Friday, May 9, 2014

serba serbi unas



Serba Serbi Unas

Oleh: A. Rifqi Amin 
Hari ini anak didik kita yang sekolah pada jenjang SMP sedang menjalani ujian nasional (unas). Inilah “Ritual” ujian yang harus dihadapi sistem pendidikan kita pada setiap tahun. Dalam sejarahnya unas telah banyak berganti nama. Namun pada kenyataannya meski sudah berganti nama berkali-kali kesan horor itu masih ada. Bahkan walaupun unas tidak lagi menjadi satu-satunya syarat penentu kelulusan, tapi masih ada rasa was-was terutama dari peserta didik terlebih untuk orang tuanya.
Sejatinya setiap tahun pula semua kalangan masyarakat merespon unas ini dengan berbagai bentuk kegiatan yang berbeda. Mulai dari orang tua peserta didik, pengamat pendidikan, peserta didik, Kepala Dinas Pendidikan Daerah, Kepala Sekolah, dan Guru. Tak ketinggalan juga oknum “pihak ketiga” yang memanfaatkan momen unas untuk kepentingan sesaat. Tengok saja para oknum yang menjual kunci jawaban UNAS yang dimungkinkan palsu.

Unas dan Perubahan Perilaku
Ujian Nasional yang diujikan adalah mata pelajaran yang didasarkan pada keilmuan (ilmiah). Butir demi butir soal yang tertuang pada naskah juga dari hasil penelitian dan pengembangan dari ilmuwan-ilmuwan di bidangnya. Seperti dalam berita yang menyebar bahwa Dosen pada perguruan tinggi ternama dilibatkan dalam pembuatan soal. Namun, pendekatan yang digunakan oleh peserta didik dan orang tua bahkan oleh lembaga pendidikan bisa dikatakan jauh dari ilmiah. Tengok saja, kejadian seorang anak dalam pemberitaan yang lalu rela membasuh kaki ibunya lantas iapun meminum air bekas cucian tersebut. Kegiatan tersebut dilakukan guna persiapan diri untuk menghadapi unas yang akan ia tempuh. Dan tak mustahil ada ritual lain yang mungkin lebih sulit untuk dipahami apabila kita hanya melihatnya saja tanpa diteliti sebabnya.
Pada kejadian lain, sering kita temukan terjadi perubahan perilaku siswa terhadap guru pada orang tua menjelang ujian dilaksanan. Mereka takmpak lebih sopan, lebih mudah diatur, dan lebih melankolis. Bahkan tak jarang para peserta didik mengadakan acara sungkem bersama kepada para bapak ibu guru sekaligus meminta do’a. Dan sangat menggelikan apabila ada beberapa siswa yang mencium tangan gurunya tersebut merupakan kali pertama selama ia sekolah. Kegiatan tersebut bisa dikatakan sebagai cara mereka untuk mensucikan diri dari dosa. Tentu agar peserta didik merasa tenang dan tanpa beban saat menghadapi unas. Namun perubahan perilaku tersebut tidak bisa kita salahkan begitu saja. Perbuatan tersebut masih tampak lebih baik daripada siswa harus tertekan jiwanya, menjadi murung, histeris, bahkan kesurupan atau terjadi fenomena “aneh” lain.

Menyontek
Tak sedikit orang yang mengkaitkan antara menyontek dengan tindakan korupsi. Asumsinya, sebuah harga mati bagi orang yang menyontek maka pada masa depannya akan menjadi koruptor. Toh ancaman kata-kata itu tidak mempan untuk sebagian siswa, tradisi menyontek pada unas setiap tahunnya masih ada. Mungkin cita-cita mereka memang ingin seperti “koruptor.” Mendapatkan sesuatu dengan cara singkat dan mudah meski harus menzalimi orang lain bahkan menzalimi diri sendiri. Tak jarang mereka dalam menyontek juga dibantu oleh pendidik yang seharusnya tegas. Misalnya bentuk pembiaran tindakan menyontek oleh pengawas ujian. Lantas apabila diruntutkan maka juga melibatkan oknum guru dan pejabat sekolah yang “genit” untuk mengangkat citra sekolah
Tugas Berat Polisi
Polisi sebagai pengayom masyarakat bertanggung jawab dalam pengamanan, penjagaan, dan pengawalan ekstra dalam penyebaran soal-soal ujian hingga saat pelaksanaan ujian. Dalam pengamanan ujian yang menarik adalah polisi yang bertugas dilokasi ujian diharuskan memakai seragam sipil. Para aparat hukum tersebut saat dilapangan berkoordinasi dengan guru, pengawas, dan pejabat sekolah untuk pengamanan. Tentu cara ini patut diapresiasi yang ditempuh agar tidak menambah kesan horor dalam pelaksanaan ujian.
Dari kenyataan tersebut, yang perlu diperhatikan adalah bahwa fungsi utama pengamanan polisi sesungguhnya adalah mengamankan kerahasiaan soal ujian. Artinya pengamanan dari hulu sampai hilir bahkan sampai pengumuman hasil ujian dikeluarkan. Pengamanan dilakukan mulai dari pembuatan soal, pencetakan, pembungkusan soal, dan pendistribusian ke seluruh pelosok negeri. Oleh karena itu, apabila ada kebocoran soal ujian sesungguhnya yang pantas untuk ditunjuk hidungnya pertama kali adalah polisi. Baru kemudian para pembuat soal, percetakan, dan para pembungkus soal. Lalu kemudian kepada para pengguna bocoran soal tersebut seperti penjual kunci jawaban, peserta didik, guru dan pejabat sekolah.
Formalitas Ijasah
Ijasah adalah selembar kertas yang punya makna tersendiri. Bagi sebagian orang ijasah menjanjikan pekerjaan berupah lebih tinggi dan bisa mengangkat status sosial. Ijasah telah menjadi asa dan harga mati pada zaman serba kompleks seperti sekarang ini. Dampaknya sungguh ngeri, bagi sekolah yang oportunis pelaksanaan unas dijadikan momen untuk menambah jumlah siswa. Misalnya pada berita Jawab Pos (11/04/2014) diindikasikan ada sekolah di Mojokerto yang menyertakan 15 murid abal-abal untuk ikut unas. Padahal mereka sebelumnya tidak pernah menjalani proses pembelajaran pada sekolah tersebut.
Masalah lain adalah ijasah sebagai sarana untuk jaminan (agunaan) bagi pesarta didik yang masih memiliki tanggungan finansial atau material pada pihak sekolah. Masih banyak ditemukan pemberian ijasah yang dipersulit dan dipolitisasi. Bahkan dengan terang-terangan tidak akan diberikan jika apa yang diinginkan oleh pihak sekolah tidak dipenuhi. Peristiwa tersebut seringkali ditemukan pada sekolah suasta yang butuh dana. Serta sangat memungkin pada sekolah negeri meski pemerintah telah memberikan perhatian lebih. 
Unas dan Moralitas bangsa
Tentu bagi siapaun yang tak punya moral cara apapun akan dilakukan agar bisa lulus unas. Oleh sebab itu, tidak hanya sebuah kewajiban tapi menjadi kebutuah mendesak untuk diadakan penelitian secara mendalam tentang kelemahan dan kelebihan unas. Sejuah mana manfaat unas bagi masa depan bangsa ini. bisa jadi unas bermanfaat bagi jangka pendek, tapi jangka panjang malah merusak moral bangsa ini. Oleh karena itu, penemuan cara yang cocok dalam unas adalah tugas berat bangsa ini. Bisa dilakukan dengan cara penelitian bentuk kualitatif maupun kuantitatif. Tentu usaha itu supaya tidak merugikan bangsa ini pada masa yang jauh mendatang.

1 comment:

  1. Thanks ya gan udah sharing, thanks kebetulan sedang ada tugas ni hehe matur nuwun bacaanya :)

    ReplyDelete