Thursday, January 16, 2014

Pengecekan Keabsaan Temuan data Pada Tesis



DOWNLOAD BAGIAN BUKU 

"PENGEMBANGAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM: REINTERPRETASI BERBASIS INTERDISIPLINER"

FORMAT PDF  >> di sini <<

Baca juga Resensi Buku: “Sistem Pembelajaran Pendidikan Agama Islam pada Perguruan Tinggi Umum” 


Baca juga:
Tesis Lengkap Karya A. Rifqi Amin
(Tesis terbaik Tahun 2013)

Pengecekan Keabsahan Temuan
 Oleh: A. Rifqi Amin


Pengecekan keabsahan data lebih merujuk pada masalah kualitas data dan ketepatan metode yang digunakan dalam penelitian ilmu-ilmu sosial (termasuk di dalamnya ilmu pendidikan) yang berkaitan dengan studi aktivitas manusia. Sebagaimana menurut Lincoln dan Guba yang dikutip oleh Emzir dikemukakan ada empat kriteria tentang penilaian terhadap penelitian kualitatif di antaranya kredibilitas (credibility) yaitu hasilnya dapat dipercaya dari prespektif partisipan, karena satu-satunya penilai yang sah terhadap kredibilitas hasil penilitan adalah partisipan. Kedua adalah transferabilitas (Transferability) yaitu tingkat kemampuan hasil penelitian kualitatif dapat digeneraliasisikan atau ditransfer kepada konteks serta seting yang lain. Dan terakhir kalinya dependabilitas (Dependability) yaitu kemampuan memperoleh hasil yang sama jika dilakukan pengamatan yang sama untuk yang kedua kalinya. Dependabilitas lebih ditekankan pada peneliti tepat dalam memperhitungkan konteks yang berubah-ubah dalam penelitian yang dilakukan. Konfirmabilitas (confimability) yaitu kemampuan hasil penelitian dapat dikonfimasikan oleh orang lain.[1]
Banyak penelitian kualitatif yang diragukan kebenaran dari hasil penelitiannya, utamanya karena terdapat persoalan dalam pengujian keabsahan hasil penelitian. Keraguan tersebut disebabkan oleh beberapa hal yaitu subjektivitas peneliti menjadi hal yang dominan dalam penelitian kualitatif, alat penelitian yang diandalkan adalah wawancara dan observasinya terlebih jika dilakukan secara terbuka dan apalagi tanpa kontrol (observasi partisipasi), dan sumber data kualitatif yang kurang credible akan mempengaruhi hasil akurasi penelitian.[2] Untuk terhindar dari keraguan tersebut maka perlu diteliti kredibilitasnya dengan penggunaan teknik-teknik perpanjangan kehadiran peneliti di lokasi penelitian, ketekunan observasi serta wawancara yang diperdalam, dan triangulasi metode.
Dalam penelitian kualitatif karena instrumen utamanya adalah manusia yaitu peneliti itu sendiri maka pemeriksaan keabsahannya adalah keabsahan data bukan keabsahan instrumen seperti pada penelitian kuantitatif. Uji kredibilitas data dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut:
1)   Perpanjangan pengamatan; untuk pembersihan bias dari peneliti dan penglihatan data lebih luas.
2)   Peningkatan ketekuan pengamatan; penggalian data lebih mendalam dan pemfokusan terhadap data yang hendak digali.
3)   Triangulasi; pengecekan kembali data dengan cara penggalian mendalam ke berbagai sumber, penggantian metode, dan penggalian data di waktu dan suasana yang berbeda.
4)   Pengecekan teman sejawat; setelah dipaparkan oleh peneliti hasil temuan sementaranya dan metode penelitiannya kemudian dia meminta masukan dari teman sejawat yang tidak ikut serta dalam penelitian. Ini adalah cara untuk menjaga konstistensi dan kejujuran.
5)   Analisis kasus negatif; pencarian dan penemuan kasus-kasus negatif yang tidak sesuia bahkan bertentangan dengan apa yang sudah ditemukan sebagai bahan perbandingan.
6)   Kecukupan referensial; pengunakan berbagai alat seperti perekam suara atau perekam gambar untuk melengkapi catatan tertulis.[3]
Dari pembahasan di atas maka dapat disimpulkan agar hasil dari penelitian ini memiliki tingkat kepercayaan dan validitas (kesahihan) yang tinggi, maka pengecekan data untuk pencapain kredibilitas penelitian sebagai upaya penjaminan mutu hasil dari penelitian, perlu dilakukan penelurusan keabsahan data ditentukan dengan penggunaan kriteria kredibilitas (derajat kepercayaan). Penentuan kredibelitas data dimaksudkan untuk pembuktian apa yang dikumpulkan sesuai dengan kenyataan yang ada dalam latar penelitian. Namun demikian menurut Trianto bagaimanapun juga dalam penelitian studi kasus sumber data tidak banyak dan cakupan wilayahnya sempit, tetapi penelitian dilakukan lebih intensif dan mendalam. Oleh karena itu hasil dari penelitian studi kasus tidak bisa digeneralisir, dengan kata lain hanya berlaku bagi kasus itu sendiri.[4]



[1]Emzir, Analisis Data Metodologi Penelitian Kualitatif (Jakarta: Rajawali Pers, 2012), 78-81.
[2]Bungin, Penelitian Kualitatif, 253-254.
[3]Putra & Lisnawati, Penelitian Kualitatif, 33-35.
[4]Trianto, Pengantar Penelitian Pendidikan, 262.

No comments:

Post a Comment