Sunday, May 25, 2014

Renggo Khadafi



Renggo Khadafi
Oleh: Sarlito Wirawan Sarwono

Bocah kelas V SD ini tewas dipukuli kakak-kakak kelasnya.
Sebelum itu, Dimas Dikita Handoko, taruna Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran, juga tewas dipukuli senior-seniornya. Begitu juga nasib Tasman Hidayat, taruna Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri, di tahun 2001. Namun, alawi yang siswa SMA Negeri 6 Jakarta tewas pada September 2012 saat makan gultik (gulai tikungan) dan tiba-tiba dicelurit oleh segerombolan siswa SMA Negeri 70.

Namun, mereka tidak sendiri. Belakangan kian banyak orang mati atau luka parah oleh temannya sendiri, bekas pacar, anak atau cucu sendiri. Bahkan, orang tua sekarang pun tega membunuh anak sendiri. Pendeknya, sekarang ini untuk jadi pembunuh tak perlu jadi penjahat bertopeng seperti dalam komik-komik ketika saya masih kecil. Pembunuh-pembunuh sekarang adalah orang biasa, orang baik-baik, malah anak-anak juga. Hancur sudah teori Lombrosso yang mengatakan, kita bisa membedakan kriminal dan orang normal dengan melihat tipe raut wajah.

Namun, cobalah lihat wajah-wajah Nazaruddin, Antasari, Anas Urbaningrum, Miranda Goeltom, Angelina Sondakh, Ustaz Guntur Bumi, dan mantan Ketua BPK Hadi Poernomo. Apa beda yang signifikan antara wajah mereka dan BJ Habibie, Gus Dur, Raisa (penyanyi), atau Sule (komedian)? Tidak ada, keculai mungkin yang satu lebih cakep, yang lain lebih jelek. Kesimpulannya, zamansekarang orang baik-baik bisa jadi penjahat.

Cipta-rasa-karsa
Ki Hajar Dewantara pernah mengatakan ada tiga daya dalam jiwa manusia, yaitu cipta, rasa, dan karsa. Konsep struktur jiwa manusia yang bersumber pada filsafat kejiwaan ini (tridaya) sama dengan pandangan filsuf Plato (abad IV SM) tentang  logisticon, thumeticon, dan obdomen. Cipta adalah akal (logisticon, logika, kreativitas), rasa adalah emosi (thumeticon, sayang, cinta, benci, gembira, cemburu, marah, bahagia), dan karsa adalah motivasi (obdomen, kehendak, semangat, keinginan, dan lain-lain).

Dalam konsep pendidikan humanistik, yang oleh Ki Hajar diterapkannya pada lembaga pendidikan Tamansiswa, ketiga daya ini harus dikembangkan secara maksimal dan seimbang. Cipta yang tinggi akan melahirkan pemikir-pemikir yang cerdas. Rasa akan membuat anak didik menjadi orang yang penuh empati dan mencintai semua manusia dan seisi alam. Sementara karsa akan memunculkan semangat juang dan pantang menyerah.

Memang dalam kehidupan sehari-hari kita menyaksikan orang Indonesia sekarang sangat kuat dalam aspek cipta dan karsa. Beberapa orang Indonesia bisa jadi konglomerat kelas dunia, olimpiade-olimpiade IPA dan Matematikan Internasional dimenangi anak-anak Indoensia. Orang Indonesia sudah bisa membuat mobil sendiri, beberapa penyanyi sudah go internasional. Jangan lupa, berapa banyak orang awam yang menjadi caleg, baik yang lolos maupun gagal, modalnya tentu karsa yang kuat.

Di sisi lain, daya rasa orang Indonesia sangat lemah. Orang Indonesia sangat kurang bisa berempati, yaitu merasakan apa yang dirasakan orang lain. Tidak usahlah jadi seoarng Bunda Teresa, tetapi setidaknya manusia harus bisa mempraktikkan the golden rule of ethics, yaitu jangan melakukan sesuatu kepada orang lain, yang kau sendiri tidak mau orang lain melakukannya kepadamu (Khonghucu). Gampangnya, jangan memukul orang kalu kau tak mau dipukul, karena dipukul itu sakit. Sementara kakak-kakak kelas Renggo tidak hanya memukul, tetapi memukuli Renggo hingga tewas.

Karas tanpa Rasa
Orang sering menyalahkan pelajaran Budi Pekerti dan Agama untuk perbuatan kriminal yang dilakukan orang normal. Tetapi bukan di situ soalnya. Sebagus-bagus pelajaran-pelajaran moral itu, sifatnya tetap pada tataran cipta, yaitu pengetahuan, hafalan, atau skill (sholat, mengaji), yang dilakukan dengan karsa yang tinggi, tetapi tanpa rasa. Karena itu, orang bisa bersemangat sekali pergi umrah, tetapi tetap korupsi.

Untuk mengembangkan daya rasa diperlukan praktik hubungan emosional yang positif dengan orangtua, keluarga, guru, teman, dan orang-orang terdekat dengan anak. Anak perlu ciuman, rangkulan, didengarkan, dipuji (bukan hanya dimaki), dibanggakan, agar dia pun bisa mengasihi, mendengarkan dan memberikan semangat kepada orang lain. Inilah yang hampir tidak terjadi lagi pada banyak manusia Indonesia (apap pun alasannya). Akibatnya, kalau anak itu masih seumur kakak kelas Renggo, dia bisa membunuh adik kelasnya, tetapi kalau ia menjadi pejabat Badan Pertanahan Nasional, ia bisa menciptkan sertifikat tanan ganda sehingga kelompok masayarakat saling berbunuhan.

Pertanyaan saya, ke manakah Pancasila kita? Pancasila adalah tentang ras: rasa ketuhanan, kemanusiaan, kebanggaan, keadilan, dan rasa berbagi dalam bermusyawarah. Tanpa Pancasila, hukum pun jadi mainan para politisi dan mafia pengadilan.

SARLITO WIRAWAN SARWONO
Psikolog Universitas Indonesia dan Universita Pancasila, Kompas Halaman 6 tanggal 13 Mei 2014.

No comments:

Post a Comment