Pengembangan Pendidikan Agama Islam: Reinterpretasi Berbasis Interdisipliner

Pengembangan Pendidikan Agama Islam

--- BUKU MURAH (ASLI bukan FOTOCOPY-AN/BUKAN BUKU BAJAKAN): " Buku MURAH BERKUALITAS hanya Rp.47.000,- (belum ongkos kirim. Ongkos kirim diperkirakan Rp. 18.000 - Rp. 35.000 tergantung lokasi pengiriman) berjudul PENGEMBANGAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM: REINTERPRETASI BERBASIS INTERDISIPLINER (Yogyakarta: LKiS, 2015). Sebagai info harga buku ini di pasaran berkisar 70-90 ribu). Serta buku ini hanya dijual di toko buku daerah YOGYAKARTA saja.Info lebih lanjut hubungi: 08563-350-350 (11 digit)”---

Thursday, January 16, 2014

Contoh Pendekatan Penelitian pada Tesis


DOWNLOAD BAGIAN BUKU 

"PENGEMBANGAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM: REINTERPRETASI BERBASIS INTERDISIPLINER"

FORMAT PDF  >> di sini <<


Pendekatan Penelitian
Berdasarkan konteks penelitian dari Bab I pada pembahasan sebelumnya dan agar didapat data yang objektif serta komperhensif maka pendekatan penelitian yang paling cocok digunakan adalah kualitatif. Pendekatan ini digunakan karena objek atau permasalahan yang diteliti dan keadaan informan sangatlah beragam (komplek). Keberagaman ini ditinjau dari segi perbedaan latar belakang dosen dan mahasiswa yang berbeda organisasi keagamaannya, tingkat senioritas, dan latar belakang pendidikannya. Dengan kata lain karena keadaan permasalahan yang diteliti lebih bersifat fleksibel, maka untuk pengungkapan keadaan sosial tersebut dengan lebih mendalam yang paling cocok adalah pendekatan kualitatif. Sebagaimana menurut Hamidi tentang tujuan dari penggunaan penelitian kualitatif adalah untuk menanyakan atau mengetahui tentang makna (berupa konsep) yang ada di balik cerita secara detail  para informan dan dari keadaan nyata latar-sosial di lokasi penelitian.[1] Dengan demikian pendekatan kualitatif dalam penelitian ini dipilih untuk penemuan data secara holistik, detail, terperinci, dan lebih mendalam untuk penyelidikan dibalik perilaku dan kata-kata informan.
Penelitian kualitatif merupakan pendekatan penelitian yang digunakan oleh kaum fenomenologis, di mana kaum fenomenologis berusaha memandang suatu kasus (permasalahan, keunikan, dan kelebihan) dari sudut pandang orang yang ‘bertingkah laku’ itu sendiri. Hat tersebut dilakukan untuk diperoleh pemahaman terhadap perilaku manusia dari kerangka berpikir orang yang melakukannya itu sendiri. Dengan kata lain kaum fenomenologis dalam pencarian pemahaman tersebut lebih cenderung digunakan pendekatan kualitatif dengan kegiatan pengamatan peran serta, wawancara terbuka yang mendalam, dan penggunaan dokumen pribadi. Metode ini digunakan agar dihasilkan data-data yang dimungkinkan peneliti bisa memahami kasus seperti apa yang dilihat (dipahami) oleh subjek penelitian.[2] Artinya pendekatan ini digunakan supaya penelitian dapat  dilakukan dengan cara penyentuhan aspek fenomena (fakta) sosialnya yang sangat luas (juga menyentuh aspek psikologis informan), sangat luwes, lebih manusiawi, dan penelitian ini tidak dapat diprediksi hasilnya secara statistik atau matematis yang kaku. Lebih spesifik penelitian ini adalah tentang pengungkapan kejadian yang terbentuk secara alami (natural) tanpa diintervensi, tanpa dibuat-buat, dan tanpa formalitas yang kaku.
Sebagaimana menurut Bogdan dan Taylor yang dikutip oleh Lexy J. Moleong dinyatakan bahwa pendekatan kualitatif adalah “suatu proses penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati.[3] Pemahaman yang sama juga disampaikan oleh Nana Sudjana dan Ibrahim tentang penelitian dengan penggunaaan pendekatan tersebut memandang sebuah kenyataan sebagai sesuatu yang berdimensi banyak, merupakan kesatuan, bisa berubah, dan tidak mungkin disusun rancangan penelitian yang terperinci serta sudah ditetapkan sebelumnya. Oleh karena itu rancangan penelitian berkembang selama proses penelitian berlangsung di lapangan. Ini berarti pendekatan penelitian kualitatif disebut juga dengan pendekatan naturalistik.[4] Dengan demikian dapat diartikan ‘strategi’ pelaksanaan secara teknis penggalian data dalam penelitian ini tergantung dari fenomena atau kenyataan yang terjadi di lapangan (lokasi penelitian). Oleh karena itu penelitian ini lebih cenderung pada penggambaran realitas sebuah peristiwa secara terperinci, mendalam, dan menyeluruh di lokasi penelitian.
Lebih spesifik alasan penggunaan metode kualitatif adalah untuk penemuan dalam pemahaman apa yang tersembunyi di balik fenomena yang kadang merupakan suatu yang sulit untuk diketahui atau dipahami.[5] Hal sepaham juga disampaikan oleh Anies Baswedan dalam ‘kata pengantar’ buku karya Haris Herdiansyah disampaikan tentang penelitian kualitatif adalah penelitian berkenaan dengan perasaan, psikologi (kejiwaan), dan segala sesuatu yang berkaitan dengan manusia. Berhubung manusia adalah mahkluk kompleks dan dinamis maka cara pandangnya pun seharusnya juga demikian. Tatanan sosial manusia bukan diasumsikan seperti sekumpulan robot yang bekerja dan beraktivitas secara kaku sesuai dengan program yang ditentukan dan tidak melampaui angka-angkanya. Oleh karena itu penelitian sosial dapat dilakukan dalam bentuk penelitian kualitatif, namun sekiranya tetap diperhatikan kaidah-kaidah ketika pelekasanaan penelitian sehingga bisa dihasilkan produk yang pantas untuk disebut ilmiah.[6]
Dari semua pemaparan di atas maka disimpulkan pendekatan kualitatif digunakan untuk penyentuhan aspek sosial yang sangat luas ‘kasus’nya (termasuk dalam bidang pendidikan). Dengan kata lian penelitian kualitatif tidak hanya pada penyajian dari sesuatu yang nampak, sesuatu yang bisa diangkakan, dan sesuatu yang bisa diadakan secara konkrit. Namun lebih dari itu, kualitatif adalah penggalian sesuatu dibalik semua itu dengan pertanyaan “mengapa sikapnya seperti itu?” atau “bagaimana itu bisa terjadi?” hingga pertanyaan-pertanyaan lain tentang penyelidikan sesuatu secara detail dan mendalam. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan dengan cara pengembangan teori pendidikan (sosial) tentang sistem Pembelajaran PAI di Perguruan Tinggi Umum yang didasarkan pada keadaan nyata (empiris) yang berada di UNP Kediri. Yang kemudian ditindak lanjuti dengan pencocokan antara fenomena nyata di lokasi penelitian dengan teori-teori serta undang-undang atau norma yang berlaku secara deskriptif.



[1]Hamidi, Metode Penelitian Kualitatif, 19-20.
[2]Robert Bogdan & Steven J. Taylor. ”Kualitatif (Dasar-Dasar Penelitian)”, dalam Kualitatif, ed. A. Khozin Afandi. (Surabaya: Usaha Nasional, 1993), Vol. 1, 45; Idem, ”Pengantar Metode Penelitian Kualitatif: Suatu Pendekatan Fenomenologis Terhadap Imu-ilmu Sosial”, dalam Introduction to qualitative research methods: A Phenomenological Approach to the Social Sciences,. ed Arief Furchan. (Surabaya: Usaha Nasional, 1992), 18-19.
[3]Lexy J. Moleong, Metodologi  Penelitian Kualitatif (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005), 4.
[4]Nana Sudjana & Ibrahim, Penelitian dan Penilaian Pendidikan (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2010), 7.
[5]Anselm Strauss & Juliet Corbin, “Dasar-dasar Penelitian Kualitatif: Prosedur, Teknik, dan Teori Grounded,” dalam Basics of Qualitative Research: Grounded Theory Procedures and Techniques, ed. M. Djunaidi Ghony (Surabaya: Bina Ilmu, 1997), 13.
[6]Haris Herdiansyah, Metodologi Penelitian Kualitatif: untuk Ilmu-ilmu Sosial (Jakarta: Salemba Humanika, 2011), xi-xiii.

No comments:

Post a Comment