalifah tidak mengandung pengertian adanya pemisahan yang tajam antara bidang-bidang keduniaan dan keagamaan.
C.     DINAMIKA INTELEKTUAL
. Pada masa pemerintahan Adud al-Daula (di Syiraz 949-978 dan di Baghdad 978-983) Fars dan Iraq diliputi oleh kedamaian dan keamanan sehingga perkembangan kebudayaan mencapai puncaknya. Adud al-Daula sendiri merupakan orang yang mencintai ilmu pengetahuan. Ia pernah memberikan bea siswa sebesar 50.000 dirham bagi orang-orang yang mampu menguasai tata bahasa yang disusun oleh Abû ‘Alî. Salah satu guru Adud al-Daula adalah seorang sufi ‘Abd al-Rahman penulis buku “al-Kitâb al-Kawâkib al-Tsâbitah”. Perhatiannya dalam ilmu pengetahuan juga diwujudkan dengan membangun perpustakaan yang luas di istananya di Syîrâz dengan koleksi berbagai cabang ilmu pengetahuan.
Kontribusi penting dalam periode Adud al-Dawlah adalah perkembangan astronomi, matematika, dan kedokteran. Pada masa  Dinasti Buwaihi  banyak bermunculan ilmuan antara lain al-Farabi (950 M), Ibnu Sina (1037 M), al-Farqani, Abdul al-rahman al Shufi, Ibn Miskawih, Abu al A’la Ma’ari dan kelompok Ikhwan al Shafa yaitu pergerakan untuk menggali dan mengkaji ilmu pengetahuan dan filsafat namun bukan untuk kepentingan ilmu pengetahuan dan filsafat. Penggalian dan pengkajiannya disandarkan pada harapan untuk membangun masyarakat spiritual etik di mana elit-elit muslim yang heterogen dapat meredakan ketegangan  (perselisihan) yang disebabkan oleh pendekatan, nasionalitas dan madzhab-madzhab yang ada.[13]  
3.     Kemunduran Dinasti Buwaihi
Dinasti Buwaihi sepeninggal Mu’iz ad-Dawlah dilanda konflik, diantaranya adalah :
a.              Konflik internal dimana perebutan kekuasan didalam tubuh dinasti Buwaihi menyebkan kemunduran misalnya perebutan kekuasaan antara Baha, Syaraf, dan saudara ketiga mereka Shamsham ad- Dawlat yang memperebutkan penerus mereka selanjutnya. Konsep Dinasti yang sebelumnya adalah ikatan kekeluargaan antar keluarga menjadi hancur.
b.             Pertentangan aliran-aliran keagaamaan. Sebagaimana diketahui bahwa Dinasti Buwaihi penyebar mazhab Syi’ah yang bersemangat sedangkan rakyat Bagdad kebanyakan beraliran Suni, pada periode awal pertentangan Syi’i dan Suni tidak begitu nampak. Hal ini disebabkan sewaktu kekhalifahan Abbasiyah pimpinan Al-Qodir (991-1031) memimpin peperangan antar syi’ah dan sunni ia menggemborkan Hanbalisme sebagai mazhab resmi Negara.[14]
c.              Bizantium yang makin gencar melakukan serangan-serangan kembali ke dunia Islam dan dinasti-dinasti kecil luar Bagdad yang mulai memanfaatkan situasi dengan melepaskan diri dari kekuasaan Bagdad dan menaklukan wilayah lain seperti Fatimiah di Kairawan menaklukan Mesir dan Sudan.
            Perebutan kekuasan antara Arselan Basasiri sebagai panglima perang dengan Malik Abd Malik sebagai amir al-Umara yang menyebabkan khalifah Fatimiah (al-Mustanshir) diundang oleh Arselan Basasiri pada masa khalifah al-Qa’im untuk menyerang dan menguasai Bagdad . Dari kejadian inilah bermula dimana al-Qa’im akhirnya mengundang Tugril Bek (salah satu Bani Saljuk dari Turki) yang berkuasa di Jibal untuk datang melawan kekuasaan Fatimiah. Tugril Bek Tiba di Bagdad tanggal 18 Desember 1055 M.[15] Malik Abd al-Rahim sebagai dinasti terakhir dari Bani Buwaihi menderita kekalahan atas Tugril Bek. Malik Abd al-Rahim (1048 – 1055) akhirnya dipenjara dan mengakhiri hidupnya dalam kurungan. Selanjutnya Dinasti Buwaihi berakhir dan Tugril Bek salah satu keturunan Bani Saljuk bekerja sama dengan Khalifah Dinasti Bani Abbas.[16]
B.     SEJARAH PERJALANAN DINASTI SALJUQ

1.                Kemunculan Dinasti Saljuq Dalam Kekuasaan Dinasti Abbasiyah

            Pada periode keempat Dinasti Abbasiyah dikuasai oleh Bani Saljuq. Kehadiran Bani saljuq ini atas undangan khalifah untuk melumpuhkan kekuatan Bani Buwaihi di Baghdad. Berdirinya Kerajaan Saljuq  adalah sebuah dinasti Islam yang pernah menguasai Asia Tengah dan Timur Tengah dari abad ke 11 hingga abad ke 14. Mereka mendirikan kekaisaran Islam yang dikenali sebagai Kekaisaran Seljuk Agung. Kekaisaran ini terbentang dari Anatolia hingga ke Rantau Punjab di Asia Selatan. Kekaisaran ini juga adalah sasaran utama Tentara Salib Pertama. Dinasti ini diasaskan oleh suku Oghuz Turki yang berasal dari Asia Tengah. Dinasti Saljuq  juga menandakan penguasaan Bangsa Turki di Timur Tengah. Pada masa itu , mereka dianggap sebagai pengasas kebudayaan Turki Barat yang ketara di Azerbaijan, Turki dan Turkmenistan dan penaung Kebudayaan Persia.[17]
            Bani Saljuq merupakan kepanjangan dari kekhalifahan Bani Abbasiyyah di Baghdad, dinasti ini merupakan periode ke- 2 setelah Bani Abbasiyyah berhasil menumbangkan Dinasti Buwaihi dan Dinasti Ghaznah. Dinasti Saljuq didirikan oleh Tughril Beg pada tahun 429 H/1037 M. Pengumuman pendirian dinasti ini dilakukannya segera setelah kaum Saljuq mengalahkan kaum Ghaznah pada tahun yang sama. Setelah kedudukan dinasti saljuq menjadi kuat dan mantap, barulah diiktiraf oleh Khalifah Abbasiyah pada tahun 432 H.[18] Dinasti ini telah  bertahan memerintah wilayah kekuasaannya selama sekitar dua abad. Kekhalifahan Abbasiyyah resmi berdiri 447-656 H/1055-1258 M dan menjadi bagian dari kerajaan-kerajaan kecil (Muluk al-Thawa’if) Abbasiyyah yang terakhir, sebab pasca kehancuran dinasti saljuq ini, kekhalifahan Abbasiyyah runtuh total dan berakhirlah masa kejayaan Islam.          
      
          Wilayah ini sebelum dikuasai Dinasti Saljuq merupakan wilayah kekuasaan Bani Buwaihi yang menganut aliran Syi’ah, sedangkan Dinasti Saljuq sendiri menganut aliran Sunni. Dinasti Buwaihi ditaklukkan oleh Dinasti Saljuq pada tahun 447 H/1055 M. yang ditandai dengan pendudukan kota Baghdad sebagai ibu kota Kekhalifahan Abbasiyah oleh bala tentara Saljuq. Sejak itu berakhirlah kekuasaan Dinasti Syi’i dan kembalilah kekuasaan Dinasti Sunni di dalam Kekhalifahan Abbasiyah.[19]  Selanjutnya pusat pemerintahannya berada di kota Nisabur dan kemudian pindah ke Rayi. Sedangkan  kota Baghdad difungsikan sebagai kota keagamaan dan kerohanian tempat bersemayamnya Khalifah Abbasiyah. Keberhasilan Bani Saljuq dalam mempertahankan kekuasaannya, tak lepas dari para wazir (pembantu sulthan/menteri) yang senantiasa loyal dan patuh terhadap sulthan serta kecintaan mereka terhadap ilmu pengetahuan.

            Adapun penguasa Dinasti Saljuq (1037-1157 M) adalah sebagai berikut; (1) Thughril Bek (1037-1063), (2) Alp Arslần (1063-1072), (3) Malik Syầh (1072-1092), (4) Mahmud (485-487 H/1092-1094 M), (5) Barkiyaruq (487-498 H/1094-1103 M), (6) Abu Syuja’ Muhammad 9498-511 H/1103-1117 M), dan          Abu Haris   Sanjar (511-522 H  /  1117 – 1128 M)[20]

2.                  Prestasi Dinasti Saljuq
            Masa kejayaan kesultanan Saljuk dapat dicapai pada masa Malik Syah di bawah wazir Nidhom al-Mulk. Kesultanan Saljuk meninggalkan beberapa prestasi yang sangat baik di antaranya  dapat dikelompokkan sebagai berikut:

A.                DINAMIKA SOSIAL POLITIK
      Kedatangan Bani Saljuq mengulangi praktek kekuasaan Bani Buwaihi. Penguasa baru ini pun menjadikan khalifah sebagai penguasa boneka. Sekalipun mereka menentukan jalannya pemerintahan, namun urusan menjalankan roda pemerintahan dipercayakan pada wazir (perdana menteri) untuk memimpin departemen-departemen. Dan wazir yang terkenal dalam dinasti Saljuq adalah Nizam al-Mulk.  Sistem pemerintahan yang dijalankan adalah kesultanan dengan menempatkan khalifah Abbasiyah sebagai pemberi legitimasi atas kekuasaannya dan pemimpin seluruh masyarakat Islam, karena khalifah adalah pelanjut kepemimpinan Nabi[21]. Dengan demikian posisi dan kedudukan khalifah lebih baik pada dinasti ini, paling tidak kewibawaannya dalam bidang agama dikembalikan setelah beberapa lama “dirampas” orang-orang syiah.[22]            

      Mereka terlatih di bidang Strategi militer dan peperangan. Karena itu prestasi yang menonjol pada masa ini adalah bertambah luasnya daerah kekuasaan bani Saljuq.      Pada masa Alp Arselan (455-465 H), dinasti Saljuq berhasil meluaskan kekuasaannya ke arah barat yaitu Anatolia daerah kekuasaan Bizantium. Sedangkan pada masa Malik Syah  (465-485 H) kekuasaanya sudah membentang dari Asia Tengah di timur sampai Laut tengah di Barat. Usaha keras ini merupakan bibit yang ditanam untuk mampu menyatukan kembali sebagian besar wilayah Abbasiyah seperti pada awal kejayaannya wilayah Islam yang kemudian baru terealisir pada masa pemerintahan Shalahuddin Al-Ayyubi yang berada di di bawah pemerintahan Bani Abbas yang Sunni.

      Selain itu  kesultanan mereka memiliki peran untuk menunda kehancuran khilafah Abassiyah selama sekitar dua abad dimana sebelum kedatangan mereka pemerintahan Abassiyah hampir saja runtuh akibat perilaku jahat orang-orang Buwaihi penganut ajaran Syi’ah. Kesultanan Saljuk telah mampu mencegah rencana penyatuan wilayah Timur Arab oleh pemerintahan Fathimiyah/Ubaidilah di Mesir untuk berada di bawah satu payung pemerintahan mereka yang Syi’ah.
.

B.                 DINAMIKA INTELEKTUAL DAN KEAGAMAAN
            Kesultanan Saljuk telah ikut membangkitkan gairah ilmiah di wilayah-wilayah yang menjadi kekuasaannya. Pada masa Alp Arselan, ilmu pengetahuan dan agama mulai berkembang. Sedangkan Pada masa Sultan Malik Syah dibantu  wazir Nidhom al Mulk ( 465-485 H) mengalami kemajuan. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan mendirikan Madrasah Nizamiyyah yang diprakarsai oleh Nidhom al Mulk. Madrasah-madrasah ini didirikan di berbagai kota di wilayah kekuasaan Dinasti Saljuq seperti Baghdad, Nisapir, Balk, Heart, Asfahan, Basrah dan sebagainya. Pendirian Madrasah Nidzamiyah ini disamping memiliki motif kependidikan, juga memiliki motif kepentingan politik Dinasti Saljuq sendiri pada saat itu.[23]
             Pada masa ini muncullah ilmuan Muslim seperti Al-Ghozali ahli ilmu Kalam, filsafat dan Sufi, Ibn al Khasysyaf al-baghdadi ahli ilmu Qiraah, al Zamakhsyari ahli ilmu tafsir dan teologi dan lain sebagainya. Sedangkan dalam ilmu umum, ilmuan muslim adalah Abu Ali Yahya Ibnu Jazlah dokter yang menulis kitab al Manhaj dalam ilmu kedokteran, Abu al-Raihan al Biruni ahli astronomi, Umar Khayyam dalam sastra.[24]Bukan hanya  pembangunan mental spiritual, Dinasti Saljuq pada masa Malik Syah  juga memperhatikan aspek bangunan fisik seperti madrasah-madrasah, masjid, irigasi, jalan raya dan jembatan yang dibangunnya.[25]
            Dalam bidang keagamaam Bani Saljuq berpaham Sunni mereka mampu mengangkat tinggi-tinggi panji-panji madzhab Sunni di wilayah-wilayah kekuasaannya. Dinasti-dinasti kecil yang sebelumnya memisahkan diri, setelah ditaklukkan Bani Saljuq ini kembali mengakui kedudukan Baghdad sebagai ibukota kerohanian, bahkan mereka terus menjaga keutuhan dan keamanan Abbasiyah untuk membendung paham Syi’ah dan mengembangkan madzhab Sunni yang dianut mereka. Selain itu mereka mampu menghadang gerakan Salibisme yang dipimpin imperium Bizantium, sebagaimana mereka yang telah berusaha untuk menghadang gelombang serbuan Mongolia.

3.                Faktor Keruntuhan  Dinasti Saljuq
Banyak faktor yang menyebabkan kehancuran kesultanan Saljuq yang juga dengan kejatuhan nya  mengakibatkan kejatuhan dinasti Abassiyah. Faktor-faktot tersebut antara lain:
  1. Perselisihan yang terjadi di dalan keluarga Saljuk antara saudara mereka, paman, anak-anak dan cucu yang memang sudah terpecah belah semenjak meninggalnya Malik Syah.[26]
  2. Pemberontakan golongan Ismailiyah dari kelompok Hasysyasyin yang terkenal dengan perbuatan-perbuatan kejam, menipu, dan membunuh, perpecahan-perpecahan dalam negeri hasil dari perluasan kerajaan Saljuq dan hasil cara hidup kaum Saljuq yang bersuku-suku.
  3.  Adanya pengkhianatan sebagaian para pejabat, menteri dan para atabaek sehingga berdirilah wilayah-wilayah Amiriyah Utabak. Ketika kerajaan-kerajaan mulai melemah, setiap pemilik tanah merasa dirinya sebagai amir dan memerintah di kawasan tanah masing-masing serta memisahkan diri dari pengaruh Bani Saljuq.
  4. Ketidak mampuan pemerintah Saljuk dalam menyatukan wilayah Syam, Mesir dan Irak di bawah panji kekuasaan Bani Abbas.
  5. Terjadinya friksi di dalam kekuasaan Saljuk hingga menimbulkan bentrokan militer yang terus-menerus. Inilah yang menghancurkan kekuatan Saljuk hingga dia harus kehilangan kesultanannya di Irak.
  6. Konspirasi orang-orang aliran Bathiniyah terhadap kesultanan Saljuk yang mereka lakukan dengan cara membunuh dan menghabisi para sultan dan pemimpin-pemimpin mereka serta komandan-komandan perangnya.

C.     KONFLIK ANTARA DINASTI BUWAIHI DAN DINASTI SALJUQ

1.      Latar Belakang Pemicu Konflik
            .Persoalan yang pertama-tama timbul dalam Islam menurut sejarah bukanlah persoalan aqidah tetapi persoalan politik. Demikian halnya  Konflik antara Dinasti Buwaihi dengan Dinasti Saljuq adalah konflik keagamaan antara Aliran Syiah dan Sunni yang bernuansa politik. Kemunculan Syi’ah dan Sunni  dapat ditelusuri dari intrik politik seputar siapa yang paling berhak menggantikan kedudukan nabi saw. sebagai kepala negara. Pada awalnya,  persoalan ini tidak pernah menyulut pertikaian  di antara  para Sahabat, kecuali hanya percikan-percikan belaka. Namun  di kemudian hari persoalan ini dieksploitasi oleh sekelompok orang untuk memecah belah kesatuan dan persatuan kaum Muslim. Akibatnya persoalan tersebut tidak hanya berpengaruh pada pembentukan sikap politik, tetapi juga memberikan andil dalam pembentukan pemikiran-pemikiran keagamaan. Intrik ini telah bergeser sedemikian jauh dari persoalan politik ke arah persoalan ideologis sehingga  lahirlah kelompok-kelompok  keagamaan ekstrim yang tidak pernah dikenal oleh kaum Muslim sebelumnya.

     Bani Buwaihi adalah penyebar madzhab Syi’ah yang sungguh bersemangat. Mereka selalu mengkampanyekan symbol-simbol Ahlul Bait dan melakukan gerakan – gerakan syi’ah berupa; pertama Buwaihi menginstruksikan kepada pengelola-pengelola masjid agar menuliskan kalimat berikut: “ Allah melaknat Mu’awiyah Ibn Abi Supiyan yang merampas hak Fatimah ra., yang melarang Hasan Ibn Ali dikuburkan berdampingan dengan makam kakeknya SAW. dan kedua Buwaihi menetapkan hari-hari bersejarah bagi Syi’ah dijadikan perayaan resmi Negara, seperti perayaan 10 Muharam untuk memperingati kasus Karbala, dan peringatan 12 Dzulhijjah sebagai Yawm al-Ghadir yang dalam keyakinan kaum Syi’ah, Nabi SAW mewasiatkan kepada Ali Bin Abi Thalib sebagai penguasa duniawi dan agama sepeninggal beliau.[27]
            Menurut penuturan  Al-Mudhaffari yang dikutip oleh Hidayat Nur Wahid dalam makalahnya “Syi’ah Dalam Lintasan Sejarah”, Dinasti Buwaihi  memang dilahirkan untuk berkhidmat pada madzab Syi’ah Itsna Asy’ariyah, mereka melakukan segala upaya untuk memenangkan madzhabnya.[28]  Syi’ah Itsna ‘Asyariyah atau disebut Imamiyah karena mereka percaya bahwa jumlah imam seluruhnya  dua belas[29], dan sebagai imam terakhir adalah Muhammad bin Abu Muhammad Hasan al-Askari, yang menghilang pada usia empat atau lima tahun pada 260 H., dan yang kemudian dikenal dengan sebutan Muhammad al-Mahdi al –Muntazhar.[30] Syiah Imamiyah Itsna ‘Asyariyah ini lebih tepat disebut aliran politik dari pada Aliran aqidah (Tauhid dan Syari’ah). Ini dapat dilihat dari definisi para ulama  Syi’ah itu sendiri. Sebutan Syi’ah Imamiyah Itsna ‘Asyariyah memperkuat makna syi’ah sebagai paham politik  seperti masalah siapa yang berhak menjadi kepala Negara sesudah Nabi saw., bagaimana bentuk Negara Islam, apa undang-undang Islam dan sebagainya.
            Ketika kekuasaan Abbasiyah mengalami kemerosotan, dinasti Buwaihi (333-447) di bawah Mu’iz al-Daulah ibn Buwaihi memaksa menguasai kekuasaan Abbasiah. Sejak itu hampir tiap tahun terjadi pertikaian dan benturan-benturan antara kaum Syiah dan ahlus sunnah sehingga banyak korban jiwa jatuh dan menimbulkan kerugian materiil yang besar. Untuk menunjukkan hegemoni dan dominasi mereka atas Ahlussunnah, pada tahun 351 M kaum Syiah di Baghdad dengan dukungan dari Mu’iz al-Dawlah mewajibkan masjid-masjid untuk melaknat Mu’awiyah dan tiga Khalifah Rasyid (Abu Bakar, Umar dan Usman).[31]
Namun pada tahun 1055 dinasti Saljuq  yang Sunni berhasil menguasai Baghdad. Dinasti Buwaihi pun menjadi lemah. Meskipun otoritas politik Daulah Saljuk dipegang oleh sultan yang dilimpahkan kepada wazir bukan Khalifah, namun yang menjadi dinasti ini berjaya adalah perhatian sultan dalam peningkatan keilmuan warga negara dan memperbaiki pemikiran umat Islam. Hal itu dibuktikan dengan mendirikan madrasah Nizamiyah yang salah satu motifnya adalah  menyebarkan paham Sunni untuk membendung berkembangnya ajaran syiah.
Seluruh komunitas Sunni di hampir seluruh negeri menolak kehadiran syiah batiniyah, yang disamping menyimpang, mereka juga menunjukkan gerakan militan radikal. Atas dasar inilah Nizam Muluk melarang aliran batiniyah berkembang di wilayah negerinya. Di sini imam Ghazali memainkan peranannya sebagai ilmuan Islam. Ia menulis buku Fadaih al-Batiniyah yang mengkritik pemikiran syiah batiniyah. Gerakan politik Syiah di Irak bukan berarti mati, ketika kerajaan-kerajaan Syi’ah mulai menyusut, militan syiah bergerak di bawah tanah. Pada tahun 1092 mereka bahkan tiba-tiba mulai tunjukkan kekuatan yang dipimpin oleh Hasan Ibn al-Sabbah. Bahkan secara mengejutkan, syiah batiniyah membantai Nizam Muluk.
             
BAB III   KESIMPULAN
            Dinasti Buwaihi berdiri pada tahun 334 H disebabkan oleh kondisi khalifah Dinasti Abbasiyah lebih buruk dari pada khalifah sebelumnya dan adanya perbedaan ideology  antara Bani Buwaihi yang beraliran syiah dengan Bani abbasiyah yang beraliran Sunni. Kehadiran Dinasti Buwaihi dalam pemerintahan Dinasti Abbasiyah telah menjadikan khalifah kehilangan kekuasaan sebagai kepala pemerintahan.
            Keberhasilan yang telah dicapai Dinasti Buwaihi meliputi bidang ilmu pengetahuan ; pembangunan  sekolah-sekolah di Syiraz, Rayy dan Isfahan, observatorium di Baghdad, gerakan penterjemahan dan lahirnya ilmuan-ilmuan besar seperti Ibnu Sina (filosof), Ibnu Maskawih (filosof), al_Kharizmi (Pakar Matematika) , Ibnu Haistam (pemilik teori cahaya), Nasarwi  (pakar matematika), istakhri (ahli ilmu bumi). dan sebagainya. Selain itu pembangunan rumah sakit Bimaristan al-Adhudi yang memiliki 24 tenaga medis dan menjadi pusat studi kedokteran. Prestasi yang telah dicapai Dinasti Buwaihi menunjukkan bahwa apabila membangun sebuah Negara yang disertai dengan pembangunan kultur masyarakat maka dipastikan Negara itu akan dapat mencapai peradaban yang tinggi.
             Demikian halnya  hancurnya sebuah Negara bukan diawali oleh bangsa lain, tetapi kehancuran itu sebenarnya dilakukan oleh dirinya sendiri. Ungkapan tersebut sangat tepat untuk menggambarkan kemunduran Dinasti Buwaihi disebabkan adanya konflik internal untuk perebutan kekuasan di dalam tubuh dinasti Buwaihi, adanya pertentangan aliran-aliran keagamaan/perselisihan Madzhab, serangan dari Bizantium dan lepasnya dinasti-dinasti kecil dari kekuasaan Baghdad. Kondisi Dinasti yang mulai melemah dimanfaatkan oleh pihak lain untuk melepaskan diri dan berusaha menggulingkan kekuasaan mereka seperti kehadiran Bani Saljuq atas undangan khalifah yang ternyata mengakiri kekuasaan dinasti Buwaihi dalam kekhalifahan Abbasiyah
            Bani Saljuq yang hadir  setelah Dinasti Buwaihi dalam pemerintahan Dinasti Abbasiyah telah mampu menunda kehancuran khalifah Abbasiyah selama dua abad. Selama dalam pemerintahan Bani Saljuq telah ikut membangkitkan gairah ilmiah di wilayah kekuasaannya. Didirikannya Madrasah Nidzamiyah yang diprakarsai Nidzam al Mulk telah berjasa dalam mengembangkan ajaran Sunni dan menumbangkan madzhab syiah di daerah itu.  Madrasah Nidzamiyah didirikan bermotif kependidikan, politik dan ideologi sebagai alat propaganda tandingan. Di antara ilmuan yang terkenal pada masa ini adalah Al-Ghozali ahli ilmu Kalam, filsafat dan Sufi, Ibn al Khasysyaf al-baghdadi ahli ilmu Qiraah, al Zamakhsyari ahli ilmu tafsir dan teologi dan lain sebagainya. Sedangkan dalam ilmu umum, ilmuan muslim adalah Abu Ali Yahya Ibnu Jazlah dokter yang menulis kitab al Manhaj dalam ilmu kedokteran, Abu al-Raihan al Biruni ahli astronomi, Umar Khayyam ahli dalam sastra.
            Ada beberapa factor yang menyebabkan Dinasti Saljuq mengalami kemunduran dan sekaligus mengakhiri kejayaan Dinasti Abbasiyah yaitu ; (1)Perselisihan yang terjadi di dalan keluarga Saljuk antara saudara mereka, paman, anak-anak dan cucu yang memang sudah terpecah belah semenjak meninggalnya Malik Syah. (2) Pemberontakan golongan Ismailiyah dari kelompok Hasysyasyin. (3) Perpecahan-perpecahan dalam negeri hasil dari perluasan kerajaan Saljuq dan hasil cara hidup kaum Saljuq yang bersuku-suku. (4) Adanya pengkhianatan sebagaian para pejabat, menteri dan para atabaek sehingga berdirilah wilayah-wilayah Amiriyah Utabak. (5) .Ketidakmampuan pemerintah Saljuk dalam menyatukan wilayah Syam, Mesir dan Irak di bawah panji kekuasaan Bani Abbas. (6) Terjadinya friksi di dalam kekuasaan Saljuk hingga menimbulkan bentrokan militer yang terus-menerus sehingga Dinasti Saljuk harus kehilangan kesultanannya di Irak. (5)Konspirasi orang-orang aliran Bathiniyah terhadap kesultanan Saljuk yang mereka lakukan dengan cara membunuh dan menghabisi para sultan dan pemimpin-pemimpin mereka serta komandan-komandan perangnya.
            Konflik antara Bani Buwaihi dengan Bani Saljuk pada dasarnya dilatarbelakangi oleh perbedaan madzhab antara Syiah dengan Sunni yang bermuara pada persoalan politik  yaitu adanya perebutan kekuasaan dan persoalan kepemimpinan (imamah) pasca Nabi Muhammad saw. wafat. Perbedaan ini telah mengakibatkan pertikaian  yang berkepanjangan  sehingga menelan korban jiwa dan materi yang cukup banyak. Dalam lintasan sejarah tidak sedikit kekejaman  yang dilakukan kaum Syi’I terhadap kaum Sunni atau sebaliknya karena perbedaan  politik tersebut.

DAFTAR PUSTAKA
A. Syalabi, Sejarah Kebudayaan Islam, (Jakarta: Al Husna Zikra, 1997)
Abu Ihsan Al-Atsari, Kekejaman Kaum syiah Terhadap Ahlu Sunah, http://luruskanlah.blogspot.com/2011/07/ kekejaman-kaum-syiah-terhadap-ahlu-html, diakses 9 Nopember 2011.
Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam dirasah Islamiyah II, (Jakarta; RajaGrafindo Persada, 2010),
Didin Saefudin, Zaman Keemasan Islam, Konstruksi Sejarah Imperium Dinasti Abbasiyah, (Jakarta : Grasindo, 2002), 
Hidayat Nur Wahid dkk, Mengapa Kita Menolak Syi’ah Kumpulan Makalah Seminar nasional tentang Syi’ah, (Jakarta: Karunia, 1998)
ousa.wordpress.com/tag/sunni/,  diakses 9 Nopember 2011
http;//syiahali.wordpress.com/2011/10/01/mazhab-sunni-didirikan-ulama-yang-akomodatif-dan cenderung-mendukung-pemerintah/, diakses 4 Nopember 2011
Joel L. Kraemer, Renaisance Islam, terj.Asep Saefullah, (Bandung: Mizan 2003)
Munawir Sjadzali, Islam dan  Tata Negara, ajaran, sejarah dan pemikiran, (Jakarta : UI-Press, 1993)
Philip k. Hitti, History Of The Arab terj. R. Cecep Lukman Yasin dan Dedi Slamet Riyadi, (Jakarta : Serambi Ilmu Semesta, 2010)
Sariono, Bani Buwaih, http;//refrensiagama.blogspot.com. diakses 4 Nopember 2011
Suprayetno,  Dinamika Keagamaan, Sosial Politik, Dan Intelektual Dinasti Buwaihi ,           file:///C:/Users/OKE/Downloads/DINASTI-BUWAIHI-DINAMIKA-KEBUDAYAAN.htm, diakses  22 Nopember 2011
 Suwito dan Fauzan, Sejarah Sosial Pendidikan Islam, (Jakarta : Kencana Prenada Media, 2005)
Taufiqurrahman, Sejarah Sosial Politik Masyarakat Islam Daras Sejarah Peradaban Islam, (Surabaya: Pustaka Islamika, 2003)
W. Montgomery watt dalam  Jaih Mubarok M.Ag, Sejarah Peradaban Islam (Bandung: Pustaka Ilmu, 2008)




[1] http;//syiahali.wordpress.com/2011/10/01/mazhab-sunni-didirikan-ulama-yang-akomodatif-dan cenderung-mendukung-pemerintah/, diakses 4 Nopember 2011

[2] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam dirasah Islamiyah II, (Jakarta; RajaGrafindo Persada, 2010), 49-50
[3] Didin Saefudin, Zaman Keemasan Islam, Konstruksi Sejarah Imperium Dinasti Abbasiyah, (Jakarta : Grasindo, 2002),  78
[4] Joel L. Kraemer, Renaisance Islam, terj.Asep Saefullah, (Bandung: Mizan 2003), 63-64
[5] Taufiqurrahman, Sejarah Sosial Politik Masyarakat Islam Daras Sejarah Peradaban Islam, (Surabaya: Pustaka Islamika, 2003), 140
[6]Suprayetno,  Dinamika Keagamaan, Sosial Politik, Dan Intelektual Dinasti Buwaihi ,           file:///C:/Users/OKE/Downloads/DINASTI-BUWAIHI-DINAMIKA-EBUDAYAAN.htm, diakses  22 Nopember 2011

[7] Didin Saefudin, Zaman Keemasan Islam, 76-77
[8]Suprayetno,  Dinamika Keagamaan, Sosial Politik, Dan Intelektual Dinasti Buwaihi file:///C:/Users/OKE/Downloads/DINASTI-BUWAIHI-DINAMIKA-KEBUDAYAAN.htm, diakses 22 Nopember 2011
[9] Philip k. Hitti, History Of The Arab terj. R. Cecep Lukman Yasin dan Dedi Slamet Riyadi, (Jakarta : Serambi Ilmu Semesta, 2010), 600.
[10] Sistem pemerintahan yang memberikan hak kepada pemimpin untuk menganggap Negara sebagai miliknya dan bisa diwariskan kepada keluarganya (turun temurun), sementara rakyat dipandang sebagai bawahan yang berada di bawah perlindungan dan kehendaknya.
[11] Namun pada generasi kedua dan ketiga solidaritas kekeluargaan (fanatisme) yang pertama ini semakin berkurang.
[12] Taufiqurrahman, Sejarah Sosial Politik Masyarakat Islam Daras Sejarah Peradaban Islam, 142.
[13] Sariono, Bani Buwaih, http;//refrensiagama.blogspot.com. diakses 4 Nopember 2011
[14] A. Syalabi, Sejarah Kebudayaan Islam, (Jakarta: Al Husna Zikra, 1997), 204
[15] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam dirasah Islamiyah II, 72
[16]W. Montgomery watt dalam  Jaih Mubarok M.Ag, Sejarah Peradaban Islam (Bandung: Pustaka Ilmu, 2008), cet. Ke-1, 174
[17] http://id.wikipedia.org/wiki/Dinasti Saljuk, diakses 4 Nopember 2011
[18] A. Syalabi, Sejarah Kebudayaan Islam, 336
[19] Ibid., 340 -341
[20] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam dirasah Islamiyah II, 74
[21] Taufiqurrahman, Sejarah Sosial Politik Masyarakat Islam Daras Sejarah Peradaban Islam, 149.
[22] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam dirasah Islamiyah II,  73

[23] Suwito dan Fauzan, Sejarah Sosial Pendidikan Islam, (Jakarta : Kencana Prenada Media, 2005), 151
[24] Taufiqurrahman, Sejarah Sosial Politik Masyarakat Islam Daras Sejarah Peradaban Islam, 152
[25] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam dirasah Islamiyah II,  76
[26] Ibid., 150
[27]A. Syalabi, Sejarah Kebudayaan Islam, 332
[28] Hidayat Nur wahid dkk, Mengapa Kita Menolak Syi’ah Kumpulan Makalah Seminar nasional tentang Syi’ah, (Jakarta: Karunia, 1998), 116
[29] Imam 12 itu adalah (1) Ali bin abi thalib, (2) al-Hasan, (3) al-Husein, (4) Ali zain al-Abidin, (5) Muhammad al-Baqir, (6) Ja,far al-shadiq, (7) Musa al-Khazim, (8) Ali al-Ridha, (9)Muhammad al-Jawwad, (10) Ali al-Hadi, (11) Al-Hasan al-Askari, (12) Muhammad al-Muntazhar.
[30] Munawir Sjadzali, Islam dan  Tata Negara, ajaran, sejarah dan pemikiran, (Jakarta : UI-Press, 1993), 213.
[31] Abu Ihsan Al-Atsari, Kekejaman Kaum syiah Terhadap Ahlu Sunah, http://luruskanlah.blogspot.com/2011/07/ kekejaman-kaum-syiah-terhadap-ahlu-html, diakses 9 Nopember 2011.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar